Anda di halaman 1dari 17

I.

MATERI/TOPIK YANG DIBAHAS DALAM PEMBELAJARAN

1. Responsibility dan accountability dalam praktik kebidanan 2. Perkembangan profesi pendidikan bidan serta perkembangan pelayanan kebidanan di Indonesia dan di berbagai negara 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan praktik kebidanan 4. Sistem penghargaan 5. Prinsip pengembangan karir bidan 6. Prospek tenaga bidan ke depan

II. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Mampu mengkaji, menganalisis, dan memahami responsibility dan accountability dalam praktik kebidanan 2. Mampu mengkaji, menganalisis, dan memahami perkembangan profesi pendidikan bidan serta perkembangan pelayanan kebidanan di Indonesia dan di berbagai negara 3. Mampu mengkaji, menganalisis, dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan praktik kebidanan 4. Mampu mengkaji, menganalisis, dan memahami sistem penghargaan, prinsip pengembangan karir bidan, dan prospek tenaga bidan ke depan

III. URAIAN DAN ANALISIS MATERI PEMBELAJARAN YANG DIBAHAS

1. Tanggung jawab (responsibility) dan tanggung gugat (accountability) dalam praktik kebidanan Tanggung jawab bidan: 1. Tanggung jawab terhadap peraturan perundang-undangan Bidan adalah salah satu tenaga kesehatan. Kegiatan praktik bidan dikontrak oleh undang-undang dan peraturan pemerintah. Oleh karena itu, bidan harus dapat mempertanggung jawabkan tugas dan kegiatan yang dilakukannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan tersebut. 2. Tanggung jawab terhadap pengembangan kompetensi Bidan memiliki tanggung jawab memelihara kemampuan profesionalnya. Bidan harus selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dengan cara mengikuti pelatihan, seminar, mengikuti pendidikan berkelanjutan, dan sebagainya. 3. Tanggung jawab terhadap penyimpanan catatan kebidanan Setiap bidan diharuskan mendokumentasikan kegiatannya dalam bentuk catatan tertulis mengenai pasien yang dilayaninya. Catatan tersebut harus dapat dipertanggung jawabkan bila terjadi gugatan dan juga dapat digunakan sebagai laporan untuk disampaikan kepada atasan. 4. Tanggung jawab terhadap keluarga yang dilayani Bidan bertanggung jawab memberi asuhan kepada ibu dan anak yang meminta pertolongan kepadanya. Bidan harus dapat mengidentifikasi masalah dan kebutuhan keluarga, memberi pelayanan dengan tepat dan sesuai dengan kebutuhan keluarga. Mengerahkan segala kemampuan pengetahuan, sikap, dan perilakunya dalam memberi pelayanan kesehatan. 5. Tanggung jawab terhadap profesi Bidan harus menerima tanggung jawab keprofesiannya, mematuhi dan berperan aktif dalam melaksanakan asuhan kebidanan. Ikut serta dalam kegiatan organisasi bidan dan badan resmi kebidanan, mencari informasi tentang perkembangan kebidanan untuk mengembangkan kemampuan keprofesiannya. 6. Tanggung jawab terhadap masyarakat Bidan turut bertanggung jawab dalam memecahkan masalah kesehatan masyarakat, berkewajiban memanfaatkan sumber daya yang ada untuk meningkatkan kesehatan masyarakat serta mampu memelihara kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat.

Tanggung gugat: Definisi tanggung gugat menurut kamus biasanya menggunakan kata seperti tanggung jawab, dapat dipertanggungjawabkan dan kewajiban. The United Kingdom Central Council for nursing, midwifery and health visiting (UKCC), dalam sebuah praktik kebidanan, menyatakan: Setiap bidan yang melaksanaka praktik kebidanan bertanggung gugat terhadap praktiknya dalam lingkungan praktik apapun. (UKCC, 1994). Kode tingkah laku profesional menyatakan : Setiap perawat, bidan dan penilik kesehatan yang sudah terdaftar seharusnya bertindak setiap waktu, dengan cara yang memperkuat kepercayaan dan keyakinan masyarakat. Untuk mempertahankan dan meningkatkan pemahaman dan reputasi profesi yang baik, untuk melayani kepentingan masyarakat, dan yang terpenting adalah untuk melindungi kepentingan individu pasien dan klien (UKCC : 1992). Kode etik bidan Indonesia: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kewajiban bidan terhadap klien dan masyarakat Kewajiban bidan terhadap tugasnya Kewajiban bidan terhadap sejawat dan tenaga kesehatan lainnya Kewajiban bidan terhadap profesinya Kewajiban bidan terhadap diri sendiri Kewajiban bidan terhadap pemerintah nusa, bangsa dan tanah air

Perbedaan mendasar responsibility dengan accountability adalah bahwa responsibility adalah tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh seorang bidan sedangkan accountability adalah pertanggung jawaban terhadap tanggung jawab tersebut. Seorang yang profesional tidak bisa lepas dari tanggung jawabnya. Terdapat tiga landasan kompetensi bidan yang harus dimiliki dalam melaksanakan praktik kebidanan yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

2. Perkembangan profesi pendidikan bidan pelayanan kebidanan di berbagai negara Di Indonesia Perkembangan pendidikan:

serta

perkembangan

Tahun 1851, pendidikan bidan dimulai pada masa penjajahan Hindia Belanda Tahun 1902, pendidikan bagi wanita pribumi dibuka kembali di Rumah Sakit Militer di Batavia Tahun 1904, pendidikan bidan bagi wanita Indonesia juga dibuka di Makassar Tahun 1911-1912, dimulai program pendidikan keperawatan secara terencanan di Rumah Sakit Umum Pusat Semarang dan Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo di Batavia Tahun 1914, peserta didik wanita mulai diterima untuk mengikuti program pendidikan tersebut Tahun 1935-1938, pemerintah colonial Belanda mulai membuka pendidikan bidan lulusan Mulo (setingkat SMP) dan pada waktu yang hamper bersamaan dibuka sekolah bidan dibeberapa kota besar Tahun 1950-1953, dibuka sekolah bidan untuk lulusan SMP dengan batasan usia minimal 17 tahun dan lama pendidikan tiga tahun. Di buka pendidikan pembantu bidan yang disebut Penjenang Kesehatan E (PK/E) atau Pembantu Bidan. Tahun 1953, dibuka Kursus Tambahan Bidan (KTB) di Yogyakarta. Lamanya kursus antara 7 sampai dengan 12 minggu. Tahun 1954, dibuka pendidikan guru bidan secara bersama-sama dengan guru perawat dan perawat kesehatan masyarakat di Bandung Tahun 1960, KTB dipindahkan ke Jakarta Tahun 1967, KTB ditutup Tahun 1970, dibuka program pendidikan bidan yang menerima lulusan dari Sekolah Pengatur Rawat (SPR) ditambah dua tahun pendidikan bidan yang disebut Sekolah Pendidikan Lanjutan Jurusan Kebidanan (SPLJK) Tahun 1974, sekolah bidan ditutup dan dibuka Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Tahun 1975 sampai 1984, institusi pendidikan bidan ditutup sehingga selama 10 tahun tidak menghasilkan bidan Tahun 1981, dibuka pendidikan diploma 1 kesehatan ibu dan anak untuk meningkatkan kemampuan perawat kesehatan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk kebidanan Tahun 1985, dibuak lagi Program Pendidikan Bidan (PPB) yang menerima lulusan dari SPR dan SPK

Tahun 1989, dibuka program pendidikan bidan secara nasional yang membolehkan lulusan SPK untuk langsung masuk program pendidikan bidan Tahun 1993, dibuka pendidikan bidan program B yang peserta didiknya dari lulusan akademi perawat dengan lama pendidikan satu tahun. Dibuka juga pendidikan bidan program C yang menerima murid lulusan SMP Tahun 1994, dilaksanakan pelatihan pelayanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal dengan materi pembelajaran berbentuk 10 modul Tahun 1994-1995, pemerintah juga menyelenggarakan pendidikan bidan jarak jauh di tiga provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Mulai tahun 1996 status bidan di desa adalah sebagai pegawai tidak tetap. Diharapkan pada tahun 1996, sebagian besar desa sudah memiliki minimal seorang bidan Tahun 1996, IBI bekerja sama dengan ANCM serta rumah sakit swasta mengadakan Training of Trainer LSS yang pesertanya adalah anggota IBI. Tahun 1995-1998, IBI bekerja sama dengan mother care melakukan pelatihan dan peer review bagi bidan rumah sakit, bidan puskesmas, serta bidan desa di provinsi Kalimantan Selatan. Tahun 1996-2000, dilaksanakan seminar dan lokakarya setiap tahun sebanyak dua kali dengan biaya dari UNICEF.

Perkembangan pelayanan: Pada zaman pemerintah Hindia belanda, angka kematian ibu dan anak sangat tinggi. Tenaga penolong persalinan adalah dukun Tahun 1807, para dukun dilatih untuk melakukan pertolongan persalinan tetapi keadaan ini tidak berlangsung lama karena tidak tersedianya pelatih kebidanan Tahun 1849, dibuka pendidikan Dokter Jawa di Batavia Tahun 1851, dibuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di Batavia Tahun 1952, mulai diadakan pelatihan bidan secara formal Tahun 1953, dilakukan kursus tambahan yang dikenal dengan istilah Kursus Tambahan Bidan (KTB) Tahun 1957, terbentuk puskesmas Tahun 1990, pelayanan kebidanan diberikan secara merata dan dekat dengan masyarakat, sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tahun 1994, Konferensi Kependudukan Dunia di Kairo yang menekankan pada kesehatan reproduksi dan memperluas area garapan bidan Bidan dalam melaksanakan peran, fungsi, dan tugasnya didasarkan pada kemampuan serta kewenangan yang diberikan. Kewenangan tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes). 6

Dalam melakukan tugasnya bidan melakukan kolaborasi, konsultasi, dan rujukan sesuai dengan kondisi pasien, kewenangan, serta kemapuannya. Perkembangan pelayanan kebidanan menuntut kualitas bidan yang handal dan profesional serta upaya pemantauan pelayanan.

Perkembangan Pelayanan dan Pendidikan Di Amerika (USA) Zaman dahulu kala di Amerika Serikat persalinan ditolong oleh dukun beranak yang tak berpendidikan, biasanya bila seorang wanita sukar melahirkan ahli obat menganjurkan supaya wanita itu diusir serta ditakuti agar rasa sakit bertambah dan kelahiran menjadi mudah karena kesakitan dan kesedihan. Kebidanan di Amerika Serikat hampir dirusak oleh pertentangan profesi medis. Imigran baru yang datang ke Amerika Serikat membawa serta bidan mereka, tapi ketika populasi makin sejahtera mereka mencari jasa dokter. Bidan sementara melanjutkan pada orang miskin, komunitas di bagian selatan dan New Mexico (Gaskin 1988). Mary Breckinridge telah melihat bidan bekerja di Eropa, di latih di Inggris sebelum kembali di Kentucky membentuk FNS (Frointher Nursing Service). Meskipun melayani populasi yang tidak baik, jasa bidan menunjukan hasil maternal dan bayi yang lebih baik (Haire 1990). Menurut catatan Thomas yang pertama kali berpraktik kebidanan di Amerika adalah Samuel Fuller dengan istrinya kemudian menjual kepada orang lain yang menaruh minat terhadap kebidanan yaitu Anne Hucthinson. Perkembangan pendidikan Nurse-Midwifery di USA dimulai pada tahun 1990 dan memperoleh akreditasi pada tahun 1935.

Di USA terdapat beberapa tipe jenjang pendidikan kebidanan diantaranya: 1. 2. 3. 4. 5. Certified Nurse Midwifery Direct Entry Midwife (DEM) Certified Midwifery Certified Profesional Midwives (CPM) Lay Midwives

Para bidan berperan seperti dokter, berpengalaman tanpa pendidikan yang spesifik, standar-standar, atau peraturan-paraturan sampai awal abad ke 20. Sekitar tahun 1700, para ahli memprediksikan angka kematian ibu di AS sebanyak 95% Tahun 1765, pendidikan formal untuk bidan mulai dibuka pada akhir abad ke 18 Antar tahun 1770 dan 1820, para perempuan golongan atas di kota-kota Amerika, mulai meminta bantuan para dokter Sekitar awal tahun 1990, setengah persalinan di As ditangani dokter, bidan hanya menangani persalinan perempuan yang tidak mampu membayar dokter

Tahun 1915, diberlakukannya protap pertolongan persalinan Tahun 1900-1930, akibat protap kematian ibu mencapai 600-700 kematian per 100.000 kelahiran hidup dan sebanyak 30-50% perempuan melahirkan di rumah sakit Tahun 1955, American College of Nurse-Midwives (ACNM) dibuka Tahun 1971, seorang bidan di Tennesse mulai menolong persalinan secara mandiri di institusi kesehatan Tahun 1979, masyarakat tertarik pada proses persalinan alamiah, persalinan di rumah, dan memacu peran bidan. Pada era 1980-an, ACNM membuat pedoman alternatif lain dalam homebirth. Dibuat legalisasi tentang praktif profesioanl bidan Tahun 1982, MANA (Midwive Alliance of North America) dibentuk guna meningkatkan komunikasi antar bidan serta membuat peraturan sebagai dasar kompetensi untuk melindungi bidan. Pendidikan kebidanan biasanya berbentuk praktik lapangan. Sampai saat ini mereka bisa menangani persalinan dengan pengalaman sebagai bidan. Saat ini, AS merupakan negara yang menyediakan perawatan maternitas termahal di dunia.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan praktik kebidanan 1. Filsafat yang dibuat oleh bidan 2. Industri 3. Struktur keluarga 4. Pendidikan 5. Bukti-bukti hasil penelitian 6. Derajat kesehatan 7. Undang-undang hukum pemerintah 8. Model asuhan 9. Agama 10. Konsumen 11. Politik dan budaya 12. Kekuatan sosial dan ekonomi 13. Hak-hak individu 14. Kependudukan 15. Rentang masalah kesehatan melebar 16. Masyarakat yang berkembang 17. Ilmu pengetahuan dan teknologi 18. Tuntutan profesi meningkat 19. Hak dan harapan wanita 20. Tanggung gugat profesional 21. Perlindungan masyarakat melalui peraturan profesional 22. Perlindungan masyarakat terhadap kalalaian 23. Hak untuk komplain 24. Perlindungan informasi klien

25. Bangunan dan praktik kerja yang aman 26. Menatalaksanakan risiko legal Terdapat juga faktor yang menurunkan derajat bidan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Perilaku religious Kebutuhan ekonomi Pengambil alihan tugas dan tanggung jawab oleh dokter Pendidikan yang tidak mendukung dan tidak adanya organisasi kebidanan Peningkatan jumlah imigran Status wanita yang direndahkan

4. Sistem penghargaan 1. Reward Penghargaaan yang diberikan kepada bidan tidak hanya dalam bentuk imbalan jasa, tetapi juga dalam bentuk pengakuan profesi dan pemberian kewenangan atau hak untuk menjalankan praktik sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Bidan di Indonesia memiliki organisasi profesi, yaitu Ikatan Bidan Indonesia (IBI) yang mengatur hak dan kewajiban serta penghargaan dan sanksi bagi bidan. Setiap bidan yang telah menyelesaikan pendidikan kebidanan berhak dan wajib menjadi anggota IBI. Setiap anggota memiliki beberapa hak 1. Anggota biasa Berhak mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh organisasi. Berhak mengemukakan pendapat, saran, dan usul untuk kepentingan organisasi. Berhak memilih dan dipilih. 2. Anggota luar biasa Dapat mengikuti kegiatan yang dilakukan organisasi. Dapat mengemukakan pendapat, saran, dan usul untuk kepentingan organisasi. 3. Anggota kehormatan Dapat mengemukakan pendapat, saran, dan usul untuk kepentingan organisasi. Menurut Gibson (1987) ada tiga faktor yang berpengaruh terhadap kinerja seseorang termasuk bidan, antara lain : 5. Faktor individu: kemampuan, keterampilan, latar belakang keluarga, pengalaaman, tingkat sosial, dan demografi seseorang. 6. Faktor psikologis: persepsi, peran, sikap, kepribadian, motivasi, dan kepuasan kerja. 7. Faktor organissasi: struktur organisasi, desain pekerjaan, kepemimpinan, dan sistem penghargaan (reward sistem). Tujuan dari adanya sistem penghargaan antara lain: a. Meningkatkan prestasi kerja staf, baik secara individu, maupun dalam kelompok setinggi-tingginya. Peningkatan prestasi kerja perorangan pada gilirannya akan mendorong kinerja staf. b. Merangsang minat dalam pengembangan pribadi dengan meningkatakan hasil kerja melalui prestasi pribadi. c. Memberikan kesempatan kepada staf untuk menyampaikan perasaannya tentang pekerjaan sehingga terbuka jalur komunitas dua arah antara pimpinan dan staf. Penghargaan yang diberikan kepada bidan diharapkan dapat memotivasi bidan untuk meningkatkan kinerja mereka. Bidan sebagai petugas kesehatan sering

10

berhadapan dengan masalah etik yang berhubungan dengan hukum. Masalah dapat diselesaikan dengan hukum, tetapi belum tentu dapat diselesaikan berdasarkan prinsip dan nilai etik.

1. Punishment/sanksi Sanksi merupakan imbalan negatif yang berupa pembebanan atau penderitaan yang ditentukan oleh hukum aturan yang berlaku. Sanksi berlaku bagi bidan yang melanggar kode etik bidan merupakan norma yang berlaku bagi anggota IBI dalam menjalankan praktik profesinya yang telah disepakati dalam kongres nasional IBI. Bidan yang melaksanakan pelayanan kebidanan tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku maka akan diberikan sanksi sesuai dengan Permenkes RI No. 1464/Menkes/PER/X/2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktik bidan. Dlam organisasi profesi kebidanan terdapat Majelis Pertimbangan Etika Bidan (MPEB) dan Majelis Pembelaan Anggota (MPA) yang memiliki tugas: a. merencanakan dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan ketetapan pengurus pusat b. melaporkan hasil kegiatatan bidang tugasnya secara berkala c. memberikan saran dan pertimbangan yang perlu dalam rangka tugas pengurus pusat d. membentuk tim teknis sesuai kebutuhan, tugas dan tanggung jawabnya ditentukan pengurus. MPEB dan MPA bertugas mengkaji, mengangani, dan mendampingi anggota yang mengalamai permasalahan dan praktik kebidanan sertamasalah hukum, kepengurusan MPEB dan MPA terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota.

2. Hak dan Kewajiban Bidan a. Hak Bidan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hak adalah kewenangan untuk berbuat sesuatu yang telah ditentukan oleh undang-undang atau aturan tertentu. Berdasarkan pertimbangan yang ada, seorang bidan berhak : 1. Memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan praktik sepanjang sesuai dengan standar. 2. Memperoleh informasi yang lengkap dan benar dan/atau keluarganya. 3. Melaksanakan tugas sesuai kewenangan dan standar 4. Menerima imbalan jasa profesi (Permenkes RI No. 1464/Menkes/PER/X/2010)

11

Dalam melaksanakan praktik atau kerja bidan berkewajiban : 1. menghormati hak pasien. 2. Memberikan informasi tentang masalah pasien dan pelayanan yang dibutuhkan. 3. Merujuk kasus yang bukan kewenangannya atau tidak dapat ditangani tepat waktu. 4. Meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan. 5. Menyimpan rahasia pasien sesuai dengan ketentuan perundangundangan. 6. Melakukan pencatatan asuhan kebidanan dan pelayanan lainnya secara sistematis. 7. Mematuhi standar. 8. melakukan pencatatan dan pelaporan penyelenggaraan praktik kebidanan termasuk pelaporan kelahiran dan kematian.

2. Hak dan Kewajiban Pasien a. Hak pasien Hak pasien adalah hak-hak pribadi yang dimiliki manusia sebagai pasien atau klien: 1. Pasien berhak menerima informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan. 2. Pasien berhak atas pelayanan yang manusiawi, adil dan jujur 3. Pasien berhak memperoleh pelayanan kebidanan sesuai dengan profesi bidan tanpa diskriminasi 4. pasien berhak menerima asuhan kebidanan sesuai dengan profesi bidan tanpa diskriminasi. 5. Pasien berhak memilih bidan yangakan menolongnya sesuai dengan keinginannya 6. Pasien berhak mendapatkan informasi yang meliputi kehamilan, persalinan, nifas, dan bayi yang baru dilahirkan. 7. Pasien berhak mendapat pendampingan suami atau keluarga selama proses persalinan berlangsung 8. Pasien berhak memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit. 9. Pasien berhak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat kritis dan pendapat etisnya tanpa campur tangan dari pihak luar. 10. Pasien berhak meminta konsultasi kepada dokter lain yang terdaftar di rumah sakit tersebut terhadap penyakit yang dideritanya dengan sepengetahuan dokter yang merawatnya. 11. Pasien berhak meminta atas privasi dan kerahasiaan penyakit yang dideritanya termasuk data-data medisnya. 12. Pasien berhak mendapat informasi yang meliputi : Penyakit yang diderita Tindakan kebidanan yang akan dilakukan Alternatif terapi lainnya Prognosa Perkiraan biaya pengobatan

12

13. Pasien berhak menyetujui/memberikan izin atas tindakan yang akan dilakukan oleh dokter sehubungan dengan penyakit yang dideritanya 14. Pasien berhak menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya dan mengakhiri pengobatan serta perawatan atas tanggung jawab diri sendiri sesudah memperoleh informasi yang jelas tentang penyakitnya 15. Pasien berhak didampingi keluarganya dalam keadaan kritis 16. pasien berhak menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya 17. Pasien berhak atas keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di rumah sakit 18. Pasien berhak menerima atau menolak bimbingan moral maupun spiritual 19. Pasien berhak mendapatkan perlindungan hukum atas terjadinya kasus malpraktik

b. Kewajiban Pasien 1. Pasien dan keluarganya berkewajiban mentaati segala peraturan dan tata tertib rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan 2. Pasien berkewajiban mematuhi segala instruksi dokter, bidan, perawat yang merawatnya. 3. Pasien dan/atau penanggung berkewajiban untuk melunasi semua imbalan atas jasa pelayanan rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan, dokter, bidan, dan perawat 4. Pasien dan/atau penanggungjawabnya berkewajiban memenuhi hal-hal yang selalu disepakati/ perjanjian yang telah dibuatnya.

13

5. Prinsip pengembangan karir bidan Pengembangan karir merupakan kondisi yang menunjukan adanya peningkatan jenjang jabatan dan jenjang pangkat bagi seorang pegawai negeri pada suatu organisasi dalam jalur karir yang telah ditetapkan dalam organisasinya. Pengembangan karir bidan meliputi karir fungsional dan karir struktural. Pada saat ini pengembangan karir bidan secara fungsional telah disiapkan dengan jabatan fungsional bagi bidan, serta melalui pendidikan berkelanjutan baik secara formal maupun non formal yang hasil akhirnya akan meningkatkan kemampuan professional bidan dalam melaksanakan fungsinya. Fungsi bidan nantinya dapat sebagai pelaksana, pendidik, peneliti, bidan koordinator dan bidan penyedia. Dalam mengantisipasi perkembangan saat ini, diperlukan tenaga kesehatan khususnya bidan yang berkualitas baik dari segi pengetahuan, keterampilan, dan profesionalitas.

Pengertian Karir Suatu proses yang tidak statis dan final, yakni pekerjaan seorang pegawai dalam organisasi, perjalanan itu dimulai sejak ia diterima sebagai pegawai baru dan berakhir pada saat ia tidak bekerja lagi.

Jabatan Karir Adalah jabatan dalam lingkungan birokrasi yang hanya dapat diduduki oleh PNS dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: 1. Jabatan Fungsional Adalah jabatan yang ditinjau serta dihargai dari aspek fungsinya yang vital dalam kehidupan masyarakat dan negara. Seseorang yang memilki jabatan fungsional berhak untuk mendapatkan tunjangan fungsional. Dapat dilihat bahwa jabatan bidan merupakan jabatan fungsional profesional sehingga berhak mendapat tunjangan profesional. Perkembangan karir bidan secara fungsional telah disiapkan dengan jabatan fungsional sebagai bidan serta melalui pendidikan berkelanjutan, baik secara formal maupun non formal, yang hasil akhirnya akan meningkatkan kemampuan profesional bidan dalam melaksanakan fungsinya. 2. Jabatan Struktural Karir bidan dalan jabatan struktural bergantung pada tempat bidan bertugas, apakah di rumah sakit, puskesmas, desa, atau institusi swasta. Karir tersebut dapat dicapai oleh bidan di tiap tatanan pelayanan kebidanan/kesehatan sesuai dengan tingkat kemampuan, kesempatan dan kebijakan yang ada. Diperlukan tenaga bidan yang berkualitas baik dari segi pengetahuan, keterampilan, dan profesionalisme. Pengembangan pendidikan bidan seyogyanya dirancang secara berkesinambungan, berjenjang, dan berkelanjutan. Belajar seumur hidup bagi bidan yang mengabdi di tengah masyarakat.

14

Mempertahankan profesionalisme dengan pendidikan berkelanjutan baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan nonformal. Pendidikan berkelanjutan Visi pendidikan berkelanjutan: Pada tahun 2010 seluruh bidan telah menerapkan pelayanan yang sesuai standar praktik bidan internasional dan dasar pendidikan minimal Diploma III kebidanan. Misi pendidikan berkelanjutan, mencakup: 1. Mengembangkan pendidikan berkelanjutan berbentuk sistem. 2. Membentuk unit pendidikan bidan di tingkat pusat, provinsi, daerah, kabupaten, dan cabang. 3. Membentuk tim pelaksana pendidikan berkelanjutan. 4. Mengadakan jaringan dan bekerjasama dengan pihak terkait. Tujuan pendidikan berkelanjutan: 1. Pemenuhan standar 2. Menigkatkan produktivitas kerja 3. Efisiensi 4. Meningkatkan kualitas pelayanan 5. Meningkatkan moral 6. Meningkatkan karier 7. Meningkatkan kemampuan konseptual 8. Meningkatkan keterampilan kepemimpinan 9. Imbalan (kompensasi) 10. Meningkatkan kepuasan konsumen Jenis pendidikan berkelanjutan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Seminar, lokakarya Magang Pengembangan (manajemen, hubungan interpersonal, komunitas) Keterampilan teknis untuk pelayanan Administrasi Lain-lain, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

15

6. Prospek tenaga bidan ke depan Sebagai bidan pelaksana, pengelola, pendidik, peneliti, koordinator, dan penyedia. Dalam jabatan struktural tergantung pada tempat dia bertugas, apakah di rumah sakit, di puskesmas, di desa, atau di institusi swasta. Tenaga kesehatan bidan dapat bekerja mandiri seperti yang diatur dalam SK Menkes No.900/MENKES/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktik bidan.

16

IV. DAFTAR PUSTAKA

Asrinah, dkk. 2010. Konsep Kebidanan. Yogyakarta: Graha Ilmu Henderson, Christine dan Kathleen Jones. 2006. Buku Ajar Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC. Marimbi, Hanum. 2008. Etika dan Kode Etik Profesi Kebidanan. Yogyakarta: Mitra Cendikia Press. Mufdlilah, dkk.2012. Konsep Kebidanan. Yogyakarta: Nuha Medika. Soepardan, Suryani. 2007. Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC. http://www.stikes.banisaleh.ac.id

17