Anda di halaman 1dari 4

2.3.

6 Cara berkomunikasi Tugas orang tua pasti lebih berat jika anaknya memiliki ganguan pendengaran, karena anak akan sulit berkomunikasi. Oleh karena itu, sebaiknya para orang tua agar menanamkan pendidikan khusus untuk anak mereka mulai dari rumah. Orang tua harus mengembangkan bahasa lisan dan anak harus sering diajak bercakap-cakap karena anak tunarungu belajar berbicara dari gerakan bibir dan mimik muka, itu yang dinamakan maternal reflektif method atau metode percakapan ibu reflektif. a. Bahasa Isyarat Anak tunarungu memiliki gangguan dalam organ pendengarannya, maka dari itu anak tunarungu cenderung lebih memfungsikan penglihatannya (visual) untuk memperoleh informasi yang ia butuhkan. Cara individu

berkomunikasi

dengan

menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional
Gambar 1.1 Bahasa isyarat

sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara. Saat ini dibeberapa sekolah

sedang dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. b. Gerak tubuh Gerakan membantu tubuh juga dapat untuk

tunarungu

dapat berkomunikasi. Namun banyak yang tidak atau gerakan dapat salah tubuh

mengartikan mengartikan

yang sederhana itu. Maka dari itu, keluarga biasanya

membuat dan menggunakan home signs, yaitu gerakan tangan dan tubuh yang mereka buat untuk menunjukan ekpresi

Gambar 1.2 American Signs

mereka dan berkomunikasi dengan anak yang tunarungu. Home signs ini dibuat oleh orang tua atau keluarga dan biasanya pembuatannya ini terjadi secara natural atau karena kebiasaan. Tunarungu yang lain atau orang lain yang dapat mendengar mungkin saja tidak mengerti tanda yang dibuat oleh anda/keluarga tertentu, namun home signs ini dapat dibagi dengan yang lainnya. Meskipun home signs tidak menghasilkan bahasa yang lengkap, namanu meraka sangat terbantu untuk mengekspresikan ide yang sederhana dan dapat memulai komunikasi dengan baik.

2.4 Empati dalam Berkomunikasi Empati merupakan suatu kesanggupan untuk peka terhadap kebutuhan orang lain, kesanggupan untuk turut merasakan perasaan orang lain serta menempatkan diri dalam keadaan orang lain. Untuk dapat bersikap peka dan peduli dibutuhkan tingkat kematangan kepribadian tertentu. Para pakar ilmu komunikasi dan pendidikan menilai bahwa kepedulian atau empati merupakan kata kunci dalam tahap akhir kecerdasan emosional. Sebabnya antara lain, karena untuk berempati kita harus mampu mengobservasi dan melibatkan banyak panca indera. Terdapat dua modal dasar yang harus dimiliki oleh seseorang agar memiliki empati. Psikolog Michael Nichols dari Albany Medical College menyebutkan, dua modal itu adalah "mengerti dan menerima". Pengertian dan penerimaan sangat penting bila seseorang ingin menunjukkan kepeduliannya. Mengerti apa yang dirasakan orang lain, dapat melihat masalah dari sudut pandang mereka dan menerima keadaan itu. Ada beberapa langkah praktis agar kita bisa belajar menanamkan rasa empati dan peduli: Pertama, mengenali perasaan sendiri. Prosesnya adalah dengan meraba dan menghayati berbagai perasaan yang berkembang dalam diri seperti sedih, gembira, kecewa, bangga, terharu dan sebagainya. Mengenali perasaan sendiri merupakan bagian dari tuntutan kecerdasan emosi. Orang yang mengenali perasaan diri, biasanya mampu mengendalikan emosinya, sehingga ia tidak melakukan tindakan gegabah saat mendapati kenyataan di luar dirinya yang berbeda dengan keinginannya. Kedua, menyediakan waktu menyendiri untuk berpikir apa yang telah terjadi. Ini sebenarnya termasuk proses pengenalan dan pengendalian emosi. Karena biasanya orang sulit mempunyai gambaran jernih terhadap suatu persoalan dalam kondisi emosi yang bermacam-macam. Selanjutnya, memulai yang lebih baik dengan

memperbaiki terlebih dulu dirinya, sebelum menuntut orang lain berlaku baik kepadanya. Ketiga, mencoba memandang masalah dari sudut pandang orang lain. Empati adalah ketika kita dapat merasakan, apa yang orang lain rasakan dan juga dapat melihat masalah dari sudut pandang mereka. Masukilah dunia mereka dan cobalah memandang masalah dari sisi tersebut. Dengan demikian, pihak lain tidak saja hanya merasa dimengerti tapi ia merasa lebih disukai. Dengan memahami sikap ini, memaksakan kehendak bisa dihindari. Banyak kekacauan muncul, karena adanya pemaksaan kehendak dan kurangnya upaya memahami. Keempat, menjadi pendengar yang baik. Kita lebih mudah merasa empati, memahami perasaan orang lain dan menempatkan diri dalam keadaan orang lain, kalau kita dapat mendengar apa yang dialami orang tersebut. Tidak hanya kemampuan mendengarkan secara seksama, tapi juga membaca isyarat-isyarat non verbal. Sebab, seringkali bahasa tubuh dan tekanan suara lebih efektif menggambarkan perasaan ketimbang kata-kata. Orang tua misalnya, harus mampu meningkatkan kemampuan "mendengarkan" suara hati anak-anaknya. Anakanak pun harus belajar "mendengarkan" lingkungannya, agar ia bisa terampil dalam kehidupan sosial. Anjuran mendengarkan berarti mengajak kita membuka pintu komunikasi dengan berbagai obyek. Informasi yang diterima dari banyaknya komunikasi itulah yang akan menjadikan kita bisa memahami dan mengerti. Kelima, membiasakan diri untuk menghayati fenomena berbagai hal yang kita jumpai. Misalnya, saat kita melihat seorang tunanetra di tengah keramaian, nyatakan dalam hati betapa sulitnya orang itu memenuhi kebutuhannya. Langkah ini biasanya berlanjut dengan kesanggupan menempatkan diri dalam keadaan orang lain. Ketika mendapati anak-anak yang mengamen di jalanan hingga larut malam, misalnya. Katakanlah pada diri sendiri, bagaimana jika mereka itu adalah anak-anak kita. Jika menyaksikan himpitan rumah gubuk di pinggiran rel kereta, bayangkanlah bila keadaan itu dialami oleh keluarga kita. dan seterusnya. Keenam, berlatih mengatur dan mengatasi gejolak emosi dalam menghadapi reaksi positif maupun negatif. Di sekitar kita, banyak peristiwa yang bisa menyulut gejolak emosi. Di rumah, seorang suami bisa saja menemui segala macam hal yang berantakan. Seorang istri

mendapati suaminya tak banyak memberi nafkah. Di jalanan seorang sopir bisa menemui banyak peristiwa yang memanaskan. Dalam segala kondisi, berupaya mengendalikan emosi merupakan perjuangan berat, tapi itu perlu. Ketujuh, latihan berkorban untuk kepentingan orang lain. Sebuah studi di Harvard University, Amerika Serikat, menunjukkan adanya keterkaitan yang jelas antara besarnya tanggung jawab seorang anak, dengan kecenderungan bersedia mementingkan orang lain. Empati sangat berhubungan dengan kesediaan berbuat baik (altruisme). Empati yang tinggi memperbesar kesediaan untuk menolong, untuk berbagi dan berkorban demi kesejahteraan orang lain. Kesanggupan untuk berempati sendiri adalah kesanggupan yang ada pada tiap orang.

Kita wajib berempati pada mereka yang mengalami kecacatan, misalnya tuna netra. Manusia harus menyadari bahwa pada hakikatnya seluruh manusia diciptakan sederajat, tanpa membeda-bedakan. Kita harus tetap bahu-membahu menolong dan mendukung mereka agar memiliki semangat hidup yang tinggi dan dapat bersama-sama berkarya demi Indonesia