Anda di halaman 1dari 4

2.3 ASUHAN KEPERAWATAN PASCAOPERATIF Setelah klien kembali ke bagian perawatan, perawatan pascaoperatif dimulai.

Perawat harus memeriksa kembali informasi preoperatif yang relevan, mengkaji status terakhit klien, serta membuat dan mengimplementasikan rencana asuhan keperawatan yang efektif. 2.3.1 PENGKAJIAN Setelah klien kembali ke bagian perawatan, pemeriksaan yang pertama kali perawat lakukan meliputi pemeriksaan kondisi umum klien termasuk tanda-tanda vital, tingkat kesadaran, kondisi balutan dan drain, status infus cairan, tingkataa rasa nyaman, dan integritas kulit. Perawat mengkaji klien secara rutin minimal setiap 15 menit pada 1 jam pertama, setiap 30 menit selama 1 sampai 2 jam berikutnya, setiap 1 jam selam 4 jam berikutnya, dan selanjutnya setiap 4 jam. Hasil pemeriksaan awal merupakan dasar untuk membandingkan perubahan yang terjadi pascaoperatif. 2.3.2 DIAGNOSA Perawat menentukan status masalah yang diidentifikasi dari diagnosa keperawatan preoperatif dan mengelompokkan data baru yang relevan untuk mengidentifikasi diagnosa baru. Diagnosa sebelumnya, seperti gangguan integritas kulit, dapat berlanjut menjadi masalah pascaoperatif. Perawat juga dapat mengidentifikasi faktor resiko yang mengarah pada identifikasi diagnosa keperawatan baru. Perawat juga mempertimbangkan kebutuhan keluarga klien saat membuat diagnosa. Misalnya diagnosa

ketidakmampuan koping keluarga menghadapi kondisi klien yang membutuhkan intervensi keperawatan. 2.3.3 PERENCANAAN Pada tahap penyembuhan, perawat mempunyai banyak informasi untuk membuat rencana perawatan klien. Adanya data pengkajian terbaru dan analisa riwayat keperawat preoperatif memungkinkan perawat membuat rencana intervensi keperawatan yang spesifik. Intruksi pascaoperatif dari dokter bedah kuga dapat menjadi pedoman. Jenis instruksi pascaoperatif yang diberikan dokter bedah antara lain: 1. Jumlah pemantauan tanda-tanda vital dan pemeriksaan khusus 2. Jenis cairan infus dan kecepatan aliran infus

3. Obat-obatan pascaoperatif 4. Makanan dan minuman yang boleh dimakan melalui mulut 5. Tingkat aktivitas yang boleh dilakukan klien 6. Posisi yang harus dipertahankan klien selama berada di temapt tidur 7. Asupan dan keluaran 8. Pemerikasaan laboratorium dan sinar-x 9. Pengarahan khusus Beberapa jenis tujuan perawatan pasca operatif antara lain : 1. Menunjukkan kembalinya fungsi fisiologis normal 2. Tidak memperlihatkan adanya infeksi luka bedah 3. Dapat beristirahat dan memperoleh rasa nyaman 4. Mempertahankan konsep diri 5. Kembali kepada status kesehatan fungsional dengan keterbatasan yang ada akibat pembedahan 2.3.4 IMPLEMENTASI Mendapatkan Kembali Fungsi Fisiologis Normal Luka bedah, pengaruh immobilisasi yang lama selama pembedahan berlangsung dan selama penyembuhan, serta pengaruh anestesi dan analgesik merupakan penyebab utama timbulnya komplikasi pascaoperatif. Intervensi keperawatan diarahkan untuk mencegah timbulnya komplikasi sehingga klien dapat kembali pada tingkat fungsi yang setinggi mungkin. Kegagalan klien berpartisipasi aktif dalam tahap pemulihan akan menambah resiko terjadinya komplikasi (sistem pernafasan, sistem sirkulasi, sistem gastrointestinal, sistem genitourinaria, dll). Perawat harus memperhatikan hubungan antara seluruh sistem dengan terapi yang diberikan, seperti : - Mempertahankan fungsi pernapasan - Mencegah stasis sirkulasi

- Meningkatkan eliminasi normal dan nutrisi yang adekuat - Meningkatkan eliminasi urine - Memperoleh istirahat dan kenyamanan - Mempertahankan konsep diri - Mempercepat kembalinya status kesehatan fungsional 2.3.5 EVALUASI Perawat mengevaluasi efektifitas perawatan yang diberikan pada klien bedah berdasrkan hasil yang diharapkan setelah melakukan intervensi keperawatan. Pada semua tempat pembedahan, perawat bertanya kepada klien dan keluarga untuk memperoleh data evaluasi. Perawat dapat mengevaluasi hasil akhir klien bedah sehari dengan cara menelpon rumah klien, menanyakan adanya komplikasi dan pemahaman klien tentang pantangan atau obat-obatannya. Pada tempat perawatan akut, evaluasi klien bedah dilakukan secara terus menerus. Apabila klien tidak mengalami kemajuan seperti yang diahrapkan, perawat memperbaiki kembali rencana keperawatan berdasarkan pada prioritas kebutuhan klien. Bagian dari evaluasi perawat adalah menentukan banyaknya pelajaran yang diterima klien dan keluarga tentang cara perawatan diri. Kehadiran perawat yang memberi perawatan di rumah saat klien pulang berguna untuk mengetahui apakah klien dapat melakukan perawatan secara efektif.

Perawatan post operatif adalah penting seperti halnya persiapan preoperatif. Perawatan post operatif yang kurang sempurna akan rnenghasilkan ketidakpuasan clan tidak memenuhi standard operasi.TujLlan perawatan post operatif adalah untuk menghilangkan rasa nyeri, sedini mungkin mengidentifikasi masalah dan mengatasinya sedini mungkin. Mengantisipasi dan mencegah terjadinya kornplikasi lebih baik daripada sudah terjadi komplikasi (l). Pada perawatan post operatif perlu (l) ; . Memberi dukungan pada pasien. . Menghilangkan rasa sakit. . Antisipasi dan atasi segera komplikasi. ' Memelihara komunikasi yang baik dengan tim. Komunikasi yang tidak baik merupakan

masalah yang sering rnenyebabkan kegagalan dalam perawatan post operatif. o Rencana perawatan. Menyesuaikan perawatan dengan kebutuhan pasien. Setiap pasien membutuhkan modifikasi yang sesuai dengan protokol perawatan, yang mempunyai-prbblem unik tersendiri. Jika akan dilakukan inspeksi pada h-rka, maka harus dilakr-rkan dalam keadaan steril. Sedapat mungkin luka dibiarkan di bawalr dressing dan inspeksi hanya dilakukan bila kuatir ada infeksi, discharge atau akan mengganti rlressing. Jlka pasien demam, dan terdapat banyak dischargi atau dressing berbau, maka dressing harvs diganti dan saat itu ada kesempatan untuk menginspeksi luka (1). Pengangkatan benang jahit : Benang diangkat sedini mungkin (II,l2) untuk mencegah atau mengurangi reaksi terhadap benang, infeksi, dan tanda benang (11). Namun pengangkatan benang yang terlalu dini menimbulkan komplikasi seperti terbukanya luka dan skar yang lebar (12). Biarkan jahitan tetap pada tempatnya cukup lama untuk mencegah terbukanya luka dan skar yang lebar (11). Jika suplai darah kurang, regangan yang rnelewati luka lebih besar, atau benang berada pada tempatnya lebih lama akan menyebabkan epitelisasi pada daerah benang dan menimbulkan bekas benang dan infeksi (stitch abcesses) (1 1,12). Waktu untuk pengangkatan benang bergantung pada tegangan yang dibutuhkan untuk mendekatkan pinggir luka (12). Pada muka dan telinga, benang diangkat dalam 5-J han, kelopak mata 3-5 hari, leher 7 hari, scalp 7-10 hari, badan dan ekstremitas atas 10-14 liari (11,12), dan ekstremitas bawah 14-21 hari. Absorbable suture dibiarkan tetap pada tempatnya. Namun pada beberapa pasien tirnbul reaksi dengan benang, dan terjadi abses (slilch abces'scs) sehingga benang menonjol dari luka. Jika ini terjadi maka benang harus diangkat dengan hati-hati dengan forcep kecil dan dipotong keluar dari luka. Materi purulen harus didrain (ll). Stitch qbcesses yang terjadi pada t<etopit< mata atas, maka jahitan harus segera diangkat, jika lebih dari 4 hari maka akan terjadi epitelisasi pada bidang jahitan dan timbul kista akibat penumpukan material keratinosit (12). Instruksikan pada pasien untuli ticiak rnengaruk, menyentuh, menggosok, memegang, mengusap, menekan atau mengganggu dressing. Dengan menyentuh pembalut, akan timbul gatal, i.rjuil friksi pada tempat masuk dan keluar tiap jahitan dan teljadi inflamasi di sekitarnya. inflamasi ini akhirnya rnenimbulkan abses jika jahitan tidak segera diangkat. Daerah yang sering dikenai adalah hidung. Dressing tidak boleh basah waktu mandi. hl<a dressing kotor hirus diganti oleh pasien. Antibiotik untuk mencegah infeksi tidak perlu diberikan (12).