Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN 1.

2 Latar belakang Asma melatar belakangkan penyakit paru dengan cirri khas yakni saluran napas sangat mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan manifestasi berupa serangan asma. Asma adalah suatu peradangan pada bronkus akibat reaksi sensitive mukosa bronkus terhadap bahan allergen. Reaksi hipersensitif pada bronkus dapat mengakibatkan pembengkakan pada mukosa bronkus. Asma adalah mengi berulang dan / atau batuk persisten. Asma disebut juga sebagai reactive air way disease (RAD), adalah suatu penyakit obstruksi pada jalan napas secara riversibel yang ditandai dengan inflamasi, dan peningkatan reaksi jalan napas terhadap berbagai stimulant. Kelainan yang didapatkan ialah : 1. Otot bronkus akan mengerut ( terjadi penyempitan ) 2. Selaput lender bronkus edema 3. Produksi lender semakin banyak, lengket dan kental sehingga ketiga hal tersebut menyebabkan saluran lobang bronkus menjadi sempit dan anak akan batuk bahkan dapat sampai sesak napas. Serangan demikian dapat hilang sendiri atau hilang dengan pertolongan obat. Asma ialah penyakit paru dengan cirri khas yakni saluran napas sangat mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan manifestasi berupa serangan asma. Kelainan yang didapatkan ialah : 1. Otot bronkus akan mengerut ( terjadi penyempitan ) 2. Selaput lender bronkus edema

3. Produksi lender semakin banyak, lengket dan kental sehingga ketiga hal tersebut menyebabkan saluran lobang bronkus menjadi sempit dan anak akan batuk bahkan dapat sampai sesak napas. Serangan demikian dapat hilang sendiri atau hilang dengan pertolongan obat. Ada berbagai pembagian asma pada anak, diantaranya : Asma Episodik yang jarang. Biasanya terdapat pada anak umur 3-8 tahun. Serangan umumnya dicetuskan oleh infeksi virus saluran napas bagian atas. Banyaknya serangan 3-4 kali dalam 1 tahun. Gejala yang timbul lebih menonjol pada malam hari. Golongan ini merupakan 70-75% dari populasi asma anak. Asma Episodik sering. Pada 2/3 golongan ini serangan pertama terjadi pada umur sebelum 3 tahun. Pada permulaan, serangan berhubungan dengan infeksi saluran napas akut. Pada umur 5-6 tahun dapat terjadi serangan tanpa infeksi yang jelas. Frekwensi serangan 3-4 kali dalam setahun, frekwensi serangan paling tinggi pada umur 813 tahun. Asma Episodik sering. Pada 2/3 golongan ini serangan pertama terjadi pada umur sebelum 3 tahun. Pada permulaan, serangan berhubungan dengan infeksi saluran napas akut. Pada umur 5-6 tahun dapat terjadi serangan tanpa infeksi yang jelas. Frekwensi serangan 3-4 kali dalam setahun, frekwensi serangan paling tinggi pada umur 813 tahun.

1.3 Etiologi Penyebab asma masih belum jelas. Diduga yang memegang peranan utama ialah reaksi berlebihan dari trakea dan bronkus (hiperreaktivitas bronkus), yang belum jelas diketahui penyebabnya. Diduga karena adanya hambatan dari sebagian system adrenergic, kurangnya enzim adenilsiklase dan meningginya tonus system parasimpatik, sehingga mudah terjadinya kelebihan tonus parasimpatik kalau ada rangsangan yang menyebabkan terjadinya spasme bronkus. Banyak faktor yang ikut menentukan derajat reaktivitas atau iritabilitas tersebut diantaranya faktor genetic, biokimiawi, saraf autonom, imunologis, infeksi, endokrin, faktor psikologis. Oleh karena itu, asma disebut penyakit yang multifaktoral. Penyebab asma masih belum jelas. Diduga yang memegang peranan utama ialah reaksi berlebihan dari trakea dan bronkus (hiperreaktivitas bronkus), yang belum jelas diketahui penyebabnya. Diduga karena adanya hambatan dari sebagian system adrenergic, kurangnya enzim adenilsiklase dan meningginya tonus system parasimpatik, sehingga mudah terjadinya kelebihan tonus parasimpatik kalau ada rangsangan yang menyebabkan terjadinya spasme bronkus. Banyak faktor yang ikut menentukan derajat reaktivitas atau iritabilitas tersebut diantaranya faktor genetic, biokimiawi, saraf autonom, imunologis, infeksi, endokrin, faktor psikologis. Oleh karena itu, asma disebut penyakit yang multifaktoral. Selain faktor-faktor diatas kadang juga ada individu yang sensitive terhadap faktor pemicu diatas tetapi penderita lain tidak. Faktor Ekstrinsik : reaksi antigen antibody ; karena inhalasi alergan (debu, serbuk-serbuk, bulu bulu binatang). Faktor Intrinsik ; infeksi : para influenza virus, pneumonia, mycoplasmal. Kemudian dari fisik ; cuaca dingin, perubahan teratur. Iritan ; kimia. Polusi udara (CO, asap rokok, parfum). Emosional ; takut, cemas dan tegang. Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus.

1.4 Patofisiologi Asma pada anak terjadi adanya penyempitan pada jalan napas dan hiperaktif dengan respon terhadap bahan iritasi dan stimulus lain. Dengan adanya bahan iritasi atau allergen otot-otot bronkus menjadi spasme dan zat antibody tubuh muncul (immunoglobulin E atau IgE) dengan adanya alergi. IgE dimunculkan pada receptor sel mast yang menyebabkan pengeluaran histamine dan zat mediator lainnya. Mediator tersebut akan memberikan gejala asma. Respon asma terjadi dalam tiga tahap ; pertama tahap immediate yang ditandai dengan bronkokonstriksi (1 - 2 jam), tahap delayed dimana bronkokonstriksi dapat berulang dalam 4 - 6 jam dan terus menerus 2 5 jam lebih lama ; tahap late yang ditandai dengan peradangan dan hiperresponsif jalan napas beberapa minggu atau bulan. Asma pada anak terjadi adanya penyempitan pada jalan napas dan hiperaktif dengan respon terhadap bahan iritasi dan stimulus lain. Dengan adanya bahan iritasi atau allergen otot-otot bronkus menjadi spasme dan zat antibody tubuh muncul (immunoglobulin E atau IgE) dengan adanya alergi. IgE dimunculkan pada receptor sel mast yang menyebabkan pengeluaran histamine dan zat mediator lainnya. Mediator tersebut akan memberikan gejala asma. Respon asma terjadi dalam tiga tahap ; pertama tahap immediate yang ditandai dengan bronkokonstriksi (1 - 2 jam), tahap delayed dimana bronkokonstriksi dapat berulang dalam 4 - 6 jam dan terus menerus 2 5 jam lebih lama ; tahap late yang ditandai dengan peradangan dan hiperresponsif jalan napas beberapa minggu atau bulan.

1.5 Manifestasi Klinis Pada anak yang rentan, inflamasi disaluran ini dapat menyebabkan timbulnya episode mengi berulang, sesak napas, rasa dada tertekan, dan batuk, khususnya pada malam atau dini hari. Gejala ini biasanya berhubungan dengan penyempitan jalan napas yang luas namun bervariasi, yang sebagian besar bersifat reversible baik secara spontan maupun dengan pengobatan. Gejala dan serangan asma biasanya timbul bila pasien terpajan dengan faktor pencetus yang sangat beragam dan bersifat individual. Wheezing Dipsnea dengan lama ekspirasi ; penggunaan otot-otot asesori pernapasan, cuping hidung, retraksi dada, dan stridor Batuk kering (tidak produktif) karena secret kental dan lumen jalan napas sempit Tachypnea, tachycardia, ortopnea Gelisah Berbicara sulit atau pendek karena sesak napas Diaphorosis Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abomen dalam pernapasan Fatigue

Tidak toleran terhadap aktivitas ; makan, bermain, berjalan, bahkan bicara. Kecemasan, labil dan perubahan tingkat kesadaran. Meningkatnya ukuran diameter anteroposterior (barrel chest) Serangan yang tiba-tiba atau berangsur-angsur Auskultasi ; terdengar ronchi dan crackles.

1.6 Pemeriksaan Penunjang Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik Uji faal paru Foto thoraks Pemeriksaan darah Sekret hidung Dahak Pemeriksaan alergi (radioallergosorbent test ; RAST) Pulse oximetry

1.7 Komplikasi Mengancam pada gangguan keseimbangan asam basah dan gagal napas Kronik persistent bronchitis Bronchiolitis Pneumonia Empisema

1.8 Penanggulangan status asma/ terapi

1. Oksigen 2. Periksa keadaan gas darah dan pasang IVFD dengan cairan 3 : 1 glukosa 10% dan NaCl 0,9% + KCL 5 meq/kolf : Koreksi kekurangan cairan Koreksi penyimpangan asam basa Koreksi penyimpangan elektrolit

3. Teofilin yang sudah diberikan diteruskan. Ukur kadar teofilin dalam darah, pantau tanda-tanda keracunan teofilin. Bila tanda keracunan tidak ada dan keadaan serangan asma belum membaik mungkin perlu ditambah teofilin. 4. Kortikosteroid dilanjutkan, jika belum diberikan harus diberikan. Lebih baik pemberian kortikosteroid intravena. 5. Usaha pengenceran lender dengan obat mukolitik untuk lender yang banyak dan lengket diseluruh cabang-cabang bronkus. 6. Periksa foto thoraks 7. Lakukan pemeriksaan EKG 8. Pantau tanda-tanda vital secara teratur agar bila terjadi kegagalan pernapasan dapat segera tertolong, bila perlu dirawat di ICU.

A. EVALUASI / TERAPI Jalan nafas kembali efektif. Pola nafas kembali efektif. Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi.

Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Pengetahuan klien tentang proses penyakit menjadi bertambah. Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah : Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segara. Mengenal dan menghindari fakto-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai penyakit asma, baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya sehingga penderita mengerti tujuan penngobatan yang diberikan dan bekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawatnnya. Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2, yaitu: Pengobatan non farmakologik: Memberikan penyuluhan Menghindari faktor pencetus Pemberian cairan Fisiotherapy Beri O2 bila perlu. Pengobatan farmakologik : Bronkodilator : obat yang melebarkan saluran nafas. Terbagi dalam 2 golongan : Simpatomimetik/ andrenergik (Adrenalin dan efedrin) Nama obat : Orsiprenalin (Alupent) Fenoterol (berotec) Terbutalin (bricasma)

Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet, sirup, suntikan dan semprotan. Yang berupa semprotan: MDI (Metered dose inhaler).

Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang dihirup (Ventolin Diskhaler dan Bricasma Turbuhaler) atau cairan broncodilator (Alupent, Berotec, brivasma serts Ventolin) yang oleh alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel yang sangat halus ) untuk selanjutnya dihirup. Santin (teofilin) Nama obat : Aminofilin (Amicam supp) Aminofilin (Euphilin Retard) Teofilin (Amilex)

Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik, tetapi cara kerjanya berbeda. Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya saling memperkuat. Cara pemakaian : Bentuk suntikan teofillin aminofilin dipakai pada serangan asma akut, dan disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah. Karena sering merangsang lambung bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya diminum sesudah makan. Itulah sebabnya penderita yang mempunyai sakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini. Teofilin ada juga dalam bentuk supositoria yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus. Supositoria ini digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum teofilin (misalnya muntah atau lambungnya kering). Kromalin Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah serangan asma. Manfaatnya adalah untuk penderita asma alergi terutama anak- anak. Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti asma yang lain, dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian satu bulan. Ketolifen

Mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. Biasanya diberikan dengan dosis dua kali 1mg / hari. Keuntungnan obat ini adalah dapat diberika secara oral.

BAB II PENGKAJIAN Riwayat asma atau alergi dan serangan asma yang lalu, alergi dan masalah pernapasan Kaji pengetahuan anak dan orang tua tentang penyakit dan pengobatan Fase akut ; Tanda-tanda vital, usaha napas dan pernapasan, cuping hidung, pulse oximetry. Suara napas ; wheezing, menurunnya suara napas. Kaji status neurologi ; perubahan kesadran, meningkatnya fatigue, perubahan tingkah laku. Dan kaji status hidrasi Riwayat psikososial ; faktor pencetus ; stress, latihan, kebiasaan dan rutinitas, perawatan sebelumnya. A. Pengkajian a. Identitas 1. Nama 2. Umur 3. Jenis kelamin 4. Pekerjaan 5. Pendidikan 6. Agama 7. Alamat 8. No. Medical Record : : : : : : : :

B. Riwayat kesehatan 1. Keluhan utama Asmah 2. Riwayat kesehatan sekarang tidak ada penyakit yang menyertai klien 3. Riwayat penyakit dahulu Klien sebelumnya tidak pernah di rawat di RS karena skit

Penyakit yang pernah di alaminya adalah demam.

1.2 Pengkajian riwayat keperawatan berdasarkan pola kesehatan fungsional menurut Gordon Pola persepsi sehat penatalaksanaan sehat Orang tua dan penderita yang sudah remaja biasanya menganggap sebagai penyakit serius karena muncul sesak napas yang mengganggu aktivitas. Pola Metabolik Nutrisi Dapat muncul mual dan anorexia sebagai dampak penurunan oksigen jaringan gastrointestinal. Anak biasanya mengeluh badannya lemah karena penurunan asupan nutrisi, terjadi penurunan berat badan. Pola Eliminasi Anak dengan asma jarang terjadi gangguan eliminasi baik buang air besar maupun buang air kecil. Pola persepsi sehat penatalaksanaan sehat Orang tua dan penderita yang sudah remaja biasanya menganggap sebagai penyakit serius karena muncul sesak napas yang mengganggu aktivitas. Pola Metabolik Nutrisi Dapat muncul mual dan anorexia sebagai dampak penurunan oksigen jaringan gastrointestinal. Anak biasanya mengeluh badannya lemah karena penurunan asupan nutrisi, terjadi penurunan berat badan. Pola Eliminasi Anak dengan asma jarang terjadi gangguan eliminasi baik buang air besar maupun k Anak dengan asma jarang terjadi gangguan eliminasi baik buang air besar maupun buang air kecil. . Pola tidur istirahat

Data yang sering muncul adalah anak mengalami kesulitan tidur karena sesak napas. Penampilan anak terlihat lemah, sering menguap, mata merah, anak juga sering menangis pada malam hari karena ketidaknyamanan tersebut.

Pola Aktivitas Latihan Anak tampak menurun aktivitas dan latihannya sebagai dampak kelemahan fisik. Anak tampak lebih banyak minta digendong orang tuanya atau bedrest. . Pola Kognitif Persepsi Penurunan kognitif untuk mengingat apa yang pernah disampaikan biasanya sesaat akibat penurunan asupan nutrisi dan oksigen pada otak. Pada saat dirawat anak tampak bingung kalau ditanya tentang hal-hal baru disampaikan. Pola Persepsi Diri Konsep diri Tampak gambaran orang tua terhadap anak diam kurang bersahabat, tidak suka bermain, ketakutan terhadap orang lain meningkat. . Pola Peran Hubungan Anak tampak malas kalau diajak bicara baik dengan teman sebaya maupun yang lebih besar, anak lebih banyak diam dan selalu bersama dengan orang terdekat (orang tua). Pola Seksualitas Reproduksi Pada kondisi sakit dan anak kecil masih sulit terkaji. Pada anak yang sudah mengalami pubertas mungkin terjadi gangguan menstruasi pada wanita tetapi bersifat sementara dan biasanya penundaan Pola Toleransi Stres Koping Aktivitas yang sering tampak saat menghadapi stress adalah anak sering menangis, kalau sudah remaja saat sakit yang dominan adalah mudah tersinggung dan suka marah. Pola Nilai Keyakinan Nilai keyakinan mungkin meningkat seiring dengan kebutuhan untuk mendapat sumber kesembuhan dari Allah SWT.

1.3 Diagnosa Keperawatan Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan napas, dan tidak efektif pola napas berhubungan dengan broncospasme, edema mucosal dan meningkatnya secret. Fatigue berhubungan dengan hypoxia dan meningkatnya usaha napas Kecemasan berhubungan dengan hospitalisasi dan distress pernapasan Risiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan meningkatnya pernapasan dan menurunnya intake cairan Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi kronik Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan pengobatan

Perencanaan Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan napas, dan tidak efektif pola napas berhubungan dengan broncospasme, edema mucosal dan meningkatnya secret. Mempertahankan pertukaran gas yang adekuat dan pembersihan jalan napas : Pertahankan kepatenan jalan napas ; pertahankan support ventilasi bila diperlukan

Kaji fungsi pernapasan ; auskultasi bunyi napas, kaji kulit setiap 15 menit sampai 4 jam

Berikan oksigen sesuai program dan pantau pulse oxymetri dan batasi (penyapihan) atau tanpa alat bantu bila kondisi telah membaik

Kaji kenyamanan posisi tidur anak Monitor efek samping pemberian pengobatan ; monitor serum darah ; theophyline dan catat kemudian laporkan ke dokter. Normalnya 10 20 ug / ml pada semua usia.

Kaji gejala dan tanda efek samping theophyline seperti ; mual dan muntah pada gejala awal, kardiopulmonal mencakup ; tachikardia, dysrhmythmia, tachypnea, diuresis, irritability dan kemungkinan kejang

Berikan cairan yang adekuat per oral atau parenteral Pemberian terapi pernapasan ; nebulizer, fisioterapi dada bila indikasi, ajarkan batuk dan napas dalam efektif setelah pengobatan dan pengisapan secret ( suction)

Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan pada anak untuk menurunkan kecemasan

Berikan terapi bermain sesuai dengan usia

1.4 Fatigue berhubungan dengan hypoxia dan meningkatnya usaha napas Memberikan istirahat yang cukup, mencegah hypoxia, dan mengurangi kerja berat pernapasan Kaji tanda dan gejala hypoxia ; kegelisahan, fatigue, irritable, tachikardia, tachipnea. Hindari seringnya melakukan intervensi yang tidak penting yang dapat membuat anak lelah, berikan istirahat yang cukup. Instruksikan pada orang tua untuk tetap berada didekat anak Berikan kenyamanan fisik ; support dengan bantal dan pengaturan posisi. Berikan oksigen humidifikasi sesuai program

Berikan nebulizer ; kemudian pantau bunyi napas, dan usaha napas setelah terapi . Setelah krisis, ajarkan untuk aktivitas yang sesuai dengan tingkat

pertumuhan dan perkembangan untuk meningkatakan ventilasi dan memperluas perkembangan psikososial

1.5 Kecemasan berhubungan dengan hospitalisasi dan distress pernapasan MemBerikan lingkungan yang tenang dan mengurangi kecemasan Ajarkan tekhnik relaksasi ; latihan napas, melibatkan penggunaan bibir dan perut, dan ajarkan untuk berimajinasi Pertahankan lingkungan yang tenang ; temani anak, dan berikan support. Ajarkan untuk ekspresi perasaan secara verbal Berikan terapi bermain sesuai dengan kondisi Informasikan tentang perawatan, pengobatan dan kondisi anak. Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan

1.6 Risiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan meningkatnya pernapasan dan menurunnya intake cairan Berikan hidrasi yang adekuat : Monitor intake dan output (pemasukan dan pengeluaran), mukosa membrane, turgor kulit, pengeluaran urine, ukur gravitasi urine atau berat jenis urine (nilai 1.003-1.030) Monitor elektrolit Kaji warna sputum, konsistensi dan jumlah.

Pertahankan terapi parenteral bila indikasi, dan monitor kelebihan (oveloud) cairan.

Berikan intake cairan peroral bila toleran, hati-hati minuman yang dapat meningkatkan bronkospasme (air dingin)

Setelah fase akut, ajarkan anak dan orang tua untuk minum 3-8 gelas (750-2000 ml), tergantung usia dan berat badan.

Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi kronik

Mengkaji proses koping keluarga Berikan kesempatan pada orang tua untuk ekspresi perasaan Kaji mekanisme koping sebelumnya pada waktu stress Jelaskan prosedur dan pengobatan yang diberikan Informasikan pada orang tua tentang kondisi anak Identifikasi sumber-sumber psikososial keluarga dan finensial

1.7 Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan pengobatan

Memberikan informasi tentang proses penyakit, perawatan dan pengobatan : Kaji tingkat pengetahuan anak dan orang tua tentang penyakit, pengobatan, dan intervensi

Bantu untuk mengidentifikasi faktor pencetus Jelaskan tentang emosi dan stress yang dapat menjadi faktor pencetus Jelaskan pentingnya pengobatan : dosis, efek samping, waktu pemberian dan pemeriksaan darah

Informasikan tanda dan gejala yang harus dilaporkan dan control ulang Informasikan pentingnya program aktivitas dan latihan napas Jelaskan pentingnya terapi bermain sesuai usia

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN Kita sebagai manusia harus lebih menjaga kesehatan jangan sampai terjadi hal yang berkaitan dengan asma. Asma adalah suatu peradangan pada bronkus akibat reaksi sensitive mukosa bronkus terhadap bahan allergen. Reaksi hipersensitif pada bronkus dapat mengakibatkan pembengkakan pada mukosa bronkus

SARAN Agar tidak terjadinya asmah pada anak kita harus mencegah hal -hal yang tidak di inginkan Dan tidak membuat pasien merasa sakit sesak napas karna asmah pada anak.

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang 1.2 .....................................................................................................................2 1.3 Etiologi................................................................................................................................ .4 1.4 Patofisiologi.................................................................................................................. ........5 1.5 Menifestasi

klinis.................................................................................................................6 1.6 Pemeriksaan

Penunjang.......................................................................................................7 1.7 komplikasi..................................................................................................................... .......8 1.8 Penanggulangan status asma/

terapi...................................................................................9 BAB II

1.1 PENGKAJIAN......................................................................................................1 0 a. Identitas...................................................................................................................1 1 b. Riwayat kesehatan...................................................................................................12 1.2 pengkajian riwayat kesehatan menurut pola gordon.............................................13 1.3 Diagnosa keperawatan............................................................................................14 BAB III 1.1 PENUTUP............................................................................................................................ ..11 1.2 KESIMPULAN ........................................................................................................................12 1.3 SARAN................................................................................................................................. ...13 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................................14

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena merasalah akan penyertaanNya sehingga makalah Asma Pada Anak bisa selesai dengan baik guna memperlancar kegiatan perkuliahan khususnya pada mata kuliah PKKDM II. Dalam proses penyelesaian makalah ini kami mengalami begitu banyak hambatan baik dalam pencarian literatur maupun dalam penyusunannya, namun karena ada kemauan di sertai bantuan dari berbagai pihak akhirnya Askep ini bisa selesai, untuk itu kami menyampaikan ucapan terima kasih pada Ns.Nani Malik, S.Kep selaku Dosen Pengajar pada Mata Kuliah PKKDM II yang telah meluangkan waktu dan pikiran untuk membantu proses penyelesaian makalah ini. Tak Ada Gading Yang Tak Retak, begitupula dengan makalah ini, yang kami sadari bahwa dalam penyusunan maupun penulisan masih mempunyai kekurangan karena makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Kami membuka diri untuk menerima berbagai kritik dan saran yang sifatnya membangun demi perbaikan dimasa yang akan datang.

Bitung,

Agustus

2011

Sitrina Jumati

Mata Kuliah Semester Dosen

: : :

PKKDM II IV C Ns.Nani Malik, S.Kep

asma pada anak

Disusun oleh: Sitrina Jumati

Universitas Sariputra Indonesia Tomohon Fakultas Keperawatan 2011