Anda di halaman 1dari 13

I.

MATERI/TOPIK YANG DIBAHAS DALAM PEMBELAJARAN

1. Standar praktik kebidanan Di Indonesia menurut KEPMENKES 369 tahun 2007. 2. Standar praktik kebidanan di New Zealand. 3. Standar praktik kebidanan menurut ICM.

II. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Mengetahui dan memahami Standar praktik kebidanan Di Indonesia menurut KEPMENKES 369 tahun 2007. 2. Mengetahui dan memahami Standar praktik kebidanan di New Zealand. 3. Mengetahui dan memahami Standar praktik kebidanan menurut ICM. 4. Mengetahui perbedaan standar praktik kebidanan di Indonesia dan di New Zealand.

III. URAIAN DAN ANALISIS MATERI PEMBELAJARAN YANG DIBAHAS

Standar praktik kebidanan di Indonesia menurut KEPMENKES 369 tahun 2007.

a. STANDAR I : METODE ASUHAN

Asuhan kebidanan dilaksanakan dengan metode manajemen kebidanan dengan langkah: Pengumpulan data dan analisis data, penegakan diagnosa perencanaan pelaksanaan, evaluasi dan dokumentasi.

Definisi Operasional: 1. Ada format manajemen asuhan kebidanan dalam catatan asuhan kebidanan. 2. Format manajemen asuhan kebidanan terdiri dari: format pengumpulan data, rencana asuhan, catatan implementasi, catatan perkembangan, tindakan, evaluasi, kesimpulan dan tindak lanjut kegiatan lain.

b. STANDAR II : PENGKAJIAN

Pengumpulan data tentang status kesehatan klien dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. Data yang diperoleh dicatat dan dianalisis. Definisi Operasional : Ada format pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan secara sistematis, terfokus, yang meliputi data: 1. Demografi identitas klien 2. Riwayat penyakit terdahulu 3. Riwayat kesehatan reproduksi : a) Riwayat haid b) Riwayat bedah organ reproduksi c) Riwayat kehamilan dan persalinan d) Pengaturan kesuburan e) Faktor kongenital/keturunan yang terkait 4. Keadaan kesehatan saat ini termasuk kesehatan reproduksi 5. Analisis data

c. STANDAR III : DIAGNOSA KEBIDANAN

Diagnosa kebidanan dirumuskan berdasarkan analisis data yang telah dikumpulkan. Definisi Operasional : 1. Diagnosa kebidanan dibuat sesuai dengan hasil analisa data. 2. Diagnosa kebidanan dirumuskan secara sistematis.

d. STANDAR IV : RENCANA ASUHAN

Rencana asuhan kebidanan dibuat berdasarkan diagnosa kebidanan. Definisi Operasional :

1. Ada format rencana asuhan kebidanan. 2. Format rencana asuhan kebidanan berdasarkan diagnosa, berisi rencana tindakan, evaluasi dan tindakan

e. STANDAR V : TINDAKAN

Tindakan kebidanan dilaksanakan berdasarkan diagnosa, rencana dan perkembangan keadaan klien.

Definisi Operasional : 1. Ada format tindakan kebidanan dan evaluasi. 2. Tindakan kebidanan dilaksanakan sesuai dengan rencana dan perkembangan klien. 3. Tindakan kebidanan dilaksanakan sesuai dengan prosedur tetap dan wewenang bidan atau hasil kolaborasi. 4. Tindakan kebidanan dilaksanakan dengan menerapkan etika dan kode etik kebidanan.

5. Seluruh tindakan kebidanan dicatat pada format yang telah tersedia.

f.

STANDAR VI : PARTISIPASI KLIEN

Klien dan keluarga dilibatkan dalam rangka peningkatan pemeliharaan dan pemulihan kesehatan.

Definisi Operasional : 1. Klien/keluarga mendapatkan informasi tentang : a) Status kesehatan saat ini b) Rencana tindakan yang akan dilaksanakan c) Peranan klien/keluarga dalam tindakan kebidanan d) Peranan petugas kesehatan dalam tindakan kebidanan e) Sumber-sumber yang dapat dimanfaatkan 2. Klien dan keluarga dilibatkan dalam menentukan pilihan dan mengambil keputusan dalam asuhan. 3. Pasien dan keluarga diberdayakan dalam terlaksananya rencana asuhan klien.

g. STANDAR VII : PENGAWASAN

Monitor/pengawasan klien dilaksanakan secara terus menerus dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan klien. Definisi Operasional : 1. Adanya format pengawasan klien. 2. Pengawasan dilaksanakan secara terus menerus dan sistimatis untuk mengetahui perkembangan klien. 3. Pengawasan yang dilaksanakan dicatat dan dievaluasi.

h. STANDAR VIII : EVALUASI

Evaluasi asuhan kebidanan dilaksanakan terus menerus sesuai dengan tindakan kebidanan dan rencana yang telah dirumuskan. Definisi Operasional : 1. Evaluasi dilaksanakan pada tiap tahapan pelaksanaan asuhan sesuai standar. 2. Hasil evaluasi dicatat pada format yang telah disediakan.

i.

STANDAR IX : DOKUMENTASI

Asuhan kebidanan didokumentasikan dokumentasi asuhan kebidanan. Definisi Operasional :

sesuai

dengan

standar

1. Dokumentasi dilaksanakan pada setiap tahapan asuhan kebidanan. 2. Dokumentasi dilaksanakan secara sistimatis, tepat, dan jelas. 3. Dokumentasi merupakan bukti legal dari pelaksanaan asuhan kebidanan.

Standar praktik kebidanan di New Zealand.

a. STANDAR SATU

: Bidan bekerja dalam kemitraan dengan wanita.

b. STANDAR DUA

: Setiap bidan menjunjung tinggi hak perempuan untuk menentukan pilihan secara bebas.

c. STANDAR TIGA

: Bidan mendokumentasikan data-data secara komprehensif mengenai kesehatan dan kesejahteraan perempuan dan / atau bayi .

d. STANDAR EMPAT

: Bidan mempertahankan tujuan, memajukan, memperbaharui catatan dan bidan selalu siaga bagi wanita dan orang lain yang relevan.

e. STANDAR LIMA

: Perawatan kebidanan dengan wanita.

direncanakan

f. STANDAR ENAM

: prioritas tindakan kebidanan dilaksanakan secara tepat tanpa tindakan atau kelalaian yang menyebabkan risiko pada wanita.

g. STANDAR TUJUH

: Dalam praktiknya bidan bertanggung jawab kepada wanita, dirinya sendiri, profesi kebidanan dan masyarakat luas.

h. STANDAR DELAPAN : Bidan mengevaluasi kegiatan praktiknya.

i.

STANDAR SEMBILAN

: Bidan melakukan negosiasi penyelesaian kebidanan kemitraan dengan wanita.

j.

STANDAR SEPULUH

: Bidan mengembangkan berbagi pengetahuan dan memprakarsai serta mempromosikan riset kebidanan.

Mengetahui dan memahami definisi standar praktik kebidanan menurut ICM.

A norm/uniform reference point that describes the required level of achievement(performance)

Practice standard : Desirable and achievable level of achievement(performance) against which actual practice is compared.

Perbedaan Standar Praktik Kebidanan Di Indonesia Dan New Zealand

STANDAR

NEW ZEALAND

INDONESIA

Ada di Standar 6: partisipasi Bidan bekerja dalam klien dan keluarga dilibatkan kemitraan dengan dalam rangka peningkatan wanita. pemeliharaan dan pepemulihankesehatan Bidan menjunjung tinggi hak setiap wanita untuk memilih dengan bebas dan menyetujui pilihan selama kelahiran. Bidan mendokumentasikan data-data secara komprehensif mengenai kesehatan dan kesejahteraan perempuan dan / atau bayi Bidan mempertahankan tujuan, memajukan, memperbaharui catatan dan bidan selalu siaga bagi wanita dan orang lain yang relevan. Ada di standar 6 : Klien dan keluarga dilibatkan dalam menentukan pilihan dan mengambil keputusan dalam asuhan. Sama dengan standar 9 : Dokumentasi Asuhan kebidanandidokumentasikan sesuai dengan standar dokumentasi asuhan kebidanan. Sama dengan standar 7 : Pengawasan Monitor/pengawasan klien dilaksanakan secara terus menerus dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan klien.

Sama dengan standar 6 : Partisipasi Klien dan perawatan Kebidanan keluarga dilibatkan dalam direncanakan dengan rangka peningkatan wanita pemeliharaan dan pepemulihankesehatan prioritas tindakan kebidanan dilaksanakan secara tepat tanpa tindakan atau kelalaian yang menyebabkan risiko pada wanita. Sama dengan standar 5: Tindakan kebidanan dilaksanakan berdasarkan diagnose, rencana dan perkembangan keadaan klien

Dalam praktiknya bidan bertanggung jawab kepada wanita, dirinya sendiri, profesi kebidanan dan masyarakat luas. Sama dengan standar 8 : Evaluasi

Bidan mengevaluasi kegiatan praktiknya

Evaluasi asuhan kebidanan dilaksanakan terus menerus sesuai dengan tindakan kebidanan dan rencana yang telah dirumuskan. Ada di Standar 6: partisipasi klien dan keluarga dilibatkan dalam rangka peningkatan pemeliharaan dan pepemulihankesehatan

Bidan melakukan negosiasi penyelesaian kebidanan kemitraan dengan wanita Bidan mengembangkan berbagi pengetahuan dan memprakarsai serta mempromosikan riset kebidanan

10

Analisis: 1. Aspek finansial dan ekonomi mempengaruhi standar IX mengenai dokumentasi. Karena untuk melakukan dokumentasi kita memerlukan sarana dan prasarana yang mencakup dana. Perlu perincian dalam setiap pendokumentasian agar tidak terjadi penyelewengan.

2. Bidan dapat mengembangkan pengetahuannya dengan cara melakukan penelitian-penelitian yang berhubungan dengan ilmu kebidanan, ilmu budaya, dan sosial dasar.

3. Pada standar V mengenai tindakan pada poin ke 3, dijelaskan bahwa tindakan kebidanan dilaksanakan sesuaidengan prosedur tetap dan wewenang bidan atau hasil kolaborasi. Maksud dari prosedur tetap

10

adalah prosedur yang sesuai dengan institusi terkait. Institusi berhak menentukan prosedur tetap yang berpedoman pada teori-teori dan hukum-hukum yang mengatur. Pembuatan prosedur tetap mempertimbangkan kemampuan, kewenangan yang dimiliki institusi dan kondisi yang ada. Contoh: prosedur penanganan preklamsi di RSHS berbeda dengan RSUD Ujungberung.

4. Standar VI mengenai partisipasi klien.

a. Klien dan keluarga berperan dalam mengambil keputusan. Pemberi asuhan menjelaskan kondisi klien, menjelaskan tindakan yang akan dilakukan kepada klien secara rinci dan mampu meyakinkan klien untuk memilih alternatif terbaik (inform concern and choice). b. Bidan memberikan sumber-sumber yang bermanfaat kepada klien. Sumber-sumber tersebut meliputi pengarahan, pengetahuan tentang kebijakan pemerintah yang mendukung kesehatan ibu dan anak, pengetahuan dari lingkungan, media, dan semua yang berkaitan dengan kesehatan ibu. Hal tersebut bertujuan agar klien mendapatkan pelayanan yang terbaik.

5. Standar VII mengenai pengawasan. Pengawasan kepada klien dilaksanakan secara menyeluruh, berkelanjutan, dan selesai sesuai dengan kebutuhan klien.

6. Standar VIII mengenai evaluasi. Evaluasi dilaksanakan pada tiap tahapan pelaksanaan asuhan sesuai standar. Adapun tahapan-tahapan pelaksanaan asuhan adalah sebagai berikut: 7 langkah manajemen kebidanan menurut Helen Varney : 1. Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk menilai keadaan klien secara keseluruhan. 2. Menginterpretasikan diagnosis/masalah. data untuk mengidentifikasi

3. Mengidentifikasi diagnosis/masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya. 4. Menetapkan kebutuhan akan tindakan segera, konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, serta rujukan berdasarkan kondisi klien. 5. Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah-langkah sebelumnya. 11

6. Melaksanakan langsung asuhan secara efisien dan aman. 7. Mengevaluasi keefektifan asuhan yang diberikan dengan mengulang kembali manajemen proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif.

7. Pada standar praktik kebidanan di kepmenkes No.369 tahun 2007, standar IX mengenai dokumentasi. Dokumentasi adalah suatu proses pencatatan, penyimpanan informasi data atau fakta yang bermakna dalam suatu kegiatan (Peter Sali). Fungsi dan dokumentasi adalah :

1.

Mempunyai aspek legal

Dokumentasi ini dapat dimanfaatkan dalam suatu pengadilan, apabila ada masalah secara hukum. Tetapi, pada kasus dan keadaan tertentu, pasien boleh mengajukan keberatannya untuk menggunakan catatan tersebut dalam pengadilan sehubungan dengan haknya akan jaminan kerahasiaan data.

2.

Sebagai alat komunikasi antar tim kesehatan

Merupakan alat komunikasi bagi tenaga kebidanan walaupun para tenaga kebidanan berkomunikasi secara lisan tetapi catatan kebidanan diperlukan karena sifatnya permanen. Catatan dalam kebidanan ini berguna untuk : a. Koordinasi beberapa orang asuhan kebidanan yang diberikan oleh

b. Mencegah pemberian informasi yang berulang-ulang kepada pasien oleh anggota tim kesehatan lainnya c. Mengurangi kesalahan dan meningkatkan ketelitian dalam pelaksanaan asuhan kebidanan d. Membantu tenaga kebidanan menggunakan waktu yang sebaik-baiknya serta mencegah kegiatan tumpang tindih.

3.

Mempunyai aspek finansial ekonomi

Suatu berkas pencatatan mempunyai nilai ekonomi karena isinya dapat dijadikan bahan untuk menetapkan biaya pembayaran pelayanan di rumah sakit atau unit pelayanan lainnya. Tanpa bukti pencatatan tindakan maka pembayaran tidak dapat dipertanggungjawabkan.

12

4.

Bermanfaat untuk materi penelitian

Dengan mempelajari asuhan kebidanan dan pengobatan terhadap sejumlah pasien dengan penyakit yang sama maka informasi yang diperoleh akan membantu untuk mengatasi masalah yang dialami oleh pasien dengan penyakit yang sama.

4.

Mempunyai aspek jaminan mutu

Pencatatan pada klien yang lengkap dan akurat dan memberikan kemudahan bagi bidan dalam membantu menyelesaikan masalah klien. Dan untuk mengetahui sejauh mana masalah klien dapat teratasi dan sejauh mana masalah dapat diidentifikasi dan dimonitor melalui catatan yang akurat. IV. DAFTAR PUSTAKA

Kepmenkes No. 369/Menkes/SK/III/2007 Tentang Standar Profesi Bidan. Kusnadi,Dadang. 1996. Dokumentasi Catatan Medik (Rekam Medik). RS Budi Kemuliaan, Jakarta. New zealand college of midwife. Standards for practice. http://www.midwife.org. nz/index.cfm/1,181,html. Akses 10 Oktober 2012. www.internationalmidwives.org di akses pada 09 Oktober 2012

13