Anda di halaman 1dari 10

Rizkar M 230210110046

1.Pendahuluan Menurut para ahli, awal mula laut terdiri dari berbagai versi; salah satu versi yang cukup terkenal adalah bahwa pada saat itu Bumi mulai mendingin akibat mulai berkurangnya aktivitas vulkanik, disamping itu atmosfer Lahor pada saat itu tertutup oleh debu-debu vulkanik yang mengakibatkan terhalangnya sinar Matahari untuk masuk ke Bumi. Akibatnya, uap Lahar di atmosfer mulai terkondenisasi dan terbentuklah hujan. Hujan inilah (yang mungkin berupa hujan tipe mamut juga) yang mengisi cekungan-cekungan di Bumi hingga terbentuklah Laut. Secara perlahan-lahan, jumlah karbon dioksida yang ada diatmosfer mulai berkurang akibat terlarut dalam air laut dan bereaksi dengan ion karbonat membentuk kalsium karbonat. Akibatnya, langit mulai menjadi cerah sehingga sinar Matahari dapat kembali masuk menyinari Bumi dan mengakibatkan terjadinya proses penguapan sehingga volume air laut di Bumi juga mengalami pengurangan dan bagian-bagian di Bumi yang awalnya terendam air mulai kering. Proses pelapukan batuan terus berlanjut akibat hujan yang terjadi dan terbawa ke lautan, menyebabkan air laut semakin asin. Pada 3,8 milyar tahun yang lalu, planet Bumi mulai terlihat biru karena laut yang sudah terbentuk tersebut. Suhu bumi semakin dingin karena air di laut berperan dalam menyerap energi panas yang ada, namun pada saat itu diperkirakan belum ada bentuk kehidupan di bumi. Kehidupan di Bumi, menurut para ahli, berawal dari lautan (life begin in the ocean). Namun demikian teori ini masih merupakan perdebatan hingga saat ini. Pada hasil penemuan geologis pada tahun 1971 pada bebatuan di Afrika selatan (yang diperkirakan berusia 3,2 s.d. 4 milyar tahun) menunjukkan adanya fosil seukuran beras dari bakteri primitif yang diperkirakan hidup di dalam lumpur mendidih di dasar laut. Hal ini mungkin menjawab pertanyaan tentang saat-saat awal kehidupan dan di bagian lautan yang mana terjadi awal kehidupan tersebut. Sedangkan kelautan itu sendiri adalah ilmu yang mempelajari berbagai biota atau makhluk hidup di laut yang perlu dimanfaatkan melalui usaha perikanan dan kelautan.

Laut, menurut sejarahnya, terbentuk 4,4 milyar tahun yang lalu, dimana awalnya bersifat sangat asam dengan air yang mendidih (dengan suhu sekitar 100 C) karena panasnya bumi pada saat itu. Asamnya air laut terjadi karena saat itu atmosfer Bumi dipenuhi oleh CO2. Keasaman air inilah yang menyebabkan tingginya pelapukan dan menyebabkan laut menjadi asin seperti sekarang ini. Pada saat itu, gelombang tsunami sering terjadi karena seringnya asteroid menghantam Bumi. Pasang surut laut yang terjadi pada saat itu juga bertipe mamut atau tinggi/besar sekali tingginya karena jarak Bulan yang begitu dekat dengan Bumi. Laut dalam didefinisikan sebagai masa air, sediment dan organisme yang terdapat pada kedalaman 3800 m dan di bawahnya. 60% dari dasar laut adalah laut dalam, yang merupakan 43% dari total geosphere. Laut dalam mempunyai karakteristik khusus yaitu suhu rendah (<4C), tekanan tinggi 1 atm untuk setiap kedalaman 10 m), sehingga dikenal sebagai lingkungan ekstrim. Makalah ini bertujuan untuk : a) mempelajari karakteristik massa air laut yang meliputi salinitas, suhu, densitas dan oksigen; b) mempelajari bagian-bagian laut; c) menelaah ketertarikan antara karakteristik laut. Laut memiliki beberapa bagian penting seperti arus, angin dan gelombang karena semua itu berhubungan dengan sifat-sifat gelombang yang dipengaruhi oleh beberapa aspek yang penting seperti kecepatan angin, waktu dan lain-lain. Laut juga adalah kumpulan air asin yang luas dan berhubungan dengan samudra. Air di laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya seperti garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Sifat-sifat fisis utama air laut ditentukan oleh 96,5% air murni.

2.Karakteristik laut 2.1. Arus Gelombang yang datang menuju pantai membawa massa air dan momentum, searah penjalaran gelombangnya. Hal ini menyebabkan terjadinya arus di sekitar kawasan pantai. Penjalaran gelombang menuju pantai akan melintasi daerah-daerah lepas pantai (offshore zone), daerah gelombang pecah (surf zone), dan daerah deburan ombak di pantai (swash zone). Diantara ketiga daerah tersebut, Bambang Triatmodojo (1999) menjelaskan bahwa karakteristik gelombang di daerah surf zone dan swash zone adalah yang paling penting di dalam analisis proses pantai. Arus juga adalah massa air yang bergerak akibat faktor-faktor yang menggerakannya seperti tenaga angin, perbedaan tekanan air, perbedaan densitas, gaya coriolis, topografi dasar laut dan pulau-pulau sekitar. Angin juga mampu menggerakan massa air permukaan, juga menyebabkan timbulnya arus vertikal Yaitu: 2.1.1. Upwelling adalah dimana proses massa air didorong ke atas dari kedalaman 100-200m. 2.1.2. Singkring adalah proses yang mengangkut massa air tenggelam. Perbedaan tekanan air terjadi akibat adanya perbedaan ketinggian lapisan permukaan perairan yang diakibatkan tarikan angin. Perbedaan densitas terutama disebabkan oleh perbedaan salinitas dan suhu, salinitas dipicu oleh tingkat evaporasi massa air.

Gaya coriolis atau gaya pembelokan timbul akibat pengaruh rotasi bumi, seperti pembelokan ke kanan di belahan bumi utara dan pembelokan ke kiri di belahan bumi selatan. Gaya coriolis menyebabkan timbulnya spiralekmon di lapisan vertikal perairan. Topografi dasar laut dan pulau merupakan faktor yang membatasi gerakan massa air, sehinnga menyebabkan terjadinya pembelokan aliran arus. Menurut Dean dan Dalrymple (2002), perputaran/sirkulasi arus di sekitar pantai dapat digolongkan dalam tiga jenis, yaitu: arus sepanjang pantai (Longshore current), arus seret (Rip current), dan aliran balik (Back flows/cross-shore flows). Sistem sirkulasi arus tersebut seringkali tidak seragam antara ketiganya bergantung kepada arah/sudut gelombang datang. Pada kawasan pantai yang diterjang gelombang menyudut (b > 5o) terhadap garis pantai, arus dominan yang akan terjadi adalah arus sejajar pantai (longshore current). Sedangkan apabila garis puncak gelombang datang sejajar dengan garis pantai, maka akan terjadi 2 kemungkinan arus dominan di pantai. Yang pertama, bila di daerah surf zone terdapat banyak penghalang bukit pasir (sand bars) dan celah-celah (gaps) maka arus yang terjadi adalah berupa sirkulasi sel dengan rip current yang menuju laut. Kemungkinan kedua, bila di daerah surf zone tidak terdapat penghalang yang mengganggu maka arus dominan yang terjadi adalah aliran balik (back flows). 2.2. Gelombang Gelombang adalah pergerakan naik dan turunnya air dengan arah tegak lurus permukaan air laut yang membentuk kurva/grafik sinusoidal. Gelombang laut disebabkan oleh angin. Angin di atas lautan mentransfer energinya ke perairan, menyebabkan riak-riak, alun/bukit, dan berubah

menjadi apa yang kita sebut sebagai gelombang, bagianbagian gelombang adalah: 2.2.1. Crest yaitu puncak gelombang atau titik tertinggi 2.2.2. Trough Yaitu titik terendah atau lembah gelombang 2.2.3. Wave height Yaitu tinggi gelombang atau jarak vertikal antara crest dan trough 2.2.4. Wave lenght Yaitu panjang gelombang atau jarak berturut-turut antara 2 crest atau 2 trough 2.2.5. Wave period Yaitu periode gelombang atau waktu yang diperlukan crest untuk kembali pada titik semula secara berturutturut 2.2.6. Wave steepness Yaitu kemiringan gelombang atau perbandingan antara panjang gelombang dan tinggi gelombang. Sifat-sifat gelombang dipeganruhi oleh: a. Kecepatan angin Kecepatan angin berbanding lurus dengan kecepatan gelombang, periode gelombang, dan tinggi gelombang b. Waktu angin bertiup Waktu pada saat angin bertiup berbanding lurus dengan durasi terjadinya gelombang c. Jarak angin bertiup bebas Yang satauannua fetch, mil atau Km d. Klasifikasi gelombang Yang biasanya berdasarkan dengan periode e. Capillary waves Riak gelombang yang periodenya 0,1 detik f. Gravity waves gelombang yang berpengaruh dengan gravitasi bumi g. Ultra gravity waves Yang kecepatannya 0,1 sampai 1 detik

h. Ordinary gravity waves Gelombang biasa yang kecepatannya 1- 30 detik i. Infra gravity waves Yang kecepatannya 0,5 sampai 5 menit j. Long peroid waves Gelombang yang paling lama yang kecepatannya 5menit sampai 12 jam. Pada kondisi sesungguhnya di alam, pergerakan orbital di perairan dangkal (shallow water) dekat dengan kawasan pantai dapat dilihat pada gambar animasi dibawah ini. Pada gambar animasi ini, dapatlah kita bayangkan bagaimana energi gelombang mampu mempengaruhi kondisi pantai. Ketinggian dan periode gelombang tergantung kepada panjang fetch pembangkitannya. Fetch adalah jarak perjalanan tempuh gelombang dari awal pembangkitannya. Fetch ini dibatasi oleh bentuk daratan yang mengelilingi laut. Semakin panjang jarak fetchnya, ketinggian gelombangnya akan semakin besar. Angin juga mempunyai pengaruh yang penting pada ketinggian gelombang. Angin yang lebih kuat akan menghasilkan gelombang yang lebih besar. Gelombang yang menjalar dari laut dalam (deep water) menuju ke pantai akan mengalami perubahan bentuk karena adanya perubahan kedalaman laut. Apabila gelombang bergerak mendekati pantai, pergerakan gelombang di bagian bawah yang berbatasan dengan dasar laut akan melambat. Ini adalah akibat dari friksi/gesekan antara air dan dasar pantai. Sementara itu, bagian atas gelombang di permukaan air akan terus melaju. Semakin menuju ke pantai, puncak gelombang akan semakin tajam dan lembahnya akan semakin datar. Fenomena ini yang menyebabkan gelombang tersebut kemudian pecah. Ada dua tipe gelombang, bila dipandang dari sisi sifat-sifatnya. Yaitu:

Gelombang pembangun/pembentuk pantai (Constructive wave). Gelombang perusak pantai (Destructive wave).

Yang termasuk gelombang pembentuk pantai, bercirikan mempunyai ketinggian kecil dan kecepatan rambatnya rendah. Sehingga saat gelombang tersebut pecah di pantai akan mengangkut sedimen (material pantai). Material pantai akan tertinggal di pantai (deposit) ketika aliran balik dari gelombang pecah meresap ke dalam pasir atau pelan-pelan mengalir kembali ke laut.

2.3. Salinitas laut Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah atau laut. Laut Mediterania (laut tengah) mempunyai suhu 11,5 derajat C, salinitas > 36,5 per mil, dan kepadatan yang tinggi. Sedangkan Lautan Atlantik memiliki suhu 10 derajat C, salinitas < 36 per mil, dengan kepadatan lebih rendah dari Laut Mediterania. Dari ketiga sebab tersebut, yang paling dominan adalah karena salinitasnya. Karena itu batas tersebut, oleh para ilmuwan disebut sebagai halocline. Halocline adalah layer/lapisan yang memisahkan air yang mempunyai salinitas yang berbeda. Laut Mediterania (Laut Tengah) mempunyai salinitas, kepadatan air dan suhu yang lebih tinggi dibandingkan Lautan Atlantik. Seperti terlihat pada Gambar 1, ketika air dari Laut Tengah memasuki Lautan Atlantik melalui Selat Jibraltar, air tersebut mengalir beberapa ratus kilometer ke Samudera Atlantik di kedalaman sekitar 1000 meter dengan membawa sifatnya sendiri yang suhunya, salinitas dan kepadatannya yang lebih tinggi. Pada kedalaman ini air dari Laut Tengah tersebut diam tidak bergerak. Adapula yang disebut Pynocline, Pycnocline adalah layer atau lapisan yang memisahkan air yang mempunyai kepadatan yang berbeda. Penghalang (zona pemisah) ini memiliki tingkat kepadatan dan keasinan yang berbeda dari air tawar ke air laut dan sebaliknya. Seperti kita ketahui, bahwa air tawar bertemu air asin melalui beberapa tahapan perubahan, dari air tawar berubah payau hingga kemudian air laut yang asin. Secara ilmiah, proses pencampuran air tawar dan air asin di estuari/muara dikategorikan dalam empat tipe utama, yaitu: 1. Estuari berstratifikasi tinggi (Highly stratified) atau estuari tipe baji garam (Salt wedge): estuari ini dicirikan oleh adanya batas yang jelas antara air tawar dan air asin , biasanya ditemukan di daerah di mana air tawar dari sungai yang besar lebih dominan daripada intrusi air laut yang dipengaruhi oleh pasang surut.

2. Estuari tercampur sebagian (Partially mixed): estuari yang paling umum dijumpai, di mana air tawar dari sungai seimbang dengan air laut yang masuk melalui pasang surut. 3. Estuari homogen vertikal homogen lateral (Vertical homogeneous with laterally homogeneous) atau estuari tercampur sempurna (Well mixed): estuari yang sempit, memiliki penampang lintang yang kecil dan tenaga pasang surut tinggi. Air tawar dan air laut tercampur sempurna dan pada muaranya umumnya sempit. 4. Estuari homogen vertikal tidak homogen lateral (Vertical homogeneous with laterally inhomogeneous) atau Fjord-type estuary: estuari yang lebar, memiliki penampang melintang yang kecil dan tenaga pasang surut yang tinggi. Estuari ditandai dengan cekungan dalam yang memanjang berbentuk U dan penghalang yang memisahkan cekungan dari laut. Pada estuari tipe ini, arus air tawar akan berkurang dan akan didominasi oleh pasang surut air laut.

Kesimpulan Bahwa laut mempunyai berbagai macam karakteristik dari arus laut, gelombang laut dan salinitasnya. Laut juga mempunyai aspekaspek penting dalam kehidupan yang mana bisa penyebab hujan dan penyebab adanya pemisahan antar air laut dan air tawar karena adanya salinitas. Laut juga adalah kumpulan air asin yang luas dan berhubungan dengan samudra. Air di laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya seperti garam-garaman, gasgas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Sifatsifat fisis utama air laut ditentukan oleh 96,5% air murni.

Daftar pustaka Bakti, M. Y., 1998. Dinamika Perairan di Selatan Jawa Timur Bali pada Musim Timur 1990. Tesis. Institut Pertanian Bogor. Brown, J., A. Colling, D. Park, J. Phillips, D. Rothery, J. Wright, 1989. Ocean Chemistry and Deep Sea Sediments. Open University. Chavez, F. P., and R. T. Barber, 1987. An Estimate of New Production in the Equatorial Pacific. Deep-Sea Res.,34:1229-1243. Cullen, J. J., M. R. Lewis, C. O. Davis, and R. T. Barber, 1992. Photosynthetic Characteristics and Estimated Growth Rates Incate Grazing is the Proximate Control of Primary Production in the Equatorial Pacific. J. Geophys. Res., 97 (C1): 639 654. Fieux, M., C. Andrie, E. Charriaud, A. G. Ilahude, N. Metzl, R. Molcard, and J. C. Swallow, 1996 a. Hydrological and Chlorofluoromenthane Measurements of the Indonesian Throughflow Entering the Indian Ocean. J. Geophys. Res., 101 (C5): 12,433 12,454.