Anda di halaman 1dari 5

Komunitas Hitam Putih; Tangga GK.

Sunan Ambu, STSI Bandung 27 September 2012 Catatan dari hasil pantauan untuk KELOLA

Tangga Randai yang Modern Oleh: Yunis Kartika Berawal dari Tangga. Manusia tanpa nama dengan jenis kelamin berbeda bermain dengan tangga dalam ruang dan dimensi masing-masing. Kemudian manusia-manusia lain dengan tanggatangga lain bergerak naik turun, berputar dan saling memberi respon. Tangga sebagai eksplorasi simbolik sebuah kekuasaan, menjadi konsep besar Komunitas Hitam Putih dengan sutradara Yusril. Gedung Kesenian Sunan Ambu yang berkapasitas 400 orang, malam itu dipenuhi sebagian besar oleh mahasiswa STSI Bandung. Tidak seperti biasanya, tidak banyak seremonial yang dilakukan dalam acara-acara serupa, dan hal ini cukup melegakan. Pertunjukkan berdurasi 1 jam berjalan baik, diakhiri dengan diskusi yang tidak memakan waktu banyak. Transformasi Unsur Randai Memilih pencermatan pendekatan pada data. ikonografi sangat mengandalkan membandingkan, Mengamati,

merekontruksi, sehingga mampu mengadaptasi dan menghasilkan ikon-ikon pembanding yang mampu mewakili ikon-ikon aslinya. Sebuah kisah yang dalam proses kreatif penciptaannya mengambil pola-pola penyajian teater tradisi seringkali terjebak dalam

pencarian pencitraan baru, yang bisa membuat kreator tergelincir dari makna sebenarnya. Seperti yang diakui oleh Yusril sebagai sutradara, bahwa pertunjukkan ini tidak lain dari mengadopsi unsur-unsur teater rakyat Randai. Ada pola-pola bermain yang ingin diperlihatkan dalam pertunjukkan teaternya. Seperti gerak tari yang bertolak dari gerak-gerak silat Minangkabau, yang disajikan dalam berbagai variasi dan versi improvisasi. Melalui koreografi Ali Sukri, gerakkan silat ini tentu menjadi lebih indah dan halus. Ada tiga fungsi sosialisasi Randai yang menonjol dalam Tangga. Pertama, pertunjukkan sebagai fungsi hiburan. Sebagai kesatuan penonton yang utuh pertunjukkan telah yang berhasil akrobatik, menghibur tidakpun dengan adegan-adegan

spektakuler. Tubuh para aktor dengan baik menjadi instrumen yang menyatu dengan properti tangga yang diperlakukan dengan begitu rupa. Beberapa adegan bahkan memperlihatkan fleksibelitas tubuh yang didapat dari olah fisik matang seperti yang diperlihatkan Ali Sukri. Teknik-teknik yang baik dan ketepatan waktu dalam perubahan gerak. Penonton seolah dibawa pada dimensi kengerian sekaligus kekaguman. Kedua, berfungsi edukatif. Tangga menceritakan tentang sistem pemerintahan di Minangkabau yang pertunjukkannya dibawa ke luar dari wilayah lokal. Kemudian, para penonton Bandung mendapat informasi tentang apa yang terjadi dengan sistem pemerintahan di Minangkabau. Berjenjang naik, bertangga turun. Sebuah sistem terpusat dan otoriter seperti dalam dialog, Hitam kataku hitam, putih kataku putih. Ketiga, berfungsi sebagai kritik sosial. Komunitas Hitam Putih mengangkat wacana tentang bagaimana sebuah sistem pemerintahan yang otoriter dimana keputusan tidak dapat diganggu gugat. Dalam era demokrasi, seharusnya sistem tersebut akan saling

bertabrakan dan membuahkan aksi demonstrasi. Namun, dalam beberapa kasus, masyarakat tradisi masih menganggap bahwa sikap patuh pada tradisi menyelamatkan lokalitas budaya. Sebagai sebuah tontonan, Komunitas Hitam Putih dengan lakon Tangga berhasil memukau penonton. Pragmen-pragmen adegan terbingkai sangat rapih dan mengalir. Tangga sebagai properti dipergunakan dengan efektif dan efisien. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Sebagai seorang sutradara, Yusril berhasil menegakkan demokrasi kreatifitas pada seluruh tim pendukungnya. Jejaknya sebagai sutradara tidak mendominasi, bahkan rasa dari kolaborasi yang melibatkan seniman tari, musik dan penyair sangat kental. Pada momen-momen tertentu penonton bisa melihat ciri khas atau signature setiap seniman yang terlibat, baik itu seniman teater, tari, musik dan puisi sebagai inspirasi pertunjukkan. Dan aktor menjadi intrumen pelaku yang mengikat dari setiap konsep otak sang seniman. Diskusi Usai Pementasan Diskusi dipandu oleh salah seorang dosen teater STSI Bandung Ipit S Dimiyati. Segera setelah Yusril menceritakan ide dan gagasan pertunjukkan tersebut, Christiawan yang juga merupakan salah satu dosen di STSI Bandung memberikan pendapat positifnya. Kemudian disusul oleh Hikmat Gumelar, seorang aktivis seni memberikan pula komentarnya yang menarik. Hikmat mengatakan bahwa pertunjukkan Tangga telah memberikan banyak kemungkinan dengan menembus batasan-batasan antara teater murni dengan tari. Maka berhasillah konsep main-main yang diusung oleh sutradara. Satu hal yang disayangkan, bahwa penonton Bandung malam itu tidak disuguhi pertunjukkan dengan format lengkap. Dengan

kejadian yang tidak diinginkan telah membuat salah satu pemainnya cidera sehingga tidak bisa tampil malam itu. Namun, dengan insiden tersebut sesungguhnya pertunjukkan malam itu tetap luarbiasa. Pertunjukkan itu pula kemudian mengingatkan pada para pelaku seni pertunjukkan bahwa pada akhirnya, seorang aktor harus bisa menari dan seorang penari harus bisa berakting. Hibah Seni Kelola Sebagai Sebuah Program Tidak bisa dipungkiri bahwa Yayasan Kelola telah menjadi penggerak bagi seniman dari berbagai unsur untuk terus menciptakan karya dan membaginya pada masyarakat luas. Secara signifikan program ini telah berhasil membuat seniman/kelompok seni bekerja di bidangnya secara krearif dan berkesinambungan. Untuk itu diharapkan program Hibah Seni ini terus ada, dan jika memungkinkan menambah kuantitas penerima program ini.[]
di timur matahari akan terbit kawanan orang-orang bergerombolan itu bertemu pendakian, kita, setumpak pencarian gaduh dalam zikir. tasbih air mata menuju langit, puncak dari waktu terjemahkanlah, wahai, beku batu-batu. siapa memancang istana di udara jauh memancang singgasana di tinggi labirin dan kawanan orang-orang bergerombolan, kita, saling sikut berebut tempat mencari arah matahari. atau di mana bulan jatuh sorga kau dengar sayat itu?

Sepenggal petikan puisi Tangga ditulis oleh Iyut Fitra

Catatan: 1 & 2. Achmad, A. Kasim dkk 1990 Ungkapan Beberapa Bentuk Kesenian Teater, Wayang dan Tari, Direktorat Kesenian, Jakarta.