Anda di halaman 1dari 4

Ramairamai Membohongi Diri

Maaf. Maaf. Maaf. (Politik Cinta Dasamuka)* Ruangan yang tidak begitu besar itu pengap sesak dengan penonton yang sebagian besar merupakan mahasiswa. Jam pementasan yang seharusnya 19.30 menjadi molor, entah dengan pertimbangan apa. Tepat jam delapan malam, akhirnya pementasan dimulai dengan kehadiran seorang lelaki diapit dua orang perempuan yang muncul dari pintu penonton langsung masuk dan menaiki panggung. Layaknya seorang MC, sang lelaki menerangkan tentang akan adanya sebuah peristiwa di atas pentas. Plus menjelaskan peraturan selama pementasan berlangsung. Pementasanpun dimulai. Suara tawa sang Kaisar Dasamuka (Yussak Anugrah) di atas singgasananya cukup menyita perhatian penonton. Berbicara tentang keinginannya untuk bertahta di atas kekuasaan selama mungkin. Dalam lamunannya, Sang Kaisar memohon agar Ratu Cahaya datang dan membantunya mewujudkan keinginan tersebut. Keinginan pun terkabul, Ratu Cahaya datang untuk mewujudkan impiannya tentang kekuasaan abadi dan cinta Dewi Shinta. Begitulah awal cerita bermula. Ario kepala keluarga merasa dirinya Kaisar Dasamuka. Ketenangan berubah menjadi kegelisahan. Ario duduk di tahta, berprilaku persis Dasamuka. menjalankan roda pemerintahan dan menyebut anggota keluarga dengan nama-nama tokoh pewayangan. Istrinya disebut Dewi Shinta, adiknya disebut Sarpakanaka, pengasuh Ario sejak bayi direkrut jadi Tukang Sihir Istana dan kepala pembantu dianggap sebagai Patih Bandem Prahasta. Putra sulungnya mendapat peran pula Gunawan Wibisana, dan si putri bungsu menjadi Trijata. Kaisar Dasamuka tergolong penguasa yang gemar bikin proyek-proyek, yang katanya diniatkan untuk kesejahteraan rakyat jelata. Salah satu proyek utamanya adalah MCK (Mandi-Cuci-Kakus) Center. Atas saran sang Patih, dia juga membentuk Lembaga

Manajemen Nafsu yang bertugas menyensor kemarahan agar tak mengganggu stabilitas keamanan dan kekuasaan Kaisar. Tapi pembangkangan timbul di mana-mana. Dasamuka sangat prihatin. Pada suatu hari datang dua petugas museum yang berniat menyurvei Istana Ario yang antik dan bersejarah. Ario malah menangkap dua petugas itu, karena dianggap sebagai Hanoman dari Hanggada. Dalam kisah Ramayana, Hanoman adalah utusan Ramawijaya. Dia bertugas menyelidiki: apakah Dewi Shinta masih suci dan setia kepada sang suami atau sudah ternoda oleh penculiknya, Dasamuka. Dalam kisah Ramayana, Hanoman dibakar di alun-alun, tapi Kera sakti itu tidak mempan api. Dia malah menyulut huru hara dan membakar istana Dasamuka. Ario ingin mewujudkan alur pakem kisah. Jadi, Hanoman harus dibakar, kemudian membakar istana. Artinya rumah Ario-lah yang harus dilahap api. Nampaknya sandiwara mulai melangkah ke arah adegan yang berbahaya. Kegilaan memang harus diakhiri, demikian pula kebohongan yang melingkupinya. Dengan berat hati, seluruh anggota keluarga harus merelakan Ario-Kaisar Dasamuka digiring untuk dirawat di Rumah Sakit Jiwa. Menilik dari tema yang diusung, barangkali ini memang bisa mewakili apa yang tengah terjadi di tengah masyarakat yang resah dengan segala peristiwa buruk yang dialaminya. Para penguasa yang berlomba ingin melanggengkan kekuasaannya dengan janji-janji palsu membuat masyarakat muak. Sehingga terjadi demontrasidemontrasi di mana-mana. Pun juga disinggung masalah janji menyelesaikan segala permasalahan dalam 100 hari. Nyatanya penguasa cukup puas hanya dengan pembangunan MCK (Mandi-CuciKakus) Center, yang sebenarnya tidak masyarakat butuhkan. Yang diperlukan adalah tindakan konkrit semisal penurunan harga pangan dan memerhatikan hidup masyarakat miskin. Dedi Warsana, sutradara pementasan ini, memasukan ketidaksetujuannya pada penebangan pohon-pohon di sekitar jalan Setiabudi Bandung, yang diperuntukkan bagi pelebaran jalan.

Penebangan yang akhirnya menyebabkan daerah sekitar jalan Setiabudi menjadi gersang. Pementasan Maaf. Maaf. Maaf. (Politik Cinta Dasamuka) karya Nano Riantiarno ini digarap dengang cukup apik oleh Lakon Teater Universitas Pendidikan Indonesia. Dedi menggarapnya dengan gaya tonil atau lenongan. Bagaimanapun secara hiburan untuk tema yang berat ini dapat menghibur penonton yang memenuhi Gedung PKM Lt 2 Universitas membuat Pendidikan Indonesia penonton Bandung itu pada 12-13 itu September 2006. Sayangnya, peralihan adegan yang lebih dari 10 kali kebanyakan pementasan malam mengaku lelah. Setiap beberapa menit setting berubah dengan ekstrim fade out yang sangat menguras energi. Adalah sebuah daya tarik tersendiri ketika penggalan sebuah lagu yang tengah trend di kalangan anak muda, Sedang Ingin Bercinta-DEWA, dinyanyikan dengan gaya yang lucu dan memikat oleh Sarpakanaka (Desita) adik dari Dasamuka. Satu lagi kehadiran seorang tokoh yang suara bernama Wekwek yang hanya mampu dari pada mengeluarkan Melihat wek-wek-wek, ini, kita merupakan seperti simbol

kecerewetan dan omong kosong belaka. pementasan diingatkan pementasan-pementasan teater para penggarap yang telah lebih dulu memakai gaya pementasan dengan kolaborasi modern-tradisi. Misalnya Arifin C. Noor dan Yusef Mulyana dengan Laskar Panggungnya. Bisa jadi tak ada yang baru dalam pementasan ini. Barangkali yang lebih dititik beratkan adalah tema yang diusung. Bagaimana penguasa mengusai hajat hidup orang banyak. Memeras dan menekan masyarakat dengan gayanya masing-masing atau malah turun-temurun. Lakon teater adalah salah satu teater kampus tertua di propinsi Jawa Barat dan Banten. Kehadirannya di Universitas Pendidikan Indonesia, diawali dengan terbentuknya Liga Drama Bumi Siliwangi pada 1962. Liga inilah yang menjadi cikal bakal kehidupan teater di kampus yang sekian lama bernama IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu

Pendidikan), Bandung. Di usianya yang ke-29 tahun, LAKON teater berhasil mementaskan sekitar 85 naskah, baik naskah luar maupun dalam negeri. Selain acapkali mengikuti berbagai festival, lomba dan pekan seni di berbagai kota di Indonesia. Membohongi diri, ternyata ada batasnya. Sebuah kalimat ironis yang diucapkan istri Ario yang berpura-pura menjadi Dewi Shinta (dimainkan oleh Devi) semestinya mampu menyentil telinga bagi yang memiliki nurani. Memang begitulah, kebohongan yang harus terus ditutupi dengan kebohongan lainnya tidak akan pernah membuahkan apa-apa, selain kesengsaraan awal atau akhir. *Yunis Kartika, Penulis dan Penggiat Teater. Tinggal di Bandung