Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Pada masa sekarang ini, perkembangan teknologi modern semakin pesat. Otomatisasi serta segala macam perangkat elektronika sudah semakin menguasai zaman. Sehingga tidak mengherankan kalau ada yang mengatakan bahwa peran elektronik sangat diperlukan dalam kehidupan pada saat ini. Akan tetapi semua kemajuan teknologi itu tergantung tujuan dan kepentingan, mengapa dan kenapa kecanggihan itu dibangun. Alarm Lemari Es ini adalah suatu alat yang dapat membantu memperingatkan

seseorang yang telah membuka pintu lemari es terlalu lama dan sudah seharusnya pintu itu ditutup kembali setelah adanya nada peringatan. Alarm ini didasarkan pada sebuah resistor peka cahaya (LDR). Apabila LDR terkena cahaya kemudian rangkaian

diaktifkan dan nada peringatan akan berbunyi sampai LDR tidak terkena cahaya kembali. Rangkaian ini bisa juga dipergunakan untuk memonitor pintu-pintu yang lain, tetapi oleh karena adanya cahaya sekeliling tidak mungkin kita menggunakan LDR. Ini dapat diganti dengan sakelar mikro, sehingga alarm akan berbunyi jika sakelar tertutup.

1.2 Batasan Masalah Pada penulisan ini, penulis membatasi permasalahan hanya pada cara kerja dari rangkaian beserta komponen dari Alarm Lemari Es tersebut.

1.3 Tujuan penulisan Tujuan dari penulisan ini adalah menjelaskan mengenai suatu Alarm Lemari Es, yang fungsinya adalah agar pendingin yang terdapat di dalam lemari es tidak terbuang percuma karena pintu lemari es terbuka terlalu lama.

1.4 Metode penulisan Data-data ini yang dipergunakan dalam pembuatan Alarm Lemari Es didapat dari berbagai sumber diantaranya, yaitu:

a. Studi Pustaka, yaitu dengan mengambil data yang berasal dari berbagai sumber buku yang mana buku tersebut dijadikan sebagai suatu pedoman acuan dalam penulisan ini. b. Konsultasi, yaitu bertanya tentang bagaimana cara merakit Alarm Lemari Es tersebut serta menganalisa cara kerja dari rangkaian tersebut.

1.5 Sistematika Penulisan Pada penulisan ilmiah ini penulis secara sistematik membagi menjadi beberapa bab yaitu: BAB I PENDAHULUAN Menjelaskan mengenai latar belakang, batasan masalah, tujuan, metoda penulisan dan sistematika penulisan.

BAB II

LANDASAN TEORI Menjelaskan mengenai teori-teori dasar dari komponen yang digunakan dalam rangkaian.

BAB III

CARA KERJA RANGKAIAN Membahas mengenai cara kerja dari rangkaian secara diagram blok dan menganalisis rangkaian secara detail.

BAB IV

UJI COBA ALAT Membahas mengenai cara penggunaan dari alat atau rangkaian yang dibuat serta menjelaskan hasil uji coba rangkaian.

BAB V

PENUTUP Pada bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran-saran.

BAB II LANDASAN TEORI


Untuk mengetahui karakteristik dari setiap rangkaian yang digunakan pada rangkaian Alarm Lemari Es ini, maka diperlukan adanya teori yang dapat membantu agar suatu rangkaian dapat bekerja dengan baik, sehingga di dapat hasil yang maksimal. Komponen yang digunakan dalam rangkaian Alarm Lemari Es adalah sebagai berikut : 2.1 Pengetahuan tentang komponen Pada bagian ini akan dibahas mengenai komponen-komponen yang digunakan dalam pembuatan alat tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut :

2.1.1. Resistor Resistor adalah suatu komponen elektronika yang dapat menghambat arus listrik. Resistor dapat dibagi dua, yaitu : 1. Resistor tetap adalah resistor yang memiliki nilai hambatan yang tetap dan mempunyai batasan kemampuan daya tertentu misalnya : 1/16 watt, 1/8, 1/4, 1/2, 1, 5 watt dan sebagainya. 2. Resistor tidak tetap adalah resistor yang memiki nilai hambatan yang dapat diubah-ubah, jenisnya antara lain trimpot dan potensiometer.

Untuk mengetahui nilai hambatan suatu resistor dapat dilihat atau dibaca dari warna ynag tertera pada bagian luar badan resistor tersebut yang berupa cincin warna.

Gambar 2.1 Simbol Resistor

Tabel berikut ini menunjukkan angka-angka yang dinyatakan oleh setiap warna :

Tabel 1. Tabel kode warna resistor Gelang keWarna


Hitam 1 dan 2 3 4

x1

1%

Coklat

x10

2%

Merah

x100

2%

Oranye atau Jingga

x1000

Kuning

x10000

Hijau

x100000

Biru

x1000000

Ungu

x10000000

Abu-abu

x100000000

Putih

x1000000000

Emas

x0,1

5%

Perak

x0,1

10%

Tidak berwarna

20%

Contoh :

Gelang Ke-4 Gelang Ke-3 Gelang Ke-2 Gelang Ke-1

Gambar 2.2 Bentuk resistor

Keterangan : Gelang ke-1 dan ke-2 menyatakan angka. Gelang ke-3 menyatakan faktor pengali (banyaknya nol). Gelang ke-4 menyatakan toleransinya.

Misalkan : Gelang ke-1 : merah = 2 Gelang ke-2 : hitam = 0 Gelang ke-3 : kuning = x 10000 Gelang ke-4 : perak = 10% Berarti nilai resistor tersebut = 200.000 Ohm atau 200 K Ohm dengan toleransi sebesar 10%.

2.1.2. Kapasitor Kapasitor adalah suatu komponen elektronika yang dapat menyimpan dan melepaskan muatan listrik. Kemampuan kapasitor untuk menyimpan muatan listrik disebut dengan kapasitansi atau kapasitas kapasitor. Seperti halnya resistor kapasitor dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Kapasitor tetap Komponen ini memiliki nilai kapasitansi yang tetap. Kapasitor dibedakan dari bahan yang digunakan sebagai lapisan diantara lempengan- lempengan logam yang disebut dielektrikum. Bahan tersebut dapat berupa keramik, mika, milar, kertas, polyster ataupun film. Pada umumnya kapasitor yang terbuat dari bahan diatas nilainya kurang dari 1 mikro Farad (F). Satuan kapasitor adalah Farad dimana 1 Farad = 103 mF = 106 F = 109 nF = 1012 pF. Untuk mengetahui besarnya nilai kapasitas atau kapasitansi pada kapasitor dapat dibaca melalui kode angka pada bahan kapasitor tersebut yang terdiri dari 3 angka. Contoh : pada bahan kapasitor tertulis angka 103 artinya nilai kapasitas dari kapsitor tersebut adalah 10 x 103 = 0,01 F. Kapasitor tetap memiliki nilai lebih dari satu atau sama dengan 1 mikro Farad adalah kapasitor elektrolit (elco) yang bahan dielektrikumnya terbuat dari cairan elektrolit. Kapasitor ini memiliki polaritas (memiliki kutub negatif (-) dan positif (+)) dan biasa disebutkan tegangan kerjanya, misalnya 100 F 16 V artinya elco memiliki kapasitas 100 mikro Farad dan tegangan kerja tidak boleh melebihi 16 Volt.

Gambar 2.3. symbol elco 2. Kapasitor tidak tetap Kapasitor tidak tetap adalah kapasitor yang memiliki nilai kapasitansi atau kapasitas yang dapat diubah-ubah. Kapasitor tidak tetap ini dibedakan menjadi dua yaitu Kapasitor Trimer dan Variabel kapasitor (Varco).

2.1.3 IC CMOS 4093 IC yang kita gunakan pada rangkaian ini adalah IC 4093, IC tersebut berjenis CMOS (Complementer Metal Oxide Semiconductor). IC CMOS banyak digunakan pada instrument-instrumen elektronik karena dilihat dari keunggulan teknologinya

dibandingkan dengan jenis IC lainnya.IC CMOS 4093 ini merupakan penyulut Schmitt gerbang NAND yang mempunyai 2 input jalan masukkan. IC ini terdiri dari 4 buah penyulut Schmitt. Pada prinsipnya IC CMOS 4093 dan IC TTL mempunyai dasar pengertian yang sama, kedua IC ini mempunyai gerbang yang sama yaitu terdiri dari 4 gerbang NAND 2 masukkan. Gerbang NAND merupakan gerbang AND yang di NOT kan, sehingga output NAND menjadi kebalikan dari output AND. Salah satu kelebihan IC CMOS adalah konsumsi dayanya rendah sehingga cocok dipakai pada peralatan elektronik yang menggunakan battere. Sedangkan kekurangannya IC CMOS tidak tahan muatan-muatan statis sehingga IC jenis ini memerlukan penanganan yang lebih hati-hati dari IC jenis lain. Kelebihan IC TTL ialah lebih tahan terhadap gangguan luar seperti muatan statis, hanya saja IC TTL ini membutuhkan daya yang relative besar sehingga kurang cocok dipakai pada peralatan yang memakai battere sebagai catu dayanya. Level penyaklar IC CMOS merupakan fungsi dari tegangan catuan. Makin tinggi catuan tegangan makin besar tegangan yang memisahkan antara keadaan 1 dan 0, ini merupakan keuntungan tersendiri karena rangkaian menjadi tahan terhadap desah level tinggi.

Gambar 2.4 IC CMOS 4093

Dalam rangkaian, semua masukkan CMOS harus dibumikan atau dihubungkan ke tegangan catuan, tidak seperti rangkaian TTL yang dapat beroperasi walaupun ada beberapa masukkan yang diambangkan. IC CMOS ini akan beroperasi secara salah jika ada masukkan yang tidak dihubungkan. 2.1.4 Buzzer Buzzer akan memberikan keluaran dari rangkaian berupa suara dengungan pada rangkaian yang beroperasi. Buzzer juga merupakan salah satu alat yang dapat membangkitkan suara apabila diberi tegangan, sama halnya dengan speaker, tetapi buzzer ini hanya dapat mengeluarkan suara yang kecil dan melengking saja, sedangkan speaker bisa mengeluarkan suara dari kecil sampai suara yang besar.

Gambar 2.5 simbol Buzzer 2.1.5. Baterai Baterai pada rangkaian "Alarm Lemari Es " ini berfungsi sbg pensuplay tegangan DC dan dapat disimbolkan sebagai berikut. :

Gambar 2.6 Baterai

2.2 Gerbang Logika NAND NAND gate adalah gerbang AND yang digabung dengan gerbang NOT yang nantinya akan menghasilkan nilai atau output kebalikan dari nilai gerbang AND, seperti pada tabel kebenaran sbb :

Gambar 2.7 NAND gate

2.2 Tabel kebenaran NAND gate

A 0 0 1 1

B 0 1 0 1

Y 1 1 1 0

Pada gerbang di atas yang digunakan pada rangkaian Alarm Lemari Es adalah gerbang NAND yang terdapat pada IC CMOS 4093.

BAB III ANALISA RANGKAIAN BAB IV UJI COBA ALAT


4.1 Prosedur Uji Coba Alat

Secara umum langkah-langkah pembuatan alat ini adalah sangat sederhana dan biasa dilakukan oleh orang-orang yang ingin membuat alat khususnya di bidang elektronika. Pertama adalah merakit rangkaian tersebut pada protoboard yang apabila sudah berhasil baru kita membuat jalur rangkaian pada PCB. Untuk itu pada bab ini penulis ingin menguraikan sedikit tentang dan bagaimana cara membuat alat ini hingga bisa menghasilkan output yang baik kemudian bagaimana cara menguji alat tersebut. Langkah-langkah dalam pembuatannya, yaitu : 1. Persiapkan terlebih dahulu keseluruhan dari alat yang digunakan. (lihat daftar komponen yang digunakan). 2. Periksa terlebih dahulukeseluruhan dari komponen yang digunakan, pastikan komponen dalam kondisi yang baik. 3. Persiapkan gambar rangkaian, PCB, dan spidol permanent yang nanti digunakan pada saat membuat jalur pada PCB. 4. Setelah selesai membuat jalur pada PCB, pastikan semua jalur-jalur yang sudah digambar tercetak tebal, agar pada saat dilarutkan tidak mudah putus dan periksa secara teliti apakah ada jalur yang saling bersentuhan. 5. Mulailah melarutkan ke dalam larutan ferrochlorida. Setelah selesai dilarutkan, bersihkan terlebih dahulu PCB. 6. Mulailah dengan pengeboran sesuai dengan tata letak komponennya, pastikan semua letak komponen telah di bor semua. 7. sekarang mulailah dengan meletakkan komponen-komponen diatas PCB yang telah di bor, sesuai dengan letaknya. (lihat gambar rangkaian)

10

8. Setelah selesai meletakkan komponen sesuai dengan letaknya, mulailah dengan memanaskan solder, kemudian melakukan penyolderan pada kaki-kaki komponen yang telah terpasang. 9. Apabila sudah tersolder semua pada kaki-kaki komponennya, sekarang mulailah dengan menghubungkan rangkaian dengan kabel Baterry, Buzzer, dan untuk sakelar. 10. Setelah selesai semua pastikan kembali, komponen dan kabel sudah terhubung dengan baik dan benar. 11. Mulailah meletakkan rangkaian kedalam box akrilik yang sudah disediakan. 12. Rangkaian siap untuk di uji coba. Demikianlah langkah-langkah yang dilakukan penulis dalam pembuatan Alarm Lemari Es, baik mulai dari cara merancang hingga terbentuknya suatu alat yang nantinya dapat digunakan. Untuk menguji alat tersebut kita harus mengetahui bagian-bagian dari rangkaian terlebih dahulu, agar kita bisa mengetahui fungsi dari masing-masing komponen tersebut. Untuk langkah pengujian alat, rangkaian kita beri tegangan sebesar 9 Volt yang berasal dari battery. Kemudian alat tersebut kita atur sensivitas tegangannya pada LDR dengan memutar potensiometer pada P1, sesnsitivitas pada LDR kita atur supaya LDR akan semakin peka terhadap cahaya yang akan masuk atau yang diterima pada LDR, sehingga LDR akan lebih sensitif apabila terkena cahaya sedikitpun. Untuk pengujiannya rangkaian kita letakkan dekat dengan pintu lemari es, pabila pintu lemari es itu terbuka dan lampu pada lemari es menyala, maka LDR akan mendapatkan cahaya dalam beberapa detik lalu tegangan tersebut diteruskan kedalam rangkaian sehingga rangkaian akan bekerja dan buzzer sebagai output akan mengeluarkan suara. Reaksi ini akan behenti dan rangkaian akan tidak bekerja lagi, apabila pintu lemari ditutup kembali maka LDR tidak terkena cahaya dan rangkaian akan kembali berhenti dan buzzer tidak mengeluarkan suara. Dan apabila kita menggunakan sakelar mikro / sakelar pintu. Sakelar kita letakkan pada pintu lemari es sehingga cara kerja rangkaian akan tetap sama hanya dibedakan pada LDR dan sakelar yang digunakan.Rangkaian akan bekerja apabila sakelar dalam keadaan on atau sakelar menerima dalam keadaan pintu lemari terbuka, dan rangkaian

11

akan berhenti apabila pintu ditutup kembali, maka

sakelar menerima keadaan off

sehingga memutuskan arus yang menyebabkan buzzer mati.

4.2 Hasil Uji Alat

Alarm Lemari Es ini diuji pada pintu laci meja belajar dan apabila diuji pada lemari es maka hasilnya akan sama, yang terpenting dalam uji coba ini adalah membuat agar cahaya yang masuk bisa mengenai LDR dan apabila benda itu ditutup membuat cahaya tidak masuk yang menyebabkan LDR tidak menghantarkan arus. Sebagai catatan bahwa alat ini memerlukan sakelar yang menutup ketika pintu dibuka, tetapi alat ini juga bisa memakai switch On / Off .

12

BAB V PENUTUP
Setelah penulis mebahas bab demi bab yang telah diuraikan sebelumnya baik secara teori maupun langkah-langkah didalam membangun alat tersebut dan juga uji coba alat maupun analisa kehandalan sistem, maka pada bagian penutup penulis akan memberi kesimpulan serta saran yang perlu disampaikan kepada para pengguna Alarm Lemari Es agar alat yang digunakan dapat berfungsi dengan baik demi terciptanya suatu alat yang lebih baik dari yang telah penulis buat.

5.1.

Kesimpulan

Dipandang dari sistematika gambar rangkaian. Rangkaian ini menggunakan dua hambatan atau pengatur resistansinya yaitu : LDR dan sakelar mikro. Walaupun kita menggunakan LDR, rangkaian akan bekerja sama seperti kita menggunakan sakelar mikro. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, maka potensiometer sebagai pengatur input diatur nilai resistansinya antara nilai yang tertera pada potensiometer itu sendiri. Agar rangkaian akan lebih sensitif, apabila LDR terkena cahaya. Pengaturan pada volume pun perlu diatur agar mengeluarkan suara yang keras, dengan tujuan agar dapat terdengar dengan jelas. Setiap rangkaian yang dibuat pastilah memiliki output dan output yang dihasilkan pada rangkaian ini adalah bunyi yang dihasilkan oleh buzzer yang terjadi karena adanya penguatan keluaran dari gerbang N4 (kaki 11) pada IC CMOS 4093.

5.2.

Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan diatas maka sebagai penutup dari makalah ini, dibawah ini penulis memberikan saran-saran yang sekiranya berguna untuk membantu mahasiswa dan semua orang yang memerlukan kegunaan dari Alarm Lemari Es ini. 13

. Pemilihan komponen serta penyusun juga perlu memperhatikan kesesuaian dengan

komponen lain, agar dihasilkan output yang diinginkan. Karena ketidaktepatan pemilihan komponen terkadang membuat keluaran tidak tepat juga. Agar rangkaian dapat bekerja secara maksimal, selain alat maka kondisi dari alat yang digunakan juga perlu , agar menghindari kondisi komponen yang rusak akibat pemasangan dan panas yang ditimbulkan oleh panas pada saat penyolderan. Kondisi komponen yang rusak menyebabkan rangkaian tidak bekerja secara maksimal, satu komponen yang mengalami kerusakan akan menyebabkan komponen yang lainnya juga mengalami hal yang sama, dengan cara lain kita harus menyediakan komponen cadangan. Yang perlu diperhatikan dari merangkai alat ini adalah pada saat melakukan penyolderan pada IC, karena IC lebih sensitif dibandingkan dengan komponen yang lainnya. Demikianlah sekiranya kesimpulan dan saran, yang diberikan agar dapat digunakan dalam menjadi sumber atau panduan dalam membuat Alarm Lemari Es.

DAFTAR KOMPONEN

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Resistor R1

Nama 1 K

Ukuran/ Jenis

Resistor (R2,R3) Resistor R4 Resistor R5 Potensiometer P1 Potensiometer P2 Capasitor (C1) Capasitor (C2) Capasitor (C4,C3)

1 M bias diubah 220 kohm 10 K LDR 10 K 25 K 470 nF 10 nF 10 F/16 V

14

10 11 12 13 14

D1 IC1 Sakelar Buzzer Piezo elektrik Batterai

1N4148 CMOS 4093 Mikro 12 Volt DC (3120) 9V

GAMBAR RANGKAIAN

15

DAFTAR PUSTAKA 1. Dwihono. Rangkaian Logika . Penerbit Indah, Surabaya, 1996.

16

2. Lab Praktikum Elektronika dan Komputer, Petunjuk Praktikum Pengantar Elektronika Dasar . Gunadarma, Jakarta, 1999. 3. Malvino Hanapi Gunawan. Prinsip-Prinsip Elektronika . Kedua. Erlangga, Jakarta, 1996. 4. Wasito S. Data Sheet Book 1 . Penerbit PT.Elex Media Komputindo Gramedia, Jakarta, 1992.

17