Anda di halaman 1dari 10

Identifikasi Kondisi Eksisting Kawasan Lindung Prov.

Jawa Barat (5 Kabupaten : Bandung, Bogor, Ciamis, Cianjur, Sumedang)


PENDAHULUAN Tingkat perkembangan dan kemajuan dari semua aspek kehidupan saat ini diikuti dengan berbagai dampaknya, baik dampak positif maupun negatif yang bermuara kearah kerusakan dan kehancuran tatanan kehidupan. Perkembangan di era globalisasi yang berorientasi pada konsentrasi peningkatan ekonomi, ternyata telah memberikan dampak besar terhadap proses penghancuran ketahanan ekosistem di Jawa Barat. Pembalakan liar dan alih fungsi lahan hutan menjadi tambang maupun lahan pertanian dan permukiman, menjadi super prioritas perhatian untuk segera di sikapi dengan tindakan nyata maupun menyiapkan legal aspek, sebagai payung hukum menuju tindakan perubahan paradigma perlindungan terhadap keberadaan dan kejelasan kawasan sumberdaya hutan, dan kawasan yang berfungsi lindung lainnya secara permanen dan memberikan manfaat berkelanjutan. Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, kawasan lindung merupakan kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam, sumberdaya buatan dan nilai sejarah serta budaya budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelamjutan. Kawasan lindung hutan mencakup hutan konservasi (Cagar Alam, Taman Buru, Taman Hutan Raya, Taman Wisata Alam, Suaka Margasatwa, Taman Nasional, dan Kawasan Pelestarian Alam lainnya), hutan lindung dan hutan produksi yang dipengaruhi oleh kemiringan lereng, jenis tanah dan curah hujan. Sedangkan kawasan lindung diluar kawasan hutan meliputi pemanfaatan kebun, pertanian lahan kering, lading/tegalan serta pemanfaatan non-kawasan hutan lainnya seperti sempadan sungai, pantai dan sekitar waduk dan situ. Penetapan kawasan lindung pada kawasan-kawasan tersebut secara prinsip tidak mengubah pemanfaatan lahan eksisting, karena yang mengontrol kawasan lindung adalah daerah aliran sungai (DAS). Namun walaupun demikian, dalam rangka memantapkan fungsi lindung dari kawasan tersebut maka perlu diterapkan bentuk dan pola pemanfaatan yang mengacu pada keseksamaan DAS yang meliputi DAS Makro, Sub DAS dan DAS Mikro melalui tekhnik-tekhnik

konservasi lahan dan mitogasi fisik serta yang tidak kalah pentingnya adalah pengembangan pola community development sebagai yang tidak terpisahkan dalam pengelolaan kawasan lindung diluar kawasan hutan. Dengan demikian, pengelolaan kawasan tersebut pada akhirnya akan bergerak pada sekitar waduk, daerah pantai dan perlindungan lainnya. Data Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat menunjukkan bahwa dari luas total wilah Propinsi Jawa Barata adalah 3.403.992 ha, luas kawasan hutannya adalah sebesar 816.603 Ha (SK MENHUT NO. 195/KPTS-II/2003), luas lahan untuk perlindungan mata air sebesar 24.558,847 Ha, bantaran sungai seluas 3.349,08 Ha, daerah tebing seluas 805 ha, sekitar waduk seluas 775.5 ha, daerah pantai seluas 10426 ha dan perlindungan lainnya seluas 2235.36 ha. Luasan kawasan pantai dengan dominasi hutan bakau saat ini kondisinya dalam keadaan rusak mencapai 15.275,51 ha. Kondisi geografis Jawa Barat dilihat dari kekhasan topografi dengan komposisi berbukit-bukit dan bergunung-gunung, menjadi sangat strategis dengan kelengkapan posisi dari daerah dataran rendah di utara, sampai daerah selatan di dominasi kawasan yang berbukit-bukit dengan sedikit pantai serta dataran tinggi bergunung-gunung ada di kawasan tengah. Selain itu Jawa Barat memiliki lahan subur yang berasal dari endapan vulkanis serta banyaknya aliran sungai yang fungsi utamanya sebagian besar digunakan untuk pertanian. Hal ini yang menjadikan Jawa Barat ditetapkan sebagai lumbung pangan nasional. Menurut proyeksi BAPPEDA Propinsi Jawa Barat, sampai denga tahun 2010 luas hutan, kawasan industri dan permukiman cenderung untuk meluas, sedangkan lahan kering dan lahan basah cenderung berkurang. Iklim di Jawa Barat adalah tropis, dengan suhu 90C di Puncak Gunung Pangrango dan 340 C di Pantai Utara, curah hujan rata-rata 2.000 mm pertahun (kategori rendah), namun dibeberapa daerah pegunungan antara 3.000 sampai 5.000 mm per tahun (kategori sangat tinggi). Bogor merupakan daerah yang memiliki data curah hujan tertinggi di Jawa Barat. Kecenderungan perubahan iklim saat ini semakin terasa dampaknya, dan perlu untuk segera dilakukan antisipasi tekhnis. Hal ini sudah sangat mendesak untuk dilaknsanakan karena dampak buruk dari tingginya curah hujan berakibat banjir didaerah rendah dan mengancam lumbung pangan nasional. Selain curah hujan yang variatif dari kategori rendah sampai sangat tinggi, Jawa Barat juga memiliki kemiringan lereng antara 8%

(datar)sampai dengan >40% (sangat curam) dan lapisan tanah beragam mulai jenis tanah di utara kelas 1 berupa alluvial dang lei (tida peka), kelas 2 berupa latosol (agak peka), kelas 4 berupa podsolik merah kuning (peka) di daerah perbukitan dan pegununganm sampai kelas5 berupa organol dan litosol (sangat peka). Jadi jelas sudah mengapa bencana tanah longsor sangat sering terjadi di Jawa Barat, ketika kawasan lindung di daerah perbukitan dan pegunungan, tegaknya sudah sangat minim.

Pengelolaan DAS Jawa Barat Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah yang bentuk dan sifat alamnya merupakan satu kesatuan ekosistem, termasuk didalamnya adalah system hidrilogi dengan anak-anak sungainya, yang berfungsi sebagai penerima, penampung dan penyimpan air yang berasal dari curah hujan dan sumber air lainnya untuk kemudian dialirkan melalui sungai ke laut. Sistem hidrologi di Propinsi Jawa Barat mencakup lima satuan wilayah sungai. Tiga satuan wilayah sungai telah berperan penting dalam kaitannya dengan perkembangan sosial ekonomi, yaitu DAS Cisadane-Ciliwung (sebagian wilayahnya berada di Propinsi Banten dan DKI Jakarta); DAS Citarum, dan DAS CimanukCisanggarung. DAS Citarum yang meliputi areal seluas 6.080 Km dan melintasi beberapa wilayah kabupaten/kota (Bandung, Cianjur, Purwakarta, dan Karawang), memiliki nilai strategis dengan hadirnya 3 waduk besar (Saguling, Cirata, dan Jatiluhur) yang dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan energi listrik (PLTA), irigasi dan juga konsumsi air bersih (PDAM). DAS Citanduy memiliki panjang 170 Km dengan wilayah aliran seluas 4.460 Km yang bermuara di Segara Anakan dan merupakan daerah estuaria terluas di Asia. Kondisi di Segara Anakan dan merupakan daerah estuaria terluas di Asia. Kondisi pendangkalan di Segara Anakan yang terjadi saat ini dan telah mempersempit luas laguna hingga hanya sekitar 700 an Ha, salah satunya disebabkan karena tingginya laju sedimentasi/pelumpuran sungai Citanduy dari kawasan Gunung Sawal dan sekitarnya. Beberapa permasalahan tersebut diantaranya disebabkan Karena pola pemanfaatan ruang dan lahan yang belum memperhatikan aspek kelestarian ekologis dan lingkungan secara keseluruhan dan berkelanjutan. Kecenderungan perubahan pola pemanfaatan lahan/ruang

dan ketidaksesuaian dengan arahan sebagaimana telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2003 tentang RTRW Propinsi Jawa Barat perlu secara bertahap dibenahi pada tataran praktis pelaksanaan. KONDISI EKSISTING KAWASAN LINDUNG Tipologi Kawasan Berdasarkan tingkat pertumbuhan penduduk yang dibatasi hanya pada daerah/kecamatan yang termasuk kawasan lindung. Kabupaten Bogor dengan luas kawasan lindung 1840 Km2, jumlah penduduk 2.356.668 jiwa dan kepadatan penduduk rata-rata 1.872 km2, hal tersebut mengindikasikan bahwa tekanan penduduk terhadap kawasan lindung sangatlah tinggi. Dengan demikian semakin besar resiko alih fungsi lahan dan hutan serta rentan terhadap konflik lokal. Begitupun dengan Kabupaten Bandung yang berbatasan langsung dengan Kota Bandung 1.424.755 jiwa (yang termasuk kawasan lindung) dengan kepadatan penduduk 1.649 km2 hal tersebut berpotensi sekali timbulnya permasalahan alih fungsi lahan dan hutan. Sedangkan Kabupaten Ciamis, Kabupaten Cianjur dan Sumedang tingkat perubahan/permasalahan diindikasikan relative sedang. Permasalahan alih fungsi lahan dan hutan serta terjadinya konflik lokal tidak terlepas dari kesadaran masyarakat dan tingkat pengetahuan masyarakat tentang pemahaman kawasan lindung. Salah satu indikatornya adalah tingkat pendidikan. Pada umumnya daerah yang masuk kawasan lindung terutama desa-desa sekitar hutan sebagian besar hanya berpendidikan sampai tingkat pendidikan SD. Sehingga pemahaman terhadap kawasan lindung cenderung rendah. Berdasarkan komposisi kependidikan di lima Kabupaten, bahwa jumlah pelajar (SD, SLTP, SLTA) baik swasta dan negeri tertinggi adalah Kabupaten Bogor dan terendah adalah Kabupaten Sumedang. Rasio murid untuk Kabupaten Sumedang sebesar 16.11 dan Kabupaten Ciamis 16.96 hal ini menunjukkan tingkat pengawasan guru terhadap murid cukup tinggi, sedangkan Kabupaten Cianjur, Bandung dan Bogor berturut-turut adalah 34.09, 26.34 dan 22.4 termasuk relatif cukup/sedang. Sedangkan rasio jumlah bangunan sekolah terhadap sarana pendidikan yang kualitas sarana sekolahnya sangat memperihatinkan.

Berdasarkan pengamatan tersebut, maka seharusnya pemahaman tentang kawasan lindung termasuk tinggi, hal ini dikarenakan rata-rata tingkat pengawasan tenaga pendidik cukup tinggi sehingga berpengaruh sekali terhadap perkembangan pembangunan kawasan lindung masa yang akan dating. Untuk itu perlu ditingkatkan kesadaran masyarakat dimulai sedini mungkin terutama kepada para pelajar tentang arti dan makna kawasan lindung disamping penyuluhan kepada masyarakat di desa sekitar hutan. Beradasarkan hasil survey Dinas Kehutanan Prov. Jawa Barat bahwa hamper 50% penduduk yang berada dikawasan lindung terutama kawasan hutan berpendidikan SD terutama untuk penduduk yang memiliki matapencaharian sebagai petani. Hal ini ditunjukan dengan tingginya jumlah penduduk yang berprofesi sebagai petani (pertanian), berturut-turut sektor usaha pertanian terbesar sampai terkecil secara prosentase adalah adalah Kabupaten Cianjur 52%, Ciamis 43%, Sumedang 24%, Bogor dan Bandung 20%. Hal ini menunjukan bahwa sektor pertanian masih mendominasi sebagai mata pencaharian utama masyarakat. Sehingga tekanan terhadap lahan pertanian terutama hutan berpotensi tinggi. Pada umumnya potensi permasalahan pembangunan dan pengelolaan kawasan lindung adalah sama yaitu alih fungsi lahan dan hutan serta konflik lokal. Hanya di Kabupaten Bandung dan Bogor potensi tersebut sangatlah tinggi seperti tekanan tekanan penduduk dan pembangunan infrastruktur yang cukup pesat sehingga memaksa pemanfaatan lahan untuk pemukiman dan industri diindikasikan semakin besar. Beda halnya denga Kabupaten Cianjur, Ciamis, dan Sumedang yang tingkat pertumbuhan ekonominya lebih rendah dibandingkan Kabupaten Bandung dan Bogor. Hanya saja di tiga kabupaten yang jauh dari ibukota Negara dan ibukota Provinsi tersebut berpotensi terjadi konflik terutama upaya menyebarkan isu-isu lingkungan yang negatif sangatlah rentan terjadi. Sehingga perlu sekali peningkatan penyuluhan dan pendidikan mengenai lingkungan/kehutanan terhadap masyarakat di kawasan lindung tersebut hal ini berkaitan dengan tingkat kesadaran dan pendidikan masyarakat yang masih rendah. Besarnya dominasi Sektor Pertanian terhadap mata pencaharian masyarakat secara umum diperkuat dengan penggunaan lahan di lima kabupaten yaitu Bogor, Cianjur, Bandung, Ciamis, dan Sumedang. Dominasi penggunaan lahan diringkas menurut kategori kebun campur, perkebunan dan hutan masih tinggi dalam penggunaan lahan sedangkan dominasi terkecil adalah adalah kategori tanah kosong, semak dan lain-lain. Oleh karena itu

mutlak hukumnya apabila pembangunan dab pengelolaan lingkungan dimulai dari strata tertinggi yaitu hutan atau lahan yang memiliki vegetasi pohon/berkayu terbesar. Hal ini kaitannya dengan fungsi kawasan lindung untuk melestarikan lingkunga hidup baik sumber daya alam maupun sumber daya buatan, terutama sekali kawasan hutan.

RUMUSAN STRATEGI Dari tipologi kawasan dari lima kabupaten sampel diatas, dapat disimpulkan strategi pengelolaan kawasan lindung sebagai berikut : 1. Meningkatkan pemahaman tentang kawasan lindung melalui pendampingan, penyuluhan dan pembinaan di tingkat desa dan kecamatan. pendekatan berdasarkan tipologi sosial dari aspek tingkat pendidikan. 2. Meningkatkan fungsi lindung pada kawasan resapan air dan konservasi sumberdaya air tipologi letak relatif terhadap DAS. 3. Meningkatkan perlindungan kawasan dari perusakan lingkungan luar melalui usaha preventif dan pelibatan masyarakat 4. Mengoptimalkan potensi dan sumberdaya yang ada didalam kawasan lindung dalam lingkup terbatas, tertata dan terkendali untuk pemanfaatan ekonomi bagi masyarakat sekitar tipologi biofisik dan sosial potensi SDA, budaya menanam dan kelola SDHL 5. Penguatan kelembagaan dan kebijakan pemerintahan tingkat kabupaten kecamatan dan desa sebagai fungsi pembinaan dan pendampingan 6. Pengembangan ilmu dan tekhnologi tepat guna dalam konteks kelola sumberdaya disekitar kawasan lindung. 7. Adanya protokol data dan informasi terkait status, fungsi, pola kelola kawasan lindung antar instansi Pemerintah, lembaga ekonomi local dan NGOs

Sebagai upaya untuk mengimplementasikan pengelolaan kawasan lindung, maka diperlukan suatu strategi dan program yang lebih terarah dan berkelanjutan. Berikut Tabel 17 Strategi dan Program Pengelolaan DAS berbasis Bioregion : Tabel 17. Strategi dan Program yang dapat dilaksanakan dalam rangka Pengelolaan DAS Berbasis Bioregion Aspek Biofisik/Teknis Strategi Penggunaan Lahan Sesuai Tata Ruang Program/Kegiatan 1.Penyusunan arahan pemanfaatan ruang dalam DAS 2. Penetepan zona kemampuan dan kesesuaian lahan untuk berbagai penggunaan, baik berdasarkan zona agroekologi, kelas kemampuan lahan dan Rehabilitasi Hutan dan Lahan kesesuaian lahan 1. Reboisasi dan penghijauan kawasan hulu DAS Model mikro DAS 3. Demplot Hutan Kemasyaraktan 4. Rehabilitasi Lahan Kritis 5. Pelatihan Petani untuk pembibitan tanaman Penerapan Sistem Pertanian Konservasi reboisasi 1. Pelatihan petani tentang pertanian konservasi dan pembuatan kompos 2. Pembuatan teras pada lahan yang berlerang 3. Sosialisasi program Jangka Pendek Jangka Pendek dan Jangka Panjang Keterangan Jangka Pendek

konservasi tanah dan air, sistem agroforestri, pembuatan embung, check dam, system tanah Sosial Ekonomi Pengembangan Ekonomi Wilayah konservasi 1. Intensifikasi Pertanian 2. Promosi Kawasan Wisata 3. Pelatihan Keterampilan berusaha 4. pembentukan kelompok tani 5. pelatihan keterampilan masyrakat tani dalam pengusahaan budidaya Peningkatan Partisipasi Masyarakat tanaman unggulan wilayah 1. Penyuluhan tentang pentingnya kelestarian lingkungan, terutama DAS 2. 3. Sosialisasi program Pelibatan Masyarakat pengelolaan DAS dalam perencanaan, pelaksanaan dan monitoring evaluasi program Kelembagaan Pemantapan Institusi pengelolaan DAS 1. Inventarisasi peraturan yang berkaitan dengan mekanisme koordinasi dan wewenang dalam pengelolaan DAS 2. Penataan mekanisme koordinasi dan wewenangan berbagai stake holder dalam Jangka Panjang Jangka Pendek dan Jangka Panjang

pengelolaan DAS 3. Inventarisasi produk hokum yang masih berlaku dan yang kadarluasa 4. Mengarahkan dan menerapkan program pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar DAS 5. Pengembangan pola kenitraan diantara berbagai lembaga masyarakat dalam pengelolaan DAS 6. Peningkatan koordinasi antar lembaga, konsistensi dan kedisplinan dan tanggung jawab 7. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia pengelolaan DAS melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan 8. Membentuk lembaga yang dapat menggalang koordinasi antar wilayah DAS sektor di dalam DAS 9. Menetapkan produk kebijakan pengelolaan sumberdaya alam yang mendukung kerangka pendekatan bioregion 10. Perumusan, sosialiasi

dan penegakan peraturan atau hokum 11. Pengembangan sistem koordinasi dan pengawasan yang partisipatif