P. 1
Mahkota Dewa

Mahkota Dewa

4.0

|Views: 127|Likes:
Dipublikasikan oleh Fahma Farihah

More info:

Published by: Fahma Farihah on Oct 18, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

Phaleria Macrocarpae Pericarpium (Daging Buah Mahkota Dewa

)

Klasifikasi Ilmiah Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi Kelas Sub Kelas OrdoFamili Genus Spesies : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Rosidae : Thymelaeaceae : Phaleria : Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl

Simplisia phaleriae macrocarpae pericarpium (daging buah mahkota dewa) merupakan daging buah yang sudah masak, telah dikeringkan berasal dari tanaman Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl., suku Thymelaceae.  Deskripsi tanaman Merupakan tanaman perdu tinggi hingga 5 meter. Batang bergetah, dengan kulit berwarna cokelat kehijauan dan kayu berwarna putih. Daun tunggal berbentuk lonjong, memanjang berujung runcing, warna hijau ukuran panjang 7-10 cm dan lebar 3-5 cm. Bunga merupakan bunga majemuk yang tersusun dalam kelompok 2-4 bunga, warna putih, bentuk seperti terompet kecil, bau harum, timbul menyebar pada batang atau ketiak daun. Buah berbentuk bola dengan ukuran bervariasi, waktu muda berwarna hijau, setelah tua menjadi merah. Biji bulat berwarna putih dan sangat beracun. Akar tunggang panjang hingga 1 meter. Tanaman yang berasal dari Papua, juga dikenal dengan nama (Phaleria papuana Warb. Var. Wichmannii (Val.) Back. Simplisia berupa daging buah berwarna putih kekuningan, bau spesifik, rasa pahit, yang sudah dikeringkan menunjukkan dua warna berbeda, satu sisi awalnya agak

merah, setelah disimpan menjadi kecokelatan, sedangkan sisi lain berwarna putih kekuningan.  Kandungan kimia Falerin, mangiferin, asam galat, ikarisida, pada biji terdapat senyawa norkukurbitasin, fevikordin. Gambar 5.5 memperlihatkan struktur kimia senyawa kulit buah mahkota dewa.  Farmakologi Uji klinik ekstrak kering daging buah mahkota dewa dengan berbagai dosis dari 62,5 hingga 250 mg terhadap 30 sukarelawan. Sukarelawan diberi glukosa per oral sebanyak 75 g setelah 10 jam berpuasa. Kadar glukosa darah diukur sampai pada menit ke-180. Dari penelitian ini diketahui bahwa pada dosis 125 mg mempunyai kecenderungan menurunkan kadar gula darah. Penelitian melibatkan 15 sukarelawan sehat yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang terdiri dari 6 wanita dan 9 pria. Semua sukarelawan sehat diberi pembebanan glukosa 75 g setelah puasa 10 jam untuk mendapatkan kadar glukosa serum baseline. Simplisia dosis 500 mg dapat menurunkan kadar glukosa darah orang sehat.

Gambar 5.5 Struktur kimia beberapa senyawa dalam kulit buah mahkota dewa.

 Keamanan Ekstrak air dan etanolik simplisia (dosis 2500, 12500, dan 25000 mg/kg bb) tidak menimbulkan kematian hewan, sehingga LD50 tidak dapat ditetapkan secara pasti, dan dapat disimpulkan sebagai kelompok nontoksik, sedangkan ekstrak biji masuk dalam kelompok toksik. Dalam jumlah besar dapat menyebabkan mual. Mengendalikan diabetes Untuk mencegah atau mengobati penyakit diabetes yang tidak terlalu serius diperlukan 3 - 5 potong teh racik mahkota dewa yang direbus dalam tiga gelas air bersama tiga lembar daun salam. Perebusan dilakukan hingga air tinggal setengahnya. Ramuan ini diminum tiga hari sampai seminggu sekali. Sedangkan untuk mengobati diabetes parah kita merebus dengan cara yang sama: sesendok teh racik mahkota dewa dan tiga lembar daun salam. Ramuan diminum tiga kali sehari. Tinosporae Caulis (Batang Brotowali)
.

Simplisia tinosporae caulis (batang brotowali) berupa potongan batang yang telah dikeringkan berasal dari tanaman Tinospora crispa (L.) Miers. Ex

Hook.f.&Thems./T cordfolia (Thunb) Miers., suku Menispermae.  Deskripsi tanaman Tanaman perdu memanjat, kulit batang berkutil-kutil. Daun bentuk seperti jantung atau agak bundar telur, lebar 7-1,5 cm. Perbungaan berbentuk tandan semu dengan 1-3 bunga bersama-sama. Bunga jantan berbatang pendek, kelopak bunga berwarna hijau. Batang tidak berbau, warna hijau kecokelatan, dengan permukaan tidak rata dengan tonjolan-tonjolan, dan berasa sangat pahit.  Kandungan kimia Mengandung tinosporasida (18 -norklerodan glukosida), klerodan furano-diterpen, diterpenoid furano-lakton, fitoekdison, dan kordifoliosid A, B, C, D, dan E, siringin dan siringin epiosil glikosida. Senyawa yang memberikan rasa pahit diketahui sebagai kolumbin, khasmantin, berberin, dan paimarin. Selain itu,

batang brotowali mengandung kordiosol dan kordiosida. Kandungan lainnya adalah amritosida A, B, C, dan D. Senyawa triterpen yang telah diisolasi dari batang brotowali antara lain: sikoeukalenol dan sikloeukalenon. Gambar 5.6 memperlihatkan struktur kimia senyawa yang terdapat dalam batang brotowali.  Farmakologi Efek antidiabetes batang segar telah diteliti pada tikus dan kelinci terhadap kadar glukosa darah, toleransi glukosa dan diabetes yang diinduksi dengan adrenalin. Pemberian ekstrak alkoholik (200 mg/kg) dan ekstrak air (200 mg/kg) memberikan efek yang signifikan pada toleransi glukosa. Hal ini terlihat dari penghambatan peningkatan kadar glukosa darah setelah pemberian glukosa (4 ml larutan glukosa 25%). Pemberian ekstrak petroleum eter, kioroform, alkoholik dan air, hanya ekstrak air yang secara bermakna menurunkan kadar gula darah. Dengan demikian, senyawa utama yang memiliki efek antidiabetes dapat diekstraksi dengan air. Senyawa pahit dan ekstrak air brotowali ternyata dapat menurunkan kadar gula darah, meskipun tidak begitu besar. Mekanisme penurunan kadar gula darah kemungkinan melalui pengambatan glukogenesis. Namun, studi lain

memperlihatkan bahwa ekstrak segar dapat meningkatkan sekresi insulin. Dengan demikian mekanisme brotowali dalam mengontrol kadar gula darah, melalui aksi majemuk, tidak hanya penghambatan glukogenesis, tetapi juga stimulasi sekresi insulin.

Gambar 5.6 Struktur kimia beberapa senyawa dalam batang brotowali

Ekstrak air, alkoholik dan kloroform daun brotowali dapat menurunkan kadar gula darah pada kelinci normal dan diabetes yang diinduksi dengan aloksan. Mekanisme hipoglikemik dari daun ini mirip dengan kerja insulin. Efek dari ekstrak batang brotowali untuk pengobatan diabetes sebelumnya telah dibuktikan pada pengujian dengan hewan coba. Hasilnya menunjukkan bahwa efek antihiperglikemia sebenarnya tidak dipengaruhi oleh absorpsi glukosa di saluran cerna atau pengambilan glukosa ke adipose, tetapi kemungkinan karena stimulasi sekresi insulin.  Keamanan Toksisitas akut/ LD50 ekstrak metanolik batang brotowali adalah 10,11 g/kg bb mencit.  Dosis Simplisia 15 gram batang brotowali direbus dengan 600 ml air hingga tersisa 300 ml, disaring, diminum 150 ml, sehari 2 kali, atau sediaan yang setara.

Syzygium Cumini Seman (Biji Jamblang)

Klasifikasi Ilmiah Kerajaan: Plantae Divisi: Kelas: Ordo: Famili: Genus: Magnoliophyta Magnoliopsida Myrtales Myrtaceae Syzygium

Spesies: S. cumini Simplisia syzygium cumini semen (biji jamblang) berupa biji berasal dari tanaman Syzygium cumini L. Skeels. (sinonim: Eugenia cumini L.), suku Myrtaceae.

 Deskripsi tariaman Tanaman menahun berkayu, tinggi dapat mencapai 20 m. Batang warna cokelat keabuan-abuan, kasar. Daun tebal, bentuk bulat telur memanjang, bagian ujung kadang agak runcing, pangkal tumpul, permukaan atas warna hijau, bagian bawah warna lebih muda, ibu tulang daun terlihat jelas. Buah bulat panjang hingga 4 cm, warna ungu kehitaman, rasa agak asam dan kelat. Simplisia biji jamblang berbentuk bundar atau lonjong sampai bundar memanjang agak bengkok, panjang 1-2 cm. Kulit biji tipis, mudah koyak. Inti biji keras warna cokelat muda sampai cokelat kehitaman.

 Kandungan kimia Biji jamblang mengandung asam elagat dan alkaloid jambosin. Selain itu, mengandung korilagin, senyawa ellagitannin, 3,6 heksahidroksidifenoil-glukosa dan isomernya, 4,6 heksahidroksidifeoil glukosa, 1-galloil glukosa, 3-galloil glukosa, dan kuersetin.  Farmakologi Biji jamblang memperlihatkan efek hipoglikemia pada hewan uji yang dibuat diabetes dengan streptozotosin maupun aloksan. Selain itu, buah dan kulit batangnya juga memperlihatkan efek yang sama. Ekstrak alkoholik dan air dari biji jamblang memberikan efek hipoglikemia. Ekstrak tersebut memperlihatkan efek pada enzim-enzim yang berperan pada metabolisme karbohidrat seperti heksokinase dan glukosa 6-fosfat pada tikus diabetes. Ekstrak biji jamblang juga memiliki aktivitas hipolipidemia. Efek hipoglikemia dan hipolipidemia ini berhubungan erat dengan aktivitas antioksidan biji jamblang.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.anneahira.com/mahkota-dewa.htm (diunduh pada tanggal 1 0ktober 2010) http://matoa.org/wp-content/uploads/2008/10/jamblang1.jpg (diunduh pada tahun 2008) http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/4a/Syzygium_cumini_ Blanco1.174.png/220px-Syzygium_cumini_Blanco1.174.png (diunduh pada tanggal 15 september 2012) https://encryptedtbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTXCRnvb2AMHh62HtTiJxwDWaa7IyZ DzTrW7yQ9o3k5B3aDRVA(diunduh pada tanggal 19 oktober 2009) Mun’im, Abdul dan Endang Hanani. 2011. Fitoterapi dasar. Depok; Dian Rakyat.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->