Anda di halaman 1dari 22

HASIL OBSERVASI DAN ANALISA POTENSI BAHAYA FAKTOR KIMIA, TOKSIKOLOGI INDUSTRI, SANITASI, DAN PENGELOLAAN LIMBAH PT.

MEGA ANDALAN KALASAN


SEBAGAI TUGAS AKHIR PELATIHAN HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA BAGI DOKTER PERUSAHAAN

DISUSUN OLEH : dr. Gunterus Evans dr. Peter Wijaya dr. Renie Indriani dr. Naomi Hutabarat dr. Yoki Chandra dr. Kathryn Suryono dr. David Sitohang dr. Julius Marbun Sayoga dr. Binsar Napitupulu dr. Tessa Wiguna Salim dr. Sherley dr. Griselda Nathania dr. Christian Adrianto Sugiono dr. Andhika Ayu Perwitasari dr. Ivanlibrian Rubens Husandy

YOGYAKARTA 11 16 SEPTEMBER 201

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karuniaNya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang tepat pada waktunya yang berjudul HASIL OBSERVASI DAN ANALISA POTENSI BAHAYA FAKTOR KIMIA, TOKSIKOLOGI INDUSTRI, SANITASI, DAN PENGELOLAAN LIMBAH PT. MEGA ANDALAN KALASAN

Makalah ini merupakan tugas akhir untuk pelatihan HIPERKES dan Keselamatan Kerja bagi dokter perusahaan yang berlangsung selama 5 hari, makalah ini berisikan tentang hasil observasi dan analisa kami saat bekunjung ke PT. Mega Andalan Kalasan berdasarkan peraturan dan standar yang berlaku di Indonesia. Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang penerapan ilmu hygiene perusahaan, kesehatan dan keselamatan kerja dalam pekerjaan kita sehari-hari.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Yogyakarta, 16 September 2011

Penyusun

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ......2 DAFTAR ISI .......3 BAB I PENDAHULUAN .......4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ....7 BAB III HASIL OBSERVASI DAN ANALISA ....17 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN .....22

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menghadapi era globalisasi, ketenaga-kerjaan semakin diharapkan konstribusinya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang akan tercermin dengan meningkatnya profesionalisme, kemandirian, etos kerja dan produktivitas ker ja. Untuk mendukung itu semua diperlukan tenaga kerja dan lingkungan kerja yang sehat, selamat, nyaman dan menjamin peningkatan produktivitas kerja.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah kepentingan pengusaha, pekerja dan pemerintah di seluruh dunia. Menurut perkiraan ILO, setiap tahun di seluruh dunia 2 juta orang meninggal karena masalah akibat kerja. Dari jumlah ini, 354.000 orang mengalami kecelakaan fatal. Disamping itu, setiap tahun ada 270 juta pekerja yang mengalami kecelakaan akibat kerja dan 160 juta yang terkena penyakit akibat kerja. Biaya yang harus dikeluarkan untuk bahaya-bahaya akibat kerja ini amat besar. ILO memperkirakan kerugian yang dialami sebagai akibat kecelakaan-kecelakaan dan penyakit-penyakit akibat kerja setiap tahun lebih dari US$1.25 triliun atau sama dengan 4% dari Produk Domestik Bruto (GDP).

Pada dasawarsa 1990-an, Indonesia, melewati suatu periode yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat hingga tahun 1997, walaupun periode sesudah itu didera oleh krisis keuangan. Selama tahap pertumbuhan tersebut, ternyata jumlah kecelakaan kerja cenderung mengalami kenaikan. Tetapi selama resesi, jumlah biaya yang dialokasikan untuk keselamatan dan kesehatan kerja justru termasuk salah satu yang mengalami pemangkasan. Sehubungan dengan hal ini, ILO berpendapat bahwa apapun keadaan yang menimpa suatu negara, keselamatan dan kesehatan pekerja adalah hak asasi manusia yang mendasar, yang bagaimanapun juga tetap harus dilindungi, baik sewaktu negara tersebut sedangmengalami pertumbuhan
4

ekonomi maupun ketika sedang dilanda resesi.3 Tingkat kecelakaan-kecelakaan fatal di negara-negara berkembang empat kali lebih tinggi dibanding negara-negara industri. Kebanyakan kecelakaan dan penyakit akibat kerja terjadi di bidang pertanian, perikanan, perkayuan, pertambangan dan konstruksi. Tingkat buta huruf yang tinggi dan pelatihan yang kurang memadai mengenai metode-metode keselamatan kerja mengakibatkan tingginya angka kematian yang terjadi karena kebakaran dan pemakaian zat-zat berbahaya yang mengakibatkan penderitaan dan penyakit yang tak terungkap termasuk kanker, penyakit jantung dan stroke.

Praktek-praktek ergonomis yang kurang memadai mengakibatkan gangguan pada otot, yang mempengaruhi kualitas hidup dan produktivitas pekerja. Selain itu, masalah-masalah sosial kejiwaan ditempat kerja seperti stres ada hubungannya dengan masalah-masalah kesehatan yang serius, termasuk penyakit-penyakit jantung, stroke, kanker yang ditimbulkan oleh masalah hormon, dan sejumlah masalah kesehatan mental. Pada tahun 2002, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwa Wea menyebutkan bahwa kecelakaan kerja menyebabkan hilangnya 71 juta jam orang kerja, yang seharusnya dapat secara produktif digunakan untuk bekerja apabila pekerja-pekerja yang bersangkutan tidak mengalami kecelakaan dan kerugian laba sebesar 340 milyar rupiah. Bulan Januari 2003 menyebutkan bahwa kecelakaan di tempat kerja yang tercatat di Indonesia telah meningkat dari 98,902 kasus pada tahun 2000 menjadi 104,774 kasus pada tahun 2001. Dan 11 selama paruh pertama tahun 2002 saja, telah tercatat 57,972 kecelakaan kerja.Meskipun tingginya angka kecelakaan kerja ini cukup memprihatinkan, hal ini menyiratkan adanya perbaikan yang nyata dalam pelaporan dan penyebaran informasi tentang kecelakaan kerja kepada masyarakat. Untuk itu pemerintah telah mengaturnya dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor: Per05./MEN/1996 tentang berbagai aspek Hiperkes dan Keselamatan Kerja yang perlu mendapatkan perhatian, perlindungan tenaga kerja mendapatkan
5

prioritas yang cukup tinggi dalam suatu industri, khususnya industri yang rawan cedera, pencemaran dan penyakit akibat kerja. Tenaga kerja sebagai pelaku pembangunan terutama di sektor industri mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting dalam pembangunan nasional, maka sudah seharusnya mendapatkan perlindungan yang memadai sesuai dengan standar- standar yang berlaku agar mereka dapat bekerja dengan tenang dan nyaman sehingga akan dapat meningkaatkan produktifitas pekerja. Pelaksanaan perlindungan terhadap pekerja memerlukan kerja sama antara pengusaha, tenaga kerja, dan pemerintah yang ditunjang oleh peraturan perundang- undangan dalam bidang kesehatan dan keselamatan kerja (K3) Hal ini ditunjang oleh Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per. 04/Men/ 1987 tentang pembentukan Panitia Penyelenggara Kesehatan dan Keselamatan Kerja (P2K3) dan pengangkatan ahli Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Dalam pekerjaan ada beberapa faktor yang mempengaruhi kesehatan dan keselamatan tenaga kerja, diantaranya faktor biologis, fisika dan kimia, penulis akan memfokuskan kepada faktor kimia dan sanitasi lingkungan kerja yang mempengaruhi kesehatan dan keselamatan kerja 1.2 Waktu dan Tempat Observasi Observasi dilakukan di Perusahaan manufaktur dengan uraian sebagai berikut : Nama Perusahaan Alamat Perusahaan Jumlah Tenaga Kerja Produk yang Dihasilkan Waktu Observasi : PT. Mega Andalan Kalasan : Jl. Tanjung Tirto 34, Tirtomartani Km 13 Yogyakarta : 400 Tenaga Kerja : Perlengkapan dan Peralatan Rumah Sakit : 16 September 2011

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1. Potensi Bahaya Faktor Kimia dan Toksikologi Industri II. 1.1 Faktor Kimia Dalam industri, bahan kimia yang banyak digunakan, diolah dan diproduksi di lingkungan kerja, ditemukan berbagai jenis bahan kimia baik sebagai bahan baku maupun sebagai hasil jaddi, pengenalan berbagai jenis, sifat, dan bahaya bahan kimia dalam industry diperlukan untuk mengatasi resiko kecelakaan kerja yang akan sangat merugikan pengusaha maupun pekerja II.1.2 Pengenalan bahan kimia Terdapat ribuan jenis bahan kimia yang digunakan, diolah dan dihasilkan dalam industry, sehingga diperlukan upaya : Survey, untung mengenal dan mengidentifikasi berbagai bahan kimia yang terdapat di industry supaya dapat direncanakan evaluasi dan assesmen selanjutnya Mengenal proses produksi Mempelajari Material Safety Data Sheet dari tiap bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi Sifat dan tingkat bahaya dari bahan kimia ditentukan oleh :

Sifak fisik bahan kimia Sifat kimia dari bahan kimia Sifat fisiologis dari bahan kimia

Jalan masuk bahan kimia ke tubuh Bahan kimia dapat memasuki tubuh melalui 3 tempat : Saluran pernafasan , cara ini merupakan cara yang tercepat, zat kimia yang terhirup akan masuk ke paru- paru kemudian masuk ke aliran darah dengan cepat. Zat ( debu bahan kimia ) yang terhirup dapat mengendap ataupun masuk ke aliran darah, kedua hal ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti emphysema. Kulit merupakan tempat masuk bagi bahan cair atau aerosol yang mengendap di permukaan kulit. Bahan yang larut dalam air akan diserap lebih cepat. Bahan-bahan pelarut juga diserap dengan baik oleh kulit. Bahan kimia dapat meyebabkan kerusakan pada kulit berupa abrasi, korosi, atau luka bakar. Factor kimia ditempat kerja merupakan penyumbang terbesar penyebab penyakit kulit akibat kerja (occupational dermatosis). Saluran Pencernaan; bahan kimia masuk ke dalam saluran pencernaan melalui 2 cara yaitu: 1. Partikel yang masuk melalui saluran pernafasan ditelan berupa ludah atau dahak. 2. kontaminan pada tangan. Kontaminasi yang masuk melalui saluran pencernaan akan dicerna terlebih dahulu sebelum masuk aliran darah. Organ yang penting untuk menetralisir racun adalah hati. o Lama pajanan, menurut lamanya pajanan, dapat dibedakan pajanan akut, subkronis, dan kronis. Efek pemajanan dapat berupa efek yang ringan sampai yang berat tergantung dari tingkat toksisitas bahan. Maka untuk membantu mengenali faktor resiko ini dikeluarkanlah suatu standar. American Conference of Governmental Industrial Hygienist ( ACGIH) dikembangkanlah suatu konsep Threshold Limit Value (TLV) atau Nilai Ambang Batas ( NAB) yang menunjukkan bronkhitiss, pneumonia,

suatu kadar bahan di udara lingkungan kerja bahwa tenaga kerja masih dapat bekerja tanpa terganggu kesehatannya. o Faktor tenaga kerja II.1.3 INTERAKSI BAHAN KIMIA Antara zat kimia satu dan zat kimia lainnya dapa tmenimbulkan interaksi satu sama lain, efek yang terjadi dapat dibedakan dalam: Efek aditif yaitu pengaruh yang saling memperkuat akibat kombinasi dari dua zat kimia atau lebih. Pengaruh racun yang terjadi merupakan penjumlahan dan efek masingmasing zat kimia. Efek sinergi yaitu suatu keadaan bahwa pengaruh gabungan dari dua zat kimia atau lebih jauh lebih besar daripada jumlah masing-masing efek bahan kimia. Efek antagonis yaitu apabila gabungan dua zat kimia atua lebih efeknya jauh lebih kecil daripada jumlah efek masing-masing. II.1.4 PENGARUH TERHADAP KESEHATAN Pemajanan terhadap bahan kimia mengakibatkan terjadinya perubahan biologic atau fungsi tubuh yang manifestasinya berupa keluhan, gejala, dan tanda gangguan kesehatan. Kerusakan jaringan atau sel tubuh terutama terjadi pada organ target yakni bagian yang terserang zat kimia, tergantung organ target bahan hepatotoksik, nefrotoksik, sistemik, dsb. Berdasarkan gejala yang ditimbulkannya, bahan kimia dapat bersifat asfiksian, iritan, alergi. Selanjutnya ditinjau dari lama atau waktu timbulnya gejala, efek bahan kimia bias terjadi akut dan kronis. Tanda atau gejala terjadi akibat keracunan bahan kimia bisa bervariasi dari tanda dan gejala spesifik sampai non spesifik misalnya lemas, pusing, mual, muntah, gemetar, nafsu makan kimia dapat berupa neurotoksik,

berkurang. Gejala yang spesifik misalnya kelumpuhan, gangguan penglihatan, diare yang menetap, pendarahan, dll. Berikut contoh bahan kimia dan pengaruhnya terhadap kesehatan : ASFIKSIAN (bahan yang menimbulkan anoksia kekurangan oksigen) yaitu bahan yang dapat mengurangi oksigen atau meningkatkan karbon dioksida dalam darah atau jaringan. Berdasarkan mekanisme terjadinya, anoksia dibagi 3 : Anoksia anoksik, yaitu kekurangan oksigen dalam udara pernafasan dan darah, disebabkan penggantian atau pengenceran oksigen dalam atmosfir. Zat-zat yang dapat menimbulkan anoksia anoksik adalah etana, helium, hydrogen sulfide, nitrogen oksida. Anoksia anemik : kekurangan oksigen yang dapat diangkut oleh hemoglobin (Hb) dalam sel darah merah. Keadaan ini dapat disebabkan oleh gas CO, aniline, toluidine, yang mempunyai daya ikat (afinitas) terhadap Hb lebih kuat, sehingga Hb tidak mampu lagi mengikat oksigen. Anoksia histotoksik : disebabkan kerusakan pada sel, sehingga tidak mampu mengambil oksigen dan darah; misalnya akubat asam sianida, nitrit.

IRRITANT (perangsang) : bahan yang menimbulkan peradangan dari selaput lender atau kulit pada tempat kontak, factor konsentrasi mempunyai pengaruh lebih besar dibandingkan waktu pemaparan. Contoh zat irritant : Asam asetat Kalsium oksida Arsen Formaldehid Klorobenzena Etil alcohol Aseton Asam fosfat Stiren Fosfor kuning Xylene Trikioroetilen
10

Ammonia Hydrogen klorida Asam nitrat

Klor Etilen oksida Fosgen Berilium

Asam kromat Sulfur dioksida Seng klorida Ozon

ZAT KIMIA NEUROTOKSIK : bahan yang dapat meracuni saraf. Contoh : Asetaldehida Benzene Karbon disulfide Toluene Trikloroetana Aseton Karbon tetraklorida Etilen oksida Xylene Styrene Kloroform Etil alkohol Tetrakloroetana Timah hitam Akrilaiffid Arsen Merkuri Merkaptan

ZAT KIMIA HEPATOTOKSIK : bahan yang dapat meracuni hati. Contoh : Karbon tetraklorida Dimetil nitrosamine Etil alkohol Trinitro toluene Antimon Tetrakloroetilen a Trikloroetilena Aflatoksin Vinilklorida Amen Fosfor kuning Selenium Toluene diamin Notribenzena

11

ZAT KIMIA NEFROTOKSIK : bahan kimia yang dapat meracuni ginjal. Contoh : Arsen Aniline Organoklorin Cadmium Toluene Kloroform Karbon tetraklorida Etilen glikol Fosfor kuning Methanol Timah hitam Fenol Merkuri

ZAT KIMIA HEMATOTOKSIK : bahan kimia yang dapat meracuni darah. Contoh : Aniline Toluidin Dihidro toluene Nitrobenzene
12

Timah hitam

Nitrogen trifluorida Para nitroanilin

Nitroklorobenze na Propil nitrat

Trinitro toluene

II.1.5 USAHA-USAHA PENCEGAHAN Usaha-usaha oencegahan timbulnya penyakit akibat kerja karena factor kimia di lingkungan kerja, secara prinsip ditujukan kepada : A. Upaya yang ditujukan pada tempat kerja, berupa usaha pengendalian yang bersifat teknis (engineering control), seperti : I. Eliminasi bahan berbahaya, yaitu menghilangkan bahan berbahaya dari lingkungan kerja, hal ini dapat dilakukan dengan cara : a.Tidak menggunakan lagi bahan berbahaya tersebut. b. Menggunakan proses yang mengolah bahan berbahaya dalam

system tertutup. II. Substitusi bahan berbahaya, yaitu mengganti bahan berbahaya dengan bahan yang tidak atau kurang berbahaya. III. Ventilasi yang cukup, yang bertujuan mengencerkan atau mengeluarkan bahanbahan berbahaya dari lingkungan kerja. System ventilasi dibagi 2 : a.Ventilasi umum b. IV. Ventilasi local

Hygiene dan sanitasi tempat kerja Hasil dari upaya pengendalian teknis ini dapat dipantau dengan pengujian lingkungan kerja. Hasil pengujian lingkungan kerja dibandingkan dengan Nilai
13

Ambang Batas (TLV) yang berlaku untuk bahan kimia tersebut. Semua upaya teknis hendaknya sedemikian rupa sehingga konsentrasi bahan kimia di lingkungan kerja lebih rendah dari NAB. B. Upaya yang ditujukan pada tenaga kerja, seperti : I. Pendidikan dan latihan tentang bahaya factor kimia yang ada di lingkungan kerja, cara pencegahan dan penanggulangannya. II. Alat pelindung diri : baju kerja, sarung tangan, sepatu, masker, respiratoar, kaca mata. III. Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja : a.Pemeriksaan awal b. Pemeriksaan berkala

c. Pemeriksaan khusus IV. Sanitasi perorangan

Bagi tenaga kerja yang terpapar dengan bahan-bahan kimia tertentu, sebaiknya emeriksaan kesehatan dilengkapi dengan pemeriksaan laboratorium khusus, untuk mendeteksi tingkat pemaparan; upaya ini disebut pemantauan biologis. Pemantauan (monitoring) biologis adalah pengujian untuk mengukur kadar kontaminan yang telah diserap oleh tubuh. Pemantauan biologis dapat dilakukan dengan 2 cara : a. Analisa kuantitatif langsung dari kontaminan atau asil metabolitnya dalam cairan tubuh (darah, urine, dahak, dll), jaringan atau udara pernafasan. Sebagai contoh : Urine : aniline, arsenic, cadmium, timah hitam, merkuri, nitro benzene.

14

Darah : karboksi haemoglobin untuk mengukur tingkat keracunan CO kolinesterase untuk mengukur tingkat keracunan pestisida, Dahak : bahan bahan abses Udara pernafasan mengukur kadar pelarut seperti metilen klorida, karbon tetraklorida, triklor etana, vinil klorida, tetraklor etilena, Freon, dll. b. Secara tidak langsung, dengan pengukuran efek dan bahan terhadap tubuh, dengan mengukur fungsi organ atau jaringan target, misalnya dengan mengukur fungsi paru-paru, fungsi hati, dll II.2 Sanitasi dan Pengendalian Limbah Industri II.2.1 Sanitasi Industri Sanitasi adalah usaha masyarakat yang menitikberatkan pada pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Sanitasi industry adalah usaha kesehatan masyarakat lingkungan dalam batas-batas tertentu termasuk cara-cara pencegahan penyakit menular atau lain-lain gangguan terhadap kesehatan tenaga kerja yang tidak dapat dipisahkan dalam proses industri. Unsur pokok sanitasi industry meliputi beberapa hal antara lain unsur hygiene, estetika, ekonomi. Beberapa hal yang harus terpenuhi dalam sanitasi industry antara lain meliputi : 1. Pengadaan air bersih 2. Pengadaan air minum 3. Penampungan air buangan 4. Pembuangan sampah 5. Penyediaan makanan dan minuman 6. Bangunan / gedung 7. Pengawasan/ pembasmian serangga dan binatang mengerat 8. Penyediaan fasilitas kebersihan
15

9. Ketata rumah tanggaan 10. Pengawasan terhadap pencemaran II.2.2 Pengendalian Limbah Industri 1. Pengelolaan Limbah Cair Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 82 tahun 2001pengelolaan kualitas air adalah upaya pemeliharaan air sehingga tercapao kualitas yang diinginkan sesuai peruntukannya untuk menjamin agar kualitas air tetap dalam kondisi alamiahnya. Pengelolaan air buangan dibagi menjadi 3 metode : a. Pengelolaan secara fisika b. Pengelolaan secara kimia c. Pengelolaan secara biologi 2. Pengendalian Pencemaran Udara Pencemaran udara menurut Peraturan Pemerintah no.41 tahun 1999 tentang pencemaran pengendalian pencemaran udara adlah msuknya atau dimasukannya zat, energy, dan / atau komponen lain ke dalam udara ambient oleh kegitan manusi, sehingga mutu udara ambient turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara ambient tidak dapat memenuhi fungsinya. 3. Pengendalian Pencemaran Tanah Pengendalian bahan berbahaya sering dilakikan secara tidak benar sehingga sering membahyakan lingkungan. Pembuangan bahan berbahaya yang benar dan aman adlah kita harus mengetahui sifat bahan yang hendak dibuang. Limbah padat umumya dibuang dengan jalan ditanam dalam tanah, apabila tidk dapat dilakukan karena sifat racunnya maka harus ditanam dalam tanah dengan dimasukkan terlebih dahulu ke dalam drum khusus yang tidak akan hancur oleh air tanah

16

BAB III HASIL OBSERVASI DAN ANALISA III.1 Potensi Bahaya Faktor Kimia dan Toksikologi Industri III.1.1 Proses Produksi Injection Processing Bahan baku : Biji Plastik PP,PE, Nylon, ARS Bahan Tambahan : Pigmen Pewarna Peralatan yang digunakan : Mixer bijih plastik, Injektor

III.1.2 Limbah Cair Padat : plastik yang kemudian diolah kembali menjadi bijih plastik, kemudian diolah kembali menjadi produk plastik dengan kualitas yang lebih rendah Plastik yang sudah tidak dapat diolah akan dijual III.1.3 Potensi Bahaya : Air--- IPAL---Dibuang

17

III.2 Sanitasi III.2.1 Kebersihan dan Kerapian

18

III.2.2 MCK

19

* Kategori bersih : Tidak boleh berbau Tidak ada kotoran terlihat Tidak ada lalat, nyamuk, dan serangga Harus ada air bersih Mudah dibersihkan Dibersihkan 2 3 kali sehari Pintu harus dapat ditutup dengan mudah

III.2.3 Site Plant Gedung kuat buatannya, tidak mudah terbakar, tidak ada yang mau rubuh tangga aman, tidak licin dan cukup luas Lantai, dinding, loteng dan atap berada dalam keadaan terpelihara dan bersih Dinding dan loteng dikapur setiap 5 tahun sekali Dinding yang dicat dibersihkan tiap 1 tahun sekali Lantai dibersihkan dalam waktu tertentu Dinding tidak basah dan lembab Lantai terbuat dari bahan keras , tahan air, dan bahan kimia

20

III.2.4 Pencahayaan

III.2.5 Penyediaan Air Bersih

21

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN Potensi bahaya factor kimia dan toksikologi serta sanitasi dan pembuangan limbah akan selalu menjadi topic yang hangat untuk dibahas karena masih banyak praktek yang kurang benar dalam menanggulangi masalah tersebut yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja dan kerusakan alam lingkungan. Dalam observasi kami di PT. PT. Mega Andalan Kalasan kami menemukan hasil observasi yang cukup baik, baik dalam identifikasi factor bahaya kimia, sanitasi, dan penganggulangan limbah, namun masih ada beberapa kekurangan yang tidak signifikan yang kami temukan, dimana sebagian besar adalah masalah kebersihan, yang kami amati disebabkan oleh pekerja sendiri, juga tempat pembuangan limbah cair yang cukup mengganggu udara ambien sekitar tempat bekerja. Menurut kami, hal tersebut masih dapat diintervensi yaitu dengan bimbingan langsung dimana diupayakan agar pekerja sadar akan sanitasi lingkungan dan penanggulangan limbah, untuk perbaikan secara fisik menurut kami tidak begitu signifikan. Dimana kami simpulkan bahwa sanitasi dan penanggulangan limbah PT. Mega Andalan Kalasan cukup baik dan sesuai standar yang diatur dalam peraturan mentri perburuhan.

22