Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH AKUNTANSI KEUANGAN SYARIAH AKUNTANSI TRANSAKSI PEGADAIAN SYARIAH

DISUSUN OLEH : SHELA WELLY ARGA ANAS AFFANDI MUHAMAD AUFA DARMA ( 105020302111004 ) ( 105020303111001 ) ( 105020303 )

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI & BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012

AKUNTANSI TRANSAKSI PEGADAIAN SYARI'AH

Pengertian Pegadaian Syariah (Ar-Rahn) 1. Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata pasal 1150, gadai dalah suatu hak yang diperoleh seorang yang mempunyai piutang atas suatu barang bergerak. Barang bergerak tersebut diserahkan kepada orang yang berpiutang oleh seorang yang mempunyai utang atau oleh orang lain atas nama orang yang mempunyai utang. 2. Gadai dalam fiqh disebut Rahn. Secara etimologi, kata al-rahn berarti tetap, kekal dan jaminan. 3. Akad al-rahn dalam istilah hukum positif disebut dengan barang jaminan/agunan. Menurut beberapa mazhab, Rahn berarti perjanjian penyerahan harta oleh pemiliknya dijadikan sebagai pembayar hak piutang tersebut, baik seluruhnya maupun sebagian. Penyerahan jaminan tersebut tidak harus bersifat actual (berwujud), namun yang terlebih penting penyerahan itu bersifat legal misalnya berupa penyerahan sertifikat atau surat bukti kepemilikan yang sah suatu harta jaminan. 4. Gadai syariah adalah produk jasa berupa pemberian pinjaman

menggunakan sistem gadai dengan berlandaskan pada prinsip-prinsip syariat Islam, yaitu antara lain tidak menentukan tarif jasa dari besarnya uang pinjaman.

Landasan Hukum 1. AL-Quran Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah : 283 Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang oleh orang yang berpiutang. 2. Hadits Dari Aisyah r.a., Nabi SAW bersabda yang artinya:

Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah membeli makanan dari seorang Yahudi dengan menjadikan baju besinya sebagai barang jaminan. (H.R. Bukhri dan Muslim) Landasan ini kemudian diperkuat dengan Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 25/DSN-MUI/III/2002 tanggal 26 Juni 2002 yang menyatakan bahwa pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan utang dalam bentuk rahn diperbolehkan dengan ketentuan sebagai berikut: Ketentuan Umum: 1. Murtahin (penerima barang) mempunyai hak untuk menahan Marhun (barang) sampai utang rahin (yang menyerahkan barang) dilunsi. 2. Marhun dan manfaatnya tetap menjadi milik Rahin. Pada prinsipnya marhun tidak boleh dimanfaatkan oleh murtahin kecuali seizin Rahin, dengan tidak mengurangi nilai marhun dan pemanfaatannya itu sekedar pengganti biaya pemeliharaan perawatannya. 3. Pemeliharaan dan penyimpanan marhun pada dasarnya menjadi kewajiban rahin, namun dapat dilakukan juga oleh murtahin, sedangkan biaya dan pemeliharaan penyimpanan tetap menjadi kewajiban rahin. 4. Besar biaya administrasi dan penyimpanan marhun tidak boleh ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman. 5. Penjualan marhun. a. Apabila jatuh tempo, murtahin harus memperingatkan rahin untuk segera melunasi utangnya. b. Apabila rahin tetap tidak melunasi utangnya, maka marhun dijual paksa/dieksekusi. c. Hasil penjualan marhun digunakan untuk melunasi utang, biaya pemeliharaan dan penyimpanan yang belum dibayar serta biaya penjualan. d. Kelebihan hasil penjualan menjadi milik rahin dan kekurangannya menjadi kewajiban rahin.

Ketentuan Penutup 1. Jika salah satu pihak tidak dapat menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan diantara kedua belah pihak, maka penyelesainnya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

2.

Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika dikemudian hari terdapat kekeliruan akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

a.

Turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama golongan menengah ke bawah.

b. Menghindarkan masyarakat dari gadai gelap, praktik riba, dan pinjaman tidak wajar lainnya.

Tujuan Berdirinya Pegadaian Syariah Sebagai lembaga keuangan non bank milik pemerintah yang berhak memberikan pinjaman kredit kepada masyarakat atas dasar hukum gadai yang bertujuan agar masyarakat tidak dirugikan oleh lembaga keuangan non formal yang cendrung memanfaatkan kebutuhan dan mendesak dari masyarakat, maka pada dasarnya lembaga pegadaian tersebut mempunyai fungsi yaitu : 1. Mengelola penyaluran uang pinjaman atas dasar hukum gadai dengan cara mudah, cepat, aman dan hemat 2. Menciptakan dan mengembangkan usaha usaha lain yang menguntungkan bagi pegadaian maupun masyarakat 3. Mengelola keuangan, perlengkapan, kepagawaian, pendidikan dan pelatihan 4. Mengelola organisasi, tata kerja dan tata laksana pegadaian 5. Melakukan penelitian dan pengembangan serta mengawasi pengelolaan pegadaia

Perbedaan Pegadaian Syariah dan Konvensional Pegadaian konvensional Gadai menurut hukum perdata disamping berprinsip tolong menolong juga menarik keuntungan dengan cara menarik bunga atau sewa modal.

Dalam hukum perdata hak gadai hanya berlaku pada benda yang bergerak. Dikenakan bunga dari pinjaman sebesar 1,3%. 1 hari dihitung 15 hari Jika

selama satu tahun kelebihan uang hasil lelang tidak diambil oleh nasabah, maka itu menjadi milik pegadaian.

Pegadaian Syariah Rahn dalam hukum Islam dilakukan secara sukarela atas dasar tolong menolong tanpa mencari keuntungan. Rahn berlaku pada seluruh benda baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Dalam rahn tidak ada istilah bunga (biaya penitipan, pemeliharaan, penjagaan, dan penaksiran). Singkatnya biaya gadai syariah lebih kecil hanya sekali dikenakan. 1 hari dihitung 10 hari. Jika selama satu tahun kelebihan uang hasil lelang tidak diambil oleh nasabah, pegadaian syariah akan menyalurkan dana tersebut ke lembaga Badan Amil Zakat sebagai ZIS.

Perkembangan terkini Untuk tahun 2010 menargetkan pertumbuhan gadai syariah bisa lebih tinggi lagidibanding tahun 2009. Khusus pada Ar-rahn misalnya, perusahaannya akan menargetkan pertumbuhan hingga Rp 4,4 triliun.Hingga akhir Desember 2009 lalu, Pegadaian Syariah sudah menawarkan tiga produk pegadaian syariah kepada masyarakat. Ketiganya yaitu Ar-Rahn (gadai syariah),Ar-Ruum atau gadai untuk pembiayaan usaha

kelompok mikro kecil dan menengah (UMKM), dan Mulia atau gadai emas.Pada tahun 2009 lalu, pertumbuhan Ar-Rahn tercatat mencapai Rp2,7 triliun, naik h a m p i r 6 0 % d a r i r e a l i s a s i s e p a n j a n g 2 0 0 9 s e n i l a i R p 1 , 6 t r i l i u n . A r - R u u m , b e r h a s i l dibukukan pembiayaan sekitar Rp45 miliar sepanjang tahun lalu. Begitu juga produk Mulia, berhasil menjual logam mulia (emas) sebanyak 142 kilogram. Selain Ar-rahn,target pertumbuhan yang lebih tinggi ju ga

dilakukan pada dua produk yang lain, Ar-Ruum ditargetkan bisa naik lagi menjadi Rp45 miliar sepanjang tahun ini. Sedang logammulia kami targetkan bisa terjual sekurangnya 300 kilogram

Kendala Pengembangan Pegadaian Syariah 1. Pegadaian kurang popular.

2. Kurangnya SDM. 3. Keberadaan pegadaian konvensional di bawah Departemen Keuangan mempersulit posisi pegadaian syariah bila berinisiatif untuk independen dari pemerintah pada saat pendiriannya. 4. Kurangnya seperangkat aturan yang mengatur pelaksanaan dan pembinaan pegadaian syariah. 5. Sulitnya memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai bahaya bunga yang sudah mengakar dan menguntungkan bagi segelintir orang. 6. Sebagian masyarakat masih menganggap bahwa keberadaan pegadaian syariah hanya diperuntukkan bagi umat Islam.

Strategi Pengembangan Pegadaian Syariah 1. Memperluas strategi pemasaran 2. Masyarakat akan lebih memilih pegadaian dibanding bank disaat mereka membutuhkan dana karena prosedur untuk mendapatkan dana relatif lebih mudah dibanding dengan meminjam dana langsung ke bank. 3. Pemerintah perlu untuk mengakomodir keberadaan pegadaian syariah ini dengan membuat peraturan pemerintah atau UU pegadaian syariah. 4. Mengoptimalkan produk yang sudah ada dengan lebih profesional. 5. Mempertahankan surplus pegadaian syariah dan terus berupaya meningkatkannya.