Anda di halaman 1dari 5

PLN Tender Ulang 10 PLTU Luar Jawa

JAKARTA (SINDO) - PT Perusahaan Listrik Negara (PLN persero) akan menender ulang 10 lokasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di luar Jawa. Pembangunan pembangkit itu merupakan bagian dari percepatan pembangunan pembangkit 10.000 MW Dirut PLN Eddie W idiono mengatakan,tender terpaksa diulang karena kurangnya peminat PLTU-PLTU tersebut. "Dari 25 PLTU luar Jawa, sebanyak 10 lokasi harus ditender ulang," ujarnya di Jakarta,kemarin. Dia menuturkan,jumlah PLTU yang ditender ulang kemungkinan bertambah. Sebab, dari 15 lokasi yang kini masih dievaluasi pemenangnya, harga penawaran yang diajukan terlalu tinggi dibandingkan patokan PLN. Eddie. mengatakan, pihaknya akan segera mengumumkan pemenang tender PLTU luar Jawa setelah dilaporkan ke Tim Percepatan Pembangunan Pembangkit. Tender 25 PLTU itu terdiri atas 4 PLTU kelas 100-200 MW, 4 proyek kelas 50-65 MW, dan 17 proyek 725 MW Empat PLTU kelas 100200 MW adalah PLTU NAD 2x100-150 MW, PLTU Sumbar 2x100-150 MW, PLTU Lampung 2x100-150 MW, dan PLTU Sumut 2x200 MW Selain itu, empat PLTU kelas 50-65 MW adalah PLTU 1 Kalbar 2x50 MW, PLTU 1 Kalteng 2x60 MW, PLTU Kalsel 2x65 MW, dan PLTU 2x50 Sulsel. Sementara ke-17 proyek PLTU kelas 7-25 MW adalah PLTU 2 Riau 2x7 MW, PLTU Kepri 2x7 MW, PLTU 1 NTT 2x7 MW, PLTU Maluku Utara 2x7 MW, PLTU 1 Papua 2x7 MW, PLTU 1 Riau 2x10 MW, PLTU 1 NTB 2x10 MW,PLTU Sultra 2x10,dan PLTU 2 Papua 2x10MW. Selain itu,PLTU 4 Babel 2x15 MW , PLTU 2 NTT 2x15 MW , PLTU Maluku 2x15 MW, PLTU 3 Babel 2x25 MW, PLTU 2 Kalbar 2x25MW, PLTU 2 NTB 2x25MW, PLTU 2 Sulut 2x25 MW, dan PLTU Gorontalo 2x25 MW. Untuk PLTU kelas 100-200 MW, unit pertama PLTU sudah harus selesai dalam 30 bulan sejak ditandatanganinya kontrak dan unit kedua dalam tiga bulan sesudahnya. Sementara proyek kelas 7-25 MW dan 50-65 MW, unit pembangkit pertama selesai dalam 24 bulan dan dua bulan unit selanjutnya. Di tempat terpisah, Meneg BUMN Sofyan Djalil mengungkapkan, pekan depan pemerintah akan mengirim tim ke China untuk bertemu dengan investor, terkait proyek pembangkit 10.000 MW Pengiriman dilakukan menyusul adanya ketidak sepahaman antara investor China dengan Indonesia terkait pembiayaan dan penyusunan kontrak.
Seputar Indonesia [Back]

P&G Bangun Pabrik Popok Bayi Terbesar di Karawang


Senin, 11 Juni 2012 16:33 WIB

Administrator

BERITA TERKAIT

Berbisnis Adalah Membangun Reputasi Membangun Usaha Mandiri Sebuah Langkah Ayo Membangun Usaha Mandiri Membangun Bisnis Melalui Internet Ada Cara Untuk Meraup Keuntungan dengan Mudah CSR PLN WS2JB Turut Membangun Kewirausahaan Indonesia

Indonesia terbukti menjadi incaran pemasaran produk-produk anak-anak, terbukti P&G sebuah group perusahaan multinasional awal Agustus 2011 lalu melakukan pencanangan pembangunan pabrik pampers terbesar di Asia.P&G, adalah produsen FMCG (fast-moving consumer goods) terbesar di dunia, kini meningkatkan komitmennya terhadap Indonesia dengan berinvestasi hingga US$ 100 juta untuk membangun pabrik pertamanya di Indonesia. Pabrik yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat ini akan dilengkapi dengan fasilitas modern untuk memproduksi popok bayi Pampers, merek global terbesar dari P&G. Pabrik ini juga akan menjadi pabrik pertama di Indonesia yang menerima sertifikasi LEED (Leadership in Energy & Environmental Design). LEED merupakan sistem sertifikasi internasional yang diberikan oleh Green Building Council Amerika Serikat kepada bangunan yang memenuhi sejumlah kriteria ramah lingkungan. Indonesia merupakan pasar yang penting bagi industri produk perawatan bayi. Enam dari 11 negara dengan populasi bayi terbesar berada di Asia ujar Mohamed Ismail President Director PGHP dalam acara Groundbreaking Ceremony P&G hari ini, yang dihadiri oleh Menteri Perindustrian M.S. Hidayat. Indonesia merupakan satu dari keenam negara tersebut, dengan 17 juta bayi berusia 48 bulan ke bawah. Banyak sekali bayi yang kami rasa perlu mendapatkan perawatan yang tepat, terutama ketika orangtua mereka diharuskan untuk beradaptasi terhadap gaya hidup modern. Di saat-saat seperti inilah, popok bayi yang praktis, sehat dan terpercaya akan sangat diperlukan, lanjut Mohamed. Pembangunan pabrik akan dimulai bulan ini dan membutuhkan waktu sekitar 2 tahun hingga dapat beroperasi secara penuh. Dalam kurun waktu 5 tahun, P&G mentargetkan dapat memenuhi kebutuhan popok bagi sekitar 8 juta bayi di Indonesia . Mohamed juga menambahkan bahwa pabrik Pampers ini akan menciptakan sekitar 400 lapangan kerja baru bagi penduduk Indonesia. Pencanangan pembangunan pabrik popok terbesar di Asia ini dihadir oleh Menteri Perindustrian M.S. Hidayat.
11 April 2012 00:00:00 2012, PLN Bakal Tambah 3.455 MW dari Program 10.000 MW Tahap I

Di tahun 2012 ini PT PLN (Persero) berencana mengoperasikan sejumlah Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang tercatat dalam Program Percepatan 10.000 MW Tahap I. Tambahan kapasitas terpasang diprediksi sebesar 3.455 megawatt (MW). Hal ini diungkapkan oleh Direktur Konstruksi PLN Nasri Sebayang, seperti diberitakan dalam situs resmi pln.co.id Rabu (11/4). PLTU yang diperkirakan sudah dapat beroperasi tahun ini antara lain, PLTU Pelabuhan Ratu Jawa Barat 700 MW, PLTU Pacitan Jawa Timur 630 MW, serta PLTU Paiton 660 MW untuk wilayah Jawa. Sedangkan di wilayah Sumatera, PLTU yang akan beroperasi antara lain PLTU Nagan Raya- NAD 220 MW, PLTU Kepri Tanjung Balai Karimun 14 MW, PLTU Tarahan Baru -Lampung 200 MW, PLTU Teluk Sirih-Sumatera Barat 224 MW, PLTU Bangka Belitung 3 (60 MW), PLTU Bangka Belitung 4 (16,5) MW. Untuk wilayah Indonesia Timur, PLTU yang akan beroperasi adalah PLTU Asam-Asam-Kalimantan Selatan 130 MW, PLTU Bima-NTB 20 MW, PLTU Ende-NTT 14 MW, PLTU Kupang- NTT 33 MW, PLTU Amurang-Sulawesi Utara 50 MW, PLTU Kendari-Sulawesi Tenggara 20 MW, PLTU Barru-Sulawesi Selatan 100 MW, PLTU Tidore-Maluku Utara 14 MW, PLTU Holtekamp-Papua 20 MW, serta PLTU Ambon Maluku 15 MW. Nasri Sebayang menyatakan keseluruhan proyek 10.000 MW yang masuk pada FTP-I ini sudah dapat beroperasi paling lambat pada tahun 2014. Nanti yang terakhir beroperasi adalah PLTU Adipala-Jateng dengan kapasitas 1660 MW karena kontraknya baru ditandatangani akhir tahun

2010 dan konstruksinya baru dimulai 2011 lalu, ujar Nasri. Ia juga menjelaskan bahwa keterlambatan beberapa proyek 10.000 MW Tahap I disebabkan oleh beberapa kendala, seperti adanya ketidaksiapan dalam penyediaan lahan atau tanah, termasuk kendala dalam pembebasan lahannya. Persoalan lain adalah masalah efektifitas kontrak yang ada kaitannya dengan pendanaan. Dalam hal ini, meski kontrak sudah ditandatangani namun baru bisa efektif bila loannya sudah sudah ada, LCnya sudah dibuka atau sudah ada pembayaran uang muka. Nasri menegaskan bahwa PLN tidak lagi sekedar mengejar proyek PLTU itu cepat selesai tapi kualitasnya tidak bagus. Untuk mengutamakan kualitas ini, PLN memulainya dengan melakukan pengawasan yang lebih diperketat mulai dari mesin-mesin itu di buat di pabriknya, pekerjaan konstruksinya hingga pada saat uji coba (pengetesan). PLN mengaku akan berusaha untuk mempercepat penyelesaian proyek 10.000 MW Tahap I ini semaksimal mungkin sepanjang kualitasnya bisa dipertanggungjawabkan, serta proses dan prosedurnya juga sesuai dengan yang telah dicantumkan dalam kontrak. (PSJ)

Di 2012, PLN Rencanakan Tambahan 3455 MW dari Proyek 10.000 MW


(Jakarta, 11/4) PT PLN (Persero) merencanakan pada tahun 2012 ini sudah dapat mengoperasikan sejumlah Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang tercatat dalam Program Percepatan 10.000 MW Tahap I atau Fast Track Program (FTP I) dengan kapasitas terpasang sebesar 3.455 megawatt (MW). Hal ini diungkapkan oleh Direktur Konstruksi PLN Nasri Sebayang, dalam kesempatan press briefing dengan sejumlah wartawan , Selasa (10/4) di kantor PLN Pusat. PLTU yang diperkirakan sudah dapat beroperasi tahun ini antara lain, diwilayah Jawa-Bali diantaranya PLTU Pelabuhan Ratu Jawa Barat sebesar 700 MW, PLTU Pacitan Jawa Timur 630 MW, PLTU Paiton 660 MW. Sedangkan diwilayah Sumatera, terdiri dari PLTU Nagan Raya Nanggroe Aceh Darusalam 220 MW, PLTU Kepri Tanjung Balai Karimun 14 MW, PLTU Tarahan Baru -Lampung 200 MW, PLTU Teluk SirihSumatera Barat 224 MW, PLTU Bangka Belitung-3 sebesar 60 MW, PLTU Bangka Belitung-4 berkapasitas 16,5 MW. Untuk wilayah Indonesia Timur meliputi PLTU Asam-Asam-Kalimantan Selatan 130 MW, PLTU Bima NTB 20 MW, PLTU Ende-NTT 14 MW, PLTU Kupang- NTT sebesar 33 MW, PLTU Amurang-Sulawesi Utara 50 MW, PLTU KendariSulawesi Tenggara 20 MW, PLTU Barru -Sulawesi Selatan 100 MW, PLTU Tidore-Maluku Utara 14 MW, PLTU Holtekamp-Papua 20 MW dan PLTU Ambon Maluku 15 MW. Pada bagian lain, Nasri Sebayang menyatakan, untuk tahun 2013 direncanakan akan beroperasi lagi 2.070 MW dan menyusul kemudian sebesar 880 MW di tahun 2014. Dengan demikian, diharapkan keseluruhan proyek 10.000 MW yang masuk pada FTP-I ini sudah dapat beroperasi paling lambat pada tahun 2014. Nanti yang terakhir beroperasi adalah PLTU Adipala-Jateng dengan kapasitas 1660 MW karena kontraknya baru ditandatangani akhir tahun 2010 dan konstruksinya baru dimulai 2011 lalu , katanya menegaskan. Sementara itu, menyinggung adanya keterlambatan penyelesaian sejumlah PLTU dari rencana semula, Nasri Sebayang menjelaskan bahwa keterlambatan ini disebabkan oleh beberapa kendala, seperti adanya ketidaksiapan dalam penyediaan lahan atau tanah, termasuk kendala dalam pembebasan lahannya. Kemudian, persoalan efektifitas kontrak yang ada kaitannya dengan pendanaan. Dalam hal ini, meski kontrak sudah ditandatangani namun baru bisa efektif bila loannya sudah sudah ada, LC-nya sudah dibuka atau sudah ada pembayaran uang muka. Kendala lainnya, berkaitan dengan interaksi supervisi yang belum sepenuhnya berjalan dengan baik sehingga dibutuhkan proses yang cukup memakan waktu dan persoalan-persoalan lain terkait dengan teknologi dan material yang digunakan yang kesemuanya berasal dari Cina, sementara PLN selama ini lebih mengenal teknologi pembangkit listrik yang berasal dari Jepang maupun Eropa.Berhadapan dengan kendala-kendala tadi, menurut Nasri Sebayang PLN telah melakukan langkah-langkah untuk mengatasinya. Untuk proyek-proyek yang sedang berjalan, sekarang ini telah dibentuk organisasi-organisasi secara struktural untuk masing-masing proyek. Dengan begitu akan lebih jelas siapa yang bertanggungjawab terhadap setiap proyek, jelas pula tugas dan tanggungjawabnya , katanya. Upaya lainnya, PLN juga menciptakan sistim supervisi pekerjaan yang baru pada setiap proyek, mengatur kembali tata kelola dan tata administrasi di setiap proyek, meng-improve pegawai-pegawai yang menangani proyek serta beralih konsep dengan lebih mengedepankan kualitas. PLN tidak lagi sekedar mengejar proyek PLTU itu cepat selesai tapi kualitasnya tidak bagus. Sebaliknya, lebih baik sedikit terlambat tetapi kualitas pembangkit yang dihasilkan bisa dipertanggungjawabkan sehingga kedepannya nanti tidak menimbulkan masalah , ujar Nasri menambahkan. Untuk mengutamakan kualitas ini, PLN memulainya dengan melakukan pengawasan yang lebih diperketat mulai dari mesin-mesin itu di buat di pabriknya, pekerjaan konstruksinya hingga pada saat uji coba (pengetesan). PLN akan

berusaha untuk mempercepat penyelesaian proyek 10.000 MW Tahap I ini semaksimal mungkin sepanjang kualitasnya bisa dipertanggungjawabkan, proses dan prosedurnya juga sesuai dengan yang telah dicantumkan dalam kontrak

Wednesday, July 25, 2012 08:32 WIB Pengoperasian PLTU - Tambahan 2.525 MW Masuk pada Semester II JAKARTA PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menyatakan, pada semester II/2012 sekitar 2.525 megawatt (MW) pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) akan beroperasi, atau 71,8% dari target tahun ini sebesar 3.515 MW. Meskipun masih dalam tahap uji coba, pembangkit tersebut sudah masuk ke sistem ja ringan listrik dan akan mem ban tu mengatasi beban puncak. Tambahan itu karena sudah ada beberapa pembangkit yang dilakukan commissioning (uji coba), sehingga paling cepat Agustus mendatang sudah bisa beroperasi komersial, ungkap Direktur Konstruksi PLN Nasri Sebayang di Kantor Pusat PLN, Jakarta, kemarin Menurut dia, pembangkit yang ditargetkan bisa ber operasi pada Agustus mendatang adalah PLTU Asam-asam, Klimantan Selatan, yang ber ka - pasitas 65 MW; PLTU Pelabuhan Ratu 350 MW; PLTU Pacitan, Jawa Timur, 315 MW; PLTU Amurang, Sulawesi Utara, 25 MW; dan PLTU Barru, Sulawesi Selatan, yang berkapa sitas 50 MW. Artinya, pada Agustus saja akan terdapat tambahan listrik sebanyak 805 MW. Dia juga menjelaskan, sejumlah pembangkit itu telah diuji coba sejak akhir Mei lalu, dan akan berlangsung hingga Agustus sampai dinyatakan layak beroperasi. Jika uji coba dinyatakan lancar, maka pembangkit tersebut pada bulan Agustus akan sudah bisa beroperasi secara komersial. Namun memang kapasitas tersebut belum dihitung secara komersial sebagai pendapatan perseroan, imbuh dia. Direktur Jenderal Ketenaga listrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jarman mengatakan, proyek PLTU dalam program percepatan pembangkit 10.000 MW tahap I yang telah beroperasi hingga semester I/2012 adalah sebesar 4.450 MW atau 45% dari total target. Dari 4.450 MW tersebut, terdapat sebesar 1.290 MW yang mu - lai beroperasi tahun ini, antara lain PLTU 3 Banten ber kapasitas 630 MW dan PLTU 2 Jawa Timur, yakni PLTU Paiton berkapasitas 660 MW. Dia mengaku, masih belum optimalnya PLTU dari program percepatan 10.000 MW tahap I tersebut karena banyak kontrak tor yang tidak bagus ki nerjanya. Hal itu mengakibatkan mundurnya operasional se jum lah pembangkit dari jadwal yang ditargetkan. Tapi, kami targetkan hingga akhir tahun ini masuk lagi pembangkit hingga 1.500 MW sehingga sampai akhir tahun ini proyek PLTU yang bisa beroperasi komersial menjadi 6.000 MW atau 60% dari total target, tuturnya. Jarman mengatakan,

pihaknya telah menerapkan sanksi kepada kontraktor yang berkinerja buruk pada proyek percepatan pembangkit listrik 10.000 MW tahap I, yakni didenda 10% dari total nilai proyek. Denda ini diterapkan dengan cara dipotongnya 10% pembiayaan pemerintah terhadap nilai proyek tersebut. Kebanyakan kontraktor tersebut berasal dari China. Terkait dengan itu, bila selanjutnya kontraktor China tetap akan dipakai dalam pembangkit program percepatan 10.000 MW, maka cara kerja me reka harus diperbaiki mengikuti pola kerja Jepang. Ke depan kami tidak akan menggunakan kontraktor yang berki nerja buruk lagi untuk proyek percepatan pembangkit listrik tahap II, tegasnya. Terpisah, anggota DPR komisi VII Dewi Aryani mengatakan, keterlambatan proyek ini harus menjadi perhatian semua pihak. DPR akan melakukan evaluasi untuk mencari solusi atas keterlambatan proyek tersebut. Keterlambatan proyek ini tidak hanya berdampak pada biaya produksi listrik PLN, namun juga berimbas pada laju pertumbuhan ekonomi negara, cetusnya. http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/513900 /Sumber : SEPUTAR INDONESIA