Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN NEFROLITIASIS

DISUSUN OLEH : NOVIAS DWITA ARTHIANI 11.1002

AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH 2012

LAPORAN PENDAHULUAN NEFROLITIASIS

A. ANATOMI FISIOLOGI

Ginjal merupakan organ pada tubuh manusia yang menjalankan banyak fungsi untuk homeostasis, yang terutama adalah sebagai organ ekskresi dan pengatur kesetimbangan cairan dan asam basa dalam tubuh. Terdapat sepasang ginjal pada manusia, masing-masing di sisi kiri dan kanan (lateral) tulang vertebra dan terletak retroperitoneal (di belakang peritoneum). Selain itu sepasang ginjal tersebut dilengkapi juga dengan sepasang ureter, sebuah vesika urinaria (buli-buli/kandung kemih) dan uretra yang membawa urine ke lingkungan luar tubuh Secara umum, ginjal terdiri dari beberapa bagian:
1.

Korteks, yaitu bagian ginjal di mana di dalamnya terdapat/terdiri dari korpus renalis/Malpighi (glomerulus dan kapsul Bowman), tubulus kontortus proksimal dan tubulus kontortus distalis.

2.

Medula, yang terdiri dari 9-14 pyiramid. Di dalamnya terdiri dari tubulus rektus, lengkung Henle dan tubukus pengumpul (ductus colligent).

3. 4. 5.

Columna renalis, yaitu bagian korteks di antara pyramid ginjal Processus renalis, yaitu bagian pyramid/medula yang menonjol ke arah korteks Hilus renalis, yaitu suatu bagian/area di mana pembuluh darah, serabut saraf atau duktus memasuki/meninggalkan ginjal.

6.

Papilla renalis, yaitu bagian yang menghubungkan antara duktus pengumpul dan calix minor.

7. 8. 9.

Calix minor, yaitu percabangan dari calix major. Calix major, yaitu percabangan dari pelvis renalis. Pelvis renalis, disebut juga piala ginjal, yaitu bagian yang menghubungkan antara calix major dan ureter.

10.

Ureter, yaitu saluran yang membawa urine menuju vesica urinaria.

B. DEFINISI Nefrolitiasis adalah adanya batu atau kalkulus dalam pelvis renal batu-batu tersebut dibentuk oleh kristalisasi larutan urin (kalsium oksolat asam urat, kalium fosfat, struvit dan sistin). Ukuran batu tersebut bervareasi dari yang granular (pasir dan krikil) sampai sebesar buah jeruk. Batu sebesar krikil biasanya dikeluarkan secara spontan, pria lebih sering terkena penyakit ini dari pada wanita dan kekambuhan merupakan hal yang mungkin terjadi.

C. ETIOLOGI Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan gangguan aliran urin,gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi, dan keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik). Secara epidemiologik terdapat beberapa faktor yang mempermudah terbentuknya batu pada saluran kemih pada seseorang. Faktor tersebut adalah faktor intrinsik yaitu keadaan yang berasal dari tubuh orang itu sendiri dan faktor ekstrinsik yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan di sekitarnya. Faktor intrinsik antara lain : 1. Herediter (keturunan) : penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya. 2. Umur : penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun. 3. Jenis kelamin : jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan pasien perempuan Faktor ekstrinsik diantaranya adalah : 1. Geografis : pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih yang lebih tinggi dari pada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stonebelt. 2. Iklim dan temperature/ 3. Asupan air : kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang dikonsumsi. 4. Diet : Diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu.

5. Pekerjaan : penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktifitas atau sedentary life.

D. TANDA DAN GEJALA 1. Nyeri dan pegal di daerah pinggang Lokasi nyeri tergantung dari dimana batu itu berada. Bila pada piala ginjal rasa nyeri adalah akibat dari hidronefrosis yang rasanya lebih tumpul dan sifatnya konstan. Terutama timbul pada costoverteral. 2. Hematuria Darah dari ginjal berwarna coklat tua, dapat terjadi karena adanya trauma yang disebabkan oleh adanya batu atau terjadi kolik. 3. Infeksi Batu dapat mengakibatkan gejala infeksi traktus urinarius maupun infeksi asistemik yang dapat menyebabkan disfungsi ginjal yang progresif. 4. 5. Kencing panas dan nyeri Adanya nyeri tekan pada daerah ginjal

E. PATOFISIOLOGI Nefrolitiasis merupakan kristalisasi dari mineral dan matriks seperti pus darah, jaringan yang tidak vital dan tumor. Komposisi dari batu ginjal bervariasi, kira-kira tiga perempat dari batu adalah kalsium, fosfat, asam urin dan cistien.peningkatan konsentrasi larutan akibat dari intake yang rendah dan juga peningkatan bahan-bahan organic akibat infeksi saluran kemih atau urin ststis sehingga membuat tempat untuk pembentukan batu. Ditambah dengan adanya infeksi meningkatkan kebasaan urin oleh produksi ammonium yang berakibat presipitasi kalsium dan magnesium pospat. Proses pembentukan batu ginjal dipengaruhi oleh beberapa faktor yang kemudian dijadikan dalam beberapa teori ; 1. Teori supersaturasi Tingkat kejenuhan kompone-komponen pembentuk batu ginjal mendukung terjadinya kristalisasi. Kristal yang banyak menetap menyebabkan terjadinya agresi kristal kemudian timbul menjadi batu. 2. Teori matriks Matriks merupakan mukoprotein yang terdiri dari 65% protein, 10% heksose, 3-5 heksosamin dan 10% air. Adapun matriks menyebabkan penempelan kristal-kristal sehingga menjadi batu.

3.

Teori kurang inhibitor Pada kondisi normal kalsium dan fosfat hadir dalam jumlah yang melampui daya kelarutan, sehingga diperlukan zat penghambat pengendapat. Phospat

mukopolisakarida dan dipospat merupakan penghambatan pembentukan kristal. Bila terjadi kekurangan zat ini maka akan mudah terjadi pengendapan. 4. Teori epistaxi Merupakan pembentukan baru oleh beberapa zat secra- bersama-sama, salauh satu batu merupakan inti dari batu yang merupakan pembentuk pada lapisan luarnya. Contohnya ekskresi asam urayt yanga berlebihan dalam urin akan mendukung pembentukan batu kalsium dengan bahan urat sebagai inti pengendapan kalsium. 5. Teori kombinasi Batu terbentuk karena kombinasi dari berbagai macam teori di atas.

F. PATHWAY Lampiran

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Urin a. b. c. d. 2. PH lebih dari 7,6 Sediment sel darah merah lebih dari 90% Biakan urin Ekskresi kalsium fosfor, asam urat

Darah a. b. c. d. Hb turun Leukositosis Urium krestinin Kalsium, fosfor, asam urat

3.

Radiologist Foto BNO/NP untuk melihat lokasi batu dan besar batu

4.

USG abdomen

H. PENATALAKSANAAN Sjamsuhidrajat (2004) menjelaskan penatalaksanaan pada nefrolitiasis terdiri dari : 1. Obat diuretik thiazid(misalnya trichlormetazid) akan mengurangi pembentukan batu yang baru.

2. Dianjurkan untuk minum banyak air putih (8-10 gelas/hari). 3. Diet rendah kalsium dan mengkonsumsi natrium selulosa fosfat. 4. Untuk meningkatkan kadar sitrat (zat penghambat pembentukan batu kalsium) di dalam air kemih, diberikan kalium sitrat. 5. Kadar oksalat yang tinggi dalam air kemih, yang menyokong terbentuknya batu kalsium, merupakan akibat dari mengkonsumsi makanan yang kaya oksalat (misalnya bayam, coklat, kacang-kacangan, merica dan teh). Oleh karena itu sebaiknya asupan makanan tersebut dikurangi. 6. Kadang batu kalsium terbentuk akibat penyakit lain, seperti hiperparatiroidisme, sarkoidosis, keracunan vitamin D, asidosis tubulus renalis atau kanker. Pada kasus ini sebaiknya dilakukan pengobatan terhadap penyakit-penyakit tersebut. Batu asam urat. 7. Dianjurkan untuk mengurangi asupan daging, ikan dan unggas, karena makanan tersebut menyebabkan meningkatnya kadar asam urat di dalam air kemih. 8. Untuk mengurangi pembentukan asam urat bisa diberikan allopurinol. 9. Batu asam urat terbentuk jika keasaman air kemih bertambah, karena itu untuk menciptakan suasana air kemih yang alkalis (basa), bisa diberikan kalium sitrat. 10. Dianjurkan untuk banyak minum air putih.

Sedangkan menurut Purnomo BB (2003), penatalaksanaan nefrolitiasis adalah : 1. Terapi Medis dan Simtomatik Terapi medis berusaha untuk mengeluarkan batu atau melarutkan batu. Tetapi simtomatik berusaha untuk menghilangkan nyeri. Selain itu dapat diberikan minum yang berlebihan/ banyak dan pemberian diuretik. 2. Litotripsi Pada batu ginjal, litotripsi dilakukan dengan bantuan nefroskopi perkutan untuk membawa tranduser melalui sonde ke batu yang ada di ginjal. Cara ini disebut nefrolitotripsi. Salah satu alternatif tindakan yang paling sering dilakukan adaah ESWL. ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy) yang adalah tindakan memecahkan batu ginjal dari luar tubuh dengan menggunakan gelombang kejut. 3. Tindakan bedah Tindakan bedah dilakukan jika tidak tersedia alat litotripsor tindakan bedah lain adalah niprolithomy adalah pengangkatan batu ginjal dengan adanya sayatan di abdomen dan pemasangan alat, alat gelombang kejut, atau bila cara non bedah tidak berhasil.

I. FOKUS PENGKAJIAN Pengkajian 1. Identitas Data yang diperoleh meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa, pekerjaan, pendidikan, alamat, tanggal masuk MRS dan diagnosa medis. 2. Keluhan Utama Merupakan keluhan yang paling menggangu ketidak nyamanan dalam aktivitas atau yang menggangu saat ini. 3. Riwayat Kesehatan Sekarang Dimana mengetahui bagaimana penyakit itu timbul, penyebab dan faktor yang mempengaruhi, memperberat sehingga mulai kapan timbul sampai di bawa ke RS. 4. Riwayat Kesehatan Penyakit Dahulu Klien dengan batu ginjal didapatkan riwayat adaya batu dalam ginjal. 5. Riwayat Kesehatan Keluarga Yaitu mengenai gambaran kesehatan keluarga adanya riwayat keturunan dari orang tua. 6. Riwayat psikososial Siapa yang mengasuh klien, bagaimana hubungan dengan keluarga, teman sebaya dan bagaimana perawat secara umum.

Pola-pola Fungsi Kesehatan 1. Pola persepsi dan tata laksana hidup Bagaimana pola hidup orang atau klien yang mempunyai penyakit batu ginjal dalam menjaga kebersihan diri klien perawatan dan tata laksana hidup sehat. 2. Pola nutrisi dan metabolism Nafsu makan pada klien batu ginjal terjadi nafsu makan menurun karena adanya luka pada ginjal. 3. Pola aktivitas dan latihan Klien mengalami gangguan aktivitas karena kelemahan fisik gangguan karena adanya luka pada ginjal. 4. Pola eliminasi Bagaimana pola BAB dan BAK pada pasien batu ginjal biasanya BAK sedikit karena adanya sumbatan atau bagu ginjal dalam perut, BAK normal.

5.

Pola tidur dan istirahat Klien batu ginjal biasanya tidur dan istirahat kurang atau terganggu karena adanya penyakitnya.

6.

Pola persepsi dan konsep diri Bagaimana persepsi klien terdapat tindakan operasi yang akan dilakukan dan bagaimana dilakukan operasi.

7.

Pola sensori dan kognitif Bagaimana pengetahuan klien tarhadap penyakit yang dideritanya selama di rumah sakit.

8.

Pola reproduksi sexual Apakah klien dengan nefrolitiasis dalam hal tersebut masih dapat melakukan dan selama sakit tidak ada gangguan yang berhubungan dengan produksi sexual.

9.

Pola hubungan peran Biasanya klien nefrolitiasis dalam hubungan orang sekitar tetap baik tidak ada gangguan.

10. Pola penaggulangan stress Klien dengan nefrolitiasis tetap berusaha dab selalu melakukan hal yang positif jika stress muncul. 11. Pola nilai dan kepercayaan Klien tetap berusaha dan berdoa supaya penyakit yang di derita ada obat dan dapat sembuh.

Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan Umum - Klien biasanya lemah. - Kesadaran komposmetis. - Adanya rasa nyeri. 2. Kulit - Teraba panas. - Turgor kulit menurun. - Penampilan pucat. 3. Pernafasan - Pergerakan nafas simetris. 4. Cardio Vaskuler - Takicardi.

- Irama jantung reguler. 5. Gastro Intestinal - Kurang asupan makanan nafsu makan menurun. 6. Sistem Integumen - Tampak pucat. 7. Geneto Urinalis - Dalam BAK produksi urin tidak normal. - Jumlah lebih sedikit karena ada penyumbatan.

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN Pada kasus nefrolitiasis didapatkan diagnosa keperawatan yang sering muncaul adalah : 1. Nyeri bd peningkatan kontraksi ureteral, trauma jaringan pembentukan udema 2. Ganguan istirahat dan tidur bd nyeri 3. Resti infeksi bd tindakan invasive 4. Perubahan eliminasi urin bd irirtasi ginjal, obstruksi, inflamasi 5. Kurang perawatan diri.bd pemasangan alat pada tubuh 6. Kurangnya pemngetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajang/mengingat, salah interpretasi informasi.

K. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Nyeri bd peningkatan kontraksi ureteral, trauma jaringan pembentukan udema Tujuan : nyeri berkurang, spasme terkontrol KH : klien tampak rileks

Intervensi : a. Kaji nyeri dengan PQRST b. Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya melapor jika nyeri dan perubahannnya c. Ajarkan teksnik relaksasi dan distraksi d. Beri kompres hangat pada daerah nyeri e. Kolaborasi analgetik

2.

Ganguan istirahat dan tidur bd nyeri Tujuan : istirahat tidur terpenuhi KH : identifikasi teksnik induksi tidur, faktor penyebab gangguan tidur

Intervensi : a. Beri lingkungan yang tenang untuk pasien

b. c.

Atur prosedur agar tidak mengganggu waktu istirahat pasien Kaki penyebab gangguan tidur

3.

Resti infeksi bd tindakan invasive Tujuan : tidak terjadi infeksi KH : tidak ada tanda-tanda infeksi

Intervensi : a. b. c. Pertahankan aseptic dalam tindakan Monitor TTV Periksa laboratorium tanda-tanda infeksi

d. Kolaborasi pemberian antibiotic

4.

Perubahan eliminasi urin bd irirtasi ginjal, obstruksi, inflamasi Tujuan : berkemih dengan normal KH : tidak ada tanda-tanda infeksi

Intervensi : a. b. c. Awasi intake dan output cairan dan karakteristik urin Kaji pola berkemih pasien Dorong pemasukan cairan agar meningkat

d. Keji keluhan kandung kemih e. Kolaborasi pemeriksaan laboratorium

5.

Kurang perawatan diri.bd pemasangan alat pada tubuh Tujuan : kebersihan terpenuhi KH : dapat perawatan diri secara mandiri

Intervensi : a. b. c. Kaji penyebab kkurang perawatan diri Dorong pasien melakukan personal hygiene Dorong pasien menggunakan alat bantu yang ada

6.

Kurangnya pemngetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajang/mengingat, salah interpretasi informasi. a. Kaji ulang proses pemnyakit dan harapan masa depan Rasional: memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi

b. Tekankan pentingnya pemasukan cairan Rasional: pembilasan sistem ginjal menurungkan kesempatan statis ginjal dan pembentukan batu c. Diskusikan program pengobatan Rasional: obat-obatan diberikan untuk mengasamkan atau mengalkalikan urine

L. EVALUASI Dari intervensi yang dilakukan beberapa hasil yang kitaharapkan adalah sebagai berikut : 1. Nyeri hilang/terkontrol 2. Keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan 3. Mencegah Komplikasi 4. Proses penyekit/prognosis dan program terapi dipahami

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC. Doengoes, M.E. 2003. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawat Pasien. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Purnomo. 2003. Dasar-dasar Urologi. Malang: Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Sandra M. Nettina (2002), Pedoman Praktek Keperawatan. Jakarta: Buku Kedoketan EGC. Sjamsuhidrajat (2004). Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed 2. Jakarta: EGC. Syaifudin. 2002. Anatomi Fisiologi. Jakarta: EGC.