Anda di halaman 1dari 5

BIOLOGICAL VALUE

Biological Value adalah besaran yang digunakan untuk mengevaluasi makanan tertentu dalam hal proporsi protein dalam makanan yang diabsorbsi oleh tubuh dan kemudian untuk digunakan dalam tubuh. Protein adalah sumber utama dari nitrogen dietary, yaitu nitrogen dalam makanan. Biological Value dari makanan menjelaskan seberapa mudah protein yang dipecah dari makanan dapat digunakan untuk sintesis protein dalam setiap sel. Hal ini penting karena tidak cukup hanya sekedar mengkonsumsi protein, tetapi juga penting untuk menngetahui apakah protein tersebut dalam bentuk yang dapat dengan mudah diabsorbsi oleh tubuh melalui proses pencernaan, dan apakah protein tersebut dapat digunakan oleh tubuh Komposisi asam amino memiliki pengaruh yang penting. Ketika protein mengandung asam amino esensial dalam jumlah proporsi yang mendekati jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh, maka dapat dikatakan protein tersebut memiliki biological value yang tinggi. Jika satu atau lebih dari asam amino esensial ditemukan dalam jumlah yang kurang, maka protein tersebut dikatakan memiliki biological value yang rendah. Rumus : N .retained 100% N .absobed = (nitrogen dalam makanan) (nitrogen dalam feses) = (N absorbed) (N yang diekskresi di urin)

BV =

N absorbed N retained

Contoh : Telur mempunyai BV = 100 yang mengindikasikan bahwa 100% dari nitrogen absorbed akan digunakan dalam tubuh. Mengkonsumsi dalam jumlah kuantitas yang adekuat, protein dengan BnV 70 atau lebih dapat mendukung pertumbuhan manusia selama intake energi juga adekuat. Manfaat dari BV ini adalah dapat mengukur retensi nitrogen yang sebenarnya. Sedangkan kekurangan BV ini antara lain tidak praktis, mahal, dan berdasarkan beberapa anggapan yang kemungkinan tidak valid Protein yang memiliki biological value yang tinggi terdapat pada protein hewani, seperti daging, ikan, telur, susu, keju, yogurt, dll. Sedangkan protein yang memiliki biological value yang rendah ditemukan pada protei nabati, seperti legumes, serealia, kacang-kacangan, dan sayursayuran. Whitney B, Whitney BN, Rolfes SR. Hunger and The Global Environment, In:Understanding Nutrition, USA:Wadsworth, 2011, pp.742 http://www.eufic.org/page/en/page/faq/faqid/biological-value-protein/

Asam amino rantai cabang


Asam amino rantai cabang merupakan nutrisi essensial yang di didapatkan dari protein dalam makanan terutama daging, produk susu dan kacang-kacangan. Asam amino yang termasuk asam amino rantai cabang ialah leucine, isoleucine, dan valine. Asam amino rantai cabang biasanya digunakan terapi nutrisi pada amyotrophic lateral sclerosis (ALS, Lou Gehrig's disease), menjaga kondisi otak pada penyakit hati (chronic hepatic encephalopathy, latent hepatic encephalopathy), tardive dyskinesia, pada penyakit genetik (McArdle's disease), pada pasien lanjut usia dengan gangguan ginjal dengan nafsu makan yang kurang, serta pada pasien penderita kanker. Sebagian juga ada yang menggunakan asam amino rantai cabang untuk mencegah kelelahan dan meningkatkan daya konsentrasi. Asam amino rantai cabang mestimulasi pembentukan protein dalam otot dan mengurangi kerusakan otot. Asam amino rantai cabang juga dapat mencegah gangguan transmisi sinyal dalam sel-sel otak pada orang dengan penyakit hati lanjut, manik, tardive dyskinesia, dan anoreksia. Berdasarkan beberapa studi yang dilakukan, dalam menimbulkan efek-efek diatas asam amino rantai cabang bekerja dengan cara meningkatkan beberapa marker fisiologis seperti: jumlah sel darah merah, hemoglobin, hematocrit, serum albumin, glukosa darah puasa, menurunkan creatinin phosphokinase, meningkatkan glikogenesis, dan dapat dengan cepat meredakan reaksi inflamasi pada otot.

Asam amino rantai cabang efektif dalam :

Meningkatkan kontrol otot dan fungsi mental pada orang dengan penyakit hati lanjut (laten ensefalopati hepatik).

Mengurangi kerusakan otot selama latihan. Penurunan gejala yang berhubungan dengan mania. Mengurangi gerakan yang berhubungan dengan tardive dyskinesia, suatu gangguan yang berhubungan dengan penggunaan obat antipsikotik.

Mengurangi kehilangan nafsu makan dan meningkatkan gizi pada pasien usia lanjut pada hemodialisis.

Kebutuhan asam amino rantai cabang Kebutuhan rata-rata dari asam amino rantai cabang diperkirakan 68 mg / kg / hari (34 mg leusin, isoleusin 15 mg, 19 mg valine) untuk orang dewasa. Namun, beberapa peneliti berpikir bahwa kebutuhan rata-rata dari asam amino rantai cabang adalah 144 mg / kg / hari. Peneliti lain juga berpendapat bahwa anak-anak kebutuhan asam amino rantai cabang lebih rendah. Kebutuhan rata-rata asam amino rantai cabang untuk anak-anak adalah: usia 7-12 bulan 134 mg / kg / hari, 1-3 tahun 98 mg / kg / hari, 4-8 tahun 81 mg / kg / hari; anak laki-laki 9 -13 tahun 81 mg / kg / hari, anak perempuan 9-13 tahun 77 mg / kg / hari, anak laki-laki 14-18 tahun 77 mg / kg / hari, gadis 14-18 tahun 71 mg / kg / hari. Jumlah kebutuhan asam amino rantai cabang dapat berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu, seperti :

Untuk kondisi otak akibat penyakit hati (ensefalopati hepatik): 240 mg / kg / hari sampai dengan 25 gram asam amino rantai cabang.

Untuk mania: 60 gram asam amino rantai cabang yang mengandung amino valin, isoleusin, leusin, dan dalam rasio 3:3:4.

Untuk tardive dyskinesia: 222 mg / kg/ hari. Untuk anoreksia dan meningkatkan gizi keseluruhan pada lansia pasien hemodialisis kurang gizi: 4 gram/ hari.

http://www.webmd.com/vitamins-supplements/ingredientmono-1005BRANCHED-CHAIN%20AMINO%20ACIDS.aspx? activeIngredientId=1005&activeIngredientName=BRANCHED-CHAIN%20AMINO %20ACIDS http://www.exrx.net/Nutrition/Supplements/BCAA.html