Anda di halaman 1dari 5

HAMZAH BIN ABDUL MUTTALIB

Saat Quraisy tidur dengan nyenyak walau dalam hati mereka mulai

muncul tanda yang mulai menjadi perhatian mereka. Rasulullah baru saja memulai dakwahnya dan menyampaikan ajarannya secara rahasia dan berbisik-bisik. Orang-orang yang beriman kepadanya saat itu masih amat sedikit. Tetapi di antara orang-orang yang belum beriman itu ada pula yang menaruh kasih sayang dan penghormatan kepadanya serta memendam niat dan keinginan hati untuk beriman dan menyertai kafilahnya yang penuh berkah. Mereka terhalang untuk menyatakan maksud itu hanyalah karena keadaan suasana dan lingkungan, tekanan kebiasaan dan adat istiadat, serta kebimbangan hati untuk mengabulkan panggilan atau menolak seruan. Maka dalam golongan ini terdapatlah Hamzah bin Abdul Muthalib, yaitu paman Nabi saw. dan saudara sesusunya. Hamzah akhlaqnya. Ia telah tidak kenal hanya baik kebesaran dan kesempurnaan terhadap

keponakannya, tahu sebaik-baiknyakan kepribadian maupun watak dan mengenal sebagai paman keponakannya, tetapi sebagai saudara terhadap saudaranya, karena ia dan Rasulullah adalah satu generasi, usia yang berdekatan. Dibesarkan bersama-sama, bermain bersama, menjadi sahabat karib dan memulai melangkah menjalani kehidupan bersama-sama pula. Hanya memang di waktu muda mereka berdua memulai memilih jalan sendiri-sendiri. Hamzah mulai bersaing dengan teman-temannya untuk mendapat kelayakan hidup dan erintis jalan baginya untuk mendapat kedudukan di antara kabilah-kabilah di kota Mekah, sedangkan Muhammad saw. tetap bertahan di atas cahaya nurani yang membuatnya menjauhi kebisingan hidup. Namun walaupun berpisah, tak satupun ingatan itu hilang. Pagi itu, seperti biasa Hamzah keluar rumah. Di sisi Kabah didapatinya serombongan pembesar dan bangsawan Quraisy, lalu ia pun duduk mendengarkan pembicaraan mereka. Ternyata tentang Muhammad saw. dan dakwahnya. Saat itulah Hamzah mulai gelisah disebabkan

dakwah keponakannya. Lalu Abu Jahal berkata bahwa yang paling tahu akan bahaya ini adalah Hamzah, hanya ia menganggapnya enteng sehingga Quraisy lalai. Namun setelah pembicaran itu Hamzah dipenuhi fikiran baru, lalu mulai menimbang nimbang perilaku keponakannya itu. Makin hari makin sering akhirnya desas-desus itu dibicarakan, dan menjadi hasutan dan komplotan sementara Hamzah memperhatikan Ketabahan hati keponakannya mengherankannya. Sementara

usahanya yang mati-matian membelanya, adalah hal baru bagi Quraisy, walaupun mereka keras kepala. Hamzah semakin tertarik. Apalagi keponakannya adalah orang yang dipercaya, orang yang dikenaalnya sejak kecil. Tidak pernah dilihat ia marah. Semakin lama semakin mempercayai Rasululah, namun hal itu masih ia pendam, hanya menunggu saat yang tepat Dan hari itu datang. Sepulang perburuannya ia pergi ke Kabah untuk tawaf. Lalu di tengah perjalanan seorang pelayan wanita memberitahu bahwa Nabi dimaki dan disiksa oleh Abu Jahal. Mendadak Hamzah marah dan langsung menuju Kabah, menemui Abu Jahal, dan memukulkan busurnya pada Abu Jahal. Cukup keras sampai membuat kepala Abu Jahal berdarah. Hamzah pun berkata: Kenapa kamu cela Muhammad padahal aku telah menganut agamanya dan mengatakan apa yang dia katakan? Nah, coba ulangi lagi perkataanmu itu kepadaku kalau kamu berani! Kontan para Quraisy terkejut. Pernyataan yang keluar dari mulut Hamzah bagai petir di siang bolong. Sungguh suatu bencana yang tak dapat diatasi oleh Quraisy! Keislaman Hamzah akan menarik tokoh-tokoh pilihan lainnya untuk memeluk Islam, hingga Muhammad saw memperoleh tenaga dan kekuatan yang membela dakwahnya, memperkokoh barisannya. Dan suatu saat nanti Quraisy akan tersadar mendengar kehancuran berhala-berhala mereka Memang tidak salah! Hamzah telah mengeluarkan maksud hatinya selama ini di depan umum, dan ditiggalkannya orang banyak itu merenungi kegagalan harapan mereka, dibiarkan Abu Jahal menjilat darah yang mengucur dari kepalanya yang luka. Hamzah kembali memungut busur dengan tangan kanannya, dan menggantungkannya di bahu, lalu dengan langkah yang tegap pulang ke rumahnya.

Sesampainya di rumah dan setelah menghilangkan lelah, ia berfikir dan merenung tentang peristiwa yang baru saja dialaminya. Bagaimana ia akan masuk Islam? Dan kapan? Ia telah mengatakannya dalam keadaan tersinggung, melihat keponakannya yang dianiaya dan disiksa tanpa adanya pembela. Tetapi, apakah itu cara terbaik untuk meninggalkan agama nenek moyangnya, agama yang telah mereka anut selama berabad-abad? Lalu ia langsung menerima agama baru yang belum lagi diselidiki ajarannya kecuali sedikit? Benar, ia tidak sedikit pun ragu tentang kebenaran Muhammad saw. dan ketulusan maksudnya. Tapi mungkinkah seseorang memeluk agama baru dan melakukan segala kewajiban yang diperintahkan pada saat emosi dan naik darah? Di saat itu, bangkit kembali kerinduannya tentang agama nenek moyangnya, hingga memisahkan diri dari agama lama yang telah berurat akar ini, tak ubah bagai melompati jurang yang lebar. Timbul keheranannya mengapa orang semudah itu meninggalkan agama lamanya. Dan saat dia merasa bahwa akal saja tidak cukup, ia lalu pergi ke Kabah menengadah ke langit dan berdoa. Allah memenuhi keyakinan hatinya dan segera Hamzah pergi ke rumah Muhammad, menyatakan keislamannya. Abu Jahal melihat Hamzah telah berdiri bersama barisan orang muslim, maka menurutnya perang sudah tidak dapat dihindari lagi. Oleh sebab itu dihasutnyalah orang Quraisy untuk melakukan kekerasan terhadap Rasulullah dan para sahabat. Memang Hamzah tak dapat membendung siksaan Quraisy, tapi keislamannya menjadi perisai, di samping menjadi daya tarik, apalagi setelah diikuti pula oleh Umar bin Khattab, hingga mereka memasukinya dengan berduyun-duyun. Dan sejak masuk Islam, Hamzah berjanji akan terus mengabdikan hidupnya untuk Allah swt., hingga Nabi menamakannya Singa Allah dan Singa Rasul-Nya Ketika perang Badar, diadakanlah tradisi berhadapan muka, salah satunya Hamzah, dan Hamzah menunjukkan keberaniannya sebagai singa Allah. Sisa-sisa tentara Quraisy pulang dengan membawa kekalahan di perang badar. Abu Sufyan berjalan tertunduk meninggalkan pemuka

Quraisy yang sudah tak bernyawa. Salah satunya Abu Jahal. Tentu Quraisy takkan mau menerima ini begitu saja, sehingga mereka telah membuat rencana ntuk balas dendam, yaitu dengan perang. Dan dari pembicaraan antara pemka Quraisy ialah, target setelah Nabi Muhammad saw. adalah Hamzah Maka disuruhlah Wahsyi untuk menyiapkan diri. Wahsyi adalah budak yang handal dalam melempar tombak. Hindun, istri Abu Sufyan menginginkan agar Wahsyi membunuh Hamzah dengan tombaknya. Dan jika berhasil maka tebusannya pun cukup besar untuk seorang budak yaitu kebebasan.... Wahsyi lalu semakin menginginkan agar hari perang itu cepat-cepat datang. Demikianlah persekongkolan jahat, di mana segala unsur-unsur perang sama-sama menginginkan Hamzah r.a. terbunuh secara terbuka tanpa ditawar-tawar. Dan peperangan itu tibalah. Kedua pasukan telah berhadapan muka, sementara Hamzah berada di tengah medan yang menjadi sarang maut dan penderitaan. Ia memakai pakaian perang, sedang di dadanya berhias bulu burung unta yang biasa dipakainya dalam peperangan di bukit Uhud! Hamzah mulai menyerbu dan menyerang kiri kanan, dan setiap kepala yang diarahnya pastilah putus oleh pedangnya. Pukulannya terhadap orang musyrik tiada henti-hentinya, dan seolah-olah maut menyerahkan diri ke dalam tangannya, dilontarkan kepada siapa yang dikehendakinya, lalu tertancap di hulu hatinya! Seluruh umat Muslimin maju dan meyerbu ke muka, hingga kemenangan hamper datang. Andai pasukan pemanah tidak turun dari bukit untuk merebut harta rampasan di bawah, andai mereka tidak melanggar perintah dan tiak membiarkan garis pertahanan panjang menjadi terbuka bagi masuknya pasukan berkuda Quraisy, perang Uhud menamatkan riwayat mereka. Maka di saat mereka lengah dan tidak waspada itulah pasukan berkuda Quraisy menyerang dari belakang hingga mereka menjadi bulanbulanan pedang yang berkelebatan. Terpaksa kaum Muslimin mengatur kembali formasi mereka dan memungut senjata yang ditinggalkan untuk bertarung kembali. pastilah

Hamzah melihat apa yang terjadi. Maka baik semangat, tenaga dan perjuangannya dilipat gandakan! Ia menerjang ke kiri dan ke kanan, sementara Wahsyi memperhatikan dari jauh. Maka saat Wahsyi berniat membunuh Hamzah, bersembunyilah ia di balik pohon, saat Hamzah berhasil membunuh Siba bin Abdul Uzza, Wahsyi langsung melancarkan serangan dan mengenai pinggang bagian bawah Hamzah. Ia bangkit dan mencoba kea rah Wahsyi, namun akhirnya rubuh dan meninggal. Demikianlah akhirnya Singa Allah gugur di medan perang. Setelah perang Hindun lalu menyuruh Wahsyi untuk mengambilkan hati Hamzah lalu Hindun mengunyah mentah-mentah hati Hamzah. Beberapa tahun setelah dikuburkannya Hamzah, terjadilah sebuah bencana yang menyebabkan kubur milik Hamzah terbongkar dan anehnya yang dikira orang mayat itu telah membusuk, justru sebaliknya darah dari bekas luka masih mengucur deras, dan tubuhnya pun masih kelihatan segar. Begitulah kemuliaan yang Allah berikan kepada Hamzah Semoga Allah merahmatimu Hamzah! Kelebihan Kelebihan yang Allah berikan pada Hamzah yaitu mayat Hamzah tetap seperti saat dikuburkan meskipun sudah bertahun-tahun berjalan. Hikmah yang dapat dipetik Apabila kita mengabdikan hidup dan nyawa hanya kepada Allah, maka Allah akan memuliakan kita. Dikutip dari buku Riwayat Hidup 60 Sahabat Rasulullah