Anda di halaman 1dari 14

MANAJEMEN PERPAJAKAN Modul 3 PERENCANAAN PAJAK

PEMBAHASAN MATERI : 1. STRATEGI PERENCANAAN : a. Manajemen perpajakan ( tax management ) memiliki banyak pengertian, karena para praktisi perpajakan ataupun para pengajar perpajakan mendefinisikannya menurut pemahaman mereka masing-masing. Beberapa pengertian manajemen perpajakan diantaranya adalah : Menurut Ladiman Djaiz ( 1971 ) yang dikutip oleh Agustinus ( 2003 ) mengartikan manajemen pajak sebagai berikut : melakukan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian dan pengawasan mengenai perpajakan yang tujuannya adalah untuk meningkatkan efisiensi dalam artian peningkatan laba atau penghasilan . Suriawinata ( 1999 ) mendefinisikan manajemen pajak sebagai : proses dan upaya yang dilakukan perusahaan, di dalam batas-batas perundang undangan dan ketentuan- ketentuan pajak yang berlaku, sehingga dapat dicapai hasil berupa pembayaran pajak yang minimal. Sedangkan Daryo ( 2000 ) mengartikan manajemen pajak sebagai : upaya untuk melakukan penghematan dan pengurangan pajak dengan cara penghindaran pajak ( tax avoidance ), yaitu menghindari pajak dengan tetap berlandaskan pada peraturan pajak yang berlaku. Gunadi ( 1997 ) mendefinisikan bahwa manajemen perpajakan sebagai : pengelolaan kewajiban perpajakan yang sering diasosiasikan sebagai elemen dari manajemen perusahaan ( organisasi ). Sedangkan Shadani ( 1997 ) memberikan pengertian manajemen pajak yaitu : pengelolaan pajak dapat dilakukan melalui tax management di mana baik orang pribadi maupun badan usaha dapat merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi dan mengendalikan kewajiban perpajakannya. Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disarikan bahwa manajemen pajak adalah :

Suatu poses terdiri dari serangkaian kegiatan

yang berlangsung secara terus menerus.

12

Manajemen Perpaj akan Suparno MM, M.Akt.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

Proses yang meliputi perencanaan, implementasi dan pengendalian

yang merupakan fungsi-fungsi manajemen pajak. Bertujuan untuk melaksanakan kewajiban dan hak di bidang

perpajakan secara efektif dan efisien sehingga selain dapat menghindari pemborosan, manajemen juga dapat lebih memberikan perhatiannya lebih banyak pada kegiatan usahanya. Dengan demikian, manajemen perpajakan diartikan sebagai proses perencanaan, implementasi serta pengendalian kewajiban dan hak di bidang perpajakan, sehingga pemenuhannya dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Oleh karena itu Manajemen Perpajakan memiliki fungsi : perencanaan (tax planning), implementasi (tax implementation) dan pengendaalian (tax control ). Ketiga fungsi manajemen perpajakan merupakan satu kesatuan yang membentuk manajemen perpajakan.

Manajemen

perpajakan

diawali

dengan

pemilihan

langkah-langkah

((strategi perpajakan ) yang akan diambil untuk memenuhi kewajiban dan haknya di bidang perpajakan. Perencanaan perpajakan harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan perpajakan yang berlaku agar terhindar dari perbuatan yang dapat berakibat sanksi perpajakan, yaitu sanksi administrasi ( denda, bunga, kenaikan ) dan sanksi pidana ( kurungan / penjara dan denda ). Selain itu perencanaan perpajakan harus fleksibel agar dapat menyesuaikan dengan perubahan ( misalnya perubahan tarif pajak atau prosedur dalam revaluasi aktiva tetap ).

Fungsi implementasi perpajakan dilaksanakan pada saat Wajib Pajak melaksanakaan pemenuhan kewajiban dan haknya di bidang perpajakan yang sesuai dengan perencanaan perpajakan. Namun penyimpangan atas perencanaan perpajakan dapat dilakukan sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan perpajakan. Penyimpangan tersebut dilakukan karena berbagai pertimbangan antara lain : ( i ) perubahan ketentuan perpajakan, sehingga strategi perpajakan yang telah ditentukan sebelumnya kurang efektif maupun kurang efisien, ( ii ) terdapat alternatif strategi perpajakan yang lebih baik, dan ( iii ) agar lebih efisien dalam pelaksanaannya.

12

Manajemen Perpaj akan Suparno MM, M.Akt.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

Fungsi pengendalian lebih menekankan pada pengawasan yang dimulai saat penyusunan perencanaan perpajakan sampai dengan pelaksanaannya. Tujuan pengendalian pajak adalah untuk menjamin Fungsi pengendian memberikan feedback

pemenuhan kewajiban dan hak di bidang perpajakan telah dilaksanakan secara efektif dan efisien. kepada Wajib Pajak untuk melakukan penyempurnaan pada perencanaan perpajakan maupun implementasinya. b. Rambu Rambu Dalam Penyusunan Strategi Perpajakan : Secara sederhana strategi perpajakan dirumuskan sebagai upaya yang dilakukan oleh Wajib Pajak dalam melaksanakan pemenuhan kewajiban dan haknya di bidang perpajakan. Banyak strategi perpajakan yang dapat ditempuh, tetapi yang penting adalah bagaimana Wajib Pajak dapat memilih alternatif yang sesuai dengan kebutuhan Wajib Pajak dalam menjalankan kewajiban dan haknya di bidang perpajakan. Kriteria strategi perpajakan yang efektif adalah sebagai berikut :

1)

Strategi perpajakan sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku, inherent ). bila tidak maka strategi perpajakan memiliki resiko ( risk

2)

Strategi perpajakan mudah difahami dan dilaksanakan ( simplicity ) oleh Wajib Pajak serta tidak memerlukan biaya yang mahal ; Strategi perpajakan harus sesuai dengan kebutuhan Wajib Pajak (misalnya pada suatu tahun Wajib Pajak merencanakan untuk melakukan perluasan pabrik yang akan dibiayai dengan pinjaman sindikasi dari kreditor luar negeri ) ;

3)

4) 5)

Strategi

perpajakan

mendapat

dukungan

dan

komitment

dari

manajemen ketika dilaksanakan ; Strategi perpajakan harus bersifat fleksibel terhadap perubahan yang terjadi di masa yang akan datang. 2. INSENTIF PAJAK : Selain berfungsi sebagai sumber penerimaan negara ( budgetair ), pajak juga berfungsi sebagai regulasi ( regulerend ) yaitu mengatur tatanan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat suatu negara. Dalam rangka memberikan daya tarik investasi di Indonesia, pemerintah memberikan insentif perpajakan yang dapat digunakan dan dinikmati oleh investor baik lokal maupun luar negeri.

12

Manajemen Perpaj akan Suparno MM, M.Akt.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

Secara umum insentif pajak yang diberikan dapat dibedakan atas 3 ( tiga ), yaitu : ( i ) yang diatur berdasarkan perjanjian dengan negara lain ( G to G ), contohnya treaty benefits yang melekat pada tax treaty, ( ii ) perjanjian dengan kontraktor (G to B ) misalnya kontrak karya ( Contract of Work ) dan kontrak bagi hasil ( Production Sharing Contract ) dan ( iii) undang-undang yang telah mendapatkan persetujuan dengan DPR. Dibawah ini disajikan contoh beberapa insentif PPh yang diatur berdasarkan ketentuan peraturan perpajakan sebagai berikut : No. 1. Insentif Pajak Wajib Pajak yang melakukan penanaman modal di bidang- bidang Usaha Tertentu dan atau di Daerah- daerah Tertentu dapat diberikan fasilitas perpajakan dalam bentuk : % dari jumlah penanaman modal PP No. 148 Th 2000 tgl. 23 Des 2000, ttg fasilitas PPh yang bidang-bidang daerah tertentu. usaha Dasar Hkum Pasal 31A UU PPh.

a. Pengurangan penghasilan neto paling tinggi 30 untuk penanaman modal di dilakukan ; Penyusutan dan amortisasi yang dipercepat ; c. Kompensasi kerugian yang lebih lama tetapi tidak lebih dari 10 tahun; d. Pengenaan PPh atas deviden sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 sebesar 10 %, kecuali rendah. 2. PPh yang terutang atas penghasilan yg diterima atau dalam diperoleh rangka kontraktor, pelaksanaan konsultan proyekpemasok utama dari pekerjaan yg dilakukan proyek pemerintah yg dibiayai dengan dana hibah dan atau dana pinjaman dari luar negeri, ditanggung 3. pemerintah. PPh sebesar 20 % dari Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi Pajak atas BUT, tidak Pasal 26 ayat ( 4 ) UU PPh. Kep Men Keu No. tanggal PP No. 25 Th 2001 ttg Perubahan ketiga atas PP dan No. 42 Th 1995. apabila tarif menurut perjanjian perpajakan yang berlaku menetapkan lebih tertentu dan atau di daerah-

113/KMK.03/2002

12

Manajemen Perpaj akan Suparno MM, M.Akt.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

dikenakan

jika

atas

penghasilan

tersebut

28

Maret

2002 Kena

tentang Pajak pajak

ditanamkan kembali di Indonesia, dengan syarat : a. Penanaman kembali dilakukan atas seluruh dalam bentuk penyertaan baru modal didirikan

Perlakuan Perpajakan atas Penghasilan dikurangi

Penghasilan Kena Pajak setelah dikurangi PPh sesudah perusahaan yang dan

pada dari suatu BUT.

berkedudukan di Indonesia sebagai pendiri atau peserta pendiri. b. Penanaman kembali dilakukan dalam tahun Pajak berjalan atau selambat lambatnya tahun Pajak berikutnya dari tahun Pajak diterima atau diperolehnya penghasilan tersebut ; dan c. Tidak melakukan pengalihan atas penanaman kembali tersebut paling sedikit dalam jangka waktu 2 tahun sesudah perusahaan tempat penanaman dilakukan produksi komesial.

3. PENGHINDARAN DAN PENYELUNDUPAN PAJAK Dalam strategi perpajakan dikenal ( i ) tax evasion, yaitu cara penghindaran kewajiban perpajakan dilakukan dengan melanggar ketentuan peraturan perundang undangan perpajakan. ( ii ) tax avoidance, yaitu cara penghematan pajak yang memanfaatkan celah- celah perpajakan ( tax loophole ) dengan tidak melanggar ketentuan peraturan perundang undangan perpajakan. Prakteknya di lapangan, tax evasion dan tax avoidance tipis perbedaannya, sehingga pada awalnya Wajib Pajak bermaksud untuk melakukan tax avoidance tetapi pada kenyataan dapat terjebak, baik sadar maupun tidak untuk melakukan perbuatan yang tergolong tax evasion. Ada beberapa alasan Wajib Pajak melakukan perbuatan penghindaran pajak, sebagai berikut :

a. Ada peluang untuk melakukan penghindaran pajak ( level of opportunity ), karena


belum diatur secara jelas.

b. Kemungkinan pebuatannya diketahui relatif kecil ( level of detection ). c. Manfaat yang diperoleh relatif besar dibanding dengan resikonya ( level of
benefit compared with risk ).

12

Manajemen Perpaj akan Suparno MM, M.Akt.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

d. Sanksi perpajakan tidak terlalu berat ( level of fine ). e. Ketentuan peraturan perpajakan tidak berlaku sama terhadap semua Wajib Pajak
( level of playing fields ).

f. Bervariasinya pelaksanaan penegakan hukum ( level of law enforcement ).


Disamping ada istilah penghindaran pajak, dikenal juga istilah penyelundupan pajak, sebenarnya kedua istilah tersebut sama, karena bertujuan untuk memperkecil jumlah pajak. Penghindaraan Pajak, yaitu proses pengendalian tindakan agar terhindar dari konsekwensi pengenaan pajak yang tidak dikehendaki, sedangkan Penyelundupan Pajak yaitu usaha untuk memperkecil jumlah utang pajak, yang dilakukan melalui penyelundupan pajak yang melanggar ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan. 4. PENGHEMATAN PAJAK a. Perencanaan Pajak Pajak. sebenarnya adalah untuk menghasilkan Penghematan Pada tahap perencanaan pajak, dilakukan pengumpulan dan penelitian

terhadap peraturan perpajakan. Tujuannya adalah agar dapat dipilih jenis tindakan penghematan pajak yang akan dilakukan. Pada umumnya, penekanan perencanaan pajak (tax planning) adalah untuk meminimalisasi kewajiban pajak. Pada umumnya, perencanaan pajak (tax planning) merujuk kepada proses merekayasa usaha dan transaksi Wajib Pajak agar utang pajak berada dalam jumlah yang minimal, tetapi masih dalam bingkai peraturan perpajakan. Namun demikian, perencanaan pajak juga dapat diartikan sebagai perencanaan pemenuhan kewajiban perpajakan secara lengkap, benar, dan tepat waktu sehingga dapat secara optimal menghindari pemborosan sumber daya. Perencanaan pajak merupakan langkah awal dalam manajemen pajak. Manajemen pajak itu sendiri merupakan sarana untuk memenuhi kewajiban perpajakan dengan benar, tetapi jumlah pajak yang dibayarkan dapat ditekan seminimal mungkin untuk memperoleh laba dan likuiditas yang diharapkan. Langkah selanjutnya adalah pelaksanaan kewajiban perpajakan (tax implementation) dan pengendalian pajak (tax control). terhadap peraturan perpajakan. b. Manajemen Perpajakan yang Ekonomis, Efisien, dan Efektif

Untuk dapat meminimalisasi kewajiban pajak, dapat dilakukan berbagai cara, baik yang masih memenuhi ketentuan perpajakan (lawful) maupun yang

12

Manajemen Perpaj akan Suparno MM, M.Akt.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

melanggar

peraturan

perpajakan

(unlawful).

Perencanaan pajak selalu dimulai dengan meyakinkan apakah suatu transaksi atau kejadian mempunyai dampak perpajakan. Apabila kejadian tersebut mempunyai dampak pajak, apakah dampak tersebut dapat diupayakan untuk dikecualikan atau dikurangi jumlah pajaknya. Selanjutnya, apakah pembayaran pajak tersebut dapat ditunda ? c.TaxSaving Tax saving merupakan upaya efisiensi beban pajak melalui pemilihan alternatif pengenaan pajak dengan tarif yang lebih rendah. Misalnya, perusahaan yang memiliki Penghasilan Kena Pajak lebih yang tinggi, dapat melakukan perubahan pemberian natura kepada karyawan menjadi tunjangan dalam bentuk uang.

d.TaxAvoidance Tax avoidance merupakan upaya efisiensi beban pajak dengan menghindari pengenaan pajak melalui transaksi yang bukan merupakan objek pajak. Misalnya, perusahaan yang masih mengalami kerugian, perlu mengubah tunjangan karyawan dalam bentuk uang menjadi pemberian natura karena natura bukan merupakan objek pajak PPh Pasal 21.

e.Menghindari Dengan menghindari

Pelanggaran peraturan timbulnya -Sanksi

atas pajak yang sanksi pidana:

Peraturan berlaku, perpajakan pidana atau

Perpajakan dapat berupa: kurungan.

menguasai

perusahaan

- Sanksi administrasi: denda, bunga, atau kenaikan.

f. Peluang Penghematan Pajak Melalui Pemilihan Bentuk Usaha


Dalam peraturan perpajakan, banyak sekali celah-celah yang dapat kita manfaatkan untuk meminimalkan beban pajak tanpa kita harus berhadapan dengan aparat pajak dalam investigasi, yaitu dengan melalui tax management (pengaturan pajak). Tujuan perencanaan pajak yang baik adalah memberikan keuntungan yang sebanyak-banyaknya kepada investor agar retur yang didapat semakin tinggi. Perencanaan pajak dapat dimulai dari tingkat setting up. Bentuk usaha apa yang akan dipilih investor dalam menjalankan bisnisnya ? Banyak pilihan bentuk usaha yang dapat diambil oleh investor, namun itu semua

12

Manajemen Perpaj akan Suparno MM, M.Akt.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

akan berakibat pada aspek perpajakan yang akan ditanggung kelak. Diantara beberapa entitas hukum bisnis yang ada di Indonesia dan diakui oleh UU Perpajakan kita adalah:
Perseroan Terbatas (PT) Persekutuan (CV, Firma, Kongsi) Perseorangan

Diluar itu terdapat banyak jenis bentuk usaha lain yang kita kenal dalam lingkup hukum kita, namun saya akan membatasi pembahasan dalam ketiga bentuk usaha tersebut karena mengingat kebanyakan pelaku bisnis Indonesia menggunakan ketiganya dalam menjalankan binsis mereka. PERSEROAN TERBATAS Perseroan terbatas adalah suatu entitas bisnis yang banyak digunakan di Indonesia. Dalam Pasal 97 UU No. 40 tahun 2000 mengatur bahwa perbedaan terbesar antara PT dengan badan hukum lainnya adalah bahwa PT tanggung jawab perusahaan dibebankan kepada Direksi, bukan kepada shareholder. Hal ini berarti selama Pemegang Saham tidak merangkap sebagai pengurus perusahaan, maka dia tidak dapat dimintai pertanggunjawaban terhadap tindakan operasional perusahaan oleh pihak manapun. Dalam perpajakan sesuai pasal 6 dan pasal 23 UU Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan UU Nomor 36 Tahun 2008, pengenaan pajak PT dikenakan pada level net income dan pada saat pembagian dividen perusahaan kepada pemegang saham. Ilustrasi pengenaan pajak PT kita lihat sebagai berikut: Keterangan Tahun Pajak Gross Income Operating Expenses Net Income Tax30%(untukmempermudah kita pergunakan tarif tertinggi) Jumlah 2008 Rp 1.200.000.000,Rp 200.000.000,Rp 1.000.000.000,Rp 300.000.000,-

Pada saat penghasilan tersebut ditransfer ke pemegang saham sebagai dividen maka atas pembagian tersebut akan dikenakan pajak lagi sebesar 15% sebagai

12

Manajemen Perpaj akan Suparno MM, M.Akt.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

berikut: Net Income Tax 30% Income After Tax Pajak Atas Dividen 15% Return yang diterima Rp 1.000.000.000,Rp 300.000.000,Rp 700.000.000,Rp 105.000.000,Rp 595.000.000,-

Shareholder % Beban Pajak (total tax/Net (Rp 300.000.000,-+Rp 105.000.000,-) x 100% = Income) 40,5% Rp 1.000.000.000,-

PERSEKUTUAN (CV, FIRMA, KONGSI) Persekutuan diatur dengan Wetboek Van Koophandel Voor Indonesie atau dikenal dengan Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD). Perbedaan persekutuan dengan PT adalah terletak pada tanggung jawab peseronya (shareholder). Pasal 18 dan 19 buku 1 KUHD mengatur tanggung jawab renteng pemilik/pesero terhadap semua operasional ataupun tuntutan dari pihak lain apabila terjadi suatu perkara. Pengaturan pajak kepada CV diatur dalam pasal 6 dan Pasal 4 ayat 3 huruf i Undangundang PPh. Berbeda dengan PT, pengenaan pajak CV hanya dikenakan sekali pada level net income perseroan. Ketika didistribusikan kepada pemegang saham tidak dikenakan pajak dividen lagi. Kita lihat ilustrasi dibawah ini sesuai dengan data-data keuangan PT diatas. Keterangan Tahun Pajak GrossIncome Operating Expenses Net Income Tax 30% Jumlah 2008 Rp 1.200.000.000,Rp 200.000.000,Rp 1.000.000.000,Rp 300.000.000,-

Pada saat penghasilan tersebut ditransfer ke pemegang saham sebagai dividen maka atas pembagian tersebut tidak akan dikenakan pajak lagi sebagai berikut: Net Income Rp 1.000.000.000,Tax 30% (untuk mempermudah Rp 300.000.000,kita pergunakan tarif tertinggi) Income After Tax Pajak Atas Dividen 0% Rp 700.000.000,Rp 0,-

12

Manajemen Perpaj akan Suparno MM, M.Akt.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

Return yang diterima Shareholder Rp 700.000.000,% Beban Pajak (total tax/Net Rp 300.000.000,Income) 30%Rp1.000.000.000,-

PERSEORANGAN Mayoritas penduduk Indonesia, mempergunakan entitas ini daripada yang lain, mengingat kesederhanaan pendiriannya dan flexibilitas kewajiban yang harus dipenuhi. Dalam perpajakan, pengaturan perseorangan diberikan banyak fasilitas, diantaranya adalah taxable income bukan dihitung dari net income, tapi dikurangi dulu Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Namun perlu diingat juga terdapat pembedaan tax rate dan lapisan penghasilan kena pajak (taxable income bracket) antara PPh Orang Pribadi dengan PPh Badan. Tarif PPh ( untuk tahun pajak 2008 ) : a Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri adalah sebagai berikut : . Lapisan Penghasilan Kena Pajak sampai dengan Rp 25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah) di atas Rp 25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah) s.d. Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) Di atas Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) s.d. Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) Di atas Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) s.d. Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) Di atas Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) 15 % (lima belas persen) 25 % (dua puluh lima persen) 35% (tiga puluh lima persen) 10% (sepuluh persen) Tarif Pajak 5 % (lima persen)

b Wajib Pajak Badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap adalah sebagai berikut : Lapisan Penghasilan Kena Pajak rupiah) Tarif Pajak

sampai dengan Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta 10% (sepuluh persen)

12

10

Manajemen Perpaj akan Suparno MM, M.Akt.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

Di atas Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) s.d. 15 % (lima belas persen) Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) Di atas Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) 30 % (tiga puluh persen) Secara sederhana kita membuat ilustrasi beban pajak yang harus ditanggung investor dengan mengenakan pajak pada rate level tertinggi 35% dan mengabaikan lapisan tarif. Keterangan Tahun Pajak Gross Income Operating Expenses Net Income PTKP (Kawin anak atau K/3) Taxable Income Tax 35% (untuk mempermudah kita pergunakan tarif tertinggi) Pada saat penghasilan tersebut ditransfer ke pemegang saham sebagai dividen maka atas pembagian tersebut tidak akan dikenakan pajak lagi sebagai berikut: Jumlah 2008 Rp 1.200.000.000,Rp 200.000.000,Rp 1.000.000.000,Rp 18.000.000,Rp 982.000.000,Rp 343.700.000,-

Net Income Rp 1.000.000.000,Tax 35% (untuk mempermudah kita Rp 343.700.000,pergunakan tarif tertinggi) Income After Tax Pajak Atas Dividen 0% Return yang diterima Shareholder % Beban Pajak (total tax/Net Income) Rp 656.300.000,Rp 0,Rp 700.000.000,Rp 343.700.000,00= 34,37% Rp 1.000.000.000,-

Dari ilustrasi diatas, beban pajak yang harus ditanggung oleh investor dari ketiga entitas binis tersebut kita bandingkan sebagai berikut:

12

11

Manajemen Perpaj akan Suparno MM, M.Akt.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

Beban pajak yang ditanggung oleh investor melalui persekutuan ternyata lebih kecil DESKRIPSI PT Persekutuan PERSEORANGAN Net Income Rp Rp 1.000.000.000,- Rp 1.000.000.000,Beban 1.000.000.000,Pajak Rp 405.000.000,- Rp 300.000.000,30% Rp 343.700.000,34,37%

(Rp) BebanPajak 40,5% daripada bentuk usaha lainnya.

Pemilihan salah satu entitas bisnis diatas dapat dijadikan referensi dalam pengambilan keputusan oleh para investor untuk meminimalkan beban pajak. Sudah barang tentu pajak bukan hanya satu-satunya pertimbangan dalam keputusan bisnis. Masih banyak lagi yang harus diperhatikan diantaranya ketentuan tentang tanggung jawab pesero bila terjadi tuntutan pihak lain, kebutuhan perusahaan dalam pengembangan pasar, serta kewajiban-kewajiban dan hak lain yang timbul dari pemilihan bentuk usaha tersebut. Semuanya berpulang pada keputusan Anda sebagai investor, pajak bukanlah hambatan bisnis.....!!!

LAMPIRAN : Perbedaan Penghindaran Pajak, Penyelundupan Pajak dan Penghematan Pajak


Ada begitu banyak cara-cara yang dilakukan oleh wajib pajak untuk melakukan kecurangan atau untuk memperkecil pajak.Disini dijelaskan perbedaan perbedaannya. Sebenarnya antara Penghindar pajak dan Penyelundupan Pajak terdapat perbedaan,tetapi kenyataannya perbedaan itu menjadi kabur,baik secara teori maupun aplikasinya.Pada dasarnya antara penghindaran dan penyelundupan pajak mempunyai sasaran yg sama,yaitu mengurangi pajak.

Penghindar pajak disebut juga Tax Planning,yaitu proses pengendalian tindakan agar terhindar dari konsekwensi pengenaan pajak yg tidak dikehendaki.Sedangkan penghemat pajak yaitu usaha mempekecil jumlah hutang pajak,secara umum dapat juga dikatakan bahwa cara mengecilkan beban pajak melalui penyelundupan pajak

12

12

Manajemen Perpaj akan Suparno MM, M.Akt.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

yang

melanggar

ketentuan

peraturan

perundang-undangan

pajak.

Penyelundupan pajak sangat legal dilakukan sepertinya tidak ada hukum yang dapat menghukum orang-orang yg melakukan penyelundupan pajak, buktinya sampai hari ini masih saja ada yang melakukan penyelundupan pajak.

Sedangkan penghematan pajak, adalah salah satu cara lain untuk mengefisienkan beban pajak.Cara yg dilakukan oleh wajib pajak mengelakan hutang pajak dengan menahan diri tidak membeli produk-produk yang ada pajak pertambahan nilainya atau pajak penjualan sehingga penghasilannya menjadi kecil dan dengan demikian terhindar dari pengenaan pajak penghasilan yang besar.penghematan pajak itu tidak melanggar ketentuan perundang-undangan pajak.

TUGAS UNTUK DIKERJAKAN : 1) Sebutkan definisi tentang Manajemen Perpajakan, menurut : a. Suriawinata. b. Daryo. c. Ladiman Djaiz. d. Gunadi. e. Shadani. 2) Jelaskan apa yang dimaksud dengan : a. Tax planning. b. Tax avoidance. c. Tax evasion. d. Tax control. e. Tax loophole. f. 3) Tax saving. Apakah yang dimaksud dengan Tax implementation ? Bagaimana seandainya terjadi penyimpangan ?

12

13

Manajemen Perpaj akan Suparno MM, M.Akt.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

4) Sebutkan perbedaan dan persamaan antara Penghindaran Pajak dengan Penyelundupan Pajak ! 5) 6) 7) Strategi apa saja yang perlu dipersiapkan dalam menyusun perencanaan perpajakan ( Tax planning ) ? Apa yang disebut dengan insentif pajak ? Sebutkan hubungan antara fungsi pajak sebagai sumber penerimaan negara ( budgetair ) dengan insentif pajak ! Berikan contoh tentang insentif pajak untuk menarik investor asing agar dapat menanamkan kembali modalnya di Indonesia ! 8) Sebutkan cara2 untuk melakukan Penghematan Pajak di Indonesia ! Beri contoh.

ooooooooooooo spn oooooooooooo

12

14

Manajemen Perpaj akan Suparno MM, M.Akt.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana