Anda di halaman 1dari 22

ISSN 0215 - 8250

250

TANAH LABA PURA DAN POLA SENGKETA TANAH ADAT DALAM TATARAN HUKUM ADAT HINDU BALI (Studi Etnografi pada Beberapa Desa Adat Kuno (Bali Asli) di Provinsi Bali) oleh Wayan Lasmawan Jurusan PPKn Fakultas Pendidikan IPS, IKIP Negeri Singaraja ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah menggali dan memformulasikan berbagai permasalahan yang terjadi seputar sistem konservasi dan kepemilikan tanah adat (laba pura) sebagai dampak dari sengketa adat dan budaya pada masyarakat desa adat di Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan "Critical Etnography Research" dalam paradigma penelitian kualitatif yang mengedepankan riset sosial sebagai bentuk kritik sosial dan budaya masyarakat. Responden penelitian ditentukan secara bertujuan, dan data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tanah adat merupakan tanah yang dimiliki secara komunal oleh desa adat dan dimanfaatkan bagi kepentingan pelaksanaan kegiatan adat istiadat setempat. Pergeseran sistem konservasi dan kepemilikan hak kelola atas tanah adat telah menimbulkan berbagai benturan sosial-budaya dan pergeseran kehidupan ekonomi masyarakat, khususnya di desa desa yang telah berada pada tahap transisi dan modern, (2) masyarakat desa adat memiliki pandangan dan sikap yang sangat ajeg dan konsisten dalam kaitannya dengan sistem konservasi dan kepemilikan atas tanah adat. Hal ini ditunjukkan dengan keberterimaan dan kepatuhan mereka terhadap sistem dan pola konservasi dan kepemilikan tanah adat yang telah ditetapkan melalui rembug desa adat di bawah komando prajuru desa adat secara demokratis, (3) timbulnya konflik menyangkut tanah adat telah menghadirkan warna perilaku dan sikap tertentu di kalangan anggota masyarakat desa adat.
______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005

ISSN 0215 - 8250

251

Sebagian besar dari mereka menyayangkan dan sangat berharap bahwa konflik tanah adat tersebut segera dapat diselesaikan, (4) bentuk dan sifat konflik mengenai tanah adat pada desa-desa adat di Provinsi Bali sangat diverentiatif. Bentuk konflik tanah adat ada yang bersifat vertikal dan ada pula yang bersifat horizontal, dan (5) solusi atau alternatif yang diambil dalam memecahkan sengketa tanah adat oleh masyarakat desa adat ada dua, yaitu (a) penyelesaian secara kekeluargaan yaitu melalui sangkepan (rembug) desa adat di bawah komando prajuru desa adat, dan (b) penyelesaian melalui jalur hukum formal. Kata kunci : konflik adat, tanah laba pura, dan desa adat ABSTRACT Target of this research is to analysis and formulate various problems that happened in around conservation system and ownership of tanah laba pura as impact from custom dispute and culture at traditionaly village in Bali. This Research use approach " Critical Etnography Research" in research paradigm qualitative placing forward to research into social as cultural and social criticism form of society. Research respondent determined by purposive, and research data collected by using interview, observation, and documentation. Result of research indicate that: (1) custom land had communally by custom countryside and exploited to importance of execution activity of local mores. Friction of Systems conservation and ownership of rights manage to the custom land have generated various social-culture collision and friction of economic life of society, specially in countryside which have resided at transition phase and is modern village, (2) custom countryside society have very attitude and view of consistence in its bearing with conservation systems and ownership of to the custom land. This matter is shown with " receive attitude" and " compliance" they are to conservation pattern and systems and ownership of custom land which have been specified to through to negotiate custom countryside under custom countryside democratically staff commando, (3) incidence of conflict concerning custom land have attended behavioral colour and certain attitude among custom
______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005

ISSN 0215 - 8250

252

countryside society members. Most of them regret and very hoping that the custom land conflict immediately can be finished, (4) form and nature of conflict concerning custom land at custom countryside in Provinsi Bali very diverentiatif. Conflict custom land form there is having the characters of vertical and horizontal, and (4) taken alternative or solution in solving custom land dispute by custom countryside society there is two, that is: (a) solution familiarityly that is through democratic debate under custom countryside staff commando, and ( b) solution pass formal law band. Key words: custom conflict, laba pura land, and custom countryside

1. Pendahuluan Bali sebagai komunitas masyarakat yang unik, pada dasarnya sama dengan masyarakat lainnya yang sedang mengalami perubahan sosial dan transisi budaya. Mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi, pembinaan dan pendayagunaan desa-desa adat yang ada di Bali saat ini sedang diintensifkan. Pembinaan diarahkan pada upaya perumusan dan mempertahankan nilai-nilai adat dan budaya masyarakat setempat. Salah satu masalah yang berkembang dan dihadapi oleh masyarakat Bali saat ini adalah mengenai penataan tanah adat , yang tersebar di berbagai desa adat di Bali. Tidak jarang saat ini ditemukan sengketa-sengketa sosial yang berpangkal pada persoalan tanah adat. Penelitian ini mencoba mengkaji sikap dan perilaku sengketa yang terjadi dalam masyarakat desa adat di Bali dalam perspektif perubahan sosial dan budaya untuk mengantisipasi tendensi perubahan nilai adat istiadat dan budaya Bali pada umumnya dan pembinaan konservasi dan hak kelola tanah adat pada khususnya. Saat ini masyarakat Bali merupakan salah satu masyarakat yang sedang mengalami transisi. Kalangan budayawan dan pakan ilmu sosial
______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005

ISSN 0215 - 8250

253

memandang masyarakat Bali yang sedang mengalami transisi dihadapkan pada dualisme kehidupan sosial dan budaya yang sangat tajam, hal mana merupakan ciri dari masyarakat yang sedang mengalami masa transisi. Hal ini berarti, bahwa di satu sisi masyarakat Bali dituntut untuk mempertahankan nilai-nilai adat dan budaya yang bersendikan nilai-nilai luhur keagamaan sebagai pondasi utama pengembangan budaya masyarakat Bali, sementara disisi lain, masyarakat Bali dituntut untuk melakukan berbagai penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi empiris yang sedang dan akan terjadi sebagai dampak pengaruh pengembangan industri kepariwisataan yang sedang dikembangkan. Kondisi ini membawa konsekuensi yang sangat mendasar bagi kehidupan dan upaya mempertahankan kemurnian adat istiadat masyarakat desa adat yang telah terpelihara ratusan tahun, sehingga sengketa diantara masyarakat desa adat tidak dapat dihindarkan, seperti halnya sengketa ekternal dan internal sehubungan dengan konservasi dan sistem kepemilikan tanah adat yang sedang marak di berbagai daerah di Bali saat ini. Berdasarkan kondisi tersebut, maka penelitian ini tampaknya memiliki nilai strategis yang sangat mendasar sehubungan dengan upaya pengembangan dan pembinaan nilainilai budaya dan adat istiadat masyarakat desa adat Bali. Dengan demikian, penelitian ini akan memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya pengembangan kebudayaan dan pembinaan perilaku masyarakat desa adat yang bersendikan pada nilai-nilai kemasyarakatan sesuai dengan konsep Tri Hita Karana. Melalui penelitian ini akan dapat dimengerti kaitan dan jaringan antara "social action" dan "social objectives", serta "subjective experiences" masyarakat dalam hubungannya dengan konservasi dan sistem kepemilikan tanah adat secara komprehensif, bermakna, dan holistik. Penelitian ini dilihat dari pendekatannya menggunakan pendekatan
______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005

ISSN 0215 - 8250

254

"Critical Etnography Research" dalam paradigma penelitian kualitatif (Anderson, 1989) yang mengedepankan reset sosial sebagai bentuk kritik sosial dan budaya masyarakat (Miles dan Huberman, 1992). Penelitian ini dilakukan di 4 (empat) desa Adat kuno (Bali Asli) yang tersebar di propinsi Bali, yang mencerminkan tingkat perkembangan masyarakat desa adat Bali, yaitu desa Trunyan, desa Bonyoh, desa Taro, dan desa Selulung. Kesemua desa yang dipilih sebagai lokasi penelitian, saat ini sedang dihadapkan pada sengketa adat berkaitan dengan tanah adat. Dalam penelitian ini, subjek penelitian atau responden ditentukan secara bertujuan (pusposive sampling technique) dan akan dikembangkan melalui snowball sampling. Sesuai dengan jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka pengumpulan data penelitian ini menganut prinsip peneliti adalah instrumen penelitian yang utama" (Lincoln dan Guba, 1982). Namun dalam pelaksanaannya, peneliti juga akan menggunakan beberapa alat pengumpul data, yaitu format observasi, pedoman wawancara, studi dokumentasi, dan kuisioner. Sesuai dengan jenis pendekatan dan karakteristik penelitian, maka analisis datanya akan dilakukan secara terus menerus dari awal hingga akhir keseluruhan penelitian. Melalui cara ini, diharapkan suatu gejala budaya atau gejala sosial lainnya yang cendrung bersifat kompleks berkenaan dengan masalah sistem konservasi dan kepemilikan tanah adat dan sengketa yang ditimbulkannya dapat dideskripsikan dan dibuatkan suatu argumentasi dalam suatu kualitas yang lebih mendekati makna realitas sebenarnya. 2. Hasil Penelitian dan Pembahasan 2.1. Eksistensi, Konservasi dan Sistem Kepemilikan Tanah Adat Secara yuridis tanah adat merupakan sebidang tanah yang dimiliki oleh masyarakat desa adat secara komunal. Tanah ini dilihat dari historisnya
______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005

ISSN 0215 - 8250

255

merupakan pemberian dari penguasa (raja) kepada masyarakat adat atas jasa dan hasil karya mereka kepada kerajaan. Dalam perkembangan selanjutnya oleh masyarakat adat tanah ini, dikelola secara bersama-sama yang hasilnya digunakan untuk membiayai segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan tata upacara adat keagamaan yang dilaksanakan oleh masyarakat adat. Karena tanah tersebut merupakan hadiah dari raja dan hasil dari pengelolaannya senantiasa diperuntukkan bagi kepentingan pelaksanaan upacara keagamaan. Tanah adat bagi masyarakat desa setempat lebih dianggap sebagai simbol yang bermakna religius. Dengan demikian berkembangnya peradaban dan kompleksnya tata upacara keagamaan, masyarakat desa adat memandang perlu untuk melakukan terobosan baru sehubungan dengan eksistensi tanah adat. Berdasarkan rembug desa adat, diputuskan bahwa hak kelola terhadap tanah adat diberikan kepada prajuru adat (golongan masyarakat yang bertugas dalam upacara keagamaan). Pengalihan hak kelola tanah adat ini semakin memperdalam makna religius tanah adat sebagai simbol relegi yang dihormati dan dipatuhi oleh anggota masyarakat desa setempat. Kondisi ini terjadi, disebabkan karena bagi masyarakat desa, prajuru adat diyakini sebagai golongan orang suci yang fungsi dan peranannya senantiasa dikaitkan dengan upacara keagamaan dalam tradisi Hindu. Pola keyakinan ini berpengaruh pula terhadap pandangan masyarakat mengenai eksistensi tanah adat. Dilihat dari historis dan eksistensinya, tanah adat bagi masyarakat desa merupakan simbol yang bersifat religius. Hasil dari pengolahan terhadap tanah adat yang dulunya dilakukan secara komunal oleh masyarakat desa adat dan hasilnya digunakan sebagai biaya pelaksanaan upacara adat, kini dengan adanya alih status hak kelola ke pada prajuru adat, maka hasilnya diberikan sepenuhnya kepada prajuru adat. Adapun hak dan imbalan tersebut berupa pemberian
______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005

ISSN 0215 - 8250

256

"pemalangan" dalam setiap upacara adat dan pemberian sejumlah uang dalam setiap dilakukan pemungutan peturunan. Besarnya uang tersebut tergantung dari jabatan yang diembannya. Semakin tinggi jabatannya, maka semakin tinggi pula imbalan yang diperolehnya, begitu juga sebaliknya. Peralihan status hak kelola terhadap tanah adat menimbulkan pergeseran yang sangat esensial bagi eksistensi dan peran simbolis tanah adat. Adapun pergeseran tersebut bermula dari peralihan hak kelola tanah adat ke tangan investor. Namun hal ini bukanlah satu-satunya faktor dari perubahan tersebut. Pola pergeseran nilai sosial dan ekonomi masyarakat ini merupakan senarai dari adanya pergeseran eksistensi tanah adat. Perubahan yang terjadi hanya menyangkut tata atau sistem interaksi dan pola perilaku masyarakat. Pertumbuhan dan perkembangan industri pariwisata di Bali dan di kawasan Bali pada khususnya, secara sosio-antropologis telah membawa perubahan di beberapa aspek kehidupan masyarakatnya. Alur pergeseran tata nilai dan orientasi masyarakat senantiasa terkait dengan budaya dan adat setempat. Pola keterkaitan ini akan melahirkan suatu kebiasaan (customs) baru yang berangkat dan lahir dari proses akumulasi dan adaptasi adat dan kebudayaan lama dengan kebudayaan baru yang hadir sebagai deskriptor. Pergeseran yang terjadi tidak semuanya bermakna negatif, namun banyak pula yang bermakna positif baik yang menyangkut nilai-nilai sosial budaya maupun ritualitas keagamaan dan rekonstrukturisasi serta revitalisasi budaya. Hal ini mengacu pada revalisasi nilai-nilai sosial budaya dan kemasyarakatan masyarakat setempat. 2.2 Pandangan dan Sikap Masyarakat Desa Adat Terhadap Tanah Adat

______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005

ISSN 0215 - 8250

257

Berdasarkan hasil wawancara dan analisis terhadap angket, diperoleh gambaran tentang pandangan dan sikap masyarakat desa adat terhadap sistem konservasi dan kepemilikan tanah adat di Provinsi Bali, dapat diurinci sebagimana yang tampak dalam tabel berikut.
No. 1. Aspek / Dimensi Masalah Dasar peraturan atau adat istiadat yang digunakan sebagai acuan dalam menentukan hak kelola terhadap tanah adat atau tanah adat Penerapan sistem pengelolaan dan bagi hasil terhadap hasil dari tanah adat Upaya dari para prajuru desa adat dalam melakukan konservasi terhadap tanah adat dalam kapasitas mereka sebagai pemilik hak kelola atas tanah adat Keberterimaan masyarakat terhadap para prajuru desa adat dalam kehidupan seharihari Sengketa dalam kepemilikan hak kelola dan upaya konservasi terhadap tanah adat Sikap masyarakat terhadap masalah yang timbul sebagai akibat dari hak kelola dan konservasi tanah adat Pandangan masyarakat terhadap masuknya fihak luar desa adat dalam mengelola tanah adat untuk kepentingan industri pariwisata Sikap masyarakat tehadap adat istiadat yang berlaku setelah terjadinya konflik mengenai tanah adat, khususnya menyangkut hak kelola dan sistem konservasi terhadap tanah adat Sikap masyarakat desa adat terhadap fihak-fihak yang bersengketa menyangkut hak kelola dan konservasi terhadap tanah adat Menerima X Menolak Raguragu

2. 3.

X X

4. 5. 6. 7.

X X X X

8.

9.

______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005

ISSN 0215 - 8250


Sikap masyarakat terhadap terjadinya benturan sosial sebagai akibat perebutan hak kelola dan sistem konservasi tanah adat Pandangan masyarakat terhadap keterlibatan beberapa komponen masyarakat tertentu yang memanfaatkan situasi dalam permasalahan hak kelola dan sistem konservasi tanah adat Sikap masyarakat desa adat terhadap para pemuka agama setelah terjadinya sengketa tanah adat yang melibatkan pra pemuka agama di dalamnya Sikap masyarakat desa adat terhadap para staf pemerintahan formal di desa dalam menyelesaikan persolan tanah adat dengan melibatkan aparat penegak humum formal di pemerintahan Sikap masyarakat terhadap eksistensi nilainilai adat istiadat setelah terjadinya konflik tanah adat Pandangan masyarakat terhadap eksistensi dan substansi tanah adat dalam percaturan kehidupan masyarakat desa adatnya Masuknya industri pariwisata dalam kehidupan masyarakat desa adat dengan memanfaatkan tanah adat sebagai salah satu lahan penunjangnya Sikap masyarakat terhadap penebangan atau pemanpaatan beberapa tanaman jangka panjang yang ada di areal tanah adat untuk kepentingan adat atau upacara Sikap masyarakat terhadap pemanpaatan beberapa tanaman jangka panjang di atas tanah desa adat untuk kepentingan bisnis pribadi atau untuk urusan di luar kepentingan upacara dan adat istiadat. Upaya dari masyarakat luar desa adat dalam mengambil alih hak kelola atau konservasi terhadap tanah adat untuk kepentingan usaha tertentu atau industri pariwisata

258

10.

11.

12.

13.

14. 15. 16.

X X X

17. 18.

19.

______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005

ISSN 0215 - 8250


20. Penerapan aturan adat terhadap fihak luar desa adat dalam pengelolaan dan konservasi terhadap tanah desa adat yang telah dialihkan hak kelolanya.

259

Sementara dilihat dari pandangan dan sikap masyarakat terhadap terjadinya sengketa adat dan budaya sebagai dampak dari sistem konservasi dan kepemilikan tanah adat, dapat dijabarkan dalam tabel berikut.
No. 1. Aspek Dimensi Masalah Pandangan kalangan prajuru desa adat terhadap sistem pengelolaan tanah adat di kalangan masyarakat Bali Pandangan kalangan generasi muda terhadap sistem pengelolaan dan konservasi tanah adat yang diberlakukan oleh pemerintah desa adat. Pandangan generasi tua (tokoh masyarakat dan anggota desa negak) terhadap sistem pengelolaan dan konservasi tanah adat yang diberlakukan oleh pemerintah desa adat. Sikap masyarakat terhadap adanya konflik yang diakibatkan oleh sistem pengelolaan dan konservasi tanah adat Sikap masyarakat terhadap fihak-fihak yang terlibat konflik berkaitan dengan pengelolaan dan sistem konservasi tanah adat Jika konflik sosial-budaya semakin meruncing dan mengancam kebertahanan nilai-nilai hegemoni desa adat, semua lapisan masyarakat desa adat berpandangan Munculnya tanah adat sebagai pemicu konflik sosial-budaya di kalangan masyarakat desa adat, sebagian besar responden menyatakan Sikap-Pandangan Masyarakat Menerima Menolak Raguragu X X

2.

3.

4. 5.

X X

6.

7.

______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005

ISSN 0215 - 8250


Sikap masyarakat terhadap keterlibatan pemerintahan formal dalam menyelesaikan konflik adat istiadat, khususnya menyangkut dimensi sosial-budaya masyarakat desa adat setempat. Jika konflik sosial-budaya tidak terhindarkan, maka ada upaya dari sebagian anggota masyarakat untuk membekukan pengelolaan dan sistem konservasi tanah adat untuk sementara waktu, maka masyarakat desa adat berpandangan. Sikap masyarakat terhadap upaya penyelesaian sengketa tanah adat didasarkan pada hukum adat setempat dengan mengabaikan hukum formal. Pandangan masyarakat terhadap upaya dari sekelompok orang di luar desa adat untuk mengelola tanah adat untuk kepentingan industri pariwisata agrobisnis. Sikap masyarakat desa adat terhadap sistem dan jumlah denda (hukuman material) yang dibebankan kepada fihak-fihak tertentu yang menyalahgunakan hak kelola terhadap tanah adat. Pandangan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah desa adat yang mengalihkan hak kelola tanah adat dari prajuru desa adat terhadap fihak investor dengan sistem kontrak berjangka. Sikap anggota masyarakat desa adat yang tinggal di luar desa adat terhadap munculnya sengketa tanah adat yang menyebabkan terjadinya konflik sosial-budaya di desanya adalah. Sikap masyarakat desa adat terhadap bentuk solusi yang diambil oleh pemerintah desa adat dalam menyelesaikan sengketa tanah adat melalui rembug desa dengan didampingi oleh aparat pemerintah formal.

260

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005

ISSN 0215 - 8250

261

Berdasarkan kedua tabel di atas, maka dapat dilihat bahwa pada dasarnya masyarakat desa adat (responden) telah menerima apa adanya menyangkut sistem pengelolaan dan konservasi tanah adat yang ada di desa adatnya masing-masing. Mereka meyakini bahwa tanah adat yang mereka miliki merupakan sesuatu yang mengandung nilai magis-religius berdasarkan keyakinannya maising-masing. Di sisi lain, dasar hukum yang digunakan untuk menetapkan sistem pengelolaan dan konservasi terhadap tanah adat tersebut adalah awig-awig desa adat (hukum adat yang telah disepakati) yang telah mereka susun bersama dan diterima keberlakuannya oleh semua lapisan masyarakat. Sikap masyarakat desa adat terhadap terjadinya sengketa tanah adat yang saat ini marak terjadi di beberapa wilayah desa adat yang ada di Bali, cenderung menolak. Bagi mereka tidak semetinya tanah adat itu disengketakan, mengingat tanah tersebut memiliki nilai simbolis-religius yang sangat tinggi bagi masyarakat setempat. 2.3 Bentuk dan Intensitas Sengketa, Konservasi dan Kepemilikan Tanah Adat Jika dilihat dari bentuk konflik, maka berdasarkan hasil wawancara dan catatan doklumen yang ditunjang oleh hasil observasi dapat disimpulkan bahwa bentuk dari konflik sosial-budaya dalam masyarakat desa adat di Provinsi Bali dapat dikatagorikan menjadi 2 (dua), yaitu (1) konflik vertikal, dan (2) konflik horizontal. Sementara pemicu utama terjadinya konflik dalam sebuah desa adat lebih banyak distimuli oleh faktor konservasi dan hak kepemilikan (hak kelola) atas tanah adat yang ada di masing-masing desa adat. konflik vertikal terjadi disebabkan karena adanya perbedaan pandangan dan sikap antara warga masyarakat desa adat dengan staf pimpinan desa adat, yaitu prajuru desa adat. Kalangan masyarakat umum memandang bahwa
______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005

ISSN 0215 - 8250

262

banyak kebijakan-kebijakan dari prajuru desa adat hanya menguntungkan sekelompok orang dan terkesan lemah dalam menerapkan sanksi terhadap pelanggaran hak pengelolaan dan konservasi tanah adat. Hal ini semakin diperkuat dengan adanya ketimpangan yang sangat menjolok antara mereka yang mengelola tanah kering dengan tanah basah, dimana pembagian hak kelola tersebut ditetapkan oleh prajuru desa adat. Sering kebijakan penetapan lahan garapan ini memicu terjadinya konflik yang bersifat vertikal. Di sisi lain, banyak pelanggaran yang dilakukan oleh para pemegang hak kelola atas tanah adat tidak mendapat sanksi sebagaimana yang telah ditetapkan dalam awig-awig desa adat. Kondisi ini menimbulkan kecurigaan dari kalangan masyarakat umum, dan lama kelamaan dapat menjadi potensi pemicu konflik di desa adat bersangkutan.Konflik yang bersifat horizontal terjadi lebih banyak distimuli oleh unsur kecemburuan atas jenis tanah garapan oleh kelompok penggarap tertentu terhadap kelompok penggarap lainnya. Konflik jenis ini juga sering terjadi antara kelompok masyarakat tertentu dengan kelompok masyarakat lain, yang dipicu oleh faktor budaya dan adat istiadat yang berlaku pada sebuah desa adat, seperti (1) pertikaian antara satu dadya atau marga (kelompok masyarakat yang terbentuk karena garis keturunan atau perkawinan dengan dadya yang lain, (2) konflik antara penggarap dengan warga masyarakat umum, dan (3) konflik antara penggarap dengan penggarap lainnya. Semua bentuk konflik tersebut dapat mempengaruhi hegemoni dan kerukunan hidup warga masyarakat desa adat bersangkutan. Bentuk konflik antara masyarakat desa adat yang satu dengan desa adat lainnya dalam konteks ini tampak memiliki kemiripan, namun setelah diurai lebih dalam ternyata berbeda. Hal ini sangat tergantung pada karakteristik dan dinamika kehidupan sosial-budaya masyarakatnya masingmasing. Dilihat dari intensitas konflik yang timbul dalam kaitannya dengan
______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005

ISSN 0215 - 8250

263

konservasi dan sistem kepemilikan tanah adat, maka secara garis besar dapat dijabarkan sebagaimana yang tampak dalam bagan berikut.

______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005

ISSN 0215 - 8250

264

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Wujud-Latar Konflik Perdebatan dalam rembug desa Perkelahian fisik antar kelompok Pertikaian antar generasi muda Perselisihan antar pribadi (pemilik hak) Benturan saat pelaksanaan upacara agama Aksi demonstrasi kepada prajuru adat Bentrok fisik antar banjar/dusun Konflik antar sesama pengelola tanah adat Konflik karena pembagian hasil tanah adat

Intensitas Konflik Tinggi Sedang Rendah X X X X X X X X

Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa bentuk konflik yang terjadi dalam kaitannya dengan konservasi dan hak kepemilikan tanah adat di desadesa adat sangat beragam. Konflik yang terjadi telah mempengaruhi hegemoni desa adat sebagai institusi adat tertinggi di wilayah bersangkutan. Bahkan, ada sejumlah konflik fisik yang melibatkan sekelompok masyarakat, yang secara yuridis formal dan nilai-nilai adat istiadat telah mengancam eksistensi dan integritas desa adat sebagai sebuah kesatuan komunal. Dilihat dari intensitas konflik, tampak bahwa antara desa adat yang satu dengan desa adat yang lainnya memiliki tingkatan yang sangat berbeda. Intensitas konflik cenderung lebih tinggi di desa-desa adat yang masuk dalam katagori transisi dan wilayah perkotaan. Sementara desa adat yang masih bersifat tradisional
______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005

ISSN 0215 - 8250

265

(agraris), intensitas konfliknya cenderung rendah. Hal ini tidak terlepas dari karakteristik dan dinamika sosial masyarakat dari masing-masing desa adat. Di sisi lain, secara formal, sangat sedikit masalah sengketa tanah adat dan konflik sosial-budaya yang mengiringinya sampai ke meja pengadilan. Masyarakat desa adat, cenderung memilih cara dan model penyelesaian konflik berdasarkan pada adat istiadat masyarakatnya, sehingga bentuk dan solusi konflik antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya berbeda. Intensitas konflik yang cukup tinggi lebih banyak distimuli oleh masalah perkelahian antar pemuda yang disulut oleh rasa ketersinggungan dan masalah-masalah sosial lainnya termasuk masalah konservasi dan kepemilikan tanah adat. Berdasarkan peta konflik dan bentuk konflik yang terjadi di kalangan masyarakat desa adat, dapat dilihat bahwa desa-desa adat yang masuk dalam katagori perkotaan dan transisi menempati rangking yang lebih tinggi dibandingkan dengan desa adat lainnya. Konflik yang terjadi di desa adat tersebut, cenderung telah mengarah kepada ancaman disintegrasi desa adat. Hal ini dapat dilihat dari kedalaman dan keluasan konflik yang terjadi pada desa tersebut. 2.4 Solusi Konflik dan Implikasinya terhadap Konservasi Tanah Adat Menyadari demikian rentan dan tingginya intensitas konflik yang terjadi di kalangan masyarakat desa adat yang dipicu oleh masalah tanah adat, maka desa-desa adat yang ada di Provinsi Bali telah mengantisipasinya dengan cara menyusun awig-awig desa adat di setiap desa adat, dimana dalam penyusunannya telah melibatkan seluruh komponen masyarakat dengan bimbingan dari Badan Pembina Lembaga Adat (BPLA) Kabupaten dan Provinsi yang dibantu oleh beberapa staf ahli hukum yang berkompeten dalam bidang hukum adat. Disisi lain, untuk menyelesaikan beberapa konflik
______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005

ISSN 0215 - 8250

266

adat istiadat, para prajuru desa adat dengan erkoordinasi dengan pemerintahan formal di desa, yaitu Kepala Desa dengan staf telah meminta bantuan kepada aparat p[enegak hukum untuk menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi, khususnya konflik yang telah mengarah pada perusakan fasilitas umum dan mengganggu ketertiban masyarakat desa adat. Hal ini ternyata cukup efektif, terbukti dengan adanya beberapa kasus tanah adat yang saat ini tengah digelar dalam pengadilan negara, baik untuk tingkat pengadilan negeri maupun pengadilan tinggi dan tingkat kasasi. Namun, sentuhan penyelesaian melalui jalur hukum formal ini, ternyata telah mendatangkan masalah baru, yaitu adanya kecendrungan masyarakat untuk mengabaikan putusan pengadilan negara dan berpegang kukuh pada penyelesaian konflik berdasarkan hukum adat dan norma-norma sosial yang ada pada masyarakatnya. Terjadinya eksodus pengalihan hak kelola tanah adat ke tangan investor, telah menggelitik Pemerintah Daerah untuk melakukan berbagai upaya, baik yang di tuangkan dalam bentuk peraturan perundangundangan maupun kegiatan-kegiatan pembinaan secara periodik ke desa-desa mengenai pengaturan dan fungsi serta tata guna tanah adat. Pada tahun 1989 telah di keluarkan Perda mengenai tata cara dan batas maksimal yang bisa dilakukan oleh masyarakat dalam melakukan perjanjian kontrak terhadap tanah yang ada di seluruh Provinsi Bali (Perda No. 21 Tahun 1989). Di samping itu dari dinas pariwisata daerah (Diparda) dan Badan Pertanahan Kabupaten yang ada di seluruh Provinsi Bali untuk secara rutin melaksanakan pembinaan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang usahausaha untuk melibatkan masyarakat dalam menunjang perkembangan industri pariwisata dengan tanpa melakukan perusakan terhadap nilai-nilai adat istiadat dan keagamaan yang telah ada dan merupakan heritage leluhur, dan tanpa merusak lingkungan alamiah yang telah ada. Sehingga tata guna
______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005

ISSN 0215 - 8250

267

lahan bisa dipertahankan dan diperbaiki sejalan dengan perkembangan industri pariwisata. Selain kebijakan di atas, Departemen Agama melalui Parisadha Agama Hindu tingkat Kecamatan maupun Kabupaten secara rutin setiap enam bulan sekali terjun ke desa-desa untuk melaksanakan pembinaan kepada masyarakat dalam rangka usaha membina kesadaran dan menumbuhkan tanggung jawab serta rasa memiliki di kalangan masyarakat terhadap nilai-nilai adat istiadat yang telah ada dan dimiliki oleh masyarakat setempat. Berdasarkan temuan di atas, maka dapat di simpulkan, bahwa Pemerintah Daerah telah tanggap dan melakukan antisipasi terhadap berbagai kemungkinan yang akan terjadi dalam hubungannya dengan penggunaan atau pengelolaan serta pemanfaatan tanah adat dalam hubungannya dengan perkembangan industri pariwisata di daerah Bali. Kebijakan di atas, dimaksudkan agar kelestarian nilai-nilai maupun simbol-simbol adat istiadat maupun keagamaan tetap terpelihara dengan baik. Tindakan ini dianggap sangat mendesak, karena eksistensi tanah adat senantiasa berkaitan dengan adat istiadat suatu masyarakat. Oleh sebab itu, upaya penataan penggunaan dan pengelolaannya harus di tata dan dibinakan dengan baik, agar adat istiadat masyarakat setempat tetap lestari dengan tanpa mengurangi makna industri pariwisata yang berkembang di daerah tersebut. Model penyelesaian konflik sebagaimana yang diuraikan di atas, telah menyebabkan terjadinya pergeseran model dan sistem konservasi dan kepemilikan tanah adat. Hal ini dapat dilihat, bahwa sistem kontrak yang dulunya dilakukan oleh pribadi-pribadi yang memiliki hak kelola terhadap tanah adat, saat ini kontrak tersebut dilakukan langsung oleh desa adat, dimana hasil dari kontrak tanah adat tersebut digunakan untuk kepentingan upacara dan pembangunan desa adat. Sementara para prajuru desa adat yang
______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005

ISSN 0215 - 8250

268

dulunya memiliki hak kelola atas tanah adat diberikan imbalam sejumlah uang dan keistimewaan lainnya dalam kaitannya dengan masalah pembangunan desa adat yang besaran dan bentuknya diputuskan melalui rembug desa adat yang secara periodik dilakukan setiap bulan penuh (bulan purnama). Inilah implikasi yang ditimbulkan oleh model dan bentuk solusi yang dikembangkan oleh desa adat dalam menyelesaikan konflik-konflik tanah adat di kalangan masyarakat desa adat di Provinsi Bali. Walaupun di setiap desa adat ada peluang terjadi konflik sosial-budaya yang dipicu oleh sengketa konservasi dan sistem kepemilikan hak kelola atas tanah adat, namun tidak sampai merusak sendi-sendi kehidupan adat istiadat setempat. Hal ini terjadi, karena kalangan anggota masyarakat desa adat, lebih memilih penyelesaian konflik dengan cara kekeluargaan, yaitu melalui sangkepan desa adat dengan fasilitasi prajuru desa adat. Walaupun ada sejumlah kasus yang sampai ke pengadilan negara, namun prosentasenya sangat kecil, dan tidak memperoleh dukungan sepenuhnya dari warga desa adat. Disinilah salah satu kekuatan adat istiadat dalam mengikat dan mempersatukan warga masyarakat desa adat di provinsi Bali. Di sisi lain, karakteristik manusia Bali yang cenderung lebih dekat dengan Sang Pencipta dalam segala aktivitas dan pola pikirnya, meyakini bahwa setiap perbuatan itu pasti ada karmanya, sehingga biarlah mereka yang bersalah dan melanggar aturan adat dihukum oleh Sang Pencipta. Masuknya nilai magis-religius dalam setiap pola pikir dan pola perilaku masyarakat desa adat, telah menghindarkan desa adat dari berbagai kemungkinan dan masalah yang mengancam eksistensi dan keutuhan dari desa adat itu sendiri. 3. Penutup

______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005

ISSN 0215 - 8250

269

Berdasarkan temuan penelitian dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal berkaitan dengan masalah sengketa adat yang dipicu oleh masalah konservasi dan kepemilikan hak kelola tanah adat, sebagai berikut: (1) tanah adat merupakan tanah yang dimiliki secara komunal oleh desa adat dan dimanfaatkan bagi kepentingan pelaksanaan kegiatan adat istiadat setempat, (2) pergeseran sistem konservasi dan kepemilikan hak kelola atas tanah adat telah menimbulkan berbagai benturan sosial-budaya dan pergeseran kehidupan ekonomi masyarakat desa adat, khususnya di desa-desa yang telah berada pada tahap transisi dan modern, (3) masyarakat desa adat memiliki pandangan dan sikap yang sangat ajeg dan konsisten dalam kaitannya dengan sistem konservasi dan kepemilikan hak kelola atas tanah adat. Hal ini ditunjukkan dengan keberterimaan dan kepatuhan mereka terhadap sistem dan pola konservasi dan kepemilikan tanah adat yang telah ditetapkan melalui rembug desa adat di bawah komando prajuru desa adat secara demokratis, dan (4) timbulnya konflik menyangkut tanah adat telah menghadirkan warna perilaku dan sikap tertentu di kalangan anggota masyarakat desa adat, dan (5) bentuk dan sifat konflik mengenai tanah adat pada desa-desa adat di Provinsi Bali sangat diverentiatif. Bentuk konflik tanah adat ada yang bersifat vertikal dan ada pula yang bersifat horizontal. Sementara dilihat dari sifat konflik, ada yang bersifat terbuka dan ada yang bersifat tertutup (laten). Berdasarkan simpulan dari penelitian ini sebagaimana diformulasikan di atas, maka rekomendasi yang dapat dirumuskan berkait dengan temuan penelitian ini dapat dijabarkan bahwa desa adat sebagai sebuah institusi yang otonom tampaknya harus mulai membuka diri terhadap berbagai dinamika kehidupan masyarakat luar di luar lingkungan desa adat, khususnya berkait dengan sistem dan hak kepemilikan terhadap tanah adat. Di sisi lain,
______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005

ISSN 0215 - 8250

270

hendaknya perlu dipikirkan upaya-upaya yang strategis dan prediktif dalam menetapkan sistem konservasi dan hak kelola atas tanah adat, sehingga sengketa tanah adat tersebut dapat dieliminir sedemikian rupa. Hal ini penting mengingat harmonisasi kehidupan masyarakat desa adat sangat dipengaruhi oleh eksistensi dan pengelolaan tanah adat sebagai aset potensial dari desa adat itu sendiri. Hal ini semakin diperkuat dengan adanya nilai-nilai kultural-magis yang melekat pada tanah adat, yaitu sebagai simbol dari keutuhan dan kesejahteraan dari masyarakat desa adat itu sendiri. Upaya ini hendaknya dapat melibatkan keseluruhan potensi dan pihak-pihak yang ada di keseluruhan desa adat itu sendiri sehingga intensitas dan keluasan konflik dapat dieleminir.

DAFTAR PUSTAKA Anderson, G., 1989. Critical Etnography in Education: Origins, Current Status, and New Directions. Review of Educational Research 59 Anonim, 1990. Desa-Desa Kuno di Bali. Denpasar: Balai Pustaka. Bogdan, R.C, Biklen, 1971. Qualitative Research in Education. Allyn & Boston., Chicago. Belo, Jane. 1970. A Stdy on Customs Pertaining to Twins in Bali. New York: Columbia University Press. Carspecken, P.F., 1998. Critical Etnography in Educational Research: A Theoritical an Practical Guide. London and New York: Routledge. Lasmawan, W. 1996. Tanah Laba Pura dan Pergeseran Nilai Sosial-Ekonomi Masyarakat Pedesaan. Jepang: The Toyota Foundation-Grant Number 017-Y-1996.
______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005

ISSN 0215 - 8250

271

Parker, Lynnete. 1989. Village and State in "New Order' Bali. (Disertasi). Australia: Australian University.

______________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 3 TH. XXXVIII Juli 2005