Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masa perkembangan anatomi dan fisiologi wanita normal melalui enam tahapan yaitu masa prapubertas, masa pubertas, masa resproduksi, masa klimakterium dan menapouse serta masa senile. Masa reproduksi merupakan masa terpenting dalam kehidupan wanita yang berlangsung kira-kira 33 tahun. Haid pada masa ini paling teratur dan bermakna untuk kemungkinan kehamilan. Menjelang berakhirnya masa repoduksi ini disebut dengan masa klimkaterium yang merupakan masa peralihan dari masa reproduksi ke masa senium. Masa ini berlangsung beberapa tahun sebelum dan setelah menopause (Prawirohardjo, 2001). Klimakterium merupakan masa yang bermula dari akhir tahap reproduksi, berakhir pada awal senium dan terjadi pada wanita berumur 40-65 tahun. Masa ini ditandai dengan berbagai macam keluhan endokrinologis dan vegetatif (Prawirohardjo, 2001). Berdasarkan data yang diperoleh dari WHO, pada tahun 1990, total populasi wanita yang mengalami menopause di seluruh dunia mencapai 476 juta orang dan diperkirakan pada tahun 2030 akan mencapai 1,2 milyar orang (Aso, 2008). Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 1997 mencapai 201,4 juta dengan 100,9 juta orang wanita. Jumlah wanita berusia di atas 50 tahun mencapai 14,3 juta orang. Pada tahun 2000 jumlah penduduk Indonesia mencapai 203,46 juta orang yang terdiri dari 101,81 juta perempuan dengan jumlah perempuan yang berusia di atas 50 tahun dan diperkirakan telah memasuki usia menopause sebanyak 15,5 juta orang. Pada tahun 2020 diperkirakan jumlah perempuan yang hidup dalam usia menopause di Indonesia adalah 30,3 juta orang. (Baziad, 2003). Usia terjadinya menopause pada sebagian besar wanita adalah antara 46-55 tahun (Phipps, 2003). Namun ada kecenderungan dewasa ini untuk terjadinya menopause pada umur yang lebih tua. Misalnya pada tahun 1915 menopause dikatakan terjadi sekitar umur 44 tahun, sedangkan pada tahun 1950 pada umur yang mendekati 50 tahun.
1

Penelitian Agoestina pada tahun 1982 di Bandung menunjukkan bahwa pada umur 48 tahun, 50% dari wanita Indonesia telah mengalami menopause (Sastrawinata, 2008). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia (Statistics Indonesia), pada tahun 2007, proporsi wanita yang mengalami menopause mengalami peningkatan dari 11% pada wanita umur 30-34 tahun, 22% pada wanita berumur 44-45 tahun, dan 45% pada wanita umur 48-49 tahun. Menopause merupakan suatu keadaan penting yang terjadi pada masa klimakterium. Pada masa klimakterium terdapat penurunan produksi hormon estrogen dan kenaikan hormon gonadotropin. Pada wanita dalam masa klimakterium terjadi perubahan-perubahan tertentu, yang dapat menimbulkan gangguan-gangguan ringan atau kadang-kadang berat. Pada permulaan klimakterium kesuburan menurun, pada masa pramenopause terjadi kelainan perdarahan, sedangkan terutama pada masa

pascamenopause terdapat gangguan vegetatif, psikis, dan organis (Sastrawinata, 2008). Bagi wanita begitu memasuki usia menopause akan timbul berbagai macam keluhan yang sangat mengganggu dan beberapa tahun setelah menopause, angka kejadian osteoporosis, osteoartritis, penyakit jantung koroner, stroke, dan demensia meningkat (Baziad, 2003). Karena memang keluhan yang muncul pada perempuan tersebut kebanyakan disebabkan karena kekurangan hormon estrogen, maka dengan sendirinya pengobatan yang tepat adalah pemberian estrogen, yang dikenal dengan istilah terapi sulih hormon. Namun sayang, meskipun terapi sulih hormon begitu banyak manfaatnya, tetapi penggunaannya masih rendah (Baziad, 2003). Perubahan-perubahan yang terjadi sebelum menopause dan sesudah menopause dapat menjadi masalah apabila wanita tersebut tidak mengetahui secara benar apa yang terjadi pada diri mereka pada saat terjadinya menopause.

1.2 Tujuan Penulisan 1.2.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui gangguan yang terjadi pada masa klimakterium dan menopause serta manajemen kebidanan pada masa klimakterium dan menopause.
2

1.2.2

Tujuan Khusus Untuk mengetahui gangguan yang terjadi pada masa klimakterium. Untuk mengetahui gangguan yang terjadi pada masa menopause. Untuk mengetahui manejemen kebidanan pada masa klimakterium. Untuk mengetahui manejemen kebidanan pada masa menopause.

1.3 Manfaat Penulisan 1.3.1 Bagi Kelompok Menambah pengetahuan dan pengalaman untuk penerapan ilmu yang telah diperoleh selama kuliah dalam rangka pemahaman pengetahuan wanita tentang masa klimakterium dan menopause.

1.3.2

Bagi Masyarakat Meningkatkan pengetahuan wanita pada masa klimakterium tentang menopause, sehingga membantu mempersiapkan diri dalam menghadapi perubahan-perubahan yang mungkin terjadi pada masa menopause.

1.3.3

Bagi Bidang Pelayanan Kesehatan Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan khususnya yang berhubungan dengan masa klimakterium dan menopause.

1.3.4

Bagi Instansi Pendidikan Hasil makalah ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan bagi proses belajar selanjutnya terutama yang berhubungan dengan masa klimakterium dan menopause.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Gangguan Pada Masa Klimakterium Dan Menopause Klimakterium dan menopause merupakan hal-hal yang khas bagi manusia. Pada mamalia yang rendah, fertilitas berlangsung terus sampai umur tua, jadi tidak ada klimakterium dan menopause. Pada manusiapun klimakterium dan menopause baru menjadi soal jika umurnya cukup panjang. 2.1.1 Gangguan Pada Klimakterium Perdarahan Kelainan haid sering terjadi pada pramenopause. Kelainan tersebur dapat bersifat oligomenore atau polimenorea. Sering juga banyaknya darah waktu haid berubah sehingga dapat terjadi hipomenorea atau hipermenorea. Yang paling mengganggu adalah metroragia yang disebabkan oleh tidak lagi teraturnya ovulasi dalam pramenopause, jadi siklus sering bersifat anavulatoar yang dapat menimbulkan perdarahan disfungsional. Dalam hal ini,

endometrium yang dipengaruihi oleh estrogen tanpa pengaruh progesteron memberi gambaran hiperplasia glandularis sistika. Metroragia sering terjadi dalam tahun-tahun terakhir pramenopause. Diagnosis perdarahan karena gangguan fungsi ovarium dalam klimakterium tidak boleh dibuat sebelum sebab-sebab organik dapat dikesampingkan (karsinoma, polip, mioma dan lain-lain). Dalam hubungan ini, pada sekitar menopause dengan perdarahan berlebihan yang tidak teratur perlu dilakukan kerokan diagnostik. Metroragia dalam pramenopause disebabkan 77% oleh perdarahan disfungsional, 17,7% oleh polip dan mioma, dan 5,2% oleh karsinoma endometrium. Apabila perdarahan terjadi sesudah menopause maka 50% dari perdarahan disebabkan oleh karsinoma.

Terapi dalam klimakterium jika mengeluh mengenai kelainan siklus yang bersifat oligomenore atau hipomenore tidak perlu terapi kecuali penerangan yang baik. Sebaliknya perdarahan yang berlebihan perlu mendapat perhatian sepenuhnya. Dengan kerokan perlu dipastikan bahwa perdarahan tidak berdasarkan kelainan organik. Gangguan Neurovegetatif dan Gangguan Psikis Ganguan neurovegetatif dan gangguan psikis biasanya timbul dalam pascamenopause tetapi kadang-kadang juga dalam pramenopause. Gangguan ini juga bersangkutan dengan berkurangnya produksi estrogen dan meningkatnya kadar gonadotropin. Gejala-gejala ini akan timbul kalau badan belum berhasil menyesuaikan diri dengan perubahan dalam keseimbangan hormonal, walaupun demikian, gangguan emosional juga disebabkan oleh anggapan penderita bahwa dengan menopause ciri-ciri kewanitaan akan hilang. Sebagian besar wanita mengalami gejala-gejala ini secara ringan saja, hanya kira-kira 25% (angka Eropa) mengalaminya dengan gangguan cukup berat sehingga memerlukan pertolongan dokter. Pada klimakterium alamiah perubahan hormonal terjadi berangsung-angsur, sebaliknya pad menopause artifisial karena tindakan operasi atau radiasi, perubahan itu terjadi dengan cepat sehingga gangguan klimakterium biasanya lebih berat. Yang termasuk gangguan neurovegetatif ialah iritabilitas, kecemasan, depresi, insomnia, vertigo, palpitasi jantung, rasa panas terutama pada bagian badan atas, berkeringat banyak. Penanggulangan dapat dengan penerangan dan obat-obat penenang penderitaan pasien dapat di tolong, tetapi dengan keluhan yang cukup berat memerlukan disamping usaha tersebut juga terapi hormonal, terutama terhadap hot flushes dan banyak berkeringat. Sikap ini diambil karena adanya kecemasan terhadap kemungkinan bahwa estrogen dapat menyebabkan atau mempercepat timbulnya karsinoma kalau diberikan dalam jangka panjang. Pemberian estrogen dalam klimakterium harus disesuaikan. Beberapa kelainan merupakan kontraindikasi untuk pemberian estrogen, seperti : riwayat penyakit

trombo-emboli, riwayat penyakit hepar, diabetes melitus, hipertensi, fibro mioma uteri, karsinoma berjenis apa pun. Penyakit-penyakit Lain Artropatia biasanya dalam bentuk artritis dengan sedkit

pembengkakan dan rasa nyeri pada lutut menurut beberapa penulis lebih sering terlihat dalam masa ini. Akan tetapi, tidak ada persesuaian paham apakah berkurangnya produksi estrogen memegang peranan dalam tumbuhnya penyakit ini. Ada indikasi berdasarkan penyelidikan pada manusia dan hewan bahwa estrogen dapat menurunkan kadar kolesterol. Akan tetapi pemeriksaanpemeriksaan lain tidak membuktikan bahwa pemberian estrogen menurunkan kadar kolesterol dalam serum dan menurunkan frekuensi penyakit jantung koroner, dan ada faktor-faktor lain yang berperan dalam masalah ini.

2.2.2 Gangguan Pada Menopause Menopause bisa terjadi secara alamiah atau sebagai akibat pembedahan atau penyinaran. Berhentinya haid karena operasi terjadi apabila uterus di angkat. Pengangkatan ovarium kadang-kadang dilakukan karena penyakit ovarium, akan tetapi lebih sering jika dilakukan histerektomi untuk suatu sebab dan ovarium sekalian diangkat sebagai tindakan prefentif terhadap karsinoma ovarii. Tindakan terakhir ini masih kontrovensial jika dilakukan pada wanita sebelum menopause tetapi umumnya dibenarkan pada wanita ascamenopause. Menopause buatan umumnya menimbulkan gejala-gejala seperti digambarkan diatas, tetapi lebih sering dan lebih keras dibandingkan dengan menopause alamiah. Menopause Prematur Menopause prematur yaitu menopause yang terjadi sebelum berumur 40 tahun. Diagnosis menopause prematur tidak sukar dibuat pabila penghentian haid sebelum waktunya disertai dengan hot flushes serta meningkatnya kadar hormon gonadotropin. Apabila kedua gejla terakhir ini tidak ada, perlu dilakukan penyelidikan terhadap sebab-sebab lain dari
6

terganggunya fungsi ovarium. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan menopause prematur ialah heriditer, gangguan gizi yang cukup berat, penyakitpenyakit menahun, dan penyakit-penyakit yang merusak jaringan kedua ovarium. Menopause prematur tidak memerlukan terapi, kecuali pemberian penerangan kepada wanita yang bersangkutan. Menopause Terlambat Batas terjadi menopause umumnya ialah umur 52 tahun, apabila seorang wanita masih mendapat haid di atas umur 52 tahun, maka hal itu merupakan indikasi untuk penyelidikan lebih lanjut. Sebab-sebab yang dapat dihubungkan dengan menopause terlambat ialah : konstitusional, fibromioma uteri dan tumor ovarium yang menghasilkan estrogen.

2.2 Manajemen Kebidanan pada Masa Klimakterium Dan Menopause Bagaimana bidan menghadapi masalah klimaterium di tengah masyarakat. Seperti dikemukakan bahwa hanya sekitar 25 % wanita mengeluh karena terjadi penurunan estrogen tubuh dan memerlukan tambahan hormon sebagai substitusi. Pemberian substitusi hormon tanpa diikuti pengawasan ketat adalah berbahaya, karena bidan dapat mengambil langkah : Melakukan KIEM sehingga wanita denngan keluhan menopause dapat memeriksakan diri ke dokter puskesmas. Bidan berkonsultasi dengan dokter puskesmas atau dokter ahli. Setelah pengobatan, bidan dapat meneruskan pengawasan. Bidan dapat merujuk penderita ke Rumah Sakit. Gangguan gangguan endokrin : kelenjar endokrin dikeluarkan oleh seluruh tubuh dan bertanggung jawab untuk mengontrol fungsi internal tubuh dan memproduksi banyak hormone, penyakit dan rasa sakit, yang berefek seperti glans yaitu pituitary, hipotalamus, tiroid dan adrenal mempunyai dampak yang signifikan pada seksual wanita.

Hormone mengontrol produksi hormone lainnya yang mungkin menyebabkan ketidakpuasan seksual. Pada dasarnya, fase fase kehidupan seorang wanita berhubungan dengan fungsi organ reproduksinya. Wanita akan mengalami perubahan besar dalam tubuhnya sejak belum haid, haid dan berhenti haid. Hal ini akan mempengaruhi fisik maupun psikis seorang wanita secara keseluruhan. Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya sel telur dalan ovarium maka hormone estrogen dan progesterone juga mengalami peningkatan dan penurunan. Demikian seterusnya kerja ovarium mempengaruhi kerja organ reproduksi lainnya, termasuk hormin tubuh dalam siklus bulanan seorang wanita sampai berakhirnya masa reproduksi, yaitu menopause.Pada masa premenopause, hormone

pregesteron dan estrogen masih tinggi, tetapi semakin rendah ketika memasuki masa perimenopause dan postmenopause. Keadaan ini berhubungan dengan fungsi ovarium yang terus menurun. Secara endokrinologis. Masa klimakterium ditandai turunnya kadar estrogen dan meningkatnya pengeluaran godadotropin.

2.2.1 SOAP Pada Klimakterium Tanggal Tempat Waktu : : : 02 januari 2012 bps wirna 10 : 00 wib

Identitas Nama Umur Alamat Pendidikan Pekerjaan S : : : : : : ny. Umi kalsum 40 tahun kampung mulia smp irt

Ny. U berumur 40 tahun bersama suaminya datang ke bps wirna mengeluh haidnya tidak teratur kadang-kadang tidak haid selama 2 bulan berturut-turut dan kalau haid darahnya banyak sampai lebih dari 10 hari, ibu juga mengeluh berkeringat banyak setiap harinya, susah tidur dan merasa panas bagian badan ibu sejak satu bulan belakangan ini.

Keadaan ibu baik Vital sign TD Nadi RR Suhu : 120/80 mmHg : 83 x/i : 22 x/i : 36,7 0C
9

Pemeriksaan fisik Konjungtiva Sklera Payudara : Tidak pucat : Tidak Ikterik : Tidak ada benjolan

Warna darah haid : Merah kehitaman A : Ibu dengan gangguan pada masa klimakterium Keadaan umum Ibu baik P : 1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa ibu sekarang memasuki masa klimakterium tetapi mengalami gangguan pada masa ini. Ibu mengerti 2. Menjelaskan kepada ibu bahwa keadaan yang ibu alami sekarang adalah kondisi normal pada

setiap wanita yang sudah berumur di atas 40 keatas, akan tetapi ibu mengalami ganguan pada klimakterium ini sesuai dengan hasil pemeriksaan ibu harus mendapatkan therapy hormonal sebagai salah satu untuk mengurangi keluhan yang ibu alami di rumah sakit Ibu mengerti dan mau melakukannya 3. memberitahu ibu untuk tetap makan-makanan yang bergizi, mengobati jika ibu mengalami demam, menjaga kesehatan mental, tidak terlalu berpikir banyak,mengganti pembalut sesering mungkin saat haid. Ibu mengerti dan bisa mengulanginya 4.

10

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Klimakterium adalah masa yang bermula dari akhir tahap reproduksi, berakhir pada awal senium dan terjadi pada wanita umur 40-65 tahun. Masa ini di tandai dengan berbagai macam keluhan. Klimakterium bukan suatu keadaan patologis, melainkan suatu masa peralihan yang normal yang berlangsung beberapa tahun sebelum dan sesudah menopause. Hal ini disebabkan oleh karena ovarium menjadi tua sehingga hormon estrogen menurun dan hormon gonadotropin meningkat.(Sarwono, 1999). Masa klimakterium adalah masa di mana wanita menyesuaikan diri dengan menurunnya produksi hormon-hormon ovarium yang membuat seorang wanita tidak dapat bereproduksi. Usia klimakterium juga diartikan sebagai usia maturitas di mana seseorang menjadi lebih matang dan bijaksana baik secara intelektual maupun emosional. Setelah seorang wanita memasuki masa klimakterium mereka memasuki masa menopause. 3.2 Saran Dengan mengetahui tentang pengetahuan dan pemahaman klimakterium sehingga disarankan dapat membantu para w anita mempersiapkan diri dalammemasuki masa klimakterium atau masa menopause.

DAFTAR PUSTAKA Effendi, Nasrul, Drs. 1998. Kekeratan Kesehatan Masyarakat. Edisi 2. Jakarta: EGC Hurlock, Elizabeth, B. 2002. Pikologis Perkembangan. Edisi 5. Jakarta: Erlangga
11

Kasdu, Dini. 2002. Kiat Sehat dan Bahagia di Usia Menopause. Jakarta: Puspaswara Manuaba, IBG. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC Manuaba , IBG. 1999. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita Arcan. Jakarta Notoatmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Prawirohardjo, Sarwono. 1999. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Endang Purwoastuti, 2008. Menopause Siapa Takut ?.Yogyakarta : Kanisius A l i B a z i a d , 2 0 0 3 . M e n o p a u s e D a n A n d r o p a u s e . J a k a r t a : Y a ya s a n B i n a P u s t a k a Sarwono Prawiroharjo

12