Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Untuk menunjang pelaksanaan perkuliahan, maka Universitas Sriwijaya melakukan program praktek baik yang dilakukan di laboratorium maupun praktek lapangan. Pada program studi Pendidikan Kimia, mata kuliah Biokimia, Kimia Anorganik Fisik dan Termodinamika harus dipelajari oleh mahasiswa. Materi pada Biokimia membahas tentang teknologi vaksin, serum, rekayasa genetika, dll. Sedangkan pada Kimia Anorganik Fisik dan Termodinamika membahas tentang industri kimia, untuk menunjang penguasaan kedua materi tersebut. Mata kuliah ini memerlukan adanya praktikum di laboratorium, dan praktek kerja lapangan. Agar mahasiswa dapat menambah wawasannya terhadap kedua mata kuliah tersebut, maka dari Program Studi Kimia merencanakan untuk mengadakan Praktek Kuliah Lapangan. Pada kunjungan kami ke BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) itu berkaitan dengan mata kuliah Termodinamika. Adapun yang menjadi objek kunjungan adalah reaktor nuklir. Seperti yang diketahui, di dalam nuklir terjadi reaksi fisi (pembelahan inti) yang berkaitan dengan materi Termodinamika. Selain itu perubahan suhu dan tekanan yang berpengaruh dalam reaktor nuklir serta energi yang dihasilkan dapat dihitung besar dan perubahannya melalui mata kuliah Termodinamika. 1.2 Maksud dan Tujuan
1. Sebagai penunjang dalam peningkatan penguasaan ilmu pada mata kuliah

Kimia Termodinamika 2. Mengetahui Jurnal Kimia melalui Degenerasi Penelitian Ilmiah. 1.3 Manfaat Kegiatan 1. Mahasiswa dapat mengerti teori dan praktek secara konkret terhadap mata kuliah tersebut.

2. Mahasiswa mempunyai wawasan tentang Jurnal Kimia melalui Degenerasi Penelitian Ilmiah. 1.4 Bentuk Kegiatan Untuk mencapai tujuan yang diinginkan, maka strategi yang dilakukan adalah dengan mengadakan kunjugan beberapa tempat dengan bentuk kegiatan sebagai berikut : 1. 2.
3.

Ramah-tamah Pengenalan BATAN dan penjelasan mengenai NUKLIR Studi banding Laboratorium ; Reaktor Nuklir Research

1.5 Jumlah Peserta Praktik Kuliah Lapangan


1. Mahasiswa mengikuti PKL ini berjumlah 59 orang (daftar mahasiswa

terlampir) 2. Dosen Pembimbing a.


b.

Dr. Effendi Nawawi, M.Si Desi, S.Pd. M.T

1.6 Waktu dan Tempat Waktu pelaksanaan Tempat Pelaksanaan : Selasa, 5 Juni 2012 pukul 13.00-15.00 WIB : BATAN-Bandung Jl.Tamansari No.71 Bandung 40132

BAB II PEMBAHASAN
2.1

Sejarah Perkembangan BATAN

Kegiatan pengembangan dan pengaplikasian teknologi nuklir di Indonesia diawali dari pembentukan Panitia Negara untuk Penyelidikan Radioaktivitet tahun 1954. Panitia Negara tersebut mempunyai tugas melakukan penyelidikan terhadap kemungkinan adanya jatuhan radioaktif dari uji coba senjata nuklir di lautan Pasifik. Dengan memperhatikan perkembangan pendayagunaan dan pemanfaatan tenaga atom bagi kesejahteraan masyarakat, maka melalui Peraturan Pemerintah No. 65 tahun 1958, pada tanggal 5 Desember 1958 dibentuklah Dewan Tenaga Atom dan Lembaga Tenaga Atom (LTA), yang kemudian disempurnakan menjadi Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) berdasarkan UU No. 31 tahun 1964 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Tenaga Atom. Selanjutnya setiap tanggal 5 Desember yang merupakan tanggal bersejarah bagi perkembangan teknologi nuklir di Indonesia dan ditetapkan sebagai hari jadi BATAN. Pada perkembangan berikutnya, untuk lebih meningkatkan penguasaan di bidang iptek nuklir, pada tahun 1965 diresmikan pengoperasian reaktor atom pertama (Triga Mark II) di Bandung. Kemudian berturut-turut, dibangun pula beberapa fasilitas litbangyasa yang tersebar di berbagai pusat penelitian, antara lain Pusat Penelitian Tenaga Atom Pasar Jumat, Jakarta (1966), Pusat Penelitian Tenaga Atom GAMA, Yogyakarta (1967), dan Reaktor Serba Guna 30 MW (1987) disertai fasilitas penunjangnya, seperti: fabrikasi dan penelitian bahan bakar, uji keselamatan reaktor, pengelolaan limbah radioaktifdanfasilitas nuklir lainnya. Sementara itu dengan perubahan paradigma pada tahun 1997 ditetapkan UU No. 10 tentang ketenaganukliran yang diantaranya mengatur pemisahan unsur pelaksana kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir(BATAN)dengan unsur pengawas tenaga nuklir (BAPETEN). 1954 Pembentukan Radioaktivitet Panitia Negara untuk Penyelidikan

1958

Pembentukan Dewan Tenaga Atom dan Lembaga Tenaga Atom (PP No.65 Tahun 1958) Penetapan UU No.31 Tahun 1964 tentang Ketentuanketentuan Pokok Tenaga Atom 1964 Peresmian Pusat Reaktor Atom Bandung dan

1964

1965

Pengoperasian Reaktor Triga Mark II berdaya 250 kW oleh Presiden RI serta Perubahan nama Lembaga Tenaga Atom menjadi Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN)

1966 1967 1968 1970 1971

Pembentukan Pusat Penelitian Tenaga Atom (PPTA) Pasar Jumat, Jakarta 1966 Pembentukan Pusat Penelitian GAMA Yogyakarta Peresmian penggunaan Iradiator Gamma Cell Co-60 PPTA Pasar Jumat oleh Presiden RI Peresmian Klinik Kedokteran Nuklir di PPTA Bandung Reaktor Triga Mark II Bandung mencapai kritis pada daya 1 MW Pembentukan Komisi Persiapan Pembangunan PLTN (KP2-PLTN) Peresmian mulai beroperasinya Reaktor Kartini dengan daya 100 kW di PPTA Yogyakarta oleh Presiden RI Pengoperasian Mesin Berkas Elektron 300 keV di PPTA Pasar Jumat oleh Presiden RI Peresmian pengoperasian Reaktor Serba Guna GA. Siwabessy dengan daya 30 MW Peresmian pengoperasian Instalasi Pengolahan Limbah Radioaktif di PPTA Serpong oleh Presiden RI Peresmian pengoperasian Instalasi Radioisotop dan

1972

1979

1984

1987

1988

1989

Radiofarmaka, Instalasi Elemen Bakar Eksperimental di PPTA Serpong oleh Presiden RI.

Peresmian Instalasi Radiometalurgi, Instalasi Keselamatan 1990 dan Keteknikan Nuklir, Laboratorium Mekano Elektronik Nuklir di PPTA Serpong - Tangerang oleh Presiden RI Peresmian pengoperasian Instalasi Spektrometri Neutron, 1992 Instalasi Penyimpanan Elemen Bakar Bekas dan Pemindahan Bahan Terkontaminasi di PPTA Serpong Tangerang oleh Presiden RI 1994 Peresmian pengoperasian Mesin Berkas Elektron 2 MeV di PPTA Pasar Jumat oleh Presiden RI Dalam memperingati HUT RI ke 50, BATAN berhasil 1995 melaksanakan "Whole Indonesian Core" untuk Reaktor Serba Guna GA. Siwabessy. Pembentukan PT Batan Teknologi (persero), Divisi : 1996 Produksi Elemen Bakar Reaktor, Produksi Radioisotop, Produksi Instrumentasi dan Rekayasa Nuklir Penetapan 1997 UU No.10 Tahun 1997 tentang

Ketenaganukliran yang memisahkan Badan Pelaksana dan Badan Pengawas penggunaan tenaga nuklir Perubahan Badan Tenaga Atom Nasional menjadi Badan

1998

Tenaga Nuklir Nasional dengan Keppres No.197 Tahun 1998 Peresmian peningkatan daya Reaktor Triga 2 MWdi Pusat

2000

Penelitian Tenaga Nuklir (PPTN) Bandung olehWakil Presiden RI

2001 2003

Peningkatan status Pendidikan Ahli Teknik Nuklir (PATN) menjadi Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir Penyerahan hasil " " kepada Presiden RI; Pencapaian 10% jumlah varietas unggul tanaman pangan nasional; Pengoperasian Mesin Berkas Elektron 350 keV, 10 mA di

PPTN Yogyakarta:Pengoperasian Pusat Pelatihan dan Diseminasi Teknologi Peternakan - Pertanian Terpadu di Kalsel 2004 2005 2006 2008 Pencapaian target 10% varietas unggul tanaman pangan nasional menggunakan teknik nuklir Terwujudnya perpustakaan digital di bidang nuklir Pencapaian 1 juta hektar penyebaran varietas padi unggul BATAN di seluruh Indonesia 50 tahun BATAN Berkarya

2.2 Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi Sesuai dengan UU No. 10/1997 tentang Ketenaganukliran dan Keppres RI No. 64/2005, BATAN ditetapkan sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen, berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Presiden. BATAN dipimpin oleh seorang Kepala dan dikoordinasikan oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi. Tugas pokok BATAN adalah melaksanakan tugas pemerintahan di bidang penelitian, pengembangan dan pemanfaatan tenaga nuklir sesuai ketentuan Peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Dalam melaksanakan tugas, BATAN menyelenggarakan fungsi: 1. 2. 3. 4. Pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang penelitian, Koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas BATAN. Fasilitasi dan pembinaan terhadap kegiatan instansi pemerintah di bidang Penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang pengembangan dan pemanfaatan tenaga nuklir.

penelitian, pengembangan dan pemanfaatan tenaga nuklir, perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan tata laksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan, hukum, persandian, perlengkapan dan rumah tangga.

2.3 Visi dan Misi Visi Energi Nuklir sebagai pemercepat kesejahteraan bangsa. Misi 1. 2. Melaksanakan penelitian, pengembangan dan penerapan energi nuklir, Melaksanakan manajemen kelembagaan untuk mendukung kegiatan isotop dan radiasi dalam mendukung program pembangunan nasional penelitian, pengembangan dan penerapan energi nuklir, isotop dan radiasi 2.4 Tujuan dan Sasaran Tujuan Tujuan pembangunan iptek nuklir adalah memberikan dukungan nyata dalam pembangunan nasional dengan peran : 1. Meningkatkan hasil litbang energi nuklir, isotop dan radiasi, dan pemanfaatan/pendayagunaanya oleh masyarakat dalam mendukung program pembangunan nasional 2. Meningkatkan kinerja manajemen kelembagaan dan penguatan sistem inovasi dalam rangka mendukung penelitian, pengembangan dan penerapan energi nuklir, isotop dan radiasi Sasaran Sasaran pembangunan iptek nuklir yang ingin dicapai adalah : 1. Peningkatan hasil litbang enisora berupa bibit unggul tanaman pangan, tersedianya insfrastruktur dasar pembangunan PLTN, pemahaman masyarakat terhadap teknologi nuklir, pemanfaatan aplikasi teknologi isotop dan radiasi untuk kesehatan; dan 2. Peningkatan kinerja manajemen kelembagaan dan penguatan sistem inovasi meliputi kelembagaan iptek, sumber daya iptek dan penguatan jejaring iptek dalam rangka mendukung pemanfaatan hasil penelitian, pengembangan dan penerapan energi nuklir, isotop dan radiasi di masyarakat

2.5

Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)

Badan Tenaga Nuklir Nasional disingkat BATAN, adalah Lembaga Pemerintah Non Kementerian Indonesia yang bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan tenaga nuklir. Kepala Batan saat ini dijabat oleh Dr. Hudi Hastowo yang menggantikan Kepala BATAN periode sebelumnya yaitu Dr. Soedyartono Soentono, M.Sc. BATAN mengoperasikan 3 buah reaktor nuklir di Indonesia, 2 buah reaktor Triga mark II dan sebuah reaktor nuklir 30 MW di Serpong. Fasilitas Nuklir Untuk melaksanakan kegiatan Litbangyasa iptek nuklir telah dibangun dan dilengkapi berbagai fasilitas /sarana penelitian yang tersebar di beberapa lokasi yaitu Kawasan Nuklir Serpong di Kawasan Puspiptek, Kawasan Nuklir Bandung, Kawasan Nuklir Yogyakarta, Kawasan Nuklir Pasar Jumatdi Jakarta, Stasiun Pemantauan Gempa Mikro dan Meteorologi di ujung Watu dan Ujung Lemah Abang Jepara, dan unit Penelitian Eksplorasi Penambangan Uranium di Kalan, Kalimantan Barat Kawasan Nuklir Bandung Kawasan Nuklir Bandung dibangun pada tahun 196 yang menempati area sekitar 3 hektar dan merupakan tempat dibangunnya reaktor pertama di Indonesia. Di kawasan ini terdapat Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri (PTNBR). Kegiatan yang dilakukan meliputi pendayagunaan reaktor untuk penelitian dan pembinaan keahlian, litbang bahan dasar, radioisotop dan senyawa bertanda, instrumentasi dan teknik analisis radiometri, pengawasan keselamatan kerja terhadap radiasi dan lingkungan. Kedokteran nuklir pertama kali dikembangkan di Kawasan Nuklir Bandung yang merupakan embrio dari kedokteran nuklir di Indonesia. Saat ini kegiatan kedokteran nuklir dikembangkan lebih lanjut di beberapa rumah sakit di Indonesia. Untuk mendukung pelaksanaan litbang, Kawasan Nuklir Bandung dilengkapi dengan berbagai fasilitas antara lain Reaktor Triga Mark II dengan daya 250 kW (1965). Daya reaktor ini pada tahun 1971 ditingkatkan menjadi 1000 kW dan kemudian menjadi 2000 kW pada tahun 2000.

Fasilitas lain yang terdapat di kawasan ini adalah laboratorium fisika, kimia dan biologi, produksi isotop dan senyawa bertanda. Reaktor Nuklir Reaktor menurut arti sesungguhnya adalah tempat berlangsungnya reaksi. Apabila ditinjau berdasarkan pada proses reaksinya maka ada beberapa jenis reactor, yaitu : reactor kimia, reactor bakar dan reactor nuklir. Reaktor nuklir adalah tempat berlangsungnya reaksi nuklir. Reactor nuklir sudah banyak digunakan baik di Negara-negara maju maupun Negara berkembang. Reactor yang beroperasi di dunia sebagian besar digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Reaktor nuklir digunakan untuk banyak tujuan. Saat ini, reaktor nuklir paling banyak digunakan untuk membangkitkan listrik. Reaktor penelitian digunakan untuk pembuatan radioisotop (isotop radioaktif) dan untuk penelitian. Awalnya, reaktor nuklir pertama digunakan untuk memproduksi plutonium sebagai bahan senjata nuklir. Saat ini, semua reaktor nuklir komersial berbasis pada reaksi fisi nuklir, dan sering dipertimbangkan masalah risiko keselamatannya. Sebaliknya, beberapa kalangan menyatakan bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir merupakan cara yang aman dan bebas polusi untuk membangkitkan listrik. Daya fusi merupakan teknologi ekperimental yang berbasi pada reaksi fusi nuklir. Ada beberapa piranti lain untuk mengendalikan reaksi nuklir, termasuk di dalamnya pembangkit thermoelektrik radioisotop dan baterai atom, yang membangkitkan panas dan daya dengan cara memanfaatkan peluruhan radioaktif pasif, seperti halnya FarnsworthHirsch fusor, di mana reaksi fusi nuklir terkendali digunakan untuk menghasilkan radiasi neutron. Energi potensial nuklir adalah energi potensial yang terdapat pada partikel di dalam nukleus atom. Partikel nuklir seperti proton dan neutron tidak terpecah di dalam proses reaksi fisi dan fusi, tapi kumpulan dari mereka memiliki massa lebih rendah daripada jika mereka berada dalam posisi terpisah/ sendiri-sendiri. Adanya perbedaan massa ini dibebaskan dalam bentuk panas dan radiasi di reaksi nuklir (panas dan radiasinya mempunyai massa yang hilang, tapi terkadang terlepas ke

sistem, dimana tidak terukur). Energi matahari adalah salah satu contoh konversi energi ini. Di matahari, proses fusi hidrogen mengubah 4 miliar ton materi surya per detik menjadi energi elektromagnetik, yang kemudian diradiasikan ke angkasa luar. Dalam fisika nuklir, sebuah reaksi nuklir adalah sebuah proses di mana dua nuklei atau partikel nuklir bertubrukan, untuk memproduksi hasil yang berbeda dari produk awal. Pada prinsipnya sebuah reaksi dapat melibatkan lebih dari dua partikel yang bertubrukan, tetapi kejadian tersebut sangat jarang. Bila partikel-partikel tersebut bertabrakan dan berpisah tanpa berubah (kecuali mungkin dalam level energi), proses ini disebut tabrakan dan bukan sebuah reaksi. Dikenal dua reaksi nuklir, yaitu reaksi fusi nuklir dan reaksi fisi nuklir. Reaksi fusi nuklir adalah reaksi peleburan dua atau lebih inti atom menjadi atom baru dan menghasilkan energi, juga dikenal sebagai reaksi yang bersih. Reaksi fisi nuklir adalah reaksi pembelahan inti atom akibat tubrukan inti atom lainnya, dan menghasilkan energi dan atom baru yang bermassa lebih kecil, serta radiasi elektromagnetik. Reaksi fusi juga menghasilkan radiasi sinar alfa, beta dan gamma yang sagat berbahaya bagi manusia. Contoh reaksi fusi nuklir adalah reaksi yang terjadi di hampir semua inti bintang di alam semesta. Senjata bom hidrogen juga memanfaatkan prinsip reaksi fusi tak terkendali. Contoh reaksi fisi adalah ledakan senjata nuklir dan pembangkit listrik tenaga nuklir. Unsur yang sering digunakan dalam reaksi fisi nuklir adalah Plutonium dan Uranium (terutama Plutonium-239, Uranium-235), sedangkan dalam reaksi fusi nuklir adalah Lithium dan Hidrogen (terutama Lithium-6, Deuterium, Tritium). Berdasarkan fungsinya reactor nuklir dapat dibedakan menjadi dua yaitu : 1. Reactor penelitian / riset yaitu reactor nuklir yang digunakan untuk tujuan penelitian , pengujian bahan, pendidikan atau pelatihan dan bias juga untuk memproduksi radioisotope. 2. Reactor daya , yaitu reactor nuklir yang digunakan untuk menghasilkan daya listrik / pembangkit tenaga listrik.

Ada perbedaan antara kedua reaktor ini, yaitu pada reaktor penelitian yang diutamakan adalah pemanfaatan yang dihasilkan dari reaksi nuklir untuk keperluan berbagai penelitian dan produksi radioisotop. Sedangkan panas yang dihasilkan dirancang sekecil mungkin, sehingga dapat dibuang ke lingkungan. Pada reaktor daya yang dimanfaatkan adalah uap yang bersuhu dan bertekanan tinggi yang dihasilkan oleh reaksi fisi untuk memutar turbin, sedangkan neutron yang dihasilkan sebagian diserap dengan elemen kendali, dan sebagian diubah menjadi neutron untuk berlangsungnya reaksi berantai. RSG G.A Siwabessy merupakan salah satu reactor riset yang mempunyai daya nominal 30 Mw dan menggunakan bahan bakar uranium dengan perkayaan rendah. Raktor ini mulai dibangun tahun 1983 dan diresmikan operasinya padda tanggal 20 agustus 1987 oleh Presiden Republik Indonesia. Nama G.A siwabessy diberikan sebagai penghormatan atas jasa Prof. G.A Siwabessy sebagai perintis kegiatan tenaga nuklir di Indonesia. RSG G.A Siwabessy merupakan reactor jenis kolam, berbahan bakar jenis MTR dalam bentuk disperse U3O8Al dengan perkayaan lebih kecil dari 20 % U-235 dalam kelongsong Al. reactor ini dengan nominam 30 Mw dapat menghasilkan netron termal di fasilitasi iradiasi sebesar 2 x 1014n/cm2det. RSG G.A Siwabessy mempunyai system keselamatan yang sangat baik, dimana apabila terjadi kegagalan pada system reactor, maka system proteksi reactor menanggapi kegagalan tersebut dengan tindakan penyelamatan otomatis berupa pemadaman reactor dan diikuti tindakan lain yang disesuaikan dengan sebab kegagalan system tersebut. RSG G.A Siwabessy didesain dan dipasok oleh perusahaan interatom GmbH yang sekarang bergabung menjadi Siemens AG dari republic Federasi jerman. RSG G.A Siwabessy dengan seluruh fasilitas pendukungnya akan dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan sebagai berikut : 1. Fasilitas reactor serbaguna digunakan selain untuk kegiatan litbang bidang teknologi nuklir juga untuk melayani kegiatan iradiasi nuklir.

2. Fasilitas Power ramp Test atau fasilitas uji daya ramp adalah fasilitas iradiasi dengan loop pendingin yang digunakan untuk menguji pin elemen bakar reactor daya jenis PWR/BWR pada daya yang berubah-ubah. 3. Fasilitas Radiografi Neutron adalah fasilitas yang digunakan untuk melakukkan radiografi material dengan menggunakan berkas neutron. 4. Fasilitas Cyrano dan Chouca Rig adalah fasilitas uji (statis) pin elemen bakar reactor daya. Fasilitas ini berupa sebuah rig yang dapat dibongkar pasang di dalam kolam reactor secara vertical dan choucha rig adalah fasilitas iradiasi untuk uji bahan struktur reactor. 5. Fasilitas iradiasi untuk analisis aktivasi neutron (AAN). AAN adalah suatu teknis analisis dengan membuat bahan uji menjadi radioaktif dengan iradiasi neutron. 6. Fasilitas silicon Doping adalah fasilitas yang digunakan untuk mengiradiasi kristal tunggal silicon menjadi bahan semikonduktor. 7. Fasilitas produksi radioisotope adalah fasilitas proses fisi maupun aktivasi jenis radioisotope untuk keperluan medis ( Tc-99m, I-125, I-131,dll) 8. Fasilitas system rabbit, ini digunakan untuk melakukan aktivasi neutron dan produksi radioisotope dengan waktu radiasi pendek. Ada 2 sistem rabbit, yaitu hydraulic dan pneumatic. Berdasarkan bahan pendingin yang digunakan : 1. Reaktor berpendingin air, meliputi reaktor jenis PWR (Pressurized Water Reactor = reaktor air tekan), BWR (Boiling Water Reactor = reaktor air didih), GMBWR (Graphite Moderated Boiling Water Reactor = reaktor air didih moderasi grafit), PHWR (Pressurized Heavy Water Reactor = reaktor air berat tekan). 2. Reaktor berpendingin gas, gas yang biasa digunakan adalah CO2 dan N2. Reaktor yang termasuk dalam jenis ini adalah MR (Magnox Reactor = reaktor magnox) dan AGR (Advanced Gas-Cooled Reactor = reaktor maju berpendingin gas).

Berdasarkan bahan moderator (pemerlambat) yang digunakan : 1. Reaktor air ringan : bahan moderasi yang digunakan adalah air ringan. Reaktor dalam kelompok ini adalah : PWR, BWR, BMBWR. 2. Reaktor air berat : bahan moderasi yang digunakan adalah air berat (air yang mempunyai kandungan Deuterium lebih besar daripada air ringan). Reaktor dalam kelompok ini adalah : PHWR dan Reaktor Candu (CanadiumDeuterium-Uranium). 3. Reaktor grafit : bahan moderasi yang digunakan adalah grafit. Reaktor dalam kelompok ini adalah : MR, AGR, dan RBMR (reaktor yang digunakan oleh Rusia). Prinsip Kerja Reaktor Nuklir Energi yang dihasilkan dalam reaksi fisi nuklir dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang berguna. Untuk itu, reaksi fisi harus berlangsung secara terkendali di dalam sebuah reaktor nuklir. Sebuah reaktor nuklir paling tidak memiliki empat komponen dasar, yaitu elemen bahan bakar, moderator neutron, batang kendali, dan perisai beton. Elemen bahan bakar menyediakan sumber inti atom yang akan mengalami fusi nuklir. Bahan yang biasa digunakan sebagai bahan bakar adalah uranium U. Elemen bahan bakar dapat berbentuk batang yang ditempatkan di dalam teras reaktor. Neutron-neutron yang dihasilkan dalam fisi uranium berada dalam kelajuan yang cukup tinggi. Adapun, neutron yang memungkinkan terjadinya fisi nuklir adalah neutron lambat sehingga diperlukan material yang dapat memperlambat kelajuan neutron ini. Fungsi ini dijalankan oleh moderator neutron yang umumnya berupa air. Jadi, di dalam teras reaktor terdapat air sebagai moderator yang berfungsi memperlambat kelajuan neutron karena neutron akan kehilangan sebagian energinya saat bertumbukan dengan molekul-molekul air. Fungsi pengendalian jumlah neutron yang dapat menghasilkan fisi nuklir dalam reaksi berantai dilakukan oleh batang-batang kendali. Agar reaksi berantai yang terjadi terkendali dimana hanya satu neutron saja yang diserap untuk memicu

fisi nuklir berikutnya, digunakan bahan yang dapat menyerap neutron-neutron di dalam teras reaktor. Bahan seperti boron atau kadmium sering digunakan sebagai batang kendali karena efektif dalam menyerap neutron.

skema reaktor nuklir Batang kendali didesain sedemikian rupa agar secara otomatis dapat keluarmasuk teras reaktor. Jika jumlah neutron di dalam teras reaktor melebihi jumlah yang diizinkan (kondisi kritis), maka batang kendali dimasukkan ke dalam teras reaktor untuk menyerap sebagian neutron agar tercapai kondisi kritis. Batang kendali akan dikeluarkan dari teras reaktor jika jumlah neutron di bawah kondisi kritis (kekurangan neutron), untuk mengembalikan kondisi ke kondisi kritis yang diizinkan. Radiasi yang dihasilkan dalam proses pembelahan inti atom atau fisi nuklir dapat membahayakan lingkungan di sekitar reaktor. Diperlukan sebuah pelindung di sekeliling reaktor nuklir agar radiasi dari zat radioaktif di dalam reaktor tidak menyebar ke lingkungan di sekitar reaktor. Fungsi ini dilakukan oleh perisai beton yang dibuat mengelilingi teras reaktor. Beton diketahui sangat efektif menyerap sinar hasil radiasi zat radioaktif sehingga digunakan sebagai bahan perisai.

2.6 Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. BAPETEN bertugas melaksanakan pengawasan terhadap segala kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir di Indonesia melalui peraturan perundangan, perizinan, dan inspeksi sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. BAPETEN didirikan pada tanggal 8 Mei 1998 dan mulai aktif berfungsi pada tanggal 4 Januari 1999. Sudah 60 tahun yang lalu sejak dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki di bulan Agustus 1945. Ledakan nuklir tersebut melepaskan panas dan radiasi yang luar biasa, dan mengakibatkan banyak penderitaan, kehancuran dan korban jiwa. Sekalipun energi nuklir pernah memberikan stikma buruk sebagai tenaga pemunah massal, berbagai aplikasi tenaga nuklir telah memberikan manfaat di saat ini dan dikemudian hari, termasuk di Indonesia.

Pemanfaatan Tenaga Nuklir di Indonesia Berlawanan dengan kebanyakan pendapat orang, tenaga nuklir memberikan banyak manfaat bagi peradaban manusia. Berbagai macam penggunaan tenaga nuklir muncul dalam kehidupan kita. Selama lebih dari seratus tahun, tenaga nuklir telah dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kontribusi nyata tampak dalam peningkatan kesehatan masyarakat. Dalam bidang pertanian, kita menggunakan teknik nuklir untuk menghasilkan varietas padi unggul dan murah, sehingga mampu memenuhi kebutuhan nutrisi kita. Selain itu, teknologi radiasi juga telah banyak digunakan industri, terutama untuk memeriksa volume produk minuman dalam kemasan, ketebalan kertas, kualitas pipa dan lain sebagainya. Sinar radiasi juga dapat digunakan sebagai teknik perunut, diagnosa proses industri, analisa komposisi dan uji bahan tak rusak. Radiasi sinar gamma juga banyak digunakan untuk membasmi bakteria dalam proses sterilisasi makanan. Di berbagai belahan dunia, tenaga nuklir telah dan akan menjadi alternatif penting

dalam menyediakan tenaga listrik tanpa menghasilkan gas rumah kaca, sehingga bisa mengurangi efek rumah kaca di planet kita ini. Memandang hal di atas, pemerintah Indonesia, bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat, membuat UU No 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran, yang menunjukkan pentingnya energi nuklir bagi kesejahteraan kita dan perlunya keselamatan dalam penggunaanya. Usaha untuk meningkatkan manfaat dari energi nuklir dilaksanakan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), sedangkan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) diberikan wewenang dan tanggung jawab melalui tugas pengawasan untuk meminimalisasi resiko yang berkaitan dengan penggunaan tenaga nuklir di Indonesia. Pengawasan penggunaan tenaga nuklir dimaksudkan untuk menjamin pemakaian yang baik dan benar dengan tetap menjaga penggunaan khusus untuk tujuan damai dan memberikan manfaat dan kesejahteraan pada masyarakat seluasluasnya. BAPETEN - Badan Pengawas Tenaga Nuklir di Indonesia Pengawasan tenaga nuklir di Indonesia tidak bisa dihindari dan sangat diperlukan. Dengan makin berkembangnya teknologi nuklir dan penggunaannya di masyarakat makin meluas, pengawasan ditujukan untuk memastikan keselamatan masyarakat dan lingkungan. Berdasarkan Undang-Undang, BAPETEN melaksanakan kewajiban pemerintah dalam mengawasi penggunaan tenaga nuklir. UU Tenaga Nuklir tahun 1997 memberikan mandat pada BAPETEN untuk membuat peraturan, menerbitkan izin, melakukan inspeksi dan mengambil langkah penegakan peraturan untuk menjamin kepatuhan pengguna tenaga nuklir terhadap peraturan dan ketentuan keselamatan. TUGAS POKOK Melaksanakan pengawasan terhadap segala kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir dengan menyelenggarakan peraturan, perizinan dan inspeksi. FUNGSI

Perumusan kebijaksanaan nasional di bidang pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir; penyusunan rencana dan program nasional di bidang pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir; pembinaan dan penyusunan peraturan serta pelaksanaan pengkajian keselamatan nuklir, keselamatan radiasi, dan pengamanan bahan nuklir; pelaksanaan perizinan dan inspeksi terhadap pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir, instalasi nuklir, fasilitas bahan nuklir, dan sumber radiasi serta pengembangan kesiapsiagaan nuklir; pelaksanaan kerjasama dibidang pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir dengan instansi Pemerintah atau organisasi lainnya baik di dalam maupun di luar wilayah Indonesia; pelaksanaan pengawasan dan pengendalian bahan nuklir; pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan terhadap upaya yang menyangkut keselamatan dan kesehatan pekerja, anggota masyarakat dan perlindungan terhadap lingkungan hidup; pelaksanaan pembinaan sumber daya manusia di lingkungan BAPETEN; pelaksanaan pembinaan administrasi, pengendalian dan pengawasan di lingkungan BAPETEN; pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Presiden. TUJUAN 1. Terjaminnya kesejahteraan, keamanan dan ketentraman masyarakat; 2. Menjamin keselamatan dan kesehatan pekerja dan anggota masyarakat serta perlindungan terhadap lingkungan hidup; 3. Memelihara tertib hukum dalam pelaksanaan pemanfaatan tenaga nuklir; 4. Meningkatkan kesadaran hukum pengguna tenaga nuklir untuk menimbulkan budaya keselamatan di bidang nuklir; 5. Mencegah terjadinya perubahan tujuan pemanfaatan bahan nuklir; 6. dan Menjamin terpeliharanya dan ditingkatkannya disiplin petugas dalam pelaksanaan pemanfaatan nuklir. 2.7 Radiasi Radiasi adalah pancaran energi melalui materi atau ruang dalam bentuk partikel berenergi atau gelombang elektromagnetik. Radiasi tertentu memiliki energi yang cukup untuk membuat electron keluar dari orbit atom materi yang

dilaluinya. Proses ini disebut ionisasi dan radiasi yang bias menimbulkan ionisasi disebut radiasi pengion. Karena proses interaksi dengan materi seperti ini maka radiasi pengion akan mengalami penurunan intensitas ketika melewati materi. Radioaktifitas Radioaktifitas adalah proses spontan dan alami ketika atom yang tidak stabil dari isotope sebuah unsur radioaktif mengalami transformasi atau meluruh menuju kondisi stabil dengan cara memancarkan atau meradiasikan kelebihan energi dalam bentuk partikel atau gelombang elektromagnetik. Jumlah inti atom suatu material radioaktif yang meluruh dalam jangka waktu tertentu dinamakan aktifitas dari material tersebut. Umur paruh suatu unsur atau material radioaktif adalah waktu yang diperlukan oleh unsur tersebut agar aktifitasnya berkurang menjadi setengah dari aktifitas awalnya. Radiasi Dalam Kehidupan Sehari-hari Tubuh manusia dalam kehidupan sehari-hhari akan menerima paparan radiasi pengion secara alami yang disebut natural background radiation. Radiasi ini berasal dari luar angkasa yang diseebut radiasi kosmik, radiasi terrestrial dari material radioaktif dalam kerak bumi, gas radioaktif di atmosfir dan radiasi dari dalam tubuh yang berasal dari makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh. Efek Radiasi Radiasi dapat berinteraksi langsung dengan molekul tubuh dan merusaknya. Pada prinsipnya DNA tubuh memiliki kemampuan mengagumkan untuk memperbaiki sel-sel yang rusak akibat radiasi. Jika DNA mengalami kerusakan, maka terdapat dua kemungkinan, yaitu kerusakan akan diperbaiki sebelum siklus tumbuh sel tubuh selesai. Jika tidak, maka sel akan mati. Terdapat pula kemungkinan lainnya yaitu sel akan selamat tapi berperilaku menyimpang akibat kerusakan DNA yang dikkenal dengan istilah mutasi. Sel dengan DNA mutsi ini bias terus tumbuh sehingga bisa menimbulkan kanker.
a. Efek langsung

Pengaruh langsung akibat menerima dosis radiasi yang sangat besar dalam waktu singkat bisa berupa terbakar, terjadi perubahan komponen darah,

kelelahan, diare, pusing, dan kematian. Pengaruh ini akan berkembang dalam satuan jam, hari, atau minggu yang bergantung pada dosis radiasi yang diterima. b. Efek tertunda Katarak akan timbul dalam waktu berbulan-bulan atau beertahun-tahun setelah lensa mata menerima dosis radiasi 200-300rem demikian juga kanker mungkin timbul 10-15 tahun setelah tubuh menerima dosis radiasi. Pemanfaatan Radiasi a. Bidang Medis Radiasi pengion bisa dimanfaatkan dengan banyak cara di biidang pengobatan medis (radiotherapy). Yang paling dikenal adalah untuk mendiagnosa pencitraan misalkan CT (computer tomography) Scan dan pengobatan kanker. b. Bidang industry Penggunaan terbesar radiasi pengion di bidang industry adalah dalam modifikasi karakteristik suatu materi. Radiasi dapat dipergunakan untuk menginisiasi terjadinya polimerisasi, memperkeras polimer atau menaikkan titik leleh. Penggunaan utama lainnya adalah untuk mensterilkan peralatan kedokteran c. Peralatan Rumah Tangga Salah satu peralatan yang sering dijumpai di rumah maupun gedung adalah detector asap untuk peringatan kebakaran. 2.8 Reaktor Daya (PLTN) a. Reaktor air mendidih Reaktor jenis ini memanfaatkan air sebagai pendingin reactor dan moderator. Panas yang dihasilkan oleh reaksi fisi dalam elemen bakar akan diserap oleh air, sehingga air akan mendidih dan berubah menjadi uap. Uap yang dihasilkan akan digunakan untuk menggerakkan turbin generator sehingga dihasilkan listrik.

Moderator adalah medium untuk memperlambat kecepatan partikel neutron cepat. Air pendingin digunakan untuk mengambil panas yang dihasilkan dalam teras reactor (reactor core) sehingga temperatur air akan naik. Temperatur air dibiarkan meningkat hingga mencapai titik didih. Uap yang dihasilkan pada proses pendidihan air kemudian disalurkan untuk memutar turbin yang terhubung dengan generator listrik. Dalam reaktor tipe ini, uap yang terbentuk akan menyebabkan reaktivitas reaktor menjadi negatif. Reaktivitas negative dapat menahan kenaikan daya reaktor, sehingga penambahan reaktivitas (penaikan daya reaktor) dapat dikendalikan secara stabil dengan batang pengendali. b. Reaktor air bertekanan

Reaktor ini menggunakan air sebagai pendingin. Reactor ini memiliki dua system sirkulasi pendingin, yaitu primer dan sekunder. Sirkulasi pendingin primer berhubungan langsung dengan sumber panas. Sirkulasi pendingin

sekunder dibuat bertekanan tinggi sehingga tidak akan mendidih walaupun berada dalam temperature yang sangat tinggi. Panas dari system pendingin primer dialirkan ke system sekunder. Air dalam system sekunder ini akan berubah menjadi uap dan kemudian dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin generator dan menghasilkan listrik. Dalam PWR, kalor yang dihasilkan dalam batang-batang bahan bakar diangkut keluar dari teras reaktor oleh air yang terdapat di sekitarnya (sistem pendingin primer). Air ini secara terus-menerus dipompakan oleh pompa primer ke dalam reaktor melalui saluran pendingin reaktor (sistem pendingin primer).

Gambar 12.2. Diagram PLTN Jenis PWR Untuk mengangkut kalor sebesar mungkin, suhu air dikondisikan mencapai 3000C. Untuk menjaga air tidak mendidih (yang dapat terjadi pada suhu 1000C pada tekanan 1 atm), air diberi tekanan 160 atm. Air panas diangkut melalui suatu alat penukar panas (heat exchanger), dan kalor dari air panas dipindahkan ke air yang mengalir di sekitar alat penukar panas (sistem pendingin sekunder). Kalor yang dipindahkan ke sistem pendingin sekunder memproduksi uap yang memutar turbin. Turbin dikopel dengan suatu generator listrik, tempat daya

keluaran listrik menuju konsumen melalui kawat transmisi tegangan tinggi. Setelah keluar dari turbin, uap didinginkan kembali menjadi air oleh pengembun (condenser) dan kemudian dikembalikan lagi ke alat penukar panas oleh pompa sekuder.

2.9 Limbah Radioaktif Limbah radioaktif merupakan hasil samping dari kegiatan pemanfaatan teknologi nuklir. Dalam limbah radioaktif ini terdapat unsur-unsur radioaktif yang masih memancarkan radiasi. Limbah radioaktif tidak boleh dibuang ke lingkungan karena radiasi yang dipancarkan berpotensi memberikan efek merugikan terhadap kesehatan manusia. Program pengelolaan limbah radioaktif ditujukan untuk menjamin agar tidak seorang pun akan menerima paparan radiasi melebihi nilai batas yang dizinkan. Terdapat hal-hal unik yang menguntungkan dalam rangka pengelolaan limbah radioaktif: 1. Sifat fisika dari zat radioaktif yang selalu meluruh menjadi zat stabil (tidak radioaktif lagi). Karena terjadi peluruhan, maka jumlah zat radioaktif akan selalu berkurang oleh waktu. Sifat ini sangat menguntungkan karena cukup hanya dengan meyimpan secara aman, zat radioaktif sudah berkurang dengan sendirinya. 2. Sebagian besar zat radioaktif yang terbentuk dalam teras reaktor nuklir umumnya memiliki waktu paro yang sangat pendek, mulai orde beberapa detik hingga beberapa hari. Hal ini menyebabkan peluruhan zat radioaktif yang sangat cepat yang berarti terjadi pengurangan volume limbah yang sangat besar dalam waktu relatif singkat. 3. Saat ini telah berhasil dikembangkan berbagai jenis alat ukur yang sangat peka terhadap radiasi. Dengan alat ukur ini keberadaan zat radioaktif skecil apa pun selalu dapat dipantau. Pengolahan Limbah Radioaktif

Secara keseluruhan, pengelolaan limbah radioaktif yang lazim dilakukan meliputi tiga pendekatan pokok bergantung besar kecilnya volume limbah, tinggi rendahnya aktivitas zat radioaktif serta sifat-sifat fisika dan kimia limbah tersebut. Tiga pendekatan pokok itu meliputi : 1. Limbah radioaktif dipekatkan dan dipadatkan yang pelaksanaannya dilakukan di dalam wadah khusus untuk selanjutnya disimpan dalam waktu yang cukup lama. Cara ini efektif untuk pengelolaan limbah radioaktif cair yang mengandung zat radioaktif beraktivitas sedang dan atau tinggi. 2. Limbah radioaktif disimpan dan dibiarkan meluruh dalam tempat penyimpanan khusus sampai aktivitasnya sama dengan aktivitas zat radioaktif lingkungan. Cara ini efektif jika dipakai untuk pengelolan limbah radioaktif cair atau padat yang beraktivitas rendah dan berwaktu paroh pendek. 3. rendah. Dengan ketiga pendekatan itu diharapkan bahwa aktivitas limbah radioaktif yang lepas ke lingkungan sama dengan aktivitas zat radioaktif yang secara alamiah sudah ada pada lingkungan. Dengan cara itu faktor keselamatan manusia dan lingkungan tetap merupakan prioritas utama dalam pemanfaatn teknologi nuklir. Limbah radioaktif diencerkan dan didispersikan ke lingkungan. Cara ini efektif untuk pengelolaan limbah radioaktif cair atau gas beraktivitas

BAB III PENUTUP

BATAN tidak hanya bergerak pada penelitian dan pengembangan energi nuklir saja, tetapi juga melakukan aplikasi teknik nuklir untuk kesejahteraan masyarakat, baik di bidang kesehatan, peternakan dan pertanian. Akan tetapi, BATAN belum diizinkan untuk memproduksi tenaga nuklir untuk tingkat yang lebih tinggi, dikarenakan melihat bahaya radiasi nuklir yang sangat berbahaya. Demikian laporan ini kami buat, terima kasih atas segala dukungan yang telah diberikan kepada kami sehingga kegiatan ini dapat berlangsung dengan lancar dan selesai tepat pada waktunya serta dapat dicapai hasil yang diharapkan. Kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak demi kesempurnaan kegiatan kami selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

Badan

Tenaga

Nuklir

Nasional,

(Online), diakses (Online), diakses

(http://id.wikipedia.org/wiki/Badan_Tenaga_Nuklir_Nasional, tanggal 20 Juni 2012) Anonim. Badan Pengawas Tenaga Nuklir, (http://id.wikipedia.org/wiki/Badan_Pengawas_Tenaga_Nuklir, tanggal 20 Juni 2012) BATAN , http://www.batan.go.id BAPETEN, http://www.bapeten.go.id/

LAMPIRAN I PESERTA PRAKTEK KULIAH LAPANGAN KE BATAN BANDUNG a. Peserta Kampus Indralaya No. NAMA 1. Prima Wulansari 2. Ermita Ratnastiti 3. Etrie Jayanti 4. Tiara Romadhona 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. Khoirun Nisak Amalia Karella Pilihan Ria Usmika Imelda Gustia Ningsih Rahayu Wandari Siti Oryza Sativa Destia Nurdina Arrahma Nurizka Fani Khumairah Surgantini Rahayu Yuni Wijayanti Zulaiha Kiki Marisa Tri Oktaviani Abi Rahmat Hidayat Irma Tiara Irine Wulandary Anita H Simbolon Fefti Asnia Arief Maulana Kiki Sumiyati Ayuwuni Vidiani Putri Retno Warianti Dika Fajriani Yunny Puspita Anggraini Sri Hartini Luciana Mentari Anggun Prabawati Seni Metasari Herdi Elviani Barus

NIM 06091010001 06091010002 06091010003 06091010004 06091010005 06091010006 06091010007 06091010008 06091010009 06091010010 06091010012 06091010013 06091010014 06091010015 06091010016 06091010017 06091010018 06091010019 06091010020 06091010021 06091010022 06091010023 06091010024 06091010026 06091010027 06091010028 06091010029 06091010030 06091010031 06091010032 06091010033 06091010035 06091010036 06091010037 06091010038

NO. HP 08982374145 085273355886 085268439439 081958976643/ 082372690230 085286682509 085273812341 085764052708 085268682120/ 085758582021 085758838341 085266624051 085368854555 081385000116 085669504334 085381530884 085788253754 08994353248 085669409237 085758851752 082178322961 085268749496 08983034328 085380822048 081379673381 087811651077 08994487228 085268340260 085384353352 085279603771 08999849094 085669260696 085367013659 085788111636 087811813626 085769168492 085760017958

36. 37. 38. 39. 40. 41. 42.

Melia Loveyanti Fitri Aprianti Meydian Elytasari Budiono Munika Zainal Ismi Ariningsih Total

06091010039 06091010040 06091010041 06091010042 06091010043 06091010044 06091010045 42 ORANG

085273161163 085788911242 085268315789 085769809426 085367100053 082185162503 085769207135

b. Peserta Kampus Palembang No. NAMA 1. Fika Tivany 2. Sarinarulita 3. Ari Fanjiono 4. Winda Aryani 5. Dwi Alviani 6. Rananda Vinsiah 7. Pegi Yulianti 8. Dili Apriana Aksari 9. Ria Sita Ariska 10. Rahma Fitriani 11. Anggri Gustiani 12. Qonitah Khairunnisa 13. Ade Putri Prasetya 14. Marya Ulfa 15. Dita Kurnia Sari 16. Novriyani 17. Utarie Effrilia Total

NIM 06091410001 06091410002 06091410003 06091410004 06091410005 06091410006 06091410007 06091410008 06091410009 06091410010 06091410011 06091410012 06091410013 06091410014 06091410016 06091410017 06091410018 17 ORANG

NO. HP 081958823819 081373567852 085764700036 081996431728 07119402804 05369905004/ 083177066177 082182533078 085769133333/ 085357727007 085286777284 085789034480 081958577780/ 085357727070 085266397799 085368216757/ 08998915326 081996111025 085368551822 087897422522/ 085357729802

LAMPIRAN II DOKUMENTASI FOTO

Peserta PKL

Visi-Misi BATAN Presentasi oleh pihak BATAN

Miniatur bangunan BATAN

Mesin Detector Radiasi

Penyerahan Cinderamata

Contoh Kit Kering Radiofarmaka

Pemaparan Mengenai Kit Kering Radiofarmaka

Reaktor Triga Mark II (tampak atas)

Miniatur Reaktor Triga Mark II Reaktor Triga Mark II (tampak depan)

Selongsong Nuklir yang berisi senyawa radioaktif

Teras Reaktor

Miniatur Teras Reaktor Ruang Monitoring Reaktor

Nitrogen Cair

Air Pendingin Reaktor

Mesin Pembuat Nitrogen Cair

Tempat Pembuangan Limbah Padat