Anda di halaman 1dari 7

ALAT PENGUKUR KINERJA PEREKONOMIAN NASIONAL Ada beberapa jenis data perekonomian yang dapat dijadikan sebagai alat

untuk menilai prestasi atau kinerja perekonomian nasional (Sadono Sukirno, 2008: 17) adalah sebagai berikut: 1. Pendapatan Nasional, Pertumbuhan Ekonomi dan Pendapatan Per Kapita 2. Tingkat Pengangguran 3. Tinkat Inflasi 4. Kedudukan Neraca Perdagangan dan Necara Pembayaran 5. Kestabilan Nilai Mata Uang Domestik

Pertumbuhan Ekonomi Suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi jika jumlah produksi barang dan jasanya meningkat (Prathama R dan Mandala M, 2005: 137). Di dalam Data Setrategis Badan Pusat Statistik (2010: 13) dijelaskan bahwa Pertumbuhan ekonomi menunjukkan pertumbuhan produksi barang dan jasa di suatu wilayah perekonomian dan dalam selang waktu tertentu. Produksi tersebut diukur dalam nilai tambah (value added) yang diciptakan oleh sektorsektor ekonomi di wilayah bersangkutan yang secara total dikenal sebagai Produk Domestik Bruto (PDB). Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi adalah sama dengan pertumbuhan PDB. Apabila diibaratkan kue, PDB adalah besarnya kue tersebut. Pertumbuhan ekonomi sama dengan membesarnya

kue tersebut yang pengukurannya merupakan persentase pertambahan PDB pada tahun tertentu terhadap PDB tahun sebelumnya. Ekonomi Indonesia selama tahun 2006-2009 mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 5,5 persen (2006), 6,3 persen (2007), 6,0 persen (2008) dan 4,5 persen (2009). Hal-hal yang mendasari pentingnya pertumbuhan ekonomi pada artikel yang diposting sebelumnya.

Pendapatan Nasional Produk Nasional atau Pendapatan Nasional (Sadono Sukirno, 2008: 17) adalah istilah yang menerangkan tentang nilai barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksikan suatu Negara dalam suatu tahun tertentu. Di dalam konsep yang lebih spesifik pengertian produk nasional atau pendapatan nasional di atas dibedakan kepada dua pengertian: Produk Nasional Bruto (PNB) dan Produk Domestik Bruto (PDB). PNB adalah produk nasional yan diwujudkan oleh faktor-faktor produksi milik warga Negara suatu Negara, sedangkan PDB adalah produk nasional yang diwujudkan oleh faktor-faktor produksi di dalam negeri (baik milik warga negera maupun orang asing) dalam suatu Negara. Dari kedua istilah di atas dapat disimpulkan bahwa kedua konsep tersebut pada hakikatnya merupakan ukuran mengenai besarnya kemampuan sesuatu Negara untuk menghasilkan barang dan jasa dalam suatu tahun tertentu. PDB atas dasar harga konstan (Data Setrategis Badan Pusat Statistik, 2010: 15) tahun 2000 pada tahun 2006 mencapai Rp1.847,1 triliun dan pada tahun 2009 meningkat menjadi sebesar Rp2.177,0 triliun. Sementara pada

semester I tahun 2010 PDB atas dasar harga konstan sebesar Rp1.131,8 triliun. Berdasarkan harga berlaku, tahun 2006 sebesar Rp3.339,2 triliun dan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya hingga mencapai Rp5.613,4 triliun pada tahun 2009 sementara pada semester I tahun 2010 nilainya sebesar Rp3.068,6 triliun. Pendapatan Perkapita Secara sederhana Pendapatan Perkapita ditentukan dengan membagi produk nasional atau pendapatan nasional denga jumlah penduduk. Pendapatan perkapita ini bisanya digunakan untuk menentukan tingkat dan pertambahan kemakmuran penduduk di suatu negera. Berikut Pendapatan Perkapita Indonesia (Badan Pusat Statistik) dari tahun 2000 sampai tahun 2011:
P rod u k Dom e stik Bru to P e r Ka p ita , P ro du k Na sio n a l Bru to P e r Ka p ita d a n P e n d a p a ta n Na sio n a l P e r Ka pita , 2000-2011 (Rup ia h )
Ta hun 2000 2 0 01 20 0 2 2 0 03 20 0 4 2005 2006 20 0 7 20 0 8 2 00 9 2 0 1 0* 2 0 1 1 **

De s k rips i Atas Da s a r Ha rga Be rla k u

Prod u k D o m e s tik Bru to Pe r K a p ita 6,775,002.927,907,482.308,621,614.699,389,161.0910,547,133.5412,557,512.9214,892,059.8717,360,535.0221,424,748.4523,913,985.2927,084,008.2030,812,926.11 Prod u k N a s io na l Bru to Pe r K ap ita 6,325,722.467,614,246.058,363,637.789,028,203.2810,063,150.1711,946,446.3814,257,576.6216,646,564.5620,663,361.4223,076,985.4626,322,486.0429,934,685.89 Pe n d ap a ta n N a s io na l Pe r Ka p ita6,171,342.877,067,930.537,595,676.168,161,146.51 9,248,509.3511,075,415.4913,075,282.0215,285,571.3019,141,673.4520,964,887.5724,020,664.8327,648,408.93 Atas Da s a r Ha rga Kons ta n 2 0 00 Prod u k D o m e s tik Bru to Pe r K a p ita 6,775,002.926,918,441.587,123,261.567,353,877.04 7,610,116.09 7,924,894.31 8,237,716.52 8,631,408.43 9,015,742.15 9,294,167.91 9,736,695.1110,219,309.82 Prod u k N a s io na l Bru to Pe r K ap ita 6,325,722.516,600,424.126,856,558.616,975,122.16 7,240,441.70 7,438,841.61 7,729,941.07 8,101,642.27 8,597,543.55 8,825,719.62 9,345,382.15 9,819,153.13 Pe n d ap a ta n N a s io na l Pe r Ka p ita6,171,342.916,123,457.606,227,408.996,300,265.77 6,648,423.00 6,885,535.65 7,070,876.15 7,422,254.54 7,950,282.78 8,005,165.75 8,516,999.43 9,130,326.19
Keterangan: *) Angk a Sem entara **) Angk a Sangat Sem entara

Tingkat Pengangguran Pengangguran adalah suatu keadaan dimana seseorang suda masuk usia kerja aktif mencari kerja tetapi tidak mendapat pekerjaan. Sedangkan seorang ahli ekonomi Sadono Sukirno (2008: 13) mengartikan bahwa pengangguran adalah suatu keadaan di mana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Seseorang yang tidak bekerja, tetapi tidak secara aktif mencari pekerjaan tidak tergolong sebagai penganggur. Sebagai contoh, ibu rumah tangga yang tidak ingin bekerja karena ingin mengurus keluarganya tidak tergolong sebagai penganggur atau seorang anak keluarga kaya yang tidak mau bekerja karena gajinya lebih rendah dari yang diinginkannya juga tidak tergolong sebagai penganggur. Apabila keadaan pengangguran di suatu Negara adalah sangat buruk, kekacauan politik dan sosial selalu berlaku dan menimbulkan efek yang beruk kepada kesejahtraan masyarakat dan prospek ekonomi dalam jangka panjang. Sedangkan di dalam Data Strategis BPS (2010: 37), konsep penganggur yang digunakan adalah mereka yang sedang mencari pekerjaan, yang mempersiapkan usaha, yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan dan yang sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja dan pada waktu yang bersamaan mereka tak bekerja (jobless).

Pengangguran dengan konsep/definisi tersebut biasanya disebut sebagai pengangguran terbuka (open unemployment). Jumlah pengangguran pada Februari 2010 sebesar 8,59 juta orang atau mengalami penurunan sebesar 666 ribu orang (7,20 persen) dibandingkan keadaan Februari 2009 yang besarnya 9,26 juta orang.

Tingkat Inflasi Inflasi adalah suatu keadaan adanya kenaikan harga yang berlaku umum dan berlangsung terus menerus atau dalam waktu lebih dari satu bulan. Sedangkan Sadono Sukirno (2008: 14) mendefinisikan inflasi sebagai suatu proses kenaikan harga-harga yang berlaku dalam suatu perekonomian. Sedangakan dalam Data Strategis BPS (2010: 7), Makna inflasi adalah persentase tingkat kenaikan harga sejumlah barang dan jasa yang secara umum dikonsumsi rumah tangga. Ada barang yang harganya naik dan ada yang tetap. Namun, tidak jarang ada barang/jasa yang harganya justru turun. Resultante (rata-rata tertimbang) dari perubahan harga bermacam barang dan jasa tersebut, pada suatu selang waktu (bulanan) disebut inflasi (apabila naik) dan deflasi (apabila turun). Secara umum, hitungan perubahan harga tersebut tercakup dalam suatu indeks harga yang dikenal dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Consumer Price Index (CPI). Persentase kenaikan IHK dikenal dengan inflasi, sedangkan penurunannya disebut deflasi. Inflasi/deflasi tersebut dapat dihitung menggunakan suatu rumus.

Kedudukan Neraca Perdagangan dan Necara Pembayaran Neraca pembayaran akan memberikan informasi mengenai nilai dan perkembangan ekspor dan impor. Ekspor dan impor adalah kegiatan yang selalu dilakukan setiap Negara dan sampai di mana peranan kegiatan tersebut dalam perekonomian dapat diamati dari perkembangan neraca perdanganan. Defisit dalam dalam neraca perdagangan, yang disebabkan oleh impor yang melebihi ekspor, mengurangi tingkat kegiatan ekonomi di dalam negeri dan masalah pengangguran yang lebih serius akan dihadapi. Sedangkan dalam melihat prestasi hubungan ekonomi suatu Negara dengan Negara-negara lain perlu diperhatikan kedudukan keseimbangan keseluruhan. Keseimbangan keseluruhan ini dinamakan necara keseluruhan dari neraca pembayaran. Disamping menunjukkan data ekspor dan impor, informasi penting lain yang dapat dilihat dari suatu neraca pembayaran adalah lairan modal jangka pendek dan jangka panjang. Aliran modal ini menggambarkan aliran neto (aliran masuk dikurangi aliaran kluar) modal asing yang dilakukan ke sesuatu Negara. Dengan demikian pada hakikatnya naraca pembayaran menunjukkan perimbangan mutasi-mutasi keuangan dari suatu Negara ke Negara-negara lain. Perimbangan ini dinamakan neraca keseluruhan (Sadono Sukirno, 2008: 21).

Kestabilan Nilai Mata Uang Domestik Salah satu alat pengukur lain yang selalu digunakan untuk menilai keteguhan sesuatu ekonomi adalah perbandingan nilai suatu mata uang asing (misalnya dolar US) dengan nilai mata uang domestic (misalnya rupiah). Perbandingan itu dinamakan kurs valuta asing. Kurs ini akan menunjukkan banyaknya uang dalam negeri yang diperlukan untuk membeli satu unit valuta

asing tertentu. Salah satu faktor penting yang mempengaruhi kurs valuta asing adalah neraca keseluruhan. Neraca keseluruhan yang mengalami defisit cenderung untuk menaikkan nilai valuta asing. Dan sebaliknya, apabila neraca pembayaran teguh (surplus dalam neraca keseluruhan) dan cadangan valuta asing yang dimiliki Negara terus-menerus bertambah jumlahnya, nilai valuta asing akan bertambah murah. Maka keteguhan kurs valuta asing dapat digunakan sebagai salah satu ukuran untuk menilai kestabilan dan perkembangan suatu perekonomian (Sado Sukirno, 2008: 21-22).

DAFTAR PUSTAKA Sadono Sukirno (Makroekonomi Teori Pengantar) Pratama Rahardja dan Mandala Manurung (Teori Ekonomi Makro Suatu Pengantar) Data Strategis Badan Pusata Statistik 2010