Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH BAHASA INDONESIA

AKULTURASI BUDAYA KOREA TERHADAP MAHASISWA JURUSAN ARSITEKTUR ITS

DISUSUN OLEH

VENORITA PERMANASARI / 2711 100 027 RAHMAN PATRIA SANJA ANINDHITA NURMALA P. PUTU DERA L. / 2711 100 099 / 3211 100 009 / 3211 100 027

2012

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah menolong kami menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan-Nya mungkin kami tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik. Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengertahui tentang Akulturasi Budaya Korea terhadap Mahasiswa Jurusan Arsitektur ITS yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh kami dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri kami maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini memuat tentang Akulturasi Budaya Korea terhadap

Mahasiswa Jurusan Arsitektur ITS

yang sebagian besar menyukai budaya

Korea. Walaupun makalah ini mungkin kurang sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen bahasa Indonesia kami yaitu Ibu Ennie yang telah membimbing penyusun agar dapat mengerti

tentang bagaimana cara kami menyusun makalah ilmiah. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Karena makalah ini memiliki jauh dari kesempurnaan, kami mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Surabaya,

April 2012

ABSTRAK
Perubahan kebudayaan seperti di atas tidak dapat kita hindari. Pada era modernisasi, perubahan kebudayaan berlangsung sangat cepat karena pengaruh kemajuan teknologi. Budaya asing dapat masuk ke Indonesia sewaktu-waktu dan membuat perubahan yang signifikan mulai dari pola pikir, perilaku, sampai pola hidup masyarakat. Budaya asing yang sangat besar pengaruhnya terhadap kebudayaan di Indonesia adalah budaya barat. Budaya barat masuk ke berbagai sektor termasuk cara berpakaian. Budaya pakaian orang Indonesia yang tertutup sebagai simbol kepribadian orang timur mulai bergeser. Terutama di kalangan para remaja. Gaya berpakaian remaja menjadi lebih terbuka dan norak. Bahkan, di kotakota besar seperti Jakarta, gaya hidup bebas yang merupakan gaya pop barat sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Selain Jepang, Korea mulai bertindak sebagai pengekspor budaya pop melalui tayangan hiburan dan menjadi saingan berat bagi Amerika dan negara-negara Eropa. Hal ini sejalan dengan kemajuan industri hiburan Korea dan kestabilan ekonomi mereka. Sehingga kebanyakan di setiap negara terjadi akulturasi budaya. Salah satunya adalah budaya korea yang masuk ke dalam Indonesia. Walaupun budaya Indonesia sangat banyak, akan tetapi budaya korea ini berkembang pesat di Indonesia. Seperti halnya munculnya boyband dalam jumlah yang tidak sedikit, makanan khas korea, dan film-film korea yang tayang di layar kaca TV Indonesia. Ketiga hal tersebut menunjukkan bahwa budaya korea sudah berkembang di Indonesia. Dalam penelitian yang dilakukan kali ini bertujuan untuk Untuk mengetahui tingkat kecintaan remaja Indonesia terhadap budaya sendiri,

mengetahui penyebab masuknya budaya Korea ke Indonesia, mengetahui keunggulan dari budaya Korea daripada budaya Indonesia, mengetahui manfaat akulturasi budaya Korea terhadap remaja Indonesia. Kami melakukannya dengan cara survey koresponden (angket). Dari hasil penelitian kami, didapatkan bahwa .... % mahasiswa jurusan arsitektur ITS menyukai budaya korea.

DAFTAR ISI

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG Kebudayaan adalah hasil karya pemikiran manusia yang dilakukan dengan sadar dalam kehidupan kelompok. Unsur-unsur potensi budaya yang ada pada manusia antara lain pikiran (cipta), rasa, dan kehendak (karsa). Untuk menjadi manusia sempurna, ketiga unsur kebudayaan tersebut tidak dapat dipisahkan. Dalam hubungan ini Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa Kebudayaan adalah buah budi manusia dalam hidup bermasyarakat. Kebudayaan bersifat dinamis. Kebudayaan selalu berubah seiring

perkembangan zaman. Perubahan kebudayaan ini telah terjadi sejak zaman prasejarah yaitu berubahnya pola hidup berburu dan meramu menjadi pola hidup bercocok tanam tingkat lanjut dan perundagian. Perubahan kebudayaan disebabkan oleh banyak faktor, salah satu faktor pendukungnya adalah adanya kontak dengan kebudayaan lain. Seperti masuknya kebudayaan India ke Nusantara (Indonesia) pada awal zaman sejarah. Kebudayaan India tersebut mempengaruhi kepercayaan dan ritual masyarakat, seni dan teknologi, serta tata cara administrasi pemerintahan yang cukup tinggi. Perubahan kebudayaan seperti di atas tidak dapat kita hindari. Pada era modernisasi, perubahan kebudayaan berlangsung sangat cepat karena pengaruh kemajuan teknologi. Budaya asing dapat masuk ke Indonesia sewaktu-waktu dan membuat perubahan yang signifikan mulai dari pola pikir, perilaku, sampai pola hidup masyarakat. Budaya asing yang sangat besar pengaruhnya terhadap kebudayaan di Indonesia adalah budaya barat. Budaya barat masuk ke berbagai sektor termasuk cara berpakaian. Budaya pakaian orang Indonesia yang tertutup sebagai simbol kepribadian orang timur mulai bergeser. Terutama di kalangan para remaja. Gaya berpakaian remaja menjadi lebih terbuka dan norak. Bahkan, di kota-kota besar seperti Jakarta, gaya hidup bebas yang merupakan gaya pop barat sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Seiring berubahnya waktu masuknya budaya pop sekarang ini tidak hanya di dominasi oleh budaya barat. Asia pun sudah mulai menjadi pengekspor budaya

pop. Selain Jepang, Korea mulai bertindak sebagai pengekspor budaya pop melalui tayangan hiburan dan menjadi saingan berat bagi Amerika dan negaranegara Eropa. Hal ini sejalan dengan kemajuan industri hiburan Korea dan kestabilan ekonomi mereka. Sehingga kebanyakan di setiap negara terjadi akulturasi budaya. Salah satunya adalah budaya korea yang masuk ke dalam Indonesia. Walaupun budaya Indonesia sangat banyak, akan tetapi budaya korea ini berkembang pesat di Indonesia. Seperti halnya munculnya boyband dan girlband Korea, makanan khas Korea, dan film-film Korea yang tayang di layar kaca TV Indonesia. Berbeda dengan budaya pop Jepang yang hanya menjangkau anak-anak dan remaja, budaya pop Korea mampu menjangkau segala usia, mulai dari anakanak sampai orang dewasa. Ketiga hal tersebut menunjukkan bahwa budaya korea sudah berkembang di Indonesia. Dalam penelitian yang dilakukan kali ini bertujuan untuk Untuk mengetahui tingkat kecintaan remaja Indonesia terhadap budaya sendiri, mengetahui penyebab masuknya budaya Korea ke Indonesia, mengetahui keunggulan dari budaya Korea daripada budaya Indonesia, mengetahui manfaat akulturasi budaya Korea terhadap remaja Indonesia. 1.2. RUMUSAN MASALAH Apakah remaja Indonesia lebih mencintai budaya luar dibandingkan budaya sendiri? Mengapa budaya Korea bisa masuk ke Indonesia? Apa keunggulan budaya Korea daripada budaya Indonesia? Apa manfaat akulturasi budaya Korea terhadap remaja Indonesia?

1.3. TUJUAN Apakah remaja Indonesia lebih mencintai budaya luar dibandingkan budaya sendiri? Mengapa budaya Korea bisa masuk ke Indonesia? Apa keunggulan budaya Korea daripada budaya Indonesia? Apa manfaat akulturasi budaya Korea terhadap remaja Indonesia?

1.4. METODE Survei koresponden (angket). Studi pustaka / literatur.

1.5. MANFAAT Agar remaja Indonesia lebih mencintai, menghargai dan melestarikan budayanya sendiri meskipun adanya akulturasi budaya asing. Untuk mengembangkan budaya Indonesia di dunia Internasional.

2. BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Hakikat Kebudayaan Budaya berasal dari kata majemuk budi daya atau kekuatan dari akal, akal atau budi itu mempunyai unsur-unsur cipta atau pikiran, rasa, karsa atau kehendak. Hasil dari ketiga unsur itulah yang disebut kebudayaan. Dengan demikian, kebudayaan adalah hasil dari cipta, rasa, dan karsa. . Kata budaya berasal dari kata buddhayah sebagai bentukjamakdari buddhi (Sanskerta) yang berartiakal (Koentjaraningrat, 1974: 80). Definisi yang paling tua dapat diketahui dari E.B. Tylor yang dikemukakan di dalam bukunya Primitive Culture (1871). MenurutTylor,

kebudayaan adalah keseluruhan aktivitas manusia, termasuk pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan lain. Definisi yang mutakhir dikemukakan oleh Marvin Harris (1999: 19)

yaitu seluruh aspek kehidupan manusia dalam masyarakat, yang diperoleh dengan cara belajar, termasuk pikiran dan tingkah laku. Definisi yang dikemukakan oleh Parsudi Suparlan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial, yang

digunakan untuk menginterpretasi dan memahami lingkungan yang dihadapi, dan untuk menciptakan serta mendorong terwujudnya kelakuan (1981/ 1982: 3). Menurut Koentjaraningrat, wujud kebudayaan ada tiga macam: 1) kebudayaan sebagai kompleks ide, gagasan, nilai, norma, dan peraturan; 2) kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola manusia dalam masyarakat; dan 3) benda-benda sebagai karya manusia

(Koentjaraningrat, 1974: 83) Berdasarkan uraian di atas, disimpulkan bahwa kebudayaan adalah dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang

akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan.

2.2. Unsur-Unsur Budaya Soekanto dalam bukunya yang berjudul Sosiologi Suatu Pengantar (2006: 153) mengemukakan bahwa kebudayaan setiap bangsa atau masyarakat terdiri dari unsur-unsur besar maupun unsur-unsur kecil yang merupakan bagian dari suatu kebulatan yang bersifat sebagai kesatuan. Pada diri manusia terdapat unsur-unsur potensi budaya (Suparto, 1985: 54) seperti: Pikiran (Cipta), yaitu kemampuan akal pikiran yang menimbulkan ilmu pengetahuan. Dengan akal pikirannya manusia selalu mencari, mencoba menyelidiki, dan kemudian menemukan sesuatu yang baru. Rasa, dengan pancainderanya manusia dapat mengembangkan rasa estetika (rasa indah), dan ini menimbulkan karya-karya seni atau kesenian. Kehendak (karsa), manusia selalu menghendaki akan

kesempurnaan hidup, kemuliaan, dan kesusilaan. Dengan potensi akal pikir (cipta), rasa, dan karsa itulah manusia berbudaya. Di samping ketiga unsur tersebut, Melville J. Herskovits juga mengemukakan unsur-unsur kebudayaan yang lain, yaitu: Alat-alat teknologi Sistem ekonomi Keluarga Kekuasaan politik.

2.3. Budaya Korea Musik pop Korea pra-moderen pertama kali muncul pada tahun 1930-an akibat masuknya musik pop Jepang yang juga turut memengaruhi unsurunsur awal musik pop di Korea. Penjajahan Jepang atas Korea juga membuat genre musik Korea tidak bisa berkembang dan hanya mengikuti

perkembangan budaya pop Jepang pada saat itu. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, pengaruh musik pop barat mulai masuk dengan banyaknya pertunjukkan musik yang diadakan oleh pangkalan militer Amerika Serikat di Korea Selatan. Musik Pop Korea awalnya terbagi menjadi genre yang berbeda-beda, pertama adalah genre "oldies" yang dipengaruhi musik barat dan populer di era 60-an. Pada tahun 1970-an, musik rock diperkenalkan dengan pionirnya adalah Cho Yong-pil. Genre lain yang cukup digemari adalah musik Trot yang dipengaruhi gaya musik enka dari Jepang.

2.3.1.

Unsur-Unsur Budaya Korea Seiring berubahnya waktu masuknya budaya pop sekarang ini

tidak hanya di dominasi oleh budaya barat. Asia pun sudah mulai menjadi pengekspor budaya pop. Selain Jepang, Korea mulai bertindak sebagai pengekspor budaya pop melalui tayangan hiburan dan menjadi saingan berat bagi Amerika dan negara-negara Eropa. K-pop, kepanjangannya Korean Pop ("Musik Pop Korea"), adalah jenis musik populer yang berasal dari Korea Selatan. Banyak artis dan kelompok musik pop Korea sudah menembus batas dalam negeri dan populer di mancanegara. Kegandrungan akan musik K-Pop merupakan bagian yang tak terpisahkan daripada Demam Korea (Korean Wave) di berbagai negara.

2.3.2.

Budaya Korea di Kalangan Mahasiswa Arsitektur ITS

2.4. Budaya Indonesia 3. BAB III 4. BAB IV PEMBAHASAN KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA Koentjaraningrat, 1974, Pengantar Antropologi. Jakarta: Aksara Baru. Suparlan, Parsudi, 1981/82, Kebudayaan, Masyarakat, dan Agama: Agama sebagai Sasaran Penelitian Antropologi, Majalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia (Indonesian Journal of Cultural Studies), Juni jilid X nomor 1. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. http://id.wikipedia.org/wiki/K-pop http://eka-karatika.blogspot.com/2011/11/karya-ilmiah-pengaruh-budaya-popkorea.html