Anda di halaman 1dari 3

Penegakkan Hukum dibidang HKI Untuk memberikan pemahaman dan bahkan mungkin menyadarkan masyarat Industri terhadap peran

dan fungsi subyek HKI, tentu bukanlah sesuatu hal yang mudah, sebab secara akademis harus merubah aktivitas sehari-hari yang selama ini sudah mereka lakukan dan bahkan telah melembaga (institutionalized) karena terikat oleh berbagai kepentingan dan telah tertanam (vasted interest) dengan berbagai nilai-nilai yang mendarah daging (internalized) serta tradisi yang sudah mengakar, sehingga menjadi kebiasaan pribadi (habit) untuk maupun pihak asing. Selain aspek HKI, pada prinsipnya kepentingan meniru dan menjiplak, bahkan mengkomersialkan hasil karya intelektual pihak lain

konsumen di dalam maupun di luar negeri terhadap satu produk, pada umumnya sangat berkaitan erat dengan aspek mutu, harga dan informasi produk termasuk penggunaan serta dampak yang ditimbulkan yang kaitannya dengan keselamatan, kesehatan dan keamanan, sebagaimana yang diamanahkan dalam resolusi PBB Nomor 39/28 tanggal 16 April 1985 dan di dalam UU Perlindungan Konsumen bahkan mewajibkan kepada pelaku usaha untuk menjamin mutu barang dan jasa yang diproduksi atau diperdagangkan harus sesuai dengan standar yang berlaku, khususnya dalam hal pemenuhan persyaratan kesehatan, keselamatan dan keamanan. Hal ini sejalan dengan ketentuan mengenai penerapan standar secara wajib yang ditetapkan oleh Pemerintah melalui Instansi Teknis, sesuai Peraturan

Pemerintah Nasional. Sebagai

No.102

tahun

2000,

tentang

Standardisasi

negara

anggota

WTO,

Indonesia

harus

sungguh-sungguh menerapkan standar, mutu, lingkungan dan HKI untuk melaksanakan perdagangan secara nasional maupun di tingkat internasional yang merupakan salah satu upaya penerapan strategi marketing terhadap produk hasil inovasi anak Bangsa. Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perindustrian, adalah dengan melakukan pembinaan penerapan mutu produk melalui ISO 9000, ISO 14000 (Bahan Beracun Berbahaya) dan pemberian Izin Usaha Industri, Izin Perluasan dan Tanda Daftar Industri serta HKI dalam rangka perlindungan hukum. Dengan memperhatikan perkembangan global yang terjadi saat ini serta posisi masyarakat industri khususnya, maka strategi marketing sebagaimana yang kami sebut di atas, tidak lain hanya untuk mendorong ekspor dan melindungi konsumen serta meningkatkan daya saing produk-produk Indonesia di pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Kementerian Perindustrian sebagai institusi pembina pelaku usaha industri memandang bahwa, maraknya penegakkan hukum dibidang HKI, mutu produk, perlindungan konsumen, lingkungan (Bahan Beracun Berbahaya), perizinan industri (Izin Usaha Industri, Izin Perluasan dan Tanda Daftar Industri) maupun Informasi Industri yang telah dilakukan oleh Aparat Kepolisian saat ini masih lebih mengedepankan unsur pidana dari pada unsur pembinaan.

Salah satu strategi untuk dapat mencegah tumbuhnya produk palsu dan bajakan yang beredar dan dilakukan oleh masyarakat industri, maka telah terbentuk Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dilingkungan para pejabat Kementerian Perindustrian agar dapat diciptakan sinergi dengan Aparat Kepolisian dalam rangka membentuk kesamaan pandang tentang paradigma pembinaan dan pidana guna melaksanakan penegakkan hukum dibidang HKI, mutu

produk, lingkungan, perizinan industri dan informasi industri untuk dapat melindungi konsumen.