Anda di halaman 1dari 3

Analisis Biaya Pelistrikan yang Berkelanjutan Studi Kasus: Mikro Hidro Berbasis Masyarakat di Desa Cibuluh, Cagar Alam

Gunung Simpang
Mahasiswa: Hilda Lionata
Program Studi Biomanajemen, SITH-ITB, email: odalionata@yahoo.com

Pembimbing: Dr. Achmad Sjarmidi


SITH-ITB, email: asjarmidi@sith.itb.ac.id

Gelar: Magister Sains (M.Si), Wisuda Maret 2008 Abstrak

Indonesia diberkati dengan potensi tenaga air sebanyak 75.000 MW (Pekerjaan Departemen Umum, 2011). Untuk memanfaatkannya di daerah pedesaan, menjaga ketersediaan air di sungai merupakan salah satu unsur penting. Hutan harus dilestarikan untuk menyediakan layanan hidrologi dan menjamin ketersediaan air. Hutan di pulau Jawa, menderita kerusakan paling parah ketika wilayahnya berkurang dari 5.070 juta hektar di tahun 1950 hingga tersisa 897.978 ha di tahun 2009 (www.fwi.org). Berupa negara kepulauan dan banyak desa tersebar membawa tantangan, terutama dalam hal elektrifikasi. Sekitar 14,5 dari 43,5 juta rumah tangga belum terlistriki (The Worldbank, 2005). Upaya untuk meningkatkan pelistrikan dari tenaga air telah dilakukan selama puluhan tahun baik oleh pemerintah dan dukungan lembaga pembangunan lainnya. Namun, menyediakan listrik dan memastikan pelistrikan yang berkelanjutan di daerah pedesaan adalah dua hal yang berbeda. Empat puluh empat dari 80 mikro hidro yang memasok listrik ke Perusahaan Listrik Negara dan 111 mikro hidro 180 yang langsung memasok rumah konsumen di Indonesia tidak lagi operasi (Budiono, 2003). Banyak cerita konstruksi mikrohidro yang berakhir menjadi monumen pembangunan di Indonesia. Masyarakat perlu dipersiapkan untuk pengembangan hidro mikro. Mengetahui aspek lingkungan dan sosial memegang peran kunci dalam pelistrikan pedesaan berbasis masyarakat, internalisasi biaya dari kedua aspek itu menjadi perlu guna mempelajari bagaimana keduanya berkontribusi terhadap pengembangan hidro mikro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biaya aktual pengembangan mikro hidro dengan internalisasi biaya lingkungan dan sosial, mengetahui harga pokok listrik sebenarnya dan harga yang masyarakat bayar saat ini. Dengan demikian, skema manajemen untuk listrik yang berkelanjutan dari mikro hidro berbasis masyarakat dapat ditawarkan. Satu mikro hidro berbasis masyarakat di desa Cibuluh dan terletak di dalam Cagar Alam Gunung Simpang serta dijaga oleh kelompok konservasi berbasis masyarakat yang disebut Raksabumi dipilih sebagai lokasi penelitian. Di tahun 2012, hidro mikro di desa Cibuluh akan berusia 6 tahun dan masih beroperasi. Aspek ekologis dihitung melalui Metode Penilaian Kontingensi dan Produktivitas untuk menghitung jasa hutan dalam menjamin ketersediaan air untuk hidro mikro. Data primer Penilaian Kontingensi dikumpulkan dari 40 responden dan 2 responden yang dirujuk untuk Metode

Produktivitas. Data penilaian sosial dan teknis dikumpulkan menggunakan metode triangulasi. Kunjungan awal ke desa Cibuluh dilakukan tanggal 19 -22 Mei 2010 dan kunjungan kedua dilakukan pada 24-28 Juli 2010. Penilaian layanan hutan dari Penilaian Kontingensi dan Produktivitas adalah 8.880.000/tahun dan 6.624.000 rupiah/tahun, total 15.504.000 juta di tahun 2010. Nilai dari 2004 hingga 2010 adalah Rp. 85.221.951 dengan tingkat inflasi Bank Indonesia. Nilai ini juga mencerminkan apresiasi masyarakat terhadap upaya konservasi hutan yang telah dilakukan oleh Raksabumi. Aspek sosial yang diketahui dengan metode triangulasi berkontribusi 43% dari total anggaran, Rp. 268.965.000. Jumlah total biaya teknis dalam membangun mikrohidro adalah Rp. 235.000.000 yang meliputi biaya konstruksi dan pelatihan pemeliharaan dan operasi. Biaya aktual total pengembangan mikro hidro 20 kW di Cibuluh dengan mengintegrasikan ketiga aspek adalah Rp. 556.746.951 di tahun 2010. Dengan demikian harga produksi untuk menghasilkan listrik di tahun 2010 adalah 1.000 rupiah/ kW. Semakin mikro hidro dapat beroperasi hingga usia pakainya, harga produksi pun menurun. Biaya untuk menghasilkan 1 kW listrik dari mikrohidro di Cibuluh lebih mahal dari harga PLN (Rp. 415 - 1.330/kW) dan daya beli masyarakat di Cibuluh (Rp. 450/kW). Mikrohidro diperkirakan dapat memastikan elektrifikasi di Cibuluh sampai usia pakainya dengan modal sosial yang telah terbangun. Inovasi dan pengembangan teknologi kincir air tradisional yang telah ada di masyarakat harus dipelajari lebih lanjut untuk memastikan elektrifikasi berkelanjutan di daerah terpencil.

Kata Kunci: analisis biaya, mikro hidro berbasis- komunitas, valuasi layanan hutan, pelistrikan berkelanjutan.

The Cost Analysis of Sustainable Electrification Study Case: Community-Based Micro Hydro in Cibuluh Village, Mt. Simpang Nature Reserve
Student: Hilda Lionata
Masters program In Biomanagement, School of Life Sciences and Technology-ITB, email: odalionata@yahoo.com

Advisors: Dr. Achmad Sjarmidi


School of Life Sciences and Technology ITB, email: asjarmidi@sith.itb.ac.id

Degree: Magister of Science (M.Si), Conferred March 2008 Abstract


Indonesia is blessed with high potential of 75,000MW hydro power (Public Work Ministry, 2011). To utilize the potential of hydro power in rural areas, forest must be conserved to provide hydrological services. Forest on Java island, suffers decrease the most when its area is reduced from 5,070 million hectares in 1950 to only 897,978 ha in 2009 (www.fwi.org). The nature of archipelago and widely spread villages brings challenges, especially in term of electrification. There are 14.5 out of 43.5 million households without electrification (The Worldbank, 2005). Providing electricity and ensuring sustainable electrification in rural area is two different things. Forty four of 80 on-grid and 111 of 180 off-grid micro hydro in Indonesia is no longer operating (Budiono, 2003). Many stories of micro hydro constructions end up as developmental monument in Indonesia. Community needs to be prepared for developing micro hydro. Environmental and social aspects held key roles for a sustainable community-based, rural electrification, thus it is become necessary to internalize the cost of these two aspects. This study is geared to find out the actual cost of hydro power development by internalizing environment and social costs, the electricity cost price is and the price community pays currently. Thus, a management scheme for sustainable electrification from a community-based micro hydro can be offered. One community-based micro hydro in Cibuluh village, uniquely located inside Mt. Simpang Nature Reserve and guarded by a community-based conservation group called Raksabumi is chosen as study site. By 2012, the micro hydro in Cibuluh village will be 6 years old and is still operating. The ecological aspect of forest services in ensuring water availability for the micro hydro is valuated through Contingent Valuation (CV) and Productivity Methods. Primary data was collected from 40 respondents for CV and 2 referred respondents for Productivity Method. Data of social and technical valuation is collected using methodological triangulation. Preliminary visit to Cibuluh village was conducted on May 19-22nd, 2010 and the second visit was done on July 24-28th, 2010. The valuation of forest service that ensures water availability in Cibuluh from CV and Productivity Method is 8,880,000/year and 6,624,000 rupiah/year respectively, 15,504,000 million/year in total in year 2010. The value from year 2004 to 2010 is 85,221,951 IDR. This value also reflects community appreciation to forests conservation effort that has been done by Raksabumi. Social aspect valuated through triangulation method shared 43% of the total budget, 268,965,000 IDR. Total technical cost in constructing micro hydro is 235,000,000 IDR. The total actual cost of 20 kW Cibuluh micro hydro development by integrating all three aspects is 556,746,951 IDR by year 2010. Thus the cost price to produce electricity by year 2010 is 1,000 IDR/kW. The longer micro hydro can operate up until its service time, the cost price decreases. The cost to produce 1 kW of electricity from micro hydro in Cibuluh is more expensive than State Electricity Company/PLN (415- 1,330 IDR/kW) and community purchase power in Cibuluh (450 IDR/kW), meaning there is subsidy. Micro hydro is predicted to be able to ensure electrification until its service time with the existing social capital. Innovation and technological development of traditional water wheel within community should be further studied to ensure sustainable electrification in remote areas. Keywords: cost analysis, community-based micro hydro, forest service valuation, sustainable electrification,