Anda di halaman 1dari 2

NASIB TAYANGAN ANAK

Pada era 1997-an, TV lokal memanjakan pemirsa anak dengan tayangan tokusatsu (Japan live action). Contohnya Exceedraft, Gavan, dan Jiban dari genre Metal Heroes, kemudian Taro, Leo dan Tiga dari genre Ultraman. Dari genre super sentai seperti Maskman, Liveman dan Turbo Ranger (pasukan turbo). Tidak ketinggalan Super One, Black dan Black RX dari genre Kamen Rider (pengendara bertopeng) yang lebih dikenal sebagai ksatria baja hitam. Kondisi saat ini sangat bertolak belakang. Tayangan toku bisa dihitung dengan jari. Genre power ranger lebih dikenal anak Indonesia padahal power ranger adalah super sentai yang lisensinya dibeli Amerika. Power ranger lebih sering ditayangkan karena cerita adaptasinya lebih ringan dibandingkan super sentai. Salah satu serial kamen rider, Blade, menuai kontroversi karena berhasil masuk dalam black list KPI. Blade dianggap tidak layak karena memperlihatkan darah saat pertarungan. Sejak tahun 2000 (Kuuga), setelah vakum selama satu dekade, serial kamen rider mengalami pergeseran pangsa pasar (rating) dari anak-anak menjadi remaja. Hal ini dapat dilihat dari konsep cerita, konflik yang kompleks dan rumitnya alur cerita. Kamen rider terakhir yang memiliki rating anak adalah Black RX. Di Indonesia, kamen rider masih disamakan dengan super sentai dan ultraman yang memang ditujukan untuk anak. Ultraman pernah menerapkan konsep cerita yang berat (Nexus) setelah perebutan hak cipta dengan Thailand. Namun karena pangsa pasar utamanya adalah anak, rating dari Nexus turun secara dramatis. Akhirnya serial Nexus ditamatkan pada episode 37 (normalnya 50 episode). Untuk menaikkan rating, serial ultraman tahun berikutnya kembali pada konsep cerita yang ringan. Anak-anak yang tidak memiliki cukup tontonan terpaksa ikut menonton sinetron. Mereka lebih banyak menonton sinetron kerena menemani ibunya. Sinetron yang berisi iri dengki, perebutan warisan, mertua menyiksa menantu, pembantu disiksa majikan dan hal-hal mengerikan lainnya akan membuat pola pikir anak menjadi dewasa lebih cepat. Mental mereka akan lebih mudah terpengaruh karena tayangan sinetron bersifat realistis. Mereka menjadi anak-anak karbitan. Berbeda dengan tokusatsu yang jelas-jalas fantasi dan (biasanya) tidak bisa di tiru. Selain sinetron, sebagian anak memilih game sebagai pelarian. Game bisa membuat kecanduan sehingga lupa makan, tidur bahkan ibadah karena game bisa dimainkan sepanjang hari. Walaupun tidak sedikit anak yang memang memiliki insting sebagai gamer. Menjadi gamer tidak buruk karena gamer bisa menjadi mata pencaharian asal dilakukan secara profesional. Game berbeda dengan TV karena waktu tayangannya terbatas kecuali TV khusus anak yang memajang acara anak selama 24 jam. Fans toku di Indonesia tidak sedikit. Sebagian berasal dari kalangan mahasiswa. Mereka lebih mengandalkan media internet untuk mendapatkan serial toku terbaru. Misalnya serial kamen rider terbaru, Fourze, yang tayang setiap hari Minggu di Jepang. File yang sudah dilengkapi subtitle (teks dialog yang umumnya berbahasa Inggris) bisa diunduh (download) melalui internet tiga hari kemudian. Bahkan versi RAW (original TVRip) sudah tersedia di internet pada esok harinya. Fans lebih menyukai hasil download daripada yang tayang di TV. Menurut mereka, hasil dubbing kurang memuaskan karena tidak menampilkan emosi dari serial aslinya.

Download dari internet tidak termasuk tindakan kriminal pembajakan (piracy) karena Fansub (komunitas yang memberi subtitle) memiliki etika sendiri yang tidak tertulis yaitu gratis atau biasa disebut free fansub. Namun ada pihak ketiga yang mengolah free fansub menjadi DVD untuk memperoleh keuntungan atau menggunakan freesub untuk komersil. Di Indonesia yang kecepatan downloadnya seperti (maaf) siput, DVD bajakan ini biasanya menjadi alternatif pilihan. Fans sejati biasanya membeli DVD asli yang dikeluarkan produsen pemegang lisensi sebagai koleksi meskipun sudah memiliki versi freesub. Jadi, mereka mendownload hanya untuk mengupdate serialnya. Tayangan untuk anak perlu ditambah agar mereka dapat menikmati masa kecilnya. Jangan sampai mereka menjadi orang dewasa yang tidak utuh karena masa kecilnya tidak bahagia. Tayangan anak mutlak diberikan karena termasuk hak asasi anak. Namun tayangan anak juga harus memiliki rating yang jelas. Toku masih dibedakan dengan live action Amerika seperti Spiderman, Ironman, Transformer, Fantastic Four, Superman maupun X-Men. Orang dewasa tidak malu kalau menonton produksi Amerika. Hal ini berbeda dengan toku. Orang dewasa yang menonton toku biasanya diremehkan, dianggap childish (masa kecil tidak bahagia). Padahal tidak sedikit toku yang ceritanya lebih kompleks dari produksi Amerika. Toku diidentikkan dengan anak meskipun tidak semuanya layak dikonsumsi anak. Misalnya Garo. Jika dilihat sekilas, tayangan ini sepertinya ditujukan untuk anak. Namun di Jepang sendiri, Garo mengisi slot tengah malam karena mengandung pertarungan sadistis dan nudity yang implisit (pada beberapa episode). Jadi, seperti kata pepatah, jangan menjudge sesuatu dari kulitnya. Toku tidak bisa dinilai secara sepintas. Rumus Toku sama dengan anak-anak harus dihapuskan. Hal ini juga berlaku pada animasi. Misalnya Crayon Shinchan dan Spongebob Squarepant. Keduanya berisi jokejoke yang ditujukan untuk dewasa. Selain rating, jam tayang juga perlu dipertimbangkan. Perlu adanya pembedaan antara tokusatsu anak dan tokusatsu remaja/dewasa. Tidak ada salahnya jika toku untuk remaja/dewasa ditayangkan pada jam malam. Sekarang saatnya mengubah pandangan terhadap tayangan anak-anak. Semoga anak-anak bisa mendapatkan haknya sebagai anak. Semoga tayangan untuk anak bisa ditambah baik itu toku maupun animasi sambil menunggu bangkitnya live action anak dan animasi produksi Indonesia asli. Tidak sedikit toku versi Indo yang bagus meskipun indie seperti Sphere, Gatot Kaca, Gundala, Pocongman dan Kuman Rider. Bagi Fans toku, yakinlah Anata wa hitori janai.