Anda di halaman 1dari 3

Perjanjian Westphalia dalah serangkaian perjanjian yang mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun (yang dalam sejarah kekristenan

Eropa juga dianggap perang antara Katolik & Protestan) dan secara resmi mengakui Republik Belanda dan Konfederasi Swiss. Perjanjian ini ditandatangani pada 24 Oktober 1648. Perjanjian Pyrenees, yang ditandatangani pada tahun 1659 dan mengakhiri perang antara Perancis dan Spanyol, juga sering dianggap bagian dari perdamaian ini. Para sejarawan sering menganggap perjanjian ini sebagai penanda dimulainya era modern dari negara-bangsa, organisasi, MNC, dan Sistem Internasional. Perjanjian Damai Westphalia terdiri dari dua perjanjian yang ditandatangani di dua kota di wilayah Westphalia, yaitu di Osnabrck (15 Mei 1648) dan di Mnster (24 Oktober 1648). Kedua perjanjian ini mengakhiri Perang 30 Tahun (1618-1648) yang berlangsung di Kekaisaran Suci Romawi dan Perang 80 Tahun (1568-1648) antara Spanyol dan Belanda. Perjanjian ini muncul akibat terjadinya Perang 30 Tahun, sebuah konflik yang terjadi antara tahun 1618-1648 khususnya di wilayah yang sekarang menjadi negara Jerman dan melibatkan sebagian besar kekuatan-kekuatan di kawasan tersebut. Perang 30 Tahun itu merupakan rangkaian konflik bersenjata antar-kerajaan di Eropa atas berbagai sebab. Babak konflik itu dipicu oleh upaya pembunuhan pada tahun 1618 atas Raja Bohemia, yang akhirnya menjadi Kaisar Romawi Suci, Ferdinand II. Ferdinand II saat itu menerapkan nilai-nilai Katolik di penjuru kerajaannya. Namun, kalangan bangsawan Protestan memberontak. Sepanjang dekade tahun 1630-an, hampir seluruh wilayah Eropa bergolak dalam kancah peperangan. Perang 30 Tahun itu juga menghancurkan banyak wilayah Eropa, terutama Jerman. Di wilayah itulah para kelompok bersenjata yang tidak dibayar akhirnya mengobark-abrik dan menjarah banyak kota, desa, serta pertanian. Akibat dari Perang Tiga Puluh Tahun yang disertai musibah kelaparan dan wabah penyakit. Perang mungkin hanya berlangsung 30 tahun, tetapi konflik yang memicunya tetap berlanjut hingga waktu yang lama. Perang ini yang memunculkan Perjanjian Westphalia. Perjanjian Westphalia melibatkan Kaisar Romawi Suci, Ferdinand II, dan Kerajaan dari Spanyol, Prancis, Swedia, Belanda, dan sejumlah penguasa wilayah lain di Eropa. Perdamaian Westphalia dianggap sebagai peristiwa penting dalam sejarah Hukum Internasional modern, bahkan dianggap sebagai suatu peristiwa Hukum Internasional modern yang didasarkan atas negara-negara nasional. Sebabnya adalah : 1. Selain mengakhiri perang 30 tahun, Perjanjian Westphalia telah meneguhkan perubahan dalam peta bumi politik yang telah terjadi karena perang itu di Eropa;

2. perjanjian perdamaian mengakhiri untuk selama-lamanya usaha Kaisar Romawi yang suci; 3. hubungan antara negara-negara dilepaskan dari persoalan hubungan kegerejaan dan didasarkan atas kepentingan nasional negara itu masing-masing; dan 4. kemerdekaan negara Belanda, Swiss dan negara-negara kecil di Jerman diakui dalam Perjanjian Westphalia. Perjanjian Westphalia meletakkan dasar bagi susunan masyarakat Internasional yang baru, baik mengenai bentuknya yaitu didasarkan atas negara-negara nasional (tidak lagi didasarkan atas kerajaan-kerajaan) maupun mengenai hakekat negara itu dan pemerintahannya yakni pemisahan kekuasaan negara dan pemerintahan dari pengaruh gerej Sebagai konsekuensi munculnya Traktat Westphalia, Kekaisaran Romawi Suci mengalami perpecahan. Swedia mengambil kendali wilayah Baltik, kemerdekaan Belanda dari Spanyol diakui secara penuh, dan Prancis muncul sebagai kekuatan baru. Perjanjian Westphalia tidak lantas membuat Eropa berhenti berperang. Prancis dan Spanyol tetap berkonflik selama sebelas tahun berikut hingga muncul Traktat Pyrenees pada 1659.

Westphalia Perjanjian Westphalia atau sering juga disebutPerjanjian Mnster dan Osnabrck, adalah serangkaianperjanjian yang mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun (yang dalam sejarah kekristenan Eropa juga dianggap perang antara Katolik & Protestan) dan secara resmi mengakuiRepublik Belanda dan Konfederasi Swiss. Perjanjian ini ditandatangani pada 24 Oktober 1648 antara Kaisar Romawi Suci Ferdinand III, para pangeran Jerman lainnya, perwakilan dari Belanda, Perancis, dan Swedia. Perjanjian Pyrenees, yang ditandatangani pada tahun 1659 dan mengakhiri perang antara Perancis dan Spanyol, juga sering dianggap bagian dari perdamaian ini. Para sejarawan sering menganggap perdamaian ini sebagai penanda dimulainya era modern. Sejarah Perjanjian Westphalia sangat berkaitan erat dengan munculnya dua aliran besar dalam ajaran kristen secara umum. Perpisahan kedua ini awalnya oleh seorang Biarawan Katolik di Wittenberg, Bavaria (sekarang Jerman) yaitu Martin Luther. Tapi sebenarnya awal-awal perpisahan sudah jauh-jauh hari dirasakan dgn adanya ketidakpuasan umat terhadap pemimpin tertinggi agama Katolik (Paus). Martin Luther memprotes surat pengakuan dosa (yg harus dibayar, dgn tujuan untuk membiayai pembangunan gereja St. Peter) dan menyatakan pengakuan dosa manusia kepada Tuhan tidaklah harus melalui sebuah surat atau melalui mediasi pendeta. Dia menempelkan 95 butir thesis penolakan (protestanisme) di pintu gereja Wittenberg pada tgl 31 Oktober 1517. Dengan cepat ajaran dan thesis ini menjadi gerakan, yg disusul oleh Johannes Calvin, John Wesley, dan Ulrich Zwingli. Yang akhirnya menjadi gerakan protestanisme. Gerakan ini ini didukung oleh raja-raja lokal eropa yang sudah kadung gerah dgn kekuasaan gereja yang sangat besar yg terkadang

memasung kekuasaan mereka. Hal ini yg membuat gerakan protestanisme menjadi besar dan meluas. Sampai sekarang dikenal dgn Kristen Protestan. Dan ini diikuti dengan kemerosotan Holy Roman Empire , Perang Protestan-Katolik di banyak wilayah, berakhir dengan Perjanjian Westphalia (yang menghasilkan nation states sebagai entitas politik baru di Eropa) Westphalia Treaty ini sering dianggap sebagai awal sejarah Sistem Internasional Sebelumnya, organisasi-organisasi otoritas politik abad pertengahan Eropadidasarkan pada tatanan hirarkis yang tidak jelas. Westphalia membentuk konsep legal tentang kedaulatan, yang pada dasarnya berarti bahwa para penguasa, atau kedaulatan-kedaulatan yang sah tidak akan mengakui pihak-pihak lain yang memiliki kedudukan yang sama secara internal dalam batas-batas kedaulatan wilayah yang sama. Otoritas Yunani dan Roma kuno kadang-kadang mirip dengan sistem Westphalia, tetapi keduanya tidak memiliki gagasan kedaulatan yang memadai. Salah satu isi mengenai perjanjian westphalia adalah mengenai toleransi. Di situ toleransi berarti: saya tidak mau mencampuri kamu; saya tidak usah bergesekan dengan kamu. Jadi toleransi itu pasif. Itulah tampaknya asal-muasal toleransi. Jadi kita tidak mengatur orang lain, dan mari kita hidup masing-masing saja. Itulah toleransi yang paling awal.