Anda di halaman 1dari 6

BAB III TINJAUAN KHUSUS RESORT DAN KAWASAN KULINER DI BILI-BILI A. Tinjauan Terhadap Kab.Gowa 1.

Kondisi Fisik Wilayah a. Letak Geografis Kabupaten Gowa berada pada 1238.16' Bujur Timur dari Jakarta dan 533.6' Bujur Timu r dari Kutub Utara. Sedangkan letak wilayah administrasinya antara 1233.19' hingg a 1315.17' Bujur Timur dan 55' hingga 534.7' Lintang Selatan dari Jakarta. (Gambar 1.Peta lokasi kabupaten Gowa) (Sumber:http : //suaragowa.blogspot.com/2011/04/kabupaten-gowa-kondisi-geografis -dan.html ) Kabupaten yang berada pada bagian selatan Provinsi Sulawesi Selatan ini berbatas an dengan 7 kabupaten/kota lain, yaitu di sebelah Utara berbatasan dengan Kota M akassar dan Kabupaten Maros. Di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sinjai , Bulukumba, dan Bantaeng. Di sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Takala r dan Jeneponto sedangkan di bagian Barat berbatasan dengan Kota Makassar dan Ta kalar ( http : //suaragowa.blogspot.com/2011/04/kabupaten-gowa-kondisi-geograf is-dan.html). Letak kabupaten gowa sangat strategis, berperan sebagai pintu gerbang dan pusat pengembangan wilayah-wilayah Indonesia Timur pada umumnya dan merupakan pusat sa tuan wilayah bagi Sulawesi Selatan pada khususnya bahkan bagi Kota Gowa itu send iri. b. Topografi Topografi Kabupaten Gowa sebagian besar berupa dataran tinggi berbukit-bukit, ya itu sekitar 72,26% yang meliputi 9 kecamatan yakni Kecamatan Parangloe, Manuju, Tinggimoncong, Tombolo Pao, Parigi, Bungaya, Bontolempangan, Tompobulu dan Biri ngbulu. Selebihnya 27,74% berupa dataran rendah dengan topografi tanah yang data r meliputi 9 Kecamatan yakni Kecamatan Somba Opu, Bontomarannu, Pattallassang, Pallangga, Barombong, Bajeng, Bajeng Barat, Bontonompo dan Bontonompo Selatan.Da ri total luas Kabupaten Gowa, 35,30% mempunyai kemiringan tanah di atas 40 deraj at, yaitu pada wilayah Kecamatan Parangloe, Tinggimoncong, Bungaya, Bontolempang an dan Tompobulu.Dengan bentuk topografi wilayah yang sebahagian besar berupa da taran tinggi, maka wilayah Kabupaten Gowa dilalui oleh 15 sungai besar dan keci l yang sangat potensial sebagai sumber tenaga listrik dan untuk pengairan. Salah satu diantaranya sungai terbesar di Sulawesi Selatan adalah sungai Jeneberang d engan luas 881 Km2 dan panjang 90 Km.Di atas aliran sungai Jeneberang oleh Pemer intah Kabupaten Gowa yang bekerja sama dengan Pemerintah Jepang, telah membangun proyek multifungsi DAM Bili-Bili dengan luas + 2.415 Km2 yang dapat menyediakan air irigasi seluas + 24.600 Ha, komsumsi air bersih (PAM) untuk masyarakat Kab upaten Gowa dan Makassar sebanyak 35.000.000 m3 dan untuk pembangkit tenaga list rik tenaga air yang berkekuatan 16,30 Mega Watt. c. Sungai Di kabupaten Gowa,terdapat sungai jeneberang,sungai ini merupakan sungai besar y ang terletak pada bagian barat dalam wilayah administrasi kotamadya makassar,ibu kota dari provinsi sulawesi-selatan.Sungai ini berasal dan mengalir dari bagian timur gunung bawakaraeng(2,833mdpl)dan gunung lompobattang (2876mdpl) yang kemud ian menuju hilirnya diselat makassar.Pada daerah aliran sungai jeneberang,terdap at dua daerah penampungan air (reservoir) utama yaitu bili-bili dan jenelata. ( http : // flood.dpri.kyoto-u.ac.jp) d. Iklim Termasuk daerah iklim tropis, dengan temperatur udara berkisar antara 22 C sampai 32 C. Curah hujan setiap tahun antara 2.000 3.000 mm/tahun dan maksimum mutlak s elama 24 jam adalah 312 mm, yang banyak turun pada bulan november hingga maret, bulan lainnya kurang, bahkan hampir tidak ada. Arah angin 219 15 Bujur Timur atau arah Selatan Barat Daya dengan kecepatan rata-r ata 2-3 knot/jam dengan penyinaran matahari rata-rata 49,33 %.( http : //suarago

wa.blogspot.com/2011/04/kabupaten-gowa-kondisi-geografis-dan.html). 2. Arah Pembangunan Wilayah Kabupaten Gowa Wilayah adminstratif Kabupaten Gowa terbagi atas sembilan kecamatan,130 desa/kel urahan,dan dua wilayah pembantu bupati.Berdasarkan ekologi dan potensi pengemban gannya,kabupaten Gowa dibagi kedalam tiga wilayah pembangunan pertama, wilayah u tara meliputi kecamatan Somba opu dan Kecamatan Bontomarannu.Kedua,wilayah timur meliputi kecamatan parangloe,kecamatan tinggi moncong,kecamatan tompobulu,dan k ecamatan bungaya.Ketiga,wilayah barat meliputi kecamatan palangga,kecamatan baje ng,dan kecamatan bontonompo. Potensi yang bisa dikembangkan di kabupaten gowa adalah : a. Pertanian, potensi pertanian tanaman pangan yang dimiliki Kabupaten Gowa menempatkandaerah ini pada posisi yang sejajar dengan daerah tingkat II lainnya di SulawesiSelatan. Daerah ini memiliki areal persawahan seluas 28.828 hektare dengan potensiIrigasi seluas 16.773 hektare baku sawah, atau sekitar 56% dari lu as persawahan yangada. Tanaman pangan yang dikembangkan diantaranya padi, jagung , kedelai danhortikultura yang tersebar pada kawasan potensial. b. Pariwisata,dalan rangka mengembangkan dan menggali potensi pariwisata di Kabupaten Gowa,pemerintah daerah telah mengeluarkan kebijakan dengan dibentukny a DinasPariwisata dengan maksud disamping untuk menghasilkan PAD melalui dispend asetempat juga untuk memanfaatkan peluang kunjungan bagi turis manca negara.Pemd a Gowa telah mengembangkan berbagai obyek wisata antara lain BentengSomba Opu, p engembangan dan perluasan Balla Lompoa, Makam raja-raja Gowa,Makam pahlawan nasi onal Syekh Yusuf, Hutan Wisata dan air terjun Malino, WisataTirta Bili-bili, Dan au Mawang dan sumber air panas di kecamatan Bungaya. c. Kehutanan,berdasarkan data dan informasi dari Dinas Kehutanan Kabupaten Gowa bahwa potensi kehutanan yang ada di kawasan Hutan berupa kayu yaitu Kayu Ri mbaCampuran, meranti, jati dan kayu indah potensi luas 13 500 ha dan potensi pro duksi15 000 m3 , Getah Pinus 80 000 ton dan potensi luas 15 126 ha ( 8 377 ha di KecTinggimoncong ) dan Rotan potensi produksi 5000 ton ( 267 ha di KecTinggimon cong ). Disamping itu terdapat juga hasil non kayu lainnya Getah DamarMata Kucin g, Damar Batu, Damar Kopal, Damar Pilan, Damar Rasak, Damar Dagingdan damar Gaha ru. Hasil lainnya Madu, Gula aren Ijuk, Kemiri Kenari Asam, sutradan Kulit kayu manis. (2004, Laporan Tahunan Dinas Kehutanan Kabupaten Gowa) 3. Kebijakan Pembangunan Kepariwisataan Tujuan pembangunan kepariwisataan sebagai bagian dari pembangunan nasional, adal ah bertujuan untuk mendukung perletakan kerangka landasan pembangunan dan pertum buhan ekonomi, meningkatkan penerimaan negara dari sumber devisa non migas, menc iptakan lapangan kerja dalam keseimbangan dengan pertumbuhan angkatan kerja, pem erataan pendapatan, kesadaran berbangsa dan bernegara serta cinta tanah air. Pengembangan pariwisata di Gowa berdasarkan pengembangan pariwisata di Sulawesi Selatan. Yaitu dengan membuat pengelompokkan dalam satuan wilayah tertentu, yait u menjadi DTW (Daerah Tujuan Wisata). Istilah DTW dijumpai dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Sulawesi Selatan tahun 1985 1986. Inventarisasi ODTW di Makassar berdasarkan jenis wisata dan jumlahnya dalam Tabe l. Tabel 3.2. Persebaran ODTW di Makassar Tahun 2001

NO DAERAH KAB. UM DIPASARKAN D 1 ODTW YANG TELAH DIPASARKAN JML TOTAL ODTW A B C D ODTW SUDAH BERKEMBANG TETAPI BEL JML 2 A 3 B 1 C 2

JML Pangkep 2

6 8 2 Maros 3 1 1 5 9 3 Makassar 7 6 3 2 10 25 4 Gowa 2 3 1 2 7 5 Takalar 1 1 3 5 8 6 Jeneponto 3 3 4 7 (Sumber : Diperda Tk. I Sulawesi Selatan.) Keterangan : A = Alam B = C = Tirta (danau, pantai) dan Hiburan

4 2 5 3 -

2 15 1 3

2 1

5 1 2 -

Budayah dan Sejarah D = Agro, Pendidikan

4. Perkembangan Kepariwisataan dan Kuliner a. Perkembangan kepariwisataan di Makassar Potensi letak geografis daerah yang sangat mendukung sebagai wilayah tujuan wisa ta baik wisata alam maupun wisata budaya. Dilihat dari potensi wisata di Sulawesi Selatan, maka potensi keindahan alam mer upakan aset yang sangat besar dan menarik, tentunya akan membuat wisatawan manca negara maupun nusantara merasa kagum akan kekayaan dan keunikan serta keramahtam ahan yang dimiliki masyarakat Sulawesi Selatan sangat mengesankan wisatawan yang pernah mengunjunginya. Tabel 3.3. Jumlah Wisatawan Mancanegara dan Nusantara Berkunjung ke Propinsi Sulawesi Selatan tahun 1997 2001

NO TAHUN WISATAWAN MANCANEGARA WISATAWAN NUSANTARA 1 1997 278.094 440.173 2 1998 291.985 470.985 3 1999 303.694 503.953 4 2000 319.536 549.308 5 2001 342.096 615.326 Sumber : Dinas Pariwisata Kota Makassar, 2002 B. Tinjauan Terhadap Waduk Bili-bili sebagai lokasi perancangan 1. Gambaran Umum Waduk Bili-bili Berlokasi sekitar 30 km di arah timur Kota Makassar. Bendungan Bilibili yang dib angun di wilayah Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa, dan mulai dioperasikan Agus tus 1999. (Gambar 2. Lokasi Waduk Bili-bili) (Sumber : Pencitraan Google Earth) Waduk yang dibuat dengan luas genangan 16,5 kimometer bujursangkar tersebut, awa lnya memang dirancang memanfaatkan air dari Sungai Jeneberang dengan luas daerah pengaliran 384 km bujursangkar. Sungai ini berhulu di Gunung Bawakaraeng dengan elevasi 2.880 m dari atas permukaan laut, berjarak sekitar 75 km dari Waduk Bil ili. Justru waduk yang dibangun atas kerjasama pihak Japan International Coorperation

Agency (JICA), dirancang sebagai bendungan multifungsi. Kehadiran bendungan ini telah diperhitungkan dapat mengairi persawahan sampai seluas 24.600 ha yang ada di Kabupaten Gowa, Kabupaten Takalar, dan Kota Makassar. Juga dapat digunakan u ntuk menggerakkan turbin pembangkit listrik tenaga air sampai 16,3 mega watt. Sedangkan untuk penyediaan air baku bagi keperluan rumah tangga perkotaan dan in dustri di Kota Makassar, dan Kota Sungguminasa, ibukota Kabupaten Gowa, dalam ra ncangannya waduk mampu menyediakan hingga 3.300 liter/detik. Tahap awal sudah di manfaatkan lebih dari 1.000 liter/detik melalui Instalasi Pengolahan Air (IPA) S ombaopu. Terdapat danau buatan di area bendung Bilibili seluas 1.650 ha untuk keperluan r ekreasi/iwisata dan pengembangan ikan air tawar. Selain fungsi paling utama bend ungan ini, sebagai pengendali banjir kiriman dari Sungai Jeneberang yang sebelum nya sering melanda seputar wilayah Daerah Aliran Sungai hingga Kota Makassar. Sa puan banjir dengan debit 2.200 meterkubik/detik, kini sudah mampu dikurangi hing ga 1.200 meterkubik/detik dengan kehadiran Bendung Bilibili. a. Batasan fisik kawasan Waduk Bili-bili secara administrasi berada di Kelurahan Kecamatan Parangloe Gowa ,Dan bili-bili berbatasan : Sebelah Barat : Kec.Bontomarannu Sebelah Utara : Kec.Patalassang Sebelah Timur : Kec.Parangloe dan kec.Manuju Sebelah Selatan : Kec.manuju (Gambar 3. Peta Kondisi Kawasan Waduk bili-bili(sumber: Analisa Pribadi) b. Kondisi fisik bangunan Berdasarkan hasil survey, penggunaan lahan di dalam kawasan terdiri atas kawasan pemukiman penduduk, kawasan bendungan, sarana akomodasi. 1). Bentuk dan Massa Bangunan (Building Form And Massing) Dalam hal ini bentuk bangunan dari bangunan di wilayah studi mayoritas mempunyai bentuk persegi panjang sebagai tempat permukiman permanen yang berada di pinggi r jalan umum. Orientasi bangunan di daerah ini menghadap ke jalan poros malino,g owa. Bentuk bangunan di kawasan ini merupakan bangunan kayu yang merupakan tempa t tinggal dan beberapa juga adalah villa dan restoran. 2). Tata Bangunan Perletakan banguna di kawasan ini berada di pinggir jalan poros malino dan jarak antara bangunan agak renggang. Gambar 4. pemandangan waduk bili-bili (sumber: Dokumentasi Pribadi) 2. Pengaruh Kawasan Padongko terhadap Perkembangan Kota Barru Berdasarkan hasil survei di lapangan dalam kenyataannya di kawasan waduk bili-bi li ditemukan potensi-potensi yang akan mendukung pengembangan kawasan ini. a. Fisik Kota Keberadaan kawasan Padongko sebagai kawasan wisata memberikan pengaruh yang cuku p besar terhadap kota Gowa apalagi ditunjang dengan potensi Airnya dan juga kawa san ini berada di tepi jalan poros Malino yang merupakan kawasan wisata yang ter kenal di Sulawesi selatan dan gowa pada khususnya, ini menjadi nilai lebih bagi kawasan wisata waduk bili-bili. Salah satu masalah yang sering muncul di kawasan bili-bili ini adalah matinya se ctor pariwisata yang ada di daerah sekitar bili-bili ini dan kurangnya sarana pe ndukung untuk meningkatkan nilai pada waduk bili-bili tersebut. b. Non Fisik Kota Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2011,peruntukan wilayah,kawasan waduk bili-bili ini difungsikan Sebagai (PLTA) ,sebagai pengairan ke sejumlah lahan pertanian di kabupaten goa,t akalar,dan Makassar, Kawasan waduk bili-bili ini pula adalah kawasan yang harus

memperhatikan ekologis, sosial-budaya, estetika, dan ekonomi sehingga waduk ini memang seharusnya didukung oleh bangunan-bangunan penunjang untuk meningkatkan n ilai pada daerah tersebut. 1. Potensi Dan Kendala Kawasan Waduk Bili-Bili Berdasarkan Data Fisik/Eksisting Condition Maka Disimpulkan Potensi Dan Kendala Kawasan Bili-bili Dalam Skema Analisis SWOT. Tabel III.7. Analisis SWOT kawasan waduk bili-bili Kekuatan Kelemahan Peluang Ancaman SDA ative 2. 1. Keindahan yang dimiliki oleh kawasan tepi Danau menjadi altern pariwisata rekreasi selain obyek-obyek Karakteristik kawasan tepi pantai memiliki keunikan view,lansecape.

1. Curah hujan yang tinggi menyebabkan laju aliran air tinggi, berd asarkan tipe iklim dengan metode zone agroklimatologi yang berdasarkan pada bul an basah (curah hujan lebih dari 200 mm/bulan) ini akan berpengaruh pada kawasan Waduk. 2. Kurangnya perhatian dari pemerintah daerah. 1. Pemanfaatan laha n untuk permukiman bernuansa pariwisata. 2. Meningkatkan tingkat ekonomi masyarakat sekitar waduk. Longsoran gunung bawakaraeng.

Kekuatan Kelemahan Peluang Ancaman Jaringan Jalan 1. Jaringan jalan sangat lancar. 2. Kondisi jalan pada umumnya cukup baik. Tidak adanya rambu-rambu lalulintas. Posisinya yang strategis Dijalan menuju kawasan wisata malino. ----Utilitas - Drainase

- Air Bersih

1. 2.

Dapat mencegah banjir dan genangan air. Saluran pembuangan limbah.

1. 2.

Potensi sumber air baku dan air bersih cukup memadai. Kualitas air memenuhi standar.

Kondisi fisik yang masih kurang tertata. Keberadaan Sungai Binangae dapat dijadikan saluran primer

Kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan begitu tinggi yang mampu menjaga kualitas air

1. 2.

Tidak mampu menampung debit air yang sangat besar di musim hujan. Tidak terpeliharanya sisten drainase terpadu.

Mudah tercemar baik oleh hasil buangan kegiatan kota ataupun penyebab lainnya.

Kekuatan Peluang Ancaman - Persampahan Lokasi Untuk pembuatan tempat sampah masih banyak Masih Diterapk annya sistem pengolahan sampah modern. 1. Memungkinkan terjadiya pencemara n udara oleh bau. 2. Kebakaran apabila melakukan sistem pembakaran. 3. Pencemaran air laut (sumber: Analisis Pribadi)