Anda di halaman 1dari 16

SAJAK PUTIH

Bersandar pada tari warna pelangi Kau depanku bertudung sutra senja Di hitam matamu kembang mawar dan melati Harum rambutmu mengalun bergelut senda Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba Meriak muka air kolam jiwa Dan dalam dadaku memerdu lagu Menarik menari seluruh aku Hidup dari hidupku, pintu terbuka Selama matamu bagiku menengadah Selama kau darah mengalir dari luka Antara kita Mati datang tidak membelah... Karya :Chairil Anwar

HAMPA

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak. Lurus kaku pohonan. Tak bergerak Sampai ke puncak. Sepi memagut, Tak satu kuasa melepas-renggut Segala menanti. Menanti. Menanti. Sepi. Tambah ini menanti jadi mencekik Memberat-mencekung punda Sampai binasa segala. Belum apa-apa Udara bertuba. Setan bertempik Ini sepi terus ada. Dan menanti. Karya: Chairil Anwar

DOA

Kepada pemeluk teguh Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut namamu Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh cayamu panas suci tinggal kerdip lilin di kelam sunyi Tuhanku aku hilang bentuk remuk Tuhanku aku mengembara di negeri asing Tuhanku di pintuMu aku mengetuk aku tidak bisa berpaling Karya: Chairil Anwar

SENJA DI PELABUHAN KECIL

buat: Sri Ajati Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak. Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap Karya: Chairil Anwar

Mawar di Malam Purnama Sekuntum mawar merah di malam tengah harum tubuhmu mengubah angin jadi desiran darah kaucium tanganku kucium keningmu jantungku membuncah indahnya terjaga kita di tengah purnama berselimut kabut lembut bintangbintang pun gamang dalam cahyanya. Terbangun aku memandangmu jelita malam lebih indah .

Karya: Huda M Elmatsani

Tertawalah

Bila senyum tak cukup lebar menampung bahagiamu tertawalah kekasih tertawalah seperti kuncup yang merekah indahkan hidupmu dengan tangkaitangkai bunga. Segelas kesenangan secangkir riang, mari reguk bersama nikmati waktu kita di antara dramatika kehidupan kenangan, keharuan, apa pun namanya, biarkan memenuhi rongga dada. Tertawalah kekasih bila senyum tak cukup lebar seluruh bumi berdebar, seluruh langit gemetar, para malaikat bergegas keluar mengira ada yang menyusup ke dalam surga.

Karya: Huda M Elmatsani

Pantai Berpasir adalah Kanvas Tanpa Akhir Pantai berpasir adalah kanvas tanpa akhir jejak jejak kita tercetak jadi berbaris sajak. Laut kemerisik pada pasir mengeja jejak kita lalu membawanya ke samudera. Di atas karang lidah ombak membacakan sajak yang kita karang disaksikan ikan, uburubur dan kerang. Bukankah selalu kita dengar gemuruh kalimat cinta menggelegar di dada kita. Samudera yang tak pernah berhenti berdebar.

Karya: Huda M Elmatsani

Syair Orang Lapar lapar menyerang desaku Kentang dipanggang kemarau Surat orang kampungku Kuguratkan kertas Risau Lapar lautan pidato Ranah dipanggang kemarau Ketika berduyun mengemis Kesinikan hatimu Kuiris Lapar di Gunungkidul Mayat dipanggang kemarau Berjajar masuk kubur Kauulang jua Kalau Karya: Taufiq Ismail

Sebuah Jaket Berlumur Darah Sebuah jaket berlumur darah Kami semua telah menatapmu Telah pergi duka yang agung Dalam kepedihan bertahun-tahun Sebuah sungai membatasi kita Di bawah terik matahari Jakarta Antara kebebasan dan penindasan Berlapis senjata dan sangkur baja Akan mundurkah kita sekarang Seraya mengucapkan Selamat tinggal perjuangan Berikara setia kepada tirani Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan? Spanduk kumal itu, ya spanduk itu Kami semua telah menatapmu Dan di atas bangunan-bangunan Menunduk bendera setengah tiang Pesan itu telah sampai kemana-mana Melalui kendaraan yang melintas

Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa Prosesi jenazah ke pemakaman Mereka berkata Semuanya berkata Karya: Taufiq Ismail

Kelak Puisi Menjadi Sebuah Pagi Kelak puisi menjadi sebuah pagi, jauh sebelum matahari. Dan kau di sisiku, khusyuk membacanya, sejuk, embun di tiap pucuk huruf membasah di bibirmu. Kau ingin mengusapnya, kubilang, jangan kauseka sebab itu bukan airmata, biar aku mengecupnya. Ada rahasia ingin kubenam di dadamu, sebuah peluk subuh, hanya sunyi lubuk hatimu memahami riuh jantungku. Karya: Huda M Elmatsani

AkuMenulis dengan Cinta Tak kutulis puisi dengan huruf, yang redup bila tiada cahaya, aku menulis dengan cinta, menciptakan cakrawala di dada. Pendarpendar senja di lengkung matamu, Dinda, adalah petunjuk bagi sayapsayapku untuk pulangnya segala kerinduan. Bukankah rindu, hanyalah pelukan yang dibuat longgar oleh jarak. Tak kutulis puisi dengan kata, yang hampa bila tiada makna. Di punggung tanganku doadoa kutulis, menunggu kau aminkan dengan ciuman tulus. Tulus merestu tanpa sepatah kata. Kita yang saling mencinta, Adinda, surga yang meneteskan airmata. Menjadi gerimis melukis bianglala.

Karya: Huda M Elmatsani

Bagaimana Aku Tak Mencintai Puisi Bagaimana aku tak mencintai puisi huruf-huruf yang kutulis tersusun dari tulang rusukmu untaian kata membentuk kehadiranmu setiap sajak adalah dekap, setiap abjad cengkeraman kuat yang membuat hati semakin dekat. Bagaimana aku tak mencintai puisi ia adalah pembuluh di jantungmu mengalir ke dalam darah kata-kataku puisi adalah percakapan lembut hurufhuruf di bibirmu termaktub kenangan di setiap kecupnya. Bagaimana aku tak mencintai puisi ia adalah engkau, kebahagiaan yang dikekalkan surga yang mengalirkan airmata berkilau cahaya

tempat hanyut perahuku berlayar memintas waktu sarat muatan rindu padamu. Karya: Huda M Elmatsani

Biarkan Aku Pergi Jauh Pengarang: Adhi Aku bukanlah embun pagi yang ada ketika kamu Membuka jendela kamar dikala pagi Aku bukanlah lagu penuntun tidurmu dikala kamu mulai terlelap dan tidur Tapi kenyataannya apa ? kamu liat Aku sekarang? Aku bagaikan daun yang terhempas angin tanpa tahu kemana arah dan tujuan aku pergi Biarkanlah aku pergi jauh meniggalkan semua kenangan tentang dirimu walaupun itu aku tidak akan lupa

akan dirimu dan semua kenangan yang kau berikan aku harap kemana sajaku pergi kamu akan ingat slalu ingat setiap kata, ucapan dan tentang semuanya yang pernah keluar dari bibirku dan semua hal dan sikapku terhadapmu semata-mata karena aku sangat sayang dan cinta kepadamu .

Hatiku Pengarang: Jojo aku tak peduli seberapa besar maupun kecilnya rasa bencimu padaku. . . dan aku tidak memintamu untuk tidak membenciku. . . tapi aku peduli seberapa besar maupun kecil

rasa sayangmu padaku. . . jika memang dirimu menginginkan diriku dekat denganmu selalu mendampingimu, selalu di sisimu. . . aku akan selalu senantiasa bersamamu. . . akan tetapi jika dirimu tidak menginginkan diriku untuk selalu di dekatmu. . . aku akan dengan ikhlas hati melepas dirimu. . . karena aku tidak mau kehadiranku membuatmu menjadi tidak nyaman dan merasa risih. . .

Gores Rindu Pengarang: Rafiqa Humaira lara hitam menikam kalbu perih tersayat dalam pilu diam dan bisu hanya trgumam lirih bisik dalam detak

suara Rindu.. tarian angin menghempas getaran jiwa beradu dalam ores rindu sang dilema sakitpedih, siapa peduli risauku? bahkan deru ombak lari tak sanggup pecahkan karang luka dalam derita sanggupkah pupuskan asa, dalam rindu membelai jiwa sanggupkah torehkan cahaya dalam gelap, menanti lentera sanggupkah? diam seribu bahasa.