Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN Resistensi Difusi Gas

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN “ Resistensi Difusi Gas ” Disusun Oleh: Nama : Krisna Bagus Prabowo

Disusun Oleh:

Nama

: Krisna Bagus Prabowo

NIM

: 115040201111192

Kelompok

: Senin, 06.00

Asisten

: Sonia Tambunan

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN MALANG

2012

BAB I PENDAHULUAN

  • 1.1. Latar Belakang

Dalam proses fotosintesis, tumbuhan memerlukan karbon dioksida dan air. Air diperoleh dari serapan akar sedangkan karbon dioksida diperoleh melalui pertukaran gas melalui stomata. Pertukaran gas melalui stomata tidak terjadi secara terus-menerus, saat konsentrasi gas, misalnya CO 2 , dalam mesofil tinggi maka pertukaran gas akan terhenti. Inilah yang menyebabkan daun seolah- olah menolak pergerakan gas masuk ke daun. Resistensi difusi gas pada daun dapat diartikan sebagai hambatan luas dari daun yang timbul karena permukaan luar terhadap lapisan pembatas uap air dalam difusi di rongga stomata di atmosfir. Secara singkat dapat dikatakan sebagai penolakan daun terhadap difusi gas dari atmosfir. Penolakan gas yang akan masuk ini

dapat terjadi karena beberapa faktor, antara lain kepadatan gas, gradien tekanan difusi, morfologi daun, angin, suhu, keadaan air dalam tanah, dan transpirasi. Praktikum ini bertujuan untuk membandingkan resistensi difusi gas antara daun sirih, daun belimbing wuluh dan replika dari kedua daun tersebut.

  • 1.2. Tujuan

    • a. Membandingkan resistensi difusi gas antara daun sirih, daun belimbing wuluh dan replika dari kedua daun tersebut dan faktor yang mempengaruhinya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  • 2.1. Pengertian Resistensi Resistance is the ability of an organism to resist. “Resistensi adalah kemampuan organisme untuk menolak”

(Rittner, 2003) Resistance, antagonism, desire to oppose.

“resistensi, perlawanan, keinginan untuk melawan” (Hornby,

1987)

  • 2.2. Pengertian Difusi

Diffusion is the movement of molecules along a concentration gradient from areas of high concentration to areas of lower

concentration as a result of random movement .. “Difusi adalah pergerakan molekul dari tempat dengan gradient konsentrasi tinggi menuju tempat dengan gradient rendah sebagai

hasil pergerakan acak.” (Bailey, 2003)

Diffusion can be interpreted as a directed movement from a region of a high concentration to a region of lower concentration, but

it is accomplished through the random thermal motion of individual molecules.

“Difusi dapat diinterpretasikan sebagai perpindahan langsung

dari daerah dengan konsentrasi tinggi ke rendah, tetapi berlangsung

melalui pergererakan acak dari molekul” (Hopkins, 2008)

  • 2.3. Pengertian Fluks Zat

The rate of transport, or the flux density (J), is the amount of substance s crossing a unit area per unit time (e.g., J may have units

of moles per square meter per second [mol ms 2 s 1 ]) Flux density (J), adalah jumlah molekul yang melewati sebuah area per satuan waktu, sebagai contoh unit molekul per meter persegi per detik [mol m 2 s 1 ] (Taiz dan Zeiger, 2002). Flux is the amount of material crossing a unit area per unit

time.

Fluks adalah jumlah material yang melewati unit area per satuan waktu (Hopkins, 2008).

  • 2.4. Penjelasan Hukum Fick untuk Difusi Gas CO2

J = -D · A · ∆C · l -1 J adalah jumlah molekul yang melewati sebuah area per satuan waktu, sebagai contoh unit mol per meter persegi per detik, mol m -2 s -1 . D adalah koefisien difusi, konstanta yang menunjukkan fungsi molekul yang berdifusi melewati medium tertentu. A dan l adalah luasan area dan panjang area difusi. ∆C adalah perbedaan konsentrasi di dua tempat, concentration gradient. Tanda negatif, meunjukkan bahwa difusi bergerak ke konsentrasi lebih rendah. Kesimpulannya, Hukum Fick menerangkan bahwa kelajuan difusi berbanding lurus pada luasan area dan gradien konsentrasi, dan berbanding terbalik dengan panjang area difusi (Hopkins, 2008)

  • 2.5. Macam-macam Resistensi pada Daun

    • a. Resistensi lapisan Resistensi lapisan batas merupakan hambatan luas dari daun yang timbul karena permukaan luar terhadap lapisan pembatas uap

air dalam difusi di rongga stomata di atmosfir. Lapisan atas terdiri dari mangkok uap mikro yang terbentuk pada batas luar pori stoma dan sebagian lagi dari udara lembab yang terdapat pada seluruh permukaan daun tiruan dengan difusi molekuler melalui suatu lapisan pada rakitan daun dan rintangan pada lintasan yang dilalui digambarkan di sudut tanaman. (Sitompul, 2007)

  • b. Resistensi stomata Tahapan terhadap difusi CO 2 dari luar ke daun melalui stomata.

Faktor utama yang mempengaruhi Rs adalah tingkat membukanya stomata sehingga perhitungan dilakukan dengan cara mengukur banyaknya air yang hilang melalui daun yang merupakan hambatan oleh stomata dan difusi (Gardner, 1991).

  • c. Resistensi mesofil Merupakan ukuran apa saja yang berhubungan dengan daun dan mempengaruhi pengambilan CO 2 melalui mesofil kecuali tahanan lapisan batas dan stomata karena apa saja yang mempengaruhi konsentrasi CO 2 ke dalam kloroplas mempengaruhi laju difusi total CO 2 dari udara ke kloroplas. Dihitung sebagai tahanan sisa terhadap pengambilan CO 2 oleh daun (Gardner, 1991).

2.6. Faktor yang Mempengaruhi Resistensi Difusi Gas

  • a. Kepadatan gas Perbedaan difusi gas dipengaruhi oleh faktor lingkungan

tertentu antara lain mengenai kepadatan relatif CO 2 .

  • b. Gradien tekanan difusi

Bila besarnya tahap perbedaan tahap difusi ini tinggi, maka kecepatan difusinya tinggi.

  • c. Morfologi daun Pada tempat dengan intensitas cahaya tinggi menyebabkan penebalan daun yang menurunkan resistensinya terhadap difusi CO 2 dengan meningkatkan ruang pori dalam lapisan mesofil.

  • d. Angin

Angin yang sedang menambah kegiatan transpirasi, angin membawa uap air yang berada dekat stomata, uap yang masih ada dalam daun akan berdifusi keluar.

  • e. Suhu Kenaikan suhu akan menaikkan difusi karena suhue akan

menaikkan tenaga kinetis dari molekul substrat yang berdifusi.

  • f. Keadaan air dalam tanah Air dalam tanah adalah satu-satunya sumber pokok, dari mana akar tanaman mendapat air yang dibutuhkan. Absorbsi air melalui bagian-bagian lain yang ada di atas tanah seperti batang dan daun juga ada, akan tetapi pemasukan air lewat bagian-bagian tersebut tidak sebanding penyebaran air melalui akar (Gardner, 1991).

g. Transpirasi Hambatan daun terhadap transpirasi sangat beragam karena berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi pembukaan stomata. Bila muatan radiasi cukup rendah dan hambatan juga rendah, maka tentu saja transpirasi meningkat oleh angin, jika suhu daun di bawah suhu udara, naiknya kecepatan angin selalu cenderung menaikkan transpirasi (Salisbury, 1995).

BAB III BAHAN DAN METODE

3.1.

Alat dan Bahan

  • a. Alat

 
 

Timbangan digital untuk menimbang massa benda.

Empat buah cawan petri untuk meletakkan bahan.

Sebuah gunting untuk menggunting kertas whatman.

Kertas whatman untuk membuat replica daun.

Rh meter untuk mengukur suhu dan kelembaban relative.

 
  • b. Bahan

 

Air untuk melembabkan bahan.

Satu lembar daun sirih

Satu lembar daun belimbing wuluh

  • 3.2. Cara Kerja

Menyiapkan alat dan bahan Menimbang daun sirih dan daun belimbing Mengukur diameter masing-masing daun untuk pembuatan replica Membuat replica masing-masing daun pada kertas whatman Menimbang masing-masing replica daun

BAB III BAHAN DAN METODE 3.1. Alat dan Bahan a. Alat  Timbangan digital untuk menimbang
BAB III BAHAN DAN METODE 3.1. Alat dan Bahan a. Alat  Timbangan digital untuk menimbang
BAB III BAHAN DAN METODE 3.1. Alat dan Bahan a. Alat  Timbangan digital untuk menimbang
BAB III BAHAN DAN METODE 3.1. Alat dan Bahan a. Alat  Timbangan digital untuk menimbang
BAB III BAHAN DAN METODE 3.1. Alat dan Bahan a. Alat  Timbangan digital untuk menimbang

Merendam daun sirih dan daun belimbing dalam akuades selama 10 menit

BAB III BAHAN DAN METODE 3.1. Alat dan Bahan a. Alat  Timbangan digital untuk menimbang

Merendam replica kedua daun dalam akuades selama 5 menit Meniriskan daun dan replica daun

BAB III BAHAN DAN METODE 3.1. Alat dan Bahan a. Alat  Timbangan digital untuk menimbang
BAB III BAHAN DAN METODE 3.1. Alat dan Bahan a. Alat  Timbangan digital untuk menimbang

Menimbang, mengukur suhu dan Rh daun dan replikanya pada menit ke 0, 10, 20 dan 30

BAB III BAHAN DAN METODE 3.1. Alat dan Bahan a. Alat  Timbangan digital untuk menimbang

Mencatat hasilnya

3.3. Analisa Perlakuan

Percobaan dilakukan dengan mengambil sampel berupa daun belimbing wuluh dan daun sirih. Kemudian daun tersebut dibuat replica menggunakan kertas whatman. Ukuran replica harus semirip mungkin dengan daun aslinya. Kedua daun direndam dengan air, begitu pula replikanya agar didapatkan keadaan jenuh. Pengujian Rh dan suhu pada daun dan replica daun dilakukan untuk mengetahui nilai resistensi dari sebuah bahan yang telah jenuh air.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil 4.1.1 Tabel Pengamatan

 

menit ke

0'

10'

20'

30'

RH

 

+

-

+

-

+

-

+

-

Daun Sirih

84

80,5

91,4

79,7

94,3

76,1

94,3

76,1

Daun B.wuluh

85,5

80,5

91,4

79,7

94,3

76,1

94,3

76,1

Replika Sirih

85,5

80,5

91,4

79,7

94,3

76,1

94,3

76,1

Replika B.wuluh

87,9

80,5

91,4

79,7

94,3

76,1

94,3

76,1

Suhu

Daun Sirih

25,4

25,2

 

25,2

  • 26 25,2

26,9

25,2

26,9

 

Daun B.wuluh

25,6

25,2

 

25,2

  • 26 25,2

26,9

25,2

26,9

 

Replika Sirih

25,6

25,2

 

25,2

  • 26 25,2

26,9

25,2

26,9

 

Replika B.wuluh

25,6

25,2

 

25,2

  • 26 25,2

26,9

25,2

26,9

 

Berat

Daun Sirih

 

1,1

1,1

 

1,1

 

1,1

Daun B.wuluh

0,1

0,1

0,1

0,1

Replika Sirih

 

0,9

0,9

 

0,9

 

0,9

Replika B.wuluh

0,1

0,1

0,1

0,1

Berat

Replika Sirih

0,5

 

0,5

sebelum

Replika

0,05

berat kertas

0,1

B.wuluh

direndam

Daun Sirih

0,9

 
 

Daun B.wuluh

0,1

4.1.2 Perhitungan

Luas kertas whatman

 

Sirih

= ¼

.d 2 = ¼ . 3.14.9 2 = ¼ . 254,34 = 63,58

Belimbing wuluh = 28,26 = 7,065

 

= ¼

.d 2 = ¼ . 3.14.3 2 = ¼ .

Luas Daun

 

X Luas Kertas Whatman

 
 

Daun Sirih

X 63,58 = 38,151

 

Daun blimbing wuluh

 

X 7,065 = 3,53

Fluks Daun =

 

(

)

(

)

 

-

= 0

 
 

FD Sirih t( 10) =

= 0

t( 20) =

= 0

t( 30) =

 

-

FD Belimbing Wuluh

 
 

t( 10) =

= 0

t( 20) =

= 0

t( 30) =

= 0

 

(

)

(

)

Fluks Replika =

 

= 0

 
  • - FR Sirih t( 10) =

= 0

t( 20) =

= 0

t( 30) =

  • - FR Belimbing wuluh

 

t( 10) =

= 0

t( 20) =

= 0

t( 30) =

= 0

KUAJ = X 1 . 10 -6 + [ (

)(

) ]

 

= 23,05 . 10 -6 + [ (

 

)(

)

 

]

= 23,05 . 10 -6 +

[

]

= 23,05 . 10 -6 + 2,932. 10 -6

 

= 25,982 . 10 -6 =

2,5982 . 10 -5

KUA = KUAJ X RH = 2,5982 . 10 -5 X 75,347 = 195,751. 10 -5

RTD =

Daun sirih

(10’) =

= ∞

 

(20’) =

= ∞

(30’) =

= ∞

Daun Belimbing Wuluh

(10’) =

= ∞

(20’) =

= ∞

(30’) =

= ∞

RTR = Replika Daun sirih

(10’) =

= ∞

(20’) =

= ∞

(30’) =

= ∞

Replika Daun Belimbing Wuluh

(10’) =

= ∞

(20’) =

= ∞

(30’) =

= ∞

RD = RTD-RTR Daun Sirih (10’) = ∞-∞ = ∞ (20’) = ∞-∞ = ∞ (30’) = ∞-∞ = ∞

Daun Belimbing Wuluh (10’) = ∞-∞ = ∞ (20’) = ∞-∞ = ∞ (30’) = ∞-∞ = ∞

4.1.3 Grafik Grafik nilai RD daun sirih

Daun Belimbing Wuluh (10’) = ∞ - ∞ = ∞ (20’) = ∞ - ∞ =

Grafik nilai RD daun belimbing wuluh

Daun Belimbing Wuluh (10’) = ∞ - ∞ = ∞ (20’) = ∞ - ∞ =

4.1.3 Analisa Grafik

Grafik di atas menunjukkan nilai RD dari daun sirih dan daun

belimbing wuluh menunjukkan angka yang tidak dapat didefinisikan.

4.2. Pembahasan

Pada percobaan ini pada menit ke 0,10 dan menit ke 20 terdapat

perubahan nilai Rh dan suhu, baik maksimal maupun minimal. Sedangkan untuk massa dari daun beserta replikanya perubahan massa tidak dapat diukur dalam timbangan digital, karena kemungkinan nilainya terlalu kecil. Pada nilai Rh dan suhu, menit ke 0, 10 dan 20 mengalami kenaikan, kenaikan Rh sebanding dengan kenaikan suhu dari benda tersebut. Pada menit ke 30, Rh dan suhu tidak dapat berubah lagi, mencapai titik maksimalnya, artinya keadaan air di dalam sel telah jenuh, sehingga air yang berada di luar lingkungan daun tidak dapat masuk/tertolak untuk masuk ke dalam daun. Selain air, gas yang berada di luar lingkungan daun juga tidak dapat masuk ke dalam daun karena konsentrasi air telah memenuhi ruangan di daun. Hukum Fick menerangkan bahwa kelajuan difusi berbanding lurus pada luasan area dan gradien konsentrasi, dan berbanding terbalik dengan panjang area difusi (Hopkins, 2008), pada percobaan, difusi semakin besar pada daun sirih daripada daun blimbing wuluh, karena luasannya makin besar. Faktor yang mempengaruhi kecilnya difusi adalah kondisi daun yang telah jenuh air, sehingga air dan gas sedikit yang dapat berdifusi, karena gradien konsentrasinya kecil. Jenis daun jelas berpengaruh pada nilai Rh dan suhu terukurnya karena kedua daun memiliki morfologi yang berbeda. Faktor eksternal yang mempengaruhi hasil percobaan adalah keadaan ruangan yang cukup lembab, karena cuaca mendung, maka juga berpengaruh pada suhu waktu itu, sehingga dapat mempengaruhi nilai Rh dan nilai suhu terukur.

BAB V PENUTUP

  • 5.1. Kesimpulan

 

Difusi

makin

besar

pada

daun

sirih,

karena

luasan

permukaannya lebih besar daripada daun belimbing wuluh. Faktor yang mempengaruhi hasil percobaan adalah suhu dan

kelembaban lingkungan, serta perbedaan daun.

  • 5.2. Saran Format laporannya tolong jangan sampai ada perubahan seperti

ini, merepotkan.

Daftar Pustaka

Bailey, Jill. 2003. The Facts On File Dictionary of Botany. Aylesbury. Market House Books, Ltd. Gardner. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Jakarta : UI Press. Hopkins, William G. dan Norman P. A. Hüner. 2008. Introduction to Plant Physiology: Fourth Edition. Hoboken. JohnWiley & Sons, Inc. Hornby, AS. 1987. Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English. GBK. Oxford University Press. Rittner, Don, dan Timothy L. McCabe. 2004. Encyclopedia Of Biology. New York. The Facts on File Inc. Sitompul, SM.2007. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Malang:FP UB. Taiz, Lincoln dan Eduardo Zeiger. 2002. Plant Physiology: 3 rd edition. USA. Sinauer Associates.