Anda di halaman 1dari 5

BAB II Tinjauan pustaka

A. Definisi

Akne vulgaris adalah penyakit peradangan menahun folikel pilosebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja yang dapat sembuh sendiri, terdiri atas berbagai kelinan kulit berupa komedo, papul, pustul, nodus, dan jaringan parut yang terjadi akibat kelainam aktif tersebut, baik jaringan parut yang hipertropik maupun yang hipotrofik.( penyakit kulit dan kelamin FK UI )

B. Epidemiologi Karna hampir setiap orang pernah menderita penyakit ini, maka sering dianggap sebagai kelainan kulit yang timbul secara fisiologis.Kligman mengatakan bahwa tidak ada satu orangpun ( artinya 100% ) yang sama sekali tidak pernah menderita penyakit ini.Penyakit ini memang jarang terdapat pada waktu lahir, namun ada kasus yang terjadi pada waktu bayi.akne vulgaris menjadi problem pada saat pubertas, umumnya terjadi sekitar umur 14-17 tahun pada wanita, 15-19 tahun pada lelaki dan pada masa itu lesi predominan adalah komedo dan papul dan jarang terlihat lesi beradang. Pada seorang wanita anke vulgaris dapat terjadi premenarke. Setelah masa remaja kelainan ini berangsur berkurang. Namun kadang-kadang terutama wanita, akne vulgaris menetap sampai umur 30-an atau bahkan lebih. Meskipun pada pria akne lebih cepat berkurang, namun pada penelitian diketahuibahwa justru akne vulgaris yang berat biasanya terjadi pada pria. Diketahui pula bahwa ras oriental ( jepang, cina, korea ) lebih jarang menderita akne vulgaris dibandingkan dengan ras kaukasia ( Eropa , Amerika ) dan leih seiing terjadi nodulokistik pada kulit putih daripada negro.

C. Etiologi dan Patogenesis

Meskipun etiologi yang pasti poenyakit ini belum diketahiu, namun ada berbagai factor yang berkaitan dengan pathogenesis penyakit. 1. Perubahan pola keratinisasi dalam folikel, keratinisasi dalam folikel yang biasanya berlangsung longgar berubah menjadi padat sehingga sukar lepas dari saluran folikel tersebut. 2. Produksi sebum yang meningkat yang menyebabkan peningkatan unsur komedogenik dan implamatogenik penyebab terjadinya lesi akne 3. Terbentuknya aksi asam lemak bebas penyebab terjadinya proses mflamasi folikel dalam sebum dan kekentalan sebum yang penting pada pathogenesis penyakit. 4. Peningkatan jumlah flora folikel ( propionibacterium acnes) yang bereran pada proses kemotaktik inflamasi serta pembentukan enzim hipolitik pengubah fraksi lipid sebum 5. Terjadinya respon hospes berupa pembentukan circulating antibodys yang memperberat acne 6. Peningkatan kadar hormone androgen, anabolic, kortikostreoid, gonodotropin serta ACTH yang mungkin menjadi factor penting pada peningkatan kelenjar sebasea 7. Terjadinya stress yang dapat memicu kegiatan kelenje sebasea, baek secara langsung ataupun melalui rangsangan terhadap kelenjar hipofisis. 8. Factor lain:,usia, ras, familiar, makanan,cuca atau musim yang tidak langsung yang dapat memicu peningkatan proses pathogenesis tersebut.

D. Gejala klinis Predileksi Keluhan Efloresensi dan : wajah, leher, dada, punggung, bahu, lengan atas : gatal, nyeri, estesis + : Komedo hitam dan putih papul,pustul, nodus, kista, jaringan parut pigmentasi

E. Gradasi

Akne Ringan Akne Sedang

Komedo < 20 , atau Lesi inflamasi < 15 , atau Total lesi < 30 Komedo 20 100 , atau Lesi inflamasi 15 50 , atau Total lesi 30 - 125

Akne Berat

Kista > 5 atau komedo > 100 , atau Lesi inflamasi > 50, atau Total lesi > 125

F. Faktor-faktor yang mempengaruhi akne vulgaris 1. Factor genetic Pada 60% pasien, riwayat akne juga didapatkan pada satu atau kedua orang tuanya. Penderita akne yang berat mempunyai riwayat keluarga yang positif. Diduga faktor genetik berperan dalam gambaran klinik, penyebaran lesi, dan lamanya kemungkinan mendapat akne.

2. Factor ras Insiden dan beratnya akne pada orang Jepang lebih besar daripada golongan Kaukasoid. Akne pada orang Amerika berkulit putih Lebih banyak dibanding dengan orang berkulit hitam. Tetapi belum ada penyelidikan yang memadai dalam hubungan dengan ras.

3. Factor hormonal Pada 6070% wanita lesi akne menjadi lebih aktif kurang lebih satu minggu sebelum haid. Estrogen dalam kadar tertentu dapat menekan pertumbuhan akne, pada wanita diperlukan dosis yang melebihi kebutuhan fisiologis, sedangkan pada laki-laki dosis tersebut dapat menim-bulkan feminisasi Pil anti hamil yang mengandung ethinil estradiol 0,05 mg atau lebih mempunyai efek yang menguntungkan pada akne Androgen memegang peranan penting; akne tidak berkem-bang pada orang yang dikebiri. Androgen asal jaringan, 5 alfa dihidrotestosteron lebih mudah dibentuk pada orang dengan kulit berjerawat Ovarektomi sebelum dewasa dan agenesis

ovarii mencegah timbulnya akne ACTH dan horrnon gonadotropin mempengaruhi ovarium dan kelenjar adrenal secara tidak Iangsung serta merangsang kelenjar sebaceous dengan demikian dapat memperberat akne. TSH dengan jalan tertentu juga dapat merangsang pertumbuhan akne.

4. Factor makanan Makanan sebagai salah satu faktor penyebab timbulnya akne masih diperdebatkan. Secara umum dikatakan bahwa lemak, cokiat, susu, kacangkacangan, keju dan sejenisnya dapat merangsang kambuhnya jerawat. Lemak yang tinggi pada makanan akan mempertinggi kadar komposisi sebum, sedangkan makanan dengan kadar karbohidrat tinggi dapat mempertinggi susunan lemak permukaan kulit.

5. Faktor musim Suhu panas dan udara lembab menyebabkan kambuhnya akne di daerah tropis. Sedangkan di negara dengan berbagai musim, akne cenderung kambuh pada musim dingin;pada musim panas diduga sinar matahari dapat meringankan penderita akne,kalaupun ada yang memberat ini akibat berkeringat banyak. Sinar matahari dapat menolong banyak penderita akne. Sinar ultraviolet dapat menyebabkan pigmentasi meningkat dan pengelupasan yang sangat

menguntungkan penderita akne, lagi pula sinar ultraviolet mempunyai efek bakterisid terhadap kuman permukaan kulit

6. Factor psikis Ernosi, terutama stres, memegang peranan kecil pada patogenesis akne, tapi sering ditemukan sebagai faktor penyebab karnbuhnya akneKurang tidur sering menyebabkan kambuhnya akne Hubungan faktor psikis dan kambuhnya akne perlu diselidiki lebih lanjut . 7. Factor-faktor laim

Pemakaian kosmetika tertentu (umumnya pelembab) dapat menimbulkan akne, baik dalam waktu singkat, maupun setelah pemakaian beberapa bulan. Juga trauma seperti gesekan, tekanan, regangan, ataupun cubitan pada kulit dapat merangsang terjadinya akne; umpamanya pada pemakai topi. Yang sering sangat individual ialah faktor obstipasi, dan infeksi lokal; hal ini dapat dipikirkan sebagai penyebab akne, bila faktor-faktor lain tidak sesuai dengan perkiraan yang telah diperhitungkan