Anda di halaman 1dari 19

PLT Hidrogen/Fuel Cell

MAKALAH
disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Dasar Konversi Energi

Disusun oleh: Kelompok 12 Sigit Dermawan Alfa Riki Dosan M. Amiq Wiryaprawira Verdi Andrean Agustinata Asroful Maulana 091910201106 091910201107 091910201109 091910201110 091910201111

PROGRAM STUDI STRATA I JURUSAN ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS JEMBER 2010

PRAKATA
Puji syukur ke hadirat Allah Swt. yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penyusunan makalah yang berjudul PLT Hidrogen/Fuel Cell dapat terselesaikan. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar Konversi Energi. Selain itu makalah ini disusun untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran dan sebagai bahan diskusi untuk meningkatkan pengetahuan tentang pembangkit listrik tenaga hidrogren. Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam upaya penyelesaian makalah ini. Penulis sadar bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Untuk itu penulis juga menerima segala kritik dan saran dari semua pihak demi kesempurnaa makalah ini. Akhirnya, penulis berharap makalah ini bisa bermanfaat bagi para pembaca, mahasiswa Teknik Elektro UNEJ, dan khusunya bagi kelompok kami.

Jember, 25 April 2010

Penulis

ii

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ...................................................................................................................... i PRAKATA ...................................................................................................................... ii DAFTAR ISI ...................................................................................................................... iii BAB1 Pendahuluan ...................................................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang Masalah .............................................................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah .............................................................................................................. 2 1.3 Tujuan .............................................................................................................. 2 1.4 Pembatasan Masalah .............................................................................................................. 2 BAB2 Pembahasan ...................................................................................................................... 2 2.1 Pengertian Fuel cell .............................................................................................................. 3 2.2 Prinsip kerja PLT Hidrogen/Fuel cell .............................................................................................................. 4 2.3 Kelebihan dan kekurangan PLT Hidrogen/Fuel cell .............................................................................................................. 6 2.4 Potensi-potensi PLT Hidrogen/Fuel cell .............................................................................................................. 11 BAB5 Penutup ...................................................................................................................... 13

iii

3.1 Kesimpulan .............................................................................................................. 13 3.2 Saran .............................................................................................................. 13 DAFTAR PUSTAKA................................................................................................14

iv

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah Permasalahan energi bagi kelangsungan hidup manusia merupakan masalah besar yang dihadapi oleh hampir seluruh negara di dunia ini. Bahan bakar fosil, terutama minyak bumi masih menjadi konsumsi energi utama. Penelitian mengenai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil terus dilakukan. Parameter keberhasilan bahan bakar alternatif ini adalah dapat diperbarui (renewable energy), ramah lingkungan, dan biaya yang murah. Konsumsi dunia terhadap energi listrik kian meningkat seiring pesatnya teknologi elektronika. Alternatif yang menarik datang dari fuel cell, yang diharapkan dapat menghasilkan energi listrik dengan efisiensi tinggi dan gangguan lingkungan yang minimal. Fuel cell menggunakan reaksi kimia, lebih baik daripada mesin pembakaran, untuk memproduksi energi listrik Istilah fuel cell sering dikhususkan untuk hidrogen-oksigen fuel cell. Prosesnya merupakan kebalikan dari elektrolisis. Pada elektrolisis, arus listrik digunakan untuk menguraikan air menjadi hidogen dan oksigen. Dengan membalik proses ini, hidrogen dan oksigen direaksikan dalam fuel cell untuk memproduksi air dan arus listrik. Konversi energi fuel cell biasanya lebih effisien daripada jenis pengubah energi lainnya. Efiensi konversi energi dapat dicapai hingga 60-80%. Keuntungan lain fuel cell adalah mampu menyuplai energi listrik dalam waktu yang cukup lama. Tidak seperti baterai yang hanya mampu mengandung material bahan bakar yang terbatas, fuel cell dapat secara kontinu diisi bahan bakar (hidrogen) dan oksigen dari sumber luar. Fuel cell merupakan sumber energi ramah lingkungan karena tidak menimbulkan polutan dan sungguh-sungguh dapat digunakan terus-menerus jika ada suplai hidogen yang berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbarui.

1.2

Rumusan Masalah 1.2.1 1.2.2 1.2.3 1.2.4 Apa pengertian Fuel cell? Bagaimana prinsip kerja PLT Hidrogen/Fuel cell? Apa saja kelebihan dan kekurangan PLT Hidrogen/Fuel cell? Apa saja potensi-potensi PLT Hidrogen/Fuel cell?

1.3

Tujuan Makalah ini disusun dengan tujuan: 1.3.1 1.3.2 1.3.3 1.3.4 Memahami pengertian Fuel Cell Memahami prinsip kerja PLT Hidrogen/Fuel cell Mengetahui kelebihan dan kekurangan PLT Hidrogen/Fuel cell Mengetahui potensi-potensi PLT Hidrogen/Fuel cell

1.4

Pembatasan Masalah Agar pembahasan tidak melebar ke permasalahan yang lain, pembahasan

dalam makalah ini dibatasi pada pengertian Fuel Cell, kerja PLT Hidrogen/Fuel cell, kelebihan dan kekurangan PLT Hidrogen/Fuel cell, dan potensi-potensi PLT Hidrogen/Fuel cell.

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1

Pengetian Fuel cell Fuel cell adalah alat konversi energi elektrokimia yang akan mengubah hidrogen dan oksigen menjadi air, secara bersamaan menghasilkan energi listrik dan panas dalam prosesnya. Alat ini menghasilkan arus searah DC yaitu terdiri dari dua buah elektroda, yaitu anoda dan katoda yang dipisahkan oleh sebuah membran polimer yang berfungsi sebagai elektrolit. Membran ini sangat tipis, ketebalannya hanya beberapa mikrometer saja. Energi yang diproduksi fuel cell merupakan reaksi kimia pembentukan air, alat konversi energi elektrokimia ini tidak akan menghasilkan efek samping yang berbahaya bagi lingkungan seperti alat konversi energi konvensional (misalnya proses pembakaran pada mesin mobil). Sedangkan dari segi efisiensi energi, penerapan fuel cell pada baterai portable seperti pada handphone atau laptop akan sepuluh kali tahan lebih lama dibandingkan dengan baterai litium. Dan untuk mengisi kembali energi akan lebih cepat karena energi yang digunakan bukan listrik, tetapi bahan bakar berbentuk cair atau gas. Sumber Hidrogen :
Reforming gas alam, metana & biogas (CH4), methanol

(CH3OH), propane (C3H6), amonia (NH3), gasoline


Elektrolisis H2O memakai bantuan sel surya, batubara, dll Hydrides of metals atau borohydrides (NaBH4 + 2H20

NaBO2 + 4H2) Macam Fuel cell berdasarkan perbedaan elektrolitnya :


1. AFC (Alkaline Fuel cell) 2. DMFC (Direct Methanol Fuel cell) 3. PEFC (Polimer Electrolyte Fuel cell) 4. PAFC (Posporic Acid Fuel cell) 5. MCFC (Molten Carbonate Fuel cell) 6. SOFC (Solid Oxide Fuel cell)

2.2

Prinsip kerja PLT Hidrogen/Fuel cell Cara kerja suatu unit fuel cell dapat diilustrasikan dengan jenis PEMFC

(proton exchange membrane fuel cell). Jenis ini adalah jenis fuel

cell yang

menggunakan reaksi kimia paling sederhana. PEMFC memiliki empat elemen dasar seperti kebanyakan jenis fuel cell. Pertama, anoda sebagai kutub negatif fuel cell. Anoda merupakan elektroda yang akan mengalirkan elektron yang lepas dari molekul hidrogen sehingga elektron tersebut dapat digunakan di luar sirkuit. Pada materialnya terdapat saluran-saluran agar gas hidrogen dapat menyebar ke seluruh permukaan katalis. Kedua, katoda sebagai kutub elektroda positif fuel cell yang juga memiliki saluran yang akan menyebarkan oksigen ke seluruh permukaan katalis. Katoda juga berperan dalam mengalirkan elektron dari luar sirkuit ke dalam sirkuit sehingga elektron-elektron tersebut dapat bergabung dengan ion hidrogen dan oksigen untuk membentuk air. Ketiga, elektrolit. Yang digunakan dalam PEMFC adalah membran pertukaran proton (proton exchange membrane/PEM). Material ini berbentuk seperti plastik pembungkus yang hanya dapat mengalirkan ion bermuatan positif. Sedangkan elektron yang bermuatan negatif tidak akan melalui membran ini. Dengan kata lain, membran ini akan menahan elektron. Keempat, katalis yang digunakan untuk memfasilitasi reaksi oksigen dan hidrogen. Katalis umumnya terbuat dari lembaran kertas karbon yang diberi selapis tipis bubuk platina. Permukaan katalis selalu berpori dan kasar sehingga seluruh area permukaan platina dapat dicapai hidrogen dan oksigen. Lapisan platina katalis berbatasan langsung dengan membran penukar ion positif, PEM. Pada ilustrasi cara kerja PEMFC, diperlihatkan gas hidrogen yang memiliki tekanan tertentu memasuki fuel cell di kutub anoda. Gas hidrogen ini akan bereaksi dengan katalis dengan dorongan dari tekanan. Ketika molekul H2 kontak dengan platinum pada katalis, molekul akan terpisah menjadi dua ion H+ dan dua elektron (e-). Elektron akan mengalir melalui anoda, elektron-elektron ini akan membuat jalur di luar sirkuit fuel cell dan melakukan kerja listrik, kemudian mengalir kembali ke kutub katoda pada fuel cell. Di sisi lain, pada kutub katoda fuel cell, gas oksigen (O2) didorong gaya tekan kemudian bereaksi dengan katalis membentuk dua atom oksigen. Setiap atom oksigen ini memiliki muatan negatif

yang sangat besar. Muatan negatif ini akan menarik dua ion H+ keluar dari membran PEM, lalu ion-ion ini bergabung dengan satu atom oksigen dan elektronelektron dari luar sirkuit untuk membentuk molekul air (H2O). Pada satu unit fuel cell terjadi reaksi kimia yang terjadi di anoda dan katoda seperti pada gambar 2.1 di bawah ini. Reaksi yang terjadi pada anoda adalah 2H2 4H+ + 4e-. Sementara reaksi yang terjadi pada katoda adalah 4H+ + O2 + 4e- 2H2O. Sehingga keseluruhan reaksi pada fuel cell adalah 2H2 + O2 2 H2O. Hasil samping reaksi kimia ini adalah aliran elektron yang menghasilkan arus listrik serta energi panas dari reaksi. Satu unit fuel cell ini menghasilkan energi kurang lebih 0,7 volt. Karena itu untuk memenuhi energi satu baterai handphone atau menggerakkan turbin gas dan mesin mobil, dibutuhkan berlapis-lapis unit fuel cell dikumpulkan menjadi satu unit besar yang disebut sebagai fuel cell stack.

Gambar 2.1

2.3

Kelebihan dan kekurangan PLT Hidrogen/Fuel cell Kelebihan


A.

2.3.1

Tidak Mengeluarkan Emisi Berbahaya (Zero Emission)

Sebuah sistem fuel cell hanya akan mengeluarkan uap air apabila memakai hidrogen murni. Tetapi ketika memakai hidrogen hasil dari reforming hidrokarbon/fosil (misal: batu bara, gas alam, dll) maka harus dilakukan uji emisi untuk menentukan apakah sistem tersebut masih dapat dikategorikan zero emission. Menurut standar yang dikeluarkan United Technologies Corporation (UTC) pada tahun 2002, maka sebuah sistem fuel cell dapat dikategorikan zero emission ketika mengeluarkan emisi pencemar udara yang sangat rendah, dengan kriteria sbb: NOx 1 ppm, SO2 1 ppm, CO2 2 ppm. Tabel 1. Emisi Pencemar Udara dari Jenis-Jenis Fuel cell (Bluestein, 2002)

Catatan: PEM (Polimer Electrolyte Membrane), PAFC (Posporic Acid Fuel cell), SOFC (Solid Oxide Fuel cell), MCFC (Molten Carbonate Fuel cell), 1 lb (pon) = 0,45 kg). Selain itu, sistem ini juga tidak mengeluarkan suara (tidak berisik), kecuali suara dari beberapa peralatan pendukung seperti pompa, kipas, kompresor, dll.
B.

Efisiensi Tinggi (High efficiency)

Oleh sebab fuel cell tidak menggunakan proses pembakaran dalam konversi energi, maka efisiensinya tidak dibatasi oleh batas maksimum temperatur operasional (tidak dibatasi oleh efisiensi siklus Carnot). Hasilnya, efisiensi konversi energi pada fuel cell melalui reaksi elektrokimia lebih tinggi dibandingkan efisiensi konversi energi pada mesin kalor (konvensional) yang melalui reaksi pembakaran.

Gambar 2.2. Perbandingan Efisiensi Fuel cell dengan Mesin Konvensional (micro-vett.it, 09/10/2006)
C.

Cepat Mengikuti Perubahan Pembebanan (Rapid load

following) Fuel cell memperlihatkan karakteristik yang baik dalam mengikuti perubahan beban. Sistem Fuel cell yang menggunakan hidrogen murni dan digunakan pada sebagian besar peralatan mekanik (misal: motor listrik) memiliki kemampuan untuk merespon perubahan pembebanan dengan cepat. D. Temperatur Operasional Rendah

Sistem fuel cell sangat baik diaplikasikan pada industri otomotif yang beroperasi pada temperatur rendah. Keuntungannya adalah fuel cell hanya memerlukan sedikit waktu pemanasan (warmup time), resiko operasional pada temperatur tinggi dikurangi, dan efisiensi termodinamik dari reaksi elektrokimia lebih baik. E. Reduksi Transformasi Energi

Ketika fuel cell digunakan untuk menghasilkan energi listrik maka fuel cell hanya membutuhkan sedikit transformasi energi, yaitu dari energi kimia menjadi

energi listrik. Bandingkan dengan mesin kalor yang harus mengubah energi kimia menjadi energi panas kemudian menjadi energi mekanik yang akan memutar generator untuk menghasilkan energi listrik. Fuel cell yang diaplikasikan untuk menggerakkan motor listrik memiliki jumlah transformasi energi yang sama dengan mesin kalor, tetapi transformasi energi pada fuel cell memiliki efisiensi yang lebih tinggi.

Gambar 2.3. Transformasi Energi Untuk Keluaran Energi Mekanik (microvett.it, 09/10/2006) F. Waktu Pengisian Hidrogen Singkat

Sistem fuel cell tidak perlu penyetruman (recharge) layaknya baterai. Tetapi sistem fuel cell harus diisi ulang dengan hidrogen, dimana prosesnya lebih cepat dibandingkan penyetruman baterai. Selain itu, baterai tidak dapat dipasang dalam jumlah besar pada mesin otomotif untuk meningkatkan performance karena akan semakin menambah beban pada kendaraan tersebut.

Gambar 2.4. Stasiun Pengisian Hidrogen (Stefan Geiger, 2004)

2.3.2 Kekurangan A. Hidrogen sulit untuk diproduksi dan disimpan Saat ini proses produksi hidrogen masih sangat mahal dan membutuhkan input energi yang besar (artinya: efisiensi produksi hidrogen masih rendah). Untuk mengatasi kesulitan ini, banyak negara menggunakan teknologi reforming hidrokarbon/fosil untuk memperoleh hidrogen. Tetapi cara ini hanya digunakan dalam masa transisi untuk menuju produksi hidrogen dari air yang efisien. B. Sensitif pada Kontaminasi Zat-asing Fuel cell membutuhkan hidrogen murni, bebas dari kontaminasi zat-asing. Zat-asing yang meliputi sulfur, campuran senyawa karbon, dll dapat menonaktifkan katalisator dalam fuel cell dan secara efektif akan menghancurkannya. Pada mesin kalor pembakaran dalam (internal combustion engine), masuknya zat-asing tersebut tidak menghalangi konversi energi melalui proses pembakaran. C. Harga Katalisator Platinum Mahal Fuel cell yang diaplikasikan pada industri otomotif memerlukan katalisator yang berupa Platinum untuk membantu reaksi pembangkitan listrik. Platinum adalah logam yang jarang ditemui dan sangat mahal. Berdasarkan survei geologis ahli USA, total cadangan logam platinum di dunia hanya sekitar 100 juta kg (Bruce Tonn and Das Sujit, 2001). Dan pada saat ini, diperkirakan teknologi fuel cell berkapasitas 50 kW memerlukan 100 gram platinum sebagai katalisator (DEO, 2000). Misalkan penerapan teknologi fuel cell berjalan baik (meliputi: penghematan pemakaian platinum pada fuel cell, pertumbuhan pasar fuel cell rendah, dan permintaan platinum rendah) maka sebelum tahun 2030 diperkirakan sudah tidak ada lagi logam platinum (Anna Monis Shipley and R. Neal Elliott, 2004). Untuk itulah diperlukan penelitian untuk menemukan jenis katalisator alternatif yang memiliki kemampuan mirip katalisator dari platinum.

10

D. Pembekuan Selama beroperasi, sistem fuel cell menghasilkan panas yang dapat berguna untuk mencegah pembekuan pada temperatur normal lingkungan. Tetapi jika temperatur lingkungan terlampau sangat dingin (-10 s/d -20 C) maka air murni yang dihasilkan akan membeku di dalam fuel cell dan kondisi ini akan dapat merusak membran fuel cell (David Keenan, 10/01/2004). Untuk itu harus didesain sebuah sistem yang dapat menjaga fuel cell tetap berada dalam kondisi temperatur normal operasi.

Gambar 2.5. Tes Mobil Bermesin Fuel cell pada Kondisi BersaljuB.5. Teknologi Tinggi & Baru E. Biaya Operasional Besar Perlu dikembangkan beberapa material alternatif dan metode konstruksi yang baru sehingga dapat mereduksi biaya pembuatan sistem fuel cell (harga komersial saat ini untuk pembangkit listrik dengan fuel cell ~$4000/kW) (Javit Drake, 29/03/2005). Tabel 2. Biaya Investasi, Operasional, Pemeliharaan Jenis Jenis Fuel cell (Anna Monis Shipley and R. Neal Elliott, 2004)

11

Diharapkan dimasa depan dapat dihasilkan sebuah sistem fuel cell yang lebih kompetitif dibandingkan mesin bakar/otomotif konvensional (harga saat ini: $20/kW) dan sistem pembangkit listrik konvensional (harga saat ini: $1000/kW) (Matthew M. Mench, 24/05/2001). Teknologi baru tersebut akan mampu menghasilkan reduksi biaya, reduksi berat dan ukuran, sejalan dengan meningkatnya kehandalan dan umur operasi (lifetime) sistem fuel cell. Penggunaan sistem fuel cell dalam industri otomotif minimal harus memiliki umur operasi 4.000 jam (ekivalen 100.000 mil pada kecepatan 25 mil per jam) dan dalam industri pembangkit listrik minimal harus memiliki umur operasi 40.000 jam (Matthew M. Mench, 24/05/2001). F. Ketiadaan Infrastruktur Infrastruktur produksi hidrogen yang efektif belum tersedia. Tersedianya teknologi manufaktur dan produksi massal yang handal merupakan kunci penting usaha komersialisasi sistem fuel cell.

3.1

Potensi-potensi PLT Hidrogen/Fuel cell Menurut Dr Achiar Oemry, Koordinator Program Fuel cell Pusat Penelitian

(Puslit) Fisika LIPI, dalam Seminar dan Kongres Nasional I Konsorsium Fuel cell Indonesia (FCI), saat ini peneliti yang tergabung dalam Konsorsium Fuel cell Indonesia telah menghasilkan prototipe skala laboratorium pembangkit listrik tenaga (PLT) fuel cell berkapasitas 500 watt untuk pemakaian di rumah tangga. Penelitian pembuatan komponen yang diperlukan untuk membangun fuel cell sudah dilakukan secara parsial di berbagai lembaga penelitian di Indonesia, yaitu LIPI, BPPT, Batan, ITB, UI, Lemigas, dan PLN. Untuk lebih memudahkan koordinasi dengan swasta, didirikan Konsorsium Fuel cell Indonesia. Menurut Dr Agus Hartanto, peneliti LIPI yang juga Ketua Dewan Pembina FCI, dalam dua tahun mendatang, prototipe itu akan dikembangkan hingga skala industri yang diharapkan dapat masuk dalam program Riset Unggulan Strategis Nasional. Cetak biru pembangunan industri fuel cell di Indonesia telah dibuat oleh FCI, dan telah ada industri yang tertarik untuk memproduksinya, antara lain Medco Energi. Diharapkan dukungan kebijakan pemerintah dalam bentuk insentif yang mendorong

12

lembaga riset dan industri bekerja sama mengembangkan ke tahap produksi. Dukungan insentif dan keringanan pajak serta kemudahan lain dari pemerintah akan berdampak pada rendahnya biaya pembangkitan listrik fuel cell. Kanada dengan adanya kebijakan itu, biaya listrik dari PLT fuel cell berkapasitas 50 MW hanya sekitar 8 sen dollar AS per kWh. Lebih rendah daripada diesel yang sebesar 12 sen per kWh. Pengembangan selanjutnya yang akan dilakukan lembaga riset di Indonesia adalah meningkatkan kandungan lokal pembangkit listrik tenaga fuel cell hingga 60 persen. Saat ini prototipe yang dibuat menggunakan 40 persen sumber bahan baku dan komponen buatan dalam negeri. Untuk pembangkit listrik fuel cell, bahan baku yang layak dikembangkan adalah polimer dan oksida padat, yang banyak terdapat di Indonesia. Gas hidrogen sebagai bahan bakar fuel cell, juga melimpah di Indonesia. Gas itu merupakan produk samping yang dihasilkan PLTU Suralaya, dan dapat diperoleh dari sampah organik. PLTU Suralaya, misalnya, menghasilkan gas hidrogen 150 ton per hari, sedangkan yang dimanfaatkan kembali untuk pembangkit hanya 20 ton per hari. Indonesia Power akan memasok cumacuma gas tersebut kepada Puslit Fisika LIPI.

13

BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan Hidrogen adalah salah satu sumber energi yang berpotensi sebagai pegganti bahan bakar mesin kendaraan bermotor. Hidrogen dapat ditemukan dalam jumlah yang sangat besar khususnya karena terkandung di air. Selain itu, hidrogen tidak menghasilkan polusi udara saat dibakar dan menghasilkan energi yang lebih besar daripada bahan bakar lainnya. Dengan demikian PLT Hidrogen/Fuel cell merupakan pembangkit listrik yang patut dikembangkan karena memiliki banyak keunggulan dari segi tingkat pencemaran, bahan Hidrogen yang melimpah, dan efisiensi yang tinggi. 3.2 Saran Untuk mengembangkan teknologi PLT Hidrogen/Fuel cell, pemerintah dan para cendekiawan yang memiliki keahlian di bidang ini harus mengambil inisiatif untuk mendukung dan terus mengembangkan teknologi ini. Di samping digunakan sebagai pembangkit listrik, Fuel cell diharapkan akan menggeser kebutuhan minyak bumi sebagai bahan bakar kendaraan bermotor untuk mengurangi polusi udara.

14

DAFTAR PUSTAKA

Tata Chemiawan, Sel Bahan Bakar (Fuel Cell) Sebuah Energi Alternatif Berkelanjutan Dan Ramah Lingkungan, http://mahasiswanegarawan.wordpress.com/2007/08/18/sel-bahan-bakar-fuel-cellsebuah-energi-alternatif-berkelanjutan-dan-ramah-lingkungan/ [1 Mei 2010] Thomas Ari Negara, Kelebihan Dan Kekurangan Teknologi Fuel Cell, http://www.kamase.org/?p=286 [11 Mei 2010] Yun, PLT Fuel Cell untuk Rumah Tangga, http://www.energi.lipi.go.id/utama.cgi? artikel&1110010529 [11 Mei 2010] Merry Magdalena, Fuel Cell sebagai Pembangkit Hidrogen : Energi Alternatif yang Dihantui Kendala, http://www.energi.lipi.go.id/utama.cgi? artikel&1113609431 [11 Mei 2010]

15