Anda di halaman 1dari 16

Laboratorium Farmakologi-Toksikologi Farmasi Program Studi Farmasi F-MIPA Universitas Lambung Mangkurat

ANALGETIKA PERCOBAAN III

Disusun Oleh: Nienies Nurika Setyani J1E110010 Kelompok VII

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU 2012

ANALGETIKA PERCOBAAN III

Disusun Oleh : Nienies Nurika Setyani J1E110010 Kelompok 7

Tanggal Praktikum Dikumpul Tanggal Nilai

: : :

25 Oktober 2011 18 Oktober 2011

Diketahui,

Yulia Yudha Irianti

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU 2011

ANALGETIKA I. PENDAHULUAN 1.1 TUJUAN Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengenal, mempraktekkan dan membandingkan metode uji daya analgetik pada hewan percobaan dan obat analgetik. 1.2 DASAR TEORI Analgetika atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak nyaman, berkaitan dengan (ancaman) kerusakan jaringan. Keadaan psikis sangat mempengaruhi nyeri, misalnya emosi dapat menimbulkan sakit (kepala) atau memperhebatnya, tetapi dapat pula menghindarkan sensasi

rangsangan nyeri. Nyeri merupakan suatu perasaan subjektif pribadi dan ambang toleransi nyeri berbeda-beda bagi setiap orang. Ambang nyeri didefinisikan sebagai tingkat dimana nyeri dirasakan untuk pertama kalinya. Dengan kata lain, intensitas rangsangan yang terendah saat seseorang merasakan nyeri. Untuk setiap orang ambang nyerinya konstan. Batas nyeri untuk suhu adalah konstan, yakni pada 44-45oC (Tjay & Rahardja, 2007). Penggunaan analgetika perifer mampu meringankan atau

menghilangkan rasa nyeri, tanpa mempengaruhi SSP atau menurunkan kesadaran, juga tidak menimbulkan ketagihan. Kebanyakan juga berdaya antipiretis dan atau anti radang. Kombinasi dari dua atau lebih analgetika sering kali digunakan, karena terjadi efek potensiasi. Lagi pula efek sampingnya, yang masing-masing terletak di bidang berlawanan, berkurang, karena dosisnya masing-masing dapat diturunkan. Secara kimiawi, analgetika perifer dapat dibagi dalam beberapa kelompok yakni : 1. Parasetamol. 2. Salisilat : asetosal, salisilamida, dan benorilat. 3. Penghambat prostaglandin : ibuprofen.

4. Derivat-derivat antralinat : mefenaminat, asam niflumat glafenin, floktafenin. 5. Derivat-derivat pirazolinon : aminofenazon, isopropilfenazon. 6. Lainnya : benzidamin (Tjay & Rahardja, 2007) Analgetika narkotik disebut juga opioida (mirip opiat), adalah zat yang bekerja terhadap reseptor opioid khas di SSP, hingga persepsi nyeri dan respons emosional terhadap nyeri berubah (dikurangi). Atas dasar cara kerjanya, obat-obat ini dapat dibagi dalam 3 kelompok, yakni: 1. Agonis opiat, yang dapat dibagi dalam: Alkaloida candu: morfin, kodein, heroin, nicomorfin. Zat-zat sintetis: metadon dan derivat-derivatnya (dekstromoramida, propoksifen, bezitramida), petidin dan derivatnya (fentanil, sufentanil), dan tramadol. 2. Antagonis opiat: nalokson, nalorfin, pentazosin, buprenorfin, dan nalbufin. Bila digunakan sebagai analgetika, obat ini dapat menduduki salah satu reseptor. 3. Kombinasi. Zat-zat ini juga mengikat pada reseptor opioid, tetapi tidak mengaktivasi kerjanya dengan sempurna. (Tjay & Rahardja, 2007). Rasa nyeri dalam kebanyakan hal hanya merupakan suatu gejala yang berfungsi sebagai isyarat bahaya tentang adanya gangguan di jaringan, seperti peradangan (rema, encok), infeksi jasad renik atau kejang otot. Nyeri yang disebabkan oleh rangsangan mekanis, kimiawi atau fisis (kalor, listrik) dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan. Rangsangan tersebut memicu pelepasan zat-zat tertentu yang disebut mediator nyeri, antara lain histamin, bradikin, leukotrien, dan prostaglandin (Tjay & Rahardja, 2007). Nyeri yang berat dan menetap biasanya dihilangkan dengan opioid yang efikasinya lebih tinggi, namun nyeri yang tajam dan intermiten tampaknya tidak dapat dihilangkan dengan mudah. Harus diusahakan untuk menentukan kualitas nyeri, dan informasi ini harus

digunakan untuk memilih obat yang layak dan dimonitor efeknya. Dalam evaluasi dan proses pemilihan ini perlu dipertimbangkan cara pemberian (pemberian oral atau parenteral), masa kerjanya, ceiling efek (efikasi maksimal), lama terapi, dan pengalaman masa lalu dengan opioid jelas merupakan hal yang penting (Katzung, 2001). Parasetamol merupakan derivat asetanilida yaitu metabolit dari fenasetin yang dulu banyak digunakan sebagai analgetikum, tetapi pada tahun 1978 telah ditarik dari peredaran karena efek sampingnya (nefrotoksisitas dan karsinogen). Khasiatnya analgetik dan antipiretik, tetapi tidak antiradang. Dewasa ini pada umumnya dianggap sebagai zat antinyeri yang paling aman, juga untuk swamedikasi (pengobatan mandiri). Efek analgetiknya diperkuat oleh kodein dan kofein dengan kirakira 50 %. Efek sampingnya tak jarang terjadi, antara lain reaksi hipersensitivitas dan kelainan darah (Tjay & Rahardja, 2007). Asam mefenamat merupakan derivat antranilat juga dengan khasiat analgetik, antipiretik, dan antiradang yang cukup baik. Obat ini banyak sekali digunakan sebagai obat nyeri dan rema. Efek samping yang paling sering terjadi adalah gangguan lambung-usus (Tjay & Rahardja, 2007). Ibuprofen merupakan obat pertama dari kelompok propionate (1969) ini adalah NSAID yang paling banyak digunakan, berkat efek sampingnya yang relatif ringan dan status OTCnya dikebanyakan negara. Zat ini merupakan campuran rasemis, dengan bentuk dextro yang aktif. Daya analgetik dan antiradangnya cukup baik dan sudah banyak mendesak salisilat pada penanganan bentuk rema yang tidak begitu hebat dan gangguan gerak (Tjay & Rahardja, 2007). Kandungan dalam antalgin adalah metamizol yang adalah derivat sulfonat dari aminofenazon yang larut dalam air berkhasiat analgetik, antipiretik, dan antiradang (1946). Khasiat dan efek sampingnya sama. Obat ini sering dikombinasikan dengan obat-obat lain, antara lain dengan aminofenazon. Obat ini dapat secara mendadak dan tak terduga menimbulkan kelainan darah yang adakalanya fatal. Karena bahaya

agranulositosis, obat ini sudah lama dilarang peredarannya dibanyak Negara, antara lain AS, Swedia, Inggris dan Belanda (Tjay & Rahardja, 2007). Berdasarkan potensi kerja, mekanisme kerja dan efek samping analgetika dibedakan dalam dua kelompok. a. Analgetika yang berkhasiat kuat, bekerja pada pusat (hipoanalgetika, kelompok opiat). b. Analgetik yang berkhasiat lemah (sampai sedang), bekerja terutama pada perifer dengan sifat antipiretik dan kebanyakan juga mempunyai sifat antiinflamasi dan antireumatik. (Mutschler, 2001) Penggunaan analgesik yang terbaik adalah dipandang hanya sebagai salah satu cara dari mengangkat ambang nyeri pasien. Analgesik, termasuk narkotika, biasanya tidak menghilangkan rasa sakit yang disebabkanoleh kerusakan saraf degeneratif (dysaesthetic dan

menusuk nyeri). Analgesik harus diberikan secara teratur, dan profilaksis. Tujuannya adalah untuk titrasi dosis analgesik terhadap nyeri pasien, secara bertahap meningkatkan dosis sampai pasien bebas rasa sakit. Jika analgesik kuat lainnya dari morfin yang digunakan, dokter harus tahu dengan farmakologi nya. Sebagai contoh, petidin (meperidin) efektif selama rata-rata 2-3 jam. Namun umumnya ditentukan setiap 4 atau 6 jam (Twicross, 1984).

II. CARA PERCOBAAN 2.1 ALAT DAN BAHAN 2.1.1. Alat yang digunakan Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah 1. Baskom 2. Gelas beker 3. Hot plate untuk mencit 4. Labu ukur 10 mL 5. Pipet tetes

6. Stopwatch 7. Spuit injeksi 8. Timbangan analitik 2.1.2. Bahan yang digunakan Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah 1. Aquadest 2. Alkohol 3. Antalgin 4. Asam asetat 3 % 5. Asam mefenamat 6. Ibuprofen 7. Kapas 8. Na-CMC 0,5% 9. Na-Diklofenak 10. Parasetamol 2.1.3. Hewan coba Hewan uji yang digunakan adalah mencit albino jantan, bobot badan 20-30 g untuk metode Jansen & Jaqeneau. Mencit jantan dengan bobot badan 18-22 g untuk metode Witkin et al.

2.2. CARA KERJA 2.2.1 Metode Jansen & Jaqeneau Mencit - disiapkan 3 ekor untuk masingmasing kelompok - ditimbang Larutan stok - dibuat dengan berbagai bahan obat untuk masing-masing kelompok - mencit Na-Diklofenak Ibuprofen Parasetamol As. mefenamat Antalgin

Mencit

- Na-CMC 0,5 % (kontrol negatif) - diberikan obat secara i.p diamkan selama 15 menit - dimasukkan ke gelas beker pada hot plate (pemanas) - diamati setiap 15 detik selama 5x15 detik - yang diamati : grooming & meloncat Hasil

2.2.2 Metode Witkin et al Mencit - disiapkan 3 ekor untuk masingmasing kelompok - ditimbang Larutan stok - dibuat dengan berbagai bahan obat untuk masing-masing kelompok - mencit Na-Diklofenak Ibuprofen Parasetamol As. mefenamat Antalgin

- Na-CMC 0,5 % (kontrol negatif) - diberikan obat secara i.p - diamkan selama 15 menit Mencit - diinduksi dengan larutan asam asetat 3% secara i.m - diamati jumlah geliat selama 20 menit - ditentukan onset of action dari obat Hasil

III. PEMBAHASAN Percobaan kali ini bertujuan untuk mengenal, mempraktekkan dan membandingkan metode uji daya analgetik pada hewan percobaan dan obat analgetik. Analgetika adalah obat atau senyawa yang dipergunakan untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri. Analgetika secara umum terbagi menjadi dua golongan yaitu analgetika non-narkotika dan analgetika narkotika. Pada percobaan kali ini digunakan analgetika golongan non-narkotika yaitu ibuprofen, parasetamol, asam mefenamat, dan antalgin. Selain itu digunakan juga asam asetat 3 %, Na-CMC, dan Na-Diklofenak. Parasetamol atau asetaminofen merupakan derivat asetanilida yaitu metabolit dari fenasetin. Dewasa ini pada umumnya dianggap sebagai zat antinyeri yang paling aman, juga untuk swamedikasi (pengobatan mandiri). Asam mefenamat merupakan derivat antranilat juga dengan khasiat analgetik, antipiretik, dan antiradang yang cukup baik. Obat ini banyak sekali digunakan sebagai obat nyeri dan rema. Ibuprofen merupakan obat pertama dari kelompok propionate. Zat ini merupakan campuran rasemis, dengan bentuk dextro yang aktif. Daya analgetik dan antiradangnya cukup baik dan sudah banyak mendesak salisilat pada penanganan bentuk rema yang tidak begitu hebat dan gangguan gerak. Kandungan dalam antalgin adalah metamizol yang adalah derivat sulfonat dari aminofenazon yang larut dalam air berkhasiat analgetik, antipiretik, dan antiradang. Natrium diklofenak atau diklofenak sodium, dan merupakan salah satu OAINS tradisional yang banyak digunakan untuk mengobati nyeri dan inflamasi muskuloskeletal. Sedangkan Na-CMC digunakan sebagai kontrol negatif yaitu berfungsi sebagai pembanding yang menunjukkan reaksi hasil negatif atau tidak adanya efek obat analgetik. Asam asetat 3 % digunakan sebagai penginduksi rasa nyeri. Asam asetat sendiri pada manusia tidak akan menimbulkan apa-apa atau tidak akan memberikan efek nyeri, oleh karena asam asetat ini akan terurai, sedang pada mencit organ-organnya lebih kecil, sehingga akan berefek. Alkohol digunakan sebagai antiseptik, selain itu digunakan untuk membasahi daerah yang akan disuntik agar terlihat bagian yang akan disuntikkan.

Metode yang dilakukan pada uji daya analgetika ada 2 macam, yaitu metode Jansen & Jaqeneau, dan metode Witkin et al. Prinsip percobaan untuk metode Jansen & Jaqeneau adalah hewan diberi stimulus nyeri panas 5555,5C. Sebagai parameter uji adalah jarak waktu saat hewan diletakkan pada plat panas hingga terjadi respon pertama kali menjilat kaki depan atau meloncat. Sedangkan untuk metode Metode Witkin et al, hewan uji diberikan penginduksi nyeri asam asetat 3% secara i.m. Sebagai parameter uji adalah jumlah geliat dalam durasi 20 menit setelah diberi penginduksi nyeri. Di antara kedua metode tersebut terdapat perbedaan dalam hal rangsang nyeri yang digunakan. Untuk metode Jansen & Jaqeneau digunakan rangsang secara fisik dengan menggunakan stimulus nyeri panas, sedangkan pada metode Witkin et al digunakan rangsang secara kimia berupa penginduksi nyeri asam asetat 3%. Perlakuannya adalah pertama-tama diberikan Na-CMC yang

digunakan sebagai control tanpa adanya obat analgetik. Selanjutnya mencit yang lain diberikan perlakuan berupa injeksi di bagian intraperitonial dengan volume yang telah ditentukan. Pemberian ini dilakukan secara intraperitonial karena menghindari terjadinya peruraian oleh asam-asam lambung dan agar pengamatan lebih cepat dilakukan. Selain itu juga perlu diingat bahwa volume maksimal injeksi melalui intraperitonial yaitu 1 mL. Sedangkan penginduksi nyeri yaitu asam asetat diberikan secara intramuskular, dengan cara menyuntikkan daerah otot paha menimbulkan efek yang perlahan-lahan sehingga dapat diketahui efek obat yang diberikan untuk mengatasi rasa nyeri yang diakibatkan induksi asam asetat tersebut. Adapun volume pemberian obat untuk masing-masing metode yaitu : untuk metode Jansen & Jaqeneau; Na-CMC 0,5 % sebagai kontrol negatif diberikan dengan volume pemberian 0,5 mL; volume pemberian untuk ibuprofen yaitu 0,28 mL dan 0,24 mL; volume pemberian untuk parasetamol yaitu 0,27 mL dan 0,3 mL; volume pemberian untuk asam mefenamat yaitu 0,15 mL dan 0,18 mL; volume pemberian untuk antalgin yaitu 0,49 dan 0,46 mL; dan Na-Diklofenak yaitu 0,16 mL dan 0,17 mL. Untuk metode Witkin et al; Na-CMC 0,5% sebagai kontrol negatif diberikan dengan volume

pemberian 0,0243 mL dan 0,0223 mL; volume pemberian untuk ibuprofen yaitu 0,246 mL dan 0,293 mL; volume pemberian untuk parasetamol yaitu 0,27 mL dan 0,39 mL; volume pemberian untuk asam mefenamat yaitu 0,16 mL dan 0,21 mL; volume pemberian untuk antalgin yaitu 0,46 mL dan 0,48 mL; dan volume pemberian untuk Na-Diklofenak yaitu 0,126 mL dan 0,179 mL. Respon yang terjadi pada metode Jansen & Jaqeneau yaitu mencit akan meloncat dan menjilati kakinya akibat nyeri yang dirasakannya karena rangsangan panas. Sedangkan pada metode Witkin et al respon yang dapat dilihat adalah geliat dari mencit akibat kejang perut yang dialaminya sebagai rangsangan dari pemberian induksi nyeri. Berdasarkan hasil pengamatan pada metode Jansen dan Jaqeneau, Na-Diklofenak memiliki onset tercepat yaitu 2,40 detik pada mencit 1 dan 2,23 detik pada mencit 2 diikuti oleh antalgin yaitu 3 detik pada mencit 1 dan 6 detik pada mencit 2, asam mefenamat yaitu 7,5 detik pada mencit 1 dan 4,41 detik pada mencit 2, selanjutnya parasetamol yaitu 9 detik pada mencit 1 dan 5 detik pada mencit 2, dan terakhir ibuprofen yaitu 5 detik pada mencit 1 dan 10 detik pada mencit 2. Daya analgetik dari masing-masing obat berbeda-beda, tergantung dari spesifikasi obat tersebut digunakan untuk efek terapi tertentu. Hasil pengamatan pada metode Witkin et al diperoleh rata-rata % daya analgetik dari pemberian Na-CMC sebagai kontrol negatif untuk keduanya 0 %. Pemberian ibuprofen pada mencit 1 dan 2, rata-rata % daya analgetiknya 51,665%. Pemberian parasetamol pada mencit 1 dan 2, rata-rata % daya analgetiknya 76,665 %. Pemberian asam mefenamat pada mencit 1 dan 2, rata-rata % daya analgetiknya 23,335%. Pemberian antalgin pada mencit 1 dan 2, rata-rata % daya analgetiknya 83,335%. Pemberian Na-Diklofenak pada mencit 1 dan 2, rata-rata % daya analgetiknya 61,665%. Nilai persen daya analgetika akan semakin besar jika jumlah geliat yang dilakukan oleh mencit semakin kecil. Hal itu menunjukkan bahwa suatu obat mempunyai kekuatan yang besar dalam menghalau rasa nyeri yang ditimbulkan oleh penginduksi nyeri asam asetat. Karena kekuatan suatu obat analgetika berbanding terbalik dengan jumlah geliat yang dilakukan oleh mencit.

Semakin sedikit geliat yang dilakukan oleh mencit, berarti analgetika tersebut efeknya semakin kuat, dan sebaliknya jika jumlah geliat yang dilakukan oleh mencit semakin banyak, maka efek yang ditimbulkan oleh obat analgetika tersebut akan semakin rendah. Berdasarkan jumlah geliat dan besarnya nilai % daya analgetika, maka dapat dibandingkan daya analgetika dari kelima obat yang digunakan. Obat dengan nilai persen daya analgetika terbesar menunjukkan bahwa obat tersebut memiliki daya analgetika yang paling kuat diantara obat yang lain. Daya terkuat dimiliki oleh antalgin, selanjutnya parasetamol, Na-Diklofenak, ibuprofen dan asam mefenamat. Data analisis ANOVA untuk metode Jansen & Jaqeneau menunjukkan kekuatan yang dihasilkan oleh masing-masing obat sangat beragam. Obat yang memiliki daya analgetik paling kuat ditunjukkan oleh Na-Diklofenak, selanjutnya antalgin, asam mefenamat, parasetamol dan ibuprofen.

Berdasarkan analisis dengan taraf kepercayaan 95% diperoleh hasil signifikan > 0,05 yaitu sebesar 0,272 sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho diterima atau tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelima jenis obat analgetik yang telah diuji pada percobaan ini. Hasil analisis dengan taraf kepercayaan 95% pada metode Witkin et al, didapatkan nilai signifikan untuk jumlah geliat > 0,05 yaitu sebesar 0,061 yang diartikan Ho diterima atau tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelima jenis obat yang digunakan terhadap jumlah geliat yang dihasilkan. Sedangkan untuk % daya analgetika < 0,05 yaitu sebesar 0,027 yang diartikan Ho ditolak atau ada perbedaan analgetik. Hasil yang diperoleh dengan metode Jansen & Jaqeneau dan Witkin et al mengalami perbedaan karena respon yang diamati pada kedua metode tersebut mengalami perbedaan. Pada metode Jansen & Jaqeneau diamati mencit yang meloncat dan menjilati kakinya akibat nyeri yang dirasakannya karena rangsangan fisika berupa panas yang diberikan. Sedangkan pada metode Witkin et al diamati jumlah geliat dari mencit akibat rangsangan kimia berupa stimulus nyeri yang diberikan. yang signifikan antara kelima jenis obat

IV. KESIMPULAN Kesimpulan yang diperoleh dari percobaan ini, yaitu: 1. Pada metode Jansen & Jaqeneau, obat yang memiliki daya analgetik paling kuat ditunjukkan oleh Na-Diklofenak selanjutnya antalgin, asam mefenamat, parasetamol dan ibuprofen. Sedangkan pada metode Witkin et al, daya terkuat dimiliki oleh antalgin, selanjutnya parasetamol, NaDiklofenak, ibuprofen dan asam mefenamat. 2. Berdasarkan hasil analisis metode Jansen & Jaqeneau dengan taraf kepercayaan 95% didapatkan jika nilai signifikan > 0,05 yaitu sebesar 0,272 maka Ho diterima atau tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelima jenis obat analgetik. 3. Berdasarkan hasil analisis metode Witkin et al dengan taraf kepercayaan 95%, didapatkan nilai signifikan untuk jumlah geliat > 0,05 yaitu sebesar 0,061 yang diartikan Ho diterima atau tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelima jenis obat yang digunakan terhadap jumlah geliat yang dihasilkan. Sedangkan untuk % daya analgetika < 0,05 yaitu sebesar 0,027 yang diartikan Ho ditolak atau ada perbedaan kelima jenis obat analgetik. yang signifikan antara

DAFTAR PUSTAKA

Katzung, B. G. 2001. Farmakologi Dasar dan Klinik. Salemba Medika, Jakarta. Mutschler, E. 2001. Dinamika Obat. Penerbit ITB, Bandung. Tjay, T. H. & K. Rahardja. 2002. Obat-obat Penting. PT. Elex Media Komputindo, Jakarta. Twicross, G. R. Analgesics. 1984. Diambil dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2418085/pdf/postmedj001 30-0048.pdf. Diakses tanggal 15 Oktober 2011.

LAMPIRAN

1.

Apakah analgetika itu? Jawab : Analgetika atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.

2.

Mengapa analgetika kadang-kadang perlu diberikan kepada penderita? Jawab: Analgetika kadang-kadang perlu diberikan karena untuk mengurangi rasa nyeri pada penderita yang dapat ditimbulkan oleh berbagai rangsang mekanis, kimia, dan fisis.

3.

Bagaimana terjadinya rasa nyeri? Jawab: Rasa nyeri terjadi akibat terlepasnya mediator-mediator nyeri (misalnya bradikinin, prostaglandin) dari jaringan yang rusak yang kemudian merangsang reseptor nyeri di ujung saraf perifer ataupun ditempat lain. Dari tempat-tempat ini selanjutnya rangsang nyeri diteruskan ke pusat nyeri di korteks cerebri oleh saraf sensoris melalui sumsum tulang belakang dan talamus.

4.

Bagaimana daya analgetika opioid dan non opioid? Jawab: Analgetika opioid mempunyai daya analgetik yang kuat, biasanya digunakan untuk mengatasi nyeri yang hebat. Analgetika golongan opioid bekerja dengan mempengaruhi susunan saraf pusat (SSP) dan dapat menimbulkan ketergantungan. Sedangkan analgetika non opioid mempunyai daya analgetika yang lebih lemah dari golongan opioid. Analgetika golongan ini tidak mempengaruhi susunan saraf pusat (SSP), karena titik kerjanya di susunan saraf perifer dan obat ini tidak menimbulkan ketergantungan.