Anda di halaman 1dari 11

MATA KULIAH MANAJEMEN KEUANGAN LANJUTAN

KEBIJAKAN STOCK SPLIT DEVIDEN PERUSAHAAN

MODUL XII DOSEN HARTRI PUTRANTO SE, MM.


FAKLUTAS EKONOMI UNIVERSITAS MERCUBUANA JAKARTA

2008

MODUL 12
KEBIJAKAN STOCK SPLIT DEVIDEN PERUSAHAAN
KEBIJAKAN STOK SPLIT

Apabila harga pasar saham suatu perusahaan terlalu tinggi, akan mengakibatkan banyak investor kurang berminat terhadap saham perusahaan. Oleh karena itu perusahaan bisa mengambil kebijaksanaan untuk meningkatkan jumlah lembar saham melalui stock split yaitu pemecahan nilai nominal saham ke dalam nilai nominal yang lebih kecil.

Dengan stok split ini jumlah lembar saham menjadi lebih banyak, dan kerena peningkatan jumlah lembar saham dikarenakan memecah saham lama, maka akan mengakibatkan harga saham turun proporsional dengan kenaikan jumlah lembar saham. Oleh karena itu dengan stock split harga saham menjadi lebih murah, sehingga harga pasar masih dalam trading range tertentu.

Contoh : Suatu perusahaan pada akhir tahun mempunyai struktur modal sendiri sebagai berikut : Modal saham (nominal x 250.000 lmbr) Agio saham Laba ditahan Jumlah modal sendiri = Rp 1.000.000.000 = Rp = Rp 500.000.000 900.000.000

= Rp 2.400.000.000

Perusahaan akan mengadakan stok split dari satu lembar saham menjadi dua lembar saham. Maka struktur modalnya setelah stok split akan nampak sbb:

Modal Saham (nominal Rp 2.000 x 500.000 lmbr) Agio saham Laba ditahan

= Rp 1.000.000.000 = Rp = Rp 500.000.000 900.000.000

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Hartri Putranto SE, MM.

MANAJEMEN KEUANGAN LANJT.

Jumlah modal sendiri

= Rp 2.400.000.000

Setelah diadakan stok split, struktur modal sendiri tidak berubah. Nilai modal saham tetap Rp 1.000.000.000 tetapi nilai nimoinal berubah menjadi Rp 2.000 dan jumlah lembar saham menjadi 500.000 lembar. Agio saham dan laba ditahan tidak berubah. Kesejahteraan pemegang saham juga tidak mengalami perubahan. Investor yang semula mempunyai 1.000 lembar saham akan menjadi 2.000 lembar saham dengan nilai pasar yang sama.

KEBIJAKAN REPURCHASE STOCK Kadang-kadang pada suatu saat tertentu perusahaan mempunyai kelebihan uang kas, sementara kesempatan untk investasi yang menguntungkan tidak ada. Kebijakan yang bisa diambil bisa berupa pmbagian cash dividend atau pembelian kembali saham yang dimiliki oleh investor. Repurchase stock adalah pembelian kembali saham perusahaan yang dipegang oleh pemegang saham atau investor. Kelebihan dana perusahaan yang dugunakan untuk membayar dividen atau pembelian kembali saham, tidak ada bedanya bagi perusahaan bila tidak adanya pajak perusahaan bila tidak ada pajak pendapatan (personal tax) dan biaya transaksi. Misalnya suatu perusahaan mempunyai laba setelah pajak dan harga pasar sbb : Keuntungan setelah pajak Jumlah saham beredar Laba per lembar saham Harga pasar saham Price earning ratio (PER) Rp 200.000.000 160.000 lmbr Rp 1.250 Rp 7.500 6 kali

Saat ini tidak ada investasi yang menguntungkan, sehingga perusahaan akan memanfaatkan labanya sebesar Rp 120.000.000 dengan cara dibayarkan sebagai cash dividend atau untuk membeli kembali sahamnya. Apabila investor menginginkan labanya dibagi sebagai cash deviden maka mereka akan menerima deviden sebesar Rp 750 per lembarnya (Rp 120.000.000 : 160.000). Dengan demikian harga pasar sahamnya akan menjadi Rp 7.500 + Rp 750 = Rp 8.250 Tapi apabila perusahaan memiih melakukan pembelian kembali atas sahamnya, maka dana sebesar Rp 120.000.000 ersebut bisa digunakan untuk membeli saham

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Hartri Putranto SE, MM.

MANAJEMEN KEUANGAN LANJT.

sejumlah sejumlah 120.000.000 : 8.250 = 14.545 lembar. Dengan pembelian kembali saham tersebut, saham yang beredar menjadi 160.000 lembar 14.545 lembar = 145.545 lembar. Dengan demikian laba per lembar sahamnya adalah = Rp 200.000.000 sahamnya sebesar = Rp 1.375 x 6 = Rp 8.250 dan tenyata harga sahamnya sama bila labanya dibagikan sebagai deviden. Dalam rangka melekukan repurchase stock, perusahaan bisa menggunakan dua cara : 1. Melakukan pembelian secara langsung di pasar dengan harga sesuai dengan harga yang terjadi dipasar modal.

2. Melalui penawaran secara tender atau tender offer yaitu perusahaan


mengajukan penawaran secara resmi kepada pemegang saham untuk membeli kembali sejumlah lembar saham dengan harga tertentu. Biasanya harga tendernya diatas harga pasar

TEORI DIVIDEN

1. Teori Residu Dividen atau Residual Dividend of Theory


Laba dibagikan kepada pemegang saham apabila ternyata keuntungan yang diperoleh dari reinvestasi lebih kecil disbanding dengan keuntungan yang disyaratkan. Dengan demikian residual divided of theory adalah sisa laba yang tidak diinvestasikan kembali. Dalam memenuhi kebutuhan dana untuk investasi peruahaan akan berusaha mendapatkan dana dari hutang yang biasanya modalnya rendah, dan dari laba ditahan. Apabila masih belum mencukupi akan mengeluarkan saham baru yang biasanya biaya modalnya lebih mahal. Untuk itu penggunaan laba ditahan dan emisi saham baru tergantung dari return dari reinvestasi.

2.

Dividen Model Walter atau Walters Dividen Model Berpendapat bahwa selama keuntungan yang diperoleh dari reinvestasi lebih tinggi disbanding dengan biayanya, maka reinvestasi tersebut cenderung akan meningkatkan harga saham atau nilai perusahaan. Walter mengemukakan rumus untuk menghitung besarnya harga saham sbb :

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Hartri Putranto SE, MM.

MANAJEMEN KEUANGAN LANJT.

DPS + r / Cc { EPS DPS } P= Cc

Dimana : P EPS DPS r Cc = Harga Saham = Laba per lmbr saham = Dividen per lmbr saham = return dari investasi = Biaya modal sendiri

3. Dividen Model Modigliani dan Miller atau Modigliani and Millers Model Modigliani dan Miller (MM) berpendapat bahwa pada dasarnya kondisi keputusan investasi yang given pembayaran dividen tidak relevan untuk diperhitungkan, karena tidak akan meningkatkan kesejahteraan pemegang saham. Menurut MM kenaikan nilai perusahaan dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan atau earning power dari aset perusahaan. Oleh karena itu nilai perusahaan ditentukan oleh keputusan investasi. Sementara keputusan apakah laba yang diperoleh akan dibagi dalam bentuk cash dividend atau ditahan tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Pendapat MM tersebut didukung oleh beberapa asumsi antara lain : Pasar modal sempurna dimana para investor brpikir rasional Tidak ada pajak baik perorangan maupun pajak penghasilan perusahaan Tidak ada biaya emisi dan tidak ada biaya transaksi Informasi tentang investasi tersedia untuk setiap individu

Harga saham pada awal periode (P0) adalah sebesar nilai sekarang dari dividend yang dibayarkan akhir periode pertama (D1) ditambah dengan nilai sekarang harga saham akhir periode (P1)

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Hartri Putranto SE, MM.

MANAJEMEN KEUANGAN LANJT.

P0 = D1 + P1 (1+ Ke) Dimana : Po D1 P1 Ke = Harga saham per lembar tahun ke-0


= = =

Dividen tahun ke-1 Harga saham tahun ke-1 Biaya modal sendiri

Apabila n merupakan jumlah lembar saham tahun ke-0 dan m merupakan jumlah lembar saham yang terjual tahun pertama pada harga P1, maka rumus tersebut bisa diubah menjadi :

nD1 + (n+m)P1 mP1 nPo = ( 1 + Ke ) 1

Dengan demikian jumlah saham baru yang dikeluarkan bisa dihitung dengan rumus :

mP1 = I ( X nD1 )

Dimana : I X = Total investasi baru = Total keuntungan baru dari perusahaan untuk periode itu.

Contoh : Perusahaan BARITO mempunyai 250.000 lembar saham yang beredar dengan harga jual Rp 5.000 per lembar. Tingkat kapitalisasi dari perusahaan (biaya modal) sebesar 10% . Manajemen memutuskan untuk membayar dividen Rp 400 per lembar saham pada akhir tahun. Apabila tidak ada pajak, dan perusahaan beroperasi sesuai asumsi model MM, maka dapat dihitung

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Hartri Putranto SE, MM.

MANAJEMEN KEUANGAN LANJT.

a. Harga saham per lembar apabila perusahaan tidak membayar dividen : P1 = P0 ( 1 + Ke) D1 P1= 5.000 ( 1 + 0,1) 0 P1 = Rp 5.500

b. Apabila deviden yang dibayarkan Rp 400 maka harga saham akan menjadi : P1= 5.000 (1 + 0,1) 400 P1= Rp 5.100 c. Jumlah lembar saham baru yang dikeluarkan bila perusahaan membayar deviden menerima keuntungan bersih sebesar Rp 200.000.000 dengan melakukan investasi Rp 300.000.000 adalah :

n I X P1

= 250.000.000 = 300.000.000 = 200.000.000 = Rp 5.100

D1 = Rp 400 5.100 m = 300.000.000 (200.000.000 250.000 x 400) 5.100 m = 300.000.000 100.000.000 = 39.216 lembar

Dengan demikian bila peusahaan membagi deviden sebesar Rp 400 per lembar, maka untuk mengganti deviden yang dibayarkan perusahaan harus mengeluarkan saham baru sebanyak 39.216 lembar.

SOAL dan PENYELESAIAN Soal 1 Perusahaan BULOVA pada akhir tahun 1999 mempunyai struktur modal sendiri sbb : Modal saham (nominal Rp 2.500 x 800.000 lmbr) Agio saham Laba ditahan Jumlah Modal Sendiri = Rp 2.000.000.000 = Rp 1.000.000.000 = Rp 2.000.000.000 = Rp 5.000.000.000

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Hartri Putranto SE, MM.

MANAJEMEN KEUANGAN LANJT.

Perusahaan akan memberikan stock dividen sebanyak 20% atau 160.000 lembar saham. Harga saham tersebutsebesar Rp 6.000 per lembarnya.

Diminta : Menentukan struktur modal sendiri yang baru dan menghitung harga per lembar saham.

Jawab : Laba yang dibagikan sebagai stock dividend adalah 160.000 x Rp 6.000 = Rp 960.000.000. Dan dialokasikan ke rekening modal saham sebesar Rp 160.000 x Rp 2.500 = Rp 400.000.000 sedang sisanya akan masuk ke rekening Agio saham sebesar Rp 560.000.000. Dengan demikian struktur modal sendiri yang baru adalah :

Modal saham (nominal Rp 2.500 x 960.000 lmbr) Agio saham Laba ditahan Jumlah Modal Sendiri

= Rp 2.400.000.000 = Rp 1.560.000.000 = Rp 1.040.000.000 = Rp 5.000.000.000

Sedangkan harga perlembar saham yang baru adalah = Rp 6.000 : (1,2) = Rp 5.000

Soal 2 Perusahaan PIRAMIDA pada akhir tahun 1999 mempunyai struktur modal sendiri sbb: Modal saham (nominal Rp 2.000 x 400.000 lembar) = Rp Agio saham Laba ditahan Jumlah modal sendiri lembar saham. Diminta : Menentukan struktur modal sendiri yang baru = Rp = Rp 800.000.000 400.000.000 600.000.000

= Rp 1.800.000.000 dua

Perusahaan akan mengadakan stock split dari satu lembar saham menjadi

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Hartri Putranto SE, MM.

MANAJEMEN KEUANGAN LANJT.

Jawab : Karena stock splitnya satu saham menerima dua saham, maka jumlah lembar saham meningkat menjadi 800.000 lembar, dengan nominal berubah menjadi Rp 1.000 per lembar. Modal saham (nominal Rp 1.000 x 800.000 lembar) = Rp 800.000.000 Agio saham Laba ditahan Jumlah Modal sendiri = Rp 400.000.000 = Rp 600.000.000 = Rp1.800.000.000

Soal 3 PT. INDRIYA tahun lalu memperoleh laba setelah pajak sebesar Rp 240.000.000 Dan membagikannya sebagai deviden tunai sebesar Rp 78.000.000. Laba tersebut telah tumbh dengan tingkat pertumbuhan sebesar 6% per tahun selama 5 tahun. Tahun ini perusahaan memperoleh laba sebesar Rp 320.000.000 kesempatan investasi yang ada senilai Rp 300.000.000. Hitunglah dividen yang dibayarkan bila perusahaan menggunakan kebijakan : a. Dividen Payout Ratio yang konstan b. Pertumbuhan dividen yang stabil c. Residual dividen yang dipertahankan debt to total asset ratio 40%

Jawab :

a. Dividend Payout Ratio = 78.000.000/240.000.000 = 32,5% Dividend yg dibayarkan = Rp 320.000.000 x 32,5% = Rp 104.000.00 b. Dividend tumbuh dengan 6%, maka dividen yang dibagikan = Rp 78.000.000 x (1+6%) = Rp 82.680.000 c. Dividen dengan residual Investasi Pembiyaan modal sendiri Jumlah pembiayaan modal sendiri Laba yang diperoleh Dividen yang dibagikan Rp 300.000.000 60% Rp 180.000.000 Rp 320.000.000 Rp 140.000.000

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Hartri Putranto SE, MM.

MANAJEMEN KEUANGAN LANJT.

SOAL-SOAL LATIHAN

1. PT. INDRALOKA tahun 1998 laba setelah pajak sebesar Rp 150.000.000 dan membagikannya sebagai deviden tunai sebesar Rp 90.000.000. Laba tersebut telah tumbuh dengan tingkat pertumbuhan sebesar 7,5% per tahun selama 8 tahun. Tahun 2000 peruahaan memperoleh laba sebesar Rp 195.000.000 yang dibayarkan bila perusahaan menggunakan kebijakan : a. Dividen Payout Ratio yang konstan b. Pertumbuhan dividen yang stabil c. Residu dividend bila dipertahankan debt to total asset ratio 40%.

2. PT. ANGGORA pada akhir tahun 1999 mempunyai struktur equity sbb : Modal saham (nominal Rp 1.200 x 250.000 lmbr) Agio saham Laba ditahan Jumlah Modal Sendiri = Rp 300.000.000 = Rp 200.000.000 = Rp 500.000.000 = Rp1.000.000.000

Perusahaan akan memberikan stok dividend sebanyak 30% atau 75.000 lembar saham.

3. Perusahaan ANANDA akan mempertahankan struktur modalnya yangdianggap telah optimal dengan ratio hutang dengan total asset adalah 40%. Biaya modal rata-rata tertimbang sebesar 10% dengan perincian biaya hutang 7% dan biaya modal sendiri 12%. Biaya modal sendiri akan meningkat menjadi 15%bila harus melakukan emisi saham baru . Pada tahun ini perusahaan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 300.000.000 Kesempatan investasi yang ada dan tingkat keuntungan yang diperoleh sbb :

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Hartri Putranto SE, MM.

MANAJEMEN KEUANGAN LANJT.

10

Return diharapkan Investasi A B C D E F G Nilai Investasi 100.000.000 75.000.000 75.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 Kodisi Buruk 15% 13% 11% 9% 8% 7% 5% Kondisi sedang 17% 15% 14% 11% 9% 8% 6% Kondisi baik 21% 18% 17% 14% 12% 9% 8%

Dari data tersebut bisa kita tentukan besarnya dividen yang akan dibayar pada setiap kondisi (Buruk, Sedang, dan Baik).

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Hartri Putranto SE, MM.

MANAJEMEN KEUANGAN LANJT.

11