Anda di halaman 1dari 7

Nama : M.

Fahmi NPM : 09700304

1. Venereology Adalah Cabang Ilmu Kedokteran Yang Mempelajari Penyakit Menular Seksual (PMS) dan Mepelajari Tantang Cara Pengobatan Penyakit Menular Seksual.

2. Veneralo Diseases Klasik Adalah Penyakit kelamin (venereal diseases) memiliki batasan semua penyakit yang penularannya terutama melalui aktivitas seksual. Seperti yang kita telah ketahui bersama, cara hubungan seksual tidak terbatas pada genitogenital saja, melainkan juga oral-genital, maupun anal-genital. Untuk itulah perhatian harus diarahkan juga terhadap organ-organ di luar genital. Setelah tertular melalui aktivitas seksual, mikroorganisme patogen juga dapat menular melalui alat-alat seperti peralatan pribadi yang tidak dibersihkan secara steril. Kondisi ini semakin menyulitkan diagnosis penularan dan membutuhkan ketelitian dari dokter untuk menggali sumber penularan penyakit kelaminnya. Istilah venereal disease akhirnya mengalami perkembangan menjadi STD (sexual transmitted disease) lalu STI (sexual transmitted infection) atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai IMS (infeksi menular seksual). Hal ini disebabkan ada penyakit-penyakit lain yang tidak terlokalisasi di kelamin (mengenai semata-mata organ kelamin) namun turut ditularkan oleh aktivitas seksual, misalnya HIV/AIDS, Hepatitis B, dan Hepatitis C. Untuk selanjutnya, baiklah kita sebut saja dengan istilah IMS. Menurut Daili, penyakit venereologi (IMS) dapat saja menyerang populasi promiskus atau orang yang belum pernah melakukan hubungan kelamin, serta dapat menyerang orang-orang yang terjangkit tanpa sengaja. Pemahaman ini patut dimengerti para dokter dalam rangka memberikan diagnosis yang tidak meleset ataumissed-diagnosis. IMS tidak hanya memberikan dampak saat itu (saat diagnosis dan penyakitnya bergejala), namun juga memiliki komplikasi-komplikasi yang berat. Komplikasikomplikasi ini selain menurunkan kualitas hidup juga menambah biaya pengeluaran/perumah sakitan. Beberapa komplikasi pada pasien dewasa adalah

PID (Pelvic Inflammatory Disease), kehamilan ektopik, infertilitas (kesulitan memiliki anak), aborsi, dan kanker serviks. Yang terakhir disebut ini saat ini sedang ramai dibicarakan terkait penemuan dan pemasaran vaksinasi HPV di seluruh dunia. Sementara komplikasi pada anak-anak adalah sifilis kongenital, pneumonia, kelahiran prematur, kebutaan, dan lahir mati. Beberapa penyebab IMS secara garis besar dicantumkan dalam tabel di bawah ini. Dalam makalah ini, hanya dibahas beberapa penyakit venereologi yang menonjol prevalensinya menurut World Health Organization, yaitu trikomoniasis, sifilis, LGV (limfogranuloma venereum), dan gonorea (kencing nanah). Tabel 1. Penyebab IMS yang umum No Patogen 1 Bakteri Spesies Neisseria gonorrhoeae Chlamydia trachomatis Ureaplasma urealyticum Treponema pallidum Gardnerella vaginalis Herpes simpleks HPV Molluscum contagiosum HIV Hepatitis B dan C dan Trichomonas vaginalis Candida albicans Nama penyakit Gonorea LGV (Limfogranuloma venereum) (tergantung lokasi) Sifilis Vaginitis Herpes simpleks Kondiloma akuminata Moluskum kontagiosum HIV/AIDS Hepatitis akut atau kronis Trikomoniasis (vaginitis, uretritis, dan balanitis) Vulvovaginitis, balanitis

Virus

Parasit jamur

Trikomoniasis Trikomoniasis merupakan penyebab terbanyak vaginitis. Pada laki-laki, patogen trikomonas menyebabkan uretritis dan prostatitis. Gejala klinis trikomoniasis pada perempuan adalah sekret vagina seropurulen berwarna kekuning-kuningan, kuning kehijauan, serta berbau tidak enak dan berbusa. Pada pemeriksaan fisis ditemukan dinding vagina hiperemis dan tampak basah (lembab). Warna merah ini sering disebut sebagai strawberry appearance. Penderita dapat mengalami dispareunia (sakit saat berhubungan seksual), perdarahan, baik pasca-coitus maupun di luar masa menstruasi. Pada laki-laki, gambaran klinis yang diberikan lebih ringan daripada perempuan. Gejalanya mirip uretritis non-gonorea, misalnya disuria, poliuria, sekret uretra yang mukopurulen. Pada bentuk kronis, gejala tidak khas, antara lain gatal pada uretra dan disuria. Diagnosis harus dibuat dengan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan mikroskopis sediaan basah, sediaan hapusan, serta pembiakan. Parasit trikomonas dapat dilihat di bawah mikroskop bila dicampur NaCl 0,9%. Pengobatan trikomoniasis sederhana dan tidak mengalami banyak perkembangan selama ini. Obat topikal diberikan bahan irigator misalnya hidrogen peroksida 12% dan asam laktat 4%. Obat sistemik yang dianjurkan adalah metronidazol dosis tunggal 2 gram atau 3 x 500 mg per hari selama 7 hari. Selama pengobatan, dimohon pasien berobat bersama pasangannya untuk mencegah penularan ulang, serta abstinensia selama sampai dinyatakan sembuh oleh dokter. Sifilis IMS yang satu ini tergolong berat dan "mengerikan" bila diperdengarkan kepada orang awam. Oleh karena itu, dalam setiap konsultasi harus ditekankan complianceberobat dan kerahasiaan. Penyakit yang disebabkan Treponema pallidum ini memiliki spektrum klinis dan klasifikasi yang sangat luas. Sifilis dibagi kongenital dan didapat. Sifilis kongenital dibagi menjadi dini, lanjut, dan stigmata. Sifilis didapat dibagi menurut dua cara, yaitu secara klinis dan epidemiologik. Secara klinis, sifilis dibagi menjadi stadium I, stadium II, dan stadium III. Menurut cara epidemiologik, sifilis dibagi menjadi stadium dini menular dan stadium lanjut tak menular. Mengingat spektrum klinis sifilis yang luas, dokter harus paham semua stadium sifilis. Secara ringkas, spektrum dan stadium sifilis dibagi pada tabel berikut ini.

Tabel 2. Ringkasan pembagian dan stadium sifilis No 1 Pembagian Stadium sifilis Didapat Dini Gejala klinis

Lanjut

Papul lentikular, permukaannya menjadi erosi, lalu ulkus. Ulkus bulat, soliter, dasarnya jaringan Primer (S I) granulasi yang bersih. Ulkus khas indolen dan teraba indurasi (ulkus durum). Gejala konstitusi seperti anoreksia, BB turun, malaise, sakit kepala, demam subfebril, artralgia. Kelainan kulit basah, menular, atau membentuk kondiloma lata dan plak yang sangat menular. Sekunder (S II) Disertai limfadenitis generalisata. Bentuk lesi, yaitu roseola, papul, pustul, dan bentuk-bentuk lain yang menyerupai penyakit kulit lain (great imitator). SII juga menyerang mukosa, rambut, kuku, mata, KGB, saraf, dan tulang. Tidak terdapat gejala dan kelainan klinis, namun infeksi jalan terus. Perlu diingat, tes serologik Laten dini darah (VDRL dan TPHA) positif, sedangkan tes serebrospinalis negatif. Rekuren Bentuk relaps umumnya S II atau S I. Tidak menular, diagnosis dengan tes serologic. Laten lanjut LCS sebaiknya diperiksa terhadap kemungkinan neurosifilis. Guma yaitu infiltrate sirkumskrip, kronis, melunak, dan destruktif. Kulit di atasnya semula tidak menunjukkan radang akut dan dapat Tersier (S III) digerakkan. Lalu setelah beberapa bulan melunak, tampak tanda radang, eritema, dan livid, dapat terjadi perforasi dan keluar cairan seropurulen. Sifilis Dapat terjadi aneurisma, aritmia jantung, kardiovaskuler dan heart block.

Neurosifilis

Kongenital Dini

Lanjut 3 Stigmata Lesi dini

Lesi lanjut

Dapat dibagi menjadi asimtomatik, sifilis meningovaskuler, sifilis parenkim, dan guma. Kelainan kulit pertama adalah bula bergerombol, simetris telapak tangan dan kaki. Cairan bula mengandung banyak kuman sifilis. Terjadi berbagai kerusakan organ seperti hati, limpa, tulang, dan saraf. Guma menyerang alat dalam, kulit, tulang, dan mukosa. Periostitis sifilis pada tibia menyebabkan sabre tibia. Saddle nose, gigi Hutchinson, ragades, dan jaringan parut koloid Mengenai kornea, sikatriks gumosa, tulang, kebutaan (atrofi optikus), trias Hutchinson (keratitis interstitial, gigi Hutchinson, dan ketulian Nervus VIII).

Diagnosis sifilis dibuat dengan kecermatan terhadap anamnesis dan pemeriksaan venereologi, serta alat pembantu diagnosis, yaitu pemeriksaan T. pallidum, TSS (tes serologi sifilis), dan pemeriksaan lain. TSS dibagi dua menjadi nontreponemal dan treponemal. Tes non-treponemal antara lain test fiksasi komplemen, dan flokulasi. Sementara tes treponemal antara lain tes imobilisasi (TPI), tes fiksasi komplemen, tes imunofluoresensi, dan hemoglutinasi (TPHA). Masing-masing pemeriksaan memiliki indikasi dan kondisi masing-masing. Sifilis primer diberikan pengobatan penisilin G benzatin dosis 4,8 juta unit secara IM (2,4 juta unit) satu kali seminggu, pemantauan serologik dilakukan bulan ke-1, 3, 6, dan 12, tahun kedua setiap enam bulan. Bila memilih penilisin G prokain, diberikan dengan dosis total 6 juta unit (0,6 juta unit/hari) selama 10 hari. Pada sifilis laten, penisilin G benzatin atau G prokain dalam akua diberikan masingmasing berdosis total 7,2 juta unit dan 12 juta unit. Sifilis S III diberikan penisilin G benzatin atau G prokain dengan dosis total 9,6 juta unit dan 18 juta unit. Pada pasien yang alergi penisilin, dapat diberikan tetrasiklin 4 x 500 mg/hari, atau eritromisin 4 x 500 mg/hari, atau doksisiklin 2 x 100 mg/hari. Lama pengobatan 15 hari bagi S I dan S II, serta 30 hari pada stadium laten.

Limfogranuloma venereum (LGV) LGV disebabkan Chlamydia trachomatis. Bentuk yang khas dari penyakit ini adalah sindrom inguinal (pembesaran KGB inguinal). Gejala primer berbentuk tidak khas, tidak nyeri, berupa erosi, papul, vesikel, pustul, dan ulkus. Afek primer soliter dan cepat hilang. Sindrom tersering yang dijumpai adalah sindrom inguinal. Para dokter harus bisa melihat dan membedakan sindrom yang satu ini. Pada sindrom ini, sering terkena KGB inguinal medial; permukaan berbenjol-benjol dan berkonfluensi. Dapat pula terjadi periadenitis yang menyebabkan perlekatan dengan jaringan sekitar. Gejala lain yang khas disebut stigmata Groove (GREENBLATT), yaitu 2-3 kelompok kelenjar berdekatan dan memanjang di bagian proksimal dan distal ligamentum Pouparti. Pada stadium lanjut dapat terjadi bubo bertingkat yang dapat menyerang ke fosa femoralis. Limfangitis dapat terjadi juga. Sindrom lain yang sering terjadi adalah genital, anorektal (umumnya pada kaum homoseksual di mana sering terjadi hubungan anal-genital), sindrom uretral yang ditandai dengan penis melengkung seperti pedang. Kelainan lain yang bisa tampak adalah eksantema, fotosensitivitas, dan gejala mata. Pembantu diagnosis antara lain pemeriksaan LED yang tinggi (infeksi bakteri), serta test Frei positif, atau tes ikatan komplemen. Pemahaman tentang kedua test merupakan kompetensi spesialis dan ahli laboratorium. Pengobatan dengan kotrimoksazol dengan dosis 2 x 2 tablet per hari hingga sindrom inguinal sembuh (bisa 1-5 minggu). Obat lainnya adalah golongan penisilin 3 x 1 gram sehari, atau tetrasiklin dengan dosis 3 x 500 mg/hari hingga sembuh. Kesembuhan sindrom inguinal merupakan indikator keberhasilan terapi. Gonorea (GO) Penyakit ini mudah dikenali dalam praktek sehari-hari dikarenakan sekretnya yang berwarna putih kental, sehingga disebut juga penyakit kencing nanah. Penyakit ini sangat populer di Indonesia karena memiliki insidens yang tinggi dan sosialisasinya cukup baik. Banyak pekerja seks komersial atau pengguna jasanya datang berobat dengan keluhan GO dan dokter biasanya langsung mengenalinya (atau menduganya) berdasarkan anamnesis saja. Pada laki-laki, GO menyebabkan uretritis, tysonitis, parauretritis, littritis, cowperitis, prostatitis, vesikulitis, dan epididimitis. Pada perempuan, GO

menyebabkan uretritis, parauretritis, servisitis, bartolinitis, dan salpingitis. Pada perempuan dan laki-laki dapat terkena proktitis, orofaringitis, konjungtivitis, dan diseminata. Pemeriksaan langsung dengan pewarnaan Gram masih populer saat ini. Sediaan bisa diambil dari berbagai tempat, umumnya uretra (fosa navikularis pada laki-laki, muara uretra, Bartolin, serviks, dan rektum pada perempuan). Pemeriksaan lain yang juga populer adalah dengan kultur. Test definitif antara lain tes oksidasi dan fermentasi. Tes lain yang kurang populer adalah tes betalaktamase dan Thomson. Pengobatan GO juga patut diketahui dokter umum di pelayanan primer. Paling efektif adalah penisilin G prokain dalam akua 4,8 juta unit + 1 gram probenesid. Obat lainnya adalah amoksisilin, sefalosporin, kanamisin, tiamfenikol, dan kuinolon. Perkembangan terapi GO tidak banyak dari masa ke masa. Efektivitas yang diberikan antibiotik klasik sudah sangat baik.

Kepustakaan

1. Daili, S.F. : Sexually Transmitted Diseases di Indonesia. Penataran Kepala Rumah Sakit Tipe n C Seluruh Indonesia ( Jakarta 1982) 2. Djuanda, S. dan Daili, S.F. : Penyakit Yang Ditularkan Melalui Hubungan Kelamin Atau Sexually Transmitted Diseases (S.T.D), Media PADVI 16: 715 (1979) 3. W.H.O. Scientific Group: Non-Gonococcal Urethritis And Other Selected Sexually Transmitted Diseases Of Public Health Importance. W.H.O. Technical Report Series 660 (World Organization, Geneva 1981).