Anda di halaman 1dari 16

KEDUDUKAN IPTEK DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

Dahulu: alat sebagai sarana, sehingga tergantung subyek yang menggunakan dan alat dianggap sebagai benda netral Sekarang: Iptek yang menghasilkan sarana merupakan produk budaya yang tentu saja perkembangannya tergantung pada peradaban budaya manusia. Yang menjadi pertanyaan apakah iptek bebas nilai? Ilmu pengetahuan berjalan berdasarkan logikanya. Dalam Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) prinsip yang berjalan adalah prinsip efisiensi. Karena itu iptek mempunyai kecenderungan untuk mengembangkan strukturnya sendiri, jadi iptek bukan sebagai sarana lagi. Dan inilah yang disebut sebagai TEKNOSTRUTUR.
1 FIP-Sholeh Hadi P

Contoh: Produksi Radio, Mobil, dan Pesawat

Seorang buruh bekerja secara spesifik, karena harus mengikuti struktur otomatisasi yang ada. Semakin canggih iptek, semakain keras strukturnya. Pesawat CESNA dalam perjalanannya mengikuti kemauan pilot
Pesawat F-16, cara kerjanya adalah pilot harus mengikuti kemauan instrument yang ada dalam pesawat, dengan demikian F-16 mempunyai setruktur yang semakin komplek. Dalam Iptek sekarang, manusia mengikuti proses otomatisasi dari produknya sendiri. Hal ini akan menimbulkan masalah dalam industri maju. Dengan demikian iptek jaman modern sudah tidak bisa netral lagi tetapi ada kepentingannya sendiri.
2 FIP-Sholeh Hadi P

Karena iptek mempunyai teknostruktur sendiri, sehingga menuntut manusia mengikutinya, dan menyebabkan manusia tidak bebas lagi. Iptek dapat mengurangi komunikasi antar manusia, Sebagai contoh pembelian lewat coin dan alat pelayanan otomatis. Dengan demikian iptek bukan untuk kepentingan manusia, tetapi manusia harus mengikuti aturan yang dibuat dalam iptek. Dengan demikian iptek tidak lagi bisa netral, dan mengganggu kebebasan manusia. Manusia tunduk terhadap rasionalitas teknologi, bukan teknologi tunduk terhadap rasionalitas manusia. Iptek bersifat ambivalen: Memberikan manfaat, dan Memunculkan permasalahan
3 FIP-Sholeh Hadi P

Dalam pengembangan Iptek, manusia berkedudukan: mempunyai hak untuk mengembangkan, dan harus bertanggungjawab Karena tujuan iptek adalah untuk kepentingan manusia, maka muncul etika keilmuan. Jadi yang penting adalah bagaimana sikap manusia terhadap teknologi. Dalam ETIKA ada: hak, dan tanggungjawab, kewajiban manusia, hatinurani, norma-norma, moral. ETIKA adalah refleksi kritis tentang moralitas. Moralitas adalah perbuatan yang ditinjau baik buruknya menurut norma-norma moral yang berkembang dalam masyarakat

4 FIP-Sholeh Hadi P

Norma-norma yang berkembang dalam masyarakat tercermin dalam ideologi, agama, kebudayaan, kebiasaan, adat dsb. Sehingga norma antar bangsa bisa berbeda-beda, dan baik buruk mempunyai ukuran yang berbeda-beda pula. Contoh dalam kebudayaan masyarakat Jepang. Orang harus bertanggungjawab terhadap perbuatannya, kalau tidak bisa mempertanggungjawabkan maka mereka akan harakiri Dalam ETIKA tidak ada penambahan ajaran, sebagai refleksi kritis akan mengkoreksi moralitas yang ada. Contoh dalam kebudayaan Jepang masa lampau adalah harakiri, namun dengan dilakukannnya refleksi kritis bukan harakiri tetapi substansinya adalah mengundurkan diri dari jabatan yang diembannya karena tidak bisa mempertanggungjawabkan.
5 FIP-Sholeh Hadi P

Hukum tidak sama dengan etika. Hukum mempunyai sangsi yang jelas, tetapi etika sangsinya tidak sama dengan hukum karena menyangkut pribadi seseorang, sangsinya lewat hatinurani. Moral ukurannya adalah martabat manusia. Budipekerti muncul dari moral, sehingga membentuk ETIKA. Moral yang berlaku dimasyarakat tidak semuanya didasarkan atas rasional. Hasil refleksi kirtis dari moral akan dijabarkan dalam masingmasing profesi. Dalam reflesi kritis, hatinurani penting sekali. Hatinurani adalah kesadaran moralitas (kesadaran yang ditinjau mengenai baik buruknya) yang menampilkan seluruh identitas seseorang, sehingga merupakan cerminan diri secara menyeluruh dari seseorang.

6 FIP-Sholeh Hadi P

Etika terapan: hak dan kewajiban seseorang dalam profesi. Hal ini merupakan pencerminan kemanusiaan lewat profesi. Bagi seorang ilmuwan jangan PLAGIAT. Disiplin, rasional, dan tanggungjawab adalah sikap seorang ilmuwan. Saat sekarang ilmu tidak lagi bisa menjadi netral, tapi dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah.

Teknologi bisa merembet keberbagai jaringan, bila manusia masuk dalam jaringan tersebut maka dia akan terikat oleh teknologi tersebut. Sehingga teknologi harus diarahkan untuk kepentingan manusia. Ingat teknologi itu bersifat ambivalen Ilmu pengetahuan berbicara rangkaian pengetahuanpengetahuan yang disusun secara sistematis, logis, dan ilmiah. Dalam positivisme logis dituangkan dalam siklus empiris.
7 FIP-Sholeh Hadi P

Dalam abad 20 Ilmu Pengetahuan adalah konstruksi yang rasional yang ada dalam subyek/ilmu ada dalam benak manusia. Subyek yang mengenal dan obyek yang dikenal, dan ini hubungannya adalah keterarahan. Konstruksi rasional terdiri atas dua unsur: Subyek = noisis (dalam bahasa Yunani) Obyek = noema (dalam bahasa Yunani) karena itu pengetahuan bersifat noeticonoematis.
Ilmu Pengetahuan itu seperti LAMPU SOROT, sehingga ada/terjadi kiblatkiblat, dan yang terungkap dalam sorotan itu disebut ranah. Ranah (domain) ada: Ranah FAKTA (Ilmu Pengetahuan Empiris Analitis) Ranah MAKNA (Ilmu Pengetahuan Historis Hermeneutis) Ranah PENGERTIAN (Ilmu Pengetahuan Kritis) Ranah PENGHAYATAN (Ilmu Pengetahuan Fenomonologis) Ranah PERATURAN (Ilmu Pengetahuan Rekonstruktif) Ranah KEPENTINGAN (Ilmu Pengetahuan Paradigma)
8 FIP-Sholeh Hadi P

Paralel dengan ranah, Habermas mengelompokkan Ilmu Pengetahuan menjadi: Ilmu Pengetahuan Empiris Analitis Ilmu Pengetahuan Historis Hermeneutis Ilmu Pengetahuan Kritis Ilmu Pengetahuan Fenomonologis Ilmu Pengetahuan Rekonstruktif Ilmu Pengetahuan Paradigma
Ranah Pengertian I.P Kritis

Ranah Fakta I.P Empiris Analitis

Ranah Makna I.P Historis Hermeneutis

9 FIP-Sholeh Hadi P

Ketiganya tersebut tidak tercermin dalam benda fisis tetapi dalam fakta. Contoh Meja: Wujud fisik (empiris analitis) Makna (mempunyai makna, sehingga merupakan sesuatu yang simbolik) Menurut HABERMAS: Ilmu itu tidak netral, artinya mempunyai kepentingan Pengetahuan itu juga mempunyai kepentingan ILMU PENGETAHUAN EMPIRIS ANALITIS Ilmu Pengetahuan yang diarahkan pada benda-benda fisik, dan domainnya adalah dunia alam, karena itu alam harus dikerjakan. Jadi ilmu pengetahuan empiris analitis berbicara fakta-fakta, dan fakta tidak pernah dilihat sendiri.

10 FIP-Sholeh Hadi P

Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana cara mengolah alam, dan untuk itu perlu ditemukannya hukum-hukum yang terikat dengan alam itu. Dengan ditemukan hukum-hukum alam dapat memprediksi gejala-gejala tertentu, dan karena itu alam bisa dikuasai.

Sifat I.P Empiris Analitis mempunyai kepentingan teknis


Medannya I.P Empiris Analitis adalah Dunia Alam Kepentingannya adalah kepentingan teknis
I.P Empiris Analitis: 1. Dunia yang dihadapi : Dunia Fisik 2. Kepentingannya: Teknis, yaitu untuk meningkatkan kemampuan manusia untuk menjadikan transformasi terhadap alam. Jadi dalam hal ini adalah menemukan dan mengembangkan sarana dan prasarana. Contoh: tanam padi, bagaimana meningkatkan produktivitas

11 FIP-Sholeh Hadi P

3. Tantangannya: Mengerjakan dunia itu. Dikemukakan oleh Marx bahwa lewat kerja manusia mengolah dunianya. Kerja berarti kemampuan manusia untuk dikembangkan untuk mengolah dunianya. Kerja tersebut berusaha memenuhi hukum alam. Dengan hukum-hukum dapat dipakai untuk: memprediksi, dan membuat teori sebagai perangkat untuk menjelaskan kejadian-kejadian alam melakukan prediksi. 4. Ranahnya ranah fakta, bahwa manusia berhadapan dengan alam atau dunia, manusia harus hidup bersama alamnya. Dalam hal ini ada hubungan-hubungan yang harus dipenuhi dalam alam, hanya saja alam tidak siap memenuhi kebutuhan tersebut, jadi alam harus diolah oleh manusia. Ranah fakta ini berkaitan dengan pengalaman (setiap pengetahuan didasari oleh pengalaman). Karena itu I.P Empiris didasari oleh empirisme dan posivisme.
12 FIP-Sholeh Hadi P

Pengalaman adalah apa yang ditangkap oleh pancaindera. Pengalaman bisa bersifat subyektif Fakta adalah apa yang dinyatakan berdasarkan pengalaman (apa yang dinyatakan berdasarkan observasi), atau keseluruhan informasi berdasarkan pengalaman. Fakta terjadi dalam berbagai cara (terjadi berulang-ulang), karena itu fakta disebut nomotetis (berulangkali terjadi dengan ciri-ciri yang sama) dan itu terjadi karena dikendalikan oleh hukum-hukum yang ada dibalik peraturan tersebut Berdasarkan observasi dapat diperoleh knowledge (individual knowledge). Dengan bentuk-bentuk individual knowledge dapat dibentuk generalisasi (dapat dibentuk induktif). Jadi I.P Empiris analitis dimulai dari observasi.

13 FIP-Sholeh Hadi P

Jadi Fakta adalah kejadian-kejadian yang terjadi berulang kali, dimana dibelakang kejadian tersebunyi hukum alam. Mengerjakan dunia untuk menemukan hukum alam, selanjutnya dapat mengendalikan alam dengan uji coba

5. Tujuan khas adalah memberikan eksplanasi (explanation) berdasarkan prinsip-prinsip kausalitas


6. Metodologisnya adalah induktif statistik, induksi deduksi, deduktif nomologis, deduktif hepotetis (Popper). Jadi kerangka metodologisnya adalah siklus empiris. Observasi merupakan landasan untuk membentuk hukumhukum universal. Dengan melalui proses analisa dan sintesa terhadap hukum-hukum universisal terbentuk teori. Teori untuk memberikan eksplanasi (penjelasan) tentang gejala-gejala yang dilakukan melalui hipotesa. Dalam hipotesa mencari data untuk memberikan konfirmasi.
14 FIP-Sholeh Hadi P

Standarnya adalah siklus empiris.

Prosesnya berjalan dengan ketat, artinya proses linier yang terjadi. Sesuatu dikatakan ilmiah kalau ditemukan hukumhukumnya (hukum alam). Atas dasar ini semua ilmu pengetahuan harus mampu diredusir secara empiris.
Catatan: Ilmu itu tujuannya adalah Kognitif (teori, hukum-hukum) Teknologi tujuannya adalah mengembangkan sarana dan prasarana untuk lebih bisa mentransformasi dunia.
Dalam I.P Empiris Analitis (IEA) rasionalitas ilmu sangat ketat sekali IEA menemukan nuklir sebagai bom. Teknologi nuklir dapat menghancurkan eksistensi manusia itu sendiri. Karena ilmu tersebut ada kepentingan, maka ilmu tersebut harus mengambil sikap (memihak). Ilmu dibuat untuk kepentingan manusia, yaitu memihak kepada martabat manusia, sehingga perlu mengambil sikap etis terhadap problematika yang dihadapi manusia.
15 FIP-Sholeh Hadi P

Karena Ilmu Pengetahuan Empiris Analitis (IPEA) hanya mengembangkan aspek kognitif saja, maka bila dihadapkan kepada permasalahan manusia yang lebih komplek yang bisa menjawab adalah Ilmu Pengetahuan Kritis. Dan kalau yang dihadapi adalah manusia yang obyeknya makna, maka metode IPEA kurang sesuai, dan yang sesuai adalah I.P Historis Hermeneutis.

16 FIP-Sholeh Hadi P