Anda di halaman 1dari 10

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul HAL-HAL YANG BERKAITAN DENGAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

Makalah

ini

berisikan

tentang

informasi

Pengertian

HAL-HAL

YANG

BERKAITAN DENGAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN atau yang lebih khususnya membahas penerapan pembiayaan pembangunan, Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentanng pembiayaan pembangunan.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

BANDUNG, OKTOBER 2012

Penyusun

Pembiayaan Pembangunan Sumber Pembiayaan Aktifitas sumber keuangan daerah umumnya di yang berkaitan dengan

upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, terdapat masalah masalah keuangan dari , diantaranya :Kurang transparansinya antara pengeluaran dan pemasukan dari masing-masing kecamatan. Untuk melaksanakan pembangunan, penyelenggaraan pemerintahan serta pelayanan publik lainnya di daerah, maka diperlukan sejumlah pendapatan dan berdasarkan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 sumber pendapatan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) terdiri dari : 1) Pajak Daerah, antara lain : Pajak Kendaraan Bermotor, Pajak Kendaraan diatas Air, Pajak Balik Nama, Pajak Bahan Bakar, Pajak Pengambilan Air Tanah, Pajak Hotel, Pajak Restoran, pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Galian Golongan C, Pajak Parkir dan Pajak Pajak Lain yang diatur oleh UU No. 34 / 2000 Tentang Pajak Daerah dan Distribusi Daerah, Peraturan Pemerintah No 26/2001 tentang Pajak Daerah. 2) Retribusi Daerah, antara lain : Retribusi Pelayanan Kesehatan, Retribusi Pelayanan Persampahan, Retribusi Biaya Cetak Kartu, Retribusi Pemakaman, Retribusi Parkir Tepi Jalan, Retribusi pasar, Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor, Retribusi Pemedam Kebakaran, dan lain lain. Retribusi ini diatur oleh UU no. 34/2000 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, dan Peraturan Pemerintah No. 66/2001 tentang Retribusi Daerah. 3) Hasil Kekayaan Daerah yang Dipisahkan,antara lain hasil deviden BUMD; dan

4) Lain lain Pendapatan yang Sah antara lain : Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang tidak dipisahkan, Jasa Giro, Pendapatan Bunga, Keuntungan Selisih Nilai Tukar, Komisi, Potongan dan Lain lain yang Sah. 2. Dana Perimbangan Adalah Dana yang Bersumber Dari Pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk memenuhi kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi, Dana Perimbangan terdiri dari : 1) Dana Bagi Hasil terbagi atas Bagi Hasil Pajak (BHP) dan Bagi Hasil Bukan Pajak (BHBP) atau yang berasal dari hasil pengelolaan sumber daya alam. BHP antara lain : Pajak Bumi Bangunan (PBB), Bea Perolehan Ha katas Tanah dan Bangunan (BPHTB), dan pajak penghasilan badan maupun pribadi; Sedangkan BHBP antara lain : Kehutanan, Pertambangan Umum, Perikanan, Penambangan Minyak Bumi, pertambangan gas bumi, dan pertambangan panas bumi. 2) DAU (Dana Alokasi Umum) dibagikan berdasarkan Celah Fiskal yaitu Selisih antara Kebutuhan Fiskal dan Kapasitas Fiskal ditambah Alokasi Dasar. 3) DAK (Dana Alokasi Khusus) yang diberikan untuk kegiatan khusus, misalnya : reboisasi, penambaha sarana pendidikan atau kesehatan dan bencana alam. 3. Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah. 1) Hibah 2) Dana darurat 3) Dana Bagi Hasil Pajak Propinsi dan Pemerintah Daerah lainnya 4) Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus 5) Bantuan Keuangan dari Propinsi atau Pemeirntah Daerah Lainnya

Keseluruhan pembiayaan pembangunan yang terdapat di masih bersumber dari dana pemerintah, terkecuali untuk kegiatan-kegiatan yang berskala

kecil biasanya pembiayaan berasal dari hasil swadaya masyarakat. Pembiayaan pembangunan adapula yang berasal dari bantuan peningkatan pembangunan sarana dan prasarana yang dikeluarkan dari PNPM mandiri

Gambar siklus pengelolaan keuangan daerah

Pengeluaran Pembangunan Pengeluaran Pembangunan adalah belanja yang tertuang dalam APBD yang diarahkan untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan

pembinaan kemasyarakatan. Secara umum belanja daerah dapat dikategorikan ke dalam belanja aparatur dan belanja publik. Belanja publik merupakan belanja yang penggunaannya diarahkan dan dinikmati langsung oleh masyarakat. Meskipun demikian, seiring perubahan peraturan perundang-undangan di bidang administrasi pengelolaan keuangan daerah sejak pemberlakuan Kepmendagri Nomor 29 Tahun 2003 yang selanjutnya diganti dengan Permendagri No. 13 Tahun 2006. Pendistribusian Pendapatan Asli Daerah (PAD) dibagi kedalam dua bagian : A. Belanja Rutin yang terdiri dari : Honorium/upah bulanan Uang saku Uang transport Biaya insentif.

B. Belanja Tidak Rutin Biaya bahan/material Biaya alat tulis Biaya dokumentasi dan publikasi Biaya makan dan minum

PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN PERKOTAAN Secara teoritis, modal bagi pembiayaan pembangunan perkotaan dapat diperoleh dari 3 sumber dasar yaitu:

Pemerintah / publik. Swasta / private. Gabungan antara pemerintah dengan swasta.

Jenis Instrumen Keuangan untuk Modal:

1. Pembiayaan Melalui Pendapatan

a. Pembiayaan Melalui Pendapatan yang Bersifat Konvensioanal. Pajak Pajak merupakan instrumen keuangan konvensional yang sering digunakan di banyak negara. Penerimaan pajak digunakan untuk membiayai prasarana dan pelayanan perkotaan yang memberikan manfaat bagi masyarakat umum, yang biasa disebut juga sebagai "public goods". Penerimaan pajak dapat digunakan untuk membiayai 3 pengeluaraan, yaitu: biaya investasi total ( pay as you go ), membiayai pembayaran hutang ( pay as you use ), menambah dana cadangan yang dapat digunakan untuk investasi di masa depan.

Retribusi

Retribusi mempunyai 2 fungsi, yaitu sebagai alat untuk mengatur ( mengendalikan ) pemanfaatan prasarana dan jasa yang tersedia dan merupakan pembayaran atas penggunaan prasarana dan jasa. Untuk wilayah perkotaan jenis retribusi yang

umum digunakan misalnya air bersih, saluran limbah, persampahan dan sebagainya. Pengenaan retribusi sangat erat kaitannya dengan prinsip pemulihan biaya ( cost recovery ), dengan demikian retribusi ini ditujukan untuk menutupi biaya operasi, pemeliharaan, depresiasi dan pembayaran hutang.

Connection Fees

Connection fees merupakan pungutan yang dikenakan oleh perusahaan jasa pelayanan kepada individu, misalnya air bersih, saluran pembuangan kotoran, dan telephone. Tujuan utama dari dikenakannya pungutan ini adalah untuk menutupi biaya yang timbul sebagai akibat adanya tambahan konsumen dalam jaringan yang sudah ada.

b. Pembiayaan Melalui Pendapatan yang Bersifat Non Konvensioanal. Betterrment Levies.

Betterment levies merupakan tagihan modal ( capital charges ) yang ditujukan untuk menutupi/membiayai biaya modal dari investasi prasarana. Dalam kenyataannya, jenis pungutan ini relatif kurang banyak digunakan. Adapun tujuan utama dari

pengenaan jenis pungutan ini adalah mendorong masyarakat yang memperoleh manfaat dari adanya prasarana umum agar turut menanggung biayanya. Dengan demikian, pungutan ini dikenakan langsung kepada mereka yang memperoleh manfaat langsung dari adanya perbaikan prasarana umum tersebut. Adapun dasar pengenaannya bisa didasarkan atas jumlah area atau berdasarkan nilai taksiran manfaat yang diperolehnya.

Development Impact Fees.

Development impact fees dibayar oleh developer kepada pemerintah daerah atau perusahaan daerah sebagai kompensasi dari adanya dampak yang ditimbulkan karena adanya pembangunan baru, misalnya pembangunan kompleks perumahan, yang berdampak pada dibutuhkannya prasarana baru di luar kompleks yang bersangkutan. Tujuan utama dari pengenaan pungutan ini adalah untuk menutupi biaya yang berkaitan dengan pembangunan prasarana yang dibutuhkan sebagai akibat dari adanya pembangunan di suatu lokasi, misalnya kompleks perumahan, industri, dan sebagainya. Pungutan ini biasanya dikenakan pada saat izin membuat bangunan ( IMB ) dikeluarkan oleh pemerintah daerah.

2. Pembiayaan Melalui Hutang

a. Pembiayaan Melalui Hutang yang Bersifat Konvensional. Pinjaman.

Secara umum pinjaman mempunyai jangka waktu lebih pendek dan relatif lebih mahal dibandingkan dengan obligasi. Namun demikian, pemerintah atau

perusahaan daerah bisa melakukan pinjaman tidak hanya dalam bentuk pinjaman komersial, tetapi dapat juga dalam bentuk pinjaman non komersial, baik yang bersumber dari dalam negeri maupun luar negeri (melalui pemerintah pusat).

b. Pembiayaan Melalui Hutang yang Bersifat Non Konvensional. Obligasi.

Pada dasarnya obligasi juga merupakan bentuk pinjaman yang dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan daerah untuk membiayai investasi prasarana. Sumber dana obligasi diperoleh melalui mobilisasi dana di pasar modal.

Excess Condemnation. Excess condemnation merupakan metode pembiayaan prasarana secara tidak langsung, dimana sejumlah tanah disisihkan untuk pembangunan prasarana, dan sejumlah lainnya diberikan pada developer swasta untuk pembangunan komersial. Sebagai imbalannya, developer berkewajiban untuk membangun

prasarana yang dibutuhkan. Instrumen ini biasa digunakan untuk membangun kembali daerah-daerah kumuh, dimana melalui instrumen ini penyediaan prasarana perkotaan di daerah tersebut dapat dilaksanakan tanpa dibiayai oleh sektor publik.

Linkage. Developer diharuskan menyediakan dan membiayai prasarana yang sejenis di daerah lain yang kurang diinginkan, dalam rangka mendapatkan persetujuan pembangunan di daerah yang mereka inginkan. Metode semacam ini di

Indonesia sudah mulai dikenal, khususnya berkaitan dengan pembangunan perumahan, dimana para developer diwajibkan untuk pembangunan perumahan sederhana sebagai kompensasi diberikannya izin untuk membangun perumahan mewah.

3. Pembiayaan Melalui Kekayaan Pembiayaan Melalui Kekayaan yang Bersifat Non Konvensional. Joint Ventures. Joint ventures merupakan kerjasama antara swasta dengan pemerintah ( private-public partnership ) dimana masing-masing pihak mempunyai posisi yang seimbang dalam perusahaan yang bersangkutan. Tujuan utama dari kerjasama ini adalah untuk memadukan keunggulan yang dimiliki sektor swasta, misalnya

modal, teknologi dan kemampuan manajemen, dengan keunggulan yang dimiliki oleh sektor pemerintah, misalnya sumber-sumber, kewenangan dan

kepercayaan masyarakat.

Concession. Beberapa contoh concessions adalah: kontrak jasa, kontrak manajemen, kontrak sewa, BOT ( Build, Operate, and Transfer ), BOO ( Build, Operate, and Own ), dan divestiture ( sektor swasta mengambil alih seluruh kontrol perusahaan dengan membeli seluruh aset pemerintah ).

DAFTAR PUSTAKA http://www.sylabus.web44.net/pembangunanfile/kuliah6.htm http://ceukayay.blogspot.com/2011/05/pembiayaan-pembangunan.html