Anda di halaman 1dari 17

PENDAHULUAN

Alam yang indah dan lestari merupakan jaminan bagi kelangsungan hidup manusia dan segala lapisan kehidupan yang ada di dalamnya. Untuk menjamin kelangsungan hidup manusia, diharapkan agar tetap memiliki kehidupan dan lingkungan dalam suasana yang menyenangkan. Banyak hal yang dilakukan untuk menjamin kelangsungan hidup alam semesta, setidaknya kita harus merubah sikap dalam memandang dan memperlakukan alam sebagai hal bukan sebagai sumber kekayaan yang siap dieksploitasi, kapan dan dimana saja. Walaupun alam tidak memiliki keinginan dan kemampuan aktif-eksploitatif terhadap manusia, perlahan tapi pasti, apa yang terjadi pada alam, langsung atau tidak langsung, akan mempengaruhi bagi kehidupan manusia. Lingkungan yang indah dan lestari akan membawa pengaruh positif bagi kesehatan dan bahkan keselamatan manusia. Begitupun sebaliknya, lingkungan yang rusak dan terancam punah, akan membawa pengaruh buruk bagi kehidupan manusia. Mengenai pengelolaan lingkungan yang benar, diperlukan wawasan mengenai

pembangunan sisi ekologi untuk pembangungan berkelanjutan. Manusia Indonesia dianjurkan berhenti menyakiti alam atau perusakan lingkungan hidup lainnya, kemudian bersama pemerintah, mengesahkan peraturan larangan perusakan lingkungan hidup. Hal yang tak kalah pentingnya, bersikap jujur dan tidak menerima uang suap dari perusahaan yang mencoba untuk merusak lingkungan hidup. Hal ini dikarenakan, bagaimana pun juga anak cucu Indonesia nantinya juga membutuhkan lingkungan hidup yang lebih baik (Sultan Hamengku Buwono IX, Jogjakarta, 22 Agustus 2008 http://BeritaNET.com) Saat ini kerusakan lingkungan dan polusi sudah sedemikian akut, bahkan terus bertambah parah. Disimpulkan secara simplistis, bentuk kerusakan dan tingkat pencemaran pada intinya disebabkan oleh kemajuan pembangunan industri dan teknologi yang tidak sebanding dengan upaya pelestarian lingkungan. Peranan negar-negara maju dalam menyumbang pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup sangat besar.

Keseimbangan alam perlu diciptakan untuk menjamin kehidupan berbagai macam makhluk di bumi ini, apakah itu berupa tumbuh-tumbuhan, hewan atau manusia. Bila lingkungan alam kehilangan keseimbangan, perputaran siklus akan terputus dan reaksi alam akan muncul berupa bencana dimana pun. Berdasarkan hal tersebut, jelaslah bahwa pemerintah sebagai pemegang kekuasaan dalam pengelolaan lingkungan hidup yang antara lain mengemban fungsi pengaturan, pembinaan, perizinan dan pengawasan dalam pengelolaan lingkungan hidup memegang perana sangat penting. Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam, seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut. Dengan kata lain, lingkungan merupakan sumber penghasil dari setiap hal yang dibutuhkan manusia untuk menujang kebutuhan hidup dan sebagai tempat berkembang biak daripada makhluk hidup terutama manusia. Olehya, kami akan membahas mengenai pertanggungjawaban terhadap lingkungan.

PEMBAHASAN

LATAR BELAKANG PERTANGGUNGJAWABAN LINGKUNGAN Awal keterlibatan perusahaan dalam tanggung jawab lingkungan membuntuti gerakan lingkungan yang kuat dari tahun 1960-an. Selama, 1960 1950 dan 1970-an, beberapa peristiwa terjadi sehingga timbul kesadaran masyarakat bahaya pada lingkungan yang disebabkan oleh manusia. Pada tahun 1954, 23 orang awak kapal perikanan Jepang, Naga Beruntung terkena dampak radioaktif dari uji bom hidrogen di Atol Bikini. Pada tahun 1969, sebuah ekologis tumpahan minyak bencana dari luar negeri baik di California Santa Barbara Channel, protes Barry Commoner terhadap percobaan nuklir, Rachel Carson 's buku Silent Spring , Paul R. Ehrlich 's The Population Bomb semua ditambahkan kecemasan tentang lingkungan. Akhirnya masyarakat menjadi lebih sadar akan isu-isu lingkungan, kekhawatiran tentang polusi udara, polusi air, pembuangan limbah padat, sumber daya energi berkurang, radiasi, keracunan pestisida (terutama seperti yang dijelaskan di Spring berpengaruh Diam Rachel Carson, 1962), polusi suara, dan lingkungan lainnya masalah terlibat sejumlah perluasan simpatisan. Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, beberapa korporasi-korporasi mulai menanggapi perhatian publik meskipun adaptasi dari kode etik dan "Corporate Social Responsibility" (CSR) prinsip-prinsip. Seperti bencana lingkungan secara dramatis terus terjadi - kebakaran polutan di sungai di Cleveland dan Buffalo, anak-anak terkena racun di Love Canal, Union Carbide di Bhopal kebocoran gas, pembangkit tenaga nuklir di krisis Chernobyl, dan Exxon Valdez tumpah minyak perusahaan mulai bertanggung jawab atas dampak lingkungan dari tindakan mereka, sosial, politik dan hukum. Publik kemarahan atas ini dan bencana lingkungan lainnya pembuat kebijakan termotivasi untuk kerajinan undang-undang seperti Undang-Undang Perlindungan Lingkungan pada tahun 1969 dan Amerika Serikat Keselamatan dan Undang-Undang Kesehatan tahun 1970 yang memaksa perusahaan untuk mengangkat isu lingkungan dan keselamatan pekerja serius dan untuk menginternalisasi biaya apa yang telah sebelumnya telah dianggap sebagai kekhawatiran eksternal.

Menanggapi tekanan yang meningkat, perusahaan mengembangkan diri mengatur kode dan kebijakan strategis pengelolaan lingkungan hidup, program sertifikasi lingkungan, pemantauan diri praktek, serta partisipasi sukarela dalam pemantauan oleh auditor independen. Selain prinsipprinsip CSR, gagasan tentang Triple Bottom Line, Stakeholder Theory, Sistem Manajemen Lingkungan (EMS), Penilaian Life Cycle (LCA), dan gerakan perusahaan lainnya muncul pada tahun 1990 . Konsep-konsep ini berusaha untuk mengubah budaya perusahaan dan praktek manajemen dengan menempatkan kepentingan baru pada lingkungan. Gerakan ke arah perlindungan lingkungan adalah fenomena perusahaan global. Memang, dapat dikatakan bahwa Uni Eropa berbasis aktivitas perusahaan di daerah ini telah jauh lebih jelas daripada di AS. Lebih dari setengah perusahaan yang telah mencapai ISO-14001 standarisasi yang memerlukan sistem manajemen yang ketat lingkungan yang akan dipasang di sebuah perusahaan yang terletak di Uni Eropa. Banyak LSM yang mempromosikan gagasan tanggung jawab lingkungan perusahaan dapat ditemukan di Eropa juga. Berbagai faktor memotivasi mengelilingi fokus lingkungan yang telah mengubah praktik bisnis saat ini. Ekonomi dewasa ini berpola pada ekonomi kapitalis. Ini berarti suatu sistem ekonomi didasarkan pada kekuatan pasar bebas. Laba tinggi merupakan tujuan dari aktivitas ekonomi. Franz magnis Suseno ( 1993: 198) menjelaskan bahwa tujuan produksi adalah laba perusahaan. Hanya laba itulah yang menjamin bahwa sebuah perusahaan dapat mempertahankan diri dalam alam persaingan bisnis. Untuk meninngkatkan laba, biaya produksi perlu ditekan serendah mungkin. Oleh karena itu, ekonomi modern condong untuk mengeksploitasi kekayaan alam dengan semurah mungkin dengan sekedar mengambil, dengan menggali dan membongkar apa yang diperlukan tanpa memikirkan akibat bagi alam itu sendiri dan tanpa usaha untuk memulihkan keadaan semula. Begitu pula asap, berbagai substansi kimia yang beracun dan segala bentuk sampah lain dibuang dengan semurah mungkin, dibuang ke tempat pembuangan sampah, dialirkan ke dalam air sungai, dihembuskan melalui cerobong-cerobong ke dalam atmosfer. Mengolah sampai racunnya hilang sehingga dapat dipergunakan lagi hanya menambah biaya. Jadi, kalau proses produksi dibiarkan berjalan menurut mekanisme ekonomisnya sendiri, alam dan lingkungan

hidup manusia semakin rusak (Franz Magnis Suseno, 1993: 198), makanya perlu ada pertanggungjawaban terhadap lingkungan agar semua pihak sadar terhadap lingkungan.

TANGGUNG JAWAB TERHADAP LINGKUNGAN Inti etika lingkungan hidup yang baru adalah sikap tanggung jawab terhadap-Nya (Franz Magnis Suseno, 1993: 151). Tanggung jawab itu memiliki dua acuan. Pertama, keutuhan biosfer yang berarti campur tangan manusia dengan alam yang memang harus berjalan terus selalu dijalankan dalam tanggung jawab terhadap kelestarian semua proses kehidupan yang sedang berlangsung. Terutama manusia, akhirnya menjadi peka terhadap keseimbangan suatu ekosistem. Campur tangan manusia bernafaskan tanggung jawab terhadap kelangsungan semua proses kehidupan. Bagaimanapun, manusia tidak menguragi kabar kehidupan lingkungan. Kedua, generasi yang akan datang yang sudah disadari keberadaannya dan hak-haknya sebagai tanggung jawab manusia. Setiap orang tua yang baik berusaha untuk menjaga rumah, perabot, dan tanah yang dimiliki sebagai warisan bagi anak cucu mereka. Sikap ini harus menjadi sikap umum manusia terhadap generasi yang akan datang. Manusia diberi beban berat untuk mewariskan ekosistem bumi ini dalam keadaan baik dan utuh pada anak cucu nanti. Sikap tanggung jawab itu dapat dirumuskan dalam prinsip tanggung jawab lingkungan seperti : dalam segala usaha bertindaklah sedemikian rupa sehingga akibat-akibat tindakannya tidak merusak, bahkan tidak dapat membahayakan atau mengurangi kemungkinan-kemungkinan kehidupan manusia dalam lingkungannya, baik yag hidup masa sekarag maupun generasi yang akan datang (Franz Magnis Suseno, 1993: 152) Terkait masalah populasi dunia yang terus bertambah, menipisnya sumber daya alam dan polusi telah menyebabkan krisis ekologi yang membahayakan sistem alam dari mana manusia merupakan bagian (Pelser & Van Rensburg 1997: 169). Banyak lingkungan kontemporer telah menuduh tradisi Yudeo-Kristen berisi "akar historis krisis ekologi kita" (Enderle 1997:176). Menurut Pelser & Van Rensburg (1997: 169 - 170) pandangan hidup Barat dapat ditelusuri kembali ke Yudeo-Kristen kali dan didirikan pada asumsi bahwa manusia memiliki kewajiban

untuk menguasai dan memanipulasi alam untuk keuntungan mereka dan bahwa lingkungan alam memiliki kemungkinan tak terbatas untuk eksploitasi. Tampaknya ada pergeseran paradigma dari pandangan hidup Barat tradisional ke lingkungan fokus tampilan. Menurut paradigma baru ada ekologi keterbatasan bagi manusia terkait penggunaan sumber daya alam, polusi dan penduduk pertumbuhan. Beberapa negara industri, misalnya Jerman dan Amerika Serikat, adalah mengalami seperti pergeseran paradigma sejak akhir 1980-an menghasilkan budaya revolusi. (Pelser & Van Rensburg 1997: 170).

MENDEFISIKAN TANGGUNG JAWAB LINGKUNGAN Menurut Walden & Schwartz (1997: 129) tanggung jawab sosial perusahaan tidak mudah untuk menentukan karena penafsiran yang beragam dari prinsip sosial perusahaan tanggung jawab dan tanggung jawab akhirnya lingkungan juga. Mereka mengacu pada Davis (1973) yang mencatat bahwa tanggung jawab sosial "mengacu pada pertimbangan perusahaan dari, dan respon terhadap isu-isu di luar ekonomi sempit, teknis, dan hukum persyaratan perusahaan ". Ini hanya "mulai di mana hukum berakhir". Setelah mempertimbangkan beberapa definisi Huckle sosial perusahaan, tanggung jawab (1995: 11) disesuaikan (1975) definisi Davis & Blomstrom untuk menyediakan berikut : definisi tanggung jawab lingkungan perusahaan: "Kewajiban para pengambil keputusan untuk mengambil tindakan yang melindungi dan memperbaiki lingkungan secara keseluruhan, bersama dengan kepentingan mereka sendiri. " Van Niekerk (1998: 31) memilih (1989) definisi Anderson tanggung jawab sosial untuk keperluan studinya yang berbunyi sebagai berikut: "... Tanggung jawab sosial adalah kewajiban dari kedua bisnis dan masyarakat (stakeholders) untuk mengambil tindakan hukum, moral-etika, dan filantropis yang tepat yang akan melindungi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan bisnis sebagai keseluruhan; semua ini tentu saja harus dicapai dalam ekonomi struktur dan kemampuan pihak yang terlibat

Menurut Enderle & Tavis (1998: 1134) yang umum sekarang diterima secara luas standar kesehatan lingkungan adalah "keberlanjutan" didefinisikan oleh Dunia Komisi Lingkungan dan Pembangunan (1987) sebagai "untuk memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi mereka kebutuhan sendiri ". Mereka menyatakan tanggung jawab perusahaan dalam bidang lingkungan sebagai yang berkomitmen untuk pembangunan berkelanjutan oleh sumber daya kurang alami memakan dan membebani lingkungan dengan limbah Dampak lingkungan dari proses manufaktur dan produk, lingkungan regulasi, dan inisiatif yang dilakukan dalam pengelolaan lingkungan dan teknologi harus dipertimbangkan ketika menentukan strategi perusahaan terhadap lingkungan. Sebagai salah satu elemen integratif dari strategi perusahaan, pengelolaan lingkungan mempengaruhi kinerja lingkungan. (Klassen 1995: 1201.) Tanggung Jawab terhadap lingkungan Kualitas lingkungan adalah kebaikan public, dimana setiap orang menikmatinya tanpa peduli siapa yang membayar untuknya. Jika suatu produk yang dihasilkan suatu perusahaan tentunya membawa dampak negative tehadap lingkungan (pencemaran lingkunga) seperti, polusi udara, tanah dan air. Dapat dijelaskan sebagai berikut: Polusi udara Beberapa proses produksi menimbulkan polusi udara yang sangat berbahaya bagi lingkungan masyarakat karena bias menimbulkan penyakit dan saluran pernapasan. Contohnya seperti, polusinya kendaraan, produksi bahan bakar dan baja. Suatu perusahaan tentunya mempunyai tujuan untuk menghasilkan suatu produknya yang baik dengan begitu mereka berusaha agar yang dihasilkan tidak membahayakan lingkungan, contoh pada perusahaan otomotif dan baaja telah mengurangi polusi udara dengan mengubah proses produksinya sehingga lebih sedikit karbon dioksida yang dilepaskan ke udara. Peranan pemerintah dalam mencegah polusi udara. Pemerintah juga terlibat dalam memberlakukan pedoman tertentu yang mengharuskan perusahaan untuk membatasi jumlah

karbon dioksida yang ditimbulkan olehproses produksi. Pada tahun 1970, Environmental Protection Agency(EPA), diciptakan untuk mengembangkan dan memberlakukan standar polusi. Polusi Tanah Tanah telah terpolusi oleh limbah yang beracun yangn tida dihasilkan dari beberapa proses produksi. Akibatnya tanah akan rusak tidak subur dan akan berdampak buruk bagi pertanian. Dengan begitu perusahaan harus mempunyai suatu strategi yang mengarah pada pencegahan terhadap polusi tanah. Misalkan, perusahaan merevisi produksi dan pengemasan guna mengurangi jumlah limbah. Perusahaan juga harus menyimpan limbah beracunnya ditempat yang khusus untuk limbah beracun dan perusahaan juga bias mendaur ulang membatasi penggunaan bahan baku yang pada akhirnya akan menjadi limbah padat. Ada banyak perusahaan yang memiliki program lingkungan yang didesain untuk mengurangi kerusakan lingkuperngan. Contoh, perusahaan Homestake Mining Company mengakui bahwa operasi penambangannnya merusak tanah, sehingga perusahaan tersebut mengelurkan uang untuk meminimalkan dampak terhadap lingkungan. Polusi Air / Pencemaran Air Pencemaran air mengacu pada perubahan fisik, biologi, kimia dan kondisi badan air yang akan mengganggu keseimbangan ekosistem.Seperti jenis polusi, hasil polusi air bila jumlah besar limbah yang berasal dari berbagai sumber polutan tidak dapat lagi ditampung oleh ekosistem alam. Sebenarnya ada alasan tertentu yang berada di belakang apa yang menyebabkan pencemaran air. Namun, penting untuk membiasakan diri dengan dua kategori utama pencemaran air, polusi beberapa datang langsung dari lokasi tertentu seseorang. Jenis polusi disebut pencemaran sumber titik seperti pipa air tercemar limbah yang mengalir ke sungai dan lahan pertanian. Sementara itu, polusi sumber non-titik adalah polusi yang berasal dari daerah-daerah besar seperti bensin dan kotoran lain dari jalan raya yang masuk ke danau dan sungai. Salah satu penyebab utama pencemaran air yang telah menyebabkan masalah kesehatan lingkungan yang serius dan merupakan polutan yang berasal dari bahan kimia dan proses industri. Ketika pabrik-pabrik dan produsen menuangkan bahan kimia dan limbah ternak langsung ke sungai dan sungai, air menjadi beracun dan tingkat oksigen yang habis menyebabkan banyak organisme air mati. Limbah ini

termasuk pelarut dan zat-zat beracun. Sebagian besar limbah tidak biodegradable. tanaman Power, pabrik kertas, kilang, pabrik-pabrik mobil membuang sampah ke sungai. Jadi suatu perusahaan sangat berperan penting dalam menengani masalah tersebut dengan melakukan penilitian dan strategi untuk mencegah terjadinya polusi air. Jadi pad prinsipnya perusahaan harus melakukan ada dua cara untuk menanggulangi pencemaran, yaitu penanggulangan non-teknis dan secara teknis. Penanggulangan secara non-teknis yaitu usaha untuk mengurangi pencemaran lingkungan dengan cara menciptakan peraturan perundang-undangan yang dapat merencanakan,mengatur dan mengawasi segala macam bentuk kegiatan industri dan teknologi sehingga tidak terjadi pencemaran. Peraturan perundangan ini hendaknya dapat memberikan gambaran secara jelas tentang kegiatan industri yang akan dilaksanakan, misalnya AMDAL, pengaturan dan pengawasan kegiatan, serta menanamkan perilaku disiplin. Sedangkan penanggulangan secara teknis bersumber kepada industri terhadap perlakuan buangannya, misalnya dengan mengubah proses, mengelola limbah atau menambah alat bantu yang dapat mengurangi pencemaran.

ETIKA LINGKUNGAN HIDUP Krisis ekologi dewasa ini telah meluas dan sangat berpengaruh pada pandangan kosmologis yang menimbulkan eksploitasi terhadap lingkungan. Relevansi pemikiran untuk memberikan landasan filosofis yang lebih mahal dan cocok semakin diperlukan. Semuanya ini terfokus pada manusia, sebagai peletak dasar dari semua permasalahan ini, serta mencari kedudukannya dalam seluruh keserasian alam yang menjadi lingkungan hidupnya. Olehnya, suatu etika yang mampu memberi penjelasan dan pertanggungjawaban rasional tentang nilai-nilai, asas dan norma-norma moril bagi sikap dan perilaku manusia terhadap alam lingkungan ini akan sulit didapatkan tanpa melibatkan manusia. Masalah ekologi tidak cukup dihadapi dengam mengembangkan etika lingkungan hidup. Kalau sudah menyangkut kesejahteraan umum masyarakat, pemikiran etis saja tidak akan berdaya tanpa didukung oleh aturan-aturan hukum yang akan dapat menjamin pelaksanaan dan menindak pelanggarannya. Untuk itu perlu diketahui berbagai teori yang membangun pemikiran tentang etika lingkungan hidup. Johan galtung mengetengahkan tiga teori etika di bawah ini serta menawarkan teori etika yang dapat dijadikan sebagai alternatif dengan kelebihannya (J. Sudriyanto, 1992: 13).

1.

Etika geosentris

Etika egosentris adalah etika yang berdasarkan ego (diri). Fokus etika ini adalah suatu keharusan utuk melakukan tindakan yang baik bagi diri. Kebaikan individu adalah kebaikan masyarakat yang merupakan klaim yang dianggap sah. Orientasi etika egosentris didasarkan pada filsafat individualisme dengan pandangan bahwa individu merupakan atom sosial yang berdiri sendiri (J. Sudriyanto, 1992: 13). Menurut Sony Karaf (1990: 31), etika geosentris mempercayai bahwa tindakan setiap orang pada dasarnya bertujuan mengejar kepentingannya sendiri dan demi keuntungan dna kemajuan pribadi. Dengan demikian manusia merupakan pelaku rasional dalam mengusahakan hidup dengan memanfaatkan alam yang berdasarkan pada kenyataan pandangan yang mekanistik. Teori sosial leberal merupakan penopang utama pandangan atomisme tersebut. Lima point pokok sebagai ajaran dalam atomisme, yakni: a. Pengetahuan mekanistik mengasumsikan bahwa segala sesuatu terdiri dari bagianbagian yang terpisah. Jika atom-atom merupakan komponen dari alam, maka manusia sebagai atom merupakan komponen riil dari masyarakat. b. Keseluruhan meruapakn hasil penjumlahan dari bagian-bagian. Jika demikian, maka masyarakat pada hakikatnya merupakan penjumlahan dari individu-individu sebagai pelaku yang rasional. c. Pandangan mekanistik menerima asumsi bahwa sebab yang datang dari luar berlaku dalam bagian-bagian internal. Oleh karena itu, hukum dan aturan-aturan yang datang dari penguasa-penguasa sebagai bagian eksternal akan dipertimbangkan oleh masyarakat secara positif. d. Perubahan keseluruhan terjadi karena perubahan pada bagian-bagian, sama halnya dengan masyarakat yang perubahan bangunannya dipengaruhi oleh individu-individu yang hidup disitu.

e. Pandangan ilmiah yang mekanistik demikian akan berimplikasi pada sifat dualistik.

Ada yang utama dan ada hal yang tidak utama seperti dalam korporate. Artinya secara teoritis etika geosentris menempatkan individu manusia sebagai bagian paling pokok dalam membangun lingkungan sosial. (J. Sudriyanto, 1992: 13)

2.

Etika homosentris

Etika homosentris bertolak belakang dengan etika geosentris dalam arti jika egosentris lebih menekankan pada individu, maka etika homosentrisme lebih menitikberatkan pada masyarakat. Model-model yang dijadikan dasarnya adalah kepentingan sosial dengan memperhatikan hubungan antara pelaku dengan lingkungan yang mampu melindungi sebagian besar hajat masyarakat. Sony Keraf (1990: 34) mensinyalir adanya kesamaan antara etika egosentrisme, etika homosentrime, dan etika utilitarianissme. Ketiganya samasama mendasarkan diri pada tujuan. Penilaian baik buruk suatu tindakan tergantung pada tujuannya dan akibat dari tindakan itu, inilah inti dari utulitarianisme. Tujuan dan akibat tiindakan pada etika egosintrisme dialamatkan pada tujuan dan manfaat pribadi individu. Tujuan dan akibat tindakan pada etika homosentrisme diukur dengan sejauh mana tujuan dan akibat baik bagi sebanyak mungkin masyarakat yang dapat dicapai. Akan tetapi homosentrisme lebih dekat dengan utulitarinisme bahkan keduanya dapat dijadikan sebagai etika universal. Asumsi yang digunakan oleh etika homosentrisme adalah sifat organis mekanis dari alam. Setiap bagian merupakan bagian-bagian organ dari bagian lainnya. Jika salah satu bagian hilang maka keseluruhan akan kurang bahkan tidak berguna. Antarbagian dari suatu keseluruhan memiliki hubungan yang tidak terpisahkan dan bersifat saling mempengaruhi. Sayangnya, menurut J. Sudriyanto (1990: 16) dengan pandangan demikian sumber-sumber kekayaan alam dikuras terus menerus dengan dalih demi kepentingan kemajuan masyarakat.

3.

Etika ekosentrisme

Etika ekosentrisme merupakan aliran etika yang ideal sebagai pendekatan dalam mengatasi krisis ekologi dewasa ini. Hal ini disebabkan karena etika ekosentris lebih berpihak pada lingkungan secara keseluruhan, baik biotic maupun abiotik. Hal terpenting dalam pelestarian lingkungan menurut etika ekosentris adalah tetap bertahannya segala yang hidup dan yang tidak hidup sebagai komponen ekosistem yang sehat. Benda-benda kosmis memiliki tanggung jawab moralnya sendiri seperti halnya manusia. Oleh karena itu, diperkirakan memiliki haknya sendiri juuga. Karena pandangan yang demikian, etika ini sering kali disebut juga deep ecology (J. Sudriyanto, 1992:243). Deep ecology juga disebut etika bumi. Bumi dianggap memperluas ikatan-ikatan komunitas secara kolektif yang terdiri atas manusia, tanah, air, tanaman, binatang. Bumi mengubah peran homo sapiens manusia menjadi bagian susunan warga dirinya. Sifat holistik ini menjadikan adanya rasa hormat terhadap bagian yang lain. Etika ekosentris mempercayai bahwa segala sesuatu selalu dalam hubungan dengan yang lain, di samping keseluruhan bukanlah sekedar penjumlahan. Jika bagian berubah, keseluruhan akan berubah pula. Tidak ada bagian dalam sesuatu ekosistem yang dapat diubah tanpa mengubah bagian yang lain dan keseluruhan.

Sikap dan perilaku seseorang terhadap sesuatu sangat ditetukan oleh bagaimana pandangan seseorang terhadap sesutu itu. Hal itu berlakku untuk banyak hal, termasuk mengenai hubungan manusia dengan alam lingkungannya. Manusia memiliki pandangan tertentu terhadap alam, dimana pandagan itu telah menjadi landasan bagi tindakan dan perilaku manusia terhadap alam. Pandangan tersebut dibahas dalam tiga teori etika utama yang dikenal shallow environmental ethics, intermediate environmental ethics, and deep environmental ethics. Ketiga teori ini juga disebut dengan antroposentisme, biosentrisme, dan ekosentrisme.

ANTROPOSENTISME Berdasarkan kata antropos = manusia, adalah suatu pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Pandangan ini berisikan pemikiran bahwa segala

kebijakan yang diambil mengenai lingkungan hidup harus dinilai berdasarkan manusia dan kepentingannya. Karena pusat pemikiran adalah manusia, maka kebijakan alam harus diharapkan untuk mengabdi pada kepentingan manusia. Alam dilihat hanya sebagai objek , alat dan saran bagi pemenuhan kebutuhan dan kepentingan manusia. Dengan demikian alam dilihat tidak memliki nilai dalam dirinya sendiri. Alam dipandang dan diberlakukannya sebagai alat bagi pencapaian tujuan manusia. Ditiduh salah satu penyebab bagi terjadinya krisis lingkungan hidup. Pandangan inilah yang menyebabkan manusia berani melakukan tindakan eksploitatif terhadap alam, dengan menguras demi kepentingannya walau banyak kritik yang dilontarkan, namun sebenarnya argumen yang ada di dalamnya sebagi landasan yang kuat bagi pengembangan sikap kepedulian terhadap alam. Manusia membutuhkan lingkungan hidup yang lebih baik, maka demi kepentingan hidupnya, manusia memiliki kewajiban memelihara dan melestarikannya.

BIOSENTRIS Biosentris adalah suatu pandangan yang menempatkan alam sebagai yang mempunyai nilai dalam dirinya sendiri, lepas dari kepentingan manusia. Dengan demikian, biosentris menolak teori antroposentris yang menyatakan hanya manusialah yang mempunyai nilai dalam dirinya sendiri. Teori biosentris berpandangan bahwa makhluk hidup bukan hanya manusia. Ada banyak hal dan jenis makhluk yang memiliki kehidupan. Pandangan biosentris mendasarkan, entah pada manusia atau pada makhluk hidup lainnya karena yang menjadi pusat perhatian dan ingin dibela dalam teori ini adalah kehidupan, maka secara moral berlaku prinsip bahwa kehidupan di muka bumi ini mempunyai nilai moral yang sama, sehingga harus dilindungi dan diselamatkan. Oleh karena itu, kehidupan setiap makhluk hidup pantas dipertimbangkan secara serius dalam setiap keputusan dan tindakan moral, bahkan lepas dari pertimbangan untung rugi bagi kehidupan manusia. Biosentris menekankan kewajiban terhadap alam bersumber dari pertimbangan bahwa kehidupan adalah sesuatu yang bernilai, baik kehidupan manusia maupun spesies lain di muka bumi. Beiosentris melihat alam dan seluruh isinya mempunyai harkat dan nilai dalam dirinya sendiri. Alam mempunyai nilai justru karena ada kehidupan yang terkandung dalamnya. Manusia dilihat sebagai salah satu bagian saja dari keseluruhan kehidupan yang ada di bumi, dan bukan

merupakan pusat dari alam semesta, maka secara biologis manusia tidak ada bedanya dengan makhluk lainnya.

EKOSENTRIS Pandangan ini didasarkan pada pemahaman bahwa secara ekologis, baik makhluk hidup maupun benda-benda abiotik saling terkait satu sama lain. Air di sungai, termasuk abiotik, sangat menentukan bagi kehidupan yang ada di dalamnya. Udara, walaupun tidak termasuk makhluk hidup, namau sangat menentukan bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup. Jadi ekosentris selaindejalan dengan beiosentrisme dimana keduanya sama-sama menetang pandangan antroposentrisme juga mencakup komunitas yang lebih luas, yakni komunitas ekologis seluruhnya. Jadi ekosentrisme menurut tanggung jawab moral yang sama untuk seluruh realitas biologis. Ekosentrisme disebut juga deep environmental ethics, perhatian teori ini bbukan hanya berpusat pada manusia melainkan pada makhluk hidup seluruhnya dalam kaitan dalam upaya mengatasi persoalan lingkungan hidup. Manusia bukan lagi pusat dari dunia moral. Deep ecology memusatkan perhatian kepada semua makhluk hidup di bumi, bukan hanya demi kepentingan jangka pendek, melainkan demi kepentingan seluruh komunitas ekologi. Deep ecology menganut prinsip biospheric egolitarian-sm, yaitu pengakuan bahwa seluruh organisme dan makhluk hidup adalah anggota yang sama statusnya dari suatu keseluruhan yang terkait sehingga mempunyai martabat yang sama. Ini menyangkut suatu pengakuan bahwa hak untuk hidup dan berkembang untuk semua makhluk (baik hayati maupun non hayati) adalah sebuah hak universal yang tidak bisa diabaikan. Sikap deep ecology terhadap lingkugan sangat jelas, yaitu tidak hanya memusatkan perhatian pada dampak pencemaran bagi kesehatan manusia, tetapi juga pada kehidupan secara keseluruhan. Alam harus dipandang juga dari segi nilai dan fungsi budaya, sosial, spiritual, medis, dan biologis. Pembicaraan tentang etika lingkungan sangat diperlukan mengingat kerusakan lingkungan hidup dan pola pendekatan yang membahayakan masa depan lingkungan dan manusia itu sendiri. Demikian juga sikap manusia terhadap lingkungan terkait dengan persoalan ekonomi, cenerung

menggunakan pendekatan demi keuntungan pribadi atau kelompok dan jangka pendek dalam kehidupan. Oleh karena itu, perlulah diketahui juga tanggung jawab terhadap lingkungan dalam hal keutuhan biosfir dan generasi yang akan datang. Semboyan etika lingkungan adalah membangu yang tidak merusak ekosistem. Johan Galtung menawarkan pendekatan alternatif yakni etika ekosentris tentu dengan mempertimbangkan kelebihannya. Etika ekosentris diyakininya sebagai pendekatan yang palinng baik dalam mengatasi krisis lingkungan dewasa ini. Hak ini disebabkan karena etika ekosentris lebih berpihak pada lingkungan secara holistik. Cara demikian akan menjaga tetap bertahannya segala yang hidup dan yang tidak hidup sebagai bagian yang saling terkait dan saling menguntungkan. Akan tetapi, pandangan Johan Galtung mengembalikan hubungan yang tidak jelas antara subjek dan objek, antara aku dan engkau, yang berlaku dalam masyarakat. Artinya alam diperlukan seperti manusia, tidak ada jarak anatara keduanya, sehingga membuka kembali ruang untuk praktik-praktik kebatinan lama, menyembah pohon, batu, dan sejenisnya. Oleh karena itu, teori ekosentris dengan segala kelebihannya kiranya masih perlu mempertimbangkan homosentris agar tidak mengaburkan konsep hak, sebab pelestarian lingkungan bukan berarti manusia menghormati hak makhluk lain untuk eksis, melainkan lebih kepada kewajiban dan tanggung jawab manusia demi kelestarian dirinya dan generasinya sebagai ciptaan Tuhan yang menjadi pimpinana dan pemeliharaan di muka bumi.

PENUTUP

Merupakan pandangan yang keliru apabila mempertentangkan hidup selaras dengan alam dan menaklukannya. Manusia dapat saja menggunakan alam ini demi kegunaan bagi dirinya

sambil tetap memperhatikan terpeliharanya kelestarian lingkungan hidup. Keselarasan yang betul serta keseimbangan yang sehat antar kebutuhan manusia dan pelestarian lingkungan menuntut juga penaklukan alam oleh kemampuan teknik manusia. Oleh karena itu, dua sikap berikut harus ditolak : 1. Memandang dan memperlakukan alam sejauh berguna bagi manusia dan meguasainya sejauh dimungkinkan oleh kemampuan teknologi 2. Faham mistisisime alam sejauh faham itu menganggap bahwa dunia ini harus diterima begitu saja dan tidak boleh diapa-apakan oleh manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Alam Marwah.2011.Makalah Seminar Akuntansi.

http://www.andrew.cmu.edu/course/99-522/ejbackground.html November 2011

diakses

tanggal

26

http://en.wikipedia.org/wiki/Environmental_movement_in_the_United_States tanggal 26 November 2011 http://translate.google.co.id/translate? hl=id&sl=en&u=http://upetd.up.ac.za/thesis/submitted/etd-08312001-

diakses

154421/unrestricted/04chapter3.pdf&ei=r_zRTp35LMLZrQen6cXnDA&sa=X&oi=translat e&ct=result&resnum=1&ved=0CCMQ7gEwAA&prev=/search%3Fq%3Ddefinition%2Bof %2Benvironmental%2Bresponsibility%26hl%3Did%26client%3Dfirefox-a%26rls %3Dorg.mozilla:en-US:official%26channel%3Ds%26biw%3D1024%26bih %3D443%26prmd%3Dimvns diakses 27 November 2011 http://notcupz.blogspot.com/2011/06/tanggung-jawab-sosial-perusahaan.html tanggal 27 November 2011 http://www.scribd.com/doc/6330078/Manusia-Dan-Lingkungan-Hidup diakses tanggal 27 November 2011 diakses