Anda di halaman 1dari 8

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

KRI Kakap 811 (KRI KKP 811) adalah salah satu kapal perang kelas patroli yang dimiliki Indonesia yang dilengkapi dengan meriam 40 mm Bofors. Kapal ini dilengkapi pula dengan beberapa buah senapan mesin kaliber 12,7 mm. Sementara untuk fungsi pendorongan menggunakan dua buah motor diesel merk MTU type 16V 956TB92. Selain itu KRI Kakap 811 juga dilengkapi dengan tempat pendaratan hellicopter (helly pad), sehingga pada saat melaksanakan patroli maritim, kapal ini juga dapat dibantu oleh satu buah helicopter intai maritim. Gambar 1.1 adalah gambar yang memperlihatkan KRI Kakap 811 sedang melaksanakan patroli.

Gambar 1.1 KRI Kakap 811 sedang berpatroli (sumber: http://beta.tnial.mil.id/koarmatim/berita/).

Untuk memenuhi kebutuhan energi listrik, di KRI KKP 811 terdapat tiga buah diesel generator yang dioperasikan secara bergantian. Pada saat berlayar kebutuhan energi listrik dapat diatasi cukup dengan mengoperasikan satu buah

diesel generator. Sedangkan pada kondisi tertentu, seperti pada saat kapal akan keluar atau masuk pelabuhan, kebutuhan energi listrik tetap dipenuhi oleh satu buah diesel generator, akan tetapi disiapkan juga satu buah diesel generator yang lain untuk standby atau berjaga jaga apabila terjadi beban berlebih atau beban listrik diesel generator terlepas secara tiba tiba (black out). Kebutuhan maksimal beban listrik di kapal adalah pada saat dilaksanakannya Peran Tempur 1 . Pada kondisi ini, selain akomodasi dan navigasi, kebutuhan listrik seluruh senjata dan alat komunikasi internal dan eksternal juga harus terpenuhi. Dengan demikian diesel generator yang bekerja akan menanggung beban maksimal, yang berarti pula diesel generator harus bekerja maksimal. Pada saat dua diesel generator sedang bekerja tentu saja satu buah diesel generator yang lain harus dalam keadaan siap dioperasikan, untuk berjaga jaga seandaianya dua diesel generator yang sedang bekerja mengalami masalah. Proses pergantian beban dari diesel generator yang sedang bekerja

dengan yang siap menggantikan tidak selamanya berjalan sesuai yang direncanakan. Selain itu dari ketiga diesel generator tersebut belum tentu semua diesel generator dalam keadaan siap pada saat kapal berlayar. Bisa jadi hanya dua atau bahkan hanya sebuah diesel generator saja yang dalam kondisi siap dan satu buah lagi dalam kondisi siap terbatas. Pada kondisi ini dapat memungkinkan kapal kehilangan energi listrik secara tiba tiba. Dan jika hal ini terjadi, maka bagian yang harus diamankan adalah sistem kendali mesin penggerak utama, sistem navigasi, sistem komunikasi, dan sistem kendali kemudi kapal. Karena apabila bagian bagian tersebut juga mengalami kehilangan energi akan berakibat sangat fatal. Pada saat kapal kehilangan energi listriknya, mesin penggerak pokok tidak boleh langsung mati, karena kapal harus berada pada tempat yang cukup aman untuk mengapung. Apabila sistem kendalinya mati maka otomatis mesin penggerak utama juga akan mati. Demikian halnya dengan sistem kemudi, sistem navigasi dan sistem komunikasi yang berguna mengarahkan kapal ke tempat yang aman.

Kondisi pada saat kapal perang sedang dalam ancaman atau bersiap menghadapi sebuah pertempuran.

Pada masa sekarang ini, telah banyak dilakukan usaha usaha oleh para ahli untuk memperoleh energi listrik dengan cara memanen energi yang terbuang dari lingkungan sekitar. Salah satu energi terbuang yang bisa dipanen adalah energi getaran. Dalam memanen energi getaran ini ada beberapa metode yan telah dilakukan oleh beberapa ahli dalam melakukan penelitian, diantaranya metode piezoelektrik, metode elektrostatik dan metode elektromagnetik. Ketiga metode tersebut masing masing memiliki keistimewaan dan kelemahan bergantung pada mekanismenya. Metode piezoelektrik digunakan sebagai mekanisme pemanen energi getaran dengan cara memanfaatkan perubahan regangan yang terjadi pada material piezoelektrik untuk dirubah menjadi energi listrik. Metode ini

menawarkan pendekatan yang paling sederhana, dimana getaran dari struktur dapat langsung dikonversikan menjadi tegangan output dengan menggunakan sebuah material piezoelektrik. Tidak pula dibutuhkan bentuk geometri yang kompleks dan penambahan sejumlah material pada mekanismenya. Gambar 1.2 di bawah ini memperlihatkan skema pembangkit energi listrik pada mekanisme sebuah batang kantilever, yang dibangun oleh Roundy, dan kawan kawan pada tahun 2004.

Gambar 1.2 Skema sebuah mekanisme cantilever piezoelectric generator (Roundy, 2004).

Metode piezoelektrik ini mampu memproduksi tegangan output yang relative tinggi akan tetapi arus yang dihasilkan sangat kecil. Pada metode ini mutlak diperlukan adanya regangan yang bekerja secara langsung pada material piezoelektrik, hal ini tentu saja akan mempengaruhi performa dan kehandalan dari
3

material yang digunakan. Impedansi output pada mekanisme dengan metode ini sangat tinggi yaitu di atas 100 k . Selain itu, untuk di Indonesia harga material piezoelektrik masih sangat mahal, sehingga penerapan metode ini kurang efisien, walaupun mekanismenya sederhana. Prinsip dasar pada metode elektrostatik adalah gerakan bagian dari transducer yang bergerak melawan arah medan listrik, sehingga menimbulkan energi. Konsep elektrostatik ini mudah direalisasikan pada peralatan MEMS (Micro Electro Mechanical System) seperti contohnya pada kapasitor. Kerapatan energi yang dihasilkan dapat dinaikkan dengan memperkecil jarak antar kapasitor, demikian juga sebaliknya. Redaman transduksi tinggi dapat dicapai dengan menggabungkan dengan celah kecil kapasitor dan tegangan tinggi. Gambar 1.3 berikut ini memperlihatkan sebuah variable kapasitor tipe honeycomb.

Gambar 1.3 Kapasitor tipe honeycomb berikut mekanisme pembangkitan (Beeby, 2004).

Sayangnya pada metode elektrostatik ini dibutuhkan tegangan polarisasi awal atau pengisian (charge). Sehingga mekanisme ini tidak sesuai jika digunakan pada mekanisme pengisian battery. Pada metode ini dapat menggunakan dielektrika (electrets) guna menyediakan pengisian awal (initial charge) dan pengisian tersebut dapat bertahan selama beberapa tahun. Impedansi output pada mekanisme dengan metode ini sangat tinggi , sehingga sesuai jika digunakan sebagai power supply. Tegangan output yang dihasilkan oleh perangkat ini relatif tinggi (> 100 V) dan seringkali menyebabkan arus yang terbatas (supplying capability).
4

Pemanen energi getaran dengan menggunakan metode elektromagnetik merupakan pemanen energi getaran dengan memanfaatkan induksi

elektromagnetik, yaitu pembangkitan arus listrik dalam sebuah konduktor yang terletak di dalam medan magnet. Konduktor biasanya dibuat dalam bentuk lilitan kawat (coil) dan listrik dibangkitkan dari gerakan relative antara magnet dan lilitan kawat (coil), atau karena perubahan medan magnet. Cara pembangkitan medan listrik dengan memanfaatkan induksi elektromagnetik dapat dilihat pada Gambar 1.4 di bawah ini.

Gambar 1.4 Skema pembangkitan listrik akibat induksi elektromagnetik (sumber:http://www.daviddarling.info).

Metode ini menawarkan teknik pembangkitan energi listrik yang lebih mapan dibandingkan dengan metode yang lain. Hal ini juga dapat dilihat dari pembangkit energi listrik yang ada di kehidupan sehari hari juga menggunakan metode elektromagnetik. Terdapat berbagai variasi dari konfigurasi pegas atau massa yang dapat digunakan dengan berbagai jenis material yang bervariasi. Secara komparatif, metode mampu menghasilkan arus keluaran yang besar, meskipun tegangan yang dihasilkan kecil. Selain itu magnet dengan berbagai performa dan lilitan kawat berukuran makro, saat ini sangat mudah diperoleh di pasaran.

Dengan adanya permasalahan di atas, yakni perlunya sumber energi listrik alternatif yang mampu meringankan beban kerja diesel generator di KRI KKP 811, maka penulis berkeinginan membuat sebuah mekanisme yang mampu memanen energi lingkungan yang terbuang, dalam hal ini getaran pada mesin diesel MTU type 16V 956TB92 di KRI KKP 811. Dan dengan memperhatikan beberapa kelebihan dan kelemahan dari ketiga metode yang telah disebutkan di atas, maka dipilihlah metode elektromagnetik sebagai metode dalam rancang bangun mekanisme pemanen energi getaran ini. Alasan pemilihan metode ini adalah konstruksinya sederhana, harga material lebih murah dan mudah diperoleh, serta arus yang dihasilkan lebih besar daripada kedua metode yang lain.

1.2

Rumusan Masalah Dari latar belakang yang tercantum pada sub bab di atas, maka dapat

dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Perlunya sumber energi listrik alternatif yang mampu meringankan beban kerja diesel generator, terutama pada peralatan yang membutuhkan input tenaga yang kecil misalnya pada perlatan kontrol dan sensor sensor pada sistem monitoring. 2. Getaran sebagai energi yang terbuang, dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik alternatif, sehingga perlu dibuat suatu mekanisme yang mampu merubah getaran menjadi energi listrik sesuai dengan yang dibutuhkan. 3. Mesin pendorong pokok atau utama merk MTU type 16V 956TB92 di KRI KKP 811 merupakan mesin penghasil energi terbesar di kapal tersebut, sehingga sangat memungkinkannya sebagai penghasil sumber getaran terbesar di kapal tersebut. Dengan demikan diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif tempat pemasangan alat pemanen energi getaran yang dihasilkan.

1.3

Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan

penelitian ini dapat dirumuskan pula sebagai berikut: 1. Memperoleh sumber energi listrik alternatif dengan memanfaatkan sumber sumber energi di kapal yang terbuang, salah satunya dengan cara memanen energi getaran pada mesin diesel MTU type 16V 956TB92 di KRI KKP 811. 2. Memodelkan suatu mekanisme pemanen energi getaran dengan metode electromagnetic . 3. Merencanakan dan membuat mekanisme suatu alat yang mampu memanen energi getaran dari mesin pendorong pokok kapal dengan metode electromagnetic untuk aplikasi pada mesin diesel MTU type 16V 956TB92 di KRI KKP 811. 4. Mengetahui karakteristik dari mekanisme pemanen energi getaran melalui pengujian karakteristik getaran yang telah dibuat. 5. Mengaplikasikan mekanisme pemanen energi getaran yang telah dibuat pada kondisi sesungguhnya yaitu pada mesin diesel MTU type 16V 956TB92 di KRI KKP 811. terhadap prototype mekanisme pemanen energi

1.4

Manfaat Penelitian Dengan penelitian yang dilakukan, maka diharapkan akan diperoleh

manfaat sebagai berikut : 1. Tersedianya informasi seputar karakteristik dan unjuk kerja dari pemanen energi getaran dengan metode elektromagnetik, khususnya untuk aplikasi pada mesin diesel MTU type 16V 956TB92 di KRI KKP 811, yang belum pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. 2. Alat pemanen energi getaran yang direncanakan dan dibuat mampu meringankan kinerja diesel generator, sekaligus dapat mengatasi

permasalahan sumber tenaga listrik untuk peralatan dengan kebutuhan input

tenaga yang kecil pada kondisi darurat maupun pada saat perpindahan beban diesel generator saat operasional. 4. Menjadi masukan bagi TNI AL dalam bidang pengembangan sumber energi listrik alternatif bagi KRI yang sedang melaksanakan operasi. 5. Dapat memberikan konstribusi dalam perancangan dan analisa secara menyeluruh dan terarah pada pengembangan alat pemanen energi getaran.

1.5

Batasan Masalah Agar rancang bangun yang dilakukan menjadi lebih terarah tanpa

mengurangi maksud dan tujuannya, maka ditentukan batasan permasalahan sebagai berikut : 1. Obyek penelitian adalah pada mesin diesel merk MTU type 16V 956TB92 di KRI KKP 811 dengan daya 4500 HP, dan kecepatan putaran maksimal 1500 Rpm. 2. Rancang bangun alat pemanen energi getaran dilakukan dengan metode elctromagnetic. 3. Pengujian getaran dan pengujian mekanisme hasil rancang bangun dilakukan pada saat mesin pada kondisi stasioner tanpa pembebanan dengan variasi putaran mesin dari putaran idle (500 Rpm) hingga batas maksimum putaran mesin pada kondisi stasioner (600 Rpm). 4. Mekanisme pada sistem penyimpan energi listrik yang telah dipanen dan mekanisme alat yang mengkonverikan dari tegangan DC menjadi tegangan AC tidak dibahas dalam LaporanThesis ini.
5.

Tidak dilakukan permodelan metematis pada sumber energi getaran, dalam hal ini pada mesin diesel MTU 16V 956TB92 yang ada di KRI KKP 811.