Anda di halaman 1dari 22

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Semoga penulisan makalah ini dapat menambah informasi tentang antihipertensi. Pokok permasalahan dalam penulisan makalah ini adalah : Tanaman Meniran sebagai Obat Malaria. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Dalam pembuatan makalah ini, penulis telah berusaha untuk mencari informasi dengan sebaik-baknya sesuai dengan kemampuan dan fasilitas yang tersedia. Pada kesempatan ini penulis ingin ucapkan terima kasih kepada : 1. Dra. Erlindha Gangga A., M.Si., Apt. yang telah memberi kesempatan untuk menyuguhkan makalah ini dan sebagai pembimbing penulis dalam pembuatan makalah. 2. Keluarga, saudara serta teman sekalian yang telah memberi ruang dan semangat dalam penulisan makalah Akhir kata, penulis harapkan semoga makalah ini benrmanfaat bagi kita semua, amin.

Jakarta, Juni 2012

Penulis i

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ....................................................................................................... i Daftar Isi ................................................................................................................. ii Bab I Pendahuluan ..................................................................................................1 A. Latar Belakang ...................................................................................... 1 B. Tujuan Penulisan ................................................................................... 2 Bab II Tinjauan Pustaka .......................................................................................... 2 Bab III Pembahasan ................................................................................................4 A. Ciri ciri tanaman herbal meniran .............................................................. 4 B. Uraian tanaman meniran ........................................ 5 C. Nama Lokal ......................................................................................... 5

D. Penyakit yag dapat diobati .................................................................... 5 E. Pemanfaatannya untuk obat ........6 F. Komposisi ....7 Bab IV Penutup ....................................................................................................... 8 A. Kesimpulan ............................................................................................ 8 Bab V Jurnal ... 9 Daftar Pustaka .........................................................................................................19

ii

BAB I PENDAHULUAN
Tanaman meniran (Phylanthus niruri) sangat mudah di jumpai di sekitar kita. Tumbuh liar di halaman rumah kita, di samping pagar, bersama dengan tanaman herba lainnya. Walaupun tumbuh liar namun tanaman ini juga mengandung khasiat obat yang berguna bagi kita. Tanaman ini dengan mudah dikenali, daunnya mirip pohon asam, namun banyak buah di sepanjang tangkai di bawah daun. Dalam ilmu morfologi tumbuhan yang biasa diajarkan di jurusan Biologi, tanaman ini dicontohkan sebagai salah satu anomali pada daun majemuk. Daunnya yang mirip daun pohon asam ini sekilas seperti daun majemuk, namun sejatinya adalah daun tunggal. Karena adanya buah di bawah daunnya maka dia bukanlah daun majemuk. Dan ciri daun majemuk tidak ada kuncup daun atau kuncup buah di ketiak daunnya. Malaria adalah penyakit infeksi sistemikyang disebabkan oleh parasit jenis protozoa dari genus plasmodium yang secara alamiah ditularkan lewat gigitan nyamuk anopheles betina.

A. LATAR BELAKANG
Istilah malaria diambil dari dua katabahasa Italia, yaitu Mal (=buruk) dan aroa (=udara) atau udara buruk karena dahulu banyak terdapat di daerah rawa-rawayang mengeluarkan bau busuk. Penyakit ini juga mempunyai beberapa nama lain, seperti demam roma, demam rawa, demam tropic, demam pantai, demam charges, demam kara, dan paludisme. Meniran (Phyllanthus urinaria) biasa tumbuh liar. Tumbuhan ini sering diabaikan dan dianggap tidak berguna oleh sebagian kalangan. Namun bagi dunia kesehatan, tumbuhan ini memiliki potensi sebagai obat. Penelitian terbaru membuktikan tanaman meniran dapat mengobati penyakit demam berdarah. Di dalam makalah ini akan kami bahas mengenai tanaman obat meniran sebagai obat malaria. Dan juga pemanfaatan lainnya untuk penyakit penyakit lain serta kandungan yang terkandung di dalam tanaman obat itu sendiri.

B. TUJUAN
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mendukung pembelajaran mengenai tanaman obat meniran sebagai obat malaria dengan pencarian informasi dari berbagai pustaka serta melatih teknik penyusunan makalah berbasis ilmiah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Meniran (Phylanthus urinaria, Linn.), memiliki morfologi batang : Berbentuk bulat berbatang basah dengan tinggi kurang dari 50 cm. Daun : Mempunyai daun yang bersirip genap setiap satu tangkai daun terdiri dari daun majemuk yang mempunyai ukuran kecil dan berbentuk lonjong. Bunga : Terdapat pada ketiak daun menghadap kearah bawah. Tanaman ini duianggap sebagai gulma yang kompetitif di beberapa daerah, karena jumlah yang besar benih, toleransi naungan tinggidan system akar yang luas. Merupakan tumbuhan liar yang banyak tumbuh ditempat lembab pada dataran rendah daerah tropis. Tumbuhan ini banyak tumbuh dihutan, kebun, lading dan halaman rumah.Tumbuhan ini biasa dianggap rumput liar, padahal tumbuhan meniran dapat dimanfaatkan sebagai obat herbal tradisional.

Meniran merupakan tumbuhan yang berasal dari daerah tropis yang tumbuh liar di hutan-hutan, ladang-ladang, kebun-kebun maupun pekarangan halaman rumah. Pada umumnya tidak dipelihara, karena dianggap tumbuhan rumput biasa. Tumbuhan ini dapat subur ditempat yang lembab pada dataran rendah sampai ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut. Penelitian terbaru mengenai meniran ternyata bisa digunakan untuk penderita HIV AIDS ,dimana ekstrak meniran bersifat sebagai adjuvant, terutama untuk meningkatkan T-helpernya. Adjuvant artinya membantu dalam menanggulangi suatu infeksi. Selain diberikan obat standar, ditambah dengan stimulan. Dengan terapi adjuvant, proses penyembuhan penyakit bisa lebih cepat dan yang lebih penting adalah menghilangkan proses kekambuhan. Ektrak meniran dapat digunakan sebagai terapi adjuvant pada pengobatan infeksi yang membandel seperti infeksi virus, infeksi jamur, infeksi bakteri, intraseluler dan penyakit infeksi kronis lainnya. Ekstrak meniran ini bersifat membantu, bukan mengobati, penyembuhan HIV/AIDS. Setidaknya memperbaiki kualitas hidup dan memperpanjang umur penderita. Ahli tanaman obat tradisional Prof Hembing, menawarkan penyembuhan hepatitis B dengan meniran. Resepnya, 60 gram daun meniran dicampur beberapa tanaman obat lain, lalu direbus dengan 1 liter air sampai airnya tinggal 200 cc. Air rebusan ini diminum dua kali sehari selama tujuh hari berturut-turut. belum ada obat modern yang sanggup menyembuhkan hepatitis B dengan jitu. Yang paling ideal adalah mencegah hepatitis B dengan vaksinasi. Bagi yang telanjur terinfeksi, apa boleh buat, ia harus hidup dengan virus HBV (penyebab hepatitis B). Virus ini menular melalui transfusi darah, aktivitas seksual, dan pertukaran cairan tubuhantara lain melalui jarum suntik dan pisau cukur. Secara vertikal, hepatitis B juga bisa menurun melalui ibu hamil yang terinfeksi HBV. Senyawa aktif dalam meniranfilantin dan hipofilantinberfungsi menggelontor racun dalam tubuh. Selain itu, perdu bertinggi satu meter ini juga sanggup memacu kekebalan tubuh. digunakan sebagai obat berbagai penyakit, mulai diare sampai epilepsi. Senyawa aktif dalam meniranfilantin dan hipofilantinberfungsi menggelontor racun dalam tubuh. Selain itu, perdu bertinggi satu meter ini juga sanggup memacu kekebalan tubuh.

BAB III PEMBAHASAN


Penelitian terbaru membuktikan tanaman meniran dapat mengobati penyakit demam berdarah. Tanaman ini memiliki daun alternative kecil menyerupai orang-orang dari pohon mimosa, dibuang dalam dua rentang. Daun yang besar diujung tangkai daun dan lebih kecil kea rah itu. Ketika disentuh , daun lipat secara otomatis. Bunga putih kehijauan, menit dan muncul di axiles daun, serta kapsul biji. Sejumlah kecil hijau-merah buah-buahan, bulat dan halus, yang ditemukan di sepanjang bagian bawah batang, yang tegak dan merah.

A. Ciri-ciri tanaman herbal meniran : o Batang : Batang basah dengan warna kulit batang hijau. Tinggi antara 30-40 cm. o Bunga : Tumbuh bunga di ketiak daun, berseling dalam 2 baris disetiap dahannya. Hingga kelihatan seakan-akan hanya satu daun bersirip. Pada pangkalnya anak daun terdapat daun pelindung 2 selaput. Bunga betina adalah tunggal, berada di pangkal, sedangkan bunga jantan berdua atau bertiga diujung dahan. o Buah : Bentuk buah tanaman meniran ini adalah kotak, berduri temple pendek berkatup 3, buah pecah dan rata. Kulit sari dari tanaman herbal meniran ini mempunyai tambahan. o Anak daun : Berbulu mata pendek di tepinya

Meniran (Phylanthus urinaria, Linn.) Sinonim : Phylanthus alatus, Bl. P. cantonensis, Hornem. P. echinatus, Wall. P. lepidocarpus, Sieb.et Zucc P. leprocarpus, Wight. Familia : Euphorbiaceae

B. Uraian tanaman meniran : Morfologi Meniran : Batang : Berbentuk bulat berbatang basah dengan tinggi kurang dari 50 cm. Daun : Mempunyai daun yang bersirip genap setiap satu tangkai daun terdiri dari daun majemuk yang mempunyai ukuran kecil dan berbentuk lonjong. Bunga : Terdapat pada ketiak daun menghadap kearah bawah. Syarat Tumbuh : Meniran tumbuhan berasal dari daerah tropis yang tumbuh liar di Hutan-hutan, ladang-ladang, Kebun-kebun maupun pekarangan halaman rumah, pada umumnya tidak dipelihara, karena dianggap tumbuhan rumput biasa. Meniran tumbuh subur ditempat yang lembab pada dataran rendah sampai ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut.

C. Nama Lokal : Child pick a back (Inggris), Kilanelli (India), Meniran (Jawa); Zhen chu cao, Ye xia zhu (Cina), Gasau madungi (Ternate);

D. Penyakit yang dapat diobati : Sakit kuning (lever), Malaria, Demam, Ayan, Batuk, Haid lebih, Disentri, Luka bakar, Luka koreng, Jerawat.

E. Pemanfaatannya untuk obat antara lain : Sakit Kuning 16 Tanaman Meniran (akar, Batang, daun) ditumbuk halus dan direbus dengan 2 gelas air susu sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas. Kemudian disaring dan diminum sekaligus; dilakukan setiap hari. Malaria

7 Batang tanaman lengkap, 5 Biji bunga cengkeh kering, 1 potong kayu manis, dicuci bersih, kemudian ditumbuk halus dan direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih. Selanjutnya disaring dan diminum 2 kali sehari Ayan

17 - 21 batang tanaman meniran (akar, batang, daun dan Bunga), dicuci bersih, kemudian direbus dengan 5 gelas air sampai mendidih hingga tinggal 2,5 gelas. Selanjutnya disaring dan diminum 1 kali sehari sehari 3/4 gelas selama 3 hari berturut-turut Demam

Siapkan 3-7 batang tanaman lengkap (akar, batang, daun dan bunga). Bahan dicuci bersih, kemudian diseduh dengan 1 gelas air panas. Selanjutnya saring, kemudian diminum sekaligus. Batuk

Siapkan 3 - 7 batang tanaman meniran lengkap (akar, batang, daun, bunga), Madu secukupnya. Bahan dicuci bersih, kemudian ditumbuk halus dan direbus dengan 3 sendok makan air masak, hasilnya dicampur dengan 1 sendok makan madu sampai merata. Diminum sekaligus dan dilakukan 2 kali sehari Haid berlebihan

Siapkan 3 - 7 potong akar kering, 1 gelas air tajin. Bahan ditumbuk halus dan direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih, Kemudian ditambah dengan 1 gelas air tajin dan diaduk sampai rata. Selanjutnya saring dan diminum 2 kali sehari, pagi dan sore.

Disentri

Siapkan 17 batang tanaman meniran lengkap (akar, batang, daun dan bunga), rebus dengan 3 gelas air sampai mendidih, saring dan minum 2 kali sehari, pagi dan sore. Luka Bakar Kena Api atau Air Panas

3 - 7 batang tanaman lengkap (akar, batang, daun dan bunga) ditumbuk halus, tambah 1 Rimpang umbi temulawak (4 cm) yang diiris-iris. Campurkan dengan 3 buah bunga cengkeh kering, 1 potong kayu Manis, kemudian direbus dengan 3 gelas air sampai mendidih. Luka koreng

9 - 15 batang meniran lengkap (akar, batang, daun dan bunga) cuci bersih dan ditumbuk halus. Kemudian direbus dengan 1 cerek air. Dalam keadaan hangat-hangat dipakai untuk mandi. Jerawat

7 Batang tanaman meniran, 1 Rimpang umbi kunyit (4 cm), dicuci sampai bersih dan ditumbuk sampai halus. Kemudian direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas. selanjutnya disaring dan diminum sekaligus, ulangi secara teratur setiap hari. F. Komposisi : Senyawa kimia yang terkandung dalam tumbuhan Meniran : Zat Filantin dan hipofilantin : berkhasiat menggelontor melindungi sel hati dan zat toksik ( hepatoprotektor) Kalium segar. Mineral Damar Zat Penyamak racun dalam tubuh /

: Kandungan ini tedapat pada pohon meniran yang masih

BAB IV PENUTUP A. KESIMPULAN


Berdasarkan teori yang sudah diuraikan dapat disimpulkan bahwa tanaman meniran terbukti dapat mengobat penyakit malaria dan beberapa penyakit lainnya berdasarkan penelitian yang tekah dilakukan oleh pihak pihak yang terkait. Karena meniran mengandung zat zat yang dapat mengobati malaria. Zat zat yang terkandung seperti zat filantin, hipofilantin, kalium, mineral, dammar dan zat penyamak.

BAB V JURNAL
Jurnal Littri 17(1), Maret 2011. Hlm. 25 31

ISSN 0853-8212 EVA OKTAVIDIATI et al. : Pertumbuhan tanaman dan kandungan total filantin dan hipofilantin aksesi meniran (Phyllanthus sp. L)

PERTUMBUHAN TANAMAN DAN KANDUNGAN TOTAL FILANTIN DAN HIPOFILANTIN AKSESI MENIRAN (Phyllanthus sp. L) PADA BERBAGAI TINGKAT NAUNGAN

EVA OKTAVIDIATI1), M.A. CHOZIN2), N. WIJAYANTO3), M. GHULAMAHDI2), dan L.K. DARUSMAN4)

1) Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Bengkulu Jl. Bali PO. Box 118 Bengkulu 2) Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB Jl. Meranti Kampus IPB Darmaga Bogor 3) Departemen Silvikultur Kehutanan IPB Jl. Lingkar Kampus IPB Darmaga Bogor 4)Departemen Kimia IPB Jl. Agathis Kampus IPB Darmaga Bogor (Diterima Tgl. 18 - 2 - 2011 - Disetujui Tgl. 10 - 3 2011)

ABSTRAK Meniran adalah anggota dari famili Euphorbiaceae. Lignan, berupa filantin dan hipofilantin yang ada di dalam tanama n, dilaporkan sebagai agen hepatoprotektif dalam terapi pengobatan yang utama. Eksplorasi telah dilakukan terhadap 13 aksesi meniran pada berbagai tipe habitat yang berbeda di Kabupaten Bangkalan dan Gresik, Provinsi Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh dari aksesi dan taraf naungan terhadap pertumbuhan dan kandungan filantin dan hipofilantin tanaman meniran (Phyllanthus sp. L). Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan IPB di Babakan Sawah Baru, Bogor, Jawa Barat dengan ketinggian tempat 250 m dml dari Maret 2009 sampai September 2009. Percobaan disusun dalam rancangan petak terbagi dengan 3 kali ulangan. Petak utama adalah 3 taraf naungan (N) terdiri atas : 0% (N0), 25% naungan (N1) dan 50% naungan (N2). Anak petak adalah 13 aksesi meniran (A) terdiri atas : A1, A2, A3, A4, A5, A6, A7, A8, A9, A10, A11, A12, dan A13 berasal dari Bangkalan dan Gresik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naungan 50% meningkatkan tinggi tanaman dan menurunkan jumlah daun maje muk. Terjadi interaksi naungan dan aksesi terhadap jumlah cabang. Uji Duncan menghasilkan 3 kelompok aksesi yang mempunyai respon berbeda terhadap naungan. Akse si nomor 6 dan 7 merupakan aksesi yang menunjukkan pertumbuhan dan produksi biomassa yang lebih besar dibandingkan aksesi lainnya. Aksesi nomor 7 mempunyai kandungan total filantin dan hipofilantin tertinggi, karena pengaruh naungan dapat menurunkan kandungan total filantin dan meningkatkan kandungan total hipofilantin. Kata kunci : Phyllanthus sp. L., filantin, hipofilantin, naungan, aksesi ABSTRAC T Plant growth and total phyllanthin and hypophyllanthin

contents of Phyllanthus sp. L accession on various shading levels Meniran (Phyllanthus sp. L) is family member of Euphorbiaceae. The lignan, consisting of phyllanthin and hypophyllanthin in the plant, was reported as therapeutically active constituent and serve as hepatoprotective agent. The objective of this research was to investigate the effect of shading intensities on plant growth and phyllanthin and hypophyllanthin contents of Phyllanthus sp. accessions. The experiment was arranged in split plot design with three replicates. The main plot was shading intensity consisting of 0% (N0), 25% (N1), and 50% (N2) shades. The sub plot was of Phyllanthus sp. accessions (A) consisting of A1, A2, A3, A4, A5, A6, A7, A8, A9, A10, A11, A12, and A13 taken from Bangkalan and Gresik. The results showed that 50% shade increased plant height but decreased

number of leaves. Interaction between shading intensity and accession gave significant effect on number of branches. Referring to their responses on shades, all accessions were divided into 3 groups by DMRT. Biomass productions of accessions number 6 and 7 were greater than the other accessions. Accession number 7 was the highest in phyllanthin and hypophyllanthin contents where the shading reduced the phyllanthin but increased the hypophyllanthin contents. Key words: Phyllanthus sp., phyllanthin, hypophyllanthin, shading, accessions

PENDAHULUAN

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi yang tersebar di berbagai tipe habitat. Di hutan tropis Indonesia terdapat sekitar 30.000 tumbuhan,

jauh melebihi daerah tropis lainnya seperti Amerika Selatan dan Afrika Barat. Diketahui bahwa sekitar 9.600 spesies tumbuhan tersebut berkhasiat obat, dan sekitar 200 spesies diantaranya merupakan tumbuhan obat penting bagi industri obat tradisional (SAMPOERNO, 1999; ZUHUD et al., 2001; AZMY, 2002). Pada tahun 2008, sekitar 22,26% penduduk Indonesia menggunakan obat tradisional, termasuk di antaranya obat herbal (BADAN PUSAT STATISTIK, 2009). Dalam laporannya, Menteri Kesehatan menuliskan bahwa menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 80% penduduk dunia bergantung pada pengobatan tradisional, termasuk obat herbal(DEPARTEMEN KESEHATAN, 2009). Dengan adanya perubahan pola pikir masyarakat dengan gerakan hidup kembali ke alam (back to nature) yang dalam pelaksanaannya membiasakan hidup dengan menghindari bahan-bahan kimia sintetis dan lebih mengutamakan bahan-bahan alami, semua yang serba natural semakin dicari dan digemari orang (WAYLAND, 2004; LYNCH dan BERRY, 2007). WARDANA et al. (2002) menyebutkan bahwa dengan adanya berbagai perubahan

10

JURNAL LITTRI VOL. 17 NO. 1, MARET 2011 : 25 - 31

kebijakan ekonomi nasional maupun internasional maka komoditas tanaman obat sebagai penyedia bahan baku untuk industri hilir menjadi penting. Meniran (Phyllanthus sp. L) teridentifikasi sebagai gulma tanaman padi (SOERJANI et al., 1987) yang keberadaannya tidak dikehendaki, walaupun sebagian masyarakat sudah mengenal dan menggunakan meniran sebagai salah satu tanaman berkhasiat obat. Meniran (Phyllanthus sp. L) tergolong dalam divisi Spermatophyta, subdivisi Angiospermae, kelas Dicotyledonae, ordo Geraniles, famili Euphorbiaceae, genus Phyllanthus (WEBSTER, 1986; PADUA et al., 1999). Tanaman ini tersebar di seluruh Asia termasuk Indonesia (HEYNE, 1987; SOERJANI et al., 1987), India, Peru, Afrika, Amerika, dan Australia (TAYLOR, 2003). Hasil penelitian farmakologi menunjukkan bahwa meniran mempunyai aktivitas antihepatotoksik (SYAMSUNDAR et al., 1985; SABIR dan ROCHA, 2008), hipoglikemik, antibakteria, diuretika (NARAYANA et al., 2001; MANJREKAR et al., 2008; LOPEZ-LAZARO, 2009), aktivitas antimicrobial (TAYLOR, 2003), dan aktivitas antiplasmodial (OLUWAFEMI dan DEBIRI, 2008). Sejauh ini kualitas meniran ditentukan berdasarkan kandungan senyawa penanda tunggal dari golongan lignan (ELFAHMI, 2006; MURUGAIYAH, 2008). Lignan utama dari genus ini adalah filantin dan hipofilantin. Keberadaan filantin dapat digunakan sebagai senyawa identitas dalam menganalisis ekstrak kental herba meniran (BPOM, 2004). Seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap komoditas tanaman obat maka usaha pembudidayaan tanaman obat menjadi penting untuk dilakukan agar ketersediaannya berlangsung secara terus menerus. Sejauh ini belum banyak ditemukan teknik agronomi yang tepat dalam pembudidayaan tanaman meniran karena sebagian besar ditemukan hanya sebagai tanaman sela di hutan atau sebagian kecil di pekarangan. KARDINAN dan KUSUMA (2004) menyatakan bahwa 74% tanaman obat yang diguna- kan untuk industri jamu diambil langsung dari alam, sisanya (26%) dibudidayakan dalam skala terbatas. Sampai saat ini sangat sulit menemukan petani atau pihak tertentu yang membudidayakan meniran secara khusus. Demikian juga dengan informasi maupun pustaka mengenai budidaya meniran sangat terbatas. Stimulasi produksi bioaktif pada tanaman dapat dilakukan melalui manipulasi faktor lingkungan seperti cahaya, air, dan pemupukan. KHAN et al. (2010) mendapatkan pengaruh faktor lingkungan dan faktor genetik terhadap peningkatan kandungan filantin pada P. amarus (P. niruri). GOULD dan LISTER (2006) mendapatkan terjadinya peningkatan kandungan flavonoid pada tanaman yang mengalami cekaman cahaya. Pada tanaman pegagan, naungan 25% menghasilkan kandungan flavonoid, steroid dan triterpenoid yang cukup tinggi, sedangkan pada naungan 55-75% kandungan tiga metabolit sekunder tersebut mengalami penurunan (RACHMAWATY, 2004). Pada

kedelai, pigmen antosianin meningkat pada persentase naungan yang semakin tinggi (LAMUHURIA et al., 2006), daun jinten menghasilkan kadar fumarat dan fanilat tertinggi pada naungan 75% (URNEMI et al., 2002), sedangkan beberapa klon daun dewa yang ditumbuhkan pada kondisi 100% cahaya menghasilkan kadar antosianin yang tidak berbeda nyata (GHULAMAHDI et al., 2006). Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mendapatkan rancangan teknologi budidaya meniran. Tujuan khusus adalah untuk dapat mengidentifikasi dan menganalisis respon berbagai aksesi pada berbagai persentase naungan terhadap pertumbuhan, produksi biomassa, dan kandungan total filantin dan hipofilantin meniran sebagai tanaman obat yang dibudidayakan.

BAHAN DAN METODE

Percobaan dimulai dari eksplorasi meniran di Kabupaten Bangkalan dan Gresik, Provinsi Jawa Timur pada September 2006. Meniran ditanam di Kebun Percobaan IPB di Babakan Sawah Baru, Bogor pada bulan Maret 2009. Analisis dilakukan di laboratorium RGCI dan laboratorium terpadu Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor yang berakhir pada bulan September 2010. Bahan tanaman yang digunakan adalah benih 13 aksesi tanaman meniran berasal dari Provinsi Jawa Timur, terdiri atas A1, A2, A3, A4, A5, dan A6 (aksesi meniran hijau dari Kabupaten Bangkalan), A7, A8, A9, A10, A11, dan A12 (aksesi meniran hijau dari Kabupaten Gresik), dan A13 (aksesi meniran merah dari Kabupaten Bangkalan) (Tabel 1). Naungan menggunakan paranet 25 dan 50%. Bahan lainnya adalah pupuk kandang, urea, SP-36, KCl, insektisida hayati, dan polibag ukuran 25 x 30 cm (5 kg tanah). Tanaman meniran yang didapat dari eksplorasi di Kabupaten Bangkalan dan Gresik dikeringanginkan selama 48 jam. Biji dipisah dan disemai. Media semai berupa campuran antara tanah, sekam dan kompos dengan perbandingan 1:1:1. Biji yang disemai ditutup dengan kompos agar tidak mudah diterbangkan angin. Selanjutnya media disiram dengan air. Untuk menjaga kelembapan, pesemaian ditutup dengan plastik bening tembus cahaya. Wadah ditaruh di tempat yang ternaungi. Setelah tumbuh kecambah, tutup plastik dibuka. Pemeliharaan dilanjutkan sampai bibit siap untuk dipindahkan ke polibag. Bibit yang dipindah telah mempunyai minimal 4 cabang daun majemuk. Kegiatan pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman, pemupukan, penyiangan gulma, dan pengendalian hama dan penyakit dengan insektisida hayati. Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi atau sore hari. Percobaan disusun berdasarkan rancangan petak terpisah (split plot design) dengan 3 ulangan. Petak utama adalah persentase naungan (N) yang terdiri atas : tanpa naungan (N0), naungan 25% (N1), dan naungan 50% (N2).

11

EVA OKTAVIDIATI et al. : Pertumbuhan tanaman dan kandungan total filantin dan hipofilantin aksesi meniran (Phyllanthus sp. L)

Tabel 1. Hasil eksplorasi 13 aksesi meniran berasal dari Jawa Timur berdasarkan asal usul (lokasi dan habitat) dan ketinggian tempat Table 1. The thirteen accessions phyllanthus from East Java based on its origin (location and habitat) and elevation Jenis meniran Type of meniran Meniran hijau No. aksesi No. accession A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A9 A10 A11 A12 A13 Asal usul Origin Lokasi Location Bangkalan, Socah, kecamatan, (kabupaten, Jaddih Bangkalan, Tanah Merah, Dlamba desa) Bangkalan, Socah, Buluh Laok Bangkalan, Burneh, Benangkah Bangkalan,Tanah Merah, Buddan Bangkalan, Burneh, Tonjung Gresik, Kebomas, Kembangan Gresik, Cerme, Banjarsari Gresik, Kebomas, Prambangan Gresik, Cerme, Morowudi Gresik, Benjeng, Metatu Gresik, Benjeng, Bulurejo Bangkalan, Burneh, Tonjung Ketinggian tempat Elevation Habitat Habitat Kebun/pekarangan Tegalan/bekas sawah Tegalan/bekas sawah Tegalan/bekas sawah Kebun/pekarangan Kebun/pekarangan Tegalan/bekas sawah Tegalan/bekas sawah Kebun/pekarangan Kebun/pekarangan Kebun/pekarangan Tegalan/bekas sawah Tegalan/bekas sawah (m dml) 18 86 57 72 74 27 5 1 2 4 13 10 27

Meniran mera h

Sebagai anak petak adalah aksesi meniran (A) yang berasal dari Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Gresik yang terdiri atas : A1, A2, A3, A4, A5, A6, A7, A8, A9, A10, A11, A12, dan A13. Terdapat 39 kombinasi perlakuan, setiap perlakuan terdiri atas 10 polibag, dan diulang 3 kali sehingga total keseluruhan terdapat 1.170 polibag tanaman. Komponen pertumbuhan dan produksi biomassa yang diamati adalah : tinggi tanaman (cm), jumlah daun majemuk, jumlah cabang, dan bobot brangkasan per -1 tanaman (bobot basah dan kering) (g tanaman ). Bobot tanaman terdiri atas bobot basah dan bobot kering akar, batang, daun, dan total diamati pada akhir percobaan (10 minggu setelah tanam). Analisis High Performance Liquid Chromatography (HPLC) terhadap kandungan total filantin (mg -1 -1 g bobot kering ) dan total hipofilantin (mg g bobot kering ) meniran berdasarkan TRIPATHI et al. (2006) yang dimodifikasi. Data pengamatan diuji keragamannya, jika berpengaruh nyata dilanjutkan dengan Duncans Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5% (MATTJIK dan SUMERTAJAYA, 2002).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perlakuan naungan dan aksesi berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun majemuk (Tabel 2). Perlakuan naungan secara nyata meningkatkan tinggi tanaman. Makin tinggi persentase naungan makin tinggi pertumbuhan tanaman meniran. Pada keadaan tanpa naungan, rata-rata tinggi tanaman adalah 45,96 cm, lebih rendah dan berbeda nyata dengan tinggi tanaman pada naungan 25% (sebesar 58,56 cm) dan naungan 50% (sebesar 62,15 cm). Sebaliknya, perlakuan naungan secara nyata menurunkan jumlah daun majemuk. Semakin tinggi persentase tingkat naungan semakin rendah jumlah daun majemuk. Pada keadaan terbuka, tanaman menghasilkan daun majemuk sebanyak 281,21 lebih tinggi dan berbeda nyata dengan jumlah daun majemuk pada naungan 25%

(sebanyak 244,69) dan naungan 50% (225,92). SALISBURY dan ROSS, (1995) mendapatkan tanaman yang hidup pada kondisi ternaungi akan menunjukkan gejala etiolasi. Perubahan yang lebih tinggi pada tanaman yang ternaungi disebabkan karena morfogenesis tanaman yang lebih cepat karena peningkatan zat pengatur tumbuh tanaman terutama auksin dan giberelin. DEVLIN dan WITHAM (1983) menyatakan bahwa tanaman yang tumbuh dalam kondisi ternaungi memiliki kandungan auksin dan giberelin yang tinggi dan berpengaruh pada plastisitas dinding sel sehingga morfogenesis pada tanaman mengalami peningkatan. Hasil analisis statistik menunjukkan adanya interaksi antara aksesi dan naungan terhadap peubah jumlah cabang (Tabel 3). Berdasarkan hasil uji Duncan terhadap jumlah cabang terdapat 3 kelompok aksesi yang mempunyai respon yang berbeda terhadap naungan. Kelompok 1 terdiri dari A1, A4, A6, A9, A10, A11, dan A12. Jumlah cabang pada aksesi kelompok ini turun secara nyata bila berada pada kondisi ternaungi hingga 50%. Kelompok 2 terdiri dari A2, A3, A5, A7, dan A8 dimana naungan 25% telah dapat menurunkan secara nyata jumlah cabang. Sedangkan kelompok 3 adalah A13, dimana jumlah cabang tidak berbeda nyata antara kondisi tanpa naungan dengan naungan 25% maupun 50%. Hal ini menunjukkan bahwa A13 merupakan aksesi yang memiliki kemampuan dapat beradaptasi pada kondisi cahaya matahari penuh maupun di bawah naungan. Meniran merah (A13) toleran terhadap intensitas cahaya yang berbeda dan dapat digunakan sebagai sumber genetik apabila ingin mengembangkan tanaman meniran dengan gen yang toleran terhadap cahaya. Adanya perbedaan respon meniran terhadap cahaya berhubungan dengan asal usul tanaman yang berbeda habitatnya. KHAN et al. (2010) mendapatkan terjadinya perbedaan tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah biji P. amarus dengan adanya perbedaan ketinggian tempat karena faktor lingkungan dan genetik.

JURNAL LITTRI VOL. 17 NO. 1, MARET 2011 : 25 - 31

Tabel 2.

Pengaruh aksesi dan naungan terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun majemuk meniran Table 2. Effect of accession and shading on plant height and number of leaf of Phyllanthus sp. L Perlakua n Treatme nt Parameter Parameter Tinggi tanaman (cm) Plant height (cm) 55,11 b 56,11 b 55,62 b 55,22 b 55,55 b 63,56 a 62,78 a 57,55 b 54,11 b 55,33 b 57,00 b 56,14 b 37,78 c 45,96 c 58,56 b 62,15 a Jumlah daun majemuk Number of leaf 240,89 235,56 b 239,67 b 248,00 b 241,33 b 317,00 a 342,67 a 243,89 b 247,67 b 228,56 b 258,89 b 248,67 b 165,11 c 281,21 244,69 225,92 c

pertumbuhan akar serabut pada cabang tanaman paling bawah yang berhubungan dengan tanah, disamping akar utama yang berkembang sempurna. Hal ini menunjukkan bahwa meniran merah kemungkinan toleran terhadap kekeringan dan potensial digunakan sebagai aksesi yang toleran terhadap kekeringan (Tabel 4).

Aksesi A1 b Aksesi A2 Aksesi A3 Aksesi A4 Aksesi A5 Aksesi A6 Aksesi A7 Aksesi A8 Aksesi A9 Aksesi A10 Aksesi A11 Aksesi A12 Aksesi A13 Tanpa Naungan a Naungan 25 % b Naungan 50%

Keterangan : Angka rata-rata pada satu kolom yang sama dan diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji DMRT 5% Note : Numbers followed by the same letter in the same column are not significantly different at DMRT 5% Tabel 3. Pengaruh interaksi aksesi dengan naungan terhadap jumlah cabang meniran Table 3. Interaction effect of accessions and shading on number of branch of Phyllanthus sp. L Naunga Aksesi n Accessio Shading n A1 A2 A3 A4 hij A5 hij A6 A7 A8 N0 65,00 cde 79,33 bc 82,67 bc 56,67 defg 69,33 cd 93,33 ab 106, 67a 80,00 bc N1 46,00 efghij 43,33 fghij 47,33 efghij 52,67 defgh 48,33 efghij 82,00 bc 79,33 bc 57,33 defg N2 36,33 hij 34,33 hij 30,67 ij 32,33 36,33 50,00 defghi 42,67 fghij 32,67 hij

Perlakuan aksesi menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap bobot kering daun, batang, akar, dan total. Sedangkan perlakuan naungan menunjukkan perbedaan yang tidak nyata terhadap bobot kering daun, batang, akar, dan total (Tabel 5). Aksesi nomor 6 dan 7 mempunyai bobot kering daun, batang, akar, dan total tertinggi. Menurut INDRIANI et al. (2000), aksesi yang berasal dari satu negara atau letak geografis yang sama cenderung memiliki jarak genetik yang sama. Keragaman genetik yang terjadi cenderung disebabkan oleh adaptasi yang terus menerus sehingga terjadi perubahan-perubahan baik secara biokimia maupun fisiologisnya. Sebaliknya menurut HARTATI et al. (2007), pengelompokkan tidak berhubungan dengan letak geografis melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan. Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 6 dan Gambar 1, aksesi nomor 7 pada kondisi tanpa naungan (N0) mempunyai kandungan total filantin sebesar 1,15 mg g -1 bobot kering . Sedangkan perlakuan pemberian naungan 50% pada aksesi nomor 7 menunjukkan kandungan total -1 hipofilantin sebesar 1,28 mg g bobot kering . Hasil ini

menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kandungan total

filantin maupun hipofilantin meniran pada perlakuan naungan. Perlakuan pemberian naungan 50% meningkatkan Tabel 4. Pengaruh aksesi dan naungan terhadap bobot basah daun, batang, akar, dan total meniran Table 4. Effect of accession and shading on fresh weight of leaf, stem, root, and total of Phyllanthus sp. L

13

A9 57,33 defg 39,33 ghij 28,00 j A10 50,00 defghi 46,00 efghij 33,00 hij A11 64,00 cde 58,33 defg 34,67 hij A12 60,33 def 58,00 defg 38,33 ghij A13 42,33 fghij 30,67 ij 38,33 ghij Keterangan : Angka rata-rata pada satu kolom yang sama dan diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji Note : DMRT 5%followed by the same letter in the same Numbers column are not significantly different at DMRT 5% Tabel 4 menunjukkan perlakuan aksesi mempunyai

Perlakua n Treatment Aksesi A1 Aksesi A2 Aksesi A3 Aksesi A4 Aksesi A5 Aksesi A6 Aksesi A7 Aksesi A9 Aksesi A8

Berat basah (g) Fresh weight (g) Daun Leaf 7,20 bc 6,19 c 6,57 bc 8,45 b 6,98 bc 10,89 a 10,75 a 6,64 6,59bc bc
5,82 c 6,67 bc 6,10 c 7,33 bc 7,05 a 7,40 a 7,73 a

ruh nyata terhadap bobot basah daun, batang, akar, pengabobot basah total. Sedangkan perlakuan naungan dan menu njukkan tidak ada perbedaan yang nyata terhadap bobot basah daun, batang, akar, dan total. Sejalan dengan pertumbuhan tanaman, aksesi nomor
6 dan 7 merupakan aksesi dengan bobot basah daun, batang, dan total tertinggi. Sedangkan bobot basah akar tertinggi ditunjukkan oleh aksesi nomor 13 (sebesar 1,59 g tanaman-1). Meniran merah (A13) mempunyai keunggulan dalam perakaran. Kondisi di lapangan menunjukkan adanya

Aksesi A10 Aksesi A11 Aksesi A12 Aksesi A13 Tanpa Naungan Naungan 25% Naungan 50%

Batang Stem 7,68 bc 7,15 bc 6,10 bc 8,35 ab 7,27 bc 10,15 a 8,17 ab 6,91 7,46bc bc
5,82 c 7,79 bc 7,01 bc 6,72 bc 7,53 a 7,38 a 7,38 a

0,79 c 1,25 ab 1,06 bc 1,59 a 1,30 a 1,10 b 0,99 b

Akar Root 1,05 bc 0,99 bc 1,12 bc 1,21 bc 1,15 bc 1,14 bc 1,18 bc 1,03 1,16 bc bc

Total Total 15,93 14,28 cd 13,79 d cd 18,00 bc 22,17 a 15,40 20,10 ab cd 14,58 15,21cd cd
12,42 d 15,72 cd 14,16 cd 15,64 cd 15,88 a 15,89 a 16,10 a

Keterangan : Angka rata-rata pada satu kolom yang sama dan diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji DMRT 5% Note : Numbers followed by the same letter in the same column are not significantly different at DMRT 5%

14

EVA OKTAVIDIATI et al. : Pertumbuhan tanaman dan kandungan total filantin dan hipofilantin aksesi meniran (Phyllanthus sp. L)

Tabel 5.

Pengaruh aksesi dan naungan terhadap bobot kering daun, batang, akar, dan total meniran Table 5. Effect of accession and shading on dry weight of leaf, stem, root, and total of Phyllanthus sp. L Berat kering (g) Dry weight (g) Perlakua n Treatme Da Batan Akar Total nt un g Leaf Stem Root Total Aksesi A1 2,98 c 2,92 ab 0,57 bcd 6,48 cd Aksesi A2 2,88 c 2,63 abcd 0,51 cd 6,01 cd Aksesi A3 2,97 c 2,31 cd 0,60 bcd 5,89 cd Aksesi A4 2,91 c 2,31 cd 0,58 bcd 5,79 cd Aksesi A5 3,04 c 2,45 bcd 0,56 bcd 6,05 cd Aksesi A6 5,05 a 3,31 a 0,88 a 9,25 a Aksesi A7 4,18 b 3,05 ab 0,68 bc 7,91 b Aksesi A8 3,32 c 2,84 abc 0,60 bcd 6,76 bc Aksesi A9 2,68 c 2,13 de 0,51 cd 5,32 cd Aksesi A10 2,48 c 2,08 de 0,388 d 4,95 d Aksesi A11 2,93 c 2,72 abc 0,55 bcd 6,19 cd Aksesi A12 3,22 c 2,36 cd 0,52 cd 6,09 cd Aksesi A13 2,80 c 1,73 e 0,75 ab 5,28 cd Tanpa naungan 3,13 a 2,70 a 0,71 a 6,54 a Naungan 25% 3,43 a 2,59 a 0,57 b 6,59 a Naungan 50% 3,09 a 2,29 b 0,49 b 5,79 b Keterangan : Angka rata-rata pada satu kolom yang sama dan diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji DMRT 5% Note : Numbers followed by the same letter in the same column are not significantly different at DMRT 5%. kandungan total hipofilantin tetapi menurunkan kandungan total filantin. Hasil penelitian FIGUERA et al. (2006) menunjukkan adanya produksi biomassa, kandungan lignan (filantin dan hipofilantin) yang berbeda di antara 4 daerah yang diteliti. Produksi biomassa berkisar antara 16,97 -1 hingga 20,75 g tanaman dan kandungan lignan dari 0,65 hingga 1,24% berat berat-1. Untuk meniran merah asal Bangkalan (A13), kandungan total filantin pada perlakuan naungan dapat -1 dideteksi, yakni 50% sebesar 0,01 mg g bobot kering , sedangkan pada perlakuan yang lain tidak terdeteksi. Meniran merah (A13) pada hampir semua perlakuan naungan tidak terdeteksi. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian TRIPATHI et al. (2006) yang menggunakan analisis HPLC dan HPTLC terhadap P. amarus, P. fraternus, P. urinaria, P. maderaspatensis, P. Virgatus, dan P. debilis yang menunjukkan bahwa P. urinaria dan P. debilis tidak terdeteksi. Sedangkan untuk kandungan total filantin pada naungan 50% menunjukkan bahwa terpacunya pembentukan filantin pada A13 dengan adanya naungan.

m g g bobot k ering -1

1.4 1.2 1

1.1 1.24 8 1.1 1.15

1.28

0.86 0.8 fila ntin 0.6 0.4 0.2 0 hip ofila ntin

25

50

T ing kat naung an (% )

Tabel 6.

Kandungan total filantin dan hipofilantin dari beberapa aksesi meniran pada berbagai tingkat naungan Table6. Phyllanthin and hypophyllanthin contents several Phyllanthus accessions on various shading levels

of

15

Figure 1.

Gambar 1. Kandungan filantin dan hipofilantin meniran aksesi nomor tujuh (A7) pada beberapa tingkat naungan. Phyllanthin and hypophyllanthin contents of accession A7 on various shading levels

meningkatkan kandungan total hipofilantin.

UCAPAN TERIMA KASIH

KESIMPULAN

Hasil eksplorasi di Kabupaten Bangkalan dan Gresik menunjukkan ada 2 jenis meniran yang berbeda yaitu meniran hijau dan meniran merah. Di antara meniran hijau, aksesi nomor 6 dan 7 secara konsisten menunjukkan pertumbuhan dan produksi biomassa yang lebih baik dibandingkan aksesi lainnya. Khusus untuk parameter jumlah cabang, aksesi menunjukkan respon yang berbeda terhadap intensitas cahaya (naungan). Namun pada umumnya untuk seluruh parameter, pertumbuhan secara nyata telah menurun pada naungan 50%. Kandungan total filantin dan hipofilantin tertinggi diperoleh pada aksesi nomor 7. Untuk aksesi ini pengaruh naungan dapat menurunkan kandungan total filantin tetapi Naunga Akses n i Shadin Accessio g n A6 A7 A13 Filantin (mg g bobot N0 (0%) 0,54 1,15 td kering-1 )
N1 (25%) 0,80 1,10 td

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Prof. Dr. Latifah K. Darusman yang telah membantu dalam mendanai kegiatan eksplorasi di Jawa Timur dan menyedia- kan fasilitas dalam melakukan analisis HPLC di Labora- torium terpadu Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor.

DAFTAR PUSTAKA

N2 (50%)

0,78

0,86 Hipofilantin (mg g bobot kering -1 )

0,01

AZMY, H.J. 2002. Dampak konservasi dan konservasi lahan hutan terhadap kehidupan. Bul. Leuser. 4(11):21-22. BPOM, RI. 2004. Monografi ekstrak tumbuhan obat Indonesia. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Jakarta. Vol. 1:67-70.

N0 (0%) 0,59 1,18 N1 (25%) 0,87 1,24 N2 (50%) 0,84 1,28 Keterangan Note : td = tidak terdeteksi not detected

td td td

16

JURNAL LITTRI VOL. 17 NO. 1, MARET 2011 : 25 - 31

BADAN PUSAT STATISTIK (BPS). 2009. Indikator Kesehatan 1995-2008.(terhubung berkala). http://www.bps. go.id. (18 Januari 2010). DEPARTEMEN KESEHATAN (DEPKES). 2009. Nilai Perdagangan Jamu di Indonesia Rp 4 trilyun per tahun. (terhubung berkala). http://www.depkes. co.id. (15 Januari 2009). th DEVLIN, R. dan F.H. WITHAM. 1983. Plant physiology. (4 edition). Quezon City: PWS Publisher. 577p. ELFAHMI. 2006. Phytochemical and Biosynthetic Studies of Lignans with a Focus on Indonesia Medicinal Plants. Thesis. University of Groningen, The Netherlands. FIGUEIRA, G.M., DE MAGALHAES P.M., V.I.G RECHER, A. SAR- TORRATO, and A.P.A. VAZ. 2006. Chemical preliminary evaluation of selected genotype of Phyllanthus amarus Schumach. Grown in Four Different Counties of Sao Paulo State. Rev. Bras. Pl Med. 8:43-45. GOULD, K.S. and C. LISTER 2006. Flavonoid functions in plants. Dalam: Andersen, O.M, K.R. Markham (eds). FLavonoids Chemistry, Biochemistry, and Applications. Boca Raton, London, New York. Taylor and Francis Group LCC CRC Pres. pp. 397441. GHULAMAHDI, M., S.A. AZIZ, dan I. BATUBARA. 2006. Produksi Senyawa Bioaktif Daun Dewa (Gynura pseudochina (L.) DC) Melalui Studi Agrobiofisik, Studi Keragaman, Lama Pencahayaan, dan Optimalisasi Pemupukan. Laporan Penelitian Hibah Bersaing XIV Tahap I. Bogor: Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat, IPB (tidak dipublikasi). HARTATI, D., A. RIMBAWANTO, E. SULISTYANINGSIH, TARYONO, dan WIDYATMOKO. 2007. Pendugaan keragaman genetik di dalam dan antar proven pulai (Alstonia scholaris (L) R. Br.) menggunakan penanda RAPD. J. Pemul. Tan. Hutan. 1(2):1-9. HEYNE, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid 1. Jakarta: Badan Litbang Kehutanan Indonesia. 3121838. INDRIANI, C.F., L. SUTOPO, SUDJINDRO, dan A.N. SUGINATO. 2000. Keragaman genetik plasma nutfah kenaf (Hibiscus cannabinus L.) dan beberapa spesies yang sekerabatan berdasarkan analisis isozim. http:// images.hughet.multiply.com/attachment/0/RvnPKA oKCh8AAAPWqOgl/publikasi%20 ilmiah %20 febria.doc?nmid=9432286. (22 Agustus 2009). KARDINAN, A, dan F.R. KUSUMA. 2004. Meniran penambah daya tahan tubuh alami. Jakarta : Agromedia Pustaka. 61 hal. KHAN, S., F. AL-QURAINY, M. RAM, S. AHMAD, dan M.Z. ABIDIN. 2010. Phyllanthin biosynthesis in Phyllanthus amarus: Schum and Thorn growing at different

altitudes. Journal of Medicinal Plants Research. 4(1):041-048. LAMUHURIA, D. SOPANDIE, N. KHUMAIDA, TRIKOESOEMA- NINGTYAS, L.K. DARUSMAN, dan T. JUNE. 2006. Meka- nisme fisiologi dan pewarisan sifat toleransi kedelai (Glycine max (L.) Merrill) terhadap intensitas cahaya rendah. Makalah Seminar Sekolah Pasca- sarjana IPB.10 hal (tidak dipublikasikan). LOPEZ-LAZARO, M. 2009. Distribution and biological activities of the flavonoid luteolin. Mini-Reviews in Medicinal Chemistry. 9:31-59. LYNCH, N and D. BERRY, 2007. Differences in perceived risks and benefits of herbal, over-the-counter conventional, and prescribed conventional medicines and the implications of this for the safe and effective use of herbal products. Complem. Ther. Med. 15:8491. MANJREKAR, A.P., V. JISHA, P.P. BAG, B. ADHIKARY, M.M. PAI, A. HEDGE, and M. NANDINI. 2008. Effect of Phyllanthus niruri Linn. Treatment on liver, kidney, and testes in CCl4 induced hepatotoxic rats. Indian Journal of Experimental Biology. 46: 514-520. MATTJIK, A.A. dan I.M. SUMERTAJAYA. 2002. Perancangan Percobaan : Dengan Aplikasi SAS dan Minitab. Jilid I ed. ke-2. Bogor: IPB Press.282p. MURUGAIYAH, V. 2008. Phytochemical, pharmacological, and pharmacokinetic studies of Phyllanthus niruri Linn. Lignans as potential antihyperuricemic agents Thesis. Malaysia: University Saint Malaysia. 306p. NARAYANA, K.R., M.S. REDDY, M.R. CHALUVADI, and D.R. KRISHNA. 2001. Bioflavonoid classification, pharmacological, biochemical effects, and therapeutic potential. Indian Journal of Pharmacology. 33:2-16. OLUWAFEMI, F. and F. DEBIRI. 2008. Antimicrobial effect of Phyllanthus amarus and Parquetina nigrescens on Salmonella typhi. African Journal of Biomedical Research. 11:215-219. PADUA, L.S.D.E., N. BUNYAPRAPHATSARA, R.H.M.J. LEMMENS, and EDITOR. 1999. Plant Resources of South-East Asia 12. Medical and poisonous plants 1. The Netherlands: Backhys Pub.782p. RACHMAWATY, R.Y. 2004. Pengaruh naungan dan jenis pegagan (Centella asiatica L. (Urban)) terhadap pertumbuhan, produksi, dan kandungan triterpenoidnya sebagai bahan obat. Skripsi. Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.42 hal. SABIR, S.M. and J.B.T. ROCHA. 2008. Waterextractable phytochemicals from Phyllanthus niruri exhibit in vitro antioxidant and in vivo hepatoprotective activity against paracetamol-induced liver damage in mice. Food Chem. 111:845-851. SALISBURY, F.B. and C.W. ROSS. 1995. Plant physiology 4 th edition. Wadsworth Publ. Co. 343p.

17

EVA OKTAVIDIATI et al. : Pertumbuhan tanaman dan kandungan total filantin dan hipofilantin aksesi meniran (Phyllanthus sp. L)

SAMPOERNO, H. 1999. Pengembangan dan pemanfaatan tumbuhan obat Indonesia. Paper Presented at The National Seminar on Medicinal Plants from Indonesia Tropical Forest. 28 April 1999, Bogor, Indonesia (tidak dipublikasikan). SOERJANI, M., A.J.G.H. KOSTERM ANS, G. TJITROSOEPOMO, and EDITOR. 1987. Weeds of rice in Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. p.290-295. SYAMSUNDAR, K.V., B. SINGH, R.S. THAKUR, A. HUSAIN, Y. KISO, and H. HIKINO. 1985. Antihepatotoxic principles of Phyllanthus niruri herbs. J Ethnopharm 14(1):41-44. TAYLOR, L. 2003. Technical data report for chanca piedra stone breaker (Phyllantus niruri). http://www. raintree.com/chanca-techreport.pdf. (14 Mei 2006). TRIPATHI, A. K., R.K. GUPTA, M.M. GUPTA, and S.P.S KHANUYA. 2006. Quantitative determination of phyllantin and hypophyllantin in phyllanthus species by highperformance thin layer chromatography. Phytochem Anal. 17:394-397.

URNEMI, YAHYA S. and DARUSMAN L. K. 2002.Pengaruh pupuk fosfor dan pupuk herbal pada tiga taraf naungan terhadap pertumbuhan dan kadar metabolit sekunder tanaman daun jinten (Coleus ambonicus Lour). Forum Pascasarjana. 25(2):135-145. WARDANA, H.D., N.S. BARWA, A. KONGSJAHJU, A.M. IQBAL, M. KHALID, dan R.R. TARYADI. 2002. Budidaya Secara Organik Tanaman Obat Rimpang. Jakarta. Penebar Swadaya. 88p. WAYLAND, C. 2004. The failure of pharmaceuticals and the power of plants: medicinal discourse as a critique of modernity in the Amazon. Soc. Sci. Med. 58:24092419. WEBSTER, G.L. 1986. A revision of Phyllanthus (Euphorbiaceae) in Eastern Melanesia. Pacific Science. 40:88-105 ZUHUD, E.A.M., S. AZIZ, M. GHULAMAHDI, N. ANDARWULAN, dan L.K. DARUSMAN. 2001. Dukungan teknologi pengembangan obat asli Indonesia dari segi budi- daya, pelestarian, dan pasca panen. Paper presented at The Workshop on Agribusiness Development based on Biopharmaka. 13-15 November 2001. Departemen Pertanian, Jakarta, Indonesia

18

DAFTAR PUSTAKA :
http://tanpapena.blogspot.com/2009/04/khasiat-tanaman-meniran.html http://www.anneahira.com/tanaman-obat/meniran.html http://putramaja.tripod.com/Tanaman/Pengobatan2.html http://obatherbalnusantara.wordpress.com/2012/02/29/manfaat-tumbuhanmeniran-bagi-kesehatan/ http://perkebunan.litbang.deptan.go.id/upload.files/File/publikasi/jurnal/Jurnal%20 Littri%2017(1)2011/Jurnal%20Littri%2017(1)2011-EvaO.pdf http://fortrik.blogspot.com/2012/05/meniran.html http://fbifm.com/lifestyle/gulma-tumbuhan-liar-yang-ada-manfaatnya http://baituherbal.com/tanaman-herbal-indonesia-meniran/

19

MAKALAH KULIAH BOTANI FARMASI


Tanaman Meniran sebagai Obat Malaria

Nama : Rifa Rizkiyah NPM : 2011210209 Kelas : B

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PANCASILA JAKARTA 2012