Anda di halaman 1dari 4

Latar belakang

Udara di dalam suatu ruangan dapat merupakan sumber kontaminasi mikroba. Udara tidak mengandung mikroflora secara alami, tetapi kontaminasi dari lingkungan disekitarnya mengakibatkan udara mengandung berbagai mikroorganisme, misalnya dari debu, air, proses aerasi, dari penderita yang mengalami infeksi saluran pencernaan, dari ruangan yang digunakan dalam fermentasi dan sebagainya. Mikroorganisme yang terdapat di udara biasanya melekat pada bahan padat, misalnya debu, atau terdapat dalam droplet air (Gobel, 2008). Kontaminasi oleh mikroorganisme dapat terjadi setiap saat dan menyentuh setiap permukaan seperti tangan atau alat (wadah). Oleh karena itu sanitasi lingkungan sangat perlu untuk diperhatikan terutama yang akan bekerja dalam bidang mikrobiologi atau pengolahan produk makanan atau Industri (Gobel, 2008). Berdasarkan hal tersebut di atas maka dilaksanakanlah percobaan tersebut untuk mengetahui uji sanitasi lingkungan mengenai cara uji kontaminasi udara, tangan, serta kebersihan alat laboratorium.

Dasar teori 1
Pertumbuhan merupakan proses perubahan bentuk yang semula kecil kemudian menjadi besar (Budiyanto 2010). Pertumbuhan meliputi pertambahan volume dari makhluk hidup. Pertumbuhan tergantung pada kondisi bahan makanan dan juga lingkungan. Pertumbuhan mikroorganisme berlangsung relatif cepat. Pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri yaitu dengan pembelahan sel dari satu menjadi dua dalam waktu tertentu yang disebut waktu generasi (Lukman et al. 2009). Faktor lingkungan yang mempengaruhi kehidupan mikroorganisme meliputi faktorfaktor abiotik (fisika dan kimia), dan faktor biotik. Faktor fisik yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme antara lain temperatur, kelembaban, pengaruh perubahan tekanan osmotik, dan pH. Faktor kimia yang mempengaruhi yaitu bahan-bahan kimia yang dapat meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme atau merusak rantai kehidupan mikroorganisme (Zaifbio 2009). Menurut Purnomo (2004), faktor biotik yang mempengaruhi kehidupan mikroorganisme meliputi bentuk dan sifat mikroorganisme, serta kemampuan menyesuaikan diri (adaptasi).
Udara di dalam suatu ruangan dapat merupakan sunber kontaminasi udara. Udara tidak mengandung mikroflora secara alami, akan tetapi kontaminasi dari lingkungan sekitar mengakibatkan udara mengandung berbagai mikroorganisme, misalnya debu, air, proses aerasi, dari penderita yang mengalami infeksi saluran pencernaan dan dari ruangan yang digunakan untuk fermentasi. Mikroorganisme yang terdapat dalam

udara biasanya melekat pada bahan padat, misalnya debu atau terdapat dalam droplet air (Volk dan Whleer, 1984).

Daftar pustaka 1

Lukman DW. 2009. Penghitungan jumlah mikroorganisme dengan metode hitungan cawan. Di dalam: Lukman DW, Purnawarman T, editor. Penuntun Praktikum Higiene Pangan Asal Hewan. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. hlm 1017. Zaifbio. 2009. Lingkungan dan proses adaptasi pertahanan mikroorganisme dalam kehidupan. [terhubung berkala]. http://zaifbio.wordpress.com [10 Maret 2011].

Volk, Wesley, A., Margaret F. Whleer, 1998, Mikrobiologi Dasar, Erlangga, Jakarta.

Dasar Teori 2
Udara mengandung campuran gas-gas yang sebagian besar terdiri dari Nitrogen (N2) 23%, Oksigen (O2) 21 % dan gas lainnya 1%. Selain gas juga terdapat debu, kapang, bakteri, khamir, virus dan lain-lain. Walaupun udara bukan medium yang baik untuk mikroba tetapi mikroba selalu terdapat di udara. Adanya mikroba disebabkan karena pengotoran udara oleh manusia, hewan, zat-zat organik dan debu. Jenis-jenis mikroba yang terdapat di udara terutama jenis Bacillus subtilis dapat membentuk spora yang tahan dalam keadaan kering (Pelczar, 1988). Banyak penyakit yang disebabkan oleh bakteri patogen yang ditularkan melalui udara, misalnya bakteri penyebab tubercolosis (TBC) dan virus flu yang dapat

ditularkan melalui udara pernapasan. Beberapa cara yang digunkan untuk membersihkan udara yaitu (Volk dan Wheeler, 1984) : 1. Menyiram tanah dengan air sehingga mengurangi debu yang berterbangan. 2. Menyemprot udara dengan desinfektan sehingga udara berkurang mikrobanya 3. Dengan radiasi sinar ultraviolet. Desinfektan adalah bahan kimia yang digunakan untuk m e n c e g a h terjadinya i nfeksi atau pencemaran jasad renik seperti b a k t e r i d a n v i r u s , j u g a untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakitlainnya. Disinfektan digunakan untuk membunuh mikroorganisme pada bendamati.Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan b a h a n k i m i a a t a u s e c a r a f i s i k , h a l i n i d a p a t m e n g u r a n g i k e m u n g k i n a n t e r j a d i infeksi dengan jalam membunuh mikroorganisme patogen. Desinfeksi dilakukanapabila sterilisasi sudah tidak mungkin dikerjakan, meliputi : penghancuran dan p e m u s n a h a n mikroorganisme patogen yang ada tanpa tindakan khusus u n t u k mencegah kembalinya mikroorganisme tersebut

Daftar Pustaka 2
Pelczar, Michael W., 1994, Dasar-Dasar Mikrobiologi 1, UI Press, Jakarta. Anonim, 2009. MAKALAH ANTISEPTIC DAN DESINFEKTAN. http://www.scribd.com/doc/28307507/Makalah-Antiseptic-Dan-Desinfektan Volk, Wesley, A., Margaret F. Whleer, 1998, Mikrobiologi Dasar, Erlangga, Jakarta.

Latar Belakang 2
Pada dasarnya ada persamaan jenis bahan kimia yang digunakan sebagaiantiseptik dan desinfektan. Tetapi tidak semua bahan desinfektan adalah bahana n t i s e p t i k k a r e n a a d a n y a b a t a s a n d a l a m p e n g g u n a a n a n t i s e p t i k . A n t i s e p t i k tersebut harus memiliki sifat tidak merusak jaringan tubuh atau tidak bersifatkeras. Terkadang penambahan bahan desinfektan juga dijadikan sebagai salah satuc a r a d a l a m p r o s e s s t e r i l i s a s i , y a i t u p r o s e s pembebasan kuman. Tetapi padakenyataannya tidak semua bahan desinfektan d a p a t b e r f u n g s i s e b a g a i b a h a n dalam proses sterilisasi.B a h a n k i m i a t e r t e n t u m e r u p a k a n z a t a k t i f d a l a m p r o s e s d e s i n f e k s i d a n sangat menentukan efektivitas dan fungsi serta target mikroorganime yang akand i m a t i k a n . D a l a m p r o s e s d e s i n f e k s i s e b e n a r n y a d i k e n a l d u a c a r a , c a r a f i s i k (pemanasan) dan cara kimia (penambahan bahan kimia). Dalam tulisan ini hanyadifokuskan kepada cara kimia, khususnya jenis-jenis bahan kimia yang digunakanserta aplikasinya.B a n y a k b a h a n k i m i a y a n g d a p a t b e r f u n g s i s e b a g a i d e s i n f e k t a n , t e t a p i umumnya dikelompokkan ke dalam golongan aldehid atau golongan pereduksi,y a i t u b a h a n k i m i a y a n g m e n g a n d u n g g u g u s - C O H ; g o l o n g a n a l k o h o l , y a i t u senyawa kimia yang mengandung gugus -OH; golongan halogen atau senyawaterhalogenasi, yaitu senyawa kimia golongan halogen atau yang mengandunggugus -X; golongan fenol dan fenol terhalogenasi, golongan garam amoniumkuarterner, golongan pengoksidasi, dan golongan biguanida. Telah dilakukan perbandingan koefisien fenol turunan aldehid (formalindan glutaraldehid) dan halogen (iodium dan hipoklorit) terhadap mikroorganisme Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi yang resisten terhadap ampisilindengan tujuan untuk mengetahui keefektifan dari disinfektan turunan aldehid danhalogen yang dibandingkan dengan fenol dengan metode uji koefisien fenol .

kesimpulan 1