Anda di halaman 1dari 8

FORMULIR TELAAH JURNAL Judul Variable Effects of Goitrogens in Inducing Precocious Metamorphosis in Sea Lampreys (Petromyzon marinus) RICHARD

G. MANZON, JOHN A. HOLMES, ANDJOHN H. YOUSON MANZON ET AL. JOURNAL OF EXPERIMENTAL ZOOLOGY 289:290 303 (2001) Aida Julia ulfah Latansa dina Hafidhu nalendra Yahya kholid Naufal F Maulina sulpi Syara sofiati Annisa aulia fitri Deasy rahmi apsari Rico irawan 17 oktober 2012

Penulis Publikasi Penelaah

Tanggal telaah

I. DESKRIPSI JURNAL Uraian Deskripsi Jurnal Zat goitrogenik membuat menginduksi percepatan metamorphosis dari larva Sea Lampreys (Petromyzon marinus) Penilitian ini terdiri dari beberapa experiment yaitu : o Experiment 1: Propylthiouracil and triiodothyronine Larva dipilih secara random dan dibagi kedalam 3 : control, PTU (6-n-propyl2-thiouracil), T3, PTU plus T3(PTU+T3) o Experiment 2: Propylthiouracil Pada eksperimen ini digunakan zat goitregenik NaOH dan PTU o Experiment 3: Potassium perchlorate, potassium thiocyanate, and methimazole Pada eksperimen ini digunakan zat goitrogenik KClO4, KSCN, dan MMI o Experiment 4: Potassium perchlorate, sodium perchlorate, and potassium chloride Pada eksperimen ini digunakan zat goitrogenik KClO4, NaClO4, dan KCl Peneltian ini menyimpulkan bahwa 1) zat goitrogen selain PTU dapat menginduksi metamorphosis pada larva Petromyzon marinus. 2) Metode yang menghambat sintesis hormone tiroid tidak langsung menginduksi metamorphosis 3) PTU memiliki efek bervariasi pada sintesis hormone tiroid dan metamorphosis pada Petromyzon marinus. 4) Tidak seperti di protokordata, ion kalium tidak menginduksi metamorphosis pada Petromyzon marinus dan bukan merupakan factor yang menstimulasi kejadian ini.

II. TELAAH JURNAL A. Validitas Seleksi Komponen Validitas Seleksi 1. Kriteria seleksi 2. Metode alokasi subjek 3. Concealment 4. Angka drop out 5. Jenis analisis: Intention to treat atau perprotocol analysis Uraian Validitas Seleksi 1. Kriteria seleksi --Kriteria inklusi: --Kriteria eksklusi: Adanya gejala dan tanda defisiensi vitamin A, (30; 8.4%), menerima sejumlah besar dosis vitamin A dalam waktu 6 bulan terakhir (29; 8.1%), meninggalkan daerah tempat penelitian (157; 43.9%), adanya penyakit sistemik yang berhubungan (82; 22.9%), telah terdaftar sebelumnya (28; 7.8%), badan terhadap tinggi badannya <70% dari NCHS median (4; 1.1%), dan non-consent (28; 7.8%). 2. Metode alokasi subjek Simple Random Sampling (SRS) 3. Concealment Concealment dengan Central Pharmacy 4. Angka drop out 5 dari 900 = 0,55% 5. Jenis analisis: Kesimpulan Validitas Seleksi Validitas seleksi pada penelitian ini cukup baik. Kriteria inklusi dan eksklusi yang digunakan membatasi subjek sesuai dengan tujuan penelitian. Jumlah subjek juga cukup banyak dan metode randomisasi yang digunakan memang metode yang memenuhi validitas seleksi. Angka drop out tergolong rendah

B. Validitas Pengontrolan Perancu Komponen Validitas Pengontrolan Perancu 1. Pengontrolan perancu pada tahap desain dengan cara restriksi 2. Pengontrolan perancu pada tahap desain dengan cara randomisasi

3. Analisis terhadap komparabilitas baseline data 4. Pengontrolan perancu pada saat analisis (bila diperlukan) Uraian Validitas Pengontrolan Perancu 1. Pengontrolan perancu pada tahap desain dengan cara restriksi Tahap restriksi: Membatasi subjek penelitian pada usia 1-5 tahun serta tidak pada anak dengan gejala dan tanda defisiensi vitamin A, menerima sejumlah besar dosis vitamin A dalam waktu 6 bulan terakhir, dan penyakit sistemik yang berhubungan 2. Pengontrolan perancu pada tahap desain dengan cara randomisasi Pemilihan sampel dengan cara Simple Random Sampling 3. Analisis terhadap komparabilitas baseline data 4. Pengontrolan perancu pada saat analisis (bila diperlukan) Kesimpulan Validitas Pengontrolan Perancu Pasien-pasien yang memiliki faktor-faktor yang dapat merancukan hasil penelitian di singkiran dari pengambilan. Cara penyingkiran factor perancu dapat menggunakan klasifikasi eksternal dimana pasien yang tergabung dengan kategori tersebut tidak diperbolahkan mengikuti kegiatan penelitian.

C. Validitas Informasi Komponen Validitas Informasi 1. Blinding (penyamaran) 2. Komponen pengukuran variabel penelitian (kualifikasi pengukur, kualifikasi alat ukur, kualifikasi cara pengukuran, kualifikasi tempat pengukuran) Uraian Validitas Informasi Dalam jurnal ini dilakukan perbandingan mean dari T4,T3, dan TSH antara masyarakat di Ubangi dan Ntcheu dengan adanya acuan data dari penelitian sebelumnya. Tidak dijelaskan dalam jurnal ini pengambilan diambil secara acak atau tidak. Penjelasan tentang bagaimana pengukuran mean dari T4, T3, maupun TSH dan alat ukur tidak dijelaskan. Rentang usia adolescent girls tidak dijabarkan lebih lanjut. Kesimpulan Validitas Informasi Berdasarkan kriteria validitas Informasi, jurnal ini dapat dikategorikan sebagai jurnal

yang kurang valid. Karena dalam jurnal ini, walaupun maksud awal adalah untuk membandingkan mean dari T4, T3, dan TSH antara masyarakat di Ubangi dan Ntcheu dengan adanya acuan data dari penelitian sebelumnya tetapi tidak ada penjelasan tentang cara pengambilan sampel yang acak atau tidak. Kemudian tidak ada penjelasan cara pengukuran serta alat ukur yang digunakan pada penelitian ini. Terakhir tidak adanya rentang usia pada adolescent girls yang deteliti. D. Validitas Analisis Komponen Validitas Analisis 1. Analisis terhadap baseline data 2. Analisis dan interpretasi terhadap hasil utama dan hasil tambahan 3. Bila dilakukan analisis interim, jelas stopping rule-nya 4. Dilakukan analisis lanjutan bila baseline data tidak sama Uraian Validitas Analisis Tidak ada perbedaan signifikan dalam usia, tingkat melek huruf orang tua, status gizi, pola makan atau pra-pendaftaran karakteristik penyakit antara kelompok perlakuan. Pasangan perbedaan akan kelompok konsentrasi serum vitamin A dengan baseline dan 1 bulan setelah perawatan adalah 0,36 0,71 umol / L (95% CI 0,12-0,59, P <0,001) pada 40 anak yang dipilih secara acak dalam kelompok vitamin A dan 0,12 0,7 umol / L (95% CI-0,11-0,36, P = 0,136) pada 40 anak pada kelompok plasebo. Perbandingan sarana perubahan konsentrasi retinol serum antara baseline dan 1 bulan setelah suplementasi di dua kelompok perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (P = 0,13). Selanjutnya, retinol serum ratarata konsentrasi 1 bulan setelah suplementasi adalah serupa pada vitamin A (1,30 0,44 umol / L) dan plasebo (1,17 0,42 umol / L) kelompok (P = 0,20). Subklinis kekurangan vitamin A pada awal (serum retinol <0,7 umol / L) terdeteksi pada 26,3% anak: 31,6% pada kelompok vitamin A dan 21,1% pada kelompok plasebo (P = 0,30). Baseline konsentrasi serum retinol adalah 1,0 0,52 umol / L dalam menyusui anak-anak dan 0,98 0,38 umol / L pada mereka yang tidak diberi ASI (P = 0,83). Dalam analisis pada semua anak usia 1-5 y, risiko diare persisten berkurang secara signifikan pada anak yang mendapat tambahan vitamin A (OR 0,30, 95% CI 0,07-0,97). Namun, durasi diare rata-rata, jumlah tinja diare dan perubahan berat badan selama studi adalah serupa pada kedua kelompok. Anak kurang gizi dan mereka yang tidak diberi ASI mungkin diharapkan untuk memiliki prevalensi lebih tinggi dari vitamin subklinis parah kekurangan A, sehingga vitamin A mungkin memiliki dampak yang lebih besar dalam subkelompok. Tes standar interaksi (Pocock 1983) menyarankan interaksi yang signifikan antara menyusui status dan pengaruh suplementasi vitamin A pada durasi diare rata-rata (P =

0,01), sedangkan tidak ada interaksi tersebut untuk berat badan-untuk-tinggi statusnya dikategorikan sebagai 80% dan> 80% dari median NCHS (P = 0,60). Anak-anak yang menerima menyusui dalam periode 24-jam sebelum pendaftaran dikategorikan sebagai ASI. Dalam analisis sekunder, peneliti membandingkan hasil pada anak-anak yang diberikan vitamin A atau plasebo dalam sub kelompok anak yang diberi ASI dan anak-anak yang non-ASI. Di antara non-ASI anak-anak, ada penurunan yang signifikan dalam semua hasil studi utama dalam A yang diobati vitamin episode: 16% dalam durasi diare rata-rata, 27% pada frekuensi tinja rata-rata, dan 60% pada proporsi anak-anak yang lulus tinja berair. Delapan (3,6%) episode di plasebo dan tidak akan vitamin kelompok A menjadi persisten (Tabel 3). Di antara anak-anak yang menyusui (ASI), tidak ada perbedaan signifikan dalam salah satu hasil antara kedua kelompok. Kesimpulan Validitas Analisis Berdasarkan analisa yang dilakukan peneliti, hasil yang didapatkan merupakan hasil yang valid sebagai perbandingan terhadap baseline / data yang telah dieroleh pada penelitian sebelumnya. Kesesuaian analisis penelitian baru dan lama merupakan salah satu bukti kevalidan akan hasil penelitian yang dilakukan. Selain itu, proses penelitian dilakukan oleh petugas yang berkompeten berdasarkan data yang valid. E. Validitas Interna Kausal Komponen Validitas Interna Kausal 1. Temporality 2. Spesifikasi 3. Kekuatan hubungan 4. Dosis respons 5. Konsistensi internal 6. Konsistensi eksternal 7. Biological plausibility Uraian Validitas Interna Kausal 1. Temporality Iya, hubungan sebab-akibat terjadi bila penyebab mendahului akibat 2. Coherency Hubungan sebab akibat akan semakin nyata bila hasil penelitian sejalan dengan fenomena sehari-hari Prevalensi efek goitrogenik belum dilakukan pada manusia secara massal. 3. Kekuatan hubungan Hubungan sebab akibat akan semakin nyata bila semakin besar

hubungannya. Penurunan konsentrasi serum TH berasosiasi dengan induksi metamorphosis pada lamprey. Zat goitrogenik selain PTU dapat menginduksi metamorphosis larva Petromyzon marinus 4. Dosis respons Hubungan sebab akibat akan semakin nyata bila semakin besar dosis semakin besar efek yang terlihat. Jurnal tidak memperlihatkan kenaikan dosis untuk eksperimen, tetapi lebih melihat efek goitrogenik pada grup-grup ukuran larva yang dijadikan bahan percobaan, diketahui sebelumnya dosis telah ditetapkan melalui eksperimeneksperimen sebelumnya yang secara signifikan dapat merubah konsentrasi T3 atau T4. 5. Konsistensi Hubungan sebab akibat akan semakin nyata bila hasil penelitian didukung olah penelitian-penelitian lainnya. Episode-episode penelitian sebelumnya juga telah terangkum pada bagian diskusi jurnal dan referensi dimana salah satu contohnya tentang goitrogen sebagai pemicu kimiawi pada metamorphosis lamprey dan hubungannya dengan fungsi steroid dan metamorphosis. 6. Biological plausibility Hubungan sebab-akibat akan semakin nyata bila terdapat penjelasan bagi hubungan sebab-akibat tersebut (patofisiologi). Pada kasus ,penyebab induksi metamorphosis pada lamprey ialah penurunan konsentrasi TH yang disebutkan bahwa zat goitrogenik dan KCLO4- NaClO4, dan pengobatan MMI merupakan salah satu contoh penyebabnya. Kesimpulan Validitas Interna Kausal Hubungan antara zat goitrogenik dengan metamorphosis pada lamprey sangat mempengaruhi dengan cara mempercepat metamorphosis yang salah satu caranya melalu penurunan konsentrasi TH serum pada dosis yang telah ditetapkan. F. Validitas Eksterna Untuk melihat hasil penelitian dapat digeneralisasi kepada populasi terjangkau (validitas eksterna1) dan kepada populasi target (validitas eksterna 2) Komponen Validitas Eksterna 1. Validitas eksterna 1 Besar sampel : 728 sampel Participation rate : 100% 2. Validitas eksterna 2 Validitas eksterna 1:

Besar populasi cukup untuk sebuah eksperimen Logika akademis untuk generalisasi penelitian: Sudah dilakukan penelitian sebelumnya

Uraian Validitas Eksterna Uraian validitas eksterna 1 (besar sampel dan participation rate) Validitas eksterna 1 ditentukan oleh besar sampel dan cara pengambilan sampel. Validitas eksterna 1 bail bila besar sampel cukup dan pengambulan sampel dilakukan secara random (kecuali bagi klinis yang sampelnya dilakukan secara konsekutif). Besarnya sampel pada jurnal sangat baik untuk sebuah kasus dengan prevalensi yang cukup banyak (900 orang). Uraian validitas eksterna 2 (validitas eksterna 1 dan logika akademis untuk generalisasi penelitian) Validitas eksterna 2 ditentukan secara logis. Logis karena sudah banyak penelitian sebelumnya yang mendukung jurnal ini. Kesimpulan Validitas Eksterna Baik secara populasi sampel dan pemikiran logika terhadap jurnal yang diberikan sudah sangat baik karena eksperimen yang dilakukan pun sudah banyak dilakukan sebelumnya bahwa lamprey merupakan salah satu amfibi yang dapat diinduksi metamorfosisnya dengan pemberian zat goitrogenik. G. Importancy Komponen Importancy 1. Perbandingan effek size yang diperoleh dengan effek size yang diharapkan oleh pembaca 2. Bila outcome kategorik: nilai relative risk (RR), relative risk reduction (RRR), absolute risk reduction (ARR), number needed to treat (NNT), dan cost analysis Uraian Importancy Penelitian ini memberikan manfaat kepada peneliti-peneliti terutama urusan zoology yakni hubungan antara pemberian zat-zat goitrogenik dengan perubahan metamorphosis pada larva lamprey. Kesimpulan Importancy Penelitian ini kurang lebih merupakan eksperimen yang manfaatnya lebih kepada menambah pengetahuan lebih untuk zoology. Walaupun mungkin terdapat hubungan yang dapat diterapkan dengan manusia bahwa zat-zat goitrogenik menyebabkan penurunan konsentrasi serum TH.

H. Applicability Komponen Applicability 1. Transportability 2. Kemampuan pelayanan, ekonomi, dan sosial budaya Uraian Applicability Untuk menilai keberhasilan pemberian vitamin A dapat mengurai risiko diare persisten terhadap anak, hasilnya dianalisis berapa persen kasus diare pada akhir penelitian Kesimpulan Applicability Penelitian ini masih kurang baik karena terbatas pada onset akut diare, dan tidak membahas bagaimana pada diare kronik. III. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain analitik untuk mencari hubungan status ASI dengan pengaruh terapi vitamin A terhadap durasi (lamanya) dan keparahan diare akut pada anak-anak usia 1-5 tahun. Setelah penelaahan dilakukan, terlihat bahwa validitas interna dan validitas eksterna pada penelitian ini cukup valid. Mengenai importancy, penelitian ini memang memiliki unsur kepentingan salah satunya untuk mencegah berlanjutnya diare yang lebih lama pada anakanak yang memang rentan mengalami dehidrasi dengan konsumsi vitamin A. Penelitian ini dapat diaplikasikan karerna penelitian langsung mendatangi subjek penelitian dan tidak melanggar etika penelitian. Saran Penelitian yang cukup penting ini perlu dikembangkan lebih lanjut pada studi selanjutnya. Penelitian selanjutnya mungkin dapat berupa pencarian seberapa banyak dosis vitamin A yang diperlukan untuk menimbulkan pengaruh pada anak-anak dengan diare akut.