Anda di halaman 1dari 32

Laporan Tutorial

Skenario 3 Persalinan dan Nifas Patologis Kelompok 20C

Tutor : Prof. Dr. Rismawati Yaswir, SpPK (K) Ketua : Raudhatul Husnia Agus (1010313061) Sekretaris 1 : Arzia Rahmi (1010311021) Sekretaris 2 : Rezki Meizikri (1010311010) Anggota : Mulfa Satria Asnel (1010313109) Ivan Maulana Fakh (1010313019) Muhammad Nadirsyah (1010313007) Nelvita Sari Ramadhan (1010312077) Dhania Pratiwi (1010312066) Nidya Khaireza (1010313037) Ari Rahmawati (1010313045)

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

SKENARIO 3 KENAPA ANAK KU TIDAK BISA LAHIR ?

Ny. Pamelia (37 tahun) hamil anak ke-5 cukup bulan, diantar oleh Bidan ke Puskesmas seberang padang dengan rujukan : Partus tidak maju setelah dipimpin 2 jam. Dari pemeriksaan dokter didapatkan: TD: 130/70 mmHg, FUT 3 jari Bpx, TFU ; 35 cm , pada pemeriksaan Leopold : janin Letak kepala, His; 2-3x/35/S, DJJ; 13-12-13, VT; Pembukaan Lengkap, ketuban(-), sisa kehijauan, Ubunubun besar teraba didepan Hodge III-IV. Dokter memberikan antibiotika, memasang infus cairan D5% dan selanjutnya dokter merujuk Ny. Pamelia karena dikhawatirkan terjadinya ruptur uteri sebab saat dikateter urin kemerahan. Ny. Pamelia dirujuk ke Rumah Sakit M Djamil dengan diagnosis Kala II memanjang, untuk penanganan selanjutnya.

Di rumah sakit, ibu merasakan kelelahan dan tidak kuat lagi untuk mengedan, dokter SpOG melakukan pemeriksaan ulang dokter memutuskan persalinan di terminasi dengan Forsep Ekstrasi, lahir bayi ; BBL 3500 gram, PB 50 cm, A/S 7/8. Dokter melakukan manual plasenta dan eksplorasi jalan lahir. Diberikan Oksitosin perinfus, setelah dilakukan penjahitan luka episiotomi ditemukan atonia uteri dengan tinggi fundus uteri 1 jari diatas pusat, dan perdarahan 600cc. Selanjutnya dokter melakukan massage uterus dan memberikan uterotonika yang sesuai.

Pada hari ke dua post partum, pasien sering menangis yang tidak jelas sebabnya dan pasien tidak mau menyusukan bayinya. Akhirnya setelah ditenangkan oleh dokter, bidan dan keluarga pasien baru mau merawat bayinya dengan baik. Pasien dipulangkan pada hari ketiga pasca persalinan setelah dokter memastikan luka episiotominya baik dan pasien dapat buang air kecil dengan lancar. Bagaimana analisis anda mengenai persalinan Ny.Pamelia?

TERMINOLOGI

1. D5% : dextrose 5%

2. Hodge : bidang khayal untuk menentukan seberapa jauh bagian terbawah janin turun ke rongga panggul ibu.

3. Ruptur uteri : robekan uterus yang merupakan salah satu bentuk perdarahan pada kehamilan lanjut.

4. Forsep ekstrasi : merupakan persalnan buatan dimana janin dilahirkan menggunakan alat yang dipasang dikepala janin dan ditarik keluar.

5. Manual plasenta : merupakan prosedur pelepasan plasenta dari tempat implantasinya dan mengeluarkan dari cavum uteri secara manual.

6. Eksplorasi jalan lahir : pemeriksaan jalan lahir untuk kelancaran partus.

7. Episiotomi : insisi dari perineum untuk memudahkan jalan lahir.

8. Atonia uteri : kegagalan uterus dalam berkontraksi uterus secara sempurna setelah melahirkan.

9. Massage uterus : pemijatan secara lembut yang dilakukan pada uterus agar terangsang untuk berkontraksi.

10. Uterotonika : obat yang digunakan untuk merangsang kontraksi uterus.

ANALISIS MASALAH

1. Bagaimana hubungan usia ibu yang 37 tahun, jumlah anaknya dengan partus macet yang dialaminya? 2. Apa yang menyebabkan partus macet? 3. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan dokter dan pemeriksaan leopold? 4. Mengapa terjadi sisa kehijauan pada cairan ketuban ibu? 5. Bagaimana cara menentukan Hodge? Dan apakah normal ubun-ubun besar teraba di Hodge 3 4? 6. Mengapa dokter memberikan antibiotika, D5% dan kemudian merujuknya? 7. Bagaimana hubungan urin kemerahan dengan dugaan ruptur uteri? 8. Apa yang menyebabkan ruptur uteri? 9. Mengapa Ny.Pamelia di diagnosis dengan kala 2 yang memanjang? 10. Bagaimana penanganan yang tepat untuk partus dengan kala 2 memanjang? 11. Mengapa Ny.Pamelia merasa kelelahan dan tidak sanggup mengedan lagi? 12. Apa indikasi dilakukannya terminasi persalinan? 13. Apa komplikasi dari forsep ekstrasi? 14. Mengapa dilakukan manual plasenta dan eksplorasi jalan lahir? 15. Apa tujuan dokter memberikan oksitosin perinfus setelah dilakukan penjahitan luka episiotomi? 16. Mengapa bisa ditemukan atonia uteri dengan TFU 1 jari diatas umbilikus dan perdarahan 600cc? 17. Mengapa dokter melakukan massage uterus dan memberikan uterotonika? Dan apa saja macam-macam uterotonika? 18. Apa yang menyababkan pasien menangis tanpa alasan yang jelas dan tidak mau menyusui anaknya? 19. Apa yang bisa dilakukan dalam kondisi psikologis Ny.Pamelia tersebut?

BRAINSTORMING 1. Umur >35 tahun berisiko tinggi mengalami permasalahan dalah kehamilan dan persalinan. Anak yang >5 orang kekurangan kontraksi uterus, karena sudah terlalu sering teragang sehingga elastisitasnya berkurang. Jadi, dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa dengan keadaan yang seperti itu Ny.Pamelia berisiko tinggi mengalami partus macet.

2. - kurangnya kontraksi uterus - letak janin dan ukuran janin yang terlalu besar untuk panggul ibu - kondisi jalan lahir yang kurang memadai - ketuban pecah dini - mioma 3. Tekanan darah normal FUT normal TFU normal Leopold normal His normal DJJ normal Hodge teraba ubun-ubun besar Ketuban sudah pecah dan bersisa kehijauan yang merupakan mekonium karena janin berada dalam keadaan hipoksia.

4. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, mekonium yang kehijauan merupakan mekonium yang terkontaminasi oleh mekonium. Karena janin mengalami hipoksia saat terjadinya persalinan yang macet.

5. Hodge itu merupakan garis khayal yang dalam artian menentukannya dengan memperkirakan hodge tersebut. Dalam keadaan normal yang berada di hodge 3 4 adalah ubun-ubun kecil. Dalam skenario yang teraba adalah ubun-ubun besar, dalam artian keadaan ini tidak normal.

6. Pemberian antibiotik sudah jelas untuk menghindari infeksi. Karena dalam keadaan partus macet dan ketuban sudah pecah, rentan terjadinya infeksi. Dengan cara bakteri tersebut menembus plasenta yang nanti dapat mempengaruhi janin. D5% diberikan untuk menggantikan cairan ibu yang telah banyak hilang saat proses partus. Untuk menghindari terjadinya dehidrasi makanya diberikan D5%.

7. Saat partus dan mengalami kemacetan VU tertekan oleh uterus yang nanti bisa menyebabkan lecet pada VU karena tekanan dan gesekan yang terjadi. Karena adanya lecet tersebut bisa menimbulkan urin yang kemerahan pada ibu tersebut.

8. Partus lama / macet His yang terlalu kuat dan berlebihan Multipara SC Miomektomi Ekstrasi forseps

9. Karena dari keadaan yang terjadi, proses persalinan yang dijalani oleh ibu tersebut tidak mengalami kemajuan selama kala 2.

10. Kalau penanganan kala 2 yang tepat adalah dengann secepat mungkin mengakhiri persalinan dengan menggunakan alat bantu khusus. Misalnya forseps, vakum, SC. Untuk penanganan yang paling aman adalah dengan SC.

11. Karena parus macet yang dijalaninya, untuk melakukan proses persalinan butuh energi ekstra. Sementara Ny. Tersebut mengalami kala 2 memanjang, berarti butuh lebih banyak energi lagi. Dari keadaan tersebut ibu menjadi kelelahan dan tidak sanggup lagi untuk mengedan.

12. Partus macet Karena sudah mengancam nyawa ibu dan janin Kelelahan ibu Kelainan letak janin

13. Forseps itu kan menarik kepala janin menggunakan cunam yang berbentuk sendok. Karena penarikan janin tersebut bisa terjadi fraktur intrakranial, serta luka ataupun lecet pada bagian kepala janin dan wajahnya.

14. Kalau persalinan dibantu dengan forsep berarti memang ada masalah denga his si ibu. Setiap melakukan forseps biasanya selalu dilakukan manual plasenta, karena ibu sudah tidak sanggup untuk mengedan. Kemudian, dilakukan manual plasenta untuk memastikan semua plasenta telah keluar semua dan tidak meninggalkan sisa.

15. Intinya untuk mengurangi perdarahan denga merangsang his sehingga uterus cepat kembali kebentuk semula.

16. Perdarahan normal pasca partus adalah <500cc, sementara perdarahan ibu ini sampai 600cc. Ini disebabkan oleh atonia uteri, dimana uterus gagal berkontraksi setelah partus. Karena atonia uteri pengecilan uterus lama sehingga ditemukan di 1 jari atas simfisis pubis.

17. Massage uterus dilakukan untuk merangsang kontraksi uterus dan juga mengeluarkan gumpalan-gumpalan darah yang mungkin tersisa saat partus macet. Uterotonika diberikan untuk merangsang kontraksi uterus. Contohnya : oksitosin, ergometrin, prostaglandin.

18. Berarti si ibu mengalami baby blues / post partum / maternity blues, yang berarti selalu merasa sedih. Biasanya dialami oleh sekitar 50% wanita setelah melahirkan. Salah satu gejalanya adalah labilitas afek yang membuat ibu mudah menangis kemudian diam dan kemudian menangis lagi. Karena perasaan itu, si ibu tidak memperdulikan anaknya.

19. Karena gangguan jiwa yang dialami ibu tersebut tergolong gangguan yang ringan, jadi ibu tersebut tidak membutuhkan penanganan khusus. Ibu tersebut hanya membutuhkan terapi suportif dari tenaga kesehatan yang merawatnya, keluarga serta orang-orang terdekatnya.

SISTEMATIKA

Tatalaksana Manual placenta


Patologi Kehamilan (Distosia) Kelainan psikologi masa nifas

Vakum Ruptur Uteri

Persalinan tidak maju

Patologi nifas dan laktasi Fetal distress

Forceps

Atonia

uteri

bedah obstetric

Perdarahan

Sc

anestesia

Tatalaksana

LEARNING OBJECTIVE

1. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang distosia 2. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang fetal distress dalam persalinan 3. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang perdarahan post partum 4. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang patologi nifas dan laktasi 5. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang gangguan psikologi postpartum 6. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang tatalaksana kelainan pasca persalinan

PEMBAHASAN LEARNING OBJECTIVE

1.

Distosia
a. POWER Kelainan His Hypotonic uterine contraction. fundus dominan, kontraksi lebih lemah, singkat, dan jarang dari normal. rasa nyeri hanya sedikit, keadaan umum penderita baik. Faktor resiko: Multipara, herediter, emosi, peregangan rahim yang berlebihan pada kehamilan ganda dan hidramnion, gangguan anatomis pada uterus. Incoordinated Hypertonic Uterine Action Tidak ada koordinasi antara segmen atas, tengah, dan bawah uterus, tonus otot meningkat, menimbulkan rasa nyeri dan hipoksia janin. Spasme sirkuler setempatpenyempitan cavum uteri di tempat tersebut (lingkaran konstriksi) biasanya ditemukan pada batas antara segmen atas dan segmen bawah uterus. Serviks tidak dapat relaksasi karena IUA sehingga tidak bisa membuka (distosia servikalis)

b. PASSAGE Disproporsi Fetopelvik Timbul karena berkurangnya ukuran panggul, ukuran janin terlalu besar, atau keduanya.

Penyempitan Pintu Atas Panggul Diameter sempit anteroposterior: <10 cm transversal: <12 cm konjugata diagonal: < 11,5 cm. Kepala janin tidak turun sampai awitan persalinan dan mengapung dengan bebas sehingga pengaruh yang kecil sekalipun sudah cukup untuk mengubah presentasi.

Penyempitan Pintu Tengah panggul Diameter rata-rata anteroposterior: 11,5 cm transversal (interspinarum): 10,5 cm sagitalis posterior: 5 cm. Belum ada standar sempit. Kira-kira bila diameter anteroposterior+sagitalis posterior 13,5 cm.

Penyempitan Pintu Bawah Panggul Penyempitan diameter intertuberosum hingga < 8 cm. Menyempitnya diameter intertuberosum menyebabkan menyempitnya segitiga anterior dan mendorong kepala janin ke arah posterior. Bila diameter sagitalis posterior lebar, maka masih memungkinkan untuk melahirkan per vaginam.

c. PASSENGER

Ukuran Janin terlalu besar Selama panggul tidak sempit, kecil kemungkinannya bagi janin yang tumbuh normal dengan berat kurang dari 4500 g untuk menimbulkan distosia semata-mata karena ukurannya. Untuk janin yang sangat besar (>4,5 kg) misalnya pada ibu yang diabetes, akan meninggikan resiko distosia bahu dan dianjurkan untuk seksio cesarea

Malpresentasi dan Malposisi Malpresentasi: bagian terendah janin yang berada di segmen bawah rahim bukan belakang kepala. Malposisi adalah penunjuk (presenting part) tidak berada di anterior.

Presentasi muka Kepala dalam keadaan hiperekstensi sehingga oksiput menempel pada punggung dan dahi menjadi bagian terbawah. Faktor resiko; pembesaran leher, lilitan tali pusat, anensefalus, panggul sempit, atau janin yang terlalu besar. Presentasi muka jarang ditemukan di atas PAP. Biasanya ditemukan presentasi dahi yang berubah menjadi presentasi muka setelah terjadi ekstensi kepala lebih lanjut selama penurunan janin. Pelahiran per vaginan dapat dilakukan bila dagu berada di anterior.

Presentasi dahi Kepala janin berada di posisi antara flexi penuh dan ekstensi penuh. Presentasi dahi tidak stabil dan dapat berubah menjadi presentasi muka atau presentasi oksiput. Kecuali bayi sangat kecil atau rongga panggul sangat besar, pelahiran tidak dapat terjadi selama presentasi dahi menetap (persisten)

Presentasi Majemuk Terjadinya prolaps satu atau lebih ekstremitas pada presentasi kepala atau bokong. Faktor resiko: prematuritas, multiparitas, panggul sempit, kehamilan

ganda, atau pecahnya selaput ketuban dengan bagian terbwah janin yang masih tinggi. Yang paling sering terjadi adalah kombinasi kepala dengan tangan/lengan. Kelahiran spontan hanya terjadi bila janin sangat kecil, atau sudah mati dan mengalami maserasi. atau terjadi reposisi.

Presentasi bokong Janin letak memanjang dengan bagian terbwahnya bokong, kaki, atau keduanya. Faktor2: abnormalitas struktur uterus, polihidramnion, plasenta previa, multiparitas, mioma uteri, kehamilan multipel, anomali janin, dan riwayat presentasi bokong sebelumnya. Panggul janin masuk PAP secara oblig dengan panggul anterior turun lebih dulu. Saat putaran paksi dalam membawa sakrum ke arah transversal sehingga posisi panggul janin menjadi anteroposterior di pintu bawah panggul dan saat pengeluaran.

Letak lintang Sumbu panjang janin kira kira tegak lurus dengan sumbu panjang tubuh ibu. Letak lintang oblik tidak stabil dan akan berubah saat persalinan.

2.

Fetal distress dalam persalinan


Pengertian - Biasanya menandakan kekhawatiran obstetric tentang keadaan janin yang kemudian berakhir dengan SC atau persalinan buatan lainnya. - Dikatakan gawat janin, bila: a. DJJ >160/menit atau <100/menit. b. DJJ tidak teratur. c. Keluar mekonium kental pada awal persalinan. Pengelolaan - Cara pemantauan: Kasus Resiko Rendah (menggunakan auskultasi teratur DJJ) Setiap 15 menit : pada Kala I

Setiap setelah His : pada Kala II Kasus Resiko Tinggi (menggunakan pemantauan DJJ elektronik + pemeriksaan pH darah janin). - Interpretasi dan Pengelolaan: a. Untuk memperbaiki aliran darah uterus. miringkan ibu ke sebelah kiri (untuk memperbaiki sirkulasi plasenta). hentikan infus oksitosin (bila sedang diberikan). berikan infus 1L Kristaloid (untuk menghentikan hipotensi ibu) tingkatkan kecepatan infus cairan intravaskular. b. Beri ibu oksigen (dengan kecepatan 6-8 L/menit) c. Perlu kehadiran seorang dokter spesialis anak. - Biasanya resusitasi intrauterin di atas dilakukan selama 20 menit. - Melahirkan janin dapat pervaginam atau perabdominam.

3.

Perdarahan post partum


Perdarahan pascapersalinan Perdarahan yang masif yang berasal dari tempat implantansi plasenta, robekan pada jalan lahir dan jaringan sekitarnya dan merupakan salah satu penyebab kematian ibu. Perdarahan pascapersalinan adalah perdarahan yang melebihi 500 ml setelah bayi lahir. Pada wanita hamil dengan eklampsia akan sangat peka terhadap PPP, karena sebelumnya telah terjadi defisit cairan intravaskular dan ada penumpukan cairan cairan ekstravaskular, sehingga perdarahn yang sedikit saja akan mempengaruhi hemodinamika ibu dan perlu penanganan segera sebelum terjadi tanda-tanda syok. PPP yang dapat menyebabkan kematian ibu 45% terjadi pada 24 jam pertama setelah bayi lahir, 68 73% dalam satu minggu setelah bayi lahir, dan 82 88% dalam dua minggu setelah bayi lahir. Penyebabnya dibedakan atas: Perdarahan dari tempat implantasi plasenta - Hipotoni sampai atonia uteri Akibat anestesi Distensi berlebihan (gemeli, anak besar, hidramnion) Partus lama Partus presipitatus/ partus terlalu cepat Persalinan karena induksi oksitosin Multiparitas Korioamnionitis Pernah atoni sebelumnya - Sisa plasenta Kotiledon atau selaput ketuban tersisa Plasenta susenturiata Plasenta akreta, inkreta, perkreta

Perdarahan karena robekan - Episiotomi yang melebar - Robekan pada perineum, vagina, dan serviks - Ruptura uteri

Gangguan koagulasi - Jarang terjadi, tapi dapat memperburuh keadaan (trombofilia, sindroma HELLP, preeklampsia, kematian janin dalam kandungan, dan emboli air ketuban)

PPP primer 24 jam pertama atonia uteri, robekan jalan lahir, dan sisa sebagian plasenta (inversio uteri : jarang) PPP sekunder setelah 24 jam sisa plasenta 1. Atonia uteri : keadaan lemahnya tonus atau kontraksi rahim uterus tidak mampu menutup perdarahan Pencegahan: Melakukan manajemen aktif kala III pada semua wanita yang bersalin PPP Pemberian misoprostol per-oral 2 3 tablet 400 600 g) segera setelah bayi lahir Faktor predisposisi: Regangan rahim yang berlebihan (anak terlalu besar, polihidramnion, kehamilan gemeli) Kelelahan karena persalinan lama Kehamilan grande-multipara Ibu dengan keadaan umumnya yang jelek, anemis, atau menderita penyakit menahun Mioma uteri yang mengganggu kontraksi rahim Infeksi intrauterin (korioamnionitis) Ada riwayat pernah atoni uteri sebelumnya

2. Robekan jalan lahir Persalinan dengan trauma Penyebab: Episiotomi Robekan spontan perineum Trauma forseps atau vakum ekstraksi atau karena versi ekstraksi

Robekan yang terjadi bisa ringan (lecet, laserasi), luka episiotomi, robekan periuneum spontan derajat ringan sampai ruptur perinei totalis (sfingter ani terputus), robekan pada dinding vagina, forniks uteri, serviks, daerah sekitar klitoris dan uretra dan bahkan, yang terberat ruptura uteri. Setiap persalinan hendaknya dilakukan inspeksi yang teliti untuk mencari kemungkinan adanya robekan ini.

3. Retensio plasenta : Plasenta tetap tertinggal dalam uterus setengah jam setelah anak lahir Disebabkan oleh: adhesi yang kuat antara plasenta dan uterus Plasenta akreta: implantasi menembus desidua basalis dan Nitabuch layer. Plasenta inkreta: plasenta sampai menembus miometrium Plasenta perkreta: bila vili korialis sampai menembus perimetrium Faktor predisposisi plasenta akreta: bila ada plasenta previa, bekas seksio sesarea, pernah kuret berulang, dan multiparitas. 4. Inversi uterus : keadaan di mana lapisan dalam uterus (endometrium) turun dan keluar lewat ostium uteri eksternum, yang dapat bersifat inkomplit sampai komplit. Faktor yang memungkinkan hal ini terjadi: adanya atonia uteri, serviks yang masih terluka lebar, dan adanya kekuatan yang menarik fundus ke bawah. Tanda-tanda: Syok karena kesakitan Perdarahan banyak bergumpal

Di vulva tampak endometrium terbalik dengan atau tanpa plasenta yang masih melekat Bila baru terjadi, maka prognosis cukup baik akan tetapi bila kejadiannya cukup lama, maka jepitan serviks yang mengecil akan membuat uterus mengalami iskemia, nekrosis, dan infeksi.

5. Perdarahan karena gangguan pembekuan darah Dicurigai bila penyebab yang lain dapat disingkirkan apalagi disertai ada riwayat pernah mengalami hal yang sama pada persalinan sebelumnya. Akan ada tendensi mudah terjadi perdarahan setiap dilakukan penjahitan dan perdarahan akan merembes atau timbul hematoma pada bekas jahitan, suntikan, perdarahan dari gusi, rongga hidung dan lain-lain. Pencegahan: Persiapan sebelum hamil untuk memperbaiki keadaan umum dan mengatasi setiap penyakit kronis, anemia, dll. Mengenali faktor predisposisi (multiparitas, anak besar, hamil kembar, hidramnion, bekas seksio, ada riwayat PPP sebelumnya) Persalinan harus selesai dalam waktu 24 jam dan pencegahan partus lama Kehamilan resiko tinggi agar melahirkan di rumah sakit rujukan Kehamilan resiko rendah agar melahirkan di tenaga kesehatan terlatih dan menghindari persalianan dukun Menguasai langkah-langkah pertolongan pertama menghadapi PPP dan mengadakan rujukan sebagaimana mestinya.

4.

Patologi nifas dan laktasi

Infeksi Nifas Infeksi nifas adalah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan setiap infeksi bakteri di traktus genitalia setelah persalinan. Infeksi panggul merupakan penyulit paling serius pada masa nifas. Infeksi panggul, preeklamsia, dan perdarahan obstetri merupakan trias letal penyebab kematian ibu selama beberapa dekade pada abad ini.

Demam Nifas Adanya demam setelah melahirkan merupakan indeks yang cukup dapat diandalkan untuk menunjukkan insiden infeksi panggul.

Diagnosis Banding Demam Apabila setelah melahirkan suhu tubuh menetap pada 38C atau lebih, wanita yang bersangkutan harus dievaluasi terhadap kemungkinan infeksi nifas serta kausa demam di luar panggul. Sebagian besar demam yang menetap setelah melahirkan disebabkan oleh infeksi traktus genitalia. Perlu ditekankan bahwa demam tinggi 39C atau lebih yang timbul pada 24 jam pertama setelah melahirkan mungkin disebabkan oleh infeksi panggul yang sangat virulen oleh Streptococcus grup A atau grup B.

Pembengkakan Payudara Keadaan ini sering menyebabkan peningkatan suhu sesaat. Sekitar 15% wanita postpartum mengalami demam akibat pembengkakan payudara, yang jarang melebihi 39C dalam beberapa hari pertama postpartum. Demam biasanya berlangsung tidak lebih dari 24jam. Sebaliknya demam pada mastitis bakterialis timbul belakangan dan biasanya menetap. Penyakit ini disertai oleh gejala dan tanda lain infeksi payudara yang menjadi jelas dalam 24 jam.

Pielonefritis Infeksi ginjal akut mungkin sulit dibedakan dari infeksi panggul. Pada kasus tipikal, bakteriuria, piuria, nyeri ketok sudut kostovertebra, dan suhu yang tinggi jelas menunjukkan infeksi ginjal, namun gambaran klinis dapat bervariasi.

Gejala-gejala yang terjadi pada penderita demam nifas :


Mula-mula badan terasa dingin. Denyut nadi agak keras. Suhu badan naik dan demam berlangsung terus sesudah sepekan bersalin. Perut disebelah bawah terasa sakit kalau tertekan. Kepala terasa pening dan sakit.

Cara terjadinya infeksi: 1. Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina dalam uterus. Kemungkinan lain ialah bahwa sarung tangan atau alt alt yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman kuman. 2. Droplet infection Sarung tangan atau alat alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan penolong. 3. Dalam rumah sakit selalu banyak kuman-kuman pathogen, berasal dari penderitapenderita dengan berbagai jenis infeksi. Kuman-kuman ini bisa dibawa aliran udara kemana-mana. 4. Coitus pada akhir kehamilan tidak merupakan sebab infeksi penting, kecuali apabila mengakibatkan pecahnya ketuban. 5. Infeksi intrapartum sudah dapat memperlihatkan gejala-gejala pada waktu berlangsungnya persalinan. Infeksi intrapartum biasanya terjadi pada partus lama, apalagi jika ketuban sudah lama pecah dan beberapa kali dilakukan pemeriksaan dalam. Gejala-gejala ialah kenaikan suhu, biasanya disertai dengan leukositosis dan takikardia; denyut jantung janin dapat meningkat pula. Air ketuban biasa menjadi keruh dan bau.

Faktor predisposisi yang terpenting pada infeksi nifas ialah : 1. Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan penderita, seperti perdarahan banyak, pre-eklamsia, juga infeksi lain, seperti pneumonia, penyakit jantung, dan sebagainya. 2. Partus lama, terutama dengan ketuban pecah lama. 3. Tindakan bedah vaginal, yang menyebabkan perlukaan pada jalan lahir. 4. Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban, dan bekuan darah.

PATOLOGI MENYUSUI

Masalah menyusu pada umumnya terjadi dalam dua minggu pertama masa nifas(Krisnadi, 2005). Payudara telah dipersiapkan sejak mulai terlambat datang bulansehingga pada waktunya pada memberikan ASI dengan sempurna. Untuk dapat melancarkan pengeluaran ASI dilakukan persiapan sejak awal hamil dengan melakukan masase, menghilangkan kerak pada puting susu sehingga duktusnya tidak tersumbat. Puting susu saat mandi perlu ditarik-tarik sehingga menonjol untuk memudahkan mengisap ASI (Manuaba, 1998). Berbagai variasi puting susu dapat terjadi diantaranya terlalu kecil, puting susu mendatar dan puting susu masuk ke dalam. Pengeluaran ASI pun dapat bervariasi seperti tidak keluar sama sekali (agalaksia), ASI sedikit (oligolaksia), terlalu banyak (poligolaksia), dan pengeluaran berkepanjangan (galaktorea) (Manuaba, 1998).

1. Payudara bengkak (Engorgement) Bendungan payudara adalah peningkatan aliran vena dan limfe pada payudara dalam rangka mempersiapkan diri untuk laktasi (Prawirohardjo, 2006). Payudara terasa lebih penuh, tegang dan nyeri. Terjadi pada hari ketiga atau keempat pasca persalinan. Disebabkan oleh bendungan vena dan pembuluh getah bening. Hal ini merupakan tanda bahwa ASI mulai banyak disekresi, namun pengeluaran belum lancar. Bila karena nyeri ibu tidak mau menyusui, keadaan ini akan berlanjut. ASI yang disekresi akan menumpuk sehingga payudara bertambah tegang, gelanggang susu menonjol, dan puting menjadi lebih datar. Bayi menjadi lebih sulit menyusu (Krisnadi 2005). Pencegahan dan penanganannya dalam Krisnadi (2005) dijelaskan sebagai berikut:

Pencegahan: a. Menyusui dini, susui bayi sesegera mungkin (sebelum 30 menit) setelah dilahirkan b. Susui bayi tanpa dijadwal c. Keluarkan ASI dengan tangan atau pompa, bila produksi melebihi kebutuhan bayi d. Perawatan payudara pasca persalinan Penanganan : a. Kompres hangat agar payudara menjadi lebih lembek b. Keluarkan sedikit ASI sebelum menyusui sehingga puting lebih mudah ditangkapdan diisap oleh bayi c. Sesudah bayi kenyang, keluarkan sisa ASI d. Untuk mengurangi rasa sakit pada payudara, berikan kompres dingin. Untuk mengurangi stasis di vena dan pembuluh getah bening, lakukan pengurutan(masase) payudara yang dimulai dari puting ke arah korpus.

2. Kelainan putting Kelainan puting ditemukan lebih dini pada saat pemeriksaan kehamilan agar segera dapat dikoreksi sebelum menyusui. Kelainan puting yang dapat mengganggu proses menyusui adalah puting susu datar dan puting susu tenggelam (inverted). Penanggulangan puting datar dan tenggelam dapat diperbaiki dengan perasan Hoffman, yaitu dengan meletakkan kedua jari telunjuk atau ibu jari di daerahgelanggang susu, kemudian dilakukan urutan menuju ke arah berlawanan. Pada trueinverted nipple perasat Hoffman tidak dapat memperbaiki keadaan, harus dilakukan tindakan operatif. Pada keadaan ini, ASI harus dikeluarkan secara manual atau dengan pompa susu dan diberikan pada bayi dengan sendok, gelas atau pipet(Krisnadi, 2005).

3. Puting nyeri (sore nipple) dan Puting lecet (cracked nipple) Puting susu nyeri terjadi karena posis bayi saat menyusui salah, karena puting tidak masuk ke dalam mulut bayi sampai gelanggang susu sehingga bayi hanya mengisap pada puting susu saja. Tekanan terus-menerus hanya pada tempat tertentu akan menimbulkan puting nyeri waktu diisap, meskipun kulitnya masih utuh (Krisnadi,2005). Penyebab lain yang dapat menimbulkan

puting nyeri adalah penggunaan sabun,cairan, krim, alcohol untuk membersihkan puting susu sehingga terjadi iritasi. Iritasipada puting susu juga dapat terjadi pada bayi dengan tali lidah (frenulum linguae) yang pendek sehingga bayi tidak dapat mengisap sampai gelanggang susu dan lidahnya menggeser ke puting. Puting akan nyeri bila terus disusukan lama-lama dan akan menjjadi lecet atau luka (Krisnadi, 2005). Penanggulangannya adalah dengan memberikan teknik menyusui yang benar,khususnya letak puting dalam mulut bayi, yaitu: a.Bibir bayi menutup areola sehingga tidak tampak b.Puting diatas lidah bayi c.Areola di antara gusi atas dan bawah

4. Saluran susu tersumbat (Obstructive Duct) Sumbatan pada saluran susu disebabkan oleh tekanan yang terus-menerus. Tekanan dapat berasal dari pemakaian bra yang terlalu ketat, tekanan jari pada tempat yang sama setiap menyusui, atau kelanjutan dari payudara bengkak. Pencegahan dapat dilakukan dengan memakai bra dengan ukuran memadai dan menopang payudara dengan baik, pengurutan payudara yang teratur dan dengan teknik menyusui yang baik (Krisnadi, 2005). Pengobatan dapat dilakukan dengan memberikan kompres hangat sebelum menyusui, pengurutan payudara, mengeluarkan sisa ASI setelah menyusui dan kompres dingin setelah menyusui untuk mengurangi rasa sakit. Saluran susu yang tersumbat bila tidak ditangani sebagaimana mestinya dapat menjadi mastitis (radang payudara) (Krisnadi, 2005).

5. Radang payudara (Mastitis) Proses infeksi pada payudara menimbulkan pembengkakan lokal atau seluruh payudara, merah dan nyeri. Peradangan mengenai stroma payudara yang terdiri dari jaringan ikat, lemak, pembuluh darah, dan getah bening. Biasanya terjadi pada minggu kedua, ibu merasa demam umum seperti influenza (Krisnadi, 2005). Biasanya didahului oleh puting lecet, payudara bengkak atau sumbatan saluran susu. Ibu dengan anemi, gizi buruk, kelelahan dan stress juga merupakan factor berikut: predisposisi. Penanggulangannya adalah sebagai

a. b. c. d. e. f. g.

Ibu harus terus menyusui agar payudara penuh Kompres hangat dan dingin seperti pada payudara bengkak Memperbaiki posisi menyusui, terutama bila terdapat putting lecet Istirahat cukup, makanan yang bergizi Minum sekitar 2 liter per hari Antibiotic Analgesic. Dalam Prawirohardjo (2006), penanganan untuk ibu yang menyusui bayinya dan tidak menyusui dibedakan.

Bila ibu menyusui bayinya: a. b. c. d. e. f. g. h. Susukan sesering mungkin Kedua payudara disusukan Kompres hangat payudara sebelum disusukan Bantu dengan memijat payudara untuk permulaan menyusui Sangga payudara Kompres dingin pada payudara di antara waktu menyusui Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam Lakukan evaluasi setelah 3 hari untuk mengevaluasi hasil

Bila ibu tidak menyusui bayinya: a. b. Sangga payudara Kompres dingin pada payudara untuk mengurangi pembengkakan dan rasa sakit c. d. Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral selama 4 jam Jangan dipijat atau memakai kompres hangat pada payudara.

6. Abses payudara Berbeda dengan mastitis, pada abses payudara : a. Infeksi mengenai jaringan parenkim dan besar nanah b. Payudara yang sakit tidak boleh disusukan, sedangkan payudara yang sehat tetapdisusukan

c. Terjadi sebagai komplikasi dari mastitis d. Pemberian antibiotic dan analgesic e. Bila perlu lakukan insisi abses Payudara yang sakit sementara tidak disusukan, namun ASI tetap dikeluarkan manual atau dengan pompa agar produksi ASI tetap baik. Dalam beberapa hari dapat disusukan kembali (Krisnadi, 2005).

5.

Gangguan psikologi postpartum


Depresi Pasca Kelahiran (Post Partum Blues) Pengertian Post Partum Blues Post Partum Blues (PBB) sering juga disebut sebagai maternity blues atau baby blues dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan efek ringan yang sering tampak dalam minggu pertama setelahh persalinan.

Penyebab Post Partum Blues Dikategorikan sebagai sindroma gangguan mental yang ringan, tetapi bila tidak ditatalaksanai dengan baik dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi wanita yang mengalaminya, dan bahkan gangguan ini dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat yaitu depresi dan psikosis salin yang mempunyai dampak lebih buruk terutama dalam hubungan perkawinan dengan suami dan perkembangan anknya.

Gejala Post Partum Blues Gejala-gejala yang terjadi: reaksi depresi/sedih/disforia, menagis, mudah tersinggun atau iritabilitas, cemas, labil perasaan, cendrung menyalahkan diri sendiri,gangguan tidur dan gangguan nafsu makan.

Gambaran Klinik, Pencegahan dan Penatalaksanaan Banyak factor yang dianggap mendukung pada sindroma ini: 1. Faktor hormonal yang terlalu rendah 2. Faktor demografik yaitu umur dan parietas 3. Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan 4. Latar belakan psikososial yang bersangkutan

Cara mengatasinya adalah dengan mempersiapkan persalinan dengan lebih baik, maksudnya disini tidak hanya menekankan pada materi tapi yang lebih penting dari segi psikologi dan mental ibu.

Pencegahannya dapat dilakukan dengan: 1. beristirahat ketika bayi tidur 2. olah raga ringan, ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu 3. tidak perfeksionis dalam hal mengurusi bayi 4. bicarakan rasa cemas dan komunikasikan 5. bersikap fleksibel dan bergabung dengan kelompok ibu-ibu baru 6. kempatan merawat bayi hanya dating satu kali

Depresi Post Partum Pengertian Depresi Post Partum Depresi post partum adalah depresi berat yang terjadi 7 hari setelah melahirkan dan berlangsung selama 30 hari, dapat terjadi kapanpun bahkan sampai 1 tahun kedepan.

Pitt tahun 1988 dalam Pitt(regina dkk,2001) depresi post parum adalah depresi yang bervariasi dari hari ke hari dengan menunjukkan kelelahan, mudah marah, gangguan nafsu makan dan kehilangan libido(kehilangan selera untuk berhubungan intim dengan suami). Llewelly-jones (1994) menyatakan wanita yang didiagnosa mengalami depresi 3 bulan pertama setelah melahirkan. Wanita tersebut secara social dan emosional meras terasingkan atau mudah tegang dalam setiap kejadian hidupnya. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa depresi post partum adalah gangguan emosional pasca persalinan yang bervariasi, terjadi pada 10 hari pertama masa setelah melahirkan dan berlangsung terus-menerus sampai 6 bulan atau bahkan sampai satu tahun.

Penyebab Depresi Post Partum Disebabkan karena gangguan hormonal. Hormon yang terkait dengan terjadinya depresi post partum adalah prolaktin, steroid dan progesterone.

Pitt(regina dkk,2001) mengemukakan 4 faktor penyebab depresi post partum: 1. factor konstitusional 2. factor fisik yang etrjadi karena ketidakseimbangan hormonal

3. factor psikologi 4. factor social dan karateristik ibu

Gejala Depresi Post Partum Gejala yang menonjol dalam depresi post partum adalah trias depresi yaitu: 1. berkurangnya energi 2. penurunan efek 3. hilang minat (anhedonia)

Ling dan Duff(2001) mengatakan bahwa gejala depresi post partum yang dialami 60% wanita mempunyai karateristik dan spesifik antara lain: 1. trauma terhadap intervensi medis yang terjadi 2. kelelahan dan perubahan mood 3. gangguan nafsu makan dan gangguan tidur 4. tidak mau berhubungan dengan orang lain 5. tidak mencintai bayinya dan ingin menyakiti bayinya atau dirinya sendiri. Monks dkk (1988) mengatakan depresi post partum merupakan problem psikis sesudah melahirkan seperti labilitas efek, kecemasan dan depresi pada ibu yang dapat berlangsung berbulan-bulan.

Faktor resiko: 1. keadaan hormonal 2. dukungan sosial 3. emotional relationship 4. komunikasi dan kedekatan 5. struktur keluarga 6. antropologi 7. perkawinan 8. demografi 9. stressor psikososial dan lingkungan Hormon yang terkait dengan terjadinya depresi post partum adalah prolaktin, steroid, progesteron dan estrogen.

Untuk mencegah terjadinya depresi post partum sebagai anggota keluarga harus memberikan dukungan emosional kepada ibu dan jangan mengabaikan ibu bila terlihat sedang sedih, dan sarankan pada ibu untuk: 1. beristirahat dengan baik 2. berolahraga yang ringan 3. berbagi cerita dengan orang lain 4. bersikap fleksible 5. bergabung dengan orang-oarang baru 6. sarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis

Post Partum Psikosa Pengertian Post Partum Psikosa Adalah depresi yang terjadi pada minggu pertama dalam 6 minggu setelah melahirkan.

Penyebab Post Partum Psikosa Disebabkan karena wanita menderita bipolar disorder atau masalah psikiatrik lainnya yang disebut schizoaffektif disorder. Wanita tersebut mempunyai resiko tinggi untuk terkena post partum psikosa.

Gejala Post Partum Psikosa Gejala yang sering terjadi adalah: 1. delusi 2. halusinasi 3. gangguan saat tidur 4. obsesi mengenai bayi Pada wanita yang menderita penyakit ini dapat terkena perubahan mood secara drastis, dari depresi ke kegusaran dan berganti menjadi euforia dalam waktu singkat. Penderita kehilangan semangat dan kenyamanan dalam beraktifitas,sering menjauhkan diri dari teman atau keluarga, sering mengeluh sakit kepala dan nyeri dada, jantung berdebar-berdebar serta nafas terasa cepat.

Untuk mengurangi jumlah penderita ini sebagai anggota keluarga hendaknya harus lebih memperhatikan kondisi dan keadaan ibu serta memberikan dukungan psikis agar tidak merasa kehilangan perhatian.

Saran kepada penderita untuk: 1. beristirahat cukup 2. mengkonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang 3. bergabung dengan orang-orang yang baru 4. bersikap fleksible 5. berbagi cerita dengan orang terdekat 6.sarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis

6.

Tatalaksana kelainan pasca persalinan


Jenis-jenis forceps : Forceps Simpson : daun berlubang dan tungkai lebar serta memiliki lengkung panggul yang luas.

1. EKSTRAKSI FORSEPS

Forceps Tucker McLane : daunnya solid (tidak berlubang) dan tangkai nyalurus.

Forceps Kielland : memiliki kunci luncur, lengkung panggul minimal dan beratnya ringan.

Klasifikasi pelahiran dengan forceps berdasarkan station dan rotasinya: a. Forsepstinggi: ekstraksi persalinan dengan forceps ini sekarang sudah tidak dilakukan lagi. b. Forceps tengah : ekstraksi persalinan dengan forceps ini sekarang sudah tidak dilakukan lagi.

c. Forceps rendah : dilakukan saat kepala janin sudah mencapai Hodge 3-4 d. Forceps outlet 2. EKSTRAKSI VACUM Keunggulan ekstraksi vacuum dibandingkan dengan forceps : Mengurangi resiko laserasi pada jalan lahir Mengurangi resiko terjadinya trauma pada jaringan lunak ibu Penekanan intracranial janin terja dilebih kecil pada persalinan dengan vacuum.

Pemasangan vacuum : vacuum dipasang di atas sutura sagitalis dan sekitar 3 cm di depan ubun-ubun kecil.