Anda di halaman 1dari 4

ARTI DARI HABLUMMINALLAH DAN HABLUMMINANNAS Setelah sekian banyak peristiwa yang terjadi di setiap belahan dunia, kata

Islam menimbulkan suatu pencitraan yang buruk bagi masyarakat awam dimana setiap aksi teror dan aksi kejahatan terhadap musuh Islam selalu dititik beratkan kepada ulah umat Islam. Padahal dibalik semua itu (benar atau tidaknya tuduhan tersebut) terdapat keindahan dan kemuliaan yang teramat sangat atas Islam. Maka dari itu, Saya akan mencoba sedikit mengulas tentang keindahan dan kemuliaan Islam sebagai agama yang paling benar dan sangat pantas untuk kita yakini. Dari segi bahasa, Islam berasal dari kata Aslama, yang berarti menerima, menyerah atau tunduk. Dengan demikian, Islam berarti penerimaan dari dan penundukan kepada Tuhannya yaitu Allah SWT. dan setiap penganutnya (kaum muslim) harus menunjukkan ini dengan menyembah Allah SWT. serta menlakukan perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya. Disini kita menyebutnya dengan Hablumminallah, yaitu hubungan seorang muslim dengan Sang Maha Pencipta (Allah SWT.) Secara etimologis kata Islam diturunkan dari akar kata yang sama dengan kata salm yang berarti damai. Jadi secara harfiah, Islam adalah suatu agama yang menuntut kedamaian antar umat manusia sehingga dapat menimbulkan kedamaian pada diri seorang muslim itu sendiri. Disini kita menyebutnya dengan Hablumminannas, yaitu hubungan seorang muslim dengan sesama manusia. Dimana apabila Hablumminannas kita sudah baik, maka secara otomatis Hablumminallah kita akan bertambah. Jadi Islam adalah suatu agama yang mengharuskan memperbaiki secara Hablumminannas untuk mencapai kesempurnaan Hablumminallah. Untuk itu, marilah kita mempelajari Islam lebih dalam sehingga fitnah-fitnah yang terjadi diluar sana tidak akan mempengaruhi iman kita terhadap Allah SWT. dan lebih lagi, kita harus semakin semangat untuk meyakinkan masyarakat bahwa Islam adalah agama yang penuh kedamaian dan dapat menimbulkan perubahan positif terhadap lingkungan sekitar. Insya Allah, Amin ya Robbal Al Amin..

ARTI DARI HABLUMMINALLAH DAN HABLUMMINANNAS Salah satu istilah yang sering salah dimengerti orang tentang kedudukan hukum-hukum Allah yang ditetapkan-Nya bagi manusia adalah tentang dikotomi hablumminallah dan hablumminannas, bahwa ketika mereka menyebut hablumminallah itu berarti suatu perbuatan yang semata-mata berhubungan dengan peribadatan kepada Allah berupa shalat, puasa dan haji, sebaliknya kalau menyangkut hablumminannas artinya suatu perbuatan yang terkait dengan sesama manusia, misalnya soal berbuat baik, hukum pidana dan perdata, aturan kesopanan berpakaian dan bertingkah-laku, hidup bertetangga, sampai kepada aturan bernegara dan bermasyarakat secara umum. Salah kaprah berikutnya soal kedua istilah ini adalah, tata-cara hablumminallah sudah diatur secara baku dan tidak boleh dirobah baik bentuknya maupun waktunya, misalnya aturan shalat wajib 5 kali sehari semalam dengan rakaat yang tetap dan waktu yang tetap, puasa wajib harus di bulan ramadhan mulai dari terbit fajar sampai matahari terbenam. Sebaliknya urusan hablumminannas merupakan tata-cara yang terkait tempat dan konteksnya, termasuk harus berpedoman kepada budaya setempat. Maka tata-cara hidup bertetangga di Arab berbeda dengan di Indonesia, bahkan ada yang berani menafsirkan aturan hukum pidana dan perdatanya juga bisa berubah-ubah sesuai nilai-nilai yang dianut pada tempat dan waktu tertentu. Lalu diambil kesimpulan hukuman potong tangan bagi si pencuri atau qishash untuk si pembunuh hanya sesuai diterapkan pada konteks jaman dahulu, sedangkan saat sekarang yang sudah menganut nilai-nilai HAM, aturan tersebut sudah tidak tepat diberlakukan. Memakai jilbab merupakan cara yang cocok dipakai dijaman Arab jahiliyah karena kedudukan wanita yang rentan dengan bahaya hegomoni kaum laki-laki, sedangkan jaman sekarang tidak diperlukan lagi karena adanya paham kesetaraan gender. Pemahaman ini kemudian menjadi bola liar dalam menafsirkan hukum-hukum Allah yang kebetulan tercantum jelas dalam Al-Quran. Faktanya ayat Al-Quran memang memuat dengan bahasa yang jelas bahwa hukuman buat si pencuri adalah potong tangan [QS 5:38], atau bagi si pembunuh harus dihukum mati [QS 2:178], aturan waris yang membedakan porsi laki-laki 2 kali bagian wanita [QS 4:11] kewajiban memakai jilbab bagi kaum wanita [QS 33:59]. Mau diputar balik pakai cara apapun, aturan tersebut memang sudah tercantum dengan jelas disana, bahwa ketika Allah bicara soal pembagian waris bagi laki-laki 2 kali bagian wanita, kita tidak bisa merubahnya menjadi porsi yang lain selain 2 banding 1, ketika Allah memerintahkan kaum wanita untuk memakai jilbab, tidak bisa tafsirannya lalu kita buat boleh memakai pakaian model apapun asal sesuai dengan norma kesopanan setempat, maka orang-orang lalu berdebat 7 hari 7 malam untuk menentukan batas tentang norma kesopanan tersebut, itupun tanpa menghasilkan kesepakatan apa-apa. Dalam kaitan tentang istilah hablumminallah dan hablumminannas , kita menemukan satu ayat Al-Quran yang menyinggung soal ini, ketika Allah bicara tentang ahli kitab yang ingkar : dhuribat alayhimuzhillah aynama thuqifu illa biHABLIMMINALLAH waHABLIMMINANNAS QS 3:112 Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia,

Ternyata ketika Al-Quran menyebut tentang hablumminallah dan hablumminannas konteksnya adalah soal aturan, bahwa Allah membedakan antara aturan yang ditetapkan Allah dengan aturan hasil kesepakatan manusia, dan untuk kedua hal tersebut digambarkan adanya konsekuensi, ketika kita melanggar baik aturan Allah maupun aturan hasil kesepakatan manusia tersebut, maka kita akan diliputi kehinaan. Dalam hal ini kedudukan hablumminallah dan hablumminannas adalah sama dan setara. Al-Quran tidak pernah membagi hukum-hukum berdasarkan objek atau subjeknya, membedakan hubungan antara manusia dengan Allah (ibadah) dan hubungan antar sesama manusia (muamalah), apalagi dengan menyebut adanya konsekuensi yang berbeda ketika kita melakukan pelanggaran. Pembedaan ditetapkan Allah berdasarkan darimana hukum tersebut dihasilkan, apakah dari Allah, atau dari hasil perjanjian sesama manusia. Jadi kalau kita menemukan ayat Al-Quran yang menetapkan soal aturan waris, bahkan disampaikan detail dengan angka-angka dan kondisinya, maka itu adalah hablumminallah berasal dari Allah sekalipun kesannya menyangkut hubungan antara sesama manusia, ketika Allah menyatakan si pencuri harus dipotong tangan, maka itu adalah hablumminallah sekalipun menyangkut hukum pidana yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lain. Bahkan Allah memberikan penegasan terhadap kepatuhan kita untuk mematuhi hukumhukum tersebut, misalnya ketika Dia menetapkan hukum waris : QS 4:12 (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Berdasarkan klasifikasi dari Allah tersebut juga, maka kita bisa mengambil kesimpulan aturan yang tidak ada ketetapannya dalam Al-Quran dan hadits, maka itu bisa dikategorikan hablumminannas, namun dengan konsekuensi yang sama dengan hablumminallah, kalau kita melakukan pelanggaran. Al-Quran tidak memuat aturan soal bentuk negara atau pemerintahan sekalipun pada waktu Al-Quran diturunkan sudah ada contoh bentuk pemerintahan tersebut yang diwakili oleh Bizantium dan Persia. Apakah mau berbentuk kerajaan atau demokrasi, berbentuk presidensial atau parlementer, maka soal bentuk negara atau pemerintahan diserahkan kepada kesepakatan manusia. Dalam menetapkan bentuk negara/pemerintahan Islam hanya memberikan nilai-nilai yang harus diaplikasikan bahwa apapun bentuknya, negara atau pemerintahan tersebut haruslah didasari dengan nilai keadilan [QS 4:58] dan musyawarah [QS 3:159]. Maka ketika suatu sistem pemerintahan atau negara membuka peluang untuk menghasilkan kezaliman, misalnya adanya kesempatan mayoritas maling mengangkat raja maling sebagai pemimpin, atau hasil keputusan ditetapkan dengan hanya melindungi kepentingan segelintir orang, mau berbentuk kerajaan ataupun demokrasi, tertolak oleh ajaran Islam karena menganut nilai-nilai yang bertentangan. Al-Quran juga tidak memuat aturan tata ruang/tata kota misalnya, padahal ketika ayat AlQuran diturunkan, Makah dan Madinah sudah eksis sebagai suatu kota. Maka aturan tata kota termasuk kategori hablumminannas karena ditetapkan atas dasar kesepakatan sesama manusia. Ajaran Islam hanya memberikan nilai-nilai untuk dijadikan dasar, misalnya dengan adanya hadits yang mengatur hubungan bertetangga. Maka aneh kedengarannya kalau ada segelintir orang yang mengaku pemeluk Islam, berdasarkan hawa nafsunya, memilah-milah aturan-aturan Allah yang jelas tercantum dalam Al-Quran, mana yang bisa diterapkan dan mana yang tidak perlu lagi diikuti karena

dianggap sudah kadaluwarsa, tidak sesuai konteks jaman. Lebih celakanya lagi penolakan tersebut didasari nilai-nilai yang ditetapkan manusia dan bersifat situasional seperti nilai-nilai HAM, kesetaraan gender, dll. Ini ibarat seseorang yang mau mencocokkan kopiah dengan kepala. Seharusnya kita memilih mana ukuran kopiah yang sesuai dengan ukuran kepala kita, bukan sebaliknya, malah mengatur besar-kecilnya kepala kita agar sesuai ukuran kopiah yang kita inginkan. Ketika Allah menetapkan hukum-hukum-Nya, bahkan sampai memberikan penjelasan secara detail, itu tentunya Dia ciptakan berdasarkan ilmu-Nya yang tidak akan terjangkau dengan kemampuan pikiran dan pemahaman kita. Seharusnya akal pikiran kita ketika berhadapan dengan hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah tersebut, berusaha mencari jalan agar aturan itu bisa diaplikasikan, bukan sebaliknya malah dipakai dengan tujuan agar tidak bisa dilaksanakan, hanya karena adanya nilai-nilai relatif yang diciptakan manusia. Islam juga tidak memposisikan hablumminannas sebagai sesuatu yang terpisah dengan hablumminallah, tapi lebih berfungsi subordinatif, ibaratnya kedudukan Undang-undang Dasar dengan semua peraturan pelaksanaan yang ada dibawahnya. Sepanjang aturan hasil kesepakatan antar sesama manusia tersebut sejalan dengan nilai-nilai yang telah ditetapkan Islam, maka kedudukan aturan tersebut sama dengan aturan yang datang dari Allah. Aturan lalu-lintas dibuat manusia untuk memberikan keadilan kepada pemakai jalan, maka ketika seseorang melanggar lampu merah atau ngetem sembarangan, maka artinya dia sudah berbuat zalim kepada pemakai jalan yang lain, otomatis konsekuensinya dia juga telah melanggar aturan Allah. Ketika aturan di kantor dibuat dengan dasar keadilan dan pelaksanaan tanggung-jawab bagi semua karyawan, maka pelanggaran dan ketidak-disiplinan seseorang terhadap aturan tersebut bernilai sebagai pelanggaran terhadap aturan Allah karena bisa dikategorikan telah berbuat zalim terhadap pihak lain.