Anda di halaman 1dari 40

BAB I TUJUAN

Tujuan dari praktikum tubular reaktor ini yaitu : 1. Mencari data tentang sifat reaktor nyata. 2. Mencari residence time distribution dalam reaktor tubular. 3. Mencari dispersion number dalam reaktor tubular. 4. Mencari volume efektif dalam reaktor tubular.

BAB II DASAR TEORI


Reaktor kontinyu dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu Reaktor Alir Tangki Berpengaduk (RATB) atau Continous Stirred Tank Reaktor (CSTR) dan Reaktor Alir Pipa (RAP) atu Plug Flow Reaktor (PFR). Keduanya dapat dipasang single (tunggal) atau multiple (seri dan paralel). PFR merupakan reaktor yang mempunyai karakteristik dan memiliki cirri khas dimana perubahan konversi reaksi akan bertambah seiring dengan bertambahnya panjang reaktor. Perilaku ideal pada PFR adalah menyerupai aliran sumbat sehingga disini tidak terjadi pencampuran ke arah aksial dan semua molekul mempunyai waktu tinggal di dalam reaktor sama besar. Dalam PFR backmixing dapat terjadi secara incidental (Levenspiel, 1972).

2.1 Pengertian PFR Reaktor PFR (Plug Flow Reaktor) merupakan suatu reaktor berbentuk pipa yang beroperasi secara kontinyu. Dalam PFR selama operasi berlangsung bahan baku dimasukkan terus menerus dan produk reaksi akan dikeluarkan secara terus menerus sehinga disini tidak terjadi pencampuran ke arah aksial dan semua molekul mempunyai waktu tinggal di dalam reaktor sama besar. PFR biasa digunakan untuk mempelajari beberapa proses penting seperti reaksi termal dan reaksi kimia plasma dalam aliran gas yang cepat serta daerah katalisis. Dalam beberapa kasus, hasil yang didapat tidak hanya membantu kita dalam memahami karakteristik proses-proses kimia, tetapi juga dapat memberikan kita pengertian praktis dari proses-proses kimia yang penting. Di dalam PFR, fluida mengalir dengan perlakuan yang sama sehingga waktu tinggal () sama untuk semua elemen fluida. Fluida sejenis yang mengalir melalui reaktor ideal disebut plug. Saat plug mengalir sepanjang PFR, fluida bercampur sempurna dalam arah radial bukan dalam arah axial (dari arah depan atau belakang). Setiap plug dengan volumen berbeda

dinyatakan sebagai kesatuan yang terpisah-pisah (hampir seperti batck reaktor) saat dia mengalir turun melalui pipa PFR. Untuk keadaan tertentu kadang diperlukan pencampuran awal terhadap bahan baku sebelum diumpankan ke dalam reaktor. PFR beraliran aksial berukuran dengan rentang diameter 1-15 cm, sedangkan PFR beraliran radial mempunyai diameter besar hingga bermeter-meter. PFR sebagai reaktor tunggal dapat mempunyai panjang lebih dari 1000 meter yang dibentuk sedemikian rupa untuk menyesuaikan ruang. PFR juga dapat disusun secara berangkai dalam bentuk parallel ataupun seri (Wikipedia, 2007). Dalam PFR konsentrasi bahan baku tinggi pada saat masuk reaktor, selanjutnya akan menurun secara perlahan karena terkonversi menjadi produk di sepanjang pipa. Sebagai reaktor yang dioperasikan secara kontinyu makan dalam kondisi steady state pada PFR tidak terjadi akumulasi. Reaksi kimia berlangsung sepanjang pipa terjadi secara gradual, sehingga semakin panjang pipa konversi akan semakin tinggi. Namun tidak semudah ini menaikan konversi; pada awalnya kecepatan reaksi berlangsung secara cepat namun setelah panjang pipa tertentu jumlah reaktan akan berkurang dan kecepatan reaksi berlangsung lebih lambat dan akan makin lambat seiring panjangnya pipa. Dengan kenyataan tersebut unuk mencapai konversi 100% panjang pipa yang dibutuhkan adalah tak terhingga (dapat dilihat pada Gambar 2.1).

Jarak sepanjang reactor t


Gambar 2.1 Hubungan antara panjang reaktor dengan konversi dalam PFR

Beberapa hal penting mengenai PFR : 1) Perhitungan dalam PFR mengasumsikan tidak terjadi pencampuran kea rah aksial. 2) Katalisator dapat dimasukkan melaluin titik yang berbeda dari titik masukan, diharapkan reaksi lebih optimal dan penghematan. 3) PFR memiliki konversi yang lebih besar dibanding Continous Stirred Tank Reaktor (CSTR) dalam volume yang sama. Artinya, dengan waktu tinggal yang sama PFR memberikan hasil yang lebih besar disbanding CSTR.

PFR mempunyai kelebihan antara lain : 1) Tingkat perubahannya besar dalam setiap volumenya. 2) Bekerja dalam periode waktu yang cukup lama tanpa tenaga kerja sehingga upah produksi rendah. 3) Perpindahan kalornya baik sekali. 4) Operasinya terus-menerus. Selain itu juga mempunyai kekurangan antara lain : 1) Tingginya temperature yang tidak diinginkan dapat terjadi. 2) Proses pemberhentian dan perawatannya mahal.

2.2 Jenis-Jenis PFR Reaktor PFR ada bermacam-macam antara lain : 1) Reaktor Alir Pipa Biasanya berupa gas-gas,cair-cair dimana reaksi tidak

menimbulkan panas yang terlalu tinggi. Reaktor memiliki aliran plug flow yang optimal untuk kecepatan reaksi tetapi cukup sulit untuk alat transfer panasnya. 2) Reaktor Pipa Shell And Tube Seperti reaktor pipa di atas tetapi berupa beberapa pipa yang disusun dalam sebuah shell, reaksi berjalan di dalam pipa pipa dan pemanas/pendingin di shell. Alat ini digunakan apabila dibutuhkan

sistem transfer panas dalam reaktor. Suhu dan konversi tidak homogen di semua titik. 3) Fixed Bed Reaktor berbentuk pipa besar yang didalamnya berisi katalisator padat. Bisanya digunakan untuk reaksi fasa gas dengan katalisator padat. Apabila diperlukan proses transfer panas yang cukup besar biasanya berbentuk fixed bed multitube, dimana reaktan bereaksi di dalam tube2 berisi katalisator dan pemanas/pendingin mengalir di luar tube di dalam shell. 4) Fluidized Bed Reactor Biasanya digunakan untuk reaksi fasa gas katalisator padat dengan umur katalisator yang sangat pendek sehingga harus cepat diregenerasi. Atau padatan dalam reactor adalah reaktan yang bereaksi menjadi produk.

2.3 Skema Diagram PFR Cairan akan melalui PFR yang dapat dimodelkan sebagai mengalir melalui reaktor sebagai rangkaian jauh tipis koheren "colokan", masingmasing dengan komposisi yang seragam, bepergian dalam arah aksial dari reaktor, dengan masing-masing konektor memiliki komposisi yang berbeda dari yang sebelumnya dan setelah itu.Asumsi utama adalah bahwa sebagai plug mengalir melalui suatu PFR, fluida sempurna dicampur dalam arah radial tetapi tidak dalam arah aksial (maju atau mundur).

Gambar 2.2 Diagram skematik dari PFR

Setiap pasang volume diferensial dianggap sebagai entitas yang terpisah, efektif reaktor tangki sangat kecil terus diaduk, membatasi volume nol. Seperti mengalir menuruni PFR tubular, waktu tinggal () dari steker adalah fungsi dari posisinya dalam reaktor. Dalam PFR yang ideal, distribusi waktu tinggal karena itu merupakan Dirac delta fungsi dengan nilai yang sama.

2.4 Persamaan PFR Reaktor pipa ideal disebut plug flow reaktor karena aliran fuida di dalam reaktor ini menyerupai sumbat, Reaktan dan produk mengalir di dalam reactor sumbat dengan kecepatan yang benar-benar rata. Komposisi fluida yang mengalir bervariasi sepanjang arah aliran, sehingga neracca material suatu komponen ditinjau di dalam segmen volume (dV). Untuk mengetahui hubungan waktu reaksi dengan konsentrasi reaktan dalam PFR, terlebih dulu ditinjau neracca material pada reaktor, kemudian dilakukan integrasi, selanjutnya dihasilkan space time sebagai persamaan karakteristik PFR (Levenspiel, 1972).

Neraca material komponen A di dalam PFR massa masuk = massa keluar + massa akumulasi + massa hilang dalam reaksi Ditinjau : segmen volume dV FA = (FA + dFA) + 0 + (-rA) dV Dimana : dFA + d [FAo (1-XA)] = -FAo dXA FA = FA - FAo dXA + (-rA) dV FAo dXA = (-rA) dV Dengan mengintegrasikan segmen dV, hasil V adalah sebagian volume untuk PFR neraca keseluruhan.

Dimana: FA0 = laju umpan A yang bersifat konstan

CA0

2.5 Residence Time Distribution (RTD) Residence Time Distribution (RTD) dari suatu reaktor kimia adalah suatu fungsi distribusi yang menguraikan sejumlah waktu suatu unsur-unsur fluida di dalam reaktor. RTD digunakan untuk menandai pencampuran dan aliran di dalam reaktor serta untuk membandingkan perilaku reaktor nyata dengan model-model reaktor yang ideal. Hal ini bermanfaat, tidak hanya untuk memecahkan masalah pada reaktor yang ada, tetapi juga di dalam menaksir hasil konversi dari suatu reaksi serta untuk merancang reaktor. Teori dari RTD secara umum dimulai dengan tiga anggapan, yaitu : 1) Reaktor dalam keadaan steady-state. 2) Transportasi di lubang masuk dan keluar berlangsung hanya oleh pemompaan. 3) fluida incompressible (tak termampatkan).

RDT diukur dengan memasukkan suatu tracer yang tidak reaktif kedalam sistim di lubang masuk. Konsentrasi tracer itu diubah menurut suatu fungsi yang diketahui dan respon ditemukan dengan mengukur konsentrasi tracer di saluran keluar. Tracer yang dipilih mestinya tidak termodifikasi karakteristik fisik dari fluida (densitas dan viskositas sama) dan penambahan tracer juga mestinya tidak termodifikasi kondisi-kondisi yang hidrodinamik. Pada umumnya, pengamatan RTD ini dapat dilakukan dengan metode pulse atau metode step. Metode-metode lain memungkinkan, tetapi

memerlukan lebih banyak kalkulasi untuk menganalisa kurva RTD (Wikipedia, 2008).

2.5.1

Metode Pulse Metode ini memerlukan suatu pemasukan suatu volume yang sangat kecil dari tracer di lubang masuk dari reaktor, seperti mendekati fungsi delta dirac. Meski suatu injeksi pendek tak terbatas tidak bisa dihasilkan, dapat dilakukan jauh lebih kecil daripada waktu tinggal rata-rata bejana. Jika suatu massa dari tracer, dimasukkan ke dalam suatu reaktor dari volume dan suaty waktu tinggal yang diharakan dari , hasil kurva dari konsentrasi terhadap waktu dapat diubah menjadi suatu kurva RTD dengan hubungan sebagai berikut :

Kurva ideal yang dihasilkan pada metode pulse untuk reaktor jenis PFR ialah sebagai berikut : C

t
Gambar 2.3 Kurva ideal konsentrasi terhadap waktu dengan metode pulse

2.5.2

Metode Step Di dalam suatu metode step, konsentrassi tracer di lubang masuk reaktor berubah secara tiba-tiba dari nol ke konsentrasi tertentu. Konsentrasi tracer di saluran keluar diukur dan yang

dinormalkan ke konsentrasi tertentu untuk memperoleh kurva yang tidak dimensional. Berikut ialah persamaan dari metode step :

dCstep

Kurva ideal yang dihasilkan pada metode step untuk reaktor jenis PFR ialah sebagai berikut : C

t
Gambar 2.4 Kurva konsentrasi terhadap waktu dengan metode step

2.6 Variansi Pengamatan variansi berfungsi untuk mengetahui tingkat kelebaran dari suatu kurva distribusi, dalam hal ini ialah kurva RTD dari metode pulse. Variansi dari kurva RTD dengan menggunakan metode pulse ini dapat digunakan untuk mengindentifikasi bentuk sumbat (plug) yang terjadi dari suatu aliran fluida. Variansi dinyatakan dengan lambing
2

. Suatu PFR yang

ideal, yaitu alirannya benar-benar sumbat mempunyai nilai variansi nol. Dengan kata lain semakin kecil nilai variansi dari suatu kurva RTD maka semakin menyerupai dengan karakteristik dari reaktor jenis PFR (Levenspiel, 1972). Variansi dari suatu kurva RTD dapat dihitung dengan menggunakan rumus di bawah ini :
2

2.7 Dispersion Number Menurut Levenspiel (1972), dispersion number merupakan bilangan tak berdimensi. Dispersion number sering digunakan untuk mengetahui terjadinya backmixing di dalam suatu reaktor jenis PFR. Dispersion number dikembangkan dengan (D/ ). Berikut ialah persamaan yang sering

digunakan untuk dispersion number. ( )

Dari nilai dispersion number dapat diketahui tingkat error atau backmixing yangterjadi pada suatu aliran fluida di dalam reaktor jenis PFR. Beriktu adalah tingkat error dan nilai dispersion number: Error < 5% jika ( ) < 0,01 Error < 0,5% jika ( ) < 0,001

2.8 Sifat Aliran Dalam aliran kondisi mantap (steady state) dikenal dua rejim aliran atau pola aliran yang tergantung kepada kecepatan rata-rata aliran (v), densitas ( ), viskositas fluida ( ) dan diameter pipa (D). kedua rejim alirantersebtu diatur oleh hokum-hukum yang berbeda sehingga perlu dipelajari secara keseluruhan.

2.8.1

Rejim Aliran Laminer Rejim aliran laminer mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1) Terjadi pada kecepatan rendah 2) Fluida cenderung mengalir tanpa adanya pencampuran lateral 3) Berlapis-lapis seperti kartu 4) Tidak ada arus tegak lurus arah aliran 5) Tidak ada pusaran (arus eddy)

2.8.2

Rejim Aliran Transisi Rejim aliran yang terbentuk di antara rejim laminar dan turbulen adalah rejil transisi. Penentuan rejim aliran dilakukan dengan menentukan bilangantak berdimensi yaitu bilangan Reynolds (Reynolds Number, NRe). Bilangan Reynolds merupakan

perbandingan antara garis dinamis dari aliran massa terhadap tegangan geser yang disebabkan oleh viskositas cairan.

2.8.3

Rejim Aliran Turbulen Rejim aliran turbulen mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1) Terjadi pada kecepatan rendah 2) Fluida cenderung mengalir tanpa adanya pencampuran lateral 3) Berlapis-lapis seperti kartu 4) Tidak ada arus tegak lurus arah aliran 5) Tidak ada pusaran (arus eddy)

BAB III METODOLOGI


1.1 Kalibrasi Laju Alir Isi tangki penampung (pipa) penuh dengan air

Buka valve sirkulasi, tutup valve utama, buka penuh valve keluaran.

Buka valve utama terbuka, lakukan pengukuran debit di saluran keluaran.

Ulangi langkah di atas dengan bukaan , , dan terbuka penuh

1.2 Tahap Karakterisasi 1.2.1 Metode Pulse Isi penuh volume reactor dengan air yang berasal dari saluran utama (umpan 1)

Alirkan tracer dengan volume tertentu, segera tutup kembali.

Membuka valve utama saluran injeksi Sampling dilakukan pada beberapa buah wadah plastik

Secara bersamaan lakukan sampling di bagian keluaran reactor.

Hasil sampling ukur absorbansinya, bandingkan dengan tabung reaksi yang telah diisi berbagai macam konsentrasi tracer

Cocokkan warnanya

Buat kurva hubungan antara konsentrasi dengan waktu

1.2.2

Metode Step Isi penuh volume reactor dengan air yang berasal darisaluran utama (umpan 1)

Masukkan Tracer secara kontinyu dengan cara membuka valve utama saluran injeksi.

Secara bersamaan lakukan beberapa sampling di bagian keluaran reaktor

Cocokkan warna sampling dengan warna tracer yang telah disediakan dalam beberapa konsentrasi

Buat kurva hubungan antara konsentrasi sampling dengan waktu keluaran reaktor

1.3 Alat yang Digunakan 1. Reaktor pipa dengan bahan plexy glass berdiameter 16 mm dan panjang 4,034 m 2. Gelas ukur 500 ml 3. Wadah plastik

1.4 Bahan yang Digunakan 1. Air 2. Pewarna makanan

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


4.1 METODE PULSE 4.1.1 Kurva Hubungan Konsentrasi terhadap Waktu

Kurva Hubungan Konsentrasi terhadap Waktu pada Metode Pulse


350 300 Konsentrasi (ppm) 250 200 150 100 50 0 0 5 Waktu (s) 10 15 Laminer Transisi Turbulen

Kurva Hubungan Konsentrasi terhadap Waktu pada Aliran Laminer


350 300 Konsentrasi (ppm) 250 200 150 100 50 0 0 2 4 6 Waktu (s) 8 10 12

Kurva Hubungan Konsentrasi terhadap Waktu pada Aliran Transisi


200 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 0 2 4 6 8 Waktu (s) 10 12 14 16 Konsentrasi (ppm)

Kurva Hubungan Konsentrasi terhadap Waktu pada Aliran Turbulen


300 Konsentrasi (ppm) 250 200 150 100 50 0 0 2 4 6 8 Waktu (s) 10 12 14

4.1.2

Kurva Hubungan Konsentrasi terhadap t.C

Kurva Hubungan Konsentrasi terhadap t.C pada Aliran Laminer


1400 1200 Konsentrasi (ppm) 1000 800 600 400 200 0 0 2 4 6 Waktu (s) 8 10 12

Kurva Hubungan Konsentrasi terhadap t.C pada Aliran Transisi


1600 1400 Konsentrasi (ppm) 1200 1000 800 600 400 200 0 0 2 4 6 8 10 Waktu (s) 12 14 16

Kurva Hubungan Konsentrasi terhadap t.C pada Aliran Turbulen


1800 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 0 5 10 Waktu (s) 15 20 25 Konsentrasi (ppm)

4.1.3

Kurva Hubungan Konsentrasi terhadap t2.C

Kurva Hubungan Konsentrasi terhadap t2C pada Aliran Laminer


7000 6000 Konsentrasi (ppm) 5000 4000 3000 2000 1000 0 0 2 4 6 Waktu (s) 8 10 12

Kurva Hubungan Konsentrasi terhadap t2C pada Aliran Transisi


14000 12000 Konsentrasi (ppm) 10000 8000 6000 4000 2000 0 0 2 4 6 8 10 Waktu (s) 12 14 16

Kurva Hubungan Konsentrasi terhadap t2C pada Aliran Turbulen


12000 Konsentrasi (ppm) 10000 8000 6000 4000 2000 0 0 5 10 Waktu (s) 15 20 25

4.2 METODE STEP 4.2.1 Kurva Hubungan Konsentrasi terhadap Waktu

Kurva Hubungan Konsentrasi terhadap Waktu pada Metode Step


25 Konsentrasi (ppm) 20 15 Laminer 10 5 0 0 100 200 Waktu (sekon) 300 400 Transisi Turbulen

Kurva Hubungan Waktu terhadap Perubahan Konsentrasi pada Aliran Laminer


16 14 12 10 8 6 4 2 0 0 50 100 150 Konsentrasi (ppm) 200 250

Waktu (s)

Kurva Hubungan Waktu terhadap Perubahan Konsentrasi pada Aliran Transisi


16 14 12 10 8 6 4 2 0 0 50 100 150 200 Konsentrasi (ppm) 250 300 350

Waktu (s)

Kurva Hubungan Waktu terhadap Perubahan Konsentrasi pada Aliran Turbulen


25 20 Waktu (s) 15 10 5 0 0 50 100 150 200 Konsentrasi (ppm) 250 300

4.3 Pembahasan Paada praktikum tubular reaktor ini pada prinsipnya menggunakan metode PFR (Plug Flow Reactor). Dimana fluida dialirkan pada pipa lurus dengan arah aliran horizhontal. Fluida yang digunakan berupa air yang dicampur dengan pewarna. Dimana yang akan dicatat adalah variasi konsentrasi warna dengan waktu, dan yang akan dihitung adalah RTD, volume efektif dan dispersion number. Untuk menghitung tiga variabel tersebut digunakan dua metode yakni metode pulse dan metode step. Prinsip metode pulse yaitu dengan menginjeksikan pewarna dengan volume yang sangat kecil. Didapat nilai RTD untuk aliran laminer 5,076 s; transier 7,411 s dan turbulen 8,528 s , nilai ini menandai pencampuran dan aliran di dalam reaktor sehingga dapat membandingkan waktu dari reaktor nyata dengan reaktor ideal. Dari hasil percobaan didapat bahwa semakin besar laju alir maka nilai RTD semakin besar. Volume efektif untuk aliran laminer 0,477 m3; transier 0,767 m3 dan turbulen 1,381 m3. Dispersion number untuk aliran laminer 0,501; transier 0,515 dan turbulen 0,374. Dispersion number menunjukkan tingkat error yang terjadi pada reaktor. Dari nilai tersebut semua aliran fluida di dalam reaktor PFR ini memiliki tingkat error lebih dari 5%. Prinsip metode step yaitu dengan meng-injeksikan pewarna secara kontinyu berbeda dengan metode pulse. Sama seperti metode pulse nilai dari RTD dipengaruhi oleh laju alir, yaitu semakin besar laju alir fluida semakin besar pula nilai RTD. Untuk nilai RTD dari metode step relatif lebih besar dibanding metode pulse. Untuk nilai dari volume efektif dipengaruhi laju alir dan RTD sama seperti metode pulse. Tetapi nilai dari volume efektif menggunakan metode step cenderung lebih besar.

BAB V KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum tubular reactor ini yaitu : 1. Nilai dari volume efektif reaktor nyata berbeda dengan nilai volume reaktor ideal. 2. Nilai RTD : Jenis Aliran Laminer Transier Turbulen Metode Pulse 4, 294 s 7,667 s 10,919 s Metode Step 5,076 s 7,411 s 8,528 s

3. Nilai dispersion number, laminer 0,501; transier 0,515 dan turbulen 0,374. 4. Nilai volume efektif : 0,477 m3; transier 0,767 m3 dan turbulen 1,381 m3. Jenis aliran Laminer Transier Turbulen Metode Pulse Metode Step 0,477 m3 0,767 m3 1,381 m3

DAFTAR PUSTAKA
Levenspiel, Octave.1972. Chemical Reaction Engineering. Canada: John Willey & Sons, Inc. Rahayu, E. S. dan Widyanti, E. M. 2001. Teknik Reaksi Kimia. Bandung: Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung. University oh Michigan. 2008. Distribution of Residence Times for Chemical Reaktors (on line). Wikipedia. 2012. Residence Time Distribution (on line).

http://en.wikipedia.org/wiki/Residence_Time_Distribution. 2008.

(September)

LAMPIRAN A DATA PENGAMATAN


A.1 Dimensi Reaktor D = 15,5 mm = 0,0155 m L = 4,05 m

A.2 Pengukuran Laju Alir A.2.1 Umpan Pulse


Jenis Aliran Laminer Transisi Turbulen Volume (ml) 500 500 500 Waktu (s) 6.97 6.33 5.18 Laju Alir (ml/s) 71.74 78.98 96.52 Laju alir (m3/s) 7.174x10-5 7.898x10-5 9.652x10-5

A.2.2 Umpan Step


Bukaan Valve Bukaan 1 Bukaan 2 Bukaan 3 Volume (ml) 500 500 500 Waktu (sekon) 7.36 5.54 4.53 Laju Alir (ml/s) 67.93 90.25 110.37 Laju alir (m3/s) 6.793x10-5 9.025 x10-5 1.10x10-4

A.3 Perubahan Konsentrasi Pada Aliran Laminer A.3.1 Metode Pulse


Waktu, t (s) 1.14 1.74 2.45 3.07 Konsentrasi, C (ppm) 5 145 245 230

3.58 4.13 4.66 5.19 5.7 6.2 6.58 7.01 7.61 8.12 8.57 9.04 9.55 10.1 10.58 11.08

215 295 175 215 145 145 90 20 20 20 20 20 20 20 20 15

A.3.2 Metode Step


Waktu, t (s) 0.9 1.48 1.98 2.57 3.17 3.81 4.4 5.06 5.8 6.38 6.96 7.79 8.56 9.18 9.83 Konsentrasi, C (ppm) 5 10 15 20 30 100 125 135 155 180 205 210 210 210 210

10.41 11.07 11.72 12.43 13.39

210 210 210 210 210

A.4 Perubahan Konsentrasi Pada Aliran Transisi A.4.1 Metode Pulse


Waktu, t (s) 0.83 1.65 2.44 3.18 3.75 4.46 5.18 5.86 6.55 7.15 7.77 8.52 9.19 9.87 10.48 11.21 11.86 12.51 13.2 13.79 Konsentrasi, C (ppm) 20 20 20 20 20 100 140 125 125 120 190 70 40 50 35 30 20 15 15 15

A.4.2 Metode Step


Waktu, t (s) 1.13 1.67 Konsentrasi, C (ppm) 10 10

2.32 2.87 3.44 4.07 4.74 5.33 5.93 6.56 7.11 7.68 8.4 9.03 9.66 10.25 10.86 11.4 12.02 12.68 13.25 14.02 14.86

10 10 15 15 15 30 55 90 110 145 205 210 225 250 280 300 300 300 300 300 300

A.5 Perubahan Konsentrasi Pada Aliran Turbulen A.5.1 Metode Pulse


Waktu, t (s) 0.92 1.54 2.07 2.68 3.28 3.86 4.45 5.08 5.7 Konsentrasi, C (ppm) 10 15 20 55 120 125 175 235 280

6.31 6.89 7.46 8.05 8.62 9.16 9.75 10.34 10.88 11.42 11.98

225 30 30 10 10 10 5 5 5 5 5

A.5.2 Metode Step


Waktu, t (s) 0.91 1.9 2.65 3.39 4.21 4.83 5.68 6.31 6.9 7.54 8.18 8.75 9.35 10.06 10.68 11.41 12.02 12.63 13.25 13.86 Konsentrasi, C (ppm) 5 5 5 5 10 10 10 15 20 20 30 35 45 90 135 150 180 200 210 210

14.56 15.21 15.8 16.46 17.3 18.13 18.9 19.44 20.19

250 260 260 260 260 260 260 260 260

LAMPIRAN B PENGOLAHAN DATA


B.1 METODE PULSE B.1.1 Perhitungan Space Time ()

a) Aliran Laminer

b) Aliran Transisi

c) Aliran Turbulen

B.1.2 Perhitungan Luas di Bawah Kurva a) Aliran Laminer


Waktu, t (s) 1.14 1.74 2.45 3.07 3.58 4.13 4.66 5.19 5.7 Konsentrasi, C (ppm) 5 145 245 230 215 295 175 215 145 t.C 5.7 252.3 600.25 706.1 769.7 1218.35 815.5 1115.85 826.5 t2.C 6.498 439.002 1470.613 2167.727 2755.526 5031.786 3800.23 5791.262 4711.05

6.2 6.58 7.01 7.61 8.12 8.57 9.04 9.55 10.1 10.58 11.08

145 90 20 20 20 20 20 20 20 20 15

899 592.2 140.2 152.2 162.4 171.4 180.8 191 202 211.6 166.2

5573.8 3896.676 982.802 1158.242 1318.688 1468.898 1634.432 1824.05 2040.2 2238.728 1841.496

b) Aliran Transisi
Waktu, t (s) 0.83 1.65 2.44 3.18 3.75 4.46 5.18 5.86 6.55 7.15 7.77 Konsentrasi, C (ppm) 20 20 20 20 20 100 140 125 125 120 190 t.C 16.6 33 48.8 63.6 75 446 725.2 732.5 818.75 858 1476.3 t2.C 13.778 54.45 119.072 202.248 281.25 1989.16 3756.536 4292.45 5362.813 6134.7 11470.85

8.52 9.19 9.87 10.48 11.21 11.86 12.51 13.2 13.79

70 40 50 35 30 20 15 15 15

596.4 367.6 493.5 366.8 336.3 237.2 187.65 198 206.85

5081.328 3378.244 4870.845 3844.064 3769.923 2813.192 2347.502 2613.6 2852.462

c) Aliran Turbulen
Waktu, t (s) 0.92 1.54 2.07 2.68 3.28 3.86 4.45 5.08 5.7 6.31 6.89 7.46 8.05 Konsentrasi, C (ppm) 10 15 20 55 120 125 175 235 280 225 30 30 10 t.C 9.2 23.1 41.4 147.4 393.6 482.5 778.75 1193.8 1596 1419.75 206.7 223.8 80.5 t2.C 8.464 35.574 85.698 395.032 1291.008 1862.45 3465.438 6064.504 9097.2 8958.623 1424.163 1669.548 648.025

8.62 9.16 9.75 10.34 10.88 11.42 11.98

10 10 5 5 5 5 5

86.2 91.6 48.75 51.7 54.4 57.1 59.9

743.044 839.056 475.3125 534.578 591.872 652.082 717.602

B.1.3 Perhitungan RTD

a) Aliran Laminer

b) Aliran Transisi

c) Aliran Turbulen

B.1.4 Perhitungan Variansi

a) Aliran Laminer

b) Aliran Transisi

c) Aliran Turbulen

B.1.5 Perhitungan Volume Efektif

a) Aliran Laminer

b) Aliran Transisi

c) Aliran Turbulen

B.1.6 Perhitungan Dispersion Number [ ]

a) Aliran Laminer [ ]

b) Aliran Transisi [ ]

c) Aliran Turbulen [ ]

B.2

METODE STEP B.2.1 Perhitungan Space Time ()

a) Aliran Laminer b) Aliran Transisi c) Aliran Turbulen

B.1.2 Perhitungan Luas di Bawah Kurva a) Aliran Laminer


Waktu, t (s) 0.9 1.48 1.98 2.57 3.17 3.81 4.4 5.06 5.8 6.38 6.96 7.79 8.56 9.18 9.83 10.41 11.07 11.72 12.43 13.39 Konsentrasi, C (ppm) 5 10 15 20 30 100 125 135 155 180 205 210 210 210 210 210 210 210 210 210 t.C 4.5 14.8 29.7 51.4 95.1 381 550 683.1 899 1148.4 1426.8 1635.9 1797.6 1927.8 2064.3 2186.1 2324.7 2461.2 2610.3 2811.9

b) Aliran Transisi
Waktu, t (s) 1.13 Konsentrasi, C (ppm) 10 t.C 11.3

1.67 2.32 2.87 3.44 4.07 4.74 5.33 5.93 6.56 7.11 7.68 8.4 9.03 9.66 10.25 10.86 11.4 12.02 12.68 13.25 14.02 14.86

10 10 10 15 15 15 30 55 90 110 145 205 210 225 250 280 300 300 300 300 300 300

16.7 23.2 28.7 51.6 61.05 71.1 159.9 326.15 590.4 782.1 1113.6 1722 1896.3 2173.5 2562.5 3040.8 3420 3606 3804 3975 4206 4458

c) Aliran Turbulen
Waktu, t (s) 0.91 1.9 2.65 Konsentrasi, C (ppm) 5 5 5 t.C 4.55 9.5 13.25

3.39 4.21 4.83 5.68 6.31 6.9 7.54 8.18 8.75 9.35 10.06 10.68 11.41 12.02 12.63 13.25 13.86 14.56 15.21 15.8 16.46 17.3 18.13 18.9 19.44 20.19

5 10 10 10 15 20 20 30 35 45 90 135 150 180 200 210 210 250 260 260 260 260 260 260 260 260

16.95 42.1 48.3 56.8 94.65 138 150.8 245.4 306.25 420.75 905.4 1441.8 1711.5 2163.6 2526 2782.5 2910.6 3640 3954.6 4108 4279.6 4498 4713.8 4914 5054.4 5249.4

B.1.3 Perhitungan RTD

a) Aliran Laminer

b) Aliran Transisi

c) Aliran Turbulen

B.1.4 Perhitungan Volume Efektif Reaktor

a) Aliran Laminer

b) Aliran Transisi

c) Aliran Turbulen