Anda di halaman 1dari 147

RENCANA DETAIL TATA RUANG KECAMATAN KUTA ALAM

RENCANA DETAIL TATA RUANG KECAMATAN KUTA ALAM Draft Final Report Kerjasama antara Pemerintah Kota Banda Aceh
RENCANA DETAIL TATA RUANG KECAMATAN KUTA ALAM Draft Final Report Kerjasama antara Pemerintah Kota Banda Aceh
RENCANA DETAIL TATA RUANG KECAMATAN KUTA ALAM Draft Final Report Kerjasama antara Pemerintah Kota Banda Aceh
RENCANA DETAIL TATA RUANG KECAMATAN KUTA ALAM Draft Final Report Kerjasama antara Pemerintah Kota Banda Aceh
RENCANA DETAIL TATA RUANG KECAMATAN KUTA ALAM Draft Final Report Kerjasama antara Pemerintah Kota Banda Aceh
RENCANA DETAIL TATA RUANG KECAMATAN KUTA ALAM Draft Final Report Kerjasama antara Pemerintah Kota Banda Aceh
RENCANA DETAIL TATA RUANG KECAMATAN KUTA ALAM Draft Final Report Kerjasama antara Pemerintah Kota Banda Aceh
RENCANA DETAIL TATA RUANG KECAMATAN KUTA ALAM Draft Final Report Kerjasama antara Pemerintah Kota Banda Aceh
RENCANA DETAIL TATA RUANG KECAMATAN KUTA ALAM Draft Final Report Kerjasama antara Pemerintah Kota Banda Aceh
RENCANA DETAIL TATA RUANG KECAMATAN KUTA ALAM Draft Final Report Kerjasama antara Pemerintah Kota Banda Aceh
RENCANA DETAIL TATA RUANG KECAMATAN KUTA ALAM Draft Final Report Kerjasama antara Pemerintah Kota Banda Aceh

Draft Final Report

DETAIL TATA RUANG KECAMATAN KUTA ALAM Draft Final Report Kerjasama antara Pemerintah Kota Banda Aceh dengan

Kerjasama antara Pemerintah Kota Banda Aceh dengan GTZ – SLGSR (Support for Local Governance for Sustainable Reconstruction)

November 2006

Kota Banda Aceh dengan GTZ – SLGSR (Support for Local Governance for Sustainable Reconstruction) November 2006
Kota Banda Aceh dengan GTZ – SLGSR (Support for Local Governance for Sustainable Reconstruction) November 2006
Kota Banda Aceh dengan GTZ – SLGSR (Support for Local Governance for Sustainable Reconstruction) November 2006

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

KATA PENGANTAR

Kegiatan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam merupakan realisasi dari kerjasama Pemerintah Kota Banda Aceh dengan Pemerintah Jerman melalui GTZ-SLGSR (Support for Local Government for Sustainable Reconstruction).

Draft Laporan Akhir (Draft Final Report) ini merupakan hasil sementara kegiatan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam yang mengkombinasikan pendekatan perencanaan partisipatif (bottom-up planning) dan perencanaan dari tingkat yang lebih tinggi (top-down planning).

Laporan ini berisi hasil pengumpulan data dan informasi dari para stakeholder yang terkait, analisis, konsep perencanaan, rancangan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Kuta Alam, serta rekomendasi dan indikasi program. Selain itu, laporan ini juga telah mengakomodasi semua masukan dan saran yang telah diberikan pada acara kick-off meeting dan workshop-workshop yang telah dilakukan selama proses penyusunan RDTR ini.

Tak ada gading yang tak retak, demikian halnya dengan draft laporan ini masih terdapat kekurangan dan kelamahan. Untuk itu, kami sangat mengharapkan masukan dan saran dari para stakeholder terkait demi kesempurnaan RDTR ini. Besar harapan kaita bersama bahwa RDTR ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembangunan di Kecamatan Kuta Alam.

Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah memberikan support, masukan dan saran demi terselesaikannya penyusunan RDTR ini.

Penyusun,

GTZ-SLGSR

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

i

Daftar Isi

ii

Daftar Tabel

v

Daftar Gambar

vii

BAB I PENDAHULUAN

I – 1

1.1 Latar Belakang

I – 1

1.2 Tujuan, Fungsi dan Manfaat

I – 1

1.2.1 Tujuan

I – 1

1.2.2 Fungsi dan Manfaat

I – 2

1.3 Ruang Lingkup

I – 3

1.3.1 Ruang Lingkup Wilayah

I – 3

1.3.2 Ruang Lingkup Perencanaan

I – 3

1.3.3 Ruang Lingkup Waktu Perencanaan

I – 5

1.4 Pendekatan Perencanaan

I – 5

1.4.1 Pengertian Istilah Dalam Perencanaan Tata Ruang

I – 5

1.4.2 Pendekatan Perencanaan

I – 7

1.4.3 Kerangka Pemikiran

I – 8

1.5 Sistematika Laporan

I – 10

BAB II KARAKTERISTIK WILAYAH KECAMATAN KUTA ALAM

II – 1

2.1 Wilayah Administrasi

II – 1

2.2 Fisik Dasar

II - 3

2.2.1 Ketinggian

II – 3

2.2.2 Kemiringan

II – 3

2.2.3 Hidrologi

II – 5

2.2.4 Geologi dan Jenis Tanah

II – 6

2.2.5 Iklim

II – 10

2.3 Kependudukan

II – 11

2.3.1 Jumlah Penduduk

II – 11

2.3.2 Kepadatan Penduduk

II – 11

2.3.3 Pertumbuhan Penduduk

II – 12

2.3.4 Struktur Penduduk

II – 12

2.4 Perekonomian

II – 14

2.4.1 Sektor Ekonomi

II – 14

2.4.2 Pendapatan Perkapita

II – 18

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

2.4.3 Potensi Pengembangan Ekonomi

2.5 Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang

2.5.1 Struktur Ruang

2.5.2 Pola Pemanfaatan Ruang

2.6 Transportasi

2.6.1 Sarana Transportasi

2.6.2 Prasarana Transportasi

2.6.3 Manajemen Lalu Lintas

2.7 Fasilitas

2.7.1 Fasilitas Pendidikan

2.7.2 Fasilitas Kesehatan

2.7.3 Fasilitas Peribadatan

2.7.4 Fasilitas Perdagangan dan Jasa

2.7.5 Fasilitas Perkantoran dan Pemerintahan

2.7.6 Fasilitas Ruang Terbuka Hijau dan Olah Raga

2.8 Utilitas

2.8.1 Drainase

2.8.2 Air Bersih

2.8.3 Listrik

2.8.4 Telepon

2.8.5 Persampahan

II – 18 II – 19 II – 19 II – 22 II – 26 II – 26 II – 27 II – 27 II – 31 II – 31 II – 34 II – 36 II – 40 II – 41 II – 43 II – 46 II – 46 II – 49 II – 52 II – 54 II – 54

BAB III DASAR PERTIMBANGAN PENYUSUNAN RDTR KECAMATAN

KUTA ALAM

III – 1

3.1 Review Kebijakan Pembangunan dan Tata Ruang

III – 1

3.1.1 RTRW Kota Banda Aceh Tahun 2002-2010

III – 1

3.1.2 Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah Aceh dan Nias, Sumatera Utara (Blue Print)

III – 6

3.1.3 Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Banda Aceh (JICA)

III – 6

3.1.4 Revisi RTRW Kota Banda Aceh (Departemen Pekerjaan Umum)

III – 9

3.1.5 Perencanaan Yang Telah Dilakukan di Kecamatan Kuta Alam

III – 10

3.1.6 Pedoman Pembangunan Bangunan (Building Code)

III – 10

3.2 Review Kemajuan Pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi

III – 14

3.3 Usulan Pengembangan Dari Masyarakat Kecamatan Kuta Alam

III – 16

3.4 Kesesuaian dan Kemampuan Lahan Untuk Pengembangan

III – 16

3.5 Daya Tampung Ruang dan Proyeksi Penduduk

III – 16

3.6 Konsep Dasar Pengembangan Ruang

III – 22

3.7 Kebutuhan Ruang Untuk Pengembangan

III – 25

BAB IV RENCANA DETAIL TATA RUANG KECAMATAN KUTA ALAM IV – 1

4.1 Tujuan Pengembangan Kawasan Kecamatan Kuta Alam

4.2 Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang

IV – 1 IV – 2

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

4.2.1 Kebijakan Pengembangan Penduduk

4.2.2 Rencana Struktur Pelayanan

4.2.3 Rencana Sistem Transportasi

4.2.4 Rencana Sistem Jaringan Utilitas

4.2.5 Rencana Pola Pemanfaatan Ruang

4.2.6 Rencana Ruang Terbuka Hijau (RTH)

4.3 Pedoman Pelaksanaan Pembangunan Kawasan

4.3.1 Arahan Kepadatan Bangunan

4.3.2 Arahan Ketinggian Bangunan

4.3.3 Arahan Perpetakan Bangunan

4.3.4 Garis Sempadan

4.3.5 Rencana Penanganan Blok Peruntukan

4.3.6 Rencana Penanganan Prasarana dan Sarana

4.4 Pedoman Pengendalian Pemanfaatan Ruang

IV – 2 IV – 3 IV – 3 IV – 14 IV – 21 IV – 24 IV – 29 IV – 29 IV – 29 IV – 30 IV – 33 IV – 34 IV – 36 IV – 38

BAB V REKOMENDASI DAN INDIKASI PROGRAM

V

– 1

5.1 Rekomendasi

V

– 1

5.2 Indikasi Program

V

– 1

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

DAFTAR TABEL

Tabel II.1

Luas Kelurahan dan Gampong di Kecamatan Kuta Alam

II

- 1

Tabel II.2

Kriteria Tingkat Kesesuaian Kawasan Menurut Klasifikasi

Kemiringan Lahan

II – 5

Tabel II.3

Penduduk Sebelum dan Setelah Gempa dan Gelombang Tsunami

Tabel II.4

Di Kecamatan Kuta Alam Kepadatan Penduduk Kecamatan Kuta Alam Tahun 2006

II – 11 II – 12

Tabel II.5

Jumlah Penduduk Kecamatan Kuta Alam Tahun 2006

Berdasarkan Jenis Kelamin

II – 14

Tabel II.6

PDRB Kota Banda Aceh Menurut Harga Konstan Tahun 2000

Tabel II.7

Tahun 2000-2005 (Jutaan Rupiah) Pendapatan Perkapita Kota Banda Aceh Tahun 2000-2005

II – 14 II – 18

Tabel II.8

Kondisi Struktur Ruang Kecamatan Kuta Alam Sebelum dan

Sesudah Tsunami

II – 19

Tabel II.9

Penggunaan Lahan Tiap Kelurahan/Gampong di Kecamatan

Tabel II.10

Kuta Alam Tahun 2006 Fasilitas Pendidikan di Kecamatan Kuta Alam Tahun 2006

II – 24 II – 32

Tabel II.11

Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Kuta Alam Tahun 2006

II – 34

Tabel II.12

Fasilitas Peribadatan di Kecamatan Kuta Alam Tahun 2006

II – 38

Tabel II.13

Fasilitas Ruang Terbuka Hijau di Kecamatan Kuta Alam Th 2006

II – 45

Tabel II.14

Jumlah Pelanggan Air Bersih di Kecamatan Kuta Alam Th. 2006

II – 51

Tabel III.1

Pembagian Zona, Fungsi dan Jenis Penggunaan Lahan Kota

Banda Aceh Menurut URRP BAC

III – 8

Tabel III.2

Zonasi Pedoman Pembangunan Bangunan (Building Code)

Kecamatan Kuta Alam

III – 12

Tabel III.3

Kemajuan Pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi di

Kecamatan Kuta Alam (Status per Juli 2006)

III – 14

Tabel III.4

Permasalahan Utama dan Usulan Penanganan Kecamatan

Tabel III.5

Kuta Alam (Status per Agustus 2006) Proyeksi Penduduk Kecamatan Kuta Alam Tahun 2012

III – 17 III – 22

Tabel III.6

Pembagian Unit Lingkungan di Kecamatan Kuta Alam

III – 25

Tabel III.7

Rekapitulasi Kebutuhan Ruang Tiap Kelurahan dan Gampong di

Tabel IV.1

Kecamatan Kuta Alam Sampai Dengan Tahun 2012 Rencana Distribusi Penduduk Kecamatan Kuta Alam Th. 2012

III – 26 IV – 2

Tabel IV.2

Rencana Pengembangan Jalan Arteri di Kecamatan

Kuta Alam

IV – 5

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

Tabel IV.3

Rencana Pengembangan Jalan Kolektor di Kecamatan Kuta Alam. IV – 6

Tabel IV.4

Rencana Pengembangan Jalan Lokal di Kecamatan Kuta Alam

IV – 7

Tabel IV.5

Rencana Kebutuhan Air Bersih Kecamatan Kuta Alam Th. 2012

IV – 16

Tabel IV.6

Perkiraan Air Buangan Kecamatan Kuta Alam Tahun 2012

IV – 18

Tabel IV.7

Rencana Kebutuhan Listrik Kecamatan Kuta Alam Tahun 2012

IV – 19

Tabel IV.8

Rencana Kebutuhan Telepon Kecamatan Kuta Alam Tahun 2012

IV – 19

Tabel IV.9

Perkiraan Timbunan Sampah dan Kebutuhan Sarana

Persampahan Kecamatan Kuta Alam Tahun 2012

IV – 20

Tabel IV.10

Kriteria Penentuan Garis Sempadan Sungai di Kecamatan

Tabel IV.11

Kuta Alam Rencana Penggunaan Lahan di Kecamatan Kuta Alam Th. 2012

IV – 21 IV – 23

Tabel IV.12

Rencana Penetapan KDB, KLB dan Perpetakan Bangunan

Di Kecamatan Kuta Alam

IV – 31

Tabel IV.13

Rencana Penanganan Blok Peruntukan Di Kecamatan Kuta Alam. IV – 35

Tabel V.1

Indikasi Program Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam Tahun 2007 – 2012

V – 2

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1

Peta Orientasi Wilayah Perencanaan

I – 4

Gambar 1.2

Kerangka Pemikiran

I – 9

Gambar 2.1

Peta Wilayah Administrasi Kecamatan Kuta Alam

II – 2

Gambar 2.2

Orientasi Pengembangan Wilayah, Kriteria Ketinggian,

Gambar 2.3

Kemiringan dan Penggunaan Lahan Peta Topografi

II – 3 II – 4

Gambar 2.4

Peta Geologi Lapisan Permukaan

II – 6

Gambar 2.5

Peta Geologi Lapisan 2 Meter Dibawah Permukaan Tanah

II – 7

Gambar 2.6

Peta Klasifikasi Tanah

II – 7

Gambar 2.7

Peta Kekuatan Tanah

II – 8

Gambar 2.8

Peta Kerentanan Air

II – 9

Gambar 2.9

Peta Kesesuaian Bangunan

II – 10

Gambar 2.10 Peta Kepadatan Penduduk Sebelum dan Sesudah Tsunami

II – 13

Gambar 2.11 PDRB Kota Banda Aceh Menurut Harga Konstan Tahun 2000 Tahun 2000-2005 (Jutaan Rupiah)

Gambar 2.19 Peta Pengunaan Lahan Eksisting

Gambar 2.22

II – 15

Gambar 2.12 Pertumbuhan PDRB Kota Banda Aceh Menurut Harga Konstan Tahun 2000 Tahun 2000-2005 Gambar 2.13 Pertumbuhan Inflasi di Kota Banda Aceh Tahun 2000-2006 Gambar 2.14 Indikator Kemiskinan Gambar 2.15 Tingkat Kemiskinan

II – 15 II – 16 II – 16 II – 17

Gambar 2.16 Jumlah Keluarga dan Keluarga Miskin Kecamatan Kuta Alam Tahun 2002 dan 2005 Gambar 2.17 Pertambahan Kemiskinan di Kecamatan Kuta Alam Gambar 2.18 Peta Kondisi Sebelum dan Sesudah Tsunami

Gambar 2.20 Peta Kesesuaian Penggunaan Lahan Eksisting dengan Rencana Penggunaan Lahan RTRW 2002-2010 Gambar 2.21 Peta Jaringan Jalan Eksisting

II – 17 II – 18 II – 20 II – 23

II – 25 II – 28 II – 29

Gambar 2.23

Peta Kondisi Jalan Eksisting Peta Rute Angkutan Umum

II – 30

Gambar 2.24 Kondisi Bangunan Fasilitas Pendidikan SLTA di Kecamatan Kuta Alam Gambar 2.25 Peta Sebaran Fasilitas Pendidikan di Kecamatan Kuta Alam Gambar 2.26 Kondis Bangunan Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Kuta Alam Gambar 2.27 Peta Sebaran Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Kuta Alam

II – 32 II – 33 II – 36 II – 37

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

II – 38 II – 39

Gambar 2.30 Kondisi Fasilitas Perdagangan dan Jasa di Kecamatan Kuta Alam. II – 41 Gambar 2.31 Peta Sebaran Fasilitas Perdagangan dan Jasa di Kecamatan

Gambar 2.28 Kondisi Fasilitas Peribadatan Mesjid di Kecamatan Kuta Alam Gambar 2.29 Peta Sebaran Fasilitas Peribadatan di Kecamatan Kuta Alam

Kuta Alam

II – 42

Gambar 2.32 Kondisi Fasilitas RTH dan Lapangan Olah Raga di Kecamatan Kuta Alam Gambar 2.33 Peta Sebaran Fasilitas Olah Raga dan Ruang Terbuka Hijau Di Kecamatan Kuta Alam

II – 46

II – 47

Gambar 2.34

Kondisi Sistem Drainase di Kecamatan Kuta Alam

II – 49

Gambar 2.35 Peta Jaringan Drainase di Kecamatan Kuta Alam

II – 50

Gambar 2.36

Kondisi Supply Air Bersih di Kecamatan Kuta Alam

II – 52

Gambar 2.37

Peta Jaringan Air Bersih di Kecamatan Kuta Alam

II – 53

Gambar 2.38

Kondisi Jaringan Listrik di Kecamatan Kuta Alam

II – 54

Gambar 2.39 Kondisi Persampahan di Kecamatan Kuta Alam

II – 56

Gambar 3.1

Rencana Struktur Tata Ruang Kota Banda Aceh Menurut

RTRW Kota Banda Aceh 2002-2010

III – 2

Gambar 3.2

Rencana Penggunaan Lahan Kota Banda Aceh Menurut

RTRW Kota Banda Aceh 2002-2010

III – 2

Gambar 3.3

Rencana Struktur Tata Ruang Kota Banda Aceh Menurut

Blue Print (Bappenas)

III – 6

Gambar 3.4

Rencana Struktur Tata Ruang Kota Banda Aceh Menurut

UURP BAC (JICA)

III – 7

Gambar 3.5

Rencana Penggunaan Lahan Kota Banda Aceh Menurut

UURP BAC (JICA)

III – 7

Gambar 3.6

Rencana Struktur Tata Ruang Kota Banda Aceh Menurut

Revisi RTRW (Departemen PU)

III – 9

Gambar 3.7

Rencana Penggunaan Lahan Kota Banda Aceh Menurut

Gambar 3.8

Revisi RTRW (Departemen PU) Perencanaan di Kecamatan Kuta Alam

III – 9 III – 11

Gambar 3.9

Usulan Masyarakat Kecamatan Kuta Alam

III – 20

Gambar 3.10 Zona Kerusakan Akibat Gempa dan Tsunami Kec. Kuta Alam

III – 21

Gambar 3.11

Konsep Perencanaan Kecamatan Kuta Alam

III – 23

Gambar 4.1

Peta Rencana Struktur Pelayanan Kecamatan Kuta Alam

IV – 4

Gambar 4.2

Peta Rencana Jaringan Jalan Kecamatan Kuta Alam

IV – 8

Gambar 4.3

Peta Rencana Escape Road Kecamatan Kuta Alam

IV – 9

Gambar 4.4

Geometri Penampang Jalan di Kecamatan Kuta Alam

IV – 11

Gambar 4.5

Peta Rencana Jaringan Drainase Kecamatan Kuta Alam

IV – 15

Gambar 4.6

Peta Rencana Jaringan Air Bersih Kecamatan Kuta Alam

IV – 17

Gambar 4.7

Peta Rencana Penggunaan Lahan Kecamatan Kuta Alam

IV – 25

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

Gambar 4.8

Peta Rencana Ruang Terbuka Hijau Kecamatan Kuta Alam

IV – 28

Gambar 4.7

Contoh Garis Sempadan Depan, Samping dan Belakang

IV – 34

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Kecamatan Kuta Alam merupakan wilayah pesisir bagian utara Kota Banda Aceh yang terkena bencana alam gempa bumi dan gelombang tsunami tanggal 26 Desember 2004 lalu. Sebagian besar wilayah ini, terutama yang berada di bagian pesisir, mengalami kerusakan yang cukup parah dengan banyaknya jumlah korban jiwa serta hancurnya sarana dan prasarana seperti rumah, tempat ibadah, fasilitas pendidikan, jalan, drainase, tambak dan lain-lainnya. Sedangkan untuk sebagian wilayah Kecamatan Kuta Alam yang merupakan wilayah pusat kota (central business district) relatif tidak terkena bencana alam gempa bumi dan gelombang tsunami.

Setelah hampir dua tahun berlalu, telah banyak pihak yang melakukan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi, baik oleh lembaga lokal, dalam negeri maupun dari luar negeri yang dikoordinasikan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh Nias. Untuk mengarahkan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi tersebut serta mengarahkan perkembangan di masa datang, maka perlu dirumuskan terlebih dahulu rencana tata ruangnya. Untuk itu, pada saat ini sedang dilakukan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Banda Aceh.

Seiring dengan upaya untuk mengarahkan dan mempercepat kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah Kecamatan Kuta Alam, serta untuk menyelaraskan dengan kegiatan revisi RTRW Kota Banda Aceh yang sedang dilakukan, maka Pemerintah Jerman melalui GTZ-SLGSR membantu Pemerintah Kota Banda Aceh dalam menyusun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Kuta Alam.

1.2 TUJUAN, FUNGSI DAN MANFAAT

1.2.1

Tujuan

Secara normatif tujuan penyusunan RDTR Kecamatan Kuta Alam ini adalah

bagian

menjabarkan

RTRW

Kota

Banda

Aceh

secara

lebih

terperinci

untuk

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

wilayah Kecamatan Kuta Alam guna penyiapan perwujudan ruang dalam rangka pelaksanaan program-program pembangunan perkotaan di wilayah tersebut. Secara lebih spesifik, tujuan penyusunan RDTR Kecamatan Kuta Alam ini terutama adalah untuk mengarahkan upaya-upaya rehabilitasi dan rekonstruksi yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di Kecamatan Kuta Alam.

1.2.2 Fungsi dan Manfaat

Dengan mengacu kepada Kepmen Kimpraswil No. 327/KPTS/M/2002, maka RDTR Kecamatan Kuta Alam ini berfungsi untuk :

Menyiapkan perwujudan ruang, dalam rangka pelaksanaan program pembangunan perkotaan di Kecamatan Kuta Alam yang sesuai dengan kultur setempat;

Menjaga konsistensi pembangunan dan keserasian perkembangan kawasan perkotaan di Kecamatan Kuta Alam dengan RTRW Kota Banda Aceh;

Menciptakan keterkaitan antar kegiatan yang selaras, serasi dan efisien;

Menjaga konsistensi perwujudan ruang kawasan perkotaan di Kecamatan Kuta Alam melalui pengendalian program-program pembangunan perkotan.

Manfaat dari RDTR Kecamatan Kuta Alam ini adalah sebagai pedoman untuk :

Pemberian advis planning,

Pengaturan bangunan setempat,

Penyusunan rencana teknik ruang kawasan (RTRK), atau rencana tata bangunan dan lingkungan (RTBL), yang dapat disetarakan dengan village planning dalam konteks rehabilitasi dan rekonstruksi,

Pelaksanaan program pembangunan yang terkait dengan pemanfaatan ruang.

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

1.3 RUANG LINGKUP

1.3.1 Ruang Lingkup Wilayah

Ruang lingkup wilayah perencanaan dalam Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam meliputi seluruh wilayah administrasi Kecamatan Kuta Alam.

Kecamatan Kuta Alam seluas 1.007 hektar meliputi :

1. Kelurahan Peunayong (36 hektar)

2. Kelurahan Laksana (21 hektar)

3. Kelurahan Keuramat (49 hektar)

4. Kelurahan Kuta Alam (59 hektar)

5. Kelurahan Beurawe (78 hektar)

6. Kelurahan Kota Baru (78 hektar)

7. Kelurahan Bandar Baru (147 hektar)

8. Kelurahan Mulia (70 hektar)

9. Desa Lampulo (155 hektar)

10. Desa Lamdingin (85 hektar)

11. Desa Lambaro Skep (229 hektar)

Secara lebih jelas mengenai orientasi lokasi wilayah Kecamatan Kuta Alam dapat dilihat pada Gambar 1.1.

1.3.2 Ruang Lingkup Perencanaan

Mengikuti Pedoman Penataan Ruang (Kepmen Kimpraswil No. 327/KPTS/M/2002), maka muatan dalam Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam meliputi :

1. Tujuan pengembangan kawasan fungsional perkotaan;

2. struktur

Rencana

dan

pola

pemanfaatan

ruang

Kawasan

Perkotaan,

meliputi :

a. Struktur pemanfaatan ruang, yang meliputi distribusi penduduk, struktur pelayanan kegiatan kawasan perkotaan, sistem jaringan pergerakan, sistem jaringan telekomunikasi, sistem jaringan energi, dan sistem prasarana pengelolaan lingkungan;

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

Gambar 1.1

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

b. Pola pemanfaatan ruang, yang meliputi pengembangan kawasan fungsional (kawasan permukiman, perdagangan, jasa, pemerintahan, pariwisata, perindustrian) dalam blok-blok peruntukan.

3.

Pedoman

pelaksanaan

pembangunan

kawasan

fungsional

perkotaan,

meliputi :

a. Arahan

kepadatan

bangunan

(net

density/KDB)

untuk

setiap

blok

peruntukan;

 

b. Arahan ketinggian bangunan (maximum height/KLB) untuk setiap blok peruntukan;

c. Arahan garis sempadan bangunan untuk setiap blok peruntukan;

 

d. Rencana penanganan lingkungan blok peruntukan;

 

e. Rencana penanganan jaringan prasarana dan sarana.

4.

Pedoman pengendalian pemanfaatan ruang kawasan fungsional perkotaan.

1.3.3

Ruang Lingkup Waktu Perencanaan

 

Sesuai dengan Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan, maka jangka waktu untuk RDTR Kecamatan Kuta Alam ini adalah 5 (lima) tahun ke depan. Dengan demikian maka antisipasi atau prediksi perencanaan adalah sampai 5 (lima) tahun ke depan, dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2012.

1.4 PENDEKATAN PERENCANAAN

1.4.1 Pengertian Istilah Dalam Perencanaan Tata Ruang

1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan dan ruang udara sebagai suatu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya;

2. Tata ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak;

3. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan tata ruang;

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

4. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional;

5. Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau budi daya;

6. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan;

7. Kawasan budi daya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan;

8. Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal/ lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan;

9. Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi;

10. Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi;

11. Kawasan tertentu adalah kawasan yang ditetapkan secara nasional mempunyai nilai strategis yang penataan ruangnya diprioritaskan;

12. Masyarakat adalah orang seorang, kelompok orang termasuk masyarakat hokum adat, adat atau badan hukum.

13. Peran serta masyarakat adalah berbagai kegiatan masyarakat, yang timbul atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat untuk berminat dan bergerak dalam penyelenggaraan penataan ruang.

14. Izin Lokasi (IL) adalah izin yang diberikan kepada badan usaha pembangunan perumahan dan permukiman atau kelompok masyarakat untuk memperoleh

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

dan memanfaatkan tanah untuk pembangunan perumahan dan permukiman sesuai dengan rencana tata ruang wilayah.

15. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah penataan bangunan perumahan dan permukiman yang tepat sesuai dengan peraturan bangunan yang telah disahkan dan diberikan izin perencanaannya kepada badan usaha pembangunan perumahan dan permukiman atau masyarakat dalam rangka memanfaatkan tanah untuk pembangunan perumahan dan permukiman.

16. Izin Mendirikan Bangunan (IMB) adalah izin yang diberikan untuk mendirikan bangunan rumah secara fisik berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1963 dan yang telah memperoleh izin perencanaannya.

17. Hak atas ruang adalah hak-hak yang diberikan atas pemanfaatan ruang daratan, ruang lautan dan ruang udara.

18. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan.

19. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi.

20. Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi.

21. Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai tujuan.

22. Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran, atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah.

1.4.2 Pendekatan Perencanaan

Dalam menyusun Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam digunakan pendekatan perencanaan sebagai berikut :

1. Conformity Approach”, yaitu perencanaan tata ruang yang dibuat sesuai dengan pedoman perencanaan tata ruang. Untuk mengawal dan memantau proses penyusunan rencana tata ruang ini diperlukan ”streering committee

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

atau tim teknis yang terdiri dari Ketua Bappeda, Kepala Dinas Tata Kota dan Permukiman, Kepala Dinas Pengembangan Jalan dan Sumber Daya Air.

2. Participation Approach”, yaitu perencanaan ini disusun melalui proses partisipatif dari stakeholder-stakeholder yang terkait. Stakeholder tersebut nantinya yang akan terlibat dalam proses implementasi dari produk perencanaan tata ruang ini.

3. Harmonize ”Bottom-Up” and ”Top-Down” Planning Approach, yaitu mengharmonisasikan pendekatan perencanaan “top-down” yang focus terhadap arahan dari tingkat atasnya dengan pendekatan perencanaan bottom-up” yang lebih bersifat partisipatif.

4. Reconstruction Focus and Process Orientation”, yaitu perencanaan tata ruang, tindak lanjut, serta implementasinya difokuskan pada permasalahan tata ruang yang terkait dengan proses rekonstruksi paska bencana gempa bumi dan tsunami. Perencanaan yang dibuat berorientasi pada proses perencanaan yang mengakomodasi semua kepentingan stakeholder.

5. ”Sustainability-approach”, yaitu pendekatan perencanaan yang berkelanjutan, baik dari aspek sosial, ekonomi, ekologi, dan kelembagaan.

6. ”Synergy-approach”, yaitu pendekatan perencanaan yang mensinergikan kepentingan antar sektor and antar wilayah. Oleh karena itu sangat diperlukan koordinasi dalam penataan ruang, baik koordinasi horisontal yang mengharmonisasikan kepentingan dan perencanaan sektoral yang berbeda- beda maupun koordinasi vertikal yang mengharmonisasikan ruang yang terkait dengan rencana dan proyek dari tingkatan wilayah yang berbeda.

1.4.3 Kerangka Pemikiran

Proses penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam dilakukan seperti terlihat pada diagram alur kerangka pemikiran seperti terlihat pada Gambar 1.2.

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

Gambar 1.2 Kerangka Pemikiran Proses Penyusunan RDTR Kecamatan Kuta Alam

Permasalahan Pokok Kondisi Kecamatan Kuta Alam paska bencana tsunami : • Penurunan jumlah penduduk •
Permasalahan Pokok
Kondisi Kecamatan Kuta Alam paska bencana tsunami :
• Penurunan jumlah penduduk
• Hancurnya sarana dan prasarana, seperti rumah,
fasilitas umum, jalan, drainase
• Perubahan struktur dan bentuk fisik ruang akibat
bencana gempa bumi dan tsunami
• Merupakan bagian kawasan pusat Kota Banda
Aceh sebagai pusat perdagangan dan jasa skala regional.
OUTPUT
Diskusi
Diskusi
Kondisi Wilayah
Rencana Detail Tata Ruang
Kecamatan Kuta Alam
• Tujuan Pengembangan
Kecamatan Kuta Alam
• Kondisi fisik lingkungan,
kependudukan, perekonomian,
transportasi, fasilitas & utilitas)
PROSES
INPUT
• Rencana Struktur dan Pola
Pemanfaatan Ruang
• Kegiatan rehab dan rekon yang
telah dan sedang dilakukan
paska bencana tsunami
• Data Primer
Survey Primer
(Observasi Lapangan)
• Data Sekunder
• Workshop, FGD
• Analisis
• Pedoman Pelaksanaan
Pembangunan Kawasan (KDB,
KLB, perpetakan, garis sempadan,
penanganan blok peruntukan, dan
penanganan jaringan prasarana
dan sarana)
RTRW
Kota Banda Aceh
• Pedoman pengendalian
pemanfaatan ruang
a.
Menciptakan lingkungan yang memenuhi persyaratan dengan
memperhatikan kaidah atau norma-norma sosial budaya setempat.
Rencana/Program Sektoral
Rehabilitasi dan Rekontruksi
Paska Bencana Tsunami
b.
Mengatur dan mengarahkan pembangunan hingga mencapai sasaran
dalam rangka :
Rencana lebih mikro :
- tertib pembangunan,
- tertib pengaturan ruang secara terinci
c.
Pertimbangan untuk perecanaan selanjutnya yang lebih mikro
(village planning).
RTRK / RTBL /
Village Planning

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

1.5 SISTEMATIKA LAPORAN

Draft Laporan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam ini mengikuti sistematika laporan sebagai berikut :

Bab I Pendahuluan, yang berisikan latar belakang, tujuan, fungsi dan manfaat, ruang lingkup, pendekatan perencanaan, dan sistematika laporan.

Bab II Karakteristik Wilayah Kecamatan Kuta Alam, yang berisikan tentang karakteristik kawasan seperti kondisi fisik dasar, kependudukan, perekonomian, struktur dan pola pemanfaatan ruang, transportasi, fasilitas dan utilitas.

Bab III Dasar Pertimbangan Penyusunan RDTR Kecamatan Kuta Alam, yang berisikan review kebijakan pembangunan dan tata ruang, review pedoman pembangunan bangunan, review terhadap kemajuan pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi di Kecamatan Kuta Alam, usulan pengembangan berdasarkan hasil workshop, kesesuaian dan kemampuan lahan, daya tampung ruang dan prediksi jumlah penduduk, konsep dasar pengembangan ruang, kebutuhan ruang untuk pengembangan.

Bab IV Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam, yang berisikan tujuan pengembangan kawasan, rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang, pedoman pelaksanaan pembangunan kawasan, dan pedoman pengendalian pemanfaatan ruang.

Bab V Rekomendasi dan Indikasi Program, yang berisikan rekomendasi tindak lanjut dan matriks indikasi program pembangunan Kecamatan Kota Alam Tahun 2007-2012.

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

BAB II KARAKTERISTIK WILAYAH KECAMATAN KUTA ALAM

Pada bab ini akan dibahas mengenai karakteristik Kecamatan Kuta Alam, yang meliputi wilayah administrasi, fisik dasar, kependudukan, perekonomian, struktur dan pola pemanfaatan ruang, transportasi, serta fasilitas dan utilitas.

2.1 WILAYAH ADMINISTRASI

Kecamatan Kuta Alam merupakan bagian dari wilayah administrasi Kota Banda Aceh dengan luas wilayah sebesar 1.007 Ha. Kecamatan ini terdiri dari 9 Kelurahan dan 2 Gampong. Batas administrasi Kecamatan Kuta Alam adalah :

Sebelah Utara

: Kecamatan Syiah Kuala dan Selat Malaka

Sebelah Selatan

: Kecamatan Baiturrahman, Lueng Bata dan Ulee Kareng

Sebelah Barat

: Krueng Aceh, Kecamatan Kuta Alam

Sebelah Timur

: Krueng Titi Panjang, Kecamatan Syiah Kuala.

Untuk lebih jelasnya mengenai nama dan luas masing-masing kelurahan dan gampong di Kecamatan Kuta Alam dapat dilihat pada Tabel II.1, sedangkan orientasi Kecamatan Kuta Alam dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Tabel II.1 Luas Kelurahan dan Gampong di Kecamatan Kuta Alam

No

Kelurahan/Gampong

Status

Luas Wilayah (Ha)

Rasio Terhadap Luas Kecamatan (Ha)

1

Peunayong

Kelurahan

36,00

3.57

2

Laksana

Kelurahan

21,00

2.09

3

Keuramat

Kelurahan

49,00

4.87

4

Kuta Alam

Kelurahan

59,00

5.86

5

Beurawe

Kelurahan

78,00

7.75

6

Kota Baru

Kelurahan

78,00

7.75

7

Bandar Baru

Kelurahan

147,00

14.60

8

Mulia

Kelurahan

70,00

6.95

9

Lampulo

Gampong

155,00

15.39

10

Lamdingin

Gampong

85,00

8.44

11

Lambaro Skep

Gampong

229,00

22.74

 

Kuta Alam

Kecamatan

1.007.00

100,00

Sumber : Kota Banda Aceh Dalam Angka Tahun 2005, Kantor Kecamatan Tahun 2006

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

Gambar 2.1 Peta Administrasi Kecamatan Kuta Alam

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

2.2 FISIK DASAR

2.2.1 Ketinggian

Secara umum Kecamatan Kuta Alam berada pada ketinggian 0,5-5 meter diatas permukaan laut, dengan demikian dari segi geografis Kecamatan Kuta Alam termasuk dalam zona dataran rendah (kurang dari 100 m dpl) dengan ketinggian tempat 1-10 mdpl. Berdasarkan The urban, rural regional planning field (1980) bahwa kegiatan budidaya perkotaan dapat dikembangkan pada ketinggian regional <1000 m dpl. Berdasarkan kriteria ketinggian tersebut maka Kecamatan Kuta Alam sangat sesuai untuk pengembangan kawasan perkotaan. Untuk lebih jelasnya mengenai orientasi pengembangan wilayah serta mengenai kriteria ketinggian, kemiringan dan penggunaan lahan di Kecamatan Kuta Alam dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Orientasi Pengembangan Wilayah Kriteria Ketinggian, Kemiringan dan Penggunaan Lahan

Mutlak konservasi 2000 mdpl > 40 % 1000 mdpl 15-40% < 15 % Konservasi Pertanian
Mutlak konservasi
2000
mdpl
> 40 %
1000
mdpl
15-40%
< 15 %
Konservasi
Pertanian dan perGampongan
Perkotaan

2.2.2 Kemiringan

Kemiringan lahan di Kecamatan Kuta Alam berada pada kemiringan 0-8% atau berada pada lahan yang relatif datar. Bentuk dasar permukaan tanah atau struktur topografi suatu kawasan merupakan sumber daya yang sangat mempengaruhi lokasi. Pemahaman lengkap terhadap struktur topografi tidak hanya memberi petunjuk terhadap pemilihan rute lintasan tetapi juga menyatakan susunan keruangan dari kawasan dan kestabilan pondasi. Berdasarkan kemiringan lahan di Kecamatan Kuta Alam antara 0-8%, maka berdasarkan kriteria tingkat kesesuaian kawasan menurut klasifikasi kemiringan lahan, Kecamatan Kuta Alam sangat baik untuk pengembangan perkotaan. Uraian tingkat kesesuaian kawasan dapat dilihat pada Tabel II.2 berikut.

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

Gambar 2.3

Peta Topografi Kecamatan Kuta Alam

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

Tabel II.2 Kriteria Tingkat Kesesuaian Kawasan Menurut Klasifikasi Kemiringan Lahan

Kemiringan Lahan

Klasifikasi

Tingkat Kesesuian Pengembangan Perkotaan

0-8%

Datar

Sangat baik

9-15%

Landai

Baik

15-25%

Agak curam

Terbatas

26-40%

Curam

Sangat terbatas

>40%

Sangat curam

Mutlak konservasi

Sumber : Pedoman Perencanaan Teknis, 1990

2.2.3

Hidrologi

Pada sisi barat Kecamatan Kuta Alam dibatasi oleh sebuah sungai besar, yaitu Krueng Aceh yang sampai saat ini dilalui kapal nelayan dalam memasarkan hasil tangkapannya terutama sebagai jalur penghubung dari laut ke pasar ikan Peunayong. Sedangkan pada sisi timur dibatasi oleh Krueng Titi Panjang.

Sungai-sungai yang ada di Kecamatan Kuta Alam langsung bermuara ke Selat Malaka, dengan demikian Kecamatan Kuta Alam rawan terhadap banjir khususnya pada saat pasang terutama di wilayah-wilayah yang relatif dekat dengan sungai dan pada saat musim hujan. Disamping itu kondisi lahan yang relatif datar dan kurang ditunjang sistem drainase yang memadai ikut memperparah kondisi tersebut sehingga perlu dikembangkan sistem drainase yang ditunjang oleh pompa air dan sumur resapan.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Kecamatan Kuta Alam sebagian besar penduduk memperoleh supply dari PDAM, sebagian kecil sumur gali dan pompa yang dalamnya berkisar 4-10 meter. Permasalahan yang terjadi di lapangan bahwa suplay air bersih dari PDAM sampai saat ini kurang lancar dan tingkat kebocoran yang relatif tinggi serta banyak pipa yang rusak akibat tsunami sehingga diperlukan perbaikan dan pemasangan pipa baru.

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

2.2.4 Geologi dan Jenis Tanah

A. Geologi Lapisan Permukaan

Peta ini dibuat oleh BGS (Brithis Geological Survey) dengan skala 1:20.000 tahun 1978. Investigasi sumur dengan menggunakan mesin bor dan secara manual telah dilakukan oleh BGS pada tahun 1978 dan ManGeoNAD pada tahun 2005.

Secara umum, tutupan lapisan tanah permukaan di wilayah perencanaan adalah campuran endapan lumpur, pasir lempung, pasir. Pada bagian timur laut, sebagian besar berupa rawa-rawa.

Gambar 2.4

timur laut, sebagian besar berupa rawa-rawa. Gambar 2.4 Sumber : ManGeoNAD, BGR, 2006 B. Geologi Lapisan

Sumber : ManGeoNAD, BGR, 2006

B. Geologi Lapisan 2 Meter Dibawah Permukaan Tanah

Pada lapisan kedalaman 2 meter ini sangat penting untuk proyek dengan pondasi kecil dan dangkal. Berbeda dengan peta geologi lapisan permukaan, sebagian besar berupa pasir dan sebagian lapisan lempung yang tidak muncul di permukaan. Area dengan pasir lempung dan endapan lumpur relatif berkurang dan sedikit lapisan baru kerikil terdapat di sekitar Krueng Aceh.

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

Gambar 2.5

Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam Gambar 2.5 Sumber : ManGeoNAD, BGR, 2006 C. Klasifikasi

Sumber : ManGeoNAD, BGR, 2006

C. Klasifikasi Tanah

Gambar 2.6

2.5 Sumber : ManGeoNAD, BGR, 2006 C. Klasifikasi Tanah Gambar 2.6 Sumber : ManGeoNAD, BGR, 2006

Sumber : ManGeoNAD, BGR, 2006

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

Sebagian besar area pasir pada lapisan permukaan sampai dengan kedalaman 2 meter dapat diklasifikasikan sebagai campuran pasir atau lapisan lumpur dan berlempung pada beberapa area yang dapat diklasifikasikan sebagai lempung dengan plastisitas maksimum dimana pada area bagian barat daya lapisan pasir berlempung, pasir, lumpur dan lempung merupakan lempung plastis.

D. Kekuatan Tanah

Dari peta kekuatan tanah ini terlihat bahwa daerah yang mempunyai kekuatan tanah paling rendah adalah di bagian tenggara. Sebagian besar area tertutup oleh lapisan pasir yang cukup tebal sehingga mempunyai kekuatan tanah yang cukup besar.

Gambar 2.7

mempunyai kekuatan tanah yang cukup besar. Gambar 2.7 Sumber : ManGeoNAD, BGR, 2006 E. Kerentanan Air

Sumber : ManGeoNAD, BGR, 2006

E. Kerentanan Air

Peta ini secara jelas menunjukan bahwa semua area mempunyai kerentaan air yang tinggi. Pada bagian Krueng Aceh dapat diasumsikan mempunyai kerentaan

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

air yang lebih kecil dan di wilayah bagian barat daya mempunyai kerentanan air yang sangat tinggi.

Gambar 2.8

mempunyai kerentanan air yang sangat tinggi. Gambar 2.8 Sumber : ManGeoNAD, BGR, 2006 F. Kesesuaian Bangunan

Sumber : ManGeoNAD, BGR, 2006

F. Kesesuaian Bangunan

Peta ini diproduksi melalui proses ISEG dengan pendekatan overlay pembobotan dari peta kekuatan tanah dengan peta kerentanan tanah. Hasil overlay tersebut kemudian diklasifikasikan. Secara umum, area arah utara dan selatan Krueng Aceh di bagian barat Krueng Aceh mempunyai kondisi tanah yang cukup baik. Konstruksi bangunan bertingkat kelihatannya akan bermasalah dan mungkin hanya mungkin dengan proyek pondasi yang kokoh, terutama disebabkan oleh tingginya resiko gempa bumi yang tinggi Kota Banda Aceh. Pada bagian tenggara dan barat daya perlu mendapat perhatian khusus karena sebagian besar lahannya tidak sesuai untuk bangunan.

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

Gambar 2.9

Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam Gambar 2.9 Sumber : ManGeoNAD, BGR, 2006 2.2.5 Iklim

Sumber : ManGeoNAD, BGR, 2006

2.2.5

Iklim

Kecamatan Kuta Alam sebagai bagian dari wilayah yang lebih luas termasuk dalam iklim tropis (berdasarkan klasifikasi Schmidt Fergusson), dengan musim hujan terjadi pada bulan Agustus sampai Januari, dan musim kemarau pada bulan Februari sampai Juli.

Kondisi iklim yang dipantau dari Stasiun Klimatologi Blang Bintang menggambarkan bahwa curah hujan rata-rata 1.250 – 2.000 mm/tahun, dengan hari hujan rata-rata adalah 13 hari/bulan, suhu udara rata-rata berkisar 25 – 28 o C, kelembaban nisbi rata-rata 69 – 90%, serta kecepatan angin rata-rata 2,0 – 4,0 knot.

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

2.3

KEPENDUDUKAN

2.3.1

Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk Kecamatan Kuta Alam pada Tahun 1998 – 1999 mengalami penurunan dan Tahun 2000 mengalami peningkatan kembali. Akibat bencana tsunami diakhir tahun 2004 jumlah penduduk drastis menurun seperti diuraikan pada Tabel II.3.

Tabel II.3 Penduduk Sebelum dan Setelah Gempa dan Gelombang Tsunami di Kecamatan Kuta Alam

     

Jumlah Penduduk

 

Pasca Tsunami

 

No

Kelurahan/

Sebelum Tsunami

     

Gampong

   

Hilang

 

Meninggal

 

Selamat

 
 

KK

LK

PR

Jumlah

LK

PR

Jumlah

LK

PR

Jumlah

KK

LK

PR

Jumlah

1 Kota Baru 408 1043 987 2030 4 1 5 5 5 10 384 1034
1
Kota Baru
408
1043
987
2030
4
1
5
5
5
10
384
1034
981
2015

2

Bandar Baru

1297

3811

3821

7632

48

31

79

33

23

56

1289

3730

3767

7497

3

Kuta Alam

1366

2130

2000

4130

24

15

39

0

1

1

1366

2106

1984

4090

4

Peunayong

797

2468

1894

4362

43

74

117

45

62

107

495

2380

1758

4138

5

Mulia

998

2253

2440

4693

190

608

798

235

342

577

805

1828

1490

3318

6

Keuramat

880

3176

3081

6257

37

59

96

15

13

28

839

3124

3009

6133

7

Laksana

1182

2576

2792

5368

38

55

93

35

47

82

1182

2503

2690

5193

8

Beurawe

1741

3197

2903

6110

3

4

7

16

14

30

1747

3199

2882

6081

9

Lampulo

1602

3251

3071

6322

1831

1691

3522

0

0

849

1451

1370

1430

2800

10

Lamdingin

668

2338

1628

3966

251

359

610

356

493

346

575

1731

776

2507

11

Lambaro Skep

792

2104

2056

4160

179

250

429

133

213

346

776

1792

1593

3385

Kec. Kuta Alam

11731

28347

26673

55030

2648

3147

5795

873

1213

2432

10909

24797

22360

47157

Sumber : Kantor Kecamatan Kuta Alam, 2006

2.3.2 Kepadatan Penduduk

Berdasarkan standar nasional tentang kepadatan penduduk untuk kota menengah yaitu dengan kepadatan maksimum 100 jiwa/Ha, maka kepadatan penduduk di Kelurahan Peunayong, Laksana, Keuramat dan Kuta Alam telah melampaui ambang batas kepadatan maksimal yang ditetapkan. Jika mengacu pada Revisi RTRW Kota Banda Aceh Tahun 2002-2010 dimana rencana kepadatan penduduk Kota Banda Aceh sampai tahun 2010 diklasifikasikan menjadi 3 kelompok, yaitu :

Kepadatan rendah

Kepadatan sedang

Kepadatan tinggi

: 31-50 jiwa/hektar

: 51-75 jiwa/hektar

: 76-100 jiwa/hektar

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

Tabel II.4 Kepadatan Penduduk di Kecamatan Kuta Alam Tahun 2006

   

Luas

Luas Darat

Penduduk

Kepadatan

Kepadatan

No

Kelurahan/Gampong

Adm

(Ha)

Tahun 2006

Adm (Jiwa/Ha)

Darat (Jiwa/Ha)

(Ha)

1

Peunayong

36.00

31.42

3332

93

106

2

Laksana

21.00

21.00

5669

270

270

3

Keuramat

49.00

49.00

5030

103

103

4

Kuta Alam

59.00

54.73

4842

82

88

5

Beurawe

78.00

78.00

6396

82

82

6

Kota Baru

78.00

77.89

2054

26

26

7

Bandar Baru

147.00

145.93

7384

50

51

8

Mulia

70.00

66.76

3159

45

47

9

Lampulo

155.00

49.94

3423

22

69

10

Lamdingin

85.00

40.47

2261

27

56

11

Lambaro Skep

229.00

50.22

3727

16

74

 

Kec. Kuta Alam

1,007.00

665.36

47277

47

71

Sumber : Hasil Analisis, 2006

Kepadatan penduduk di Kecamatan Kuta Alam dapat dikategorikan seperti pada Gambar 2.10.

2.3.3 Pertumbuhan Penduduk

Dalam rentang waktu 9 (sembilan) tahun kebelakang, jumlah penduduk di Kecamatan Kuta Alam mengalami pertumbuhan yang tidak stabil, selanjutnya mengalami pertumbuhan yang menurun drastis dari tahun 2004-2005 akibat bencana gempa dan gelombang tsunami. Pertumbuhan rata-rata penduduk di Kecamatan Kuta Alam dari tahun 1997-2004 adalah 1,52%. Pertumbuhan penduduk di Kecamatan ini relatif sama jika dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk Kota Banda Aceh sebesar 1,5%.

2.3.4 Struktur Penduduk

A. Struktur Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di Kecamatan Kuta Alam pada tahun 2006 menunjukan bahwa jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dari pada penduduk perempuan. Untuk lebih jelasnya mengenai data dan persentase jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di Kecamatan Kuta Alam Tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel II.5.

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

Gambar 2.10 Peta Kepadatan Penduduk Kecamatan Kuta Alam

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

Tabel II.5 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Kecamatan Kuta Alam Tahun 2006

   

Jumlah Penduduk

 

No

Kelurahan/Gampong

Laki-Laki

Perempuan

Jumlah

1

Peunayong

1.956

1.376

3.332

2

Laksana

3.177

2.492

5.669

3

Keuramat

2.494

2.536

5.030

4

Kuta Alam

2.623

2.219

4.842

5

Beurawe

3.359

3.037

6.396

6

Kota Baru

1.081

973

2.054

7

Bandar Baru

3.675

3.709

7.384

8

Mulia

1.839

1.320

3.159

9

Lampulo

1.977

1.446

3.423

10

Lamdingin

1.270

991

2.261

11

Lambaro Skep

1.918

1.809

3.727

 

Kuta Alam Sub District

25.369

21.908

47.277

Sumber : Kantor Kecamatan Tahun 2006

2.4

PEREKONOMIAN

2.4.1

Sektor Ekonomi

Perekonomian Kecamatan Kuta Alam didominasi oleh sektor perdagangan dan jasa. Hal ini relatif sama dengan kondisi perekonomian Kota Banda Aceh yang didominasi oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran; sektor pengangkutan dan komunikasi; serta sektor pertanian.

Tabel II.6 PDRB Kota Banda Aceh Menurut Harga Konstan Tahun 2000 Tahun 2000-2005 (Jutaan Rupiah)

Lapangan Usaha

2000

2001

2002

2003

2004

2005

Pertanian

129,013.98

134,674.57

140,647.99

146,390.45

152,283.27

109,326.22

Pertambangan dan Penggalian

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

Industri Pengolahan

42,464.61

43,290.60

46,384.45

48,091.70

50,917.63

48,658.48

Listrik dan Air Minum

8,181.64

8,881.78

10,366.11

8,116.12

8,835.24

5,686.61

Bangunan/Konstruksi

112,334.82

119,829.43

124,023.46

128,827.07

133,336.02

119,626.13

Perdagangan, Hotel & Restoran

450,099.44

457,964.66

469,004.97

490,350.92

515,213.67

481,919.68

Pengangkutan dan Komunikasi

286,190.78

294,536.29

310,110.36

327,268.08

344,607.64

381,943.54

Bank & Keuangan Lainnya

11,649.96

20,791.26

31,563.21

46,938.15

68,817.82

97,280.16

Jasa-jasa

178,674.63

184,640.46

192,156.66

192,354.46

207,848.52

257,611.33

PDRB Total

1,218,609.86

1,264,609.05

1,324,257.21

1,388,336.95

1,481,859.81

1,502,052.15

Sumber: BPS, Banda Aceh Dalam Angka, 2000-2005

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

Gambar 2.11

PDRB Kota Banda Aceh Menurut Harga Konstan 2000 Tahun 2000-2005 (Jutaan Rupiah) 1,600,000 1,400,000 1,200,000
PDRB Kota Banda Aceh Menurut Harga Konstan 2000
Tahun 2000-2005 (Jutaan Rupiah)
1,600,000
1,400,000
1,200,000
1,000,000
800,000
600,000
400,000
200,000
0
2000
2001
2002
2003
2004
2005
PERTANIAN
LISTRIK DAN AIR M INUM
PENGANGKUTAN DAN KOM UNIKASI
PERTAM BANGAN DAN PENGGALIAN
INDUSTRI PENGOLAHAN
BANGUNAN/KONSTRUKSI
PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN
BANK DAN KEUANGAN LAINNYA
JASA-JASA

Sumber: BPS, Banda Aceh Dalam Angka, 2000-2005

Bila dilihat laju pertumbuhan PDRB Kota Banda Aceh Berdasarkan Harga Konstan Tahun 2000 terlihat bahwa kondisi perekonomian sebelum tsunami akhir tahun 2004 cenderung meningkat sampai dengan 6,7%, namun pada periode tahun 2004-2005 terjadi penurunan laju pertumbuhan yang relatif besar, yaitu hanya 1,4%. Hal ini dapat dimaklumi karena bencana tsunami telah menghancurkan sendi-sendi perekonomian Kota Banda Aceh. Hal ini diperparah dengan tingkat inflasi yang sangat tinggi paska bencana tsunami.

Gambar 2.12

yang sangat tinggi paska bencana tsunami. Gambar 2.12 Pertumbuhan PDRB Kota Banda Aceh Berdarsarkan Harga Konstan
Pertumbuhan PDRB Kota Banda Aceh Berdarsarkan Harga Konstan 2000 Tahun 2000-2005 8% 7% 6.7% 6%
Pertumbuhan PDRB Kota Banda Aceh Berdarsarkan Harga Konstan 2000 Tahun 2000-2005
8%
7%
6.7%
6%
4.8%
4.7%
5%
3.8%
4%
3%
2%
1.4%
1%
0%
2001
2002
2003
2004
2005
Sumber: BPS, Banda Aceh Dalam Angka, 2000-2005

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

Gambar 2.13 Pertumbuhan Inflasi di Kota Banda Aceh Tahun 2000-2006 45% 40% 40% 35% 29%
Gambar 2.13
Pertumbuhan Inflasi di Kota Banda Aceh Tahun 2000-2006
45%
40%
40%
35%
29%
30%
25%
17%
20%
23%
11%
15%
10%
7%
10%
4%
5%
0%
2000
2001
2002
2003
2004
2005
Apr-06
Jun-06
Inflasi

Sumber: BPS, Banda Aceh Dalam Angka, 2005, Kalkulasi Perhitungan Bank Dunia

Berdasarkan Laporan Human Development Report Indonesia Tahun 2004 dari UNDP, terlihat bahwa tingkat kemiskinan penduduk di Kota Banda Aceh relatif lebih baik bila dibandingkan dengan Kabupaten Aceh Besar, Provinsi NAD, maupun Nasional. Namun indikator kemiskinan yang digunakan dalam laporan ini hanya mencakup empat kriteria, yaitu :

1. Persentase jumlah penduduk tanpa akses air bersih.

2. Persentase jumlah penduduk tanpa akses fasilitas kesehatan.

3. Persentase jumlah anak dibawah 5 tahun yang kekuranan gizi.

4. Persentase jumlah penduduk tanpa akses sanitasi.

Gambar 2.14

Indikator Kemiskinan

NADIndikator Kemiskinan Aceh Besar Banda Aceh Indonesia

Aceh BesarIndikator Kemiskinan NAD Banda Aceh Indonesia

Banda AcehIndikator Kemiskinan NAD Aceh Besar Indonesia

IndonesiaIndikator Kemiskinan NAD Aceh Besar Banda Aceh

60% 48.3% 48.5% 48.9% 50% 44.8% 39.1% 38.0% 40% 35.2% 33.8% 30% 25.8% 24.6% 25.0%
60%
48.3%
48.5%
48.9%
50%
44.8%
39.1%
38.0%
40%
35.2%
33.8%
30%
25.8%
24.6%
25.0%
23.1%
21.5%
20%
14.9%
12.7%
9.3%
10%
0%
tanpa akses air bersih
tanpa akses fasilitas
kesehatan
anak dibawah 5 tahun
yang kekurangan gizi
tanpa akses sanitasi
Sumber: UNDP, Human Development Report Indonesia 2004

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

Gambar 2.15

Tingkat Kemiskinan (Garis Kemiskinan Rp.129,615 per kapita per bulan) Tahun 2002/2003 dan sesudah Tsunami

40% 36.8% 33.2% 35% 29.8% 30% 25% 18.2% 20% 15% 10.3% 10% 5% 0% NAD
40%
36.8%
33.2%
35%
29.8%
30%
25%
18.2%
20%
15%
10.3%
10%
5%
0%
NAD
Aceh Besar
Banda Aceh
Indonesia
before Tsunami
after Tsunami
Sumber: UNDP, Human Development Report Indonesia 2004
BPS dan estimasi Bank Dunia

Sejalan dengan kondisi kemiskinan di Kota Banda Aceh paska tsunami, maka terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin di Kecamatan Kuta Alam walaupun dalam presentase penduduk miskin terhadap jumlah penduduk terjadi penurunan.

Gambar 2.16

Jumlah Keluarga dan Keluarga Miskin Kuta Alam Jumlah 14,000 11,783 12,000 9,549 10,000 8,000 6,000
Jumlah Keluarga dan Keluarga Miskin Kuta Alam
Jumlah
14,000
11,783
12,000
9,549
10,000
8,000
6,000
3,035
4,000
2,633
2,000
0
2002
2005
Jumlah Keluarga
Keluarga Miskin

Sumber: BPS dan ADB, 2006

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

Gambar 2.17

Pertambahan Kemiskinan Kuta Alam

100% 80% 72.4% 74.2% 60% 40% 20% 27.6% 25.8% 0% 2002 2005 % Keluarga di
100%
80%
72.4%
74.2%
60%
40%
20%
27.6%
25.8%
0%
2002
2005
% Keluarga di bawah garis kemiskinan
% Keluarga di atas garis kemiskinan

Sumber: BPS dan ADB, 2006

2.4.2 Pendapatan Perkapita

Bila dilihat PDRB perkapita penduduk Kota Banda Aceh selalu meningkat dari Tahun 2000 sampai dengan Tahun 2005, terutama kondisi setelah tsunami karena jumlah penduduk yang berkurang cukup banyak. Namun hal ini tidak sesuai dengan kondisi real di lapangan karena pendapatan perkapita penduduk Kota Banda Aceh paska tsunami berkurang secara drastis, terutama keluarga yang terkena bencana tsunami.

Tabel II.7 Pendapatan Perkapita Kota Banda Aceh Tahun 2000-2005

Tahun

PDRB MHKT 2000 (Jutaan Rupiah)

Jumlah Penduduk

PDRB Perkapita

(jiwa)

(Rp)

2000

1,218,609.86

220,864

5,517,467.13

2001

1,264,609.05

224,766

5,626,336.06

2002

1,324,257.21

226,050

5,858,249.10

2003

1,388,336.95

235,523

5,894,697.97

2004

1,481,859.81

239,146

6,196,464.96

2005

1,502,052.15

177,611

8,456,977.05

Sumber: BPS, Banda Aceh Dalam Angka, 2000-2005

2.4.3 Potensi Pengembangan Ekonomi

Potensi ekonomi yang bisa dikembangkan di Kecamatan Kuta Alam adalah sebagai berikut :

1.

Pengembangan Kawasan Pusat Kota di Kelurahan Peunayong, Laksana dan Kuta Alam sebagai sentra kegiatan perdagangan dan jasa.

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

2.

Pengembangan Kawasan Pesisir Utara (Gampong Lamdingin dan Lambaro

Skep) sebagai kawasan perikanan tambak dan wisata pantai.

3.

Pengembangan Kawasan Pelabuhan Samudera dan Industri Perikanan,

serta TPI di Gampong Lampulo dan Lamdingin.

4.

Pengembangan Sektor Informal di Kelurahan Peunayong.

2.5

STRUKTUR DAN POLA PEMANFAATAN RUANG

2.5.1

Struktur Ruang

Struktur ruang di Kecamatan Kuta Alam sangat dipengaruhi oleh keberadaan

Krueng Aceh yang membelah Kota Banda Aceh dan jaringan jalan utama.

Kecamatan Kuta Alam merupakan bagian dari pusat kota (central business district)

Kota Banda Aceh dengan focal point adalah Simpang Lima Pante Pirak.

Bila dibandingkan dengan kondisi sebelum tsunami, maka struktur ruang di

Kecamatan Kuta Alam tidak jauh berubah karena wilayah yang mengalami

kerusakan hanya terbatas pada wilayah pesisir bagian utara Kecamatan Kuta

Alam.

Tabel II.8 Kondisi Struktur Ruang Kecamatan Kuta Alam Sebelum dan Sesudah Tsunami

No

Nama Pusat/Sub

Skala Pelayanan/

Kondisi Sebelum Tsunami

Kondisi Sesudah

Pusat

Kedudukan Dalam

Tsunami

Struktur Kota

1

Kawasan Pasar Aceh dan Peunayong

Kota dan Regional/ Pusat Utama

Pusat Perdagangan dan Jasa, Perkantoran, dan Pemerintahan

Penurunan fungsi pelayanan akibat rusaknya sebagian kawasan perdagangan jasa dan perkantoran

2

Kuta Alam

Lokal dan

Pusat Perdagangan, Jasa, Perkantoran, Permukiman

Penurunan fungsi

Kota/Pusat BWK

pelayanan akibat

bencana tsunami

Sumber : Laporan Revitalisasi Krueng Aceh, 2006

Secara lebih jelas mengenai kondisi Kecamatan Kuta Alam sebelum tsunami and

sesudah tsunami dapat dilihat pada Gambar 2.18.

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

Gambar 2.18

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

Beberapa fungsi penting yang mencirikan struktur ruang Kecamatan Kuta Alam meliputi :

1. Koridor jalan utama dengan fungsi perkantoran dan pelayanan umum yang berselang-seling dengan kegiatan komersial (perdagangan dan jasa). Fungsi- fungsi yang bersifat komersial cenderung terus berkembang pada koridor jalan utama ini, sementara fungsi-fungsi perkantoran dan pelayanan umum cenderung merupakan fungsi yang mantap. Ada beberapa lokasi dengan karakter sebagai koridor jalan utama, yaitu :

a. Ruas Jl. Tgk Daud Beureueh, dengan fungsi campuran yang ada dewasa ini, yaitu : bangunan umum (Kantor Gubernur, Markas Brimob, kantor instansi pemerintahan, fasilitas pendidikan dan peribadatan), kegiatan perdagangan dan jasa (pasar, toko, restoran, SPBU, dan lain-lain), dengan focal point di persimpangan Jl. Tgk. Daud Beureueh dengan Jl. Panglima Polim, Jl. Ratu Safiatuddin, Jl. Pantepirak atau yang dikenal dengan Simpang Lima dan di persimpangan Jl. Tgk. Daud Beureueh dengan Jl. Syiah Kuala dan Jl. Moh. Jam, atau yang dikenal dengan Simpang Jambo Tape.

b. Ruas Jl. Syiah Kuala dengan fungsi campuran antara permukiman dengan kegiatan komersial dan jasa;

c. Ruas Jl. Pocut Baren dengan fungsi campuran antara perkantoran, perdagangan dan jasa, serta permukiman.

2. Kawasan pesisir di sebelah timur Krueng Aceh sampai sebelah barat Krueng Titi Panjang, yaitu di Gampong Lampulo, Lamdingin, dan Lambaro Skep merupakan kawasan yang terkena dampak kerusakan berat. Fungsi pengembangan potensial meliputi : pelabuhan perikanan, permukiman terbatas, tambak, dan mangrove.

3. Kawasan tengah di antara kawasan pesisir sampai dengan kawasan pusat kota, yang terletak di Kelurahan Mulia, Peunayong, Laksana, Keuramat, Bandar Baru, dan Kota Baru merupakan kawasan yang terkena dampak sedang sampai berat. Fungsi pengembangan potensial adalah permukiman, perdagangan dan jasa, perkantoran.

4. Kawasan selatan yang terletak di Kelurahan Kuta Alam dan Beurawe merupakan kawasan yang relatif tidak terkena dampak signifikan. Fungsi

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

pengembangan

potensial

adalah

perkantoran,

perdagangan

dan

jasa,

permukiman.

2.5.2 Pola Pemanfaatan Ruang

Pola pemanfaatan ruang yang ada di Kecamatan Kuta Alam terlihat dari penggunaan lahan yang ada (existing land use). Penggunaan lahan existing tersebut digambarkan pada Gambar 2.19, dengan rincian tentang jenis dan sebarannya seperti dikemukakan pada Tabel II.9. Dari gambar dan tabel tersebut karakteristik ruang kawasan dapat dibedakan atas ruang daratan yang relatif kering dan ruang bukan daratan yang dominan basah (wetland).

Untuk bagian kawasan yang berupa daratan, bentuk penggunaan lahan yang mencirikan pemanfaatan ruangnya yang ada dewasa ini adalah :

Lahan terbangun (built up area), dengan peruntukan berupa permukiman atau perumahan, perkantoran pemerintahan, fasilitas sosial/umum, kegiatan komersial (perdagangan dan jasa), dan lain-lainnya;

Lahan belum terbangun yang berada di antara lahan-lahan terbangun di atas, prospek pengembangannya adalah akan menjadi lahan terbangun, seperti yang terdapat di Beurawe, Mulia, Bandar Baru;

Lahan terbangun sebelum bencana alam tsunami, yang dewasa ini merupakan lahan kosong dengan sisa-sisa tapak bangunan sebelumnya, seperti yang terdapat di Lampulo, Lamdingin, Lambaro Skep, dan Mulia; lahan-lahan ini yang akan menjadi perhatian utama dalam kerangka rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana tsunami;

Untuk bagian kawasan yang bukan daratan atau cenderung merupakan perairan dan lahan basah, bentuk-bentuk pemanfatannya adalah berupa :

Badan air, yang terdiri atas sungai dan saluran; dipertahankan keberadaannya, tanggul dan dinding tepi sungai dan saluran yang mengalami kerusakan perlu segera dilakukan rehabilitasi dan rekonstruksi untuk meningkatkan kualitas alirannya;

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

Gambar 2.19

Peta Land Use Eksisting Kecamatan Kuta Alam

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Kuta Alam

Tambak, yang umumnya mengalami kerusakan oleh gelombang tsunami, sehingga baik petak tambak maupun saluran perlu rehabilitasi dan rekonstruksi; karena lokasinya yang bersatu dengan vegetasi bakau (mangrove) dan sebelum tambak dikembangkan memang merupakan habitat bakau, maka untuk pengembangan tambak ke depan dilakukan dengan penanaman pohon bakau di dalam petak tambak;

Vegetasi bakau, yang cenderung pada habitat basah atau tergenang, perlu dilestarikan keberadaannya sehingga pada lokasi-lokasi yang sebelum tsunami mempunyai vegetasi bakau perlu dilakukan penanaman kembali.

Tabel II.9 Penggunaan Lahan Tiap Kelurahan/Gampong di Kecamatan Kuta Alam Tahun 2006

     

Jenis Penggunaan Lahan (Ha)

   

No

Kelurahan/Gampong

Perumahan

Fasilitas

Perdagangan

Perkantoran

Kawasan

Lain-

Jumlah

Umum

dan jasa

Berair

Lain

1

Peunayong