Anda di halaman 1dari 72

Edisi 21 Tahun V Triwulan I 2009

TIDAK DIPERJUALBELIKAN

SURAT PEMBACA .......................3 DARI REDAKSI .............................4


Diterbitkan oleh Inspektorat Jenderal Departemen Agama RI Tahun 2009 Dewan Penyunting: Pembina : M. Suparta Pengarah : Ichtijono, Mukhayat, Achmad Ghufron, Burhanuddin, Ahmad Zaenuddin Penanggung jawab: Abdul Karim Ketua : Maman Taufiqurrohman Sekretaris : Budi Setyo Hartoto Anggota : O. Sholehuddin, Kusoy, Maman Saepulloh, Anshori, Sukarma, Nur Arifin, Nugraha Stiawan Redaksi :Iing Muslihin, Miftahul Huda Sirkulasi :Miftahul Hidayat Produksi :Hariyono

FOKUS UTAMA: Tantangan Pengawasan ............. .. 5 Paparan Inspektur Jenderal ....... 10 Internal Audit (bagian I) ............... 17 Urgensi Audit Kinerja .................. 22 Tujuh Belas Kondisi Rawan ....... 28 PP 60 Tahun 2008 ...................... 31 PENGAWASAN: Risywah Berbaju Hadiah ........... 35 Pemberian Uang Tunggu ........... 39 Penyelenggaraan Haji ................ 43 OPINI: Pondasi Reformasi Birokrasi .... 47 Profesionalitas Manajemen ....... 50

Alamat Redaksi: Inspektorat Jenderal Dep. Agama, Jalan RS Fatmawati Nomor 33A Cipete PO. BOX 3867, Telepon 021-75916038, 7697853, FAX. 021-7692112 Jakarta 12420 e-mail: ortalaitjen@yahoo.co.id Dewan Penyunting menerima artikel yang ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama dalam bentuk soft copy.

PNBP Depag .............................. 54 AMO: Rapat ............................................ 58 RANDANG: IMA No. I Tahun 2008 .................. 62 HIKMAH: Keistimewaan Muharram ............64 TEKNOLOGI: Memanfaatkan Shortcut ..............68

Selamat Kepada Majalah FP Setelah kami menanti sekian lama, akhirnya majalah fokus pengawasan dapat dibaca dalam versi website, sehingga semua orang bisa membacanya. yang lebih hebat lagi majalah FP dimuat dalam situs Inspektorat Jenderal Departemen Agama yang baru saja diluncurkan.......sekali lagi selamat. Yusup Ciputat FP: Terimakasih, kritik dan sarannya masih kami tunggu, semoga untuk ke depan kami lebih baik lagi. Artikel Pengawasan Haji Assalammualaikum Wr, Wb. Kepada Redaksi majalah FP, mohon dimuat artikel pengawasan Haji yang dilakukan Itjen Depag Musim Haji 2008, agar tidak terjadi simpang siur data penyelenggaraan Haji. yang kadang membuat jamaah haji bingung. Imam (Jamaah Haji 2008 Jakarta) FP: Alaikumsalam Wr. Wb. Terimakasih, atas perhatiannya. Kebetulan pada edisi ini kami memuat artikel penyelenggaraan Haji

musim Haji 2008 pada Rubrik Pengawasan. Menjadi Wartawan FP Assalammualaikum Wr, Wb. Saya Seorang Guru Agama, pada sebuah SMA di Depok, saya tertarik untuk bergabung sebagai wartawan majalah Fokus Pengawasan, kapan lowongan untuk posisi tersebut dibuka? Teguh Depok FP: Alaikumsalam Wr. Wb. Terimakasih atas kesediaannya, majalah FP memang belum ada kebutuhan untuk merekrut wartawan, karena kita berharap seluruh keluarga besar Departemen Agama bersedia menjadi kontributor untuk berita dan isi majalah FP. Redaksi memohon maaf sebesarbesarnya bila surat pembaca anda tidak dapat dimuat karena keterbatasan tempat

Hari Kamis tanggal 9 April 2009 adalah hari pencontrengan/pemilihan bagi bangsa Indonesia dalam memilih wakil-wakilnya pada pemilihan umum (Pemilu) Legislatif secara langsung oleh rakyat. Sebagai sarana perwujudan kedaulatan rakyat bertujuan untuk menghasilkan pemerintahan Negara yang demokratis berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD RI 1945). Pada saat pemilu, PNS memiliki peran yang sangat strategis karena jumlahnya yang cukup besar dalam memberikan suaranya, sehingga banyak partai politik berusaha untuk meraih simpati dari para PNS. Selain sebagai pemilih ada juga PNS yang mencalonkan diri untuk menjadi wakil rakyat dari daerahnya masing-masing atau menjadi wakil tingkat pusat. Berkaitan dengan PNS yang terlibat dalam pencalonan legislatif, pemerintah telah mengeluarkan UndangUndang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dalam pasal 12 huruf k, dinyatakan bahwa untuk menjadi anggota

DPD, DPR, dan DPRD seorang PNS harus mengundurkan diri sebagai pegawai negeri sipil, anggota Tentara Nasional Indonesia, anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, pengurus pada badan usaha milik negara dan/ atau badan usaha milik daerah, serta badan lain yang anggarannya bersumber dari keuangan negara, yang dinyatakan dengan surat pengunduran diri yang tidak dapat ditarik kembali Untuk mendukung suksesnya transisi politik di tanah air dan dalam rangka mengamankan undang-undang yang telah dikeluarkan pemerintah, maka peran lembaga pengawasan sangatlah dibutuhkan. Peran pengawasan internal pada departemen dilaksanakan oleh Inspektorat Jenderal. Pengawasan akan mencapai hasil yang optimal apabila didukung oleh sanksi yang tegas dan jelas, sehingga peraturan yang telah ditetapkan terkait dengan pemilu akan dapat ditegakkan dan netralitas PNS dalam pemilu dapat diwujudkan. Semoga peran pengawasan di era transisi politik dapat mewarnai sesuatu yang positif dan dapat menciptakan suasana yang aman dan terkendaliAmin

Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan diminta pertanggungjawabannya. Seorang pemimpin adalah pengembala bagi rakyatnya, maka ia akan ditanya tentang apa yang digembalakannya (HR. Ahmad)

Tantangan Pengawasan Menghadapi Era Perubahan Kekuasaan


Oleh: Nur Arifin Sejak manusia pertama diturunkan di muka bumi, pengawasan sudah ada dalam kehidupan manusia. Usia pengawasan berbarengan dengan usia peradaban manusia. Dari masa ke masa pengawasan mengalami perubahan bentuk dan isinya mengikuti perkembangan zaman. Namun demikian pengawasan adalah tetap pengawasan. Yaitu sebuah rangkaian kegiatan dalam rangka mengawasi pelaksanaan sebuah peraturan dan perencanaan yang telah ditetapkan. Di era peradaban modern, mengacu pada teori George Terry, pengawasan atau disebut dengan istilah controlling merupakan salah satu unsur dari 5 fungsi manajemen. Sejarah Peran dan Fungsi Pengawasan Pelaksanaan peran dan fungsi pengawasan sangat dipengaruhi oleh siapa yang sedang menjadi penguasa sebuah negara. Di era negara-negara di dunia ini dalam bentuk kerajaan monarkhi absolut, lembaga pengawasan yang dibentuk oleh penguasa rata-rata bertujuan dalam rangka memperkuat kekuasaannya. Artinya pengawasan dan penegakan hukum dilakukan dalam rangka menegakkan kekuasaan. Penegakan hukum akan dilakukan secara ketat apabila ada rakyatnya yang melanggar. Namun, karena latar belakangnya dalam rangka penegakan kekuasaan, akibatnya apabila terjadi pelanggaran hukum yang dilakukan oleh penguasa atau keluarga penguasa, maka yang terjadi adalah usaha melemahkan pengawasan. Di era modern, ketika negaranegara di dunia mayoritas menganut sistem pemerintahan demokrasi, pengawasan diarahkan pada peran dan fungsi sebenarnya, yaitu menjadi unsur dari fungsi manajemen. Artinya penyelenggaraan sebuah negara merupakan pelaksanaan dari sebuah manajemen negara. Ini berarti pengawasan dilakukan dalam rangka menjalankan fungsi manajemen controlling dari penyelenggaraan sebuah negara. Pengawasan diselenggarakan bukan untuk memperkuat kekuasaan seseorang, melainkan dalam rangka mengamankan sistem penyelenggaraan sebuah negara. Berdasarkan pemahaman ini mestinya lembaga pengawasan tidak boleh berada di bawah kekuasaan eksekutif penyelenggara negara. Sebalik-

nya, mestinya lembaga pengawasan berdiri secara independent yang tidak dipengaruhi oleh kekuasaan. Tujuannya adalah agar pelaksanaan pengawasan dapat dilakukan secara profesional dan independent dalam rangka menjalankan fungsi menajemen controlling untuk menjaga eksistensi sebuah Manajemen Penyelenggaraan Negara. Namun demikian dalam kenyataannya, lembaga pengawasan masih banyak yang berada dalam pengaruh struktur kekuasaan. Lembaga pengawasan didominasi oleh Struktur Penyelenggara Pemerintahan (Lembaga Eksekutif). Akibatnya perkembangan peran dan fungsi lembaga pengawasan sangat dipengaruhi oleh perubahan kekuasaan. Lembaga Eksekutif dan Pengawasan Selama ini masyarakat lebih mengenal lembaga pengawasan merupakan bagian dari lembaga eksekutif negara. Hal ini karena lembaga-lembaga pengawasan yang ada merupakan domain dari lembaga eksekutif negara. Misalnya BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan), Inspektorat Jenderal, Bawasda, dan lainnya. Namun demikian sebenarnya pengawasan mestinya merupakan ba-

gian dari Lembaga Yudikatif. Mengambil teori Montesqueu, bahwa lembaga negara minimal terdiri dari: lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Lembaga eksekutif sebagai penyelenggara negara. Lembaga legislatif sebagai pembuat peraturan perundangundangan. dan lembaga yudikatif sebagai penjaga peraturan atau lembaga penegakan hukum (peraturan perundang-undangan). Sebenarnya, lembaga eksekutif sah-sah saja membentuk lembaga pengawasan di dalamnya. Ini karena mengacu pada teori manajemen, lembaga eksekutif merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan sebuah manajemen. Artinya pengawasan perlu dibentuk dalam rangka melaksanakan fungsi manajemen controlling untuk menjaga dan mengendalikan pelaksanaan manajemen birokrasi agar sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku dan perencanaan yang telah ditetapkan. Namun, keberadaan pengawasan ini adalah sebagai safe guarding, sebagai pengaman penyelenggaraan manajemen birokrasi. Permasalahannya adalah, lembaga pengawasan yang dibentuk oleh lembaga eksekutif menjadi sangat dominan dalam penyelenggaraan sebuah negara. Bahkan menjadi lembaga pengawasan fungsional yang bertugas mengontrol pelaksanaan kepemerin-

tahan dan kenegaraan, yang perannya jauh lebih dominan dibanding peran pengawasan yang dijalankan oleh lembaga yudikatif dan legislatif. Akibatnya lembaga pengawasan di sebuah negara sangat dikontrol oleh kepentingan lembaga eksekutif. Kalau sudah demikian seringkali negara menjadi korban kalau ada benturan kepentingan antara pengawasan dengan penguasa birokrasi (lembaga eksekutif). Lembaga Pengawasan di Era Orde Baru dan Era Reformasi Di era Orde Baru lembaga pengawasan banyak berfungsi sebagai pelengkap manajemen. Keberadaannya secara manajemen harus ada, namun secara de facto perannya sangat dilemahkan. Peran pengawasan dijalankan baik oleh unsur legislatif, yudikatif, maupun eksekutif. Namun keberadaannya sangat dikontrol oleh eksekutif. Walaupun lemah, lembaga pengawasan eksekutif adalah lembaga pengawasan yang dominan mengontrol jalannya tata kelola kepemerintahan dan kenegaraan. Peran pengawasan lembaga legislatif sangat dikontrol oleh pemerintah (eksekutif). Mereka dikenal sebagai lembaga stempel atas kebijakan pemerintah. Artinya lembaga legislatif selalu mengesahkan konsepkonsep pemerintah dalam mengelola

negara ini. Hal ini karena mayoritas anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) adalah dari partai pendukung pemerintah. Kekuasaan yang tunggal dan dominan mampu diwujudkan oleh pemerintah, karena partai politik pemerintah mampu menduduki kursi legislatif secara mayoritas. Kondisi anggota DPR yang selalu menyetujui konsep pemerintah mengakibatkan muncul istilah negatif yang digelarkan pada lembaga DPR. Seorang penyanyi Iwan Fals, mengatakan bahwa anggota DPR adalah kumpulan orang yang suka menyanyi lagu koor setuju. Mengapa? Karena anggota DPR selalu serempak mengatakan setuju setiap pemerintah menyampaikan konsep-konsep usulannya. Lembaga Yudikatif sebenarnya sudah menjalankan peran pengawasan dan penegakan hukum. Di sana ada Mahkamah Agung sebagai lembaga penegakan hukum dan ada BPK-RI (Badan Pengawasan KeuanganRI). Namun kedua lembaga ini tidak mampu menjalankan peran pengawasan dan penegakan hukum secara profesional dan independent. Hal ini karena keberadaannya sangat dikontrol oleh pemerintah. Lembaga pengawasan yang dibentuk oleh pemerintah (eksekutif) ada beberapa lapis. Terdiri dari: Badan Pengawasan Keuangan dan Pem-

bangunan (BPKP), Inspektorat Jenderal di setiap Departemen, dan Bawasda. Mereka menjalankan tugas dan fungsi-nya berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dalam rangka mengendalikan jalannya roda pemerintahan. Keberadaan lembaga pengawasan yang dibentuk pemerintah ini sangat dipengaruhi oleh kemauan kekuasaan pemerintah. Artinya keberadaannya lebih diarahkan pada usaha memperkuat kekuasaan pemerintah. Mereka tidak memiliki kekuatan apabila suatu ketika harus berbenturan dengan kepentingan penguasa. Apabila ada aparatur pengawasan yang nekad melakukan pengawasan sehingga mengganggu kepentingan penguasa, maka dia akan menemui masalah. Untuk mewujudkan kondisi ini, pemerintah melakukan beberapa langkah. Pertama, pemerintah sangat mengontrol keberadaan lembaga pengawasan. Peraturan perundangan pengawasan sengaja membuat lembaga pengawawsan tidak memiliki gigi yang kuat. Kedua, pemerintah senantiasa berusaha menempatkan pejabat yang lemah bahkan kadang bermasalah untuk ditempatkan sebagai pimpinan lembaga pengawasan. Dengan diduduki pejabat-pejabat yang lemah, maka lembaga pengawasan tidak mampu

mengontrol kekuasaan pemerintah secara ketat. Di era reformasi, lembaga legislatif (DPR) sempat menikmati euforia dengan memperkuat posisinya untuk mengontrol jalannya roda pemerintahan. DPR mampu menjalankan peran pengawasan yang cukup dominan. Akibatnya kondisi berbalik dibanding era orde baru. Kalau di era orde baru pemerintah mampu mengontrol DPR, sebaliknya di era reformasi, DPR sangat mengontrol pemerintah. Sampai sempat terjadi kekhawatiran banyak pihak akibat lemahnya lembaga eksekutif. Seringkali terjadi usulan kebijakan pemerintah dimentahkan oleh DPR, bahkan telah terjadi hal yang selama orde baru tidak pernah terjadi, yaitu Presiden dan Kabinetnya (pemerintah) diberhentikan di tengah jalan oleh DPR. Di era reformasi terdapat 3 kabinet yang tidak mampu bertahan sampai dengan 5 tahun. Namun demikian pengawasan yang dilaksanakan oleh DPR adalah pengawasan legislatif, bukan pengawasan fungsional. Pengawasan yang dilakukan adalah terhadap keberadaan pemerintah dan kebijakan-kebijakan pemerintah secara umum. Inipun dirasakan pengawasan legislatif sangat bernuansa politis. Pengawasan lebih diarahkan pada kepentingan politik daripada untuk perwujudan tata kelola

kepemerintahan dan kenegaraan yang baik. Pengawasan yang dilakukan lembaga Yudikatif sebenarnya di era reformasi sudah ada peningkatan kualitasnya. Namun karena secara struktur lembaga pengawasan Yudikatif (Non Eksekutif dan Non Legislatif) masih berada dalam bayang-bayang kekuasaan eksekutif, akibatnya mereka tidak mampu melaksanakan pengawasan dan penegakan hukum secara profesional dan independent. Di samping itu, akibat peninggalan orde baru, Sumber Daya Manusia (SDM) lembaga Yudikatif masih dirasakan lemah dibanding SDM lembaga pengawasan eksekutif. Hal ini bisa kita lihat dari keberadaan Mahkamah Agung dan BPKRI. Peran pimpinan eksekutif (Presiden) dalam pemilihan pimpinan kedua lembaga ini sangat kental. Akibatnya keberadaan kedua lembaga ini masih sangat dibayang-bayangi oleh eksekutif. Struktur dan SDM di BPK-RI juga masih dirasakan belum kuat akibat peninggalan orde baru yang sengaja melemahkan struktur dan SDM lembaga pengawasan agar tidak terlalu kuat mengontrol jalannya roda pemerintahan. Di era reformasi, telah lahir lembaga yudikatif baru, yaitu Mahkamah Konstitusi. Tugasnya adalah melakukan koreksi atas lahirnya peraturan per-

undang-undangan apakah sesuai atau bertentangan dengan konstitusi negara. Lembaga pengawasan di tubuh eksekutif mengalami kemajuan cukup pesat di era reformasi. Muncul beberapa lembaga pengawasan baru, yaitu Timtas Tipikor dan KPK. Keberadaan lembaga pengawasan eksekutif masih merupakan lembaga pengawasan yang paling dominan dalam mengontrol jalannya roda pemerintahan dan kenegaraan. Keberadaan lembaga pengawasan eksekutif sudah dirasakan banyak kemajuan. Identitas sebagai pengaman penguasa mulai dihilangkan. Pembenahan struktur dan SDM pengawasan banyak dilakukan dalam rangka mewujudkan lembaga pengawasan yang profesional dan independen. Namun demikian masih ada kritikan dari berbagai pihak bahwa pemerintah masih melakukan penegakan hukum dengan cara tebang pilih. Menghadapi Pemilu Ligislatif dan Pemilihan Presiden Langsung Tahun 2009 kita berharap mudah-mudahan siapapun yang duduk di kursi kekuasaan dapat berpihak kepada pengelolaan pengawasan yang benar. Hal ini sangat dibutuhkan dalam rangka mengendalikan jalannya roda pemerintahan dan negara menuju perwujudan good governance dan clean goverment.

Pengembangan Budaya Kerja di Lingkungan Departemen Agama


(disampaikan oleh Inspektur Jenderal Departemen Agama pada acara Workshop Pengembangan Budaya Kerja)

Permasalahan Indonesia terhadap praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang telah membudaya merupakan kewajiban kita semua untuk memperbaikinya, karena pelakunya tidak hanya berasal dari lingkungan pemerintah, tetapi merambah di seluruh lapisan pemerintahan dalam arti luas, baik dari tingkat pusat maupun tingkat daerah, baik lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, maupun privat sektor, sehingga upaya pemberantasannya tidak lagi dapat dilakukan secara biasa, tetapi dituntut cara-cara yang luar biasa. Hal ini juga tidak terlepas dari perilaku para aparatur negara dalam menjalankan pemerintahan. Oleh karena itu pada tahun 2002 Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara telah mengeluarkan Keputusan Nomor 25 tentang Pedoman Pengembangan Budaya Kerja Aparatur Negara dalam rangka menumbuhkembangkan etos kerja aparatur, tanggung jawab moral dan guna meningkatkan produktivitas serta kinerja pelayanan aparatur kepada masyarakat. Realitas yang berkembang, prilaku aparatur negara masih menunjukkan kurangnya perhatian terhadap nilainilai moral dan budaya kerja. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengembangan

budaya kerja yaitu, pandangan hidup yang berisi nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan, pendorong yang tercermin dalam sikap dan perilaku, cita-cita, pendapat, pandangan serta tindakan yang terwujud sebagai kerja. Di samping itu, implementasi budaya kerja merupakan tugas berat yang harus dilakukan secara utuh, menyeluruh dalam waktu yang panjang, karena menyangkut proses pembangunan karakter, sikap dan perilaku. Departemen Agama merupakan bagian dari pemerintah Republik Indonesia yang dibentuk untuk meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama kepada seluruh rakyat Indonesia sebagaimana diamanatkan oleh UUD RI Tahun 1945 guna mewujudkan masyarakat madani yang taat hukum, demokratis, adil makmur dan berakhlak mulia. Namun demikian, persoalan yang dihadapi dalam pembangunan bidang agama cukup berat karena berkaitan dengan program mewujudkan keadilan dan kemakmuran meliputi dimensi lahir, batin, material dan spiritual. Budaya kerja Departemen Agama, dapat digali dari logo Departemen Agama yang bertuliskan Ikhlas Beramal. NIlai-nilai dasar ini tercermin da-

lam bentuk sikap dan perilaku aparatur. Dalam konteks reformasi birokrasi, nilainilai tersebut perlu direvitalisasi, di mana pemahaman beramal merupakan bentuk produktivitas kerja yang harus dilakukan dari niat yang ikhlas dalam rangka mengabdikan diri kepada bangsa dan negara sekaligus bagian dari iba-dah kepada Allah SW T. Tentu saja pandangan ini akan menggugah kesadaran bersama terhadap kedudukan aparatur negara sebagai pelayan bagi masyarakat. Dalam pengembangan budaya kerja, terdapat unsur-unsur penting yang saling berinteraksi yaitu nilai dasar, sistem kerja, aparatur, dan lingkungan yang mempengaruhinya. Semua unsur itu harus menjadi perhatian dalam menata budaya kerja, mulai dari memilih nilai apa yang diyakini dan akan dipakai sebagai pedoman, kemudian diinternalisasikan dalam setiap pribadi aparatur dan diimplementasikan dalam setiap sistem, prosedur dan tata laksana sehingga menghasilkan kinerja peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Konsep Budaya Kerja Budaya kerja adalah cara pandang seseorang dalam memberi makna terhadap kerja. Dengan demikian, budaya kerja merupakan cara pandang seseorang terhadap bidang yang ditekuninya dan prinsip-prinsip moral yang

dimiliki, yang menumbuhkan keyakinan yang kuat atas dasar nilai-nilai yang diyakini, memiliki semangat yang tinggi dan bersungguh-sungguh untuk mewujudkan prestasi terbaik. Budaya kerja aparatur adalah cara kerja sehari-hari yang bermutu dan selalu mendasari nilai-nilai yang penuh makna, sehingga menjadi motivasi, memberi inspirasi untuk senantiasa bekerja lebih baik, dan memuaskan bagi masyarakat. Secara praktis dapat dikatakan bahwa budaya kerja mengandung beberapa pengertian, yaitu: 1. Pola nilai, sikap, tingkah laku, hasil karsa dan karya termasuk segala instrumen, sistem kerja, teknologi dan bahasa yang digunakannya; 2. Budaya berkaitan erat dengan persepsi terhadap nilai-nilai dan lingkungannya yang melahirkan makna dan pandangan hidup, yang akan mempengaruhi sikap dan tingkah laku dalam bekerja; 3. Budaya merupakan hasil dari pengalaman hidup, kebiasaan-kebiasaan, serta proses seleksi (menerima atau menolak) norma yang ada dalam cara berinteraksi sosial atau menempatkan dirinya di tengah-tengah lingkungan kerja tertentu; 4. Dalam proses budaya terdapat saling mempengaruhi dan saling ketergantungan (interdepensi), baik sosial maupun lingkungan sosial. Secara sederhana budaya kerja dapat juga berarti cara pandang atau cara seseorang memberikan makna ter-

hadap kerja. Dengan demikian, budaya kerja aparatur negara dapat dipahami sebagai cara pandang serta suasana hati yang menumbuhkan keyakinan yang kuat atas dasar nilai-nilai yang diyakininya, serta memiliki semangat yang tinggi dan bersungguh-sungguh untuk mewujudkan prestasi kerja terbaik. Pengembangan Budaya Kerja Departemen Agama merupakan pejuang dan penjaga moral bangsa, untuk mampu berlaku sebagai pejuang penjaga moral bangsa, maka salah satu fungsi lainnya perlu dikembangkan, yakni meneladani, dalam pengertian bahwa setiap aparatur Departemen Agama memiliki kesadaran untuk menjadi teladan bagi rekan sejawat, masyarakat, dan organisasi lain. Meneladani dalam bersilaturahim, berkehidupan, dan berorganisasi. Dengan demikian persepsi kerja dalam kerangka Budaya Kerja Departemen Agama dapat diformulasikan menjadi 3 (tiga) elemen, yakni: melayani, memberdayakan, dan meneladani. Pada hakikatnya persepsi terhadap pekerjaan (jabatan) adalah amanah dari Allah SWT. Kualitas pelayanan yang baik sebagaimana yang diharapkan masyarakat (kepuasan pelanggan) dan yang ditetapkan organisasi (standar pelayanan minimum) harus digali dan dipenuhi,

sehingga prinsip pelayanan Departemen Agama dapat dikenali dan membentuk citra pelayanan prima. Konsep pelayanan 5 (lima) S perlu ditumbuhkembangkan di lingkungan Departemen Agama, yakni: Salam, Senyum, Segera, Selesai, dan Sempurna. Kelima prinsip fungsi pelayanan dimaksud secara khusus perlu dijiwai melalui pelatihan dan pembiasaan dalam praktik bekerja melayani masyarakat. Pengelompokan jenis pelayanan harus dapat dikenali dengan baik yang mungkin berbeda di antara satuan organisasi/kerja di lingkungan Departemen Agama, secara garis besar umumnya pelayanan kepada masyarakat meliputi: pelayanan administrasi, data dan informasi, perizinan, urusan agama, pendidikan agama/keagamaan, haji dan umrah, dan pelayanan atas keluhan/saran. Waktu pelayanan dan lama pelayanan (jenis tertentu) yang dapat diberikan oleh satuan organisasi/kerja tertentu di lingkungan Departemen Agama perlu ditetapkan, disanggupi bersama oleh semua pegawai yang terlibat pada pekerjaan pelayanan dimaksud, dan disampaikan ke-pada masyarakat. Pelayanan prima juga harus dipahami oleh para aparatur, bukan saja tertuju kepada masyarakat sebagai pelanggan, tetapi juga harus dapat diberikan kepada mitra kerja baik instansi pemerintahan lainnya maupun organisasi swasta. Demikian pula mak-

na melayani dengan prinsip yang sama juga harus dapat dibangun, dengan tanpa rasa canggung, kepada rekan sejawat, juga kepada satuan organisasi/ kerja baik horizontal maupun vertikal di lingkungan Departemen Agama, sebagai pelanggan internal organisasi. Strategi Pengembangan Budaya Kerja Strategi dipahami sebagai sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan. Strategi bukan sekedar suatu rencana, tetapi strategi merupakan rencana yang disatukan dan mengikat semua bagian dalam organisasi menjadi satu, yang sifatnya menyeluruh meliputi semua aspek penting dalam organisasi. Karena sifatnya menyeluruh, maka strategi harus terpadu satu sama lainnya. Strategi yang baik, harus diikuti dengan pelaksanaan yang efektif untuk mencapai keberhasilan. Karena kedua hal ini merupakan dua hal yang tidak bisa terpisahkan. Adapun strategi yang diterapkan dalam pengembangan budaya kerja di lingkungan Departemen Agama adalah Gugus Tugas, dalam rangka efektivitas transformasi budaya kerja Departemen Agama kepada unsur internal dan eksternal lembaga, maka perlu dibentuk Tim yang bertugas untuk menularkan nilai-nilai budaya kerja organisasi. Tim diharapkan mampu secara berkesinambungan memelihara agar pengembangan budaya kerja ini

dapat mencapai tujuan. Tim dibentuk melalui surat keputusan Menteri Agama sehingga dapat memayungi seluruh lapisan aparatur yang ada pada lembaga tersebut. Tim terdiri atas dua tim, yaitu Tim Kerja dan Tim Teknis. a. Tim Kerja, Tim Kerja adalah tim yang dibentuk untuk mengkoordinasikan pelaksanaan program budaya kerja di lingkungan Departemen Agama secara nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama, b. Tim Teknis, Tim Teknis adalah tim yang dibentuk oleh Tim Kerja untuk pelaksanaan program budaya kerja di lingkungan Departemen Agama. Anggota Tim Teknis adalah orang yang memiliki kemampuan membantu Tim Kerja yang disesuaikan dengan kompetensinya Internalisasi Nilai-Nilai Budaya Kerja langkah yang dilakukan yaitu, Sosialisasi, dalam proses sosialisasi budaya kerja hingga membuahkan hasil yang maksimal membutuhkan waktu dan tahapan untuk sampai pada penerimaan budaya kerja kepada seluruh aparatur. Tahapan itu meliputi: a. Pengenalan, tahapan ini lebih menekankan pada bagaimana memberikan kesan terhadap aparatur tentang pentingnya budaya kerja dalam meningkatkan kinerja lembaga. Hal ini didasari dari teori psikologi bahwa seseorang biasanya cenderung menutup diri terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, untuk menghindari hal demi-

kian diperlukan pengenalan budaya kerja kepada para aparatur hingga mereka menyadari pentingnya budaya kerja, b. Persuasi, membentuk sikap untuk menerima budaya kerja sebagai suatu nilai untuk meningkatkan kinerja, c. Keputusan Penerimaan, tahapan ini merupakan akumulasi dari tahapan sebelumnya terhadap keputusan penerimaan budaya kerja sebagai penuntun dalam peningkatan kinerja. Tahapan penerimaan budaya kerja akan direalisasikan melalui Rencana Aksi Nasional Pengembangan Budaya Kerja Departemen Agama. Pembentukan Agen Perubahan (Agent of Change) Untuk keberhasilan sosialisasi nilai budaya kerja, posisi agen perubahan sangat strategis. Karena peran agen perubahan yang bertanggung jawab atas proses perubahan, agen perubahan ini berusaha mempengaruhi dan mengarahkan agar nilai-nilai yang dianut selama ini selaras dengan nilai-nilai budaya kerja Departemen Agama. Fungsi utama agen perubahan ini adalah menjadi mata rantai penghubung antara pegawai dengan lembaga. oleh karena itu, agen perubahan dapat bertindak sebagai stimulator dan mungkin sebagai inisiator dalam proses sosialisasi budaya kerja. Agen perubahan di angkat melalui keputusan menteri agama, berasal dari unsur internal Departemen Agama

yang memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan budaya kerja kepada para pegawai di lingkungan Departemen Agama. Rencana Aksi Budaya Kerja Keberhasilan penerapan pengembangan budaya kerja Departemen Agama ditentukan oleh sejumlah agenda rencana aksi yang dirumuskan secara terstruktur, terarah dan terencana di seluruh jajaran aparatur Departemen Agama. Agenda pengembangan Budaya Kerja hakikatnya adalah meracang sejumlah rencana kerja untuk mengembangkan budaya kerja yang dimaknai sebagai cara pandang atas kerja. Dalam rangka mewujudkan nilai dasar, persepsi kerja, sikap kerja dan perilaku kerja, diperlukan Agenda Rencana Aksi Pengembangan Budaya Kerja Departemen Agama. Penyusunan agenda dimaksud bertumpu kepada: 1. Implementasi Rencana Aksi, a. Arah Agenda, pada dasarnya pengembangan budaya kerja Departemen Agama diarahkan untuk mendorong terwujudnya gugus kendali mutu perilaku kinerja aparatur Departemen Agama. b. Kelompok Sasaran, Berdasarkan arah agenda rencana aksi tersebut, maka kelompok sasaran rencana aksi dibagi menjadi dua, yaitu: sasaran langsung dan sasaran tidak langsung, 1) Sasaran langsung adalah seluruh aparatur Departemen Agama terdiri dari unsur struktural dan fungsi-

onal, 2) Sasaran tidak langsung adalah seluruh pemangku kepentingan (stakeholder), meliputi berbagai lembaga kemasyarakatan (community institutions), lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, tokoh agama, dan sebagainya yang diperhitungkan memberikan dukungan terhadap pengembangan budaya kerja di lingkungan Departemen Agama. 2. Pendekatan Agenda Rencana Aksi, Pendekatan dilaksanakan agar Agenda Rencana Aksi dapat berjalan sesuai dengan rencana yang ditetapkan, a. Agenda Kerja, Relevan dengan nilai dasar, persepsi kerja, sikap kerja dan perilaku kerja yang diharapkan, maka perlu direncanakan agenda kerja untuk mendorong peningkatan budaya kerja di lingkungan Departemen Agama. Dengan aksi sebagai berikut: 1) Penyediaan bahan pengembangan budaya kerja, sasaran aksi ini adalah tersedianya bahan sosialisasi pengembangan budaya kerja di seluruh aparatur Departemen Agama secara sistemik, terstruk-tur dan taat asas. Aksi ini perlu didukung dengan sejumlah kesiapan baik teknis maupun administrasi yang matang. 2) Intensifikasi sosialisasi pengembangan budaya kerja, Sasaran aksi ini adalah dikenal dan dipahaminya arti penting implementasi budaya kerja dalam konteks reformasi birokrasi Departemen Agama dalam bentuk sosialisasi, 3) Internalisasi pengembangan Budaya

Kerja, Sasaran aksi ini adalah meningkatnya penerimaan konsep budaya kerja dan menguatnya perilaku kerja produktif dalam konteks reformasi birokrasi Departemen Agama, 4) Pembentukan dan Penguatan Kelembagaan Pengembangan Budaya Kerja, Sasaran aksi ini adalah terwujudnya kelembagaan Pengembangan Budaya Kerja yang terstruktur, dinamis dan profesional di lingkungan Departemen Agama, 5) Penguatan koordinasi antar satuan organisasi/kerja dan pemangku kepentingan, Sasaran aksi ini adalah terwujudnya koordinasi guna mendukung terlaksananya reformasi birokrasi Departemen Agama. 6) Penegakan hukum bagi aparatur, Sasaran aksi ini adalah terwujudnya kualitas aparatur yang taat hukum, 7) Peningkatan kendali mutu pelayanan masyarakat, Sasaran aksi ini adalah meningkatnya pelayanan prima oleh aparatur Departemen Agama kepada masyarakat, 8) Pemberdayaan aparatur menuju peningkatan kualitas hidup, Sasaran aksi ini adalah meningkatnya kesejahteraan aparatur Departemen Agama, 9) Peningkatan sarana dan prasarana bagi aparatur, Sasaran aksi ini adalah terciptanya dukungan sarana dan prasarana guna menunjang kinerja bagi aparatur, 10) Peningkatan Moral dan Akhlak Aparatur, Sasaran aksi ini adalah terwujudnya jati diri aparatur yang memiliki aklak mulia dan moralitas,

11) Perwujudan organisasi belajar, Sasaran aksi ini adalah terwujudnya organisasi yang bertumpu pada proses pembelajaran (learning organization),

komitmen yang tinggi dari seluruh aparatur Negara, akan melahirkan perubahan ke arah yang lebih baik. Pelayanan yang baik kepada masyarakat merupakan cerminan tata kelola kepemerinJangka Waktu tahan yang baik (good governance). Agenda Rencana Aksi masingPelaksanaan reformasi birokrasi masing kegiatan di laksanakan secara Departemen Agama bertujuan untuk simultan oleh satuan organisasi/kerja di mengubah cara berpikir, budaya kerja, lingkungan Departemen Agama. Pelakdan perubahan manajemen. Hal ini mesanaan rencana aksi perlu memperhatimerlukan dukungan semua pihak termakan pertimsuk dukungan, bangan skala kerjasama, prioritas kadan partisirena keterpasi masyabatasan sumrakat. Tanpa ber daya. dukungan seJangka mua itu nisIrjen Depag Mundzier Suparta sedang waktu pelaksacaya reformemaparkan konsep Budaya Kerja Departemen naan agenda masi birokrasi Agama dalam acara Workshop Pengembangan rencana aksi dapat berhasil Budaya Kerja Departemen Agama secara umum dengan baik, dikelompokkan dalam tiga tahap: a. karena masyarakat merupakan pihak Jangka pendek antara tahun 2009 yang berhak memperoleh pelayanan 2010, b. Jangka menengah antara tahun yang baik. 20102014, c. Jangka panjang antara Demikian, mudah-mudahan 20102024 . upaya pengembangan budaya kerja menuju reformasi birokrasi Departemen Penutup Agama dapat memperteguh komitmen Reformasi birokrasi merupakan dan profesionalisme setiap aparatur Dekebutuhan yang tidak dapat ditunda lagi. partemen Agama. Hanya dengan tekad, kerja keras, dan
Sekali kita underestimate terhadap diri sendiri, kita akan rugi, karena potensi kita akan terkungkung oleh batas yang terlalu sempit dibandingkan dengan batas yang sebenarnya.

Internal Audit Problematika dan Solusinya (bagian I)


Oleh : H. Ahmad Zaenuddin
Audit merupakan bagian dari bentuk pengawasan (Controlling) dan pengawasan adalah salah satu dari fungsi Manajemen seperti Planning, Organizing dan Actuating (George F. Terry) disamping fungsi-fungsi seperti marketing, budgeting dsb (teori pakar manajemen yang lain) dan merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan. Dalam teori Management Audit dinyatakan Actuating and controlling like two sizes of coin that can not be separated (Pelaksanaan dan pengawasan seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan (Gerald Sinaga dalam Management Audit). Dengan demikian audit merupakan komponen yang harus ada dalam setiap organisasi baik organisasi pemerintah, maupun perusahaan-perusahaan swasta, agar pelaksanaan tugas dapat berjalan sesuai dengan rencana dan tujuan yang hendak dicapai. Audit (dahulu lebih dikenal dengan istilah pemeriksaan) merupakan bagian dari sistem pengawasan dan lebih dipahami sebagai upaya membandingkan antara kenyataan yang sebenarnya (das solen) dengan kondisi yang seharusnya menurut aturan/ kriteria (das sein) antara wet mat-height (kebenaran formal), recht matheight (kebenaran material) dan doel matheight (pencapaian tujuan). Audit sering terkesan sebagai sesuatu yang menakutkan dan tidak disukai oleh auditi dan sebenarnya merupakan sesuatu yang manusiawi sebagai fitrah manusia yang pada dasarnya tidak suka bila dicari kesalahannya, sedangkan ia telah berusaha melakukan pengabdian yang terbaik untuk organisasi/ institusinya, namun karena dari hasil audit ditemukan adanya pelanggaran dan kesalahan prosedur, dan hasilnya telah diekspose oleh media massa yang kadangkadang belum dilakukan klarifikasi, hal ini akan menjadikan aib yang menimpa diri dan keluarganya seolah kejadian tersebut benar dan melakukan korupsi. Karena itu ada salah satu pendapat mengatakan bahwa dampak hukuman di dunia tidak kalah dahsyatnya dibanding dengan hukuman di akhirat kelak, karena hukuman sosial/penjara akibat dari kesalahan/kelalaian pejabat dapat berdampak kepada anak istri dan keluarganya, sedangkan hukuman di akhirat menjadi tanggung jawab diri sendiri (H.M. Slamat Anwar Inspektur Jenderal Dep Agama periode Tahun 1984-1991). Untuk menjembatani terjadinya gap antara dua kepentingan, penulis berupaya mendudukkan posisi yang seimbang dan sinergis, berdasarkan pengalaman empiris yang dialami sejak tahun 1980 yang diharapkan bermanfaat baik bagi auditor maupun auditi dalam melaksanakan tugasnya. Identifikasi Permasalahan Dalam Pelaksanaan Audit Pertama, Dampak Keterbukaan Bagi Auditi Pasca Reformasi, Sejak bergulirnya tuntutan masyarakat akan refor-

masi akibat krisis multi dimensi untuk menuju kehidupan demokratis termasuk kebebasan pers, ternyata tidak hanya berdampak positif saja seperti banyaknya informasi, masukan dari berbagai pihak melalui media sehingga banyak pejabat/pelaksana anggaran dari berbagai lapisan, baik dari kalangan eksekutif, legislatif bahkan yudikatif maupun swasta yang tertangkap dan masuk penjara. Namun dampak negatif akibat derasnya arus informasi yang tak terbendung, kadang mengarah kepada pemutarbalikan fakta atau pembentukan opini atas permasalahan-permasalahan yang belum clear di pengadilan, tidak terkontrolnya rambu-rambu kebebasan mengakibatkan banyak korban dari berita sensasi yang harus menanggung derita karena korban hukuman public opini, hidupnya menjadi terkucilkan di masyarakat, sementara bila tidak terbukti bersalah maka klarifikasinya tidak segencar ketika ia menjadi tersangka. Sebagai contoh opini terhadap Depag sebagai departemen terkorup, seluruh pegawai merasa malu mengaku sebagai pegawai/pejabat Depag, namun ketika Depag sebagai institusi kedua dalam kepuasan pelayanan publik dan paling gencar dalam penyelesaian temuan/pelanggaran/ KKN (Tempo Oktober 2007) gaung klarifikasinya untuk pemulihan perbaikan opini masyarakat tidak begitu terasa. Kedua, Anggaran Lambat Turun, Sistem APBNP dan Permasalahannya, bagi pejabat pembuat komitmen ataupun pejabat yang bertanggung jawab atas pengadaan barang/jasa dan kegiatan, selaku auditi mengeluhkan atas lambatnya pencairan anggaran terbentur kepada jadwal

yang telah diprogramkan apalagi APBNP yang baru dapat dicairkan pada akhir tahun akan mengacaukan seluruh program yang ada sehingga semua penjadwalannya jatuh di akhir tahun dan waktunya menjadi berbenturan dengan kegiatan lain. Kondisi seperti ini menjadi buah simalakama bagi mereka. Bila dilaksanakan sesuai prosedur tidak akan terserap seluruhnya dan oleh auditor dinilai tidak mampu melaksanakan tugas dengan baik sesuai program, dilain pihak bila dilaksanakan harus ada prosedur yang tidak dilalui/memakai jalan pintas akan menjadi bahan pengaduan para rekanan yang kalah tender dan berita media masa tentang adanya indikasi KKN. Sebagai contoh ketika Ditjen PHU menerima APBNP untuk perbaikan sarana asrama haji yang rusak tetapi waktunya sudah mendesak, pada saat akan dilaksanakan lelang tidak memungkinkan sedangkan Ditjen PHU dituntut untuk memberikan pelayanan prima yang antara lain harus didukung sarana dan prasarana asrama embarkasi/debarkasi yang layak untuk dimanfaatkan. Pelaksana di daerah tidak berani bertindak karena keterbatasan waktu dan kalau terburu-buru riskan terjadi kesalahan prosedur dalam pelaksanaannya. Akhirnya, dana tersebut tidak terserap dan kembali lagi ke pusat karena pelaksana tidak mau mengambil resiko dengan segala permasalahannya. Kesimpulannya kembali kepada permasalahan pertama yaitu lebih baik tidak bertindak daripada terkena resiko kesalahan dalam audit yang berdampak kepada pencemaran nama baik diri dan keluarga yang sulit dihilangkan apabila sudah menjadi opini publik. Fenomena semacam

ini masih sangat menghantui para pejabat pelaksana anggaran. Ketiga, Pelaksana kurang menguasai keahlian untuk menentukan spesifikasi dan menyerahkannya kepada rekanan/pemborong/penyedia barang. Dalam temuan audit dijumpai banyak pengurangan kualitas dan kuantitas dari berbagai kegiatan baik pengadaan barang, jasa maupun kegiatan lainnya dikarenakan ketidaktahuan atas spesifikasi teknis dimaksudkan, terutama peralatan elektronika, mekanikal, teknis bangunan, lebih parah lagi masih dijumpai pelaksana pengadaan barang menyerahkan seluruh proses adiminstrasi dan spesifikasinya kepada pemborong/rekanan/penyedia barang sehingga rekanan menetapkan harga semaunya ataupun menawarkan pengenalan produk baru/ launching yang belum jelas jaminan layanan purna jualnya (bukan branded) kendatipun spesifikasinya telah memenuhi persyaratan, ataupun harga relatif setara tetapi discount cukup besar karena produk launching/pengenalan produk baru, nampaknya cara ini yang dijadikan alasan menyalahi prosedur sesuai Keppres 80/2003 jo No.95/ 2008 yang melarang menyebutkan merk tertentu dalam sistem pelelangan, kewajiban panitia pengadaan menyusun HPS/OE, demikian pula ketika bangunan sudah selesai dan ditandatangani serah terimanya, sementara bahan campuran semen dan pasir, kedalaman pondasi, agregat serta jenis kayu yang dipersyaratkan semua telah tertutup dengan pelapis semen acian dan cat, di lain pihak pimpro/pembuat komitmen/panitia pengadaan telah mempercayakan kepada konsultan perencana dan

pengawas yang secara teknis mempunyai keahlian, tetapi ketika ditemukan realisasi pelaksanaannya lebih rendah dari spesifikasi yang dipersyaratkan, ternyata hanya Pimpro/pembuat komitmen/Panitia pengadaan yang harus bertanggungjawab, dan yang menerima sanksi (melakukan tindak korupsi) atas pekerjaan/kegiatan dimaksud sedangkan konsultan perencana dan pengawas yang keahliannya menguasai di bidangnya justru selamat dari tuduhan maupun sanksi. Lagi-lagi kembali kepada permasalahan awal yaitu pelaksana anggaran selalu menjadi sasaran berita negatif dan sasaran pemberlakuan sanksi. Hal ini tidak sejalan dengan UU No 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001 Pasal 7 ayat (1) menyatakan, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan atau pidana paling sedikit Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 350.000.000,00 ( tiga ratus lima puluh juta rupiah) Setiap orang yang bertugas mengawasi pembangunan atau penyerahan bahan bangunan, sengaja membiarkan perbuatan curang sebagaimana dimaksud dalam huruf a. Keempat, belum adanya kesamaan persepsi tentang harga dasar dan penghitungan OE (owner estimate) antara auditi dengan auditor. Para auditi mempunyai bermacam cara dalam menafsirkan penghitungan harga, demikian pula dalam menentukan OE (Owner Estimate ) ada yang berpedoman pada harga eceran, harga grosir, harga penawaran leaflet, harga pasaran setempat yang dibuat dari Bappenas, BPS, majalah jurnal ekonomi bahkan ada juga yang berdasarkan plafond DIPA. Kesemua-

nya itu nilai patokannya berbeda-beda, demikian pula dalam memperhitungkan persentase pengenaan pajak dan keuntungan perusahaan yang dituangkan ke dalam OE, terkesan pajak tersebut dipungut dua kali yaitu pajak pembayaran oleh Bendahara serta PPN yang ditarik oleh Penjual. Perbedaan persepsi juga terjadi dalam perhitungan standard harga, termasuk kurs dollar yang mengalami fluktuatif setiap waktu. Sehubungan perbedaan/jarak waktu dilakukan survey harga dengan waktu pemeriksaan terutama pada pengadaan produk-produk elektronik seperti komputer dan sejenisnya juga rawan temuan karena dalam waktu singkat harga semakin menurun/lebih murah dibanding pada saat dilakukan survey harga, sehingga terjadi perbedaan dan auditor yang mengacu kepada harga pasaran umum setempat pada saat pemeriksaan dilakukan, terjadinya perubahan spesifikasi/type karena tenggang waktu spesifikasi yang disepakati sering tidak diproduksi lagi (discontinue) seiring dengan persaingan produsen untuk meningkatkan teknologi canggih guna memberikan layanan terbaik kepada konsumen/ merebut pasaran, maka dalam waktu singkat menyetop produk tersebut dan menggantikannya dengan produk penyempurnaannya dengan type lain sehingga terjadi perbedaan type kendatipun mempunyai kesamaan spesifikasi/fitur yang disepakati tetap akan menjadi temuan. Demikian pula persepsi antar auditor dalam menghitung kebenaran OE berdasarkan persentase yang dibenarkan dalam aturan masih berbeda apakah berda-

sarkan standar atau setelah kena pajak termasuk pajak pertambahan nilai 10% dari harga standar yang dipotong KPPN, tetap tidak akan ketemu bila dihitung dari harga dasar/standar, sebagai contoh bila menghitung OE dari harga dasar Rp 100.000.000,00 + Rp 20.000.000,00 (20%Ppn + keuntungan perusahaan) = Rp120.000.000,00 maka KPPN akan memotong pajak sebesar Rp 12.000.000,00 dan keuntungan perusahaan Rp 12.000.000,00= Rp 24.000.000,00 maka harga dasar akan berkurang menjadi Rp 96.000.000,00. Belum lagi ketika kontrak tersebut adalah bidang jasa (rehab gedung), service mesin dan jasa cleaning service katering, dsb) bila harus membayar sendiri PPh (Pengenaan Pajak Penghasilan sebesar 4% dari kontrak tersebut maka tidak ada perusahaan yang berani mengajukan penawaran kecuali yang berani mengurangi kualitas maupun kuantitas spesifikasi yang ditetapkan. Perbedaan penafsiran dari berbagai sisi di atas rawan dengan disharmonisasi antara auditor dan auditi yang seharusnya merupakan rangkaian fungsi yang sinergis dalam suatu organisasi. Oleh karena itu perlu adanya juklak/juknis yang jelas untuk penghitungannya serta disosialisasikan secara merata kepada pelaksana anggaran. Kelima, Ketertutupan auditi karena adanya kesan audit mencari-cari kesalahan serta masalah harga diri. Sikap auditi yang kurang koperatif terhadap auditor nampaknya sangat beralasan dan manusiawi karena disamping produk audit adalah laporan yang lebih menonjolkan penyimpangan, pelanggaran, kelalaian, serta kelemahan

kinerja yang kesimpulannya adalah ketidakmampuan pimpinan satker dalam melaksanakan tugasnya termasuk pejabat di bawahnya yang membantu, sementara potret keberhasilannya kurang terekspose, karena naluri/fitrah manusia tidak suka disalahkan apalagi bila diexpose di depan publik atau di lingkungan satker yang dipimpinnya yang membuat dirinya direndahkan di depan anak buahnya/masyarakat luar apalagi kebanyakan pejabat/pegawai Dep. Agama merupakan tokoh masyarakat setempat. Sikap tersebut mendorong upaya untuk membela diri dengan berusaha menutupi segala bentuk penyimpangan, pelanggaran yang ia lakukan dengan cara membuat alibi memberikan keterangan palsu menjadikan potret hasil kinerja menjadi tidak akurat/obyektif dan misi audit dalam memperbaiki kinerja instansi menjadi kurang berhasil karena tidak dapat memberikan rekomendasi ataupun tindak lanjut yang tepat atas permasalahan dan kendalanya. Keenam, Perbedaan Tingkat Kemampuan dan Beban Moral Auditor. Perbedaan pendidikan, karakteristik, pengalaman, wawasan para auditor menjadikan ketajaman hasil audit yang berbeda pula, usaha pembekalan serta peningkatan telah dilakukan dalam bentuk pelatihan, diskusi, workshop, namun terkesan masih belum merata. Banyak beban psychologis ketika seorang auditor tidak menemukan masalah dalam suatu tim akan menjadi gunjingan negatif baik oleh Ketua, anggota ataupun sesama tim yang lain kendatipun ia telah

berusaha melakukan sesuai standar audit dan kode etik auditor, hal ini dianggap sebagai auditor yang tidak mampu dan lebih parah lagi dituduh mau diajak damai/menerima suap sehingga temuannya dieliminir, belum lagi ketika tim audit berikutnya dari instansi lain menemukan permasalahan, sementara ia tidak menemukannya. Sebagai contoh pengaduan yang disampaikan ke aparat penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan, kebanyakan telah dilengkapi bukti-buktinya yang memang telah disiapkan oleh orang dalam yang menjadi rival yang diadukan, sementara auditor harus menyisir dari permukaan secara bertahap tanpa dimodali dengan buktibukti tersebut sehingga bila tidak berhasil menemukannya dengan keterbatasan waktu pemeriksaan maka laporannya menjadi krupuk (tidak berbobot). Inilah yang membuat sebagian auditor berusaha menemukan celah-celah jenis pelanggaran sekecil apapun walaupun belum didukung dengan kriteria yang memadai dalam standar audit, yang lebih memprihatinkan bila tidak ada tanggapan yang signifikan dari auditi entah karena takut atau karena tidak memahami aturannya, karena bagaimanapun juga auditi tetap dalam posisi yang lemah, akibatnya temuan tersebut akan menjadi beban/penumpukan hutang tindak lanjut di daerah, sementara ketertutupan auditi dalam memberikan keterangan/ tanggapan kepada auditor menjadikan hasil audit kurang memberikan feed back secara sempurna. Bersambung

Urgensi Audit Kinerja


Oleh : Maman Saepulloh

Perkembangan audit dewasa ini begitu pesat mulai dari audit keuangan, audit operasional, audit khusus dan audit dengan tujuan tertentu. Namun berbagai jenis audit tersebut belum ada yang mengakomodasi kepentingan penilaian capaian kinerja satuan organisasi/unit kerja untuk dapat mengetahui apakah target kinerja yang ditetapkan sebelumnya tercapai atau tidak. Untuk keperluan itulah sistem pengawasan di lingkungan aparatur intern pemerintah perlu dilengkapi dengan audit yang dapat mengukur dan menilai capaian kinerja sekaligus memberikan rekomendasi perbaikan kinerja sehingga diharapkan pada masa yang akan datang satuan organisasi/unit kerja di lingkungan departemen/LPND, kinerjanya akan menjadi lebih baik. Pengawasan tidak akan menghasilkan perbaikan kinerja yang berarti, tanpa disertai dengan kelengkapan sistem pengawasan yang memadai serta kemampuan dan keahlian teknis auditor dalam pelaksanaan audit. Karena itu sistem dan sumber daya manusia merupakan satu kesatuan perangkat pengawasan yang harus dirancang dan dilaksanakan dengan baik, apabila tidak, maka hasil kegiatan pengawasan tidak

akan banyak memberikan kontribusi dalam peningkatan kinerja satuan organisasi/unit kerja di lingkungan departemen/LPND. Hal ini penting dilakukan, karena saat ini tuntutan masyarakat luas atas keterbukaan pertanggungjawaban penyelenggaraan negara menyebabkan departemen/LPND lebih optimal dalam melaksanakan kegiatannya melalui penerapan azas-azas (prinsip-prinsip) Good Governance. Kondisi optimal ini akan tercapai apabila penyelenggaraan negara dan pemerintahan dapat menghasilkan kinerja dengan baik. Capaian kinerja akan dapat diketahui pada akhir tahun di mana pengguna dana selain harus mempertanggungjawabkan penggunaan dananya secara efektif dan efisien, juga mempunyai kewajiban memperlihatkan capaian kinerjanya, apakah outcome yang dijanjikan pada awal tahun tercapai atau tidak. Untuk itu perlu dilakukan pengukuran melalui suatu audit apakah kinerja yang sudah ditargetkan tercapai atau tidak, dan audit yang dapat memenuhi kebutuhan ini adalah Audit Kinerja. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah me-

negaskan bahwa setiap entitas pelaporan diwajibkan menyusun dan menyajikan laporan keuangan dan laporan kinerja dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD. Selanjutnya sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, maka setiap instansi pemerintah diwajibkan untuk melakukan penetapan dan pengukuran kinerja melalui Audit Kinerja pada instansinya masing-masing. Untuk terlaksananya audit kinerja dengan baik, maka lembaga aparatur intern pemerintah departemen/ LPND perlu segera menyusun pedoman, petunjuk pelaksanaan, petunjuk teknis tentang Audit Kinerja, sebagai acuan bagi para auditor pada departemen/LPND dalam melaksanakan setiap penugasannya. Beberapa Pengertian Perubahan mendasar paradigma sektor publik dewasa ini adalah derasnya keinginan dan tuntutan kepada sektor publik agar lebih berorientasi kepada hasil (outcome), tidak semata-mata pada proses dan keluaran (out-put). Hasil atau pencapaian kinerja harus dilaporkan kepada pihak-pihak terkait (stakeholders) sebagai pertanggungjawaban atas penggunaan sumber daya (akuntabilitas). Penetapan tingkat pencapaian kinerja tersebut memerlu-

kan alat ukur yang jelas. Untuk mengetahui tingkat pencapaian kinerja atau keandalan laporan capaian kinerja yang disajikan oleh unit kerja diperlukan audit kinerja. Beberapa terminologi yang perlu dijelaskan dalam audit kinerja antara lain: 1. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, Pasal 4 ayat (3) mendefinisikan pemeriksaan kinerja sebagai pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara yang terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta pemeriksaan aspek efektivitas. Selanjutnya dalam penjelasan undang-undang tersebut dinyatakan bahwa pemeriksaan kinerja lazim dilakukan bagi kepentingan manajemen oleh aparat pengawasan intern pemerintah; 2. Menurut United States General Accounting Office (US GAO) Government Auditing Standards 2003 Revision, audit kinerja adalah pengujian bukti-bukti yang obyektif dan sistematik untuk memberikan penilaian yang independen terhadap kinerja berdasarkan kriteria yang obyektif, Audit Kinerja adalah proses yang sistematis untuk menilai pencapaian kinerja suatu unit kerja dan membandingkannya dengan kriteria yang ditetapkan serta mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan, adapun yang mendapatkan penjelasan dalam audit kinerja

sebagai berikut: a. Proses yang sistematis adalah proses yang pelaksanaannya melalui tahapan-tahapan yang terencana, jelas, dan berurutan, sejak perencanaan sampai dengan pelaporan hasilnya; b. Penilaian atau perumusan penilaian dilakukan dengan memperhatikan aspek ekonomi, efisiensi, efektivitas, dan kepatuhan pada ketentuan. Penilaian atas aspek tersebut tidak harus dilakukan terpisah, melainkan dapat dirumuskan menjadi satu kesatuan; c. Audit kinerja atas unit kerja diutamakan untuk dilakukan atas tugas dan fungsi unit kerja. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan untuk melakukan Audit Kinerja atas program, atau kegiatan unit kerja, tergantung pada keinginan pimpinan/manajemen atau pihak berkepentingan yang berwenang. Audit kinerja pada hakikatnya dilakukan atas permintaan dan untuk kepentingan manajemen, dalam hal ini pimpinan instansi yang bersangkutan, atau pihak berkepentingan yang berwenang; d. Perumusan pengukuran kinerja adalah tugas masing-masing unit kerja, berupa target yang akan dicapai. Ukuran tersebut dirumuskan sebelum aktivitas dilaksanakan melalui pembahasan dengan pihak atasan dan/atau stakeholders lainnya (partisipatif). Apabila rumusan pengukuran kinerja belum dibuat, akan tetapi atas unit kerja tersebut diminta dilakukan audit kinerja, maka auditor bersama de-

ngan unit kerja yang bersangkutan merumuskan terlebih dahulu pengukuran kinerja yang akan disepakati. Perumusan ini dilakukan pada tahap survei pendahuluan; e. Hasil audit kinerja, terutama simpulan dan rekomendasi perbaikan, dibahas terlebih dahulu dengan auditi untuk selanjutnya disampaikan kepada manajemen yang bersangkutan dan pihak berkepentingan lainnya (yang meminta dilakukan audit kinerja); 3. Efektivitas, berkaitan dengan pencapaian hasil (outcome) yang ditetapkan sebagai pengaruh dari keluaran ( output) yang dicapai. Keluaran dikatakan efektif jika memberikan pengaruh sesuai yang diharapkan. Keluaran yang diharapkan umumnya adalah jasa berupa layanan terhadap masyarakat; 4. Efisiensi, berkaitan dengan hubungan antara masukan (input) yang digunakan untuk menghasilkan keluaran (output). Efisiensi lazimnya dinyatakan dalam bentuk indeks, ratio, unit, atau bentuk lainnya (misalnya dalam bentuk perbandingan). Secara umum, efisiensi berkaitan dengan produktivitas; 5. Indikator kinerja adalah deskripsi kuantitatif atau kualitatif terhadap capaian kinerja. Indikator kinerja digunakan sebagai salah satu alat untuk menilai dan melihat perkembangan kinerja yang dicapai selama jangka waktu tertentu; 6. Pengukuran Kinerja adalah proses penilaian kemajuan pekerjaan dikaitkan

dengan pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditentukan. Pengukuran kinerja dilakukan dengan menggunakan indikator kinerja; 7. Auditi adalah instansi pemerintah pusat dan daerah, beserta unit-unitnya yang menjalankan tugas dan fungsi sesuai dengan peraturan yang berlaku. Perbedaan Audit Kinerja dengan Audit lainya Perbedaan antara audit kinerja dengan audit operasional terutama adalah pada adanya indikator/ukuran kinerja yang sifatnya kuantitatif dalam audit kinerja yang tidak dikenal pada audit operasional. Untuk memahami urgensi audit kinerja dapat kita ungkap dari tujuan, sasaran dan ruang lingkup audit kinerja, di mana tujuannya adalah untuk: 1. Mendapatkan keyakinan yang memadai terhadap kinerja instansi pemerintah dengan melakukan pengujian informasi kinerja dan bukti-bukti capaian kinerja, 2. Memberikan informasi untuk memperbaiki kinerja dan memfasilitasi pembuatan keputusan oleh pihak-pihak yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan perbaikan dan akuntabilitas publik, 3. Memberikan rekomendasi berupa langkahlangkah untuk memperbaiki permasalahan yang ditemukan dalam rangka meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan keekonomisan pelaksanaan tugas dan

fungsi yang pada akhirnya meningkatkan kinerja secara berkesinambungan. Sedang sasaran dan ruang lingkup Audit Kinerja adalah: 1. Sasaran audit kinerja adalah laporan kinerja/realisasi pelaksanaan unit kerja, 2. Ruang lingkup audit kinerja meliputi pengujian atas kinerja tugas dan fungsi unit kerja. Indikator Kinerja Perumusan dan syarat-syarat indikator kinerja antara lain: Pada dasarnya, perumusan indikator kinerja adalah tanggung jawab auditi, akan tetapi dapat juga dirumuskan berdasarkan kesepakatan bersama antara auditor dengan auditii dengan mengikutsertakan pihakpihak terkait yang dianggap berkepentingan. Dalam hal indikator kinerja telah dibuat auditii, auditor berkewajiban menilai apakah indikator kinerja yang disusun telah sesuai dengan syarat-syarat indikator kinerja yang baik. Syarat-syarat indikator kinerja adalah relevan, layak dan valid, wajar, obyektif, bebas dari bias, jelas, dapat dikuantifikasi, dapat diverifikasi, telah mempertimbangkan biaya dan waktu, dan jumlah indikator kinerja terbatas, 1. Relevan, Indikator kinerja harus relevan dengan kebutuhan dan kondisi stakeholders/pemakai. Indikator kinerja harus memungkinkan untuk menilai kinerja tugas dan fungsi suatu unit kerja, dalam mencapai maksud dan tujuan, 2. Layak

dan valid, Indikator seharusnya menunjukkan aspek utama kinerja tugas dan fungsi unit kerja yang dapat menjamin hasil/outcome yang dihasilkan, 3. Wajar (Fair), Indikator yang dipilih harus wajar dan mencerminkan faktor yang dapat dikendalikan manajemen, 4. Obyektif, Indikator dikatakan obyektif, apabila dilakukan pengujian oleh pihak lain yang kompeten akan menghasilkan simpulan yang sama, 5. Bebas dari Bias, Informasi kinerja seharusnya diperoleh secara independent, tanpa memihak, demikian juga pelaporannya. Hal ini memungkinkan pemakai untuk menilai kinerja yang telah dicapai. Pemakai harus yakin bahwa informasinya akurat dan andal, 6. Jelas, Indikator harus jelas dan mudah dipahami. Indikator yang terlalu rumit, akan membingungkan dan bahkan kemungkinan tidak membantu para pengambil keputusan, 7. Dapat dikuantifikasi, Indikator kinerja harus dapat merefleksikan semua aspek yang diukur, sehingga dapat menunjukkan seberapa jauh hasil yang diinginkan telah dicapai, 8. Dapat diverifikasi, Indikator kinerja harus berdasarkan data yang andal dalam berbagai kondisi. Informasi yang diperoleh tidak bervariasi secara signifikan dan tersedia dari sumber data yang mempunyai reputasi. Indikator harus dapat dipertanggungjawabkan untuk penerapan prosedur standar, dalam rangka pengumpulan data atau perhitungan hasil,

sehingga memperoleh hasil yang sama bila situasinya sama. Informasi yang menjadi dasar indikator harus diperoleh, dicatat dan dianalisis dengan cara seperti verifikasi pihak independent, 9. Biaya dan waktu, Informasi harus mempertimbangkan efisiensi biaya dalam pengumpulan, penyimpanan, dan pengelolaannya. Selain itu waktu pengumpulan informasi juga harus menjadi dasar pertimbangan, 10. Jumlah indikator kinerja terbatas, Sekumpulan indikator kinerja yang komprehensif memang diperlukan pemakai untuk menilai kinerja keseluruhan, tapi jumlah indikator harus dibatasi hanya pada indikator yang penting saja. Indikator kinerja yang dimiliki harus mencakup seluruh faktor penting keberhasilan, 11. Karakteristik indikator kinerja adalah sederhana, dapat diukur, dapat dikuantifisir, dikaitkan dengan target/standar, berfokus pada pelanggan, dan dikaji secara teratur. Metode Pengukuran Kinerja Beberapa metodologi pengukuran kinerja dan pelaksanaannya dapat diuraikan sebagai berikut: Berdasarkan tinjauan referensi, terdapat beberapa metodologi pengukuran kinerja, antara lain: a. Balanced Scorecard (BSC), b. Integrated Performance Management System (IPMS), c. Kerangka kerja Program Logic , d. Total Quality Management, e. Piramida Kerja, f. Model

Stakeholder, g. Effective Progress and Performance Measurement (EP2M). Namun yang lebih sederhana dan mudah diterapkan dalam audit kinerja adalah penggunaan pengukuran dengan metode Balanced Scorecard (BSC) karena metode inilah yang dapat mengakomodasi seluruh kebutuhan pengukuran secara komprehensif dibandingkan dengan metode yang lainnya. Dalam hal auditi belum merumuskan kinerjanya, dengan menggunakan metode pengukuran kinerja balanced scorecard ini auditor dengan auditi melakukan kesepakatan mengenai indikator kinerja yang akan di-

jadikan ukuran keberhasilan. Indikator kinerja yang harus disepakati sifatnya sangat komprehensif mulai dari sumber daya manusia, internal proses yang menyangkut sistem dan prosedur, keuangan serta faktor kepuasan stakeholders sudah banyak digunakan oleh instansi untuk mengukur kinerjanya. Di samping itu dengan menggunakan metode yang seragam, diharapkan pejabat dan karyawan akan lebih terbiasa dan tidak merasa asing terhadap metode pengukuran kinerjanya, dan penyempurnaan metode yang digunakan lebih terjamin.

Placement Test Calon Auditor Itjen Depag 2009

Tujuh Belas Kondisi Rawan Dalam Pengadaan Barang/Jasa dan Belanja Modal (bagian II) Oleh: Ali Irfan Berdasarkan pembahasan bagian 1 pada Edisi 17 Majalah Fokus Pengawasan, kita telah mengetahui 3 kondisi rawan dalam pengadaan barang/jasa dan belanja modal pada kondisi perencanaan pengadaan, pembentukan panitia lelang dan prakualifikasi perusahaan, pada pembahasan bagian ke 2 kita akan dapat lebih mengetahui lebih fokus lagi beberapa kondisi rawan yang harus lebih dicermati lagi oleh para auditor, agar upayaupaya preventif untuk menyelamatkan uang negara dari tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh oknum-oknum PNS maupun Non PNS (rekanan) lebih awal dapat diantisipasi secara optimal. Kondisi rawan berikutnya adalah: Keempat, Penyusunan Dokumen Lelang, seorang auditor yang cermat akan berusaha lebih mengetahui upaya panitia yang akan mengadakan penyimpangan prosedur melalui penyusunan dokumen lelangnya, upayaupaya tersebut seperti: a. Spesifikasi yang diarahkan, panitia yang memiliki keinginan untuk memperoleh target yang diinginkan karena tidak adanya indepedensi panitia sehingga faktorfaktor kepentingan banyak pihak yang diadopsinya di dalam pengadaan barang/jasa dan belanja modal, berupaya membuat spesifikasinya dengan bentuk yang telah diarahkan, seperti dengan mencantumkan merk barang/ jasa yang akan diadakan, tanpa memperhatikan atau mengabaikan petunjuk operasional (PO) dan pagu dari DIPA yang ada, modus lainnya adalah membuat spesifikasi barang yang umum dimiliki banyak produk dengan tidak lengkap menyebutkan itemitem hardwarenya atas barang/jasa yang diadakan, sebab dengan adanya satu item barang yang berbeda akan memiliki selisih harga yang cukup menjanjikan keuntungan untuk pribadi atau kelompok bukan untuk keuntungan negara. b. Rekayasa kriteria evaluasi, panitia di dalam mencapai keinginannya ketika agenda evaluasi dokumen, memainkan peranannya dengan tidak memuat kriteria rekanan yang akan mengikuti pengadaan secara tidak lengkap atau kriteria yang sangat sulit untuk dilengkapi oleh pihak-pihak rekanan yang bukan menjadi pelanggan panitia, ataupun kriteria jenis barang/jasa yang memiliki kualifikasi mutu yang baik akan tetapi harga yang kurang dapat diikuti oleh pihak rekanan akan tetapi pihak rekanan yang menjadi pelanggan akan mampu mengadakan walaupun keuntungan

untuk perusahaannya dibawah standar ketentuan yang berlaku (10%), c. Dokumen lelang tidak standar, kerawanan berikutnya yang harus dicermati oleh seorang auditor adalah dengan adanya dokumen lelang yang tidak standar, seperti tidak memuat rincian rencana anggaran belanja yang rinci dengan memuat berapa kebutuhan volume barang/jasa serta harga peritemnya dan gambaran spesifikasi barang/jasa serta gambaran besteknya pula, akan tetapi seringkali panitia hanya memuat pengadaan dan harga secara gelondongan saja dan tanpa disertai spesifikasi dan bestek barang/jasa yang diadakan. Apabila pengadaannya berupa pembangunan fisik (belanja modal), pihak rekanan tidak menyertai konsultan dalam pembangunannya, baik konsultan pengawas maupun konsultan perencana serta di dalam SK kepanitiannya tidak menyertai anggota sebagai pengelola teknis (dari Kimpraswil setempat). d. Dokumen lelang yang tidak lengkap, berbicara tentang dokumen lelang tidak standar maka akan erat kaitannya dengan kerawanan dokumen lelang yang tidak lengkap, dokumen lelang yang tidak lengkap yaitu dokumen yang tidak menyertai dokumen administrasi ketika pra kualifikasi hingga penentuan pemenang, serta memuat data lengkap (secara yuridis formal) tentang kondisi dan kualifikasi perusahaan, dan

juga membuat track record pekerjaan yang telah atau pernah ditanganinya. Kelima, Pengumuman Lelang, proses ini perlu pula auditor cermati, karena pengumuman merupakan sarana untuk mempermainkan objektifitas penentuan sebagai pemenang, kerawanan dalam pengumuman berupa: a. Pengumuman lelang yang semu atau fiktif, seringkali panitia untuk memanipulasi adanya pelelangan murni dengan cara membuat pengumuman pada media yang sulit untuk diperolehnya atau media nasional akan tetapi memesan pada pihak perusahaan media tersebut untuk memuat pengumuman lelang hanya untuk 5 jilid koran/media saja tidak dalam edisi penerbitan, hal tersebut ditujukan untuk dijadikan pertanggungjawaban yang formalitas untuk memanipulasi upaya audit yang akan dilakukan oleh auditor. b. Jangka waktu pengumuman terlalu singkat, selain upaya membuat pengumuman lelang yang semu atau fiktif, upaya panitia untuk rekanan yang tidak dikehendaki agar tidak dapat mengikuti pengadaan barang/jasa atau belanja modal dengan cara membuat jangka waktu pengumuman yang terlalu singkat sehingga pihak rekanan yang tidak dikehendaki tersebut tidak sempat melengkapi persyaratan lelang dikarenakan untuk dapat memenuhi persyaratan mengikuti lelang memerlukan urus-

an birokrasi yang rumit sehingga memerlukan waktu yang tidak singkat, sedangkan pihak rekanan yang dikehendaki oleh panitia atau rekanan yang menjadi pelanggannya sebelum diadakan pengumuman resmi terlebih dahulu dihubungi oleh panitia untuk dapat mempersiapkan persyaratan administrasi lelang, c. Pengumuman lelang tidak lengkap, kerawanan berikutnya yang dapat dilakukan oleh panitia adalah dengan membuat pengumuman lelang yang tidak lengkap, seperti tidak memuat batas akhir penyerahan berkas administrasi lelang, atau tidak memuat persyaratan administrasi lelang yang lengkap ataupun kejelasan klasifikasi perusahaan yang dapat mengikuti lelang pengadaan barang/jasa dan belanja modal. Keenam, Pengambilan Dokumen Lelang, setelah auditor mengetahui kerawanan pada pengumuman lelang, maka kerawanan berikutnya yang perlu diketahui oleh seorang auditor adalah dalam pengambilan dokumen lelangnya, kerawanan tersebut berupa: a. Dokumen lelang yang diserahkan tidak sama (inkonsisten), dalam upaya menghadapi proses audit seringkali panitia menugaskan kepada pihak rekanan yang menjadi mitra tetapnya untuk membuat double dokumen, yang berbeda isi materinya, khususnya dalam hal perhitungan RAB, spesifikasi-

nya atau besteknya, bahkan ada dokumen dengan perbedaan tanggal kegiatan pengadaannya, ataupun perbedaan antara dokumen lelang dengan realisasinya. Semua ini ditujukan untuk mengelabui upaya audit dalam rangka memenuhi kehendak pribadi, kelompok dan pimpinan, b. Waktu pendistribusian dokumen terbatas, rentanitas berikutnya yang harus disikapi oleh seorang auditor terhadap penyimpangan yang dilakukan oleh pelaksana pengadaan adalah adanya upaya untuk membuat waktu pendistribusian dokumen yang sangat terbatas, agar pihak rekanan yang tidak dikehendaki untuk mengikuti lelang tidak mampu mempersiapkan kelengkapan dokumen dan kuantitas dokumen yang harus dilengkapi yang sedemikian kompleksnya sehingga pihak rekanan yang tidak dikehendaki akan kesilutan mendistribusikan dokumen karena waktu yang sangat terbatas tersebut, sedangkan rekanan yang menjadi pelanggan pelaksana terlebih dahulu diinformasikan sebelum dibukanya termin pengumuman pengadaan di media massa, sehingga walaupun terbatasnya waktu dalam hal pendistribusian dokumennya maka pihak rekanan yang lama menjadi pelanggan akan mudah mengikuti pola yang telah dibuat oleh pelaksana.

Peran Internal Auditor Dalam Implementasi PP Nomor 60 Tahun 2008 Tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah Oleh: Sugijardjo,Ak.* Abstraksi Dewasa ini sedang terjadi proses reformasi keuangan negara yang berdampak ditetapkannya suatu sistem pengelolaan keuangan negara yang transparan dan akuntabel. Pengelolaan keuangan tersebut, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pertanggungjawaban harus dilaksanakan secara efektif dan efisien. Untuk kepentingan tersebut diperlukan suatu sistem yang dapat menunjang tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Untuk menjamin keberadaan serta berjalannya sistem tersebut dengan baik maka mutlak diperlukan peran Internal Auditor. Latar Belakang Kurang lebih sekitar tahun 1990 kondisi perekonomian baik di negara maju maupun berkembang merupakan kondisi yang sulit. Krisis ekonomi terjadi dimana-mana. Pada tahun-tahun tersebut dapat dikatakan merupakan periode kegagalan sistem pengendalian intern pemerintahan dan masalahmasalah kemasyarakatan secara luas. Pada tahun-tahun tersebut juga terjadi berbagai peristiwa besar dibidang keuangan seperti contohnya kasus Enron di Amerika Serikat. Kondisi kesulitan keuangan yang terjadi di negara-negara tersebut di atas juga terjadi di Indonesia, indikasinya antara lain, Indonesia dikategorikan sebagai salah satu negara yang memiliki tingkat korupsi tinggi di dunia. Bentuk-bentuk tindak pidana korupsi seperti penyalahgunaan kekuasaan, pembayaran fiktif, kolusi, biaya perjalanan dinas yang fiktif, pemberian uang suap, pungutan liar, penyalahgunaan fasilitas kantor, imbalan tidak resmi, pemberian fasilitas secara tidak adil, bekerja tidak sesuai ketentuan dan prosedur, tidak disiplin waktu, komisi atas transaksi jual/beli yang tidak disetor ke kas negara, menunda/ memperlambat pembayaran proyek, pengumpulan dana taktis, penyalahgunaan anggaran, menerima hadiah atau menerima sumbangan dalam jumlah yang tidak wajar. Apabila dianalisis lebih jauh maka dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor penyebabnya adalah terdapatnya kelemahan sistem pengendalian intern. Indikasi masih lemahnya sistem pengendalian intern pada instansi pemerintah di Indonesia, ditunjukkan dengan adanya pemberian

pendapat disclaimer oleh BPK terhadap laporan keuangan pemerintah pusat tahun 2004 dan 2005. Sampai saat ini masih dijumpai keterbatasan dan hambatan dalam pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern Instansi Pemerintah di Indonesia. Keterbatasan dan hambatan pelaksanaan sistem pengendalian intern tersebut terutama disebabkan oleh: pertama, pimpinan Instansi Pemerintah masih mengabaikan pentingnya sistem pengendalian intern, kedua, perspektif pimpinan Instansi Pemerintah dan auditor atau evaluator terhadap pelaksanaan sistem pengendalian intern tidak mendukung terciptanya lingkungan pengendalian yang memadai, ketiga, Kesalahan-kesalahan yang terjadi dilakukan oleh personil baik secara sengaja maupun tidak disengaja. Kondisi tersebut diatas menyebabkan pemerintah berupaya untuk mengatasi berbagai kelemahan dan penyimpangan tersebut di atas dengan melakukan reformasi di bidang keuangan negara. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah mendefinisikan Sistem Pengendalian Intern adalah proses yang integral pada tin-

dakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan yang memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Dari definisi tersebut di atas, pengendalian intern merupakan suatu proses yang memberikan keyakinan yang memadai dalam mencapai tujuan organisasi dan hanya efektif kalau dilaksanakan oleh seluruh anggota organisasi. Pengendalian intern melibatkan seluruh tingkatan manajemen dan apabila komponen diterapkan dengan baik akan dapat memberikan keyakinan memadai bahwa tujuan organisasi akan dapat dicapai. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah membagi tahapan sistem menjadi 5 komponen, yaitu: pertama, Lingkungan pengendalian adalah adalah kondisi dalam Instansi pemerintah yang dapat membangun kesadaran semua personil akan pentingnya pengendalian dalam organisasi dalam menjalankan aktivitas yang menjadi tanggung jawabnya sehingga meningkatkan efektivitas pengendalian intern, kedua, Penilaian risiko, adalah kegiatan penilaian atas

kemungkinan kejadian yang mengancam pencapaian tujuan dan sasaran Instansi Pemerintah yang meliputi kegiatan identifikasi, analisis, dan mengelola risiko yang relevan bagi proses atau kegiatan organisasi, ketiga, Aktivitas pengendalian adalah tindakan yang diperlukan untuk mengatasi risiko serta penetapan dan pelaksanaan kebijakan dan prosedur untuk memastikan bahwa tindakan mengatasi risiko telah dilaksanakan secara efektif, keempat, Informasi dan komunikasi, Informasi adalah data yang telah diolah yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam rangka penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah. Komunikasi adalah proses penyampaian pesan atau informasi dengan menggunakan simbol atau lambang tertentu baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mendapatkan umpan balik, kelima, Pemantauan adalah proses penilaian atas mutu kinerja Sistem Pengendalian Intern dan proses yang memberikan keyakinan bahwa temuan audit dan evaluasi lainnya segera ditindaklanjuti. Peran Internal Auditor Keberhasilan implementasi Sistem Pengendalian Intern Pemerintah tidak dapat terlepas dari peran Internal Auditor. Internal Auditor atau Aparat Pengawasan Intern Pemerintah

(APIP). APIP memiliki peran yang penting dalam melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap berjalan atau tidaknya Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). Peran APIP yang efektif tersebut sekurang-kurangnya harus dilakukan dengan, pertama, Memberikan keyakinan yang memadai atas ketaatan, kehematan, efisiensi, dan efektivitas pencapaian tujuan penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah, kedua, Memberikan peringatan dini dan meningkatkan efektiftas manajemen risiko dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah, ketiga, Memelihara dan meningkatkan kualitas tata kelola penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah. SPIP Sebagai Alat Pencegahan Fraud Sistem Pengandalian Intern Pemerintah dapat juga digunakan sebagai alat untuk mendeteksi dan mencegah adanya kecurangan (Fraud). Dalam proses implementasi SPIP sebagaimana dijelaskan diatas dimulai dari lingkungan pengendalian, identifikasi risiko, analisis risiko yang selanjutnya untuk menghindari agar risiko tidak terjadi diperlukan suatu aktivitas pengendalian. Disinilah peran APIP sangat berarti agar kegiatan dapat berjalan tanpa hambatan yang berarti termasuk me-

mantau adanya indikasi Fraud. Pada dasarnya fungsi Pengendalian bertujuan untuk mengidentifikasi terjadinya deviasi atau penyimpangan atas pelaksanaan kegiatan dibandingkan dengan perencanaan sebagai umpan balik untuk melakukan tindakan koreksi atau perbaikan bagi pimpinan dalam mencapai tujuan organisasi. Secara luas fungsi pengendalian juga mencakup usaha pencegahan kemungkinan terjadinya suatu deviasi atau penyimpangan. Sistem pengendalian intern mencakup pengendalian yang bersifat preventif berupa perancangan suatu sistem pengendalian maupun pengendalian yang bersifat pendeteksian. Dengan demikian dapat diperoleh kesimpulan bahwa sistem pengendalian perlu dilengkapi pencegahan dan pendeteksian fraud. Untuk itu instansi pemerintah harus memiliki kerangka dalam mencegah dan mendeteksi terjadinya fraud dalam bentuk Fraud Control Plan. Sehubungan dengan keperluan ini maka yang sangat berperan dalam hal ini adalah APIP. Salah satu fungsi Internal Auditor (APIP) adalah berperan dalam pengamanan aset negara. Pengamanan aset ini penting karena kelalaian dalam pengamanan aset akan berakibat pada mudahnya terjadi pencurian, penggelapan, dan bentuk manipulasi lainnya terhadap aset yang dapat merugikan organisasi. Upaya pengamanan asset

ini, antara lain dapat ditujukkan dengan pembatasan individu yang dapat mengakses penggunaan aset, data dan informasi, penyediaan petugas keamanan, dan upaya pencegahan adanya Fraud. Kesimpulan Dewasa ini masih dijumpai kelemahan dan hambatan dalam pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern Instansi Pemerintah. Kondisi ini pula yang menjadikan penyebab terjadinya opini Disclaimer atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat oleh BPK. Oleh karena itu perlu dibangun suatu sistem yang dapat menunjang tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Untuk itu diterbitkan suatu standar sistem pengendalian intern di lingkungan instansi pemerintah, yang dapat menjadi pedoman bagi seluruh instansi pemerintah dalam melaksanakan pengendalian intern yaitu PP Nomor 60 Tahun 2008. Selanjutnya, sebagai tindakan Early Warning System, maka secara berkala sistem tersebut harus dievaluasi untuk mengetahui validitas serta berjalannya sistem dan untuk kepentingan itu diperlukan peran Internal Auditor (APIP). *Auditor Ahli Madya pada BPKP Pusat

Risywah (suap) Berbaju Hadiah Bagi Auditor (Tinjauan Yuridis-Ideologis)


Oleh: Khalilurrahman
Prolog Pekerjaan audit dan menjadi seorang auditor merupakan pekerjaan dan profesi yang mulia, jika pekerjaan dan profesi tersebut dilandasi niat ibadah bahwa pekerjaan audit merupakan bagian untuk menegakkan amar makruf nahi munkar. Dalam perannya menegakkan aturan dan hukum, seorang auditor tidak ubahnya laksana Hakim dalam suatu peradilan yang bertugas menegakkan aturan dan menetapkan hukum dengan seadil-adilnya. Pekerjaan audit dikatakan sebagai bagian dari pekerjaan amar makruf nahi munkar karena di dalamnya terdapat tindakan preventif atas potensi penyimpangan, penyelewengan, kecurangan, penipuan dan penyalahgunaan wewenang yang akan terjadi. Pekerjaan audit, ketika sampai di lokasi audit, biasanya diawali dengan entry briefing oleh ketua tim dan anggota tim bersama pihak auditi untuk menyampaikan maksud dan tujuan audit termasuk mengkomunikasikan jadwal perencanaan audit dan obyek auditi. Setelah audit selesai dilaksanakan maka pelaksanaan audit diakhiri dengan kegiatan expose atau pemaparan hasil audit. Persoalan yang muncul kemudian adalah setelah selesai audit, seringkali auditi memberikan hadiah atau bingkisan dengan beragam bentuk dan isinya dengan alasan yang beraneka ragam pula dengan bentuk Suap Menurut Undang-Undang dan Peraturan Dalam buku yang berjudul Tanya Jawab Hukum Pidana, R. Susilo mengklasifikasikan suap menjadi dua bagian. pertama, Suap Aktif (aktif omkooping) yaitu memberi hadiah atau perjanjian kepada seorang PNS dengan maksud hendak membujuk dia supaya dalam pekerjaannya berbuat dan mengalpakan sesuatu yang bertentangan dalam kewajiban dan atau menerima pemberian atau perjanjian sedang diketahuinya bahwa pemberian atau perjanjian itu diberikan kepadanya untuk melakukan suatu apa yang berlawanan dengan kewajiban. Suapan aktif ini diancam hukuman pasal 209 yaitu penjara selamalamanya 2 tahun 8 bulan atau pidana denda. Sanksi ini berlaku bagi PNS yang menerima suap, kedua, suap pasif yaitu menerima pemberian atau perjanjian sedang diketahuinya bahwa pemberian atau perjanjian itu diberikan kepadanya untuk membujuknya supaya dalam jabatannya melapemberian berupa uang yang dimasukan dalam amplop, makanan, minuman, pakaian, sarung, cinderamata, dan lain sebagainya. Bagaimanakah hukum Islam memandang hadiah atau bingkisan ini? Dan bagaimanakah sikap seorang auditor dalam menyikapi pemberian ini?.

kukan atau mengalfakan suatu apa yang berlawanan dengan kewajibannya. Bentuk suap jenis ini melanggar pasal 419 yang diancam dengan hukuman penjara selamalamanya 5 tahun. Sedangkan jika PNS yang menerima hadiah atau perjanjian, sedang ia tahu atau patut dapat menyangka bahwa apa yang dihadiahkan atau dijanjikan itu berhubung dengan kekuasaan atau hak jabatannya atau yang menurut pikiran orang yang menghadiahkan atau berjanji itu berhubung dengan jabatannya itu, dihukum dengan hukuman penjara 6 bulan. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Pasal 12 huruf a dinyatakan bahwa pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya dan pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya maka PNS atau penyelenggara negara tersebut dapat dikenakan hukuman pidana seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua pu-

luh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil pada pasal 3 angka (1) huruf h dinyatakan bahwa setiap Pegawai Negeri Sipil dilarang menerima hadiah atau sesuatu pemberian berupa apa saja dari siapapun juga yang diketahui atau patut dapat diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan. Sebagai sanksi hukuman atas pelanggaran PP 30 Tahun 1980 pasal 3 angka (1) huruf h, PNS yang bersangkutan dapat dikenakan PP 32 Tahun 1979 tentang Pemberhentian PNS Pasal 8 menyatakan bahwa Pegawai Negeri Sipil dapat diberhentikan tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil karena melanggar Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil, Sumpah/Janji Jabatan Negeri atau Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Suap Dibungkus Hadiah Bagi Auditor Pada era modern, sebutan suap (risywah) menjelma menjadi bermacammacam nama, sebutan, istilah bahkan ada yang menggunakan istlilah syari dan Islami yang tujuannya tiada lain untuk memperhalus nama dan agar kelihatan halal dan Islami, sehingga sulit lagi dibedakan mana yang benar-benar murni pemberian ikhlas

lillahi taala dan mana pemberian yang masuk kategori risywah (suap). Padahal penjelmaan dan penggantian sebutan, nama, istilah tersebut pada hakikatnya suap yang dilarang. Suap bagi seorang auditor agar menghilangkan seluruh atau sebagian temuan dan meringankan atau menghilangkan sanksi atau hukuman auditi dalam tinjauan hukum Islam hukumnya haram. Jika suap dilarang dan haram hukumnya, bagaimana dengan hadiah yang diberikan Auditi kepada Auditor setelah tugas audit selesai dilaksanakan. Perlu dijelaskan di sini, hadiah ditinjau dari sisi pemberi dan penerimanya terbagi menjadi tiga macam, Pertama, hadiah yang halal bagi pemberi dan penerima yaitu hadiah seseorang kepada kerabat, sahabat, orang tua, anak, saudara, guru demi terciptanya dan kelanggengan kasih sayang dan keakraban di antara mereka tanpa ada maksud mendapatkan keuntungan, kedudukan atau menghilangkan perkara atau mengurangi hukuman dan tidak ada hubungan jabatan antara keduanya. Apabila keduanya merupakan pejabat, maka pemberian itu sudah biasa diberikan sebelum keduanya menjabat dan kuantitas dan kualitas barang yang diberikan sama besarnya sebagaimana pemberian itu diberikan sebelum keduanya menjabat. Pemberian ini diperbolehkan dalam hukum Islam bahkan sangat dianjurkan, Kedua, hadiah yang halal bagi pemberi dan haram bagi penerima, yaitu hadiah yang diberikan seseorang yang terancam keselamatan jiwanya kepada seorang perampok atau

preman yang akan membunuhnya jika tidak memberikan harta bendanya. Si pemberi menjadikan hadiah sebagai bemper, tameng demi keselamatan jiwanya, dalam masalah ini, Ibnu Taimiyyah, dalam Fatawa, mengatakan jika seseorang memberi hadiah kepada orang yang berkompeten sebagai imbalan mencegah kedzaliman darinya untuk memberikan haknya yang mesti ditunaikan oleh penerima hadiah maka hadiah itu haram bagi penerima dan halal bagi pemberi, Ketiga, hadiah yang haram bagi kedua belah pihak, yaitu hadiah yang diberikan kepada seseorang dengan harapan hajatnya atau keinginannya dikabulkan. Hadiah dalam bentuk ketiga inilah yang penuh dengan muatan suap yang dikemas dengan baju syari (hadiah), baik dalam bentuk uang nominal atau barang konkrit. Ibnu Taimiyah, dalam Fatawa, mengatakan barangsiapa yang memberikan hadiah kepada penyelenggara negara untuk melakukan perbuatan yang tidak diperbolehkan (pelanggaran), maka hadiah tersebut haram bagi pemberi dan penerima. Hadiah disini identik dengan risywah yang diharamkan. Kita sering mendengar istilah-istilah syari dan positif dalam era globalisasi sekarang, seperti: bingkisan, uang kopi, uang rokok, amplop, oleh-oleh, uang tip, uang lembur, uang lelah, uang pembinaan, dan lain-lain. Realitasnya, suap berbaju hadiah ini sangat berpengaruh terhadap kualitas pelayanan pada masyarakat dan buruknya moral penyelenggara dan pejabat

negara. Maraknya risywah berkedok hadiah inilah yang membuat khalifah Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang terkenal kezuhudannya yang juga merupakan cucu Khalifah Umar ibn Khattab, menolak hadiah yang diberikannya saat kunjungan kenegaraan ke Syam dan mengembalikannya seraya berkata: Hadiah seperti itu relevan pada masa Rasulullah SAW, tetapi sekarang (masa Umar bin Abdul Aziz) berubah menjadi risywah (suap). Rasulullah SAW telah mengingatkan melalui sabdanya Hadaya alUmmal ghulul artinya hadiah para penyelenggara negara adalah korupsi (H.R.Ahmad). Dalam Hadits lain, Beliau bersabda yang artinya barangsiapa yang kami angkat menjadi pegawai dengan gaji resmi, maka sesuatu yang diambil setelah gaji resmi itu adalah korupsi (H.R. Abu Daud). Dari berbagai riwayat dan keterangan di atas menunjukan bahwa bingkisan, hadiah yang diterima pegawai/penyelenggara negara setelah gaji atau tunjangan resmi adalah masuk kategori suap yang tidak halal diambil meski dengan berbagai istilah dan nama syari. Islam melarang praktek suap menyuap dalam bahasa apapun. Risywah yang berkedok hadiah tidak menjadikan dia halal atau haram. Auditor adalah pegawai negeri yang diangkat oleh pemerintah, diberi tugas untuk melakukan audit dan mendapatkan gaji resmi dari pemerintah (termasuk tunjangan fungsional auditor dan uang perjalanan dinas). Oleh karena Auditor telah

mendapatkan gaji resmi dari pemerintah maka berdasarkan keterangan di atas, tidak halal bagi auditor menerima hadiah dengan berbagai sebutan, nama dan istilah dari auditi. Hadiah dari auditi, jika dianalisis secara yuridis, maka hadiah yang diberikan auditi kepada auditor adalah pemberian yang berkenaan dengan jabatan dan tugas negara dan hal ini telah dilarang oleh PP 30 Tahun 1980 huruf h dalam larangan bagi PNS. Logikanya, ketika seorang auditor tidak sedang melaksanakan tugas audit (misalnya sedang dalam acara berlibur atau kunjungan keluarga), apakah pihak auditi berinisiatif memberikan hadiah, bingkisan atau oleh-oleh kepada auditor tersebut. Boleh jadi, jangankan memberi hadiah penyediaan dan pelayanan transportasi saja juga belum tentu berkenan. Kemudian, perlu dicermati dan disadari, bahwa hadiah tersebut dibeli dengan dana negara/pemerintah yang alokasi dana tersebut sesungguhnya untuk pelaksanaan tugas fungsi auditi bukan untuk pembelian hadiah bagi auditor. Hal ini berakibat, pelaksanaan tugas fungsi auditi terhambat disebabkan pihak auditi mengupayakan dana, bahkan memaksakan diri pembelian hadiah untuk para auditor. Kondisi ini terjadi disebabkan masih terjadi kesalahan penempatan budaya, khususnya budaya menghormati tamu. Padahal menghormati tamu, terlebih tamu tersebut adalah pejabat negara, tidak perlu berlebihan dengan adanya pemberian/hadiah yang jelas-jelas melanggar ketentuan.

Pemberian Uang Tunggu Bagi PNS


Oleh: Achmad Ghufron

Sambil menunggu status kepegawaian terhadap PNS yang terkena dampak sebagai akibat adanya penyederhanaan organisasi sehingga adanya kelebihan pegawai, menderita sakit yang berbahaya atau telah berakhirnya cuti sakit tapi belum sembuh, atau telah menjalani cuti di luar tanggungan negara ternyata tidak bisa ditempatkan karena tidak ada formasi, sedangkan usia dan masa kerja belum mencukupi untuk pensiun, maka diberikan uang tunggu. Terhadap PNS yang terkena/ termasuk kelebihan pegawai sebagai akibat dari adanya penyederhanaan organisasi atau hasil penilaian analisis tentang standardisasi jumlah pegawai di lingkungan unit kerja, diberikan uang tunggu (dirumahkan bagi pegawai swasta). Di samping kelebihan pegawai karena penyederhanaan organisasi, uang tunggu juga diberikan terhadap PNS yang menderita sakit yang berbahaya bagi diri sendiri maupun lingkungan, atau setelah selesai menjalani cuti sakit selama 1 tahun 6 bulan tetapi belum sembuh, atau setelah menjalani cuti di luar tangungan negara bukan untuk persalinan anak keempat dan seterusnya tetapi tidak bisa dipekerjakan lagi karena tidak tersedianya formasi (lowongan). Uang tunggu tersebut diberikan, apabila usia dan masa kerja belum mencukupi untuk diberhentikan dengan hormat dengan hak pensiun. Apabila setelah selesai menjalani uang tunggu ternyata usia dan masa kerja sudah terpenuhi untuk pensiun, maka PNS ybs. dapat diberhentikan dengan hak pensiun, sebaliknya apabila usia dan masa kerja belum terpenuhi, maka hanya diberhentikan dengan hormat tanpa hak pensiun, tetapi menerima hak-hak kepegawaian lainnya. Masa menjalani uang tunggu adalah masa penantian dalam waktu tertentu agar dapat mencapai batas usia dan masa kerja pensiun, atau masa penantian untuk tersedianya formasi (lowongan) untuk mengisi jabatan negeri, status uang tunggu masih tetap sebagai PNS, oleh karena itu hak-haknya sama seperti PNS lainnya kecuali tunjangan jabatan.

Persyaratan Sesuai dengan Surat Edaran Kepala BKN No. 04/SE/1980 tanggal 11 Februari 1980 sebagai pelaksanaan PP No. 32 Tahun 1979, uang tunggu diberikan kepada PNS yang diberhentikan dengan hormat dari jabatan negeri, dikarenakan: 1. Kelebihan tenaga sebagai akibat dari adanya penyederhanaan struktur organisasi sehingga terjadi penciutan jumlah pegawai yang tidak dapat disalurkan ke instansi lainnya. Dengan perubahan struktur berupa penyederhanaan organisasi sebagai langkah efektif dan efisien, berakibat adanya pegawai yang tidak mendapat job (jabatan negeri) yang berarti kelebihan pegawai, padahal sesuai dengan PP No. 54 Tahun 2003 pengangkatan pegawai/penempatan pegawai adalah untuk mengisi formasi yang telah disusun sesuai dengan kebutuhan organisasi. Untuk menghindari adanya pegawai tanpa jabatan/tanpa tugas-tugas yang jelas, maka perlu diistirahatkan, diberikan uang tunggu. 2. Menderita sakit atau kelainan yang membahayakan dirinya sendiri atau lingkungan kerjanya, Kondisi pegawai yang menderita sakit yang membahayakan dirinya sendiri atau lingkungan kerjanya, akan mengganggu kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi sehingga rencana/program kerja yang te-

lah disusun tidak dapat dilaksanakan secara maksimal, oleh karena itu pegawai yang bersangkutan perlu diberikan uang tunggu, 3. Setelah selesai menjalani cuti sakit ternyata belum sembuh. Cuti sakit diberikan apabila pegawai menderita sakit minimal selama 3 (tiga) hari dan selama-lamanya 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan, jika belum sembuh harus diperiksakan oleh dokter yang ditunjuk oleh Menkes atau tim penguji kesehatan. Apabila dari hasil pemeriksaan dokter/tim penguji kesehatan ternyata tidak bisa dipekerjakan lagi, maka diberikan uang tunggu. 4. Setelah selesai menjalani cuti di luar tanggungan negara tidak bisa dipekerjakan lagi, cuti di luar tanggungan negara bukan untuk persalinan anak ke empat dan seterusnya, diberikan selama-lamanya 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang 1 (satu) tahun lagi. Apabila setelah menjalani cuti di luar tanggungan negara tersebut ternyata tidak bisa dipekerjakan kembali, karena formasi (lowongan) tidak ada, maka pegawai yang bersangkutan diberikan uang tunggu. 5. Belum memenuhi syarat usia dan masa kerja pensiun. Berdasarkan UU No. 11 Tahun 1969 tentang Pensiun Pegawai dan Pensiun Janda/ Duda, dan PP No. 32 Tahun 1979 tentang Pemberhentian PNS, antara lain dinyatakan, bahwa syarat usia dan ma-

sa kerja untuk pensiun, adalah: a. berusia 56 (lima puluh enam) tahun, dengan masa kerja 10 (sepuluh) tahun; b. berusia 50 (lima puluh) tahun, dengan masa kerja 20 (dua puluh) tahun; c. berusia 50 (lima puluh) tahun, dengan masa kerja 10 (sepuluh) tahun, tetapi harus melalui proses uang tunggu; d. masa kerja 4 (empat) tahun , apabila setelah menjalani cuti sakit 1 (tahun) 6 (enam) bulan ternyata menurut keterangan dokter tidak bisa dipekerjakan lagi, e. meninggal dunia atau tidak bisa bekerja lagi dikarenakan kecelakaan/sakit akibat dinas. Waktu, Kewajiban dan Hak Sampai kapan/berapa lama pemberian uang tunggu, dan kewajiban apa yang harus dipenuhi, serta hak apa saja yang harus diterima penerima uang tunggu. Berdasarkan Surat Edaran Kepala BKN No. 04/SE/1980 tanggal 11 Pebruari 1980 angka X nomor 2, antara lain : 1. Waktu, Uang tunggu diberikan selama-lamanya 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang setiap kali selama-lamanya 1 (satu) tahun, dengan ketentuan tidak boleh lebih dari 5 (lima) tahun. Apabila setelah 1 (satu) tahun ada lowongan (formasi), maka bisa diangkat kembali ke dalam jabatan negeri, sebaliknya kalau formasi tidak ada, maka bisa diperpanjang setiap kali

1 (satu) tahun sampai waktu paling lama 5 (lima) tahun. Setelah selesai menjalani uang tunggu selama 5 (lima) tahun, maka: a. Apabila ada lowongan (formasi), bisa diangkat kembali dalam jabatan negeri, tetapi jika yang bersangkutan tidak bersedia, maka diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil terhitung mulai tanggal akhir bulan sejak yang bersangkutan menolak diangkat kembali, b. Apabila tidak bisa diangkat kembali dalam jabatan negeri atau tidak bersedia untuk diangkat kembali dalam jabatan negeri, yang bersangkutan telah berusia 50 tahun dengan masa kerja sekurang-kurangnya 10 tahun, maka diberhentikan dengan hak pensiun, c. Apabila tidak bisa diangkat kembali dalam jabatan negeri atau tidak bersedia untuk diangkat kembali dalam jabatan negeri, yang bersangkutan belum 50 (lima puluh) tahun tetapi telah mempunyai masa kerja minimal 10 tahun, maka diberhentikan dengan hak pensiun pada saat yang bersangkutan mencapai usia 50 tahun, sebelum usia 50 tahun hanya diberhentikan dengan hormat tanpa hak pensiun sampai berusia 50 tahun, d. Apabila tidak bisa diangkat kembali dalam jabatan negeri atau tidak bersedia untuk diangkat kembali dalam jabatan negeri, yang bersangkutan belum berusia 50

(lima puluh) tahun, dan masa kerja belum 10 tahun, maka diberhentikan dengan hormat sebagai PNS tanpa hak pensiun. 2. Kewajiban dan Hak, PNS yang menerima uang tunggu diwajibkan: a. melaporkan diri kepada pejabat yang berwenang, setiap kali selambatlambatnya sebulan sebelum berakhirnya pemberian uang tunggu, b. bersedia diangkat kembali pada suatu jabatan negeri, c. meminta izin kepada pimpinan instansinya, apabila pindah alamat di luar wilayah pembayaran, d. karena penerima uang tunggu masih berstatus sebagai PNS maka berhak atas gaji, kenaikan gaji berkala, tunjangan keluarga, dan tunjangan pangan. Besarnya gaji PNS yang menerima uang tunggu, adalah: a. 80 % dari gaji pokok untuk tahun pertama, b. 75 % dari gaji pokok untuk tahun-tahun berikutnya (2 s.d. 5 tahun), c. uang tunggu diberikan mulai bulan berikutnya, sejak yang bersangkutan diberhentikan dengan hormat dari jabatan Negeri.

Kesimpulan Pertama, Uang tunggu diberikan apabila adanya kelebihan pegawai sebagai akibat penyederhanaan organisasi, setelah cuti sakit selama 1 tahun 6 bulan sembuh atau menderita sakit yang membahayakan, setelah selesai cuti di luar tanggungan negara maksimal 5 tahun, belum mencapai usia pensiun, masa kerja belum mencukupi, maka diberikan uang tunggu, kedua, Penerima uang tunggu harus dibebaskan sementara dari jabatan negeri, tetapi masih berstatus sebagai PNS, dan berhak atas gaji, KGB, tunjangan keluarga dan tunjangan pangan, ketiga, Penerima uang tunggu setelah selesai menjalani uang tunggu bisa diangkat kembali dalam jabatan negeri apabila formasi tersedia, apabila formasi tidak tersedia, maka berhak diberhentikan dengan hak pensiun jika memenuhi syarat-syarat usia dengan masa kerja pensiun.

Jangan sampai kita terlena untuk memenuhi kekayaan duniawi yang sifatnya hanya sementara saja, hingga kita lupa akan tugas kita yang sesungguhnya di dunia ini yaitu mengumpulkan perbekalan untuk menuju kampung akhirat yang kekal. Jadi perkayalah diri Anda baik dengan materi maupun dengan ruhani, dan bagikan kekayaan tersebut kepada orang-orang yang ada disekitar Anda, terutama yang lebih membutuhkan.

Realitas Pelayanan Haji di Arab Saudi Antara Tantangan dan Harapan


Oleh: Kusoy*
Presiden RI DR. Susilo Bambang Yudoyono, di awal pemerintahannya pernah membuat kontrak politik dengan kabinetnya termasuk dengan Menteri Agama DR. H. Muhammad Maftuh Basyuni berupa Peningkatan Pelayanan Haji. Setiap tahun jajaran Departemen Agama berupaya terus berusaha meningkatkan hak maksimum jamaah haji sesuai dengan kontrak tersebut agar jamaah haji bisa terlayani dengan baik. Namun, setiap pelaksanaan selalu saja ada kekurangan dan permasalahan yang timbul yang dapat menurunkan citra dan wibawa Departemen Agama. Beberapa catatan yang sempat penulis rekam saat bertugas melakukan pemantauan pelayanan pelaksanaan haji di Arab Saudi tahun 2008 dari mulai pelayanan pemondokan, kesehatan, transportasi, catering, pelayanan umum di Armina, Mekah, Medinah dan Jeddah. Tidak terpenuhinya hak maksimum jamaah dengan penyebab utamanya adalah pelebaran halaman/pelataran Masjidil Haram yang mengakibatkan dihancurkannya lebih dari seribu hotel di lingkungan Masjdil Haram dan berimbas kepada jauhnya pemondokan jamaah haji serta naiknya harga pemondokan karena terjadinya persaingan harga antar negara yang mengirimkan calon jamaah haji ke Arab Saudi. Buntutnya, ada tanggapan yang beraneka ragam dari masyarakat termasuk dari beberapa anggota DPR yang menginginkan pelayanan lebih maksimum. Ada beberapa hal yang menyebabkan ketidaknyamanan pelaksanaan pelayanan jamaah haji, antara lain: Pemondokan Jemaah Pemondokan jamaah merupakan hal sangat urgent dalam pelayanan jamaah, ternyata masih terdapat hal-hal yang perlu mendapat perhatian serius, yaitu adanya lokasi perumahan yang jauh dari masjidil haram dengan jarak tempuh terjauh 8 km menurut google, sehingga tidak terpenuhinya hak maksimum jemaah untuk beribadah ke Masjidil Haram setiap waktu sholat. Lokasi yang jauh seperti Syauqiyah, Kholidiyah, Kakiah dan Awali merupakan tempat hunian baru yang masih jarang penduduk dan fasilitas pertokoan untuk kebutuhan pokok jemaah. Jumlah rumah berdasarkan data Teknis Urusan Haji (tim perumahan) sebanyak 613 rumah dengan kapasitas 201.059 orang, dengan rincian Ring I sebanyak 90 rumah (14,68%) di 12 wilayah dengan kapasitas 32.035 orang (15,92%), dan di Ring II sebanyak 524 rumah (85,48%) di 15 wilayah dengan kapasitas 169.063.orang (84.08%). Selanjutnya terdapat tenaga tim perumahan yang belum berfungsi secara maksimal sesuai dengan keharusannya, dan adanya pemadatan dalam penempatan jemaah di pe-

mondokan yang disebabkan beberapa hal, antara lain, penempatan jamaah di pemondokan yang berbeda dalam satu kloter atau rombongan dan terpisahnya jamaah dalam kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH), sehingga lebih memilih berdesak-desakan dalam kamar dari pada harus berpisah. Selanjutnya masih terdapat rumah yang kondisinya belum siap untuk ditempati saat mendekati kedatangan jemaah, antara lain disebabkan karena ketidaksiapan pemilik rumah, dan tidak sesuai dengan pedoman penyewaan rumah dimana kapasitas minimal 180 orang, berdasarkan pengecekan terdapat 110 rumah (17,95%) yang dikontrak tidak sesuai dengan kapasitas minimal tersebut. dan ketidaksiapan pemondokan yang dikelola oleh Majmuah Mawaddah di Madinah, di mana majmuah ini tidak mampu menyediakan pemondokan sesuai dengan perjanjian sehingga jemaah yang telah sampai airport Madinah harus menunggu lebih lama sampai mendapatkan pondokan. Itu pun setelah Kementerian Haji turun tangan mengusahakan pencarian pondokan sebagai pengganti dengan pembayaran tetap menjadi beban Majmuah Mawaddah. Kesehatan Jemaah Terdapat rasio petugas dengan jumlah jemaah tidak merata, pembagian petugas dibagi secara merata di tiap sektor, padahal jumlah kloter setiap sektor berbeda ada yang banyak ada yang sedikit, sehingga berpengaruh terhadap pelayanan yang diberikan oleh petugas, buku kesehatan jemaah diisi dengan data kesehatan

yang kurang akurat dan riil, sehingga dokter tidak bisa memantau kondisi kesehatan jemaah secara cepat dan pasti. Seharusnya para jemaah membawa rekam medic dari daerah asalnya untuk memudahkan pemantauan dokter, terutama untuk jemaah resiko tinggi, bahkan terdapat kasus adanya dua kloter yang tidak ada dokter kloternya. Hal ini disebabkan ada penambahan kloter sementara rekruitment petugas kesehatan sudah selesai dilaksanakan. Pemanfaatan tempat tidur pasien belum semuanya dipergunakan secara optimal, tempat tidur tersebut masih diletakkan di lantai satu gedung kantor sektor. Hal ini disebabkan ruang pelayanan kesehatan terletak di lantai dua yang kondisi liftnya kecil tidak bisa membawa tempat tidur tersebut ke lantai dua. Transportasi Jemaah Salah satu yang menyebabkan kurang terlayaninya hak maksimum jamaah pada pelayanan transportasi dari pemondokan ke masjidil haram. Ada beberapa persoalan, antara lain jumlah armada yang beroperasi di 11 pos tidak sesuai dengan yang direncanakan. Seperti kasus di pos 8, dari 40 bis yang direncanakan hanya 22 bis yang beroperasi. Dan sebelum armina hanya 5 bis yang benar-benar aktif karena sopirnya menghilang bersama bisnya, lokasi pos yang cukup jauh dari rumah jemaah kira-kira 1 km membuat jemaah agak lelah ke pos, ditambah lagi dengan tidak tepatnya waktu berangkat bis tersebut, dan banyak kendala yang dialami

berkaitan dengan kondisi sopir bis yang berasal dari Mesir. Kendala yang utama adalah kurangnya komunikasi karena tidak memahami bahasanya, kemudian kurang menguasai lapangan, malas terutama di waktu pagi/subuh, tidak mau mengantar jemaah sampai ke rumah apalagi dengan lokasi yang berliku-liku dan sulit dijangkau kendaraan, kelelahan supir karena tidak ada pengganti (satu bis satu supir). Katering Jemaah Ada persoalan terkait dengan pelayanan katering, yaitu tidak semua maktab menyediakan air mineral selama 24 jam, sehingga untuk memenuhi kebutuhan jemaah airnya diambilkan dari kran yang terletak di kamar mandi walaupun oleh pihak Muassasah telah di klarifikasi bahwa air kran yang diminum oleh jemaah adalah air steril dan layak untuk diminum. Pemahaman dari pelaksana katering tentang jumlah coffee shop yang harus disediakan dan selama 24 jam tidak sama karena sebagian maktab beranggapan coffee shop hanya disediakan untuk setiap kali makan dan jumlahnya tidak sama dengan jumlah buffet yang disediakan, untuk itu perlu penekanan di dalam kontrak. Selanjutnya, tidak adanya pembatas antar maktab di Mina sehingga jemaah haji bebas makan di mana saja, untuk itu perlu penekanan di dalam kontrak bahwa setiap maktab harus membuat tanda untuk tempat makan jemaahnya, contoh: buffet satu maktab satu, dan di Mina terdapat satu dapur melayani dua maktab, se-

hingga makanan selalu terlambat masaknya, jemaah sudah antri kehabisan makanan dan harus menunggu masaknya nasi atau lauk, perlu penekanan ke pihak Muassasah bahwa satu dapur (tujuh kompor ) hanya dapat melayani satu maktab, mengingat kapasitas satu dapur maksimal melayani 2500 s.d 3000 jemaah, dan perangkat kloter tidak mampu mengendalikan jemaah untuk antri makan per rombongan sehingga tetap terjadi antrian panjang serta tidak adanya pemberitahuan kepada jemaah tentang jadwal penyajian makanan dan menu yang akan dihidangkan, sehingga banyak jemaah yang tidak tahu jadwal makan untuk disesuaikan dengan jadwal melontarnya. Guna meningkatnya pelayanan yang memadai, kepada petugas yang berada di Mina Jadid dan sekitar Jamarrat sebaiknya diberikan dalam bentuk uang sebagai pengganti jatah makannya, untuk mengantisipasi sulitnya mengirimkan makanan karena jalan tertutup bagi kendaraan roda empat dan roda dua, pembagian nasi instan kepada jemaah sebaiknya tidak diberikan lagi, karena sebagian besar jemaah tidak mengkonsumsinya. Nasi instan tersebut ditinggalkan di rumah-rumah atau di sektor-sektor, perlu penekanan dalam kontrak katering tentang standar pelayanan buffet, peralatan penyajian agar ada keseragaman antar maktab dalam melayani jemaah, dan perlu koordinasi dan pembagian tugas yang jelas untuk para koordinator maktab dan para penghubung katering di maktab-maktab, untuk memantau

pelayanan katering armina, serta meningkatkan kualitas menu dan porsinya baik untuk jemaah maupun untuk petugas, dan menu katering sebaiknya disesuaikan dengan citarasa masakan Indonesia dan memenuhi standar kesehatan, dan untuk kelancaran antrian makan jemaah, baik di Arafah maupun Mina yang kapasitasnya lebih dari empat ratus jemaah, maka diusulkan diberikan dua meja buffet, sedangkan yang kapasitasnya dibawah tiga ratus jamaah cukup satu meja buffet dan dalam kontrak dimasukan pasal sanksi terhadap pelaksana katering yang melanggar ketentuan yang tercantum didalam kontrak. Pelayanan Umum Salah satu pelayanan umum yang menjadi perhatian misi haji Indonesia adalah pelayanan jamaah yang tersesat jalan. Jumlah jemaah sesat jalan yang berhasil didata oleh Daker Mekkah s.d. 3 Desember 2008 berjumlah 1.759 orang jemaah. Jumlah jemaah yang sesat jalan paska Armina selama tiga hari mencapai dua ratus orang jemaah. Dimana sebagian besar mereka sudah kelelahan dan enggan untuk melanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki karena lokasi pemondokan yang cukup jauh, banyaknya jumlah jemaah yang sesat jalan di setiap sektor, di Daker atau di Masjidil Haram sebagian besar disebabkan karena jauhnya lokasi pemondokan dan transportasi yang sulit. Banyak jemaah yang naik taksi namun diturunkan di tempat yang salah, karena kesulitan komunikasi dengan sopir taksi, dan belum dikenalnya

daerah tujuan jemaah, dan sosialisasi dan informasi yang sangat sedikit mengenai lokasi rumah jemaah sehingga masih banyak jemaah yang tersesat. Tidak ada kartu nama, buku atau pemberitahuan mengenai alamat rumah, sektor, atau peta kota mekkah yang lengkap sebagai panduan jemaah ketika pergi ke Masjidil Haram. Untuk peningkatan pelayanan jamaah perlu menambah personil secara proporsional di tempat-tempat strategis di Masjidil Haram untuk memberi petunjuk bagi jemaah yang membutuhkan informasi, memberi tanda khusus, seperti balon udara merah putih sehingga terlihat dari jauh keberadaan posko Indonesia, menyediakan tenaga dokter dan paramedis di sektor jemaah yang tersesat untuk mengantisipasi jemaah yang tersesat dan sakit atau kelelahan, menambah kendaraan yang lebih sedang atau kecil sehingga mudah masuk ke jalan sekitar Masjidil Haram yang sangat padat, menambah tenaga pengamanan di setiap sektor minimal dua

jam sekali digilir di tiap rumah yang menjadi tanggung jawabnya, dan memaksimalkan tugas haris yang berada di setiap rumah, memberikan instruksi yang jelas terhadap tanggung jawab haris, serta melakukan sosialisasi di tanah air mengenai rumah dan sektorsektor di Mekkah, serta pemberian buku saku kepada para jemaah yang berisi informasi tentang keberadaan rumah, denah, alamat jelas, dan tempat-tempat penting di Mekkah. *Tim Investigasi Haji Depag 2008/2009

Budaya Kerja Sebagai Pondasi Reformasi Birokrasi


Oleh: M. Abidzar Saat wacana reformasi diusung dengan ditandai jatuhnya pemerintahan yang dipimpin oleh presiden Soeharto, setidaknya terdapat enam agenda yang harus segera dikerjakan, untuk mengembalikan Indonesia pada jalur yang benar. Agenda reformasi tersebut adalah penegakan supremasi hukum, pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), pengadilan mantan Presiden Soeharto, amandemen konstitusi, pencabutan dwifungsi ABRI, serta pemberian otonomi daerah seluasluasnya. Implementasi dari agenda reformasi tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2004-2009 yang mengamanatkan bahwa agenda pembangunan nasional adalah menciptakan tata pemerintahan yang baik dan bersih (good governance and clean governance). Pilar tata pemerintahan yang baik antara lain terwujudnya partisipasi masyarakat, penegakan hukum, keterbukaan, dan akuntabilitas. Oleh karena itu diperlukan perangkat kebijakan yang terarah dan sinergis pada perubahan kelembagaan dan sistem ketatalaksanaan serta peningkatan kualitas sumber daya aparatur negara. Keterpaduan antara sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan dengan meningkatnya kualitas sumber daya aparatur negara sudah merupakan suatu keharusan untuk segera direalisasikan mengingat semakin derasnya tuntutan masyarakat terhadap kinerja aparatur negara, satu hal yang harus disadari bahwa sebaik-baiknya sistem dalam rangka pembangunan suatu bangsa tidak akan berjalan baik tanpa integritas tinggi yang melekat dalam diri setiap aparatur negara. Tuntutan masyarakat terhadap profesionalisme aparatur negara harus segera dijawab dengan melakukan reformasi birokrasi yang terukur dan terencana di setiap lembaga negara, Departemen Agama sebagai salah satu lembaga negara yang bertugas melaksanakan sebagian urusan pemerintahan di bidang agama telah mempersiapkan diri dengan dikeluarkannya Instruksi Menteri Agama Nomor 1 Tahun 2008 tentang Percepatan Pelaksanaan Reformasi Birokrasi di lingkungan Departemen Agama. Reformasi Birokrasi di lingkungan Departemen Agama dapat di-

mulai dengan melaksanakan penataan organisasi yang meliputi penerapan budaya kerja aparatur, modernisasi organisasi, pemisahan, penggabungan, dan penajaman fungsi organisasi. Penataan Sumber Daya Aparatur Departemen Agama dengan penerapan budaya kerja Aparatur Departemen Agama menjadi konsekuensi logis sebagai pondasi Reformasi Birokrasi di lingkungan Departemen Agama. Dengan masuknya nilai-nilai budaya dalam lingkup managemen pekerjaan diharapkan akan terjadi peningkatan kualitas sumber daya aparatur, kualitas cara kerja dan kualitas hasil kerja. Dalam pengembangan Budaya Kerja terdapat unsur-unsur penting yang saling berinteraksi yaitu: nilai dasar, sistem kerja, aparatur, dan lingkungan yang saling mempengaruhi. Semua unsur itu menjadi satu mata rantai proses yang saling terkait dimana suatu hasil pekerjaan menjadi suatu masukkan bagi proses pekerjaan lainnya. Budaya Kerja Budaya secara harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang, sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia budaya berarti pikiran, akal budi, dan

daya (kemampuan, kekuatan dan potensi), sedangkan kerja berarti kegiatan melakukan sesuatu, sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah. Budaya Kerja adalah keseluruhan cara bekerja, cara berpikir dalam bekerja dan pandangan kerja untuk menghasilkan cita-cita pekerjaan berdasarkan nilai agama, kebenaran, keadilan dan kemanusiaan Istilah Budaya Kerja sudah lama dikenal oleh umat manusia, namun belum disadari bahwa keberhasilan seseorang ataupun organisasi dalam bekerja itu berakar pada nilai-nilai yang dimiliki dan dijunjung tinggi sehingga menjadi pedoman yang akhirnya menjadi kebiasaan dalam memenuhi tanggung jawab kerja. Oleh karena budaya tersebut diatas dikaitkan dengan kualitas kerja maka dinamakan Budaya Kerja Budaya kerja merupakan suatu komitmen suatu organisasi dalam upaya membangun kualitas sumber daya manusia dalam proses kerja menuju hasil kerja maksimal. Untuk mencapai hasil yang maksimal tersebut diharapkan bersumber dari setiap individu yang terkait dengan organisasi kerja itu sendiri. Setiap fungsi atau proses kerja mempunyai perbedaan cara kerja, yang akan mengakibatkan berbedanya nilai-nilai yang cocok untuk diterapkan sebagai pedoman kerja organisasi ker-

ja, misalnya nilai-nilai yang sepatutnya Budaya Kerja Sebagai Pondasi Reharus di miliki oleh staf pelaksana sam- formasi Birokrasi pai pimpinan puncak dan bagaimana Di dalam prosesnya untuk meprilaku setiap orang dapat mempe- ngembalikan Indonesia ke jalan yang ngaruhi kinerja mereka. Akhirnya bu- benar, reformasi birokrasi menjadi sadaya kerja merupakan suatu proses lah satu agenda potensial gerakan retanpa akhir atau terus-menerus. formasi di Indonesia, untuk mewujudKonsep kannya diperbudaya kerja lukan pondasi AKIBAT=? menjadi kemyang kuat. PENGELOLAAN SDA LOKAL SENDIRI bali dikenal dan reformasi bidisadari pada rokrasi layakSENTIMEN DAERAH RAJA KECIL saat Jepang nya sebuah K. KEPERCAYAAN berhasil bangkit bangunan dari keterpurukmembutuhkan K. KEPEMIMPINAN K. EKONOMI an setelah kasuatu pondasi/ K. HUKUM lah pada pedasar untuk rang dunia dedapat berdiri ngan sekutu. tegak dan taK. ETIKA K. MORAL Jepang han terhadap K. ILMU K. BUDAYA K. SOSIAL berhasil megangguan selakukan manakalipun itu terSEBAB=? jemen kerja paan badai torKet: K= Krisis Gambar: Kondisi Strategis Permasalahan Bangsa yang berakar nado. dan bersumber Gambar dari budaya asli Bangsa Jepang dipa- di atas menjelaskan kepada kita dukan dengan teknik-teknik manaje- tentang pentingnya menjaga keutuhan men modern pada sekitar tahun 1970- pertahanan dan keamanan bangsa an. melalui pelestarian budaya bangsa, Keberhasilan Jepang bangkit oleh karena itu layaklah apabila manadari keterpurukan perekonomian men- jemen kerja yang di ambil dari budaya dorong negara lain mencoba untuk me- bangsa dijadikan pondasi reformasi ngembangkan diri dengan cara-cara birokrasi, untuk mewujudkan cita-cita yang disesuaikan dengan ciri budaya reformasi tahun 1998. bangsa masing-masing.

Profesionalitas Manajemen Sebagai Formulasi Meminimalisir Korupsi


Oleh: Farida Nugrahini Menghilangkan korupsi bukan- penegak hukum dan mempertanglah perkara mudah karena ia telah berurat berakar dan menjalar kemanamana di negeri kita ini. Tidak semua orang rela jalan pintasnya untuk kaya diungkit-ungkit. Adalagi yang menjelaskan mereka korupsi kecil-kecilan karena terpaksa oleh keadaan. Gaji kecil yang tidak mencukupi untuk hidup yang layak dari bulan ke bulan menjadi alasan untuk membenamkan diri. Apalagi kalau hampir semua orang di tempat itu telah menganggap hal itu adalah hal yang biasa. Tahu sama tahu, untuk tidak mengatakan atasan mereka juga melakukan hal yang sama. Pernyataan yang dapat diartikan bahwa korupsi adalah sesuatu yang wajar dan diwajarkan. Hal ini menisbatkan pula bahwa jika ada kasus korupsi yang diblowup besar-besaran, maka akan selalu diikuti dengan kenyataan bahwa akan ada fakta dan bukti tentang korupsi yang gugur meski jelas dari pemikiran awam bahwa fakta itu mengandung kebenaran. Korupsi merupakan kejahatan sempurna bukan epos tentang penjahat yang tidak pernah tertangkap gungjawabkannya dengan menjalani hukuman. Kejahatan sempurna adalah kejahatan terorganisasi dan dilakukan oleh pengambil keputusan dari institusi legal. Institusi yang rentan untuk melakukannya adalah aparatur negara. Kita dapat melihat betapa banyak pejabat pemerintah, mulai dari lurah hingga pejabat esselon satu hidup mewah. Namun kenyataan yang didapati hidup mewah tersebut, kebanyakan bukan dari gaji yang seharusnya mereka terima dari pekerjaan. Namun banyak dari usaha-usaha lain yang memanfaatkan kekuasaan dari jabatan yang mereka miliki. Persis seperti pemahaman dasar korupsi, perilaku korupsi adalah mengambil secara tidak jujur perbendaharaan milik publik atau barang yang diadakan dari pajak yang dibayarkan masyarakat untuk kepentingan memperkaya dirinya sendiri. Korupsi adalah tingkah laku yang menyimpang dari tugas-tugas resmi suatu jabatan secara sengaja untuk memperoleh keuntungan berupa status, kekayaan atau uang

untuk perorangan, keluarga dekat atau kelompok sendiri. Keadaan ini juga bukan monopoli pejabat pemerintah/BUMN, banyak para pejabat swasta pun ikut main. Mulai dari CEO, direktur, manajer pengadaan, manajer keuangan, konsultan mereka bekerjasama menggerogoti uang perusahaan dengan berbagai cara dari yang halus hingga yang kasar. Gurita KKN ada dimana mana, disemua sektor, disemua tingkatan, disemua golongan, disegala profesi, siap memangsa apa saja yang dapat dijarah. Dewasa ini, sebagian besar peluang terjadinya KKN di atas timbul karena adanya proyek. Dikalangan pemerintahan hampir semua proyek diKKNkan. Proyek bantuan Bank Dunia untuk kesehatan, proyek pengadaan buku, proyek rehabilitasi jalan, proyek bantuan bencana alam, bahkan proyek keagamaan pun dikorup. Di swasta mulai dari proyek mendirikan pabrik, properti, perkebunan, kehutanan, pariwisata, perluasan pabrik, cetak mencetak, pembelian besar tidak terlewatkan dari KKN. Boleh dikatakan semua pihak yang terlibat ikut gabung memudahkan terjadinya korupsi dan kolusi. Persekongkolan ini begitu kompaknya

sehnigga secara administratif dikemas sesuai dengan peraturan dan ketentuan. Tapi kalu kita mau jeli melihat hubungannya, jelas terjadi pembengkakan harga atau mutu yang dicatut. malahan dari hulu KKN terjadi antara pemilik proyek dengan pejabat bank dan konsultan. Semua bad practices ini dapat terjadi karena tidak diaplikasikannya metode dan teknik manajemen proyek yang baku yang diumumkan secara terbuka dan fair, disamping lemahnya atau lumpuhnya kontrol manajemen. Ambil contoh soal owner estimate. Estimasi biaya proyek atau anggaran proyek yang dijadikan dasar penentuan kelayakan usaha belum teruji atau tidak divalidasi baik secara internal maupun ekternal yang lebih indenpenden. Akibatnya peluang pembengkakan harga proyek untuk maksud penjarahan sangat mungkin terjadi. Begitu pula mengenai aspek pemilihan rekanan. Pada banyak proyek, rekanan dipilih berdasarkan kemauan pengelola proyek yang berbau KKN. Sehingga tender diatur sedemikian dan pasti jauh dari transparan dan fair. Unsur KKNnya menyebabkan ada harga yang dinaikkan untuk mengkompensasi jatah untuk oknum pe-

ngelola proyek. Banyak pula kasus yang mengorbankan scope dan quality yang dikurangi. Tulisan ini tidak membantah bahwa semua KKN tersebut merajalela juga karena rendahnya moral profesionalisme dan etika dikalangan para pejabat, manajer dan masyarakat. Nah itu pencanangan perang melawan KKN dari segi moral. Namun yang lebih penting lagi bagaimana manajemen proyek profesional dengan konsep dan cara yang sistematik dapat membantu perang melawan KKN. Ada beberapa pendekatan yang boleh diambil. Pertama, adalah pendekatan jangka pendek 2 hingga 4 tahun, yaitu dengan menerapkan manajemen proyek yang profesional. Di lingkungan usaha dan industri masing-masing segera PMPkan beberapa manajer kunci (PMP adalah singkatan dari Project Management Professional yang berarti suatu pengakuan atas profesi project manager dengan sertifikat internasional). Aplikasikan best practices dari beberapa metode, alat bantu dan teknik manajemen proyek baik secara praktis menggunakan chcek list maupun dengan lebih terstrukur menggunakan project managament system . Berlakukan pengukuran kinerja proyek dan ki-

nerja manajer proyek dan berikan ganjaran bagi proyek yang berhasil dan berikan hukuman bagi proyek yang gagal. Manajemen puncak harus memberikan komitmen dan dukungan penuh atas program ini. Pendekatan kedua berjangka panjang, lebih ditujukan pada pembentukan pusat keunggulan manajemen proyek profesional di lingkungan usaha masing masing. Kemudian meningkatkankan pusat keunggulan di industri masing masing seperti IT engineering construction - manufacturing - jasa layanan umum. Pengembangan secara institusional ( institutional development) ini dapat mencakup antara lain namun tak terbatas pada, aneksasi PMP dengan peningkatan karir dan remunerasi, pemanfaatan program/ project management office, pembakuan gaji profesional manajemen proyek, pengharusan sertifikasi PMP atau yang setara secara nasional bagi manajer proyek, formalisasi kelembagaan jasa manajemen proyek (misalnya untuk verifikasi owner estimate kepada bank), dan aspek kelembagaan lainnya yang relevan. Tentunya secara rinci semua aspek diatas perlu dibahas oleh kita masyarakat manajemen proyek dalam

suatu forum yang berkelanjutan. Hasil yang disepakati harus dilaksanakan dengan konsisten dan sangat disiplin. Bila kita dapat menciptakan suatu operational excellence dibidang pengelolaan proyek, secara gradual akan terbentuk suatu kelompok elit yang dapat menularkan kemajuan ini pada masyarakat disekitarnya. Abdul Rahman Ibnu Khaldun (1332-1406): Sebab utama korupsi adalah nafsu untuk hidup mewah dalam kelompok yang memerintah. Korupsi pada kelompok penguasa menyebabkan kesulitan-kesulitan ekonomi dan kesulitan ini pada gilirannya menjangkitkan korupsi lebih lanjut. Justru karena itu pemberantasan korupsi harus dimulai dari akarnya, yaitu kelompok yang memerintah dan penanggulangannya harus pula dengan melibatkan seluruh kelompok tersebut. Bukan berarti menegasikan korupsi yang dilakukan oleh pejabat atau

oknum pada instansi swasta, namun menilik dari pernyataan Abdul Rahman Ibnu Khaldun, pemerintahan adalah akar dari penyelenggaraan negara, jika akar itu goyah, maka dapat dipastikan semua sendi kehidupan berbangsa akan collaps juga. Selain itu juga didasarkan pada pemahaman bahwa korupsi yang dilakukan pada instansi pemerintah akan menyedot kerugian pada negara, berbeda dengan kasus korupsi yang dilakukan pada instansi swasta, dimana jika terjadi korupsi maka akan berimbas pada kelangsungan hidup perusahaan. Dan jika hal tersebut terjadi, maka kelangsungan hidup karyawan akan terganggu juga. Krisis adalah peluang di masa sulit. Bangsa ini perlu membangun kehidupan sehari-hari yang berdasar etika yang kuat, aturan-aturan hukum yang dibuat aspiratif dan partisipatif, dengan begitu keadilan akan datang.

Jika Allah yang menjadi tujuan, kenapa harus dikalahkan oleh rintangan-rintangan yang kecil di hadapan Allah? Jika mencari nafkah merupakan ibadah, semakin kerja keras kita, insya Allah semakin besar pahala yang akan diberikan oleh Allah. Jika nafkah yang didapat merupakan bekal untuk beribadah, maka semakin banyak nafkah yang didapat, semakin banyak ibadah yang bisa dilakukan.

Penerimaan Negara Bukan Pajak di Lingkungan Departemen Agama


Oleh: Ahmad Fachroji Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) merupakan salah satu sumber pembiayaan negara yang cukup strategis untuk membiayai kegiatan pembangunan, walaupun secara ratio, PNBP relatif kecil dibandingkan dengan penerimaan Negara yang berasal dari pajak. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pada dasarnya merupakan penerimaan yang timbul terkait dengan jasa pelayanan yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat pengguna jasa tersebut, seperti di dalam perizinan pertanahan, pernikahan/ perceraian, ongkos orang yang berperkara. Pasal 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) memberikan definisi tentang PNBP, yaitu: Seluruh penerimaan pemerintah pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. Mengingat masalah PNBP ini semakin menjadi sorotan publik, maka tentunya perlu ada pengawasan yang memadai atas pengelolaan PNBP itu sendiri, agar para pengelola PNBP, dan tentunya instansi pemerintah yang telah ditetapkan sebagai pengelola PNBP (wajib pungut dan wajib setor PNBP) dapat mempertanggungjawabkan pengelolaan PNBP tersebut secara transparan dan akuntabel. Berdasarkan hasil pengawasan Badan Pemeriksa Keuangan RI, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dan Inspektorat Jenderal Departemen Agama atas penyimpangan penganggaran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di lingkungan Departemen Agama ditemukan nilai yang cukup signifikan. PNBP tersebut antara lain berasal dari penerimaan SPP mahasiswa, penerimaan mahasiswa baru, biaya pencatatan nikah/rujuk, pemanfaatan/penyewaan asrama haji/wisma haji, dan pemanfaatan Pusat Studi Belajar Bersama (PSBB) pada madrasah. Departemen Agama sebagai salah satu instansi pemerintah pembantu Presiden, dituntut melaksanakan program kerja dan anggaran dengan berorientasi pada output dan outcome. Setiap pelaksanaan kegiatan tidak hanya diukur sebatas penyelesaian administratif saja, melainkan juga hasil yang bermanfaat bagi pelaksanaan tugas dan masyarakat. Demikian pula dalam pengelolaan anggaran, juga berprinsip pada akuntabilitas dan transparansi.

Dasar Hukum Pengelolaan PNBP Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997, tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak antara lain telah menetapkan entitas penagih atau pemungut PNBP, yaitu; 1. Instansi Pemerintah adalah sebagaimana dimaksud dalam PP Nomor 22 Tahun 1997, tentang Jenis dan Penyetoran PNBP yang merupakan aturan pelaksanaan dari pasal 2 UU Nomor 20 Tahun 1997, 2. Wajib Bayar adalah sebagaimana dimaksud pada pasal 14 ayat (1) jo pasal 9 ayat (2) UU Nomor 20 Tahun 1997, 3. Instansi Pemerintah yang ditunjuk adalah sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 (2) jo pasal 6 ayat (1) UU Nomor 20 Tahun 1997. Jenis-Jenis PNBP pada Departemen Agama Berdasarkan lampiran II A butir 16 PP Nomor 22 Tahun 1997 tentang Jenis dan Penyetoran PNBP. Penerimaan Negara Bukan Pajak pada Departemen Agama terdiri dari: 1. Penerimaan dari pencatatan Nikah dan Rujuk (NR), 2. Penerimaan dari penyelenggaraan Jasa Pendidikan. Selain penerimaan tersebut di atas terdapat penerimaan dari hasil pemanfaatan barang/aset milik Departemen Agama yang belum ditetapkan/ dimasukkan sebagai PNBP. Sedang-

kan menurut lampiran I butir 3 PP tersebut di atas bahwa penerimaan hasil penyewaan barang/kekayaan negara merupakan bagian dari PNBP yang berlaku umum di semua Departemen dan Lembaga Non Departemen. Pengelolaan atas penerimaan hasil penyewaan inilah yang merupakan potensi adanya pengelolaan penerimaan uang negara yang kurang tertib bila tidak dilakukan pengendalian dengan baik. Penerimaan PNBP atas jasa pelaksanaan Nikah dan Rujuk dipungut setiap pelaksanaan nikah dan rujuk, Pengelolaan PNBP atas penyewaan wisma haji, baik di dalam negeri maupun di luar negeri (Jeddah, Arab Saudi) juga merupakan potensi PNBP, dan walaupun harus dikelola dengan baik oleh Badan Layanan Umum (BLU) perlu dilakukan kajian secara mendalam dengan mempersiapkan persyaratan administratif maupun persyaratan teknis sesuai dengan PP Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Badan Layanan Umum. Tarif PNBP Dalam rangka mengoptimalkan PNBP guna menunjang penyelenggaraan Pemerintah Negara dan Pembangunan Nasional, PNBP pada Departemen Agama sebagai salah satu sumber penerimaan negara harus di-

kelola dan dimanfaatkan untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Departemen Agama telah memiliki tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2000 tentang Tarif Atas Jenis Penerima-an Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Departemen Agama. Namun dengan adanya pengalihan organisasi, administrasi dan finansial di lingkungan Peradilan Agama ke Mahkamah Agung, dan penambahan jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang baru, serta penyesuaian tarif dan jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak dengan kondisi saat ini, maka terbitlah PP Nomor 47 Tahun 2004 tentang Tarif atas Jenis PNBP yang berlaku Pada Departemen Agama. Penerimaan dari penyelenggaraan Jasa Pendidikan Perguruan Tinggi Agama Pertama, Biaya Seleksi Ujian Masuk, 1. Diploma, Akta dan Strata 1 (S1), a. Kategori I RP. 250.000,00, (dua ratus lima puluh ribu rupiah), b. Kategori II Rp. 150.000,00, (seratus lima puluh ribu rupiah), c. Kategori III Rp. 100.000,00, (seratus ribu rupiah), d. Kategori IV Rp. 50.000,00, (lima puluh ribu rupiah), 2. Strata 2 (S2), a. Kategori I Rp.400.000,00, (empat ratus ribu ru-

piah), b. Kategori II Rp. 300.000,00, (tiga ratus ribu rupiah), c. Kategori III Rp. 200.000,00, (dua ratus ribu rupiah), d. Kategori IV Rp. 100.000,00, (seratus ribu rupiah), 3. Strata 3 (S3), a. Kategori I Rp. 500.000,00, (lima ratus ribu rupiah), b. Kategori II Rp. 400.000,00, (empat ratus ribu rupiah), c. Kategori III Rp. 300.000,00, (tiga ratus ribu rupiah), d. Kategori IV Rp. 200.000,00, (dua ratus ribu rupiah), kesemuanya per mahasiawa. Kedua, Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), 1. Diploma, Akta dan Strata 1 (S1), a. Kategori I Rp. 1.200.000,00, (satu juta dua ratus ribu rupiah), b. Kategori II Rp. 900.000,00, (sembilan ratus ribu rupiah), c. Kategori III Rp. 600.000,00, (enam ratus ribu rupiah), d. Kategori IV Rp. 400.000,00, (empat ratus ribu rupiah), 2. Strata 2 (S2), a. Kategori I Rp. 4.000.000,00, (empat juta rupiah), b. Kategori II Rp. 3.000.000,00, (tiga juta rupiah), c. Kategori III Rp. 2.500.000,00, (dua juta lima ratus ribu rupiah), d. Kategori IV Rp. 2.000.000,00, (dua juta rupiah), 3. Strata 3 (S3), a. Kategori I Rp. 6.000.000,00, (enam juta rupiah), b. Kategori II Rp. 5.000.000,00, (lima juta rupiah), c. Kategori III Rp. 4.000.000,00, (empat juta rupiah), d. Kategori IV Rp. 3.000.000,00, (tiga juta rupiah), kesemuanya per mahasiswa/semester.

ketiga, Biaya Praktikum Diploma, Akta dan Strata 1 (S1), 1. Kategori I Rp. 750.000,00, (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah) 2. Kategori II Rp. 500.000,00, (lima ratus ribu rupiah), 3. Kategori III Rp. 300.000,00, (tiga ratus ribu rupiah), 4. Kategori IV Rp. 200.000,00, (dua ratus ribu rupiah), kesemuanya per mahasiswa/semester. Penerimaan dari Kantor Urusan Agama Kecamatan Biaya Pencatatan Nikah dan Rujuk Per peristiwa sebesar Rp 30.000,00, (tiga puluh ribu rupiah). Pengelolaan PNBP Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997, pasal 4 secara tegas menyatakan bahwa PNBP tersebut wajib disetor langsung secepatnya ke Kas Negara. Selanjutnya pasal 5 mengatur bahwa seluruh PNBP dikelola dalam sistem APBN artinya setiap PNBP yang diperoleh harus langsung disetor ke kas negara sebagai penerimaan APBN, dan penggunaannya harus dilakukan melalui suatu proses pengajuan dana kepada Menteri Keuangan, sehingga PNBP tidak boleh langsung digunakan oleh instansi pengelola PNBP yang bersangkutan. Kemudian dalam pasal 8 UU Nomor 20 Tahun 1997 dinyatakan bahwa ketentu-

an lebih lanjut mengenai tata cara penggunaan PNBP diatur dengan peraturan pemerintah. Pengelolaan PNBP harus dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip pengendalian yang baik, unsur-unsur pengendalian yang meliputi organisasi, kebijakan, SDM, prosedur, perencanaan, pencatatan, pelaporan, dan reviu intern harus dirancang sedemikian rupa sehingga pengelolaan PNBP tersebut benar-benar dilakukan secara transparan dan akuntabel. Dalam praktek sering dihadapi kesulitan bagi instansi pengelola PNBP yang memberikan pelayanan kepada publik, karena kurang fleksibel. PNBP tersebut harus disetorkan dahulu ke kas negara, dan penggunaannya baru diajukan kemudian, yang kadang kala dianggap akan menghambat pelayanan yang harus segera diberikan oleh instansi yang bersangkutan, sementara dana tersebut tidak tersedia karena telah disetorkan ke kas negara. Sebenarnya masalah ini bisa diatasi bila perencanaan PNBP, baik dari sisi penerimaan maupun dari sisi pengeluaran/penggunaannya dapat direncanakan dengan baik.

RAPAT
Oleh: Akhmad Haryanto Rapat sebagai salah satu sarana koordinasi, rapat memiliki makna strategis dan harus dilakukan untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan tugas. Menurut survei, kegiatan rapat adalah pekerjaan yang paling banyak memakan waktu. Bagi manajer menengah kurang lebih menggunakan 80 % waktu mereka untuk melakukan rapat (meeting). Menurutnya, waktu satu jam seharusnya sudah cukup untuk rapat-rapat rutin. Sedangkan rapat istimewa seperti rapat kordinasi/kerja/dinas/pimpinan/konsultasi mungkin memerlukan waktu lebih lama, sehingga memerlukan alokasi anggaran dalam penyelenggaraannya. Bentuk dan jenis Rapat Sering pimpinan kita menanyakan kembali tentang pengaturan rapatrapat. Khusus di lingkungan Inspektorat Jenderal Dep. Agama pelaksanaan rapat (rapat dinas) dan rapat berkala diatur berdasarkan Keputusan Inspektur Jenderal Departemen Agama Nomor IJ/174/2006 tanggal 2 Oktober 2006 tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Rapat Dinas. Terdapat 20 bentuk/jenis rapat, yaitu: Pertama, Rapat kerja, terdiri dari: a. Rapat kerja terbatas, dan b. Rapat kerja pengawasan, kedua, Rapat Koordinasi, terdiri dari: a. Rapat koordinator Itjen, b. Rakor dengan Eselon I Pusat, dan c. Rakor dengan instansi terkait, ketiga, Rapat Konsultasi Itjen, keempat, Rapat Teknis, terdiri dari: a. Rapat khusus Sekretariat Itjen, b. Rapat khusus Irwil, c. Rapat evaluasi kinerja, d. Rapat pembekalan tim audit/pemantauan, e. Rapat review meeting, f. Rapat pemutakhiran data hasil audit, g. Rapat temu wicara pengawasan, h. Rapat Lokakarya pengawasan, dan i. Rapat internal panitia kegiatan, kelima, Rapat Khusus, terdiri dari: a. Rapat koordinator Tindak lanjut, b. Rapat baperjakat, c. Rapat DP STL, d. Rapat Dewan Pertimbangan Auditor, dan e. Rapat Dengar Pendapat dengan DPR RI dan DPD RI. Di dalam Keputusan Irjen tersebut diatur juga tentang tatacara penyelenggaraan rapat (Bab II) mulai dari persiapan rapat, pelaksanaan rapat dan pelaporannya serta keterwakilan dalam rapat. Tujuan rapat Sebagai sarana yang mempunyai makna strategis, penyeleng garaan sebuah rapat/koordinasi/konsul-

tasi/pertemuan, mempunyai tujuan yaitu: pertama, Koordinasi dan informasi, yaitu dalam rangka mengkoordinir kegiatan, saling tukar informasi dan memperkuat semangat kerja, kedua, Untuk mengatasi masalah rumit dan mengambil serta merumuskan keputusankeputusan, dan ketiga, Untuk tujuan memikul resiko bersama dalam hal pengambilan keputusan sulit atau mengandung resiko tertentu/tidak popular. Peranan-peranan dalam rapat Cara berpikir seseorang dapat dikenali secara simbolik dari topi yang dikenakan. Terdapat enam topi berpikir yang melambangkan atau mewakili enam karakter (meminjam istilah Edward De Bono ), meliputi topi putih, merah, hitam, kuning, hijau dan biru. Identifikasi dari karakter topi berpikir yang digunakan: pertama, Topi putih, yaitu: Penyaji fakta yang netral dan obyektif, apa adanya tanpa bumbu opini, pola pikirnya seperti komputer datanya dapat diolah menjadi informasi yang bermanfaat bagi semua pihak, kedua, Topi merah, yaitu: penuh perasaan, sangat peka terhadap firasat, intuisi dan kesan untuk membenarkan kata hatinya, dengan memainkan emosinya (marah, sedih), ketiga, Topi hitam, yaitu: Selalu masuk akal apa yang dikata-

kan, kritis dan gampang mempengaruhi suasana, pandai membawa masalah ke dalam pendekatan pesimistik, seolah-olah semua orang perlu dicurigai karena itikadnya, dan Manja atas superioritas serta pujian sesaat, keempat, Topi kuning, yaitu: Bersifat positif dan konstruktif, optimis terhadap segala hal, tidak ada kamus kendala, dan bekerja dan terus bekerja walaupun menurut pengamatan orang lain cara bekerjanya kurang kreatif maupun inovatif, kelima, Topi hijau, yaitu: gagasan lama sebagai barang kuno yang harus dicari terobosan baru, dengan berpikir kreatif dan inovatif, dan gagasan merupakan batu loncatan yang penting dalam proses berpikir, keenam, Topi biru, yaitu: pengendali dari seluruh topi yang dipakai/pikiran orang lain yang berbeda-beda, dan Pertanyaan yang diajukan tepat, memberi pernyataan yang merangsang untuk berpikir dan mendesign program tindak lanjut. Cara penggunaan topi berpikir dikaitkan dengan peranan dalam rapat adalah sebagai berikut: pertama, Peranan yang Menghalangi atau Mengganggu, terdiri dari: a. Agressor, yaitu: melancarkan kritik dan meremehkan kedudukan orang lain, tidak setuju dengan pendapat orang lain secara agressif, b. Penghalang, yaitu: tidak setuju secara keras kepala, menolak pan-

dangan orang lain, menceritakan pengalaman pribadi yang tidak ada hubungannya dengan masalah yang dibahas, kembali ke soal-soal yang sudah diputuskan, c. Mengundurkan diri, yaitu: tidak mau ikut berbicara secara pribadi, membuat catatan/mengambar/ corat-coret menurut kemauan sendiri, d. Gila Hormat, yaitu berbicara berlebihan, mengandalkan kedudukan, e. Mencari Hal Baru, yaitu: selalu berganti pokok pembicaraan, f. Menguasai Keadaan, yaitu: mencoba menguasai keadaan, memperlihatkan kekuasaan, dan mempermainkan kelompok, g. Meminta Perhatian Khusus memakai waktu kelompok untuk mengajukan persoalannya sendiri, h. Bersifat Playboy, yaitu: menghamburkan waktu kelompok dengan memamerkan diri, pandai ngobrol, acuh tak acuh, sinis, i. Bicara Pribadi, yaitu: berbicara mengenai peranan pribadi dan pendapatpendapat tidak penting, kedua, Peranan Membangun, terdiri dari: a. Inisiatif/ prakarsa, yaitu: menyarankan ide-ide baru atau berbeda untuk dibicarakan dan pendekatan masalah, b. Pemberi Pendapat, yaitu: memberi pendapat nyata mengenai pembicaraan-pembicaraan dan saran-saran orang lain, c. Pembangun Saran, yaitu: membangun dan melanjutkan saran-saran orang lain, d. Bersifat Menjernihkan,

yaitu: memberi contoh-contoh persoalan nyata, mengajukan saran-saran nyata, mencari pengertian orang lain, menjernihkan persoalan-persoalan, e. Penguji, yaitu: mengajukan pertanyaan untuk menguji apakah kelompok sudah siap untuk mengambil keputusan, f. Pembuat, yaitu: meninjau pembicaraan, kesimpulan pembicaraan, membuat ihtisar atau ringkasan, ketiga, Peranan Memelihara Persatuan, terdiri dari: a. Mengatasi Ketegangan, yaitu: menggunakan humor atau menyarankan istirahat pada waktu tepat untuk menghilangkan perasaan-perasaan negatif, b. Bersedia Kompromi/berdamai, yaitu: bersedia mengalah untuk kemajuan, c. Pendamai, yaitu menengahi perbedaan-perbedaan, mendamaikan perbedaan yang terjadi, d. Membimbing dan Memberi Motivasi, yaitu: memuji dan membantu orang lain, ramah, memberi dorongan, dan e. Penjaga Pintu Gerbang, yaitu: membuka saluran-saluran komunikasi, mendorong partisipasi. Agar Rapat Efektif dan Efesien Pertama, mempersiapkan rapat secara matang dengan mendasarkan pada tujuan yang ingin dicapai, kedua, Mempertimbangkan peserta rapat dengan cermat (yang mutlak hadir atau yang tidak perlu hadir), ketiga, mem-

pertimbangkan dan memilih waktu rapat secara cermat, keempat, tempat, perlengkapan, fasilitas rapat yang lengkap, kelima, analisa perbandingan biaya rapat dengan keuntungan yang diperoleh dari rapat. Alokasi penganggaran rapat Di lingkungan Departemen/ LPND/Instansi/lembaga, komponen penganggaran rapat/pertemuan telah dimuat dalam DIPA dan POK. Dalam rapat kordinasi/kerja/dinas/pimpinan kelompok kerja/konsultasi, terdapat komponen sebagai berikut: pertama, belanja bahan, terdiri dari: a. persiapan (snack,konsumsi, penggandaan naskah), b. pelaksanaan (snack, konsumsi, pengadaan atk, akomodasi, penggandaan naskah, dokumentasi, c. pengolahan hasil kegiatan (snack, konsumsi, penggandaan naskah, penggandaan laporan, dokumentasi), kedua, belanja jasa profesi (narasumber), ketiga, belanja perjalanan lainnya (transport, uang harian, akomodasi), keempat, belanja uang honor tidak tetap (panitia/ketua, sekretaris, anggota, peserta, pengarah, penanggungjawab, narasumber, moderator, uang saku Uraian diatas memposisikan peranan penting fasilitator/pimpinan/ ketua rapat dimana harus peka terhadap kebutuhan dan perasaan pe-

serta rapat, luwes dalam menggunakan kepemimpinannya menghadapi setiap situasi yang timbul. Ketua rapat harus mempunyai kemampuan menganjurkan dan mendorong setiap peserta agar memainkan peranan yang membantu terciptanya kondisi positif thinking agar rapat dapat membuat keputusan-keputusan yang bijaksana atau mencapai tujuan. Penutup Akhirnya, kita renungkan kata bijak: suatu keputusan yang salah lebih baik daripada tidak ada keputusan, kesalahan-kesalahan yang bodoh dan berulangkali dilakukan harus dihukum, kesalahan-kesalahan yang dibuat secara tidak sengaja harus ditolerir, kesalahan yang dibuat dalam rangka suatu inovasi/improvisasi/usaha baru, harus mendapatkan apresiasi. Jika pegawai anda tak pernah membuat kesalahan, merupakan satu masalah yang serius, karena ia tidak akan dapat berusaha melakukan suatu pekerjaan yang betul-betul penting. Suatu instansi/ lembaga/perusahaan atau organisasi yang tidak pernah melakukan kesalahan adalah perusahaan/organisasi mati atau tak mau ambil risiko. yang penting bukan kesalahannya, tetapi apa yang kita dapat pelajari dari kesalahan tersebut.

INSTRUKSI MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG PERCEPATAN PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA Dalam rangka Percepatan Pelaksanaan Reformasi Birokrasi di Lingkungan Departemen Agama sebagai tindak lanjut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, nepotisme jo Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang percepatan Pemberantasan Korupsi, dengan ini menginstruksikan: Kepada : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Sekretaris Jenderal; Inspektur Jenderal; Para Direktur Jenderal; Kepala Balitbang dan Diklat; Para Rektor Perguruan Tinggi Agama Negeri; Para Kepala Kanwil Departemen Agama Provinsi; Para Ketua Sekolah Tinggi Agama Negeri di lingkungan Departemen Agama.

Untuk KESATU

: :

KEDUA

Melakukan reformasi birokrasi secara efektif, efisien, dan produktif yang bebas dari praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Melakukan Penataan organisasi dan ketatalaksanaan untuk memodernisasi organisasi melalui pemisahan, penggabungan, dan penajaman tugas dan fungsi organisasi

KETIGA

KEEMPAT

KELIMA

KEENAM

KETUJUH

KEDELAPAN

dengan memperhatikan analisis dan evaluasi jabatan, serta analisis beban tugas. Meningkatkan upaya-upaya pemenuhan dan peningkatan kualitas pelayanan publik (biaya, mutu, dan waktu, sarana dan prasarana, informasi dan teknologi) melalui penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP), dengan meningkatkan peran serta masyarakat secara aktif, serta pengalokasian dana sesuai standar analisis biaya untuk merealisasikan maksud instruksi ini secara bertahap dan berkelanjutan. Merumuskan indikator kinerja utama organisasi dan melakukan perencanaan, pelaksanaan, pembinaan, pengawasan, dan evaluasi yang merujuk akuntabilitas. Melaksanakan pengelolaan sumber daya manusia dengan memperhatikan pola mutasi dan promosi, peningkatan disiplin, penerapan reward and punishment secara proporsional dan profesional, dan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi, serta pengintegrasian Sistem Informasi Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM). Sekretaris Jenderal mengkoordinasikan pelaksanaan reformasi birokrasi dengan menyusun grand strategi reformasi birokrasi, dan Inspektur Jenderal melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaannya. Mengalokasikan pembiayaan pelaksanaan reformasi birokrasi dalam Daftar Isian Pelaksanaan Kegiatan (DIPA) pada masing-masing satuan organisasi atau satuan kerja. Melaksanakan Instruksi Menteri Agama ini sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab. Jakarta, 31 Desember 2008 MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA

Disalin sesuai aslinya

MUHAMMAD M. BASYUNI

Keistimewaan Bulan Muharram


Oleh: Imron Fauzi
Perhitungan tahun dalam Islam dimulai dari bulan Muharram. Bulan itu adalah bulan permulaan Nabi Muhammad SAW berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Jadi perhitungan tarikh tahun Islam itu bukan dimulai dari kelahiran (Maulid Nabi SAW) tanggal 12 Rabiul Awal, melainkan dari hijrahnya Nabi ke Madinah, sedangkan cara perhitungannya didasarkan pada perputaran bulan (Qomariah). Maka itu sebabnya tahun Islam juga disebut tahun Hijriyah. Berbeda dengan tahun Masehi, perhitungannya didasarkan pada peredaran Matahari (Syamsiyah), dimulai dari lahirnya Nabi Isa AS. Sedangkan tahun Jawa (Saka) lain pula perhitungannya, yaitu pertamanya memakai dasar perhitungan Syamsiyah (peredaran matahari) sebagaimana tarikh masehi, lalu sejak zaman Islam diganti dengan perhitungan peredaran bulan (Qomariah), menurut perhitungan Islam. Menurut buku Wedy Pradana yaitu tahun 931 H, bertepatan dengan tahun Candra Sangkala Jawa 1443 yaitu zaman kraton di Demak, yang dihimpun oleh Sunan Giri II, merupakan cara dimulainya bulan dan tahun Islam di Jawa. Sedangkan jalannya perhitungan dimulai dengan abjad huruf Arab (Hijaiyah) ALIF-HE-JIM (awal) ZEDAL-BE-WAWU-JIM (akhir), untuk 8 (delapan) tahun (satu windu) metode ini untuk menghitung kaidah menetapkan tanggal bulan dan tahun baru yang disesuaikan dengan tahun Hijriyah. Pada era inilah para penuntun Islam di Indonesia yang disebut Wali Songo (Wali Sembilan) tengah semangatnya membagi waktu dan pekerjaan menurut kemampuannya masing-masing untuk penyiaran Agama Islam disegala aspek kehidupan antara lain: pertama, Sunan Giri, diserahi menyalin hari dan kalender yang berlaku untuk hukum Islam. Demikian pula menambah peraturan-peraturan kraton Jawa dan membuat kertas Jawa, kedua, Sunan Bonang, Menciptakan lakon (cerita) wayang diantaranya lakon Dewa Ruci (Roh Suci) yang telah disadur oleh Jasadipura dan membuat jalannya suluk tentang ilmu serta menambahi rangkaian gamelan, terutama menambah lagu-lagu gending, ketiga, Sunan Drajat, di Sedayu menambah perihal bangunan (desain rumah) dan Tandu (joli), kendaraan yang diusung/dipikul orang, keempat, Sunan Kalijaga (Raden Syahid), menambah gending lagu

yang disebut Sekar Ageng atau Sekar Alif serta merencanakan gamelan sekatan yang dipukul (dibunyikan) di pelataran masjid pada tiap-tiap hari Maulid Nabi Muhammad SAW dalam bulan Rabiul Awwal, keenam, Sunan Kudus (Jafar Shodiq), jasanya menambah bentuk alat tombak, keris dan sebagainya serta memajukan pertukangan besi (pandai besi), emas dan lain-lain. Kemudian Wali Songo tidak hanya menyiarkan Agama Islam, akan tetapi para wali tersebut memperhatikan (peduli) terhadap kepentingan rakyat. Di dalam Al-Quran Surat AtTaubah ayat 36 Allah SW T menjelaskan: Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) Agama yang lurus, maka ja-nganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa. Apabila kita perhatikan Bulan Muharram (yang dimuliakan dan dilarang menjalankan kejahatan dan peperangan), banyak keistimewaan, antara lain: dapat kita lihat dari dua

tanggal di dalamnya yaitu: tanggal 1 dan tanggal 10 Muharram, tanggal 1 Muharram merupakan Tahun Baru Islam dan 10 Muharram merupakan hari Kemenangan nabi-nabi. Tanggal 10 Muharram Hari Kemenangan nabi-nabi Bulan Islam Muharram itu oleh orang Jawa dinamakan: Suro/Sura. Kata Suro itu jika ditinjau dari bahasa Kawi berarti Kuasa, Berani, Tabah atau sebagai kata ganti berarti: Prajurit, Bidadari, Dewa atau Denawa. Akan tetapi kata tersebut kita kembalikan kepada bahasa Arab, maka kata ini berasal kependekan kata: Asyura yang maksudnya ialah tanggal 10 Muharram (Asyr=10) satu Asyru-nuran artinya orang yang hidup karena pada tanggal 10 Muharram banyak para Nabi dan Rasul yang mendapat cahaya kemenangan dari Tuhan. Adapula yang memberikan makna yang mengandung arti 10 macam keistimewaan atau keutamaan tetapi tidak saja nama bulan Syuro itu saja yang disesuaikan dengan nama bulan-bulan Islam oleh para penganjur dan Muballigh yang datang ke Indonesia, tetapi juga bulan yang lain seperti: bulan Rabiul Awwal hari kelahiran Nabi oleh karena itu disebut Bulan Maulid. Tanggal 10 Muharram dipandang sebagai hari besar oleh umat

Islam karena ada beberapa peristiwa penting yang terjadi pada saat itu, seperti yang tersebut dalam kitab Ianatutthalibin juz II hal 268 dan yang telah diterangkan sekilas di atas. Bahwa pada tanggal 10 Muharram itu para Nabi dan Rasul banyak mendapat anugerah dari Allah SWT yang Maha Suci umpamanya: pertama, Nabi Adam AS diterima taubatnya oleh Allah SWT. Ketika masih di surga Nabi Adam AS telah makan larangan buah khuldi, sehingga beliau bersama isterinya Hawa, diturunkan ke dunia. sejak itu beliau mempergiat kebaktian (Ibadah) kepada Allah SW T sehingga diterimalah taubatnya pada tanggal 10 Muharram, kedua, Nabi Idris AS memperoleh derajat yang luhur, sebab beliau bersifat belas kasihan kepada sesamanya, bahkan beliau sangat memperhatikan dan membantu Malaikat pengatur Matahari, sehingga berkat doa Nabi Idris AS, Malaikat itu dapat menjalankan tugasnya lebih mudah. Nabi Idris pada hari dan tanggal 10 Muharram mendapat penghargaan pada tempat yang suci dan tinggi, ketiga, Nabi Musa AS mendapat anugerah kitab Taurat. Hal itu terjadi ketika beliau berada di bukit Tursina (Sinai), menerima wahyu dari Allah SWT langsung tanpa parantara

Malaikat Jibril AS seperti ketika Nabi Muhammad SAW Isra Miraj, keempat, Nabi Ibrahim AS, terhindar dari fitnah Raja Namruz penyembah berhala. Nabi Ibrahim dihukum Raja Namruz karena dituduh menghancurkan berhala di kuil tempat pemujaan Namruz, meskipun beliau telah dilempar ke dalam api unggun yang menyala-nyala dengan hebatnya namun beliau selamat tidak merasa panas bahkan selembar rambutnyapun tak ada yang terbakar, karena beliau tetap beriman, tetap percaya kepada keadilan dan keagungan Allah SWT dan tawakal kepada-Nya. Dalam AlQuran disebutkan: Hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim ......, kelima, Nabi Nuh AS, turun dari perahu penyelamat bersama umatnya yang beriman, terhindar dari air banjir dan topan yang dahsyat, sedangkan orang-orang yang durhaka hancur binasa semuanya termasuk anak Nabi Nuh sendiri Kanan, keenam, Nabi Yusuf AS, dibebaskan dari penjara Raja Mesir karena tuduhan Zulaikha yang mendakwa Nabi Yusuf hendak memperkosanya. Padahal sebaliknya, wanita itu mencintai Nabi Yusuf AS, ketujuh, Nabi Yakub AS, sembuh dari sakit mata sejak Nabi Yakub AS (ayah Nabi Yusuf AS) mendengar kabar bahwa anaknya (Nabi Yusuf) sudah

meninggal dunia, maka sering berduka cita dan banyak mengeluarkan air mata, akibatnya beliau menderita sakit mata sehingga tidak dapat melihat. Akan tetapi mendengar bahwa Nabi Yusuf AS dalam keadaan selamat bahkan telah menjadi wazir (Menteri) di Mesir dan mengirimkan bekas pakaian yang dipakainya dulu sebagai bukti, maka terbukalah lagi dan sembuh matanya sehingga dapat melihat kembali, kedelapan, Nabu Yunus AS, dapat keluar dari perut Ikan Nun (sejenis ikan yang amat besar). Mula-mula dikejar oleh umatnya yang beriman sampailah beliau ke tepi laut untuk menghindarkan diri dari fitnah dan pembunuhan umatnya itu beliau menceburkan diri ke laut dan ditelan oleh Ikan Nun. Ini merupakan pertolongan Tuhan beliau tidak meninggal dan kemudian dipindahkan kembali ke pantai ke tempat yang aman dan selamatlah beliau, kesembilan, Nabi Sulaiman AS, memperoleh istana yang indah. Beliau bukan saja Nabi melainkan Rasul Allah tetapi menjadi Raja bagi semua hewan, jin dan makhluk lain serta disegani oleh umatnya, kesepuluh, Nabi Daud AS, disucikan dari dosa. Beliau mengirim panglimanya ke medan perang. Kemudian ada berita panglima tersebut gugur, sedangkan ia meninggalkan isterinya yang cantik.

Kemudian ada tuduhan bahwa Nabi Daud AS memang menghendaki kematian panglimanya untuk kemudian mengambil alih isterinya. Ini tidak benar karena Nabi jauh dari sifat-sifat untuk bermaksiat dan selamanya mashum (terjaga), kesebelas, Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya mendapat anugerah dan kewaspadaan dalam menepati hidayah Al-Quran. Pada tanggal itu pula Nabi Allah Musa AS bersama pengikutnya selamat dari kejaran tentara Firaun dan selamat menyeberangi lautan luas yang terbelah untuk jalan mereka ke seberang kejalan hidayah Allah, keduabelas, Hari hancur leburnya dan tenggelam punah Firaun beserta tentara-tentaranya dalam perpaduan kembali lautan yang telah terbelah dilewati Nabi Musa AS, ketigabelas, Hari mula-mula turunya hujan dari langit yang tinggi. Mengingat pentingnya kejadian-kejadian pada hari Asyura tanggal 10 Muharram itu, yakni hari yang bersejarah (penting) patut menjadi peringatan dan dihormati. Maka bagi kita umat Islam, disunatkan berpuasa sunat dan banyak tafakur, tadabur dan amalan-amalan shaleh lainnya lebih istimewa lagi dimulai sejak tanggal 1 Muharram.

Mengetik Cepat Dengan Memanfaatkan Shortcut


Oleh: Iing Muslihin Penemuan teknologi komputer salah satunya bermanfaat untuk membantu mempercepat kerja manusia dalam berbagai hal di antaranya menghitung dan menulis. Dengan komputer, proses editing dokumen dapat dilakukan dengan cepat, efektif dan efisien. Hardware yang wajib terdapat dalam sebuah computer untuk mendukung proses editing dokumen adalah keyboard dan mouse. Keyboard berfungsi untuk menginput data/mengetik, sedangkan mouse berfungsi untuk mengakses menu-menu yang terdapat dalam toolbar. Pada awalnya mouse diciptakan untuk mempermudah pengguna komputer dalam menginput data tanpa harus menghapal perintah-perintah komputer yang begitu banyak dan rumit. Dengan mouse scrolling layar dan penempatan kursor dapat dilakukan dengan mudah, bahkan mouse sangat penting untuk melakukan foto editing atau membuat gambar digital. Namun demikian untuk sebagian orang mouse justru memperlambat proses pengetikan dokumen, hal ini dikarenakan kerja tangan terbagi dua yaitu mengoparasikan keyboard dan mouse. Teknik mengetik cepat justru dilakukan tanpa menggunakan mouse yang hanya digunakan untuk mengedit gambar atau table. Untuk mengakses menu-menu dalam toolbar MS Word dilakukan dengan perintah-perintah/shortcut yang tersedia di dalam keyboard dengan cara menekan tombol atau kombinasi tombol sehingga menghasilkan perintah tertentu. Berikut ini perintah-perintah/ shortcut dalam MS Word yang biasa dipakai untuk mengetik dengan cepat. Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

Nama Perintah

Fungsi

Shorcut Keys

All Caps Annotation/ App Maximize

Untuk membuat teks CTRL+SHIFT+A semuanya berhuruf besar Memberi penjelasan suatu ALT+CTRL+M kata atau kalimat Memaksimalkan tampilan ALT+F10 windows

Nam Perintah a
Apply List Bullet Auto Format Auto Text Bold Bookmark Browse Next Browse Previous Cancel Center Para Change Case Char Left Char Left Extend Char Right Char Right Extend Clear Close or Exit Column Break Copy Copy Format Copy Text Create Auto Text Cut Date Field Delete Back Word Delete Word

Fungsi
Memberi tanda bullet pada paragraph Mengaktifkan Auto Format Mengaktifkan Auto Tex Menebalkan Huruf/font Memberikan Penunjuk pada text Berpindah ke faragraf berikutnya Kembali ke paragraph sebelumnya Membatalkan perintah Membuat rata tengah Mengubah bentuk huruf (kecil, besar semua atau judul) Memindahkan kursor ke huruf sebelah kiri Memblok huruf ke sebelah kiri Memindahkan kursor ke huruf sebelah kanan Memblok huruf ke sebelah kanan Menghapus Menutup dokumen/keluar Pindah ke halaman berikutnya Menyalin huruf, kata, image Menyalin format dokumen Mengkopi teks Membuat teks otomatis Memotong karakter/huruf/kata Memunculkan tanggal sekarang Menghapus satu kata ke belakang Menghapus satu kata ke depan

Shorcut Keys
CTRL+SHIFT+L ALT+CTRL+K F3 or ALT+CTRL+V CTRL+B or CTRL+SHIFT+B CTRL+SHIFT+F5 CTRL+PAGE DOWN CTRL+PAGE UP ESC CTRL+E SHIFT+F3 LEFT SHIFT+LEFT RIGHT SHIFT+RIGHT DELETE ALT+F4 CTRL+SHIFT+ENTER CTRL+C or CTRL+INSERT CTRL+SHIFT+C SHIFT+F2 ALT+F3 CTRL+X or HIFT+DELETE ALT+SHIFT+D CTRL+BACKSPACE CTRL+DELETE

Nama Perintah
Dictionary Doc Close Doc Maximize Doc Split Double Underline End of Column End of Column End of Doc Extend End of Document End of Row End of Row End of Window Endnote Now Extend Selection Field Chars Find Font Font Size Select Footnote Now Go Back Go To Grow Font One Point Hanging Indent Help Hidden Hyperlink

Fungsi
Memunculkan kamus Keluar dari dokumen Membesarkan/mengecilkan tampilan jendela world Membagi tampilan dokumen dalam beberapa jendela Menggarisbawahi kata Menempatkan kursor ke ujung kolom Memindahkan kolom ke bawah Memblok sampai kolom terakhir Memindahkan kursor ke akhir dokumen Menempatkan kursor ke ujung baris Memblok sampai ujung baris Memindahkan kursor ke ujung jendela/window Memasukkan catatan kaki Memblok dokumen Memunculkan tanda Mencara kata Memunculkan pengaturan huruf Mengubah ukuran huruf Memasukkan catatana kaki Kembali ke dokumen sebelumnya Pindah ke halaman tertentu Memperbesar ukuran huruf Menggeser indent Memunculkan menu bantuan Menyembunyikan karakter Menambahkan link

Shorcut Keys
ALT+SHIFT+F7 CTRL+W or CTRL+F4 CTRL+F10 ALT+CTRL+S CTRL+SHIFT+D ALT+PAGE DOWN ALT+SHIFT+PAGE DOWN CTRL+SHIFT+END CTRL+END ALT+END ALT+SHIFT+END ALT+CTRL+PAGE DOWN ALT+CTRL+D F8 CTRL+F9 CTRL+F CTRL+D or CTRL+SHIFT+F CTRL+SHIFT+P ALT+CTRL+F SHIFT+F5 or ALT+CTRL+Z CTRL+G or F5 CTRL+] CTRL+T F1 CTRL+SHIFT+H CTRL+K

Nama Perintah

Fungsi

Shorcut Keys
CTRL+M CTRL+I or CTRL+SHIFT+I CTRL+J CTRL+L ALT+SHIFT+K ALT+SHIFT+E F2

Indent Mengatur indent Italic Memiringkan huruf Justify Para Membuat teks rata kiri-kanan Left Para Membuat teks rata kiri Mail Merge Check Mencek Mail merge Mail Merge Edit Data Mengedit sumber data mail Source merge Move Text Memindahkan teks, blok teks, tekan F2 kemudian pindahkan kursor dan tekan ENTER New Membuat dokumen baru Next Window Berpindah ke window lain/dokumen lain Normal Mengubah tampilan view ke normal view Normal Style Menset dokumen ke normal style Open Open or Close Up Para Outline Page Break Para Down Para Down Extend Para Up Para Up Extend Paste Paste Format Prev Cell Prev Window Membuka dokumen Merenggangkan dan mendekatkan jarak baris Menampilkan outline Meloncat ke halaman berikutnya Memindahkan kursor ke paragraph berikutnya Memblok satu paragraph ke bawah Memindahkan kursor ke paragraph sebelumnya Memblok satu paragraph ke atas Menempelkan Menempelkan format dokumen Berpindah ke sell sebelumnya Pindah ke jendela

CTRL+N CTRL+F6 or ALT+F6 ALT+CTRL+N CTRL+SHIFT+N or ALT+SHIFT+CLEAR (NUM 5) CTRL+O or CTRL+F12 or ALT+CTRL+F2 CTRL+0 ALT+CTRL+O CTRL+ENTER CTRL+DOWN CTRL+SHIFT+DOWN CTRL+UP CTRL+SHIFT+UP CTRL+V or SHIFT+INSERT CTRL+SHIFT+V SHIFT+TAB CTRL+SHIFT+F6

or

Menteri Agama dalam Pembukaan Acara Pengembangan Budaya Kerja Departemen Agama, didampingi oleh Irjen Depag dan Sekjen Depag.

Mantan Menag Prof. Dr. KH. Tolcha hasan bersama Menag Mohammad M. Basyuni didampingi Irjen Depag H. Mundzir Suparta menuju ruang acara Pengembangan Budaya Kerja Departemen Agama

Irjen Depag dan Dirjen Bimas Budha didampingi Ses. Itjen Depag Dalam acara Temu Wicara Pengawasan 2009

Peluncuran Website Itjen Depag oleh Irjen Depag H. Mundzir Suparta

Peserta Pengembangan Profesi Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Itjen Depag 2009

Placement Test Auditor Itjen Depag 2009