Anda di halaman 1dari 4

PENGKAJIAN FOKUS CAIRAN ELEKTROLIT, ASAM BASA PADA CHF DENGAN OVERLOAD Oleh: Rahma Fadillah Sopha, 1006672876

1. Anamnesa a. Keluhan utama Gejala penyakit paru yang paling menonjol adalah batuk dan dispnea. Nyeri dada seringkali membutuhkan pemeriksaan jantung dan toraks lebih luas. b. Riwayat penyakit saat ini Provoking incident: Kelemahan fisik yang terjadi setelah melakukan aktivitas ringan sampai berat, sesuai derajat gangguan pada jantung Quality of pain: Seperti apa keluhan kelemahan dalam melakukan aktivitas yang dirasakan atau digambarkan klien. Biasanya setiap beraktivitas, klien merasakan sesak napas. Region, radiation, relief: Apakah kelemahan fisik bersifat lokal atau mempengaruhi keseluruhan sistem otot rangka dan apakah disertai ketidakmampuan dalam melakukan pergerakan. Severity of pain: Kaji rentang kemampuan klien dalam melakukan aktivitas seharihari. Biasanya kemampuan klien dalam beraktivitas menurun sesuai derajat gangguan perfusi yang dialami organ. Time: Sifat mula timbulnya, keluhan kelemahan beraktivitas biasanya timbul perlahan lama. Durasi kelemahan saat beraktivitas biasanya terjadi setiap saat, baik saat beristirahat, maupun saat beraktivitas. c. Riwayat penyakit terdahulu Apakah klien pernah menderita nyeri dada, hipertensi, iskemia miokardium, infark miokardium, diabetes melitus, dan hiperlipidemia. Apa obat-obatan yang biasa diminum oleh klien pada masa lalu. Catat adanya efek samping yang terjadi, alergi obat serta reaksi yang timbul. d. Riwayat keluarga Perawat menanyakan penyakit yang pernah dialami oleh anggota keluarga. e. Riwayat pekerjaan dan pola hidup Perawat menanyakan situasi tempat klien bekerja dan lingkungannya, kebiasan sosial seperti merokok dan minum alkohol. 2. Pemeriksaan Fisik a. Sistem Kardiovaskuler
Kompensasi CHF di sistem vaskuler Stimulasi saraf simpatis Mengaktifkan norepinefrin Vasokonstriksi arterial dan vena tekanan vena jugularis

Inspeksi adanya keluhan kelemahan fisik dan edema ekstremitas. Palpasi denyut nadi perifer melemah. Tekanan darah biasanya menurun akibat penurunan volume sekuncup. Bunyi jantung tambahan akibat kelainan katup biasanya ditemukan apabila penyakit gagal jantung adalah kelainan katup.

Batas jantung mengalami pergeseran yang menunjukkan adanya hipertofi jantung. Adanya bunyi jantung ketiga dan keempat, dan crackles pada paru. S4 atau gallop atrium dihubungkan dengan dan mengikuti kontraksi atrium. Bunyi S4 menunjukkan adanya penurunan komplians miokardium. S3 atau gallop ventrikel mengindikasikan adanya gagal jantung kongestif. Crackles atau ronkhi basah halus secara umum terdengar pada dasar posterior paru. Karena peningkatan frekuensi jantung adalah respon awal jantung terhadap stres, sinus takikardia dapat mengindikasikan adanya kegagalan pompa jantung. Irama lain yang berhubungan dengan kegagalan pompa meliputi kontraksi atrium prematur, takikardi atrium paroksimal, dan denyut ventrikel prematur. Bila ventrikel kanan tidak mampu berkonsentrasi terhadap kegagalan ventrikel kiri, akan terjadi dilatasi dari ruang ventrikel, volume, dan tekanan pada diastolik akhir ventrikel kanan, tahanan untuk mengisi ventrikel, dan peningkatan lanjut pada tekanan atrium kanan. Peningkatan tekanan ini akan diteruskan ke hulu vena kava dan dapat diketahui dengan peningkatan tekanan vena jugularis. b. Sistem Respirasi
CHF Gagal jantung kiri Penyakit katup aorta dan mitral Regurgitasi mitral Bunyi jantung ke 3, murmur, atau gallop Hipertensi P atrium kiri P vena pulmonalis Kongesti paru Edema alveolar Rochi Sesak napas Perfusi organ Ortopnea Dispnea nokturnal paroksismal

Lelah, toleransi aktivitas

Untuk pernapasan yang dinilai adalah kecepatan, irama, dan peningkatan kerja pernapasan. Kecepatan pernapasan pada orang dewasa normal berkisar 12-18 kali/ menit. Takipnea didefinisikan sebagai kecepatan pernapasan lebih dari 20 kali per menit. Kongesti Vaskular Pulmonal Gejala: dispnea, ortopnea, dispnea nokturnal paroksismal, batuk, dan edema pulmonal akut. Dispnea Pernapasan cepat, dangkal, dan keadaan yang menunjukkan bahwa klien sulit mendapatkan udara yang cukup, yang menekan klien. Terkadang klien mengeluhkan adanya insomnia, gelisah, atau kelemahan yang disebabkan oleh dispnea. Otropnea Ketidakmampuan berbaring datar berhubungan dengan kongesti vaskular pulmonal. Perawat harus menentukan apakah ortopnea benar-benar

berhubungan dengan penyakit jantung atau apakah peninggian kepala saat tidur adalah kebiasan klien belaka. Dispnea nokturnal paroksismal Keluhan yang dikenal baik oleh klien yaitu klien biasanya terbangun tengah malam karena mengalami napas pendek yang hebat. Dispnea nokturnal paroksismal diperkirakan disebabkan oleh perpindahan cairan dari jaringan ke dalam kompartemen intravaskular sebagai akibat dari posisi telentang. Pada siang hari, saat klien melakukan aktivitas, tekanan hidrostatik vena meningkat, khususnya pada bagian bawah tubuh karena adanya gravitasi, peningkatan volume cairan, dan peningkatan tonus simpatetik. Dengan peningkatan tekanan hidrostatik ini, sejumlah cairan keluar masuk ke area jaringan secara normal. Namun dengan posisi telentang, tekanan pada kapiler dependen menurun dan cairan diserap kembali ke dalam sirkulasi. Peningkatan volume cairan dalam sirkulasi akan memberikan jumlah tambahan darah yang dialirkan ke jantung untuk dipompa tiap menit dan memberikan beban tambahan pada vaskular pulmonal yang telah mengalami kongesti. Edema pulmonal Dihubungkan dengan kongesti vaskular pulmonal. Hal ini terjadi bila tekanan kapiler pulmonal > tekanan yang cenderung mempertahankan cairan di dalam saluran vaskular transduksi cairan ke dalam alveoli. Edema pulmonal dicirikan oleh dispnea hebat, ortopnea, ansietas, sianosis, kelainan bunyi pernapasan, dan nyeri dada. c. Sistem Perkemihan Pengukuran volume output urine diperlukan untuk memonitor adanya oliguria karena merupakan tanda awal dari syok kardiogenik. Adanya ekstremitas menunjukkan adanya retensi cairan yang parah.
Kompensasi CHF di ginjal P osmotik P arteri di ginjal Tubular renal absorbsi Na Edema Filtrasi glomerulus ADH keluar Retensi Na dan air Hipotalamus Stimulasi korteks adrenal Aldosteron keluar

Reabsorpsi air

3. Pemeriksaan Diagnostik a. Pemeriksaan natrium Disfungsi hemostatik cardiac output renal flow retensi Natrium Natrium serum > 146mEq/L Natrium urin > 40mEq/L Osmolalitas serum > 295mOsm/kg b. Elevasi serum ALT (Alanine aminotransferase) Indikasi kerusakan hepar CHF Kompensasi CHF di sistemik hepar volume vena kongesti hepatik metabolisme aldosteron dan ADH oleh hati fungsi hati terganggu c. Pemeriksaan transudat pleura

Referensi: Cavanaugh, B.M. (2003). Nurses Manual of Laboratory and Diagnostic Tests. 4th Edition. Philadelphia. F.A. Davis Company. DeLaune, S.C., and Ladner, P.K. (2010). Fundamental of Nursing: Standart and Practice. 4th Edition. United States: Delmar. Sherwood, L. (2001). Fisiologi Manusia: dari Sel ke Sistem. Edisi 2. (Terj. dr. Brahm). Jakarta: EGC.