Anda di halaman 1dari 6

5 KERUSAKAN HUTAN DAN INTINYA KERUSAKAN EKOSISTEM MANGROVE

Indonesia menyimpan potensi teritorial maupun sumber daya alam yang luar biasa. Letak strategis wilayah NKRI yang berada diantara dua benua yaitu Australia dan Asia serta diapit oleh dua samudera yaitu Hindia dan Pasifik merupakan kawasan potensial bagi jalur lalu-lintas antar negara. Bentuk perusakan Ekosistem Hutan Mangrove oleh masyarakat yang terjadi lazimnya dilakukan untuk keperluan antara lain: hutan mangrove.. Corak kekayaan lingkungan sebagaimana diutarakan telah mengalami pergeseran peran dan fungsi lahan mangrove akibat motif ekonomi masyarakat disekitar A. Pertambakan. Konversi ekosistem mangrove menjadi tambak merupakan faktor utama penyebab hilangnya hutan mangrove dunia. Tambak merupakan pemandangan umum, baik tambak udang dan bandeng maupun tambak garam. B. Penebangan Vegetasi Mangrove. Pembukaan lahan untuk tambak melalui penebangan secara tidak lestari merupakan penyebab utama kerusakan mangrove. C. Pencemaran Lingkungan. Pencemaran yang terjadi baik di laut maupun di daratan dapat mencapai kawasan mangrove, karena habitat ini merupakan ekoton antara laut dan daratan. Bahan pencemar seperti minyak, sampah, dan limbah industri dapat menutupi akar mangrove. D. Reklamasi dan Sedimentasi. Reklamasi pantai untuk kepentingan industri serta sedimentasi dalam skala besar dan luas dapat merusak ekosistem mangrove karena

tertutupnya akar nafas dan berubahnya kawasan rawa menjadi daratan.

EKSPLOITASI MENJADI PENYEBAB UTAMA KERUSAKAN HUTAN

Bandung-Kerusakan hutan ini sendiri seharusnya tidak boleh terus berlanjut. Hutan saat ini merupakan penting dan strategis bagi kelangsungan pembangunan di Indonesia. Pada dasarnya penyebab kerusakan hutan itu karena akumulasi eksploitasi, illegal logging, dan pengelolaan hutan yang salah. Tindakan yang menyimpang tersebut dikarenakan hasil hutan kayu masih merupakan unggulan komoditi hasil hutan dalam bisnis kehutanan, permintaan terhadap hasil hutan kayu untuk kebutuhan domestik dan dunia terus meningkat. Peluang bisnis di sektor kehutanan ini memang menjanjikan. Lemahnya kelembagaan pengelolaan hutan di tingkat daerah turut menambah penyebab kerusakan hutan tersebut. Kawasan hutan Indonesia sendiri saat ini memiliki luas 130,86 juta ha. Luasan tersebut membuat Indonesia sebagai pemilik hutan tropika ke-3 terbesar di dunia. Seperti yang dituturkan oleh kepala badan litbang kementerian kehutanan tachri fahtoni. Kementerian kehutanan sendiri mengklaim bahwa tingkat deforestasi tahun 2010 sudah turun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tingkat deforestasi tahun tercatat seluas 0 koma 5 juta ha per tahun angka ini sebenarnya sudah jauh turun dibandingkan kurun 19972000 yang mencapai 3 koma 8 juta per ha.

ILLEGAL LOGING PENYEBAB TERBESAR KERUSAKAN HUTAN INDONESIA

TEMPO Interaktif, Yogyakarta: Selama sepuluh tahun terakhir, laju kerusakan hutan di Indonesia mencapai dua juta hektar per tahun. Selain kebakaran hutan, penebangan liar (illegal loging) adalah penyebab terbesar kerusakan hutan itu. Demikian dikatakan Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM), Profesor Doktor Soekotjo, di Yogyakarta, Rabu (3/3). Selama 1985-1997, kerusakan hutan di Indonesia mencapai 22,46 juta hektar. Artinya, rata-rata mencapai 1,6 juta hektar per tahun, kata Soekotjo. Ada empat faktor penyebab kerusakan hutan itu: penebangan yang berlebihan disertai pengawasan lapangan yang kurang, penebangan liar, kebakaran hutan dan alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian atau pemukiman. Menurut Soekotjo, kebakaran hutan terbesar yang pernah terjadi di Indonesia pada 1997, membuat hampir 70 persen hutan terbakar. Kerusakan hutan bertambah ketika penebangan liar marak terjadi. Penebangan liar telah merusak segalanya, mulai dari ekosistem hutan sampai perdagangan kayu hutan. Lantaran hanya dibebani ongkos tebang, tingginya penebangan liar juga membuat harga kayu rusak. Persaingan harga kemudian membuat banyak industri kayu resmi terpaksa gulung tikar. Selain itu, lemahnya pengawasan lapangan penebangan resmi juga memberi andil tingginya laju kerusakan hutan di Indonesia. Padahal, kriteria Direktoran Kehutanan mengenai Tebang Pilih Indonesia (TPI) sebenarnya sudah cukup baik dan sesuai dengan kriteria pengelolaan hutan yang telah dirumuskan dalam berbagai pertemuan ahli hutan se-dunia. Tapi di lapangan, kriteria itu tidak berjalan akibat lemahnya pengawasan, kata Soekotjo.

KERUSAKAN HUTAN PENYEBAB BANJIR BANDANG

Kolaka Utara,BERLING-Kerusakan hutan di kawasan pegunungan mekongga menjadi penyebab utama banjir bandang di Kabupaten Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. Ini terlihat dari material berada di bekas lokasi banjir di lima desa yang tertimpa bencana. Material sepeti kayu gelondongan sisa hasil tebangan dan lumpur yang terbawa menunjukkan ada jejak kerusakan dalam kawasan. Puluhan kayu berdiameter antara 50- 70 Cm yang sudah diberi nomor juga ditemukan di lokasi banjir. Kayu-kayu ini diduga milik perusahan kayu yang kini beroperasi di sekitar kawasan hutan mekongga. Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam yang berkunjung ke lokasi banjir bandang di Kolaka Utara hingga tercengang-cengang melihat fakta banyaknya kayu sis olahan di lokasi banjir. Tak urung Nur Alam pun mengaku prihatin dengan maraknya pembalakan liar di kawasan hutan Kolaka dan Kolaka Utara sehingga menyebabkan bencana banjir bandang. Gubernur meminta agar pemerintah daerah segera menindak tegas para pelaku pembalakan liar di kawasan tersebut. "Saya sudah melihat langsung ke lokasi banjir dan disana terdapat sisa hasil tebangan berupa kayu olahan. Pemda Kolaka Utara sebaiknya segera membenahi dan menertibakan para pembalak liar,"kata Nur Alam, Sabtu (23/1) . Para pencinta alam bahkan berani mengklaim jika kerusakan hutan tersebut merupakan hasil ilegal logging yang kini marak di kawasan pegnungan mekongga.

PENYEBAB KERUSAKAN HUTAN DI INDONESIA

LADANG BERPINDAH Sebagaimana kita maklumi di daerah Kalimantan Selatan kualitas sumber daya lahan dan tanah untuk pertanian di perbukitan sangat kurang, sehingga apabila sudah ditanami dua sampai tiga kali terulang lahan tersebut tidak potensial lagi, ditambah dengan teknologi pertanian yang sangat tradisional. Karena itulah masyarakat yang dipimpin Kepala Padang (Kepala Ladang) membuka hutan lagi untuk lahan pertanian baru demi kelangsungan hidup mereka. Proses tradisional ini sudah berlangsung ratusan tahun atau semenjak manusia Kalimantan mulai berbudaya hingga sekarang ini. Sepengetahuan IMPAS-B hingga penghujung tahun 80-an tidak ada dampak negatif dari aktivitas ladang berpindah karena sewaktu pembakaran lahan masyarakat selalu siap di sekeliling tepian hutan (dalam arti jangan sampai hutan ikut terbakar). Berladang bagi masyarakat Dayak Kalimantan (penghuni hutan) hanya sekadar untuk mencukupi keperluan pangan saja, tidak sebagai usaha komersial, dan mereka mencukupi kebutuhan lainnya dengan mengambil apa saja yang bernilai ekonomis yang ada di hutan. Peladang berpindah selalu membuka hutan baru berdasarkan perkiraan musim atau iklim. Menurut pengamatan dan berdasarkan kemanusiaan yang adil dan beradab masyarakat Dayak Kalimantan yang menghuni hutan, berladang bagi mereka adalah keharusan alami.