Anda di halaman 1dari 28

1

Penangkaran Si Raja Ikan Hias Arwana

A. Pendahuluan Sebagai negara kepulauan terbesar dan secara geografis terletak di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, keanekaragaman hayati laut Indonesia tak tehitung jumlahnya. Hal ini pun menjadi penggerak bagi lembaga pemerintah untuk menangani pengembangan perikanan budidaya. Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) pun dituntut untuk memperkuat kelembagaan masyarakat perikanan budidaya melalui penguatan struktur perusahaan dan meningkatkan jiwa wirausaha mereka. Saat ini jenis ikan yang sudah bisa dibudidayakan sekitar 50 jenis dari 300-500 jenis ikan yang diekspor. Salah satu ikan yang dapat dibudidayakan adalah arwana merah (Scleropages formosus). Pada tahun 2004, Indonesia menempati urutan keempat sebagai eksportir ikan hias dunia dengan nilai US$ 12.648.000. urutan pertama Singapura dengan nilai US$ 41.460.000, Malaysia US$ 17.559.000, Republik Czenia US$ 13.353.000.. Seiring berkembangnya usaha-usaha perikanan budidaya di Indonesia membuat persaingan penjualan ikan hias maupun ikan konsumsi di Indonesia semakin ketat. Pasar dunia maupun pasar nasional merupakan incaran para pengusaha budidaya ini. Produk yang mereka hasilkan diharapkan bisa bernilai jual tinggi. Berbagai budidaya ikan pun dicoba para wirausahawanwirausahawan ini, baik ikan hias maupun ikan konsumsi. Budidaya ikan hias banyak diminati kalangan pengusaha budidaya saat ini, karena dengan modal

sekian dapat menghasilkan laba yang sangat besar. Para pengusaha budidaya kini banyak yang melirik sebuah usaha, yaitu usaha penangkaran ikan arwana. Hal ini juga didukung adanya trend memelihara arwana di Indonesia yang kian meningkat. Banyak para pengusaha budidaya memperkenalkan kelebihan dari ikan arwana ini, sehingga banyak penggemar dari luar maupun dalam negeri yang penasaran dan datang untuk membeli dan memelihara ikan tersebut. Arwana banyak disebut-sebut sebagai rajanya ikan hias air tawar. Banyak alasan yang menjadikan ikan ini sebagai ikan hias nomer satu. Tetapi dibalik alasan tersebut pastilah juga banyak orang yang mengklaim bahwa arwana sebagai rajanya ikan hias air tawar. Sebelumnya mari samakan dahulu persepsi menegenai kriteria ikan hias yang baik. Ikan Hias didefinisikan sebagai ikan yang memiliki ciri-ciri, seperti bentuk dan warnanya indah, perilakunya menarik, terdapat keanehan, dan tergolong langka. Kebanyakan ikan hias hanya memenuhi satu atau dua kriteria saja dari kelima kriteria tersebut. Beda halnya dengan arwana, arwana adalah ikan yang memiliki bentuk badan kekar. Setiap bagian tubuh arwana, bahkan ujung siripnya memiliki nilai keindahana tersendiri dan menjadi kriteria yang tidak boleh dilewatkan. Itu dari sisi keindahan tubuhnya. Warna arwana, bukan hanya arwana super red tetapi juga arwana lainnya menjadi kriteria yang menentukan nilai seekor arwana. Sisik-sisik arwana yang berwarna merah cabai dengan ring (cicin) berwarna keemasan, menjadi penilaian tersendiri yang menentukan jenis dan harga arwana tersebut. Begitu berharganya nilai sisik, maka sisik tersebuk tidak boleh tanggal sedikit pun. Itu tadi kriteria kedua, lanjut ke kriteria ketiga. Semua orang sudah banyak yang mengetahui

arwana hanya hidup dibeberapa tempat di dunia. Hampir semua arwana yang berhasil diternakan adalah jenis ikan asli, bukan hasil persilangan. Bisnis arwana berkembang pesat karena dari ikan yang hanya ada di beberapa tempat di dunia, kini telah sedemikian maju berkat kerja keras para penangkar. Kelangkaan arwana mungkin bisa dilihat dari sejarahnya, bahwa arwana dahulu termasuk jenis satwa yang dilindungi. Dijadikannya arwana sebagai satwa yang dilindungi karena pada mulanya di daerah asal arwana, Sumatera dan Kalimantan, ikan eksotis ini merupakan ikan konsumsi yang hanya sesekali tertangkap oleh jaring nelayan. Karena ikan arwana berukuran cukup besar dan dagingnnya lumayan tebal maka oleh para nelayan ikan diasinkan. Tujuannya agar tahan disimpan dalam jangka waktu lama. Maka dari itu pada tahun 1980 keluar sebuah surat keputusan dari Menteri Pertanian yang melindungi arwana. Denagan keluarnya SK Menteri Pertanian No. 716/Kpts/UmIO/1980, resmilah arwana sebagai satwa yang dilindungi oleh pemerintah. Banyak pro-kontra yang terjadi tentang pemeliharaan dan kepemilikan arwana. Untuk menjawab semua itu maka muncullah ketentuan baru yang mengatur kepemilikan arwana harus menggunakan sejumlah persyaratan dan dinyatakan dengan sertifikat kepemilikan. Selain itu ada peraturan lainnya, yaitu ikan arwana yang dipelihara adalah ikan arwana yang berasal dari penangkaran. Maka dari itu kini banyak tempat-tempat penangkaran yang digunakan untuk budidaya ikan arwana dalam rangka pelestarian sekaligus bisnis atau wirausaha.

B. Permasalah

1. Hal-hal atau media apa saja yang perlu diperhatikan dan disiapkan sebelum

memulai usaha penangkaran arwana? 2. Bagaimana cara menangkar arwana yang baik? 3. Bagaimana cara mencegah dan menangani penyakit yang sering terjadi pada arwana?

C. Pembahasan Masalah Klasifikasi Ilmiah Ikan Arwana Kerajaan Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies Nama binomial : Animalia : Chordata : Actinopterygii : Osteoglossiformes : Osteoglossidae : Scleropages : S. formosus : Scleropages formosus

Muller and Schlegel, 1844 Ikan arwana memiliki badan yang panjang, sirip dubur terletak jauh di belakang badan. Memiliki warna berkilau seperti perak, ikan ini disebut juga

sebagai "ikan naga" karena sering dihubung-hubungkan dengan naga dari Mitologi Tionghoa. Untuk harga satuan dari ikan ini yang dewasa telah mencapai jutaan. Umur ikan arwana tergolong panjang, maka banyak orang yang cenderung memelihara ikan ini sebagai ikan hias akuarium.
1. Peminat arwana di Indonesia maupun di mancanegara semakin bertambah

banyak. Mulai dari sekedar hobi memelihara kini telah berkembang menjadi sebuah usaha untuk berbisnis. Tempat-tempat penangkaran pun banyak dijumpai di Indonesia. Satu persatu tempat penangkaran mulai berdiri seiring bertambahnya pengetahuan masyarakat dan minat masyarakat akan ikan arwana. Terlebih sekarang banyak orang yang berminat untuk menangkar arwana dalam rangka untuk berwirausaha maupun pelestarian. Berikut hal-hal atau media yang perlu diperhatikan dan disiapkan sebelum melakukan usaha penangkaran.

a. Pemilihan Lokasi Penangkaran Lokasi penangkaran perlu diperhatikan kondisinya, karena perkembangbiakan arwana sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dari alam. Untuk lokasi-lokasi penangkaran di Indonesia sendiri sudah tergolong baik asalkan lokasinya tidak bising dan agak jauh dari permukiman penduduk. Kemudian udara disekitarnya masih bersih dan tidak terkontaminasi oleh asap yang akan membuat polusi pada permukaan air, bebas banjir, serta kondisi air sesuai dengan habitat aslinya. Air disekitar lokasi juga harus tersedia setiap saat, meskipun

pada saat musim kemarau. Sebenarnya arwana dapat ditangkarkan di dalam akuarium. Namun, tingkat keberhasilannya sangat kecil. Maka dari itu, jika ingin menernakan arwana, sebaiknya lakukan di dalam kolam.

b. Karakteristik Kolam

Bentuk kolam untuk penangkaran arwana tidak harus persegi empat, tetapi sangat tergantung pada bentuk dan ketersediaan lahan. Kolam bisa saja berbentuk U, L, atau bentuk lainnya. Namun, yang harus diperhatikan saat membangun kolam adalah daya tahan dan luas kolam. Kolam yang akan dibangun sebaiknya memperhatikan kondisi tanahnya. Jika tanah mudah longsor, sebaiknya bangun kolam permanen dari semen atau cor. Jika lokasi pembuatan kolam rawan banjir, sebaiknya bangun kolam yang bebas dari banjir. Sebagai gambaran adalah 125-175 m2 dengan kedalaman sekitar 2,5-3 m. Perlu dipahami bahwa dasar kolam tetap dari tanah agar kondisinya sama dengan habitat asal arwana. Kolam juga harus mudah dibersihkan atau dikuras airnya. Untuk itu, sebaiknya dasar kolam dibuat dengan kemiringan 10-150. Luas kolam penampungan air yang ideal untuk pengembangan dua pasang arwana adalah 10 m x 5 m dengan kedalaman 3 m. Gunanya untuk menampung air jika terjadi kekeringan dan wadah untuk mengendapkan air sebelum di alirkan ke kolam penangkaran. Kolam penangkaran idealnya 12 m x 8 m dengan

kedalaman 3 m, dapat dibagi menjadi dua bagian. Satu kolam digunakan untuk arwana yang sudah mengerami telur dan lainnya untuk induk yang baru dijodohkan. Akuarium pembesaran burayak minimal 5 buah dengan ukuran 120 cm x 60 cm x 50 cm dan diletakkan di ruangan khusus yang tertutup bagian atasnya. Sediakan juga sedikit lahan untuk tempat mesin pompa air. Wadah penampungan pakan 1 x 1,5 m dibagi dua untuk anak ikan dan katak sehingga luas lahan yang harus disediakan antara 100-150 m2.

c. Sumber dan Kualitas Air Sumber air untuk penangkaran arwana harus air bersih, belum tercemar dengan limbah pabrik maupun limbah industri lainnya. Sumber air yang utama dari mata air dan sungai. Air yang berasal dari mata air biasanya steril dan belum mengandung bahan organik sehingga tidak subur. Sedangkan air yang berasal dari sungai umumnya kaya akan bahan organi. Namun, sering kali air sungai mengandung limbah beracun. Parameter kualitas air yang sering disyaratkan untuk budi daya ikan, tak terkecuali penangkaran arwana adalah sebagai berikut :
-

Suhu 25-30o C, pH 6,0-7,0, kandungan oksigen (O2) lebih dari 5 ppm, dan

kandunagn CO2 kurang dari 25 ppm.

d. Memilih Indukan yang Sehat dan Matang Kelamin Bentuk fisik calon induk betina yang baik harus tebal, lebar, dan terkesan gemuk, sedangkan calon induk jantan sebaiknya memiliki bentuk tubuh lebih panjang dan terkesan gagah dan gerakan pada bagian pangkal ekor meliuk-liuk seperti ular. Calon induk yang akan ditangkarkan sebaiknya memiliki sisik besar, tersusun rapi, dan warna sisik berkilau memancarkan sinar. Mata tidak juling, sungut utuh, dan berdiri tegak. Sirip sehat dan tidak ada gejala terserang penyakit dan memiliki rahang yang besar. Arwana yang tubuhnya cacat tidak baik dijadikan induk. Usia induk yang sudah mendekati matang kelamin dan ideal untuk ditangkarkan antara 6-7 tahun. Memperkirakan usia induk bisa melalui panjang tubuh atau diperhitungkan sejak mulai dipelihara. Sebagai acuan, arwana ukuran sampai dengan 15 cm usianya diperkirakan antara 8-12 bulan. Panjang tubuh calon induk sebaiknya sekitar 60-65 cm dengan berat tubuh sekitar 4-4,5 kg. Jika mengawinkan arwana usia muda tidak akan mendapatkan hasil karena arwana baru matang kelamin pada usia lebih dari 6 tahun. Perlu dipahami bahwa calon induk yang akan dikawinkan harus berjodoh dan kegiatan perjodohan tersebut memerlukan waktu yang bervariasi hingga

memakan waktu tahunan. Calon induk yang tidak berjodoh akan selalu berkelahi.

2. Arwana termasuk ikan yang sulit dikembangbiakan. Namun, dengan

didukung ketersediaan lahan, sumber air yang cocok, dan pakan yang tersedia secara kontinu maka arwana dapat ditangkarkan. Dengan tingkat kesulitan tinggi untuk menangkarkan arwana dan termasuk ikan langka yang dilindungi maka harga ikan ini pun mahal. Saat ini sangat sedikit peternak yang berhasil menangkarkan arwana di Indonesia. Maka dari itu kita perlu mengetahui bagaimana proses menagkar arwana yang baik. Setelah kita mengetahui hal-hal dan media yang perlu diperhatikan dan disiapkan pada pembahasan sebelumnya. Berikut langkah-langkah atau proses penangkarannya. a. Jodohkan Sebelum Dikawinkan Sepasang induk dewasa yang sudah berumur 6-7 tahun berukuran 50-60 cm memerlukan waktu sekitar satu tahun atau lebih untuk melakukan pendekatan. Tidak ada perlakuan yang dapat mempercepat terjadinya perjodohan karena arwana memerlukan pendekatan alami dalam memilih jodoh. Untuk itu buat kolam perjodohan dengan kedalaman air sekitar 3 m dan kondisinya mendekati situasi alam aslinya, yaitu suasana tenang dan airnya terus mengalir. Selama perjodohan kolam tidak boleh terusik dan air dibuat agar terus

10

mengalir. Beri tanaman air seperti ganggang air sebagai tempat berteduh. Jika terlihat mereka saling berkejar-kejaran, itu tandanya induk mencoba untuk berjodoh. Biarkan arwana jantan mengejar-ngejar arwana betina untuk mencari pasangannya dan lama-kelamaan induk jantan akan menemukan pasangannya. Oleh karena itu, induk-induk yang sudah dimasukkan di dalam kolam sebaiknya tidak perlu ditukar dengan induk yang lain. Apabila terlihat mereka sudah berenang saling berdampingan, hilir mudik kesana kemari, dan tidak lagi terlihat saling berkejaran maka tandanya induk-induk tersebut sudah berjodoh dan siap untuk memijah.

b. Proses Perkawinan Perkawinan akan terjadi pada waktu musim hujan. Hujan yang turun membuat air menjadi lebih dingin. Pada hari kedua musim hujan temperatur air berkisar antara 25-26oC. Saat itulah induk-induk arwana memijah. Induk jantan akan menggesek-gesekan tubuhnya ke bagian belakang tubuh betina, lalu keduanya saling berhimpitan. Betina akan mengeluarkan telurnya dan induk jantan segera mengeluarkan sperma untuk membuahi telur. Pada saat peristiwa tersebut terjadi, air disekitar tempat pembuahan kan terlihat berbuih. Itu tandanya sperma jantan sudah keluar. Proses pembuahan memakan waktu 20-30 menit. Jumlah telur dalam satu kali pemijahan sekitar 15-25 butir. Ukuran telur rata-

11

rata 1,5-1,8 cm. Selanjutnya satu persatu telur dipunguti oleh induk jantan dan disimpan didalam mulutnya.

c. Merawat Induk yang Sudah Bertelur

Setelah bertelur induk tidak perlu dipisah karena induk betina akan bertugas menjaga jantan yang sedang mengerami telur dari gangguan di sekitarnya. Oleh karena itu, pelihara induk dengan baik karena induk yang sedang mengerami telur sangat mudah stres. Pertahankan ketenangan lingkungan yang sudah tercipta. Awasi kolam dari kehadiran hewan yang tidak diundang, seperti katak tanah, ular, dan biawak. Pasang jaring net di sekeliling kolam setinggi 0,5 meter. Kualitas air harus tetap dijaga. Kadar keasaman dipertahankan dengan fluktasi 6,5-7,5 dan suhu maksimal 29o C. Kandungan oksigen terlarut minimal 5 mg/liter air. Gunakan blower untuk menciptakan gelembung udara agar meningkatkan kandungan oksigen yang terlarut di dalam air. Kontrol air agar terus mengalir. Gunakan hand pump untuk mengalirkan air dari bak penampungan.

d. Awasi Masa Pengeraman dan Lakukan Pemanenan Tepat Waktu Telur yang sedang dierami oleh induk jantan akan menetas sekitar 25-30 hari dihitung mulai dari saat pembuahan. Namun, setelah menetas burayak tidak langsung dikeluarkan oleh induknya. Pada saat

12

itu burayak masih berbentuk larva. Di bagian perutnya melekat kantung telur persediaan makanan (yolk sac). Masa ini disebut fase pro-larva. Pada fase ini induk akan terus memelihara anaknya didalam mulut sampai 39-41 hari sampai telur melekat di tubuh larva habis. Barulah burayak dilepaskan dari mulutnya. Fase burayak lepas dari mulut induk disebut fase post-larva. Selama mengerami telurnya, induk jantan berpuasa karena tidak bisa makan. Namun, induk betina bisa diberi makan. Berikan pakan 3 kali sehari, yaitu pagi sekitar pukul 07.30-08.00, siang hari pukul 12.00-13.00, dan sore hari antara pukul 17.00-17.30. Pakan yang bisa diberikan berupa katak 2-3 ekor setiap kali pemberian. Waktu yang paling tepat untuk memanen burayak yaitu saat pengeraman memasuki hari ke 25-30 dihitung sejak terjadinya pembuahan. Sebelum melakukan pemanenan sebaiknya menyediakan akuarium sebagai tempat menyimpan burayak, serokan besar (umbing) berdiameter 1 meter yang terbuat dari kain kasa halus untuk menangkap induk, jala tirai menggiring induk, dan wadah baskom untuk menampung burayak sebelum dimasukkan ke akuarium. Kegiatan pemanenan dimulai sekitar pukul 18.30 agar induk tidak kaget dan stres. Pada malam hari biasanya induk mengapung dipermukaan air sehingga lebih mudah terlihat. Perlahan-lahan giring induk yang sedang mengerami telur dengan jala tirai ke sudut kolam. Induk yang sedang mengerami telur gerakannya lebih lambat, tubuhnya agak kurus, kepala terlihat besar karena bagian rahangnya mengembung. Jika induk sudah

13

terjebak masuk kedalam jala, serok dengan umbing dan hidupkan lampu sorot agar ikan lebih jelas terlihat. Pegang induk perlahan-lahan dengan posisi tubuh masih tetap di dalam air. Tangan kiri di sisi bawah memegang rahang dan tangan kanan di atas memegang kepala. Buka perlahan-lahan mulut induk dan arahkan kepala induk ke bawah sampai burayak keluar semua dari mulutnya. Pegangan jangan terlepas sampai burayak habis dikeluarkan dari dalam mulut. Jika terlepas dan induk mengatupkan mulutnya, dikhawatirkan burayak yang masih tersisa akan ditelannya. Burayak yang baru dikeluarkan dari mulut segera diangkat dari dalam serokan dan masukkan ke dalam baskom. Selanjutnya, pindahkan ke akuarium yang sudah disiapkan.

e. Rawat Benih dan Induk Pascapanen Burayak yang telah dipanen sebaiknya ditempatkan dalam akuarium pembenihan. Setiap akuarium ukuran 60 cm x 30 cm x 32 cm dapat menampung 15-20 ekor burayak. Tutup seluruh sisi akuarium dengan stereofoam untuk meredam udara dingin dari luar. Isi air sampai setinggi 10-20 cm agar burayak tidak mengalami kesulitan saat mengambil oksigen di permukaan air. Pasang aerasi untuk

meningkatkan kandungan oksigen. Usahakan gelembung udara yang keluar kecil-kecil. Pasang heater (pemanas air) 24 jam agar suhu air

14

stabil. Pertahankan suhu air pada kisaran 28-29o C. Pasang lampu UV untuk mengontrol kesehatan ikan. Lakukan pengontrolan pH dan kondisikan pada kisaran 6,8-7. Burayak tidak perlu diberikan makan pada masa pro-larva ini karena ditubuhnya masih melekat telur (yolk sac) yang berfungsi sebagai persediaan makanan. Menjaga kualitas air pada masa ini adalah yang utama. Ganti air 5-6 kali sehari dengan cara disifon. Disedot bagian dasarnya dengan selang sampai semua kotoran habis. Isi kembali dengan air yang baru. Waktu pergantian air, yaitu pagi sekitar pukul 06.00-06.30, pukul 11.00, pukul 14.00, pukul 18.00, dan malam hari pukul 21.00. Kontrol kebersihan air pada waktu tengah malam sekitar pukul 02.00. Jika tampak ada kotoran di dasar akuarium, segera sifon agar tidak menimbulkan penyakit. Setelah mengeluarkan burayak, induk jantan kembali dilepaskan ke dalam kolam. Biarkan bersatu kembali dengan pasangannya. Setelah itu, isi kembali kolam dengan air baru sampai kolam terisi seperti semula. Tutup seluruh tepi kolam dengan terpal agar induk tidak melompat karena stres. Aktifkan kembali blower dan alirkan air seperti sediakala. Berdasarkan data yang diperoleh induk akan kembali memijah dan bertelur sekitar 2-3 bulan kemudian. Dalam 1 tahun induk arwana yang sehat mampu bertelur sampai dua kali. Oleh karena itu, rawat induk dengan baik dan beri pakan yang berkualitas terutama induk jantan yang baru selesai berpuasa. Waktu pemberian pakan ikan dibuat lebih sering untuk mengembalikan kesehatan ikan. Dalam 1-2 bulan kondisi induk jantan akan kembali pulih dan siap memijah lagi.

15

f. Merawat Benih yang Cadangan Makanannya Sudah Habis Burayak yang sudah habis cadangan makanan di tubuhnya disebut benih. Benih tersebut sudah berumur sekitar 1,5 bulan dengan panjang tubuh sekitar 5-7 cm. Untuk perawatannya masih sama seperti pada masa pro-larva, hanya air akuarium ditambah kedalamannya menjadi 20-25 cm. Pada fase ini benih sudah harus diberi makan. Pakan yang terbaik berupa udang atau anak ikan seribu yang berukuran kurang dari 1 cm. Untuk menjaga kesehatan ikan, pakan harus dibuat higienis sebelum diberikan. Caranya, masukkan pakan ke dalam wadah yang sudah dibubuhi obat anti bakterial dan antifungus seperti Root Stop dan Super Internal dengan dosis 1 tetes untuk 2,5 liter air. Rendam pakan selama 20-30 menit. Setelah itu, pakan siap diberikan pada benih. Waktu pemberian pakan 2 kali sehari, berikan pakan sedikit demi sedikit sampai benih terlihat kenyang. Setelah benih berumur 3,5 bulan, sebaiknya pindahkan ke akuarium ukuran 100 cm x 50 cm x 47 cm. Kedalaman air sekitar 30-40 cm agar benih lebih cepat besar. Benih umur 5 bulan, ukuran tubuhnya sudah mencapai 10-12 cm dan bisa dipindahkan satu persatu kedalam akuarium soliter. Gunakan akuarium ukuran 60 cm x 60 cm x 30 cm agar perkembangan tubuhnya tidak terhambat.

16

g. Lindungi Benih dari Serangan Penyakit Melindungi benih tentunya sudah harus dilakukan sebelum benih dipanen. Akuarium yang akan digunakan untuk larva harus dibersihkan dahulu dari kotoran yang melekat kemudian siram dengan air panas agar semua bibit penyakit mati. Selanjutnya isi akuarium sampai penuh dan masukkan kalium permanganat (KmnO4) dengan dosis 3-5 gram/m3 air. Biarkan akuarium terendam selama 24 jam. Semua peralatan yang akan digunakan direndam terlebih dahulu dalam larutan kalium permanganat selama 5-6 jam. Dosis yang digunakan 20-25 gram/liter. Jika salah satu benih terserang penyakit, maka segera pindahkan benih yang sehat ke akuarium lain. Beri 0,5 soft-kapsul/50 liter air untuk benih yang sakit. Sedangkan untuk benih yang sehat berikan 0,5 soft-kapsul/100 liter air.

Beberapa Jenis Arwana

Arwana Banjar Red

Arwana Golden Brazil Arwana Black Red

17

Arwana Blood Red

18

Arwana Chili Red

Arwana Papaya Red

Arwana Super Red Biasa

Arwana Ultra Red

19

3. Untuk penangkaran, pembesaran, maupun pemeliharaan arwana, pastinya

akan kurang lengkap jika kita tidak mengetahui apa saja penyakit yang dapat menyerang arwana, dan bagaimana cara mencegah dan menangani penyakit tersebut. Berikut beberapa penyakit yang sering menyerang kesehatan arwana. a. Penyakit Gigit Ekor Sebelum menderita penyakit ini biasanya arwana akan menunjukan perilaku yang lain daripada biasanya. Arwana akan kelihatan gelisah dengan berenang hilir mudik kesana kemari. Beberapa hari kemudian sirip ekor akan robek-robek selaputnya sehingga mirip sisir dan yang tertinggal hanyalah jari-jari siripnya. Gejala ini mulanya hanya kecil lalu akan bertambah panjang dan tidak jarang sebagian dari jari sirip itu akan hilang. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh sejenis parasit yang menempel pada ekor arwana dan menyebabkan rasa gatal yang tidak tertahankan. Arwana berusaha mengatasinya dengan cara berenang hilir mudik dan menggigiti ekornya sehingga tampak compang-camping. Pengobatan penyakit ini tergolong mudah. Pindahkan Arwana ke dalam aquarium lain yang bersih (steril) dan sudah diisi dengan air yang memenuhi syarat. Masukan sekitar 20 tetes obat Tropical Fish Medicine dan biarkan arwana tetap di dalamnya selama beberapa hari. Jangan lupa membersihkan aquarium yang satunya agar nantinya arwana bisa menempati kembali tanpa khawatir terjangkit lagi.

20

b. Tutup Insang Melengkung Sering kita lihat tutup insang arwana melengkung keluar, sehingga sebagian insangnya kelihatan. Arwana dengan kondisi seperti ini tentu tidak sedap dipandang. Ikan Arwana yang satu ini mati karena penyakit insang, dengan ciri-ciri insang ikan berubah menjadi hitam. Penyebab penyakit ini bermacam-macam, yang pertama disebabkan kualitas air dalam aquarium yang tidak memenuhi standar terutama suhunya. Aquarium yang terlalu dingin atau tidak hangat bisa mendorong ikan arwana terkena penyakit ini. Penyebab lainnya adalah pemberian obat-obatan yang kelewat dosis, serangan sejenis bakteri, atau karena air dalam aquarium rendah kandungan oksigennya. Hal ini dapat dijelaskan karena air yang mempunyai kandungan oksigen yang rendah akan llebih sering membuat arwana membuka dan menutup insangnya. Gerakan itu sering tidak sempurna. Artinya sebelum tutup insang benar-benarmenutup, keburu dibuka lagi untuk menghirup sedalam-dalamnya air untuk memenuhi tuntutan oksigen. Dari gerakan yang tidak sempurna ini kemudian tutup insang arwana tetap terbuka dan tubuhnya tidak normal. Untuk mencegahnya agar menjaga kandungan oksigen dalam air tetap tinggi diatasi dengan memberikan cukup aerasi pada aquarium. Jika perlu aerator diganti dengan tenaga yang lebih besar. Kemudian tidak lupa menjaga keseluruhan kualitas air tetap primasehingga tetap layak dihuni oleh arwana.

21

Teknik pengobatan ikan arwana, salah satunya adalah dengan menjepit ikan yang sakit diantara dua penjepit kaca didalam ember, dan men-supply oksigen murni langsung kearah insangnya. Jika tutup insang yang melengkung ini belum terlalu parah maka bisa diperbaiki dengan jalan melakukan operasi kecil pada tepi tutup insangnya. c. Mogok Makan Arwna yang mogok makan biasanya terlalu sering diberi kelabang hidup. Mereka akan enggan menerima makanan lain, juga kelabang yang sudah mati. Jika sudah seperti ini maka puasakan arwana selama kurang lebih seminggu jangan diberi makan apapun. Kemudian berilah makanan jenis lain misalnya jangkrik, kadal, kodok kecil, atau ikan kecil. Bila setelah seminggu arwana belum juga mau makan sebaiknya seiakan ikan hidup saja karena tahan hidup. Perlu diperhatikan agar untuk menjaga arwana tidak juling sebaiknya dipilih ikan penghuni permukaan seperti guppy. Dengan demikian kita tidak perlu khawatir dan arwana mampu kembali seperti semula. Bila cara tersebut masih belum memberi hasil maka kita biarkan saja sampai arwana mau menerima makanan. Alternatif lainnya adalah dengan memberikan sebutir obat Hobbi Fishes ke dalam 200 liter air yang sering dipakai untuk tempat arwana bersemayam. Obat berbentuk kapsul ini berkhasiat untuk menyembuhkan stres dan berbagai penyakit serta untuk merangsang

22

nafsu makan arwana. Pilihan terakhir berikan kelabang seminggu sekali berselang seling dengan jenis makanan lain. d. Penyakit Mata Juling Penyakit ini timbul karena banyak hal. Terlalu seringnya ikan arwana berburu ikan di dasar atau pojok aquarium dianggap sebagai salah satu penyebab utama. Tentu tidak berlebihan jika ada nasehat untuk memberi makan arwana dengan yang mengapung saja. Terlalu sering arwana melihat ikan kecil yang ada di bawahnya menyebabkan otot matanya bertambah panjang. Mata yang melorot juga bisa disebabkan karena arwana kurang mendapatkan sinar matahari yang cukup. Ini mungkin dikaitkan dengan khasiat sinar matahari terhadap pertumbuhan mata manusia. Untuk mengobati mata juling bisa dilakukan dengan

memindahkan arwana pada tempat yang lebih luas dan mendapat sinar matahari langsung sambil diberi makanan yang terapung. tempat yang dipilih bisa berupa bak dari bahan fiberglass atau bak semen. Dengan cara tersebut maka 80% arwana akan sembuh. Cara lainnya adalah dengan melakukan operasi kecil. e. Dubur Ikan merah dan Membengkak Apabila kita melihat dubur arwana berwarna merah dan membengkak jangan sampai mengira bahwa mereka sedang birahi. Itu

23

pertanda bahwa arwana sedang kesulitan, yang dapat berujung pada kematian. Dubur arwana memerah dan bengkak karena disebabkan oleh pemberian makanan yang tidak bersih. Akibatnya pencernaan ikan terganggu sehingga arwana kesulitan mengeluarkan ekskresinya. Untuk mencegahnya maka makanan harus dibersihkan sebelum diberikan pada arwana. Apapun jenis makanan hidup yang diberikan sebaiknya dipuasakan dahulu selama 1-2 hari. Arwana yang menderita dubur merah dan bengkak bisaa diobati dengan amonium sulfat. f. Sisik Berdiri Sisik berdiri dan kadang ada sebagian yang membusuk biasanya disebabkan karena oleh lingkungan yang kotor. Penggantian air yang rutin dapat menghindarkan arwana dari penyakit ini. Untuk arwana yang sedang dihinggapi penyakit ini dapat diberikan amonium sulfat sebagai obatnya.

g. Tulang Punggung Bengkok Penyakit ini bisa disebabkan beberapa hal. Pertama karena adanya serangan bakteri yang masuk kedalam tubuh arwana sehingga mengakibatkan pertumbuhan punggung tidak normal. Penyebab lain adalah karena kesalahan dalam memberikan obat. Penyebab terakhir adalah karena ukuran awuarium yang terlalu kecil.

24

Untuk mencegahnya tempatkan arwana ke dalam awuarium yang ukurannya cukup. Jaga kebersihan aquarium agar arwana tidak dijangkiti bakteri dan jangan memberikan obat yang salah. h. Ekor Patah Sama seperti penyakit tulang punggung bengkok penyakit ini disebabkan karena ukuran aquarium yang terlalu sempit. Selain itu bisa disebabkan karena penanganan yang kurang baik. Misalnya pada waktu dipindahkan arwana berontak atau saat pertama kali dimasukan ke dalam aquarium mereka berenang kencang dan menubruk. Karena penyebabnya lebih dikarenakan faktor teknis maka penanganannya harus hati-hati. i. Sungut tumbuh pendek Sungut arwana tidak tumbuh sempurna dan kelihatan janggal dengan bentuk badannya yang besar. Arwana bersungut tidak imbang bisa terjadi karena ditempatkan dalam aquarium yang terlalu kecil. Hampir senada dengan penyebab punggung bengkok, arwana bersungut pendek dapat disebabkan oleh kesalahan pemberian obat. Untuk mendapatkan pertumbuhan sungut yang normal bisa dilakukan dengan membersihkan aquarium secara rutin dan mengganti airnya. Jangan lupa, tempatkan arwana dalam aquarium yang sepadan dengan besar badan. j. Ekor dan Sirip Mengerut

25

Ekor dan sirip yang mengerut bisa terjadi bila air di dalam aquarium terlampau kotor atau suhu air yang terlalu rendah. Penanganan dengan kembali mengatur panas dengan menambah heater dan membersihkan aquarium. Bisa juga diberi obat amonium sulfat secukupnya. k. Sungut Menjorok Ke Bawah Arwana yang sehat memiliki tampilan sungut ke depan. Namun sering arwana sungutnya lunglai, menjorok ke bawah. Ini merupakan pertanda arwana berada pada lingkungan yang tidak semestinya. Untuk mengembalikan kondisi arwana seperti semula sebaiknya suhu dan kebersihan air aquarium lebih diperhatikan.

D. Kesimpulan
1. Sebelum melakukan proses penangkaran tentunya ada faktor-faktor ekternal

yang perlu diperhatikan dan disiapkan. Faktor-faktor tersebut berupa penyediaan dan pemilihan media penangkaran, seperti pemilihan lokasi penangkaran, karakteristik kolam, sumber dan kualitas air, memilih indukan yang sehat dan matang kelamin.

26

2. Keberhasilan penangkaran tergantung pada proses yang benar, proses

tersebut mulai dari

penjodohkan sebelum dikawinkan, perkawinan,

merawat induk yang sudah bertelur, awasi masa pengeraman dan lakukan pemanenan tepat waktu, rawat benih dan induk pascapanen, merawat benih yang cadangan makanannya sudah habis, dan lindungi benih dari serangan penyakit. 3. Penyakit menjadi salah satu faktor yang menentukan lamanya hidup seekor arwana. Maka dari itu ketahuilah sebab, pencegahan, dan penanggulangan terhadap penyakit tersebut. Hal ini juga menjadi salah satu faktor keberhasilan penangkaran.

E. Daftar Pustaka

27

Hartono, R dan Momon, 2002, Pembenihan Arwana, Jakarta : Penebar Swadaya

Machmud, dan BE. Perkasa, 2003, 57 Permasalahan Arwana dan Solusinya, Jakarta: Penebar Swadaya

Susanto, Heru, 2008, Panduan Memelihara Arwana, Jakarta: Penebar Swadaya

www.carabudidaya.com

www.wikipedia.com

28